Anda di halaman 1dari 15

BAB 1 PENDAHULUAN

Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Katarak traumatik paling sering karena adanya cedera yang disebabkan oleh benda asing yang mengenai lensa atau trauma tumpul pada bola mata.1 Trauma pada katarak terjadi secara sekunder karena trauma tumpul atau penetrasi pada okular. Energi inframerah (katarak glassblower), sengatan listrik, dan radiasi ionisasi merupakan penyebab langka lainnya katarak traumatik. Katarak yang disebabkan oleh trauma tumpul biasanya berupa kekeruhan aksial posterior berbentuk stellata atau roset yang bisa stabil atau progresif, sedangkan trauma tembus dengan gangguan pada bentuk kapsul lensa berupa perubahan kortikal mungkin tetap bersifat fokal jika masih kecil atau mungkin berlanjut cepat yang mengakibatkan kekeruhan kortikal total.5 Di Amerika Serikat diperkirakan terjadi 2,5 juta trauma mata setiaptahunnya. Kurang lebih 4-5% dari pasien-pasien mata yang membutuhkan perawatan komperhensif merupakan keadaan sekunder akibat trauma mata. Trauma merupakan penyebab tertinggi untuk buta monokular pada orang kelompok usia di bawah 45 tahun. Setiap tahunnya diperkirakan 50.000 orang tidak dapat membaca koran sebagai akibat trauma mata.5 Gangguan lensa dapat berupa kekeruhan, distorsi, dislokasi, dan anomali geometrik. Pasien yang mengalami gangguan-gangguan tersebut mengalami kekaburan penglihatan tanpa nyeri. Kekeruhan lensa disebut dengan katarak. Beberapa faktor penyebab katarak antara lain yaitu kongenital, usia lanjut, penyakit sistemik, infeksi, sekunder, dan trauma.2 Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya

ambliopia. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder. Apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis, dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Prognosis sangat bergantung kepada luasnya trauma yang terjadi pada saat terjadinya trauma dan kerusakan yang terjadi akibat trauma.5 Dalam referat ini penulis ingin membahas tentang katarak traumatik yang merupakan jenis katarak yang sering kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada mata yang pernah mengalami trauma atau kecelakaan lainnya pada mata.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA MATA

Gambar 2.1: Anatomi Bola Mata7

Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda.2 Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:2,4 1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera.

2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos humor), yang dikeluankan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas komea dan sklera. 3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyal susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. Terdapat rongga yang potensial antara retina dan koroid sehingga retina dapat terlepas dan koroid yang disebut ablasi retina.2,4 Lensa mata terletak di belakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peranan pada akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea. Terdapat 6 otot penggerak bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita.2

Gambar 2.2: Struktur anatomi lensa mata.6

Gambar 2.3: Tampilan lensa yang diperbesar menampilkan terminasi dari epitel subcapsular (bagian vertikal).1

Lensa mata berasal dan ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri dan zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.2,3 Lensa merupakan salah satu media refraksi yang penting. Kekuatan dioptri seluruh bola mata adalah sekitar 58 dioptri. Lensa mempunyai kekuatan dioptri sekitar 15 dioptri. Tetapi kekuatan dioptri ini tidak menetap seperti pada kornea (43 dioptri). Kekuatan dioptri lensa berubah dengan meningkatnya umur, yaitu menjadi sekitar 8 dioptri pada umur 40 tahun dan menjadi 1 atau 2 dioptri pada umur 60 tahun. 2,3 Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 15 % protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah dan persarafan di lensa.3 Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa tews5

menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar nukleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagal korteks lensa. Korteks yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior, sedang di belakangnya korteks posterior. Nukleus tensa mempunyal konsistensi lebih keras di banding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.3 Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil; dalam posisi ini, daya refraksi lensa diperkecil, sehingga berkas cahaya paralel akan terfokus ke retina.1 Lensa merupakan suatu struktur cembung ganda, evaskular, tidak berwarna dan hampir bening sempurna. Lensa bergantung pada zonula di belakang iris yang menghubungkan dengan badan siliar. Di sebelah depan lensa adalah cairan mata sedangkan di sebelah belakangnya adalah badan lensa. Kapsul lensa adalah suatu membrane semi permeable (sedikit lebih permeable daripada dinding kapiler ) yang memungkinkan masuknya air dan elektrolit. Memfokuskan sinar pada retina. Agar sinar dari kejauhan bisa terfokus, otot-otot siliar bisa berelaksasi, serabut-serabut zonula teregang, sehingga mengurangi diameter anteroposterior lensa sampai dimensi minimal.2 Dalam keadaan normal transparansi lensa terjadi karena adanya keseimbangan antara protein yang dapat larut dalam protein yang tidak dapat larut dalam membrane semi permiable. Apabila terjadi peningkatan jumlah protein yang tidak dapat diserap dapat mengakibatkan penurunan sintesa protein, perubahan biokimiawi dan fisik dan protein tersebut mengakibatkan jumlah protein dalam lensa melebihi jumlah protein dalam lensa, melebihi jumlah protein dalam bagian yang lain sehingga membentuk suatu kapsul yang dikenal dengan

nama katarak. Terjadinya penumpukan cairan dan degenerasi dan disintegrasi pada serabut tersebut menyebabkan jalannya cahaya terhambat dan mengakibatkan gangguan mata.2 Kelainan-kelainan lensa antara lain adalah kekeruhan, dislokasi dan kelainan geomatrik pada pasien dengan kelainan seperti ini tajam penglihatannya menurun tanpa disertai rasa sakit untuk memeriksa penyakit atau kelaianan lensa dilakukan uji tajam penglihatan dan pemeriksaan lensa memekai lampu celah, oftalmoskopi, lampu senter/ lup dengan pupil yang telah dilebarkan.2

2.2 KATARAK TRAUMATIK

2.2.1 Definisi Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata.4,5 Katarak traumatik paling sering karena adanya cedera yang disebabkan oleh benda asing yang mengenai lensa atau trauma tumpul pada bola mata.1

Gambar 2.4: Katarak yang berbentuk bunga roset pada seorang pria berumur 36 tahun, 4 minggu setelah cedera tumpul pada.5

2.2.2 Epidemiologi Di Amerika Serikat diperkirakan terjadi 2,5 juta trauma mata setiap tahunnya. Kurang lebih 4-5% dari pasien-pasien mata yang membutuhkan perawatan komperhensif merupakan keadaan sekunder akibat trauma mata. Trauma merupakan penyebab tertinggi untuk buta monokular pada orang kelompok usia di bawah 45 tahun. Setiap tahunnya diperkirakan 50.000 orang tidak dapat membaca koran sebagai akibat trauma mata.5 Dilihat dari jenis kelamin perbandingan tejadian katarak traumatik lakilaki dan perempuan adalah 4 : 1. National Eye Trauma System Study melaporkan ratarata usia penderita katarak traumatik adalah 28 tahun dari 648 kasus yang berhubungan dengan trauma mata.5

2.2.3. Patofisiologi dan Etiologi Pada katarak traumatik, lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing, karena gangguan pada kapsul lensa memungkinkan humor aqueos dan kadang-kadang humor vitreous dapat menembus ke dalam struktur lensa. Pasien biasanya adalah para pekerja industri yang memiliki riwayat tercolok dengan baja. Misalnya, fragmen dari palu baja dapat melewati kornea dan lensa pada tingkat kecepatan yang luar biasa yang bersarang pada vitreous atau retina.1 Trauma tumpul paling sering menyebabkan cedera ocular berupa benturan atau tumbukan. Tumbukan adalah mekanisme yang memberikan dampak langsung, dan menyebabkan terbentuknya cincin Vossius (pada pigmen iris) yang kadang-kadang ditemukan pada kapsul lensa anterior akibat cedera tumpul. Ketika permukaan anterior mata mengalami tumbukan, terjadi pemendekan anteriorposterior yang cepat disertai oleh peregangan dari garis equator. Peregangan ini dapat mengganggu kapsul lensa, zonules, atau keduanya. Trauma tembus yang secara langsung dapat membahayakan kapsul lensa menyebabkan kekeruhan kortikal pada lokasi cedera. Jika dampaknya cukup besar, seluruh lensa mengalami opasitas (pemutihan) dengan cepat, tetapi jika dampaknya kecil, katarak kortikal dapat menutupnya sendiri dan tetap terlokalisasi.5

Peluru dari senapan angin dan kembang api adalah penyebab yang paling sering dari katarak traumatis, penyebab lainnya bisa karena anak panah, batu, memar, paparan panas dalam waktu yang lama (katarak glassblower), dan radiasi ionisasi. Sebagian besar kejadian katarak traumatik dapat dicegah. Dalam bidang industri, dapat dicegah dengan memakai sepasang kacamata pengaman.1

2.2.4. Diagnosis dan Gejala Klinis Diagnosis ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan dapat juga dibantu dengan pemeriksaan penunjang:1,5 a. Anamnesis Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul Riwayat keadaan mata sebelumnya, apakah ada riwayat operasi, glakoma, retinal detachment, penyakit mata karena gangguan metabolik. Riwayat penyakit lain, seperti diabetes, sickle cell, sindroma marfan, homosistinuria, defisiensi sulfat oksidase. Keluhan mengenai penglihatan, seperti penurunan visus, pandangan ganda pada satu mata atau kedua mata, nyeri pada mata.1,5

b. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik yang diperiksa dapat meliputi visus, lapangan pandang, dan pupil. Diperiksa apakah adanya kerusakan ekstraokular, seperti fraktur tulang orbita, gangguan saraf traumatik. Tekanan intraokular diperiksa apakah tinggi biasanya karena glaukoma sekunder dan adanya perdarahan retrobulbar. Pada bilik anterior diperiksa adanya hifema, iritis, iridodonesis, robekan sudut. Pada katarak yang paling penting diperiksa adalah lensa mata, diperiksa apakah adanya kekeruhan, subluksasi, dislokasi, integritas kapsular (anterior dan posterior). Pada vitreus apakah ada atau tidak perdarahan dan perlepasan vitreus posterior. Pada fundus diperiksa adanya Retinal detachment, ruptur khoroid, perdarahan pre intra dan subretina, kondisi saraf optik.5 Gejala klinis pada pasien katarak berupa keluhan pandangan kabur, yang biasanya bertambah buruk jika melihat objek yang jauh secara mendadak. Selain

itu pasien katarak seringkali mengeluhkan monocular diplopia. Silau juga menjadi gejala yangsering muncul. Pasien mengeluhkan bahwa mereka tidak dapat melihat dengan baik dalam keadaan terang. Mata menjadi merah lensa opak dan mungkin terjadi perdarahan intraocular. Apabila humor aqueus atau korpus vitreum keluar dari mata mata menjadi sangat lunak. Pasien juga memiliki riwayat mengalami trauma.1,5,8 Dari pemeriksaan dengan menggunakan oftalmoskop adalah adanya opasitasyang seringkali terlihat sebagai black spoke pada refleks fundus. Penting untuk mendilatasikan pupil dan memeriksanya pada ruangan yang gelap. Seringkali pada katarak traumatik yang disebabkan oleh kontusio dapat terlihat opasifikasi berbentuk stellate atau rosette (katarak rosette), biasanya terletak di aksial. Pada trauma tembus, cedera pada kapsul mata dapat sembuh, yang menyebabkan katarak kortikal fokal yang stasioner.5,8

2.2.5. Penatalaksanaan Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder. Apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis, maka dapat diberikan antibiotik sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal dalam beberapa hari. Atropin sulfat 1%, 1 tetes 3 kali sehari, dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan untuk mencegah pembentukan sinekia posterior.5 Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis, atau salah letak lensa. Jika terjadi penyulit tersebut maka harus segera dilakukan ekstraksi lensa.2,5

10

Jika terjadi glaukoma karena katarak traumatik ini, maka tekanan intraokular dapat dikontrol dengan pengobatan standar. Dapat diberikan kortikosteroid jika partikel lensa merupakan penyebabnya atau jika terjadinya iritis. Untuk katarak fokal, observasi saja bisa dilakukan jika katarak berada di luar sumbu penglihatan. Terapi miotik bisa bermanfaat jika katarak terletak dekat dengan sumbu penglihatan. Dalam beberapa kasus subluksasi lensa, miotik dapat memperbaiki diplopia monokuler. Midriatik dapat diberikan untuk memperbaiki penglihatan pada sekitar lensa dengan koreksi aphakia.5

Katarak dapat dikeluarkan pada saat pengeluaran benda asing atau setelah peradangan mereda. Apabila terjadi glaukoma selama periode follow up, bedah katarak jangan ditunda walaupun masih terdapat peradangan. Untuk

mengeluarkan katarak traumatik, biasanya digunakan teknik-teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada pasien berusia kurang dari 30 tahun.5

Penatalaksanaan bedah Merencanakan pendekatan pembedahan sepenuhnya penting pada kasuskasus katarak traumatik. Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas zonular harus diketahui/ diprediksi. Pada kasus dislokasi posterior tanpa glaukoma, inflamasi, atau hambatan visual, pembedahan mungkin tidak diperlukan. Indikasi untuk penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik adalah sebagai berikut:5 Penurunan visus yang berat (unacceptable) Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior. Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma. Ruptur kapsul dengan edema lensa. Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan membutuhkan tindakan bedah.5

11

Ada 3 macam teknik pembedahan pada katarak yaitu :

1. Ekstraksi Katarak Intrakapsular ( EKIK ) Adalah mengeluarkan lensa dalam keadaan lensa utuh dilakukan dengan membuka menyayat selaput bening dan memasukkan alat melalui pupil, kemudian menarik lensa keluar, seluruh lensa dengan pembungkus atau kapsulannya dikeluarkan dengan lidi ( prabe), beku (dingin ). Pada operasi ini dibuat sayatan selapur bening yang cukup luas. Jahitan yang banyak (14-15 mm), sehingga penyembuhan lukanya memekan waktu lama.2

2. Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler ( EKEK ) Lensa dikeluarkan setelah pembungkus depan dibuat lubang, sedang pembungkus belakang ditinggalkan. Dengan teknik ini terdapat ruang- ruang bebas di tempat bekas lensa sehingga memungkinkan mandapatkan lensa pengganti yang disebut sebagai lensa tanam bilik mata belakang ( posterior chmber intraocular lens ) dengan teknik sayatan lebih kecil (10-11 mm) sedikit jahitan dan waktu penyembuhan lebih pendek.2

3. Fakoemulsifikasi Merupakan penemuan terbaru pada EKEK. Cara ini memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan menggunakan alat ultrason frekuensi tinggi untuk memecah nucleus dan korteks lensa menjadi partikel kecil yang memberikan irigasi kontinus. Teknik ini memerlukan waktu yang pendek dan penurunan insidensi astigmatisme pasca operasi. Kedua teknik irigasi-aspirasi fakoelmulsifikasi dapat mempertahankan kapsula posterior, yang nantinya digunakan untuk menyangga IOL.1,2 Fakoemulsifikasi yang standar dapat dilakukan bila kapsul lensa intak dan dukungan zonular yang cukup. Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada kasus-kasus dislokasi anterior atau instabilitas zonular yang ekstrim. Dislokasi anterior lense ke bilik anterior merupakan keadaan emergensi yang harus segera dilakukan tindakan (removal), karena dapat mengakibatkan terjadinya pupillary

12

block glaucoma. Lesentomi dan vitrektomi pars plana dapat menjadi pilihan terbaik pada kasus-kasus ruptur kapsul posterior, dislokasi posterior, atau instabilitas zonular yang ekstrim.5

2.2.6. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi antara lain : Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatik. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik, blok pupil, glaukoma sudut tertutup, uveitis, retinal detachment, ruptur koroid, hipema, perdarahan retrobulbar, neurophati optik traumatik.5

2.2.7. Prognosis Prognosis sangat bergantung kepada luasnya trauma yang terjadi pada saat terjadinya trauma dan kerusakan yang terjadi akibat trauma.5

13

BAB 3 KESIMPULAN

Katarak traumatik paling sering karena adanya cedera yang disebabkan oleh benda asing yang mengenai lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Peluru dari senapan angin dan kembang api adalah penyebab yang paling sering, penyebab lainnya bisa karena anak panah, batu, memar, paparan panas dalam waktu yang lama (katarak glassblower), dan radiasi ionisasi. Sebagian besar kejadian katarak traumatik dapat dicegah. Dalam bidang industri, dapat dicegah dengan memakai sepasang kacamata pengaman. Gejala klinis pada pasien katarak berupa keluhan pandangan kabur, yang biasanya bertambah buruk jika melihat objek yang jauh secara mendadak. Selain itu pasien katarak seringkali mengeluhkan monocular diplopia. Silau juga menjadi gejala yangsering muncul. Pasien mengeluhkan bahwa mereka tidak dapat melihat dengan baik dalam keadaan terang. Mata menjadi merah lensa opak dan mungkin terjadi perdarahan intraocular. Apabila humor aqueus atau korpus vitreum keluar dari mata mata menjadi sangat lunak. Pasien juga memiliki riwayat mengalami trauma. Ada tiga macam teknik pembedahan pada katarak, yaitu: Ekstraksi Katarak Intrakapsular, Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler, dan Fakoemulsifikasi.

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000. 2. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai Penerbit FK Universitas Indonesia, Jakarta. 2008. 3. Ilyas, Sidarta. Kelainan Refraksi dan Koreksi Penglihatan. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004. 4. James, Bruce. dkk. Lecture Notes: Oftalmologi. Edisi Kesembilan. Penerbit Erlangga. Jakarta: 2006. 5. Graham, Robert H., MD. Traumatic Cataract. Available at URL: http://emedicine. medscape.com/article/ 1211083, accessed on October 2011. 6. Joan E. Roberts. Photobiology of The Human Lens. Fordham University, Department of Natural Sciences. Available at URL: http://www.

photobiology. info/ Roberts.html, accessed on October 2011. 7. Eye Anatomy. Available at URL: http://www.biographixmedia.com/human /eye-anatomy.html, accessed on October 2011. 8. Galloway, N. R, et al. Common eye diseases and their management. Third Edition. Spinger-Verlag. London: 2006.

15