Anda di halaman 1dari 50

2. PNEUMONIA 2.

1 Definisi Pneumonia ialah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing yang mengensi parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi dimana paru-paru terisi oleh cairan sehingga terjadi gangguan pernafasan. Anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan badan yang menurun, misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakit menahun, faktor iatrogen seperti trauma pada paru, anestesia, aspirasi, pengobatan dengan antibiotika yang tidak sempurna. 2.2 Klasifikasi a. Anatomis dan etiologis Pembagian pneumonia tidak ada yang memuaskan. Pada umumnya diadakan pembagian atas dasar anatomis dan etiologis. Pembagian anatomis : (1) pneumonia lobaris, (2) pneumonia lobularis (bronkopneumonia) dan (3) pneumonia interstitialis (bronkiolitis). Pembagian etiologis : (1) bakteria : Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus, Streptococcus aureus. Hemophilus influenzae, Bacillus Friedlander, Mycobacterium tuberculosis. (2) virus: Respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, virus sitomegalik. (3) Mycoplasma pneumonia. (4) jamur : Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Blastomyces dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus species, Candida albicans. (5) aspirasi : makanan, kerosen (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing. (6) pneumonia hipostatik. (7) sindrom Loeffler. Secara klinis biasa, berbagai etiologi ini sukar dibedakan. Untuk pengobatan tepat, pengetahuan tentang penyebab pneumonia perlu sekali, sehingga pembagian etiologis lebih rasional daripada pembagian anatomis. b. Pneumonia komuniti Menurut buku Pneumonia Komuniti, Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan tiga klasifikasi pneumonia. Berdasarkan klinis dan epidemiologis: a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia). b. Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial pneumonia). c. Pneumonia aspirasi. d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.

Berdasarkan bakteri penyebab:

a. Pneumonia bakteri/tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Pneumonia bakterial sering diistilahkan dengan pneumonia akibat kuman. Pneumonia jenis itu bisa menyerang siapa saja, dari bayi hingga mereka yang telah lanjut usia. Para peminum alkohol, pasien yang terkebelakang mental, pasien pascaoperasi, orang yang menderita penyakit pernapasan lain atau infeksi virus adalah yang mempunyai sistem kekebalan tubuh rendah dan menjadi sangat rentan terhadap penyakit itu. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak paru-paru. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, atau pun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri Pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia bakteri tersebut. b. Pneumonia Akibat virus. Penyebab utama pneumonia virus adalah virus influenza (bedakan dengan bakteri hemofilus influenza yang bukan penyebab penyakit influenza, tetapi bisa menyebabkan pneumonia juga). Gejala awal dari pneumonia akibat virus sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk kering, sakit kepala, nyeri otot, dan kelemahan. Dalam 12 hingga 36 jam penderita menjadi sesak, batuk lebih parah, dan berlendir sedikit. Terdapat panas tinggi disertai membirunya bibir. Tipe pneumonia itu bisa ditumpangi dengan infeksi pneumonia karena bakteri. Hal itu yang disebut dengan superinfeksi bakterial. Salah satu tanda terjadi superinfeksi bakterial adalah keluarnya lendir yang kental dan berwarna hijau atau merah tua. c. Pneumonia jamur, Sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised). Berdasarkan predileksi infeksi: a) Pneumonia lobaris, pneumonia yang terjadi pada satu lobus (percabangan besar dari pohon bronkus) baik kanan maupun kiri. b) Pneumonia bronkopneumonia, pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua. Pada penderita pneumonia, kantong udara paru-paru penuh dengan nanah dan cairan yang lain. Dengan demikian, fungsi paru-paru, yaitu menyerap udara bersih (oksigen) dan mengeluarkan udara kotor menjadi terganggu. Akibatnya, tubuh menderita kekurangan oksigen dengan segala konsekuensinya.

2.3 Etiologi

Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Faktor-faktor risiko terkena pneumonia, antara lain, Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA), usia lanjut, alkoholisme, rokok, kekurangan nutrisi, Umur dibawah 2 bulan, Jenis kelamin laki-laki , Gizi kurang, Berat badan lahir rendah, Tidak mendapat ASI memadai, Polusi udara, Kepadatan tempat tinggal, Imunisasi yang tidak memadai, Membedong bayi, efisiensi vitamin A dan penyakit kronik menahun. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia: a. b. c. d. e. f. g. h. i. Umur dibawah 2 bulan. Tingkat sosio ekonomi rendah. Gizi kurang. Berat badan lahir rendah. Tingkat pendidikan ibu rendah. Tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah. Kepadatan tempat tinggal. Imunisasi yang tidak memadai. Menderita penyakit kronis

2.4 Manifestasi Klinik Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului infeksi saluran nafas atas akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat dapat mencapai 40 derajat celsius, sesak nafas, nyeri dada, dan batuk dengan dahak kental, terkadang dapat berwarna kuning hingga hijau. Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, dan sakit kepala. Tanda dan Gejala berupa: Batuk nonproduktif Ingus (nasal discharge) Suara napas lemah Retraksi intercost Penggunaan otot bantu nafasDemam Ronchii Cyanosis Leukositosis Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar Batuk Sakit kepala Kekakuan dan nyeri otot Sesak nafas Menggigil Berkeringat Lelah.

2.5 Patofisiologi

Pneumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, atau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyakit) yang masuk akan dilawan oleh pelbagai sistem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-sel pada lapisan lendir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar. Tentu itu semua tergantung besar kecilnya ukuran sang penyebab tersebut. 2.6 Komplikasi a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Abses paru Edusi pleural Empisema Gagal nafas Perikarditis Meningitis Atelektasis Hipotensi Delirium Asidosis metabolic Dehidrasi Penyakit multi lobular

2.7 Pemeriksaan diagnostic 2.7.1 Sinar X Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.

a. GDA Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada. b. JDL leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun. c. LED meningkat. d. Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan komplain menurun. e. Elektrolit Na dan Cl mungkin rendah. f. Bilirubin meningkat. g. Aspirasi / biopsi jaringan paru

Alat diagnosa termasuk sinar-x dan pemeriksaan sputum. Perawatan tergantung dari penyebab pneumonia; pneumonia disebabkan bakteri dirawat dengan antibiotik.

Pemeriksaan penunjang: Rontgen dada

Pembiakan dahak Hitung jenis darah Gas darah arteri.

2.8 Penatalaksanaan Medis 2.8.1 PENGOBATAN

Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik. Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu. Penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab, sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup : Oksigen 1-2 L/menit. IVFD dekstrose 10 % : NaCl 0,9% = 3 : 1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi. Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan : Untuk kasus pneumonia community base : a. Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian. b. Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian Untuk kasus pneumonia hospital base : a. Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian. b. Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

2.9.1

2.9 ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PNEUMONIA Pengkajian

a. Data Subjective a) b) c) d) e) Kaji riwayat tentang distres pernapasan Anak lemah, mudah lelah Kehilangan napsu makan, mual/muntah Sakit kepala, influenza Nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk

f) Batuk bersputum merah muda dan purulent g) Demam h) Mengigigil berulang, gemetar.

b. Data Objective a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) l) m) 2.9.2 Penurunan toleransi terhadap aktivitas Takikardi Wajah kemerahan atau pucat Distensi abdomen Hiperaktif peristaltic Penampilan malnutrisi Perkusi dada pekak diatas area yang terkonsilidasi Takipnea Dispnea progresif Pernapasn dangkal Penggunaan otot bantu pernapasan Fremitus : taktil dan vokal bertahap meningkat dengan konsilidasi Gesekan friksi pleural. Diagnos Keperawatan

1) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveoli-kapiler. 2) Bersihan napas inefektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronchial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum. 3) Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru. 4) Kecemasan berhubungan dengan dyspnea dan hospitalisasi. 5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 6) Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia, perlengketan sekret pernapasan). 7) Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringat banyak, hiperventilasi, muntah). 8) Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan inadekuatnya masukan nutrisi. 9) Kurang pengetahuan dari orang tua mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurangnya informasi. 2.9.3 Intervensi Keperawatan a. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveoli-kapiler sekunder terhadap inflamasi pada intertisial alveolar. a) HYD : - Meunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan b) Interventions ; - Kaji frekuensi dan kedalaman pernapasan - Berikan posisi semi fowler pada anak sesuai indikasi Rasional; meningkatkan ekspansi maksimal dada dan inspirasi maksimal - Observasi nadi oksimetri dan ABGs - Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi Oksigen

3. ASMA 3.1 Definisi Asma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan. 3.2 Patofisiologi Asma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain. Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma. Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terusmenerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan. Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin. Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 tertahan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).

Alergen, Infeksi, Exercise (Stimulus Imunologik dan Non Imunologik) Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas

Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin ) Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus ) Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X ) Hiperresponsif jalan napas Astma Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret. Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas. Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

3.3 1) 2) 3) 4) 5)

Komplikasi Asma Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas Chronik persistent bronchitis Bronchiolitis Pneumonia Emphysema.

3.4 Etiologi Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang). Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

3.5 Manifestasi Klinis Auskultasi :Wheezing, ronkhi kering musikal, ronki basah sedang. Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor. Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit. Tachypnea, orthopnea. Diaphoresis Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan. Fatigue Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran. Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor. Serangan yang tiba-tiba atau berangsur. Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis. X foto dada : atelektasis tersebar, Hyperserated 3.6 Pemeriksaan Diagnostik Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik Foto rontgen Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum Pemeriksaan alergi Pulse oximetri Analisa gas darah.

3.7 Penatalaksanaan serangan asma akut : Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral. Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali. Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) : Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme : Efedrin : 0,5 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam

Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat. Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas. Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump. Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

3.8 ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONCHIAL 3.8.1 PENGKAJIAN a. Identitas Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki. b. c. d. e. f. Keluhan utama : Batuk-batuk dan sesak napas Riwayat penyakit sekarang : Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas. Riwayat penyakit terdahulu : Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya. Riwayat penyakit keluarga : Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain. Riwayat kesehatan lingkungan Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma. Riwayat imunisasi Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.

g.

h.

Riwayat nutrisi Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. Status Gizi Klasifikasinya sebagai berikut : Gizi buruk kurang dari 60% Gizi kurang 60 % - <80 % Gizi baik 80 % - 110 % Obesitas lebih dari 120 % Dampak Hospitalisasi Sumber stressor : Perpisahan Protes : pergi, menendang, menangis Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan. Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal. Sistem Cardiovaskuler Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan. Sistem Persyarafan / neurologi Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng? apatis? sopor? coma. Sistem perkemihan Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering. Sistem integumen Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.

i.

3.8.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL dan RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret. Tujuan : - Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal

Bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal.

Kriteria hasil : - PO2dan CO2 dalam batas nilai normal - Tidak sesak nafas - Batuk produktif, cianosis tdak ada - Tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing Intervensi : - Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ). - Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam. - Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry. - Kaji kenyamanan posisi tidur anak. - Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia. - Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral - Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ). - Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan. - Berikan terapi bermain sesuai usia. 2. Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas. Tujuan : - Anak tidak tampak fatigue Kriteria hasil: - Tidak iritabel - Dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi. Intervensi : - Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea. - Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. - Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak. - Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi. - Berikan oksigen humidifikasi sesuai program. - Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi. - Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial. Perencanaan Pemulangan Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.

Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah. Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya. Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul. Ajarkan penggunaan nebulizer. Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian. Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress. Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas. Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.

4. TBC 4.1 Definisi TBC Paru /Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, dan lokasi infeksi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. 4.2 Etiologi Penyebab dari penyakit TBC adalah kuman microorganisme yaitu basil mycobacterium tuberculosis tipe humanus dengan ukuran panjang 1 4 um dan tebal 1,3 0,6 um, termasuk golongan bakteri aerob gram positif serta tahan asam atau basil tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik karena sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). 4.3 Patofisiologi asuhan keperawatan Penyakit TBC biasanya menular melalui udara/droflet yang tercemar oleh mycobacterium tuberculosis, seperti pada saat penderita TBC batuk, bersin. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1 2 jam. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam suasana yang gelap dan lembab kuman dapat bertahan sampai berhari hari bahkan berbulan, bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang yang sehat akan menempel pada alveoli kemudian partikel ini akan berkembang bisa sampai puncak apeks paru sebelah kanan atau kiri dan dapat pula keduanya dengan melewati pembuluh limfe, basil berpindah kebagian paru paru yang lain atau jaringan tubuh yang lain. Pada anak-anak sumber infeksi penyakit TBC umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Tanda dan gejala penyakit TBC Gejala umum penyakit TBC pada anak: Berat badan turun tanpa sebab yang jelas, atau BB tidak naik dalam satu bulan dengan penanganan gizi. Failure to thrive Batuk dan demam lama yang berulang yanpa sebab yang jelas, bukan tifus malaria atau infeksi saluran nafas akut, dapat disertai keringan di malam hari Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit biasanya multifel. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare.

Gejala Spesifik sesuai dengan organ yang terkena: TB kulit / skrofuloderma TB tulang dan sendi (pincang) TB otak dan saraf/ meningitis dengan gejala irritable, kaku kuduk, muntah, dan kesadaran menurun TB mata (konjungtivitis fliktenularis)

Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan pada TBC anak Dalam asuhan keperawatan tbc pada anak pemeriksaan untuk mendiagnosis penyakit tbc adalah:

Test kulit : (PPD, Mantoux, potongan vollmer) ; reaksi positif (area durasi 10 mm) terjadi 48 72 jam setelah injeksi intra dermal. Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang berbeda. Foto thorax ; dapat menunjukan infiltrsi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan lebih luas TB dapat masuk rongga area fibrosa. Penatalaksanaan/pengobatan Penderita penyakit TBC pada anak regimen dasar pengobatannya adalah kombinasi INH (isoniazid) dan Rifamfisin selama 6bulan dengan PZA (pirazynamid) pada 2 bulan pertama. 4.4 Asuhan Keperawatan pada Pasien TBC Anak 4.4.1 Pengkajian Identitas Data Umum (selain identitas klien, juga identitas orangtua; asal kota dan daerah, jumlah keluarga) Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit) Riwayat kehamilan dan kelahiran: Prenatal : (kurang asupan nutrisi , terserang penyakit infeksi selama hamil) Intranatal : Bayi terlalu lama di jalan lahir , terjepit jalan lahir, bayi menderita caput sesadonium, bayi menderita cepal hematom Post Natal : kurang asupan nutrisi , bayi menderita penyakit infeksi , asfiksia ikterus

Riwayat Masa Lampau

1) Penyakit yang pernah diderita: Tanyakan, apakah klien pernah sakit batuk yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh? Tanyakan, apakah pernah berobat tapi tidak sembuh? Apakah pernah berobat tapi tidak teratur? 2) 3) 4) 5) 6) 7) Pernah dirawat dirumah sakit Obat-obat yang digunakan/riwayat Pengobatan Riwayat kontak dengan penderita TBC Alergi Daya tahan yang menurun. Imunisasi/Vaksinasi : BCG Riwayat Penyakit Sekarang (Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempattempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula) Riwayat Keluarga (adakah yang menderita TB atau Penyakit Infeksi lainnya, Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama) Riwayat Kesehatan Lingkungan dan sosial ekonomi

Lingkungan tempat tinggal (Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak), pola sosialisasi anak Kondisi rumah Merasa dikucilkan Aspek psikososial (Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri) Biasanya pada keluarga yang kurang mampu Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak Tidak bersemangat dan putus harapan.

Riwayat psikososial spiritual (Yang mengasuh, Hubungan dengan anggota keluarga, Hubungan dengan teman sebayanya, Pembawaan secara umum, Pelaksanaan spiritual) Pengkajian TUMBANG menggunakan KMS,KKA, dan DDS Pertumbuhan a) b) c) d) e) Kaji BBL,BB saat kunjungan BB normal BB normal, mis : ( 6-12 tahun ) umur kaji berat badan lahir dan berat badan saat kunjungan TB = 64 x 77R = usia dalam tahun LL dan luka saat lahir dan saat kunjungan

Perkembangan a) lahir kurang 3 bulan = belajar mengangkat kepala, mengikuti objek dengan mata, mengoceh, b) usia 3-6 bulan mengangkat kepala 90 derajat, belajar meraih benda, tertawa, dan mengais meringis c) usia 6-9 bulan = duduk tanpa di Bantu, tengkuarap, berbalik sendiri, merangkak, meraih benda, memindahkan benda dari tangan satu ke tangan yang lain dan mengeluarkan katakata tanpa arti. d) usia 9-12 bulan = dapat berdiri sendiri menurunkan sesuatu mengeluarkan kat-kata, mengerti ajakan sederhana, dan larangan berpartisipasi dalam permainan. e) usia 12-18 bulan = mengeksplorasi rumah dan sekelilingnya menyusun 2-3 kata dapat mengatakan 3-10 kata , rasa cemburu, bersaing f) usia 18-24 bulan = naikturun tangga, menyusun 6 kata menunjuk kata dan hidung, belajar makan sendiri, menggambar garis, memperlihatkan minat pada anak lain dan bermain dengan mereka. g) usia 2-3 tahun = belajar melompat, memanjat buat jembatan dengan 3 kotak, menyusun kalimat dan lain-lain. h) usia 3-4 tahun = belajar sendiri berpakaian, menggambar berbicara dengan baik, menyebut warna, dan menyayangi saudara. i) usia 4-5 tahun = melompat, menari, menggambar orang, dan menghitung. 4.4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang dapat muncul pada asuhan keperawatan tbc anak yaitu : 1) Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi 2) Defisit pengetahuan tentang proses infeksi

3) Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan : Daya tahan tubuh menurun, malnutrisi, proses inflamasi, Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman. 4) Ketidakpatuhan berhubungan dengan pengobatan dalam jangka waktu yang lama. 5) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan : Batuk yang sering, adanya produksi sputum, Anoreksia. 6) Risiko gangguan dalam menjalankan peran sebagai orang tua berhubungan dengan isolasi pasien 4.4.3 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Intervensi Keperawatan

Berikan oksigen humidifier bagi anak dengan dispnue Tinggikan bagian kepala tempat tidur Mengukur dan mencatat BB pasein Berikan obat batuk ekspektoran sesuai kebutuhan Menyajikan makanan dalam porsi kecil tapi sering Memberikan makanan tinggi TKTP Ajarkan Orang Tua dan anak (jika tepat) tentang penularan dan pengobatan TB Ajarkan Orang Tua dan anak (jika tepat) tentang bagaimana memberikan pengobatan, berapa lama terapi pengobatan harus dijalani, dan apa yang terjadi bila anak tidak menjalani tuntas pengobatannya.

5. Difteri 5.1 Definisi Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae (C. diphtheriae). Penyakit ini menyerang bagian atas mukosa saluran pernapasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit tekak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membran kelabu yang menutupi tonsil serta bagian saluran pernapasan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Difteri) 5.2 Klasifikasi Difteri Berdasar berat ringannya penyakit diajukan Beach (1950): 1. Infeksi ringan Pseudomembran terbatas pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan 2. Infeksi sedang Pseudomembran menyebar lebih luas sampai dinding posterior faring dengan edema ringan laring yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif 3. Infeksi berat Ada sumbatan jalan nafas, hanya dapat diatasi dengan trakeostomi Dapat disertai gejala komplikasi miokarditis, paralisis/ nefritis Berdasarkan letaknya, digolongkan sebagai berikut: 1. Difteria Tonsil Faring (fausial) Gejala difteria tonsil-faring adalah anoreksia, malaise, demam ringan, dan nyeri menelan. Dalam 1-2 hari kemudian timbul membran yang melekat, berwarna putih-kelabu dapat menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula dan pallatum molle atau ke bawah ke laring dan trakea. Usaha melepaskan membran akan mengakibatkan pendarahan. Dapat terjadi limfadetis servikalis dan submandibularis, bila limfadentis terjadi bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang luas, timbul bullneck. Selanjutnya, gejala tergantung dari derjat penetrasi toksin dan luas memban. Pada kasus berat, dapat terjadi kegagalan pernafsan atau sirkulasi. Dapat terjadi paralis palatum molle baik uni maupun bilateral, disertai kesukaran menelan dan regurgitasi. Stupor, koma, kematian dapat berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit miokarditis dan neuritis. Pada kasus ringan membran akan terlepas dalam 7-10 hari dan biasanya terjadi penyembuhan sempurna. 2. Diteria Laring Difteria laring biasanya merupakan perluasan difteri faring. Pada difteri primer gejala toksik kurang nyata, oleh karena mukosa laring mempunyai daya serap toksin yang rendah dibandingkan mukosa faring sehingga gejala obstruksi saluran nafas atas lebih mencolok. Gejala klinis difteri laring sukar untuk dibedakan dengan tipe infectius croups yang lain, seperti nafas bunyi, stridor yang progresif, suara parau dan batuk

kering. Pada obstruksi laring yang berat terdapat retraksi suprasternal, interkostal dan supraklavikular. Bila terjadi pelepasan membran yang menutup jalan nafas bisa terjadi kematian mendadak. 3. Difteri Kulit, Vulvovaginal, Konjungtiva dan Telinga Difteria kulit, difteria vulvovaginal, diftera konjungtiva dan difteri telinga merupakan tipe difteri yang tidak lazim. Difteri kulit berupa tukak di kulit, tetapi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Difteri pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dan sekret purulen dan berbau. 5.3 Etiologi Disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae, bakteri gram positif yang bersifat polimorf, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Pewarna sediaan langsung dengan biru metilen atau biru toluidin. Basil ini dapat ditemukan dengan sediaan langsung dari lesi. Dengan pewarnaan, kuman bisa tampak dalam susunan palisade, bentuk L atau V, atau merupakan kelompok dengan formasi mirip huruf cina. Kuman tumbuh secara aerob, bisa dalam media sederhana, tetapi lebih baik dalam media yang mengandung Ktellurit atau media Loeffler. Pada membran mukosa manusia. Diphteriae dapat hidup bersama-sama dengan kuman diphteroid saprofit yang mempunyai morfologi serupa, sehingga untuk membedakan kadang-kadang diperlukan pemeriksaan khusus dengan cara fermentasi glikogen, kanji,glukosa, maltosa dan sukrosa. Basil dapat membentuk : 1) Pseudomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah dan berwarna putih keabu-abuan yang terkena terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan basil. 2) Eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diabsorbsi dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf. Minimum lethal dose (MLD) toksin ini adalah 0,02ml. Satu perlima puluh ml toksin dapat membunuh marmut dan kurang lebih 1/50 dosis ini dipakai untuk uji Schick. Bakteri ini ditularkan dropplet dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembang biak pada atau disekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksik yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak. Masa inkubasi 1-7 hari (rata-rata 3 hari). Hasil difteria akan mati pada pemanasan suhu 600C selama 10 menit, tetapi tahan hidup sampai beberapa minggu dalam es, air, susu dan lender yang telah mengering. 5.4 Manifestasi Klinis Gejala klinis penyakit difteri ini adalah panas lebih dari 38 C, ada pseudomembrane bisa di faring, laring atau tonsil, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher. Tidak semua gejala-gejala klinik ini tampak jelas, maka setiap anak panas yang sakit waktu menelan harus diperiksa faring dan tonsilnya apakah ada psedomembrane. Jika pada tonsil tampak membran putih keabu-abuan disekitarnya, walaupun tidak khas rupanya, sebaiknya diambil sediaan (spesimen) berupa apusan tenggorokan (throat swab) untuk pemeriksaan laboratorium.

Masa tunas 3-7 hari khas adanya pseudo membrane, selanjutnya gejala klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena. Gejala umum yang timbul berupa demam tidak terlalu tinggi lesu, pucat nyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak penderita sangatlemah sekali. Gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan sesak dan strides, sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti iniokorditis paralysis jaringan saraf atau nefritis. 5.5 Patofisiologi Biasanya bakteri berkembang biak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Bila bakteri sampai ke hidung, hidung akan meler. Peradangan bisa menyebar dari tenggorokan ke pita suara (laring) dan menyebabkan pembengkakan sehingga saluran udara menyempit dan terjadi gangguan pernafasan. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini akan menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan di seluruh tubuh, terutama jantung dan saraf. Toksin biasanya menyerang saraf tertentu, misalnya saraf di tenggorokan. Penderita mengalami kesulitan menelan pada minggu pertama kontaminasi toksin. Antara minggu ketiga sampai minggu keenam, bisa terjadi peradangan pada saraf lengan dan tungkai, sehingga terjadi kelemahan pada lengan dan tungkai. Kerusakan pada otot jantung (miokarditis) bisa terjadi kapan saja selama minggu pertama sampai minggu keenam, bersifat ringan, tampak sebagai kelainan ringan pada EKG. Namun, kerusakan bisa sangat berat, bahkan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak. 5.6 Penatalaksanaan Difteri Tindakan Umum Tujuan : a. Mencegah terjadinya komplikasi b. Mempertahankan/memperbaiki keadaan umum c. Mengatasi gejala /akibat yang timbul Jenis Tindakan : 1. Perawatan tirah baring selama 2 minggu dalam ruang isolasi 2. Jamin intake cairan dan makanan. Bentuk makanan disesuaikan dengan toleransi, untuk hal ini dapat diberikan makanan lunak, saring/cair, bilaperlu sonde lambung jika ada kesukaranmenelan (terutama pada paralysisis palatum molle dan otot-otot faring). 3. Jamin kemudahan defekasi. Jika perlu berikan obat-obat pembantu defekasi (klisma, laksansia, stool softener) untuk mencegah mengedan berlebihan. 4. Bila anak gelisah beri sedative : diazepam/luminal

5. Pemberian antitusif untukmengurangi batuk (difteri laring) 6. Aspirasi sekret secara periodic terutama untuk difteri laring. 7. Bila ada tanda-tanda obstruksi jalan nafas : a) Berikan Oksigen b) Trakeostomi, yang mana disesuaikan dengan tingkat dispneu laryngeal menurut Jackson : 1) Penderita tenang dengan cekungan ringal suprasternal 2) Retraksi suprasternal lebih dalam + cekungan epigastrium dan penderita gelisah 3) Retraksi supra dan infrasternal, penderita gelisah 4) Penderita sangat gelisah, ketakutan, muka pucat kelabu dan akan kehabisan tenaga, lalu tampak seolah-olah tenang, tertidur dan akhirnya meninggal karena asfiksia Tindakan Spesifik Tujuan : a. Menetralisir Toksin b. Eradikasi Kuman c. Menanggulangi infeksi sekunder Jenis Tindakan (Ada 3 jenis pengobatan) : 1. Serum Anti Difteri (SAD) Dosis diberikan berdasar atas luasnya membrane dan beratnya penyakit. 1) 40.000 IU untuk difteri sedang, yakni luas membran menutupi sebagian/seluruh tonsil secara unilateral/bilateral. 2) 80.000 IU untuk difteri berat, yakni luas membran menutupi hingga melewati tonsil, meluas ke uvula, palatum molle dan dinding faring. 3) 120.000 IU untuk difteri sangat berat, yakni ada bull neck, kombinasi difteri laring dan faring, komplikasi berupa miokarditis, kolaps sirkulasi dan kasus lanjut. Tipe difteri Dosis DS (KI) Cara Pemberian Difteri hidung 20.000 IM Difteri tonsil 40.000 IM atau IV Difteri faring 40.000 IM atau IV Difteri laring 40.000 IM atau IV Kombinasi lokasi di atas 80.000 IV Difteri + penyulit, bullneck 80.000-120.000 IV Terlambat berobat (>72 jam), lokasi dimana saja 80.000-120.000 IV

SAD diberikan dalam dosis tunggal melalui drips IV dengan cara melarutkannya dalam 200 cc NaCl 0,9 %. Pemberian selesai dalam waktu 2 jam (sekitar 34 tetes/menit). Oleh karena SAD merupakan suatu serum heterolog maka dapat menimbulkan reaksi anafilaktik pada pemberiannya. Untuk mencegah rx anafilaktik ini maka harus dilakukan:

Uji Kepekaan 1. Pengawasan tanda vital dan reaksi lainnya seperti perluasan membran, selama dan sesudah pemberian SAD terutama sampai 2 jam setelah pemberian serum. 2. Adrenalin 1:1000 dalam dalam semprit harus selalu disediakan ( dosisnya 0,01 cc/kg BB im, maksimal diulang 3x dengan interval 5-15 menit ). 3. Sarana dan penanggulangan reaksi anafilaktik harus tersedia.

Uji Kepekaan yang dilakukan terdiri dari : Tes kulit a. SAD 0,1 cc pengenceran 1:10 dalam NaCl 0,9% intrakutan. Hasilnya dibaca setelah 15-20 menit. b. Dianggap positif bila teraba indurasi dengan diameter paling sedikit 10 mm. Tes Mata b. 1 tetes pengenceran SAD 1:10 dalam NaCl 0,9% diteteskan pada salah satu kelopak mata bagian bawah c. 1 tetes NaCl 0,9% digunakan sebagai kontras pada mata lainnya. Hasilnya dilihat setelah 15 20 menit kemudian d. Dianggap (+) bila ada tanda konjungtivitis ( merah, bengkak, lakrimasi ) e. Konjungtivitis diobati dengan adrenalin 1:1000 Bila salah satu tes kepekaan (+), maka SAD tidak diberikan secara sekaligus (single dose) tetapi secara bertahap, yaitu dengan dosis yang ditingkatkan secara perlahan-lahan (desensibilisasi) dengan interval 20 menit. SAD diencerkan dalam NaCl 0,9% dengan dosis sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. 0,05 cc dari pengenceran 1:20 secara subkutan 0,1 cc dari pengenceran 1:20 secara subkutan 0,1 cc dari pengenceran 1:10 secara subkutan 0,1 cc tanpa pengenceran secara subkutan 0,3 cc tanpa pengenceran secara subkutan 0,5 cc tanpa pengenceran secara subkutan 1 cc tanpa pengenceran secara subkutan SAD yang sisa diberikan secara drips IV. Bila ada tanda-tanda reaksi anafilaktik segera berikan adrenalin 1:1000.

2. Antibiotik a. Penicillin prokain 100.000 IU/kgBB selama 10 hari. Maksimal 3 gram/hari. b. Eritromisin (bila alergi PP) 50 mg/kg BB secara oral 3-4 kali/hari selama 10 hari. 3. Kortikosteroid a. Indikasi : Difteri berat dan sangat berat (membran luas, komplikasi bull neck) b. Prednison 2 mg/kgBB/hari selama 3 minggu.

c. Dexamethazon 0,5-1 mg/kgBB/hari seca IV (terutama untuk toksemia) 5.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Bakteriologik. Preparat apusan kuman difteri dari bahan apusan mukosa hidung dan tenggorok (nasofaringeal swab) 2. Darah rutin : Hb, leukosit, hitung jenis, eritrosit, albumin 3. Urin lengkap : aspek, protein dan sedimen 4. Enzim CPK, segera saat masuk RS 5. Ureum dan kreatinin (bila dicurigai ada komplikasi ginjal) 6. EKG secara berkala untuk mendeteksi toksin basil menyerang sel otot jantung dilakukan sejak hari 1 perawatan lalu minimal 1x seminggu, kecuali bila ada indikasi biasa dilakukan 2-3x seminggu. 7. Tes schick: Uji Schick ialah pemeriksaan untuk mengetahui apakah seseorang telah mengandung antitoksin. Pada seseorang yang tidak mengandung antitoksin, akan timbul vesikel pada bekas suntikan dan hilang setelah beberapa minggu. Pada yang mengandung antitoksin rendah, uji Schick dapat positif, pada bekas suntikan timbul warna merah kecoklatan dalam 24 jam. Uji Schick dikatakan negatif bila tidak didapatkan reaksi apapun pada tempat suntikan dan ini terdapat pada orang dengan imunitas atau mengandung antitoksin yang tinggi. Positif palsu terjadi akibat reaksi alergi terhadap protein antitoksin yang akan menghilang dalam 72 jam. (FKUI kapita selekta) Perlu diperhatikan bahwa hasil positif ini bisa juga ditimbulkan oleh reaksi alergi terhadap toksin, tapi hal ini dapat dibedakan yaitu reaksi eritema dan indurasinya menghilang dalam waktu 48-72 jam. Sedangkan yang positif karena adanya antitoksin akan menetap selama beberapa hari.

Tes hapusan spesimen: Diambil dari hidung, tenggorokan dan terdapat lesi mukokutan lain, berguna untuk identifikasi tempat spesies,uji toksigenitas dan kerentanan anti mikroba sebagai medikasi. 5.8 diagnose Banding 1. Difteri Hidung Pada difteri nasal, penyakit yang menyerupai adalah rhinorrhea (common cold, sinusitis, adenoiditis), benda asing dalam hidung, snuffles (lues kongenital) 2. Difteri Fausial Harus dibedakan dengan: a. Tonsilitis folikularis atau lakunaris Terutama bila membran masih berupa bintik-bintik putih. Anak harus dianggap sebagai penderita difteriae bila panas terlalu tinggi tetapi anak tampak lemah dan terdapat membran putih kelabu dan mudah berdarah bila diangkat. Tonsilitis lakunaris biasanya disertai panas yang tinggi sedangkan anak tampak tidak

terlampau lemah, faring an tonsil tampak hiperemis dengan membran putih kekuningan, rapuh dan lembek, tidak mudah berdarah dan hanya terdapat pada tonsil saja.

b. Angina Plaut Vincent Penyakit ini juga membran putih yang rapuh, tebal, berbau dan tidak mudah berdarah. Sediaan langsung akan menunjukkan kuman fisiformis (gram positif) dan spirilia (gram negatif). c. Infeksi tenggorokan oleh mononukleusus infeksiosa

Terdapat kelainan ulkus membranosa yang tidak mudah berdarah dan disertai pembengkakan kelenjar umum. Khas pada penyakit ini terdapat peningkatan monosit dalam darah tepi. Mungkin pula ditemukan ulkus membranposa pada faring dan tonsil. 1. Difteri Laring Harus dibedakan dengan laringitis akut, laringotrakeitis, laringitis membranosa (dengan membran rapuh yang tidak berdarah), atau benda asing pada laring, yang semuanya akan memberikan gejala striddor inspirasi dan sesak. 2. Difteri Kulit Perlu dibedakan dengan impetigo dan infeksi kulit yang disebabkan oleh streptokokus atau stafilokokus. PENGOBATAN PENYULIT Pengobatan terutama ditujukan untuk menjaga agar hemodinamika tetap baik. Penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversible. Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi. PENGOBATAN KARIER Karier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai uji shick negatif tetapi mengandung basil difteria dalam nasofaring. Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisillin 100 mg/kgBB/hari oral/suntikan, atau eritromisin 40 mg/kgBB/hari selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi/adenoidektomi. Komplikasi Komplikasi yang timbul pada pasien difteri : 1. Miokarditis a. biasanya timbul akhir minggu kedua atau awal minggu ketiga perjalanan penyakit b. Pemerikasaan Fisik :

Irama derap, bunyi jantung melemah atau meredup, kadang-kadang ditemukan tanda-tanda payah jantung. Gambaran EKG : Depresi segmen ST, inversi gelombang T, blok AV, tachicardi ventrikel, fibrilasi ventrikel dan perubahan interval QT Laborat : kadar enzim jantung meningkat (LDH,CPK,SGOT,SGPT) Rontgen : jantung membesar bila terdapat gagal jantung Kolaps perifer Obstruksi jalan nafas dengan segala akibatnya, bronkopneumonia dan atelektasis Urogenital : dapat terjadi nefritis Penderita difteri (10%) akan mengalami komplikasi yg mengenai sistem susunan saraf terutama sistem motorik a. Terjadi pada akhir minggu pertama perjalanan penyakit b. Tanda-tanda renjatan : 1) TD menurun (systol 80 mmHg) 2) Tekanan nadi menurun 3) Kulit keabu-abuan dingin dan basah 4) Anak gelisah 5.9 5.9.1 1. 2. 3. 5.9.2 1. 2. 3. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK YANG TERKENA INFEKSI DIFTERI Pengkajian Keperawatan Riwayat Keperawatan; Riwayat terkena penyakit infeksi, status immunisasi Kaji tanda-tanda yang terjadi pada Nasa, tonsil/faring, dan laring Lihat dari Manifestasi klinis berdasarkan atur patofisiologi

Diagnosa Keperawatan Tidak efektif bersihan jalan Nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakitnya (metabolisme meningkat, intake cairan menurun). 4. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang. Perencanaan Keperawatan

5.9.3

1. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan jalan nafas efektif KH : Jalan Nafas Kembali Normal Intervensi : a) Kaji status pernafasan, observasi irama dan bunyi pernafasan b) Atur posisi kepala dengan posisi ekstensi c) Suction jalan nafas jika terdapat sumbatan

d) e) f) g) h)

Berikan oksigen sebelum dan setelah dilakukan suction Lakukan fisioterapi dada. Persiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi Lakukan pemeriksaan Analisa Gas Darah. Lakukan Intubasi jika ada indikasi.

6. Pertusis 6.1 Pengertian Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh berdetella pertusisa, nama lain penyakit ini adalah Tussisi Quinta, whooping cough, batuk rejan. (Arif Mansjoer, 2000 : 428) 6.2 Etiologi Bordetella pertusis adalah satu-satunya penyebab pertusis yaitu bakteri gram negatif, tidak bergerak, dan ditemukan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring dan ditanamkan pada media agar Bordet-Gengou. (Arif Mansjoer, 2000) Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain: Berbentuk batang (coccobacilus). Tidak dapat bergerak. Bersifat gram negatif. Tidak berspora, mempunyai kapsul. Mati pada suhu 55C selama jam, dan tahan pada suhu rendah (0- 10C). Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik. Tidak sensitif terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin.

Menghasilkan 2 macam toksin antara lain : Toksin tidak tahan panas (Heat Labile Toxin) Endotoksin (lipopolisakarida) 6.3 Manifestasi klinik Masa tunas 7 14 hari. Penyakit ini dapat berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium: 1. Stadium kataralis Stadium ini berlangsung 1 2 minggu ditandai dengan adanya batuk-batuk ringan, terutama pada malam hari, pilek, serak, anoreksia, dan demam ringan. Stadium ini menyerupai influenza. 2. Stadium spasmodik Berlangsung selama 2 4 minggu, batuk semakin berat sehingga pasien gelisah dengan muka merah dan sianotik. Batuk terjadi paroksismal berupa batuk-batuk khas. Serangan batuk panjang dan tidak ada inspirasi di antaranya dan diakhiri dengan whoop (tarikan nafas panjang dan dalam berbunyi melengking). Sering diakhiri muntah disertai sputum kental. Anak-anak dapat sempat terberak-berak dan terkencingkencing. Akibat tekanan saat batuk dapat terjadi perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis. Tampak keringat, pembuluh darah leher dan muka lebar.

3.

Stadium konvalesensi

Berlangsung selama 2 minggu sampai sembuh. Jumlah dan beratnya serangan batuk berkurang, muntah berkurang, dan nafsu makan timbul kembali. 6.4 Cara Penularan Cara penularan pertusis, melalui: Droplet infection Kontak tidak langsung dari alat-alat yang terkontaminasi

Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai. 6.5 Patofisiologi

6.6 Komplikasi Pada saluran nafas. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Broncopneumonia. otitis media sering pada bayi dan infeksi skunder ( pneumoni ). Bronkitis. Atelektasis. Empisema pulmonum. Bronkiektasis. Aktivase tubercolusa.

Pada sistem saraf pusat. 1) 2) 3) Kejang, kongesti Edema otak Perdarahan otak

Pada sistem pencernaan. 1) 2) 3) 4) 5) Muntah berat. Prolaps rectum ( hernia umbilikus serta inguinalis ). Ulkus pada frenulum lidah. Stomatitis. Emasiasi

Komplikasi yang lain. 1) 2) 3) Epistaksis Hemaptisis Perdarahan sub konjungtiva 6.7 Pemeriksaan Penunjang Pembiakan lendir hidung dan mulut. Pembiakan apus tenggorokan. Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai sejumlah besar limfosit, LEE tinggi, jumlah leukosit antara 20.000-50.000 sel / mdarah. Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis. Tes ELISA (Enzyme Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A. Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis atau emphysema 6.8 Penatalaksanaan a. 1) Terapi Kausal. Anti Mikroba.

a. b. c. d. e. f.

Agen anti mikroba diberikan karen kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran infeksi. Entromisin 40 50 mg/kg/34 jam secara oral dalam dosis terbagi empat (max. 29/24 jam) selama 14 hari merupakan pengobatan baku. Beberapa pakar lebih menyukai preparat estolat tetapi etil suksinal dan stearat juga manjur. 2) Salbutamol.

Cara kerja salbutamol : 3) Stimulan Beta 2 adrenalgik. Mengurangi proksimal. Mengurangi frekwensi apnea Dosis yang dianjurkan 0,3 0,5 mg / kg BB / hari di bagi dalam 3 dosis. Globulin imun pertusis

Hiperimun serum dosis intramuskuler besar, rejan sangat berkurang pada bayi yang diobati pada minggu pertama, penggunaan preparat imunoglobulin jenis apapun tidak dibenarkan. b. Terapi suportif (Perawatan Pendukung). 1) 2) 3) 4) 5) Lingkungan perawatan pasien yang tenang. Pembersihan jalan nafas . Istirahat yang cukup. Oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat disertai sianosis. Nutrisi yang cukup, hindari makanan yang sulit ditelan. Bila penderita muntah-muntah sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit secara parentral.

Pencegahan Imunisasi alotif diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitea aktif. Vaksin pertusis diberikan bersama-sama dengan vaksin difteri dan tetanus dosis pada imunisasi dasar dianjurkan 12 IU dan diberikan pada umur 2 bulan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa vaksinasi pertusis sudah dapat diberikan pada umur 1 bulan dengan hasil yang baik. Sedang waktu epidemi diberikan lebih awal lagi yaitu umur 2 4 minggu. 6.9 ASUHAN KEPERAWATAN 6.9.1 Pengkajian Data Dasar Pengkajian Pasien Aktivitas / istirahat - Gejala : batuk panjang, kelelahan, demam ringan - Tanda : sesak, kelelahan otot dan nyeri Makanan / cairan

Gejala : nafsu makan hilang, mual/muntah, penurunan BB Tanda : turgor kulit buruk, penurunan massa otot.

Nyeri / kenyamanan - Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang Integritas ego - Tanda : gelisah Pernafasan - Gejala : batuk, tarikan nafas panjang - Tanda : muka merah, sianotik

b. Pemeriksaan diagnostic Pemeriksaan sputum

5.

6.9.2

Diagnosa Keperawatan

a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum ditandai dengan:

Frekuensi nafas tidak normal, Bunyi nafas tidak normal, Sianosis.

Tujuan: Tujuan yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas pasien. Intervensi Keperawatan Auskultasi bunyi nafas misal: mengi Rasional : untuk mengidentifikasi adanya obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi. Kaji / pantau frekuensi pernafasan Rasional : untuk mengetahui adanya penurunan dan peningkatan frekuensi pernafasan. Berikan pasien posisi semi Fowler Rasional : untuk membantu memaksimalkan ekspansi paru. Ajarkan pasien melakukan batuk efektif Rasional : untuk membersihkan jalan nafas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 mL/hari Rasional : untuk membantu mengencerkan sekret. Berikan obat sesuai indikasi seperti eritromisin, kodein, ampisilin, dan lain-lain. Rasional : untuk memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi dan untuk meringankan batuk.

b. Nyeri berhubungan dengan batuk menetap ditandai dengan:


Nyeri dada Gelisah

Tujuan: Tujuan yang diharapkan menyatakan nyeri hilang Intervensi Keperawatan 1) Tentukan karakteristik nyeri Rasional : untuk membantu mengevaluasi tingkat nyeri. 2) Berikan posisi yang nyaman Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri. 3) Dorong pasien untuk menyatakan perasaan nyeri Rasional : takut dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri. 4) Berikan lingkungan yang tenang Rasional : untuk meningkatkan mekanisme koping. 5) Berikan analgesik sesuai indikasi

Rasional

untuk

memperbaiki

fungsi

pernafasan

dan

mengurangi

nyeri.

7. CAMPAK 7.1 Definisi Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk mukolo papular selama tiga hari atau lebih yang disertai panas 380c ata lebih dan disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan mata merah. ( WHO ) Penyakit campak ( rubeola, campak 9 hari, measles ) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis ( peradangan selaput ikat mata / konjungtiva ) dan ruam kulit. 7.2 Etiologi Virus campak adalah anggota genus Morbillivirus dari family paramiksovirus. Penyakit pada anjing, rinderpest ( plak ternak ), dan hewan pemamah biak peste des petiis adalah morbillovirus lain yang memberikan derajat keterkaitan imunologi yang jelas dengan campak, memberikesan adanya suatu jalur evolusi bersama lebih awal dalam hal kemunculannya pada pejamu yang spesifik ( anjing, ternak, kambing, manusia ). Virus sangat tidak tahan panas tetapi hidup dalam jangka waktu lama pada temperature rendah. Virus campak memperbanyak diri dalam berbagai cara, baik dibiakan sel primer maupun dibarisan yang stabil; sel yang berasal dari manusia dan monyet paling dapat dipercaya untuk isolasi virus permulaan tetapi setelah beberapa kali isolasi, virus mudah berbiak dalam biakan jaringan spesies lain.

7.3 Patofisiologi Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet udara, menempel dan berbiak. Infeksi mulai saat orang yang rentan menghirup percikan mengandung virus dari secret nasofaring pasien campak. Di tempat masuk kuman, terjadi periode pendek perbanyakan virus local dan penyebaran terbatas, diikuti oleh viremia primer singkat bertiter rendah, yang memberikan kesempatan kepada agen untuk menyebar ketempat lain, tempat virus secara aktif memperbanyak diri di jaringan limfoid. Viremia sekunder yang memanjang terjadi, berkaitan dengan awitan prodromal klinis dan perluasan virus. Sejak saat itu ( kira-kira 9 sampai 10 hari setelah terinfeksi ) sampai permulaan keluarnya ruam, virus dapat dideteksi di seluruh tubuh, terutama di traktus respiraturius dan jaringan limfoid. Virus juga dapat ditemukan di secret nasofaring, urine, dan darah.pasien paling mungkin menularkan pada orang lain dalam periode 5 sampai 6 hari. Dengan mulainya awitan ruam ( kira-kira 14 hari setelah infeksi awal ), perbanyakan virus berkurang dan pada 16 hari sulit menemukan virus, kecuali di urine, tempat virus bisa menetap selama beberapa hari lagi. Insiden bersamaan dengan munculnya eksantema adalah deteksi antibody campak yang beredar dalam serum yang ditemukan pada hampir 100% pasien dihari ke dua timbulnya ruam. Seorang wanita yang pernah menderita campak atau pernah mendapatkan imunisasi campak akan meneruskan daya imunitasnya pada bayi yang dikandungnya. Kekebalan ini akan bertahan selama satu tahun pertama setelah anak dilahirkan. Oleh karena itu, jarang sekali kita jumpai bayi ( khususnya yang berusia dibwah 5 bulan ) yang menderita campak. Seseorang yang pernah menderita campak akan menjadi kebal seumur hidupnya. 7.4 Manifestasi klinis Campak memiliki masa tunas 10-20 hari. Penyakit ini dibagi dalam tiga stadium, yaitu : a. Stadium Kataral ( Prodromal ). Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang patognomonik bagi campak, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan dibibir bawah tengah atau palatum. Kadang-kadang terdapat macula halus yang kemudian

menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan leucopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan penderita campak dalam waktu 2 minggu terakhir. b. Stadium Erupsi Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula beercak koplik. Terjadinya eritema yang berbentuk macula papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara macula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadangkadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan urutan seperti terjadinya. Terdapat pembersaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan dibawah leher belakang. Pula terdapat sedikit splenomegali. Tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari campak yang biasa ini adalah black measles yaitu campak yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus. c. Stadium Konvalensi Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua ( hiperpigmentasi ) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk campak. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal kecuali bila ada komplikasi. 7.5 Pemeriksaan Penunjang a. Serologi Pada kasus atopic, dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk memastikannya. Tehnik pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah fiksasi complement, inhibisi hemaglutinasi, metode antibody fluoresensi tidak langsung. b. Patologi anatomi Pada organ limfoid dijjumpai : hyperplasia folikuler yang nyata, senterum germinativum yang besar, sel Warthin-Finkeldey ( sel datia berinti banyak yang tersebar secara acak, sel ini memiliki nucleus eosinofilik dan jisim inklusi dalam sitoplasma, sel ini merupakan tanda patognomonik sampak ). Pada bercak koplik dijumpai : nekrosis, neutrofil, neovaskularisasi. c. Darah tepi Jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri. d. Pemeriksaan antibody IgM anti campak. e. Pemeriksaan untuk komplikasi Ensefalopati / ensefalitis ( dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal, kadar elektrolit darah dan analisis gas darah ), enteritis ( feces lengkap), bronkopneumonia ( dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah ). 7.6 Komplikasi Bermacam-macam komplikasi bisa ditemukan selama stadium akut campak atau segera sesudah itu. Yang terkena paling sering adalah traktus respiraturius, Komplikasi akibat bakteri terutama akibat invasi traktus respiraturius menyebabkan bronkopneumonia. Infeksi ini bisa disebabkan oleh streptokokus -hemolitikus, pneukokokus, H.influensa tipe B, atau stafilokokus. Peribronkitis dan pneumotitis interstisial terjadi pada hampir semua pasien campak dan sembuh dengan cepat setelah timbulnya ruam dan turun demam. 7.7 Penatalaksanaan

7.7.1

Penatalaksanaan Keperawatan

Penyakit campak merupakan penyakit yang mudah sekali menular. Selain itu sering menyebabkan kematian jika mengenai anak yang keadaan gizinya buruk sehingga mudah sekali mendapatkan komplikasi terutama bronkopneumonia. Pasien campak dengan bronkopnumonia perlu dirawat di rumah sakit karena memerlukan perawatan yang yang memadai ( kadang perlu infuse atau oksigen ). Masalah yang perlu diperhatikan ialah kebutuhan nutrisi, gangguan suhu tubuh, gangguan rasa aman nyaman, risiko terjadinya komplikasi. a. Kebutuhan Nutrisi Campak menyebabkan anak menderita malaise dan anoreksia. Anak sering mengeluh mulut pahit sehingga tidak mau makan atau minum. Demam yang tinggi menyebabkan pengeluaran cairan lebih banyak. Keadaan ini jika tidak diperhatikan agar anak mau makan ataupun minim akan menambah kelemahan tubuhnya dan memudahkan timbulnya komplikasi. b. Gangguan suhu tubuh Campak selalu didahului demam tinggi. Demam yang disebabkan infeksi virus ini pada akhirnya akan turun dengan sendirinya setelah campaknya keluar banyak, kecuali bila terjadi komplikasi demam akan tetap berlangsung lebih lama. Untuk menurunkan suhu tubuh biasanya diberikan antipiretik dan jika tinggi sekali diberiakan sedative untuk mencegah terjadinya kejang. c. Gangguan rasa aman nyaman Gangguan ini dirasakan anak karena adanya demam, tak enak badan, pusing, mulut terasa pahit dan kadang muntah-muntah. Biasanya anak juga tidak tahan meluhat sinar karena silau, batuk bertambah banyak dan akan berlangsung lebih lama dari campaknya sendiri. Anak kecil akan sangat rewel, pada waktu malam anak sering minta digendong saja. Jika eksantem telah keluar anak akan merasa gatal, hal ini juga menambah gangguan aman dan kenyamanan anak. Untuk mengurangi rasa gatal tubuh anak dibedaki dengan bedak salisil 1% atau lainnya ( atas resep dokter ). Selama masih demam tinggi jangan dimandikan tetapi sering-sering dibedaki saja. d. Resiko terjadinya komplikasi Campak sering menyebabkan daya tahan tubuh sangat menurun. Hal ini dapat dibuktikan dengan uji tuberculin yang semula positif berubah menjadi negative. Ini menunjukkan bahwa antigen antibody pasien sangat kurang kemampuannya untuk bereaksi terhadap infeksi. Oleh karena itu resiko terjadinya komplikasi lebih besar terutama jika keadaan umum anak kurang baik, seperti pada pasien dengan malnutrisi atau dengan penyakit kronik lainya. 7.8 Pencegahan a. Imunisasi Pasif b. Imunisasi Aktif 1. Vaksin Pada tahun 1963, telah dibuat dua jenis vaksin campak yaitu : a. Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan ( tipe Edmonston B ). b. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan ( virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium ). Dosis dan cara pemakaian Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1000 TCID50 atau sebanyak 0,5 ml. untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang 2.

baik. Pemberian yang dianjurkan secara subkutan atau intramuscular dengan tujuan menurunkan angka penyakit campak setelah dilakukan imunisasi. Reaksi KIPI Reaksi KIPI imunisasi campak yang banyak dijumpai terjadi pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Kejadian Gejala KIPI berupa demam yang lebih dari 39,50c yang terjadi pada 5-15% kasus, demam mulai dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. Berbeda dengan infeksi alami demam tidak tinggi, walaupun demikian peningkatan suhu tubuh tersebut dapat merangsang terjadinya kejang demam. Reaksi KIPI berat jika ditemukan gangguan fungsi system saraf pusat seperti ensefalitis dan ensefalopati pasca diimunisasi. 7.9 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CAMPAK 7.9.1 Pengkajian Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang mempunyai 2 kegiatan pokok yaitu : 1. Pengumpulan Data a. Anamnese a) Identitas penderita Meliputi nama anak, umur : rentan pada anak berumur 1-14 th dengan status gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit infeksi, jenis kelamin (L dan P pervalensinya sama), suku bangsa, no register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis. b) Keluhan utama Anak masuk rumah sakit biasanya dengan keluhan adanya eritema dibelakang telinga, di bagaian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, badan panas, enantema ( titik merah ) dipalatum durum dan palatum mole. c) Riwayat kesehatan sekarang Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan pada orang tua atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk, konjungtivitis, koriza, bercak koplik dan enantema serta upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya. d) Riwayat kesehatan dahulu Anak belum pernah mendapatkan vaksinasi campak dan pernah kontak dengan pasien campak. e) Riwayat kesehatan keluarga Apakah anak belum mendapatkan vaksinasi campak. f) Riwayat imunisasi Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak. g) Riwayat nutrisi Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 9001300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n. b. Pemeriksaan fisik ( had to toe ) a) Status kesehatan umum Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan, dan tanda-tanda vital. b) Kepala dan leher Inspeksi : Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala, konjungtivitis, fotofobia, adakah eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Palpasi : adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan didaerah leher belakang, 3.

c) -

Mulut Inspeksi : Adakah bercak koplik di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah, enantema di palatum durum dan palatum mole, perdarahan pada mulut dan traktus digestivus.

d) -

Toraks Inspeksi : Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada nasofaring, perdarahan pada hidung. Pada penyakit campak, gambaran penyakit secara klinis menyerupai influenza. Auskultasi : Ronchi / bunyi tambahan pernapasan. e) Abdomen Inspeksi : Bentuk dari perut anak. Ruam pada kulit. Auskultasi Bising usus. Perkusi Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda abnormal, misalnya masa atau pembengkakan. e) Kulit Inspeksi : Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik. Palpasi : Turgor kulit menurun Analisa Data Data yang sudah terkumpul selanjutnya dikelompokkan dan dilakukan analisa serta sintesa data. Dalam mengelompokkan data dibedakan atas data subyektif objektif. Data yang telah dikelompokkan tadi dianalisa sehingga dapat diambil kesimpulan tentang masalah keperawatan dan kemungkinan penyebab.

2.

7.9.2

Diagnosa Keperawatan Penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan / masalah kesehatan. Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien campak adalah sebagai berikut : 1. Gangguan termoregulasi b/d penyakit yang dialami. 2. Ketidak efektifan jalan napas : ketidak mampuan mengeluarkan secret b/d penumpukan secret pada nasofaring. 3. Kerusakan integritas kulit b/d infeksi virus morbili. 4. Kekurangan volume cairan tubuh b/d demam, diare, muntah. 5. Gangguan rasa aman dan nyaman b/d rasa gatal. 6. Resiko terjadinya komplikasi : bronkopneumonia b/d keadaan umum anak kurang baik. C. Intervensi Keperawatan Diagnosa I Gangguan termoregulasi b/d penyakit yang dialami. Tujuan : pemeliharaan ( mempertahankan ) suhu tubuh dalam rentang yang normal. Dengan criteria hasil : a. Suhu tubuh anak dalam rentang yang normal. b. Anak bebas dari demam. Intervensi

No 1

Intervensi Monitor perubahan suhu denyut nadi.

Rasional tubuh, Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan keadaan umum pasien sehingga dapat diakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat. Upaya upaya tersebut dapat membantu menurunkan suhu tubuh pasien serta meningkatkan kenyamanan pasien.

Lakukan tindakan yang dapat menurunkan suhu tubuh sperti lakukan kompres, berikan pakaian tipis dalam memudahkan proses penguapan. Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu dan mengevaluasi perubahan suhu tubuh. Kaji sejauh mana pengetahuan keluarga dan anak tentang hypertermia

Meningkatkan rasa nyaman anak.

Mengetahui kebutuhan infomasi dari pasien dan keluarga mengenai perawatan pasien dengan hypertemia.

Kolaborasi dengan dokter dengan Antipiretik menurunkan/mempertahankan suhu memberikan antipiretik dan antibiotic tubuh anak. sesuai dengan ketentuan.

Diagnose II Ketidak efektifan jalan napas : ketidak mampuan mengeluarkan secret b/d penumpukan secret pada nasofaring. Tujuan : bersihan jalan napas efektif Dengan criteria hasil : a. Tidak mengalami aspirasi b. Menunjukkan batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran udara dalam paru. Intervensi No Intervensi Rasional 1 Kaji fungsi pernapasan, contoh Ronci, mengi menunjukkan akumulasi bunyi napas, kecepatan, irama secret/ ketidakmampuan untuk dan kedalaman dan membersihkan jalan napas yang dapat penggunaan otot aksesori. menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan. 2 Catat kemampuan untuk batuk Pengeluaran secret sulit bila secret efektif. sangat tebal ( mis. Efek infeksi dan atau tidak adekuat hidrasi ). 3 Berikan posisi semi fowler Posisi membantu memaksimalkan tinggi. Bantu klien untuk batuk ekspansi paru dan menurunkan upaya dan latihan napas dalam. pernapasan. 4 Bersihkan secret dari mulut Mencegah obstruksi atau aspirasi. dan trakea ; pengisapan sesuai Pengisapan dilakukan bila klien tidak keperluan. mampu mengeluarkan secret. 5 Pertahankan masukan cairan Pemasukan tinggi cairan membantu untk mengencerkan secret. 6 Berikan lingkungan yang aman Meningkatkan kenyamanan untuk anak

8. DEMAM BERDARAH 8.1 Pengertian DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ). 8.2 Patofisiologi Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat. 8.3 Klasifikasi DHF WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu : Derajat I Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi. Derajat II Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi. Derajat III

Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ), tekanan darah menurun, ( 120/80 120/100 120/110 90/70 80/70 80/0 0/0 ) Derajat IV Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur ( denyut jantung 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru. 8.4 Tanda dan gejala Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala lain adalah : Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. Asites Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

8.5 -

Pemeriksaan Dan Dignosis Trombositopeni ( 100.000/mm3) Hb dan PCV meningkat ( 20% ) Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis ) Isolasi virus Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.

8.6 Penatalaksanaan Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue : Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan kurang ) atau kejang-kejang. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif / negatif, kesan sakit keras ( tidak mau bermain ), Hb dan PCV meningkat. Panas disertai perdarahan Panas disertai renjatan.

Belum atau tanpa renjatan: 1. Grade I dan II : a. Oral ad libitum atau b. Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg bersama-sama diberikan minuman oralit, air buah atau susu secukupnya.

Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebnyak-banyaknya dan sesering mungkin. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut : 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg 60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg 50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

Dengan Renjatan ; 2. a. Grade III Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut : b. 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg. 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg. 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau yang lainnya ) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.

c. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau lainnya ) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.

8.7 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DHF

8.7.1 Pengkajian a. Identitas DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 ) b. Keluhan Utama Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun. c. Riwayat penyakit sekarang Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun. d. Riwayat penyakit terdahulu Tidak ada penyakit yang diderita secara specific. e. Riwayat penyakit keluarga Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. f. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. g. Riwayat Tumbuh Kembang 8.7.2 Pengkajian Per Sistem a. Sistem Pernapasan Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles. b. Sistem Persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS c. Sistem Cardiovaskuler

Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. d. Sistem Pencernaan

Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena. e. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna merah. f. Sistem Integumen.

Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

8.7.3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Diagnosa Keperawatan Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni ) Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.

8.7.4

Intervensi Keperawatan.

DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 37 Nyeri otot hilang Intervensi : a. Beri komres air kran Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi b. Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. c. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat

Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. d. Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

DP 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan Kriteria : Input dan output seimbang Vital sign dalam batas normal Tidak ada tanda presyok Akral hangat Capilarry refill < 3 detik Intervensi : a. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

9. Poliomyelitis 9.1 Pengertian Poliomielitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis). 9.2 Gambaran Klinis Poliomielitis terbagi menjadi empat bagian yaitu : 1. Poliomielitis Asimtomatis: Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali. 2. Poliomielitis Abortif: Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen. 3. Poliomielitis Non Paralitik: Gejala klinik hampir sama dengan poliomyelitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk ke dalam fase ke-2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior. 4. Poliomielitis Paralitik: Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain : a. Bentuk spinal: Gejala kelemahan/paralysis atau paresis otot leher, abdomen, tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas. b. Bentuk bulbar: Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi. c. Bentuk bulbospinal: Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar.

d. Kadang ensepalitik: Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan kadang kejang. 9.3 Etiologi Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu: 1. Brunhilde 2. Lansing 3. Leon; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari Klasifikasi virus Golongan : Golongan IV ((+)ssRNA) Familia : Picornaviridae Genus : Enterovirus Spesies : Poliovirus

9.4 Penularan Cara penularannya dapat melalui : 1. Inhalasi 2. Makanan dan minuman 3. Bermacam serangga seperti lipas, lalat, dan lain-lain. Penularan melalui oral berkembambang biak diususverimia virus+DC faecese beberapa minggu. 9.5 Pencegahan Cara pencegahan dapat dilalui melalui : 1. Imunisasi 2. Jangan masuk daerah endemis 3. Jangan melakukan tindakan endemis 9.6 Patofisiologi Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena poliomyelitis ialah : 1. Medula spinalis terutama kornu anterior. 2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat vital. 3. Sereblum terutama inti-inti virmis. 4. Otak tengah midbrain terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra. 5. Talamus dan hipotalamus. 6. Palidum.

7.

Korteks serebri, hanya daerah motorik.

9.7 Komplikasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hiperkalsuria Melena Pelebaran lambung akut Hipertensi ringan Pneumonia Ulkus dekubitus dan emboli paru Psikosis

9.8 Pemeriksaan Diagnostik 9.8.1 Pemeriksaan Lab : a. Pemeriksaan darah b. Cairan serebrospinal c. Isolasi virus volio 9.8.2 Pemeriksaan radiology

I. Penatalaksanaan Medis 1. Poliomielitis aboratif a. Diberikan analgetk dan sedative b. Diet adekuat c. Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti. 2. Poliomielitis non paralitik a. Sama seperti aborif b. Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat selama 15 30 menit,setiap 2 4 jam. 3. Poliomielitis paralitik a. b. c. d. e. f. Perawatan dirumah sakit Istirahat total Selama fase akut kebersihan mulut dijaga Fisioterafi Akupuntur Interferon

Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan. Poliomielitis abortif diatasi dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai lagi.

Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2 minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis pernapasan. Fase akut : a. Analgetik untuk rasa nyeri otot. b. Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai. c. Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang reflek menelan terganggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi. Sesudah fase akut : a) Kontraktur atropi dan attoni otot dikurangi dengan fisioterafy. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang.

9.9 ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POLIOMIELITIS 9.9.1 Pengkajian 1. Riwayat Kesehatan Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas 2. Pemeriksaan Fisik a. Nyeri kepala b. Paralisis c. Refleks tendon berkurang d. Kaku kuduk e. Brudzinky 9.9.2 Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah. 2. Hipertermi b/d proses infeksi. 3. Resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot. 4. Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf. 5. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis. 6. Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit. 9.9.3 Intervensi

1 Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah. intervensi: 1. Kaji pola makan anak. 2. Berikan makanan secara adekuat.

3. 4. 5. 6.

Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral. Timbang berat badan. Berikan makanan kesukaan anak. Berikan makanan tapi sering.

rasional: 1. Mengetahui intake dan output anak. 2. Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang. 3. Mencukupi kebutuhan nutrisi dengan seimbang. 4. Mengetahui perkembangan anak. 5. Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak. 6. Mempermudah proses pencernaan. 2 Hipertermi b/d proses infeksi. intervensi: 1. Pantau suhu tubuh. 2. Jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres. 3. Hindari mengigil. 4. Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit. rasional: 7. 8. 9. 10. Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih. Dapat menyebabkan efek neurotoksi. Mengurangi penguapan tubuh. Dapat membantu mengurangi demam.

3 Resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot. intervensi: 1. 2. 3. 4. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman. Auskultasi bunyi nafas. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler. Berikan tambahan oksigen.

rasional: 1. 2. 3. 4. Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi. Mengetahui adanya bunyi tambahan. Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru. Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru.