Anda di halaman 1dari 4

ACFTA merupakan singkatan dari China-ASEAN Free Trade Area yang merupakan kawasan perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN.

ACFTA mulai diberlakukan pada awal bulan Januari 2010, ini berarti barang-barang antra negara di China dan ASEAN akan saling bebas masuk dengan pembebasan tarif hingga nol%. ACFTA pertama kali sudah disepakati sejak November 2001 dalam KTT ASEAN ke-7 di Bandar Sri Begawan-Brunei Darussalam. Selanjutnya perjanjian dagang ACFTA ini ditandatangani menteri-menteri negara Asean dan China pada 2004. ACFTA ini dimaksudkan agar tidak ada hambatan dalam proses perdagangan antara negara-negara ASEAN dan China. Namun banyak persepsi dan kontroversi dengan adanya ACFTA ini, terutama bagi pihak Indonesia sendiri. karena dengan adanya persetujuan perdagangan bebas antara China dan ASEAN maka akan menimbulkan kecemasan bagi industri dalam negeri. Mereka harus lebih kreatif dan inovatif agar dapat bersaing dengan produk-produk dari China. Sedangkan menurut ketua LP3E (Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi) Kadin Faisal Basri menyatakan bahwa ACFTA relatif tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010. Faisal Basri juga mengatakan bahwa sebelum memutuskan kebijakan pajak masuk 0 persen untuk China, pemerintah telah melakukan negoisasi tukar-menukar keuntungan, sebagai contoh Indonesia memberikan 0 persen untuk cabe dan ditukar dengan kakao 0 persen untuk masuk ke China. ACFTA memang tidak dapat dihindari, karena Indonesia harus tetap menghadapi ACFTA. Namun yang terpenting adalah bagaimana mempersiapkan industri Indonesia agar memiliki daya saing menghadapi negara lain. Dampak Positif dengan adanya ACFTA Dengan diberlakukannya ACFTA maka produk-produk dari Indonesia dapat masuk ke China dengan pajak 0%. Dengan demikian produk dari di Indonesia dapat dijual dengan harga yang relatif murah karena tidak diberlakukannya pajak. ACFTA juga menuntut para pengusaha pengusaha dalam negeri dapat bersaing secara kompetitif dengan lebih kreatif dan onovatif dalam menciptakan suatu produk. Selain itu dapat diprediksikan bahwa sejumlah produk barang dan jasa buatan Indonesia akan lebih mudah memasuki pasaran domestik China. Produk-produk hasil perkebunan seperti kakao, minyak kelapa sawit dan lain-lain misalnya akan lebih mudah diterima dan dibeli konsumen China sebab lebih kompetitif. Hal ini dapat dijadikan motivasi Indonesia untuk lebih membangun masyarakat yang lebih produktif dan kreatif serta mandiri secara ekonomi.

Dampak Negatif akibat adanya ACFTA Dengan diberlakukannya ACFTA pasti ada implikasi negatifnya, dimana produk-produk dalam negeri harus dapat bersaing dengan produk yang berasal dari China. Namun jika pengusaha dalam negeri tidak dapat menjuwudkan hal tersebut maka kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah adanya pemutusan hubungan kerja (PHK), dengan demikian maka jumlah pengangguran akan meningkat. ACFTA akan mematikan banyak industri di Indonesia. Hal ini akan menyebabkan melonjaknya ketiadaan lapangan usaha di kalangan rakyat jelata. Selain itu juga dapat mematikan pedagang kecil dan UKM (Usaha Kecil Menengah). ACFTA dapat menyebabkan ketergantungan antara Indonesia dengan China semakin besar. Melemahnya industri manufaktur nasional. ACFTA dan Indonesia Dalam menanggulangi dampak ACFTA saat ini di bidang agroindustri khususnya maka diperlukan adanya strategi yang harus dilakukan oleh pemerintah. Karena Indonesia sendiri masih dapat menyuplai kebutuhan akan agroindustrinya sendiri dari dalam negeri. Dengan adanya solusi strategi yang dilakukan pemerintah, maka akan melindungi para pengusaha dalam negeri untuk bersaing dengan pengusaha luar dalam bidang agroindustri. Indonesia sebagai negara agraris seharusnya bisa mengunggulkan produk agribisnis di dalam negeri, maka diperlukan strategi dan solusi dari pemerintah. Solusi dan strategi ini tentunya berhubungan dengan bagaimana kinerja pemerintah sendiri dalam memberlakukan strategi menanggulangi dampak ACFTA. Kinerja pemerintah tentunya berhubungan langsung dengan bagaimana pemerintah memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Karena dalam pemberian pelayanan publik yang baik juga berpengaruh terhadap dukungan yang diberikan masyarakat kepada pemerintah dalam strategi penanggulangan dampak ACFTA. Tentunya bila dibicarakan dalam ranah administrasi negara, akan berhubungan langsung dengan bagaimana pemerintah itu sendiri memberikan pelayanan kepada publik. Dalam

penanggulangan dampak ACFTA, pemerintah seharusnya terpacu lebih spesifik di dalam memberikan pelayanan publik. Antara lain melakukan reformasi birokrasi yang sebagaimana bentuknya adalah mereformasi lembaga-lembaga pemerintahan untuk memperbaiki pelayanan publik serta menghilangkan pungutan liar yang membuat ekonomi biaya tinggi. Kedua adalah mempercepat perbaikan infra struktur jalan, menumbuhkembangkan sektor riil dan mengkampayekan kecintaan pada produk dalam negeri di semua kalangan merupakan solusi lain yang sama pentingnya untuk pemerintah. Ketiga, menerapkan aturan non tarif dengan standar ketat dan keempat adalah menerapkan aturan agar produk-produk pangan yang masuk harus sesuai dengan negara kita.[1] Keempat strategi dalam manajemen publik diatas dapat dijadikan masukan bagi pemerintah untuk lebih serius dalam menangani dampak ACFTA. Karena dampak ACFTA sendiri sangat meluas dalam kehidupan masyarakat karena secara perlahan menyentuh sendisendi kehidupan. Untuk itu pemerintah harus tanggap dan membuat strategi yang mengena pada seluruh bidang yang menyangkut kehidupan masyarakat yang bisa terkena oleh dampak adanya ACFTA. Solusi untuk menghadapi ACFTA Meningkatkan daya saing produk lokal Peningkatan daya saing produk lokal perlu dilakukan karena sasaran dampak dari ACFTA ini lebih berakibat buruk terhadap produk lokal. Untuk meningkatkan daya saing produk lokal dapat dilakukan dengan peningkatan mutu dan kualitas produk lokal dengan biaya produksi seminimal mungkin. Peningkatan daya saing produk-produk lokal dari pada produk China. Menyiapkan SDM yang bermutu SDM yang bermutu sangat diperlukan agar dapat memproduksi barang yang berkualitas. Dengan demikian maka perlu diadakan pelatihan. Pelatihan ini tidak hanya dilakukan dibeberapa daerah tertentu saja melainkan diseluruh Indonesia. Pelatihan tersebut difokuskan untuk meningkatkan SDM yang mempunyai daya saing dalam memproduksi produk lokal. Pelatihan ini diharapkan dapat membangkitkan kemauan dan usaha SDM agar dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Realisasi Undang-Undang perlindungan bagi produsen dan UMKM di Indonesia Pemerintah perlu merealisasikan pelaksanaan Undang-Undang dan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bangsa Indonesia utamanya produsen barang UMKM dalam menghadapi ACFTA. Membuat kebijakan untuk distributor agar tidak mendistribusikan barang impor secara berlebihan Penyebaran produk-produk China di Indonesia tidak terlepas dari peran distributor. Sehingga meluasnya penyebaran produk China dapat mengancam produk lokal yang kalah saing dengan produk China. Pemerintah dapat membuat kebijakan pembatasan pendistribusian barang impor secara berlebihan yang bisa mengancam produk lokal.

Mensosialisasikan cinta produk Indonesia Hal-hal diatas tidak mungkin tereliasasikan jika konsumennya sendiri masih enggan untuk membeli produk lokal. Karena itu perlu diadakan sosialiasi untuk mencintai dan membeli produk Indonesia. Dan itu sudah terealisasikan lewat kampanye mentri perindustrian dan perdagangan yaitu mewujudkan 100% cinta produk Indonesia. Dan dengan konsumen lebih memilih produk dalam negri otomatis akan menimbulkan kepercayadirian produsen lokal sehingga dapat memenangkan produknya di negri sendiri. Dan dengan adanya ACFTA dan perdagangan bebas lainnya tidak akan mengawatirkan produsen indonesia.