Anda di halaman 1dari 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Kerangka Teori 1.

Tinjauan Tentang Implementasi Secara etimologis pengertian implementasi menurut Kamus Webster yang dikutip oleh Solichin Abdul Wahab adalah: Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar webster, to implement mengimplementasikan! berati to provide the means for carrying out menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu!" dan to give practical effect to untuk menimbulkan dampak#akibat terhadap sesuatu!$ Webster dalam Wahab, %&&':('!. )a*manian dan Sebastiar +uga mende,inisikan implementasi sebagai berikut: -mplementasi adalah pelaksanaan keputusan kebi+akan dasar, biasanya dalam bentuk undang.undang, namun dapat pula berbentuk perintah perintah atau keputusan.keputusan eksekuti, yang penting atau keputusan badan peradilan$. )a*manian dan Sebastiar dalam Wahab,%&&':(/!. -mplementasi menurut )a*manian dan Sebastier merupakan pelaksanaan kebi+akan dasar berbentuk undang.undang +uga berbentuk perintah atau keputusan.keputusan yang penting atau seperti keputusan badan peradilan. 0roses implementasi ini berlangsung setelah melalui se+umlah tahapan tertentu seperti tahapan pengesahan undang.undang, kemudian output kebi+akan dalam bentuk pelaksanaan keputusan dan seterusnya sampai perbaikan kebi+akan yang bersangkutan. 0roduk hukum harus dilaksanakan dengan baik. 0roduk hukum yang dibuat dengan sangat baik, oleh ahli sekalipun, tidaklah mempunyai arti apabila dalam pengimplementasiaannya tidaklah seperti yang diharapkan. 0roduk hukum yang diterapkan akan lebih men+adi e,ekti, 11

apabila

dilakukan

implementasi,

dengan

pensosialisasian

dan

pemasyarakatan. 0roduk hukum akan men+adi lebih e,ekti, dalam perbuatan maupun pelaksanaannya bila didukung oleh sarana.sarana yang memadai 2eri Agus )arlinton, %&1&:%&! . Secara teoritis, pada umumnya dibedakan adanya tiga macam hal berlakunya hukum, yaitu 3ambang Sunggono, 144': 15(! : a. b. c. 3erlakunya secara +uridis. 3erlakunya secara sosiologis, yang berintikan pada e,ekti6itas hukum. 3erlakunya secara ,iloso,is, artinya bahwa hukum tersebut sesuai dengan cita.cita hukum sebagai nilai positi, yang tertinggi. Agar suatu aturan hukum dapat dilaksanakan dan ber,ungsi +ika dipenuhi unsur.unsur sebagai berikut 3ambang Sunggono, 144': 15/! : a. 0eraturan dalam bidang hukum itu sendiri Dalam peraturan hukum sendiri, ada kemungkinan terdapat ketidakcocokan peraturan hukum mengenai bidang hukum tertentu, ketidakcocokan dengan peraturan hukum yang tidak tertulis atau kebiasaan.kebiasaan yuridis yang ada. b. 0ara petugas dan penegak di bidang hukum 0erilaku dan moralitas para penegak hukum +uga dipertanyakan, para petugas penegak hukum secara ,ormal! yang mencakup hakim, +aksa, polisi, penasehat hukum dan sebagainya harus memiliki moral yang baik dan mulia dalam menegakkan peraturan hukum. 7ika ter+adi hal yang sebaliknya maka akan ter+adi gangguan dan hambatan dalam system penegakkan hukum. c. 0emberian ,asilitas dalam bidang hukum )erupakan suatu sarana untuk mencapai tu+uan dan diharapkan dapat mendukung pelaksanaan suatu peraturan hukum, ,asilitas yang dimaksud disini terutama adalah sarana ,isik yang ber,ungsi sebagai ,aktor pendukung. 3ila peraturan suatu hukum sudah baik dan yang berlaku dalam masyarakat, apakah penerbitan peraturan hukum tersebut sudah sesuai dengan persyaratan

1/

memenuhi persyaratan yuridis yang ada dan ditun+ang oleh moralitas para penegak hukum yang +uga baik, namun bila tidak ditun+ang oleh ,asilitas yang memadai maka hal tersebut akan menyebabkan timbulnya hambatan serta gangguan dalam pelaksanaan sebuah peraturan hukum. d. -ndi6idu.indi6idu yang ada dalam masyarakat Dalam hal ini warga masyarakat berhubungan dengan masalah kesadaran dan kepatuhan hukum sebagai salah satu indikator ber,ungsinya aturan hukum didalam masyarakat. Warga masyarakat merupakan ob+ek dari suatu aturan hukum paling tidak harus mengetahui adanya suatu hukum yang mengaturnya. 2. Tinjauan Tentang Pemerintahan Daerah a. 0engertian 0emerintahan Daerah 0emerintahan Daerah menurut 8ndang.8ndang 9o. :% ;ahun %&&' ;entang 0emerintahan Daerah memiliki pengertian sebagai berikut : 0emerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan D0<D menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas. luasnya dalam sistem dan prinsip 9egara Kesatuan <epublik -ndonesia sebagaimana dimaksud dalam 8ndang.8ndang Dasar 9egara <epublik -ndonesia ;ahun 14'5.$ =arris men+elaskan bahwa pemerintahan daerah adalah pemerintahan yang diselenggarakan oleh badan.badan daerah yang dipilih secara bebas dan tetap mengakui supremasi pemerintahan nasional. 0emerintahan ini diberi kekuasaan, diskresi, kebebasan mengambil kebi+akan!, dan tanggung+awab tanpa dikontrol oleh kekuasaan yang lebih tinggi 9i>matul =uda, %&&4 : :'!. De ?u*man dan ;aples menyebutkan unsur.unsur pemerintahan daerah yaitu 9i>matul =uda, %&&4 : :5! : 1. 0emerintahan daerah adalah sub di6isi politik dari kedaulatan bangsa atau negara" 14

%. 0emerintahan daerah diatur oleh hukum" :. 0emerintahan daerah mempunyai badan pemerintahan yang dipilih oleh penduduk setempat" '. 0emerintahan daerah menyelenggarakan kegiatan berdasarkan peraturan perundangan" 5. 0emerintahan daerah memberikan pelayanan dalam wilayah +uridiksinya. Dengan meru+uk pada uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah berhubungan dengan pemerintahan daerah otonom. 0emerintahan daerah otonom adalah pemerintahan daerah yang badan pemerintahannya dipilih oleh penduduk setempat dan memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusannya sendiri berdasarkan peraturan perundangan dan tetap mengakui supremasi dan kedaulatan nasional dan pemerintah pusat merupakan hubungan antar organisasi, namun keberadaanya merupakan sub.ordinat dan dependent terhadap pemerintah pusat. 3erkenaan dengan peristilahan pemerintahan daerah dalam hubungan antara desentralisasi dengan otonomi, dan daerah otonom menurut @iang ?ie adalah ;he @iang ?ie, %&&&:'&!: $...desentralisasi dalam bidang pemerintahan adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada satuan.satuan organisasi pemerintahan untuk menyelenggarakan kepentingan setempat dari sekelompok penduduk yang mendiami suatu wilayah. Satuan organisasi pemerintahan tersebut berikut lingkungan wilayahnya disebut daerah otonom.$ Wewenang untuk menyelenggarakan kepentingan setempat yang diterima oleh satuan organisasi pemerintahan itu dinamakan $otonom$. Aparatur daerah otonom yang memegang otonomi disebut $pemerintah daerah$. Sedang segenap penyelenggaraan berikut wewenang tugas, untuk dan kepentingan setempat tersebut kewa+iban,

tanggung+awabnya tercakup dalam istilah pemerintahan daerah$ ;he @iang ?ie, %&&&:''!. %&

)enurut 3henyamin =oessein secara yuridis daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berwenang untuk mengatur dalam arti menetapkan kebi+akan dan mengurus dalam arti melaksanakan kebi+akan berbagai urusan pemerintahan berdasarkan prakarsa sendiri sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat yang bersangkutan. Adapun wewenang yang dimiliki daerah untuk mengatur dan mengurus disebut otonomi daerah. Secara Auridis dikenal tiga pola daerah otonom. 0ertama daerah pro6insi yaitu daerah otonom yang wilayah dan masyarakatnya meliputi beberapa kabupaten kota. Kedua, kabupaten yaitu daerah otonom yang keseluruhan atau sebagian besar masyarakat dan wilayahnya bercorak pedesaan. Ketiga, Kota, yaitu daerah otonom yang keseluruhan atau sebagian besar wilayahnya bercorak perkotaan 3henyamin =ossein, %&&&:111!. b. Asas 0enyelenggaraan 0emerintahan Daerah )enurut Sat+ipto <ahar+o, Asas dimaknai sebagai +antung dari peraturan perundang.undangan. Asas merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum. -ni berarti bahwa peraturan hukum pada akhirnya bisa dikembalikan kepada asas.asas tersebut. Dengan kata lain, asas hukum layaknya alasan bagi lahirnya peraturan hukum atau merupakan ratio logis dari peraturan hukum. 0aton men+elaskan bahwa asas hukum ini tidak akan habis kekuatannya dengan melahirkan suatu peraturan hukum, melainkan akan tetap sa+a ada dan melahirkan peraturan.peraturan selan+utnya Sat+ipto <ahar+o, %&&::'5!. Demikian pula yang dimaksud dengan asas penyelenggaraan pemerintahan daerah, asas.asas penyelenggaraan pemerintah daerah adalah asas.asas yang men+adi dasar terbentuknya berbagai peraturan tentang pemerintahan daerah di -ndonesia. Asas.asas tersebut terus %1

berlaku hingga adanya pembaharuan yang dilakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku di -ndonesia. ;u+uan adanya asas ini tidak lain untuk menghindari kreasi.kreasi menyimpang dari makna dan tu+uan pemerintahan daerah 3agir )anan, %&&&:4 !. 0emerintah daerah dalam menyelenggarakan pemerintahannya selalu berpedoman pada asas.asas penyelenggaraan pemerintahan daerah, diantaranya adalah: a! Asas Desentralisasi dan Dekonsentrasi 3erdasarkan 0asal 1 angka 1 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&', desentralisasi diartikan sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh 0emerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem 9egara Kesatuan <epublik -ndonesia. )enurut 9i>matul =uda, desentralisasi adalah pilihan tepat dalam memelihara nation-state negara.bangsa! karena desentralisasi diyakini dapat mencegah kepincangan dalam menguasai sumber daya yang dimiliki negara 9i>matul =uda, %&&5:11/!. Sedangkan para pendukung desentralisasi lainnya seperti Krister Andersson dalam 0roBuest 7ournal mengatakan: devolving more power and responsibility to the local level can improve the quality of governance by increasing the accountabilit of politicians to voters and putting decisions in the hands of people with greater knowledge of local problems. In recent decades, many countries in the world have accepted this logic and adopted decentralizing reforms de6olusi kekuasaan dan tanggung +awab yang lebih ke tingkat lokal dapat meningkatkan kualitas pemerintahan dengan meningkatkan akuntabilitas politisi kepada para pemilih dan meletakkan keputusan di tangan orang.orang yang memiliki pengetahuan yang lebih besar masalah lokal. Dalam dekade belakangan ini, banyak negara di dunia telah menerima logika ini dan mengadopsi re,ormasi desentralisasi! Krister Andersson, %&&4:1!. Sesungguhnya hakikat desentralisasi dan dekonsentrasi adalah pemencaran kekuasaan. Desentralisasi adalah bentuk

%%

staatkundige decentralisatie pemencaran kekuasaan dalam bidang kenegaraan!. Sedangkan dekonsentrasi adalah bentuk dari ambtelijke decentralisatie pemencaran kekuasaan sehubungan dengan kepegawaian#administrasi! ;he @iang ?ie, 1445:'5!. 0asal 1 angka / 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' sendiri telah menyebutkan bahwa dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh 0emerintah kepada ?ubernur sebagai wakil pemerintah dan#atau kepada instansi 6ertikal di wilayah tertentu. )uhammad 2au*an mengemukakan, istilah pelimpahan$ dalam de,inisi tersebut mengandung arti bahwa wewenang urusan pemerintahan yang dilimpahkan tersebut tetap men+adi tanggung +awab pemerintah pusat. Sedangkan istilah penyerahan$ yang digunakan untuk mende,inisikan desentralisasi dalam 8ndang. 8ndang 9omor :% ;ahun %&&' menun+ukkan bahwa wewenang pemerintahan yang diserahkan kepada daerah sepenuhnya men+adi wewenang daerah )uhammad 2au*an, %&&(:5'!. econcentration, involves the transfer of central government responsibilities to regions. It can operate atvarying scales and to different degrees of autonomy. !or e"ample, deconcentration might not actually increase local input in decision making because it may only allow for administration to be undertaken at that level. #ntil recently, Indonesia operated with such a deconcentrated government $%lm, %ten and &ahl, '(()*. b! Asas Ctonomi 0asal 1/ ayat %! 8ndang.8ndang Dasar 14'5 secara tegas menggariskan bahwa asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah otonomi dan tugas pembantuan. 3erbeda dengan 8ndang. 8ndang Dasar 14'5, 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' dalam 0asal 1 ayat 5! menyebutkan istilah otonomi$ diikuti dengan kata daerah$. Dalam 0asal 1 ayat 5! tersebut, yang dimaksud dengan otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewa+iban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan %:

perundang.undangan. Daerah otonom disini diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas.batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem 9K<-. 3ila memperhatikan rumusan 0asal 1 ayat 5! 8ndang. 8ndang 9omor :% ;ahun %&&', maka otonomi berarti mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri. Ctonomi daerah sesungguhnya merupakan perwu+udan pemerintahan desentralisasi di tingkat daerah. Dalam melaksanankan otonomi daerah, ada beberapa prinsip yang dianut dalam 8ndang. 8ndang 9omor :% ;ahun %&&', diantaranya adalah: 1! 0rinsip otonomi seluas.luasnya, yakni daerah diberikan kewenangan mengatur semua urusan pemerintahan, di luar yang men+adi urusan pemerintah pusat" %! 0rinsip otonomi nyata, yakni untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas dan wewenang yang secara nyata telah ada dan berpeluang tumbuh sesuai potensi dan kekhasan daerah" dan :! 0rinsip otonomi yang bertanggung +awab, yakni otonomi yang penyelenggaraannya harus se+alan dengan tu+uan dan maksud pemberian rakyat. c! Asas ;ugas 0embantuan +adebewind! )enurut Amrah )uslimin, madebewind mengandung arti kewenangan pemerintah daerah men+alankan sendiri aturan.aturan dari pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. Kewenangan ini terkait dengan tugas untuk melaksanakan sendiri zelfuitvoering! atas biaya dan tanggung +awab terakhir dari pemerintah tingkat atasan yang bersangkutan Amrah otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kese+ahteraan

%'

)uslimin, 14/(:/!. )enurut Koesoemahatmad+a, madebewind atau zelfbestuur sebagai pemberian kemungkinan dari pemerintah pusat#pemerintah daerah yang lebih atas untuk meminta bantuan kepada pemerintah daerah#pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan rumah tangga daerah yang tingkatannya lebih atas. Daerah.daerah tersebut diberi tugas pembantuan oleh pemerintah pusat yang disebut madebewind dan zelfbestuur men+alankan peraturan.peraturan yang dibuat oleh dewan yang lebih tinggi!. Dalam men+alankan madebewind tersebut urusan.urusan yang diselenggarakan pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pemerintah pusat#daerah yang lebih atas, tidak beralih men+adi urusan rumah tangga daerah yang dimintai bantuan. =anya sa+a daerah otonom menyelenggarakan bantuan tersebut diserahkan sepenuhnya pada daerah itu sendiri. Daerah otonom ini tidak berada dibawah perintah, +uga tidak dapat dimintai pertanggung+awaban oleh pemerintah pusat#daerah yang lebih tinggi memberi tugas Sadu Wasistiono, %&&(: (!. Karena hakekatnya urusan yang diperbantukan pada dareah otonom tersebut adalah urusan pusat maka dalam sistem madebewind anggaranya berasal dari Anggaran 0endapatan dan 3elan+a 9egara A039!. Anggaran pusat ini lalu ditrans,er langsung ke kas daerah. Anggaran ini masuk ke rekening khusus yang pertanggung+awabannya terpisah dari Anggaran 0endapatan dan 3elan+a Daerah A03D!. Dalam sistem madebewind pemerintah pusat atau daerah otonom yang lebih tinggi menyerahkan urusan yang menurut peraturan perundangan merupakan kewenangannya, kepada daerah otonom di bawahnya. Daerah otonom yang diserahi ini lalu melaksanakannya melalui perangkatnya dinas.sinas!. Dalam melaksanakan tugas tersebut, aparat pelaksana dinas.dinas tadi!

%5

tidak bertanggung+awab kepada pemerintah pusat#daerah yang lebih tinggi yang memberi tugas tapi kepada diatas kepala se+alan daerah dengan zelfuitvoering! =ani, 9urcholis, %&&5:11!. Keterangan Koesoemahatmad+a keterangan 3agir )anan, menurut 3agir )anan tugas pembantuan adalah tugas melaksanakan peraturan perundang.undangan tingkat lebih tinggi de uitvoering van hogere regelingan!. Daerah terikat melaksanakan peraturan perundang.undangan termasuk yang diperintahkan atau diminta vorderen! dalam rangka tugas

pembantuan 3agir )anan, 144':114!. . Tinjauan Tentang Pemerintahan Desa a. 0engertian ;entang Desa dan 0emerintahan Desa Desa atau sebutan lainnya seperti negeri, marga, kampong, dusun, dati dan sebagainya merupakan sebuah komunitas adat dan sebagai unit pemerintahan terendah dalam struktur pemerintahan -ndonesia. Desa selalu menarik untuk di+adikan bahan ka+ian karena memiliki karakteristik tersendiri baik dari segi sosial, budaya, politik dan ekonomi. 0eran desa dan masyarakat desa +uga begitu besar mulai dimasa ,eodal, kolonial, perang kemerdekaan dan pasca kemerdekaan hingga era re,ormasi saat ini. 0erkembangan dan perubahan pun mewarnai kehidupan desa dan masyarakatnya yang disebabkan karena ,aktor penguasa yang silih berganti dengan berbagai kebi+akannya serta masuknya arus modernisasi. Siti 9uraini, %&&&:1! 8ndang.8ndang 9omor %% ;ahun 1444 +o 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' ;entang 0emerintahan Daerah merumuskan bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal.usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada diwilayah kabupaten. )enurut 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5 tentang Desa,

%(

disebutkan bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas.batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal.usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem 0emerintahan 9egara Kesatuan <epublik -ndonesia. )enurut 0ro,. Drs. =AW. Wid+a+a, Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersi,at istimewa, landasan pemikiran dalam mengenai Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat =AW Wid+a+a, %&&:::!. 0ada 0asal 1 angka ( 0eraturan 0emerintah 9o.1% ;ahun %&&5 tentang Desa disebutkan bahwa 0emerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah Desa dan badan 0ermusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal.usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem 0emerintahan 9egara Kesatuan <epublik -ndonesia. b. 0emerintahan Desa Dalam Sistem 0emerintahan Daerah 0emerintahan desa dalam 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' tentang 0emerintahan Daerah dalam 0asal %&% disebutkan bahwa 0emerintah Desa terdiri atas Kepala Desa dan 0erangkat Desa. 0enyelenggaraan 0emerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintah sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan )asyarakatnya. Sedangkan dalam 0asal %&( 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' yang men+adi kewenangan Desa mencakup : a! 8rusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal.usul desa" b! 8rusan pemerintahan yang men+adi kewenangan kabupaten # kota yang di serahkan pengaturannya kepada desa"

%1

c! ;ugas pembantuan dari 0emerintah, 0emerintah 0ro6insi Dan # Atau 0emerintah Kabupaten # Kota. 8rusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang. undangan diserahkan kepada desa mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. 3ahwa aspirasi yang berkembang saat ini, yang mengarah pada kritik atas penyeragaman desa yang pada gilirannya mematikan institusi lokal, mulai di dengar secara relati,, yang diwu+udkan dalam pengakuan atas hak asal.usul desa. Kendati hal ini masih menimbulkan pertanyaan mengingat institusi yang di tawarkan men+adi wa+ib untuk di wu+udkan di tingkat Desa Dadang 7uliantara, %&&&:1:!. )asuknya pemerintahan desa sebagai satu kesatuan dalam 8ndang.undang pemerintahan daerah apabila ditin+au dari politik pemerintahan, mempunyai makna yang penting. Sebagai salah satu bentuk pemerintahan daerah, desa sudah semestinya mendapatkan segala status dan kedudukan, beserta berbagai unsur pemerintah daerah seperti propinsi, kabupaten, atau kota 3agir )anan, %&&5: 154!. !. Tinjauan Tentang Ba"an Permus#a$aratan Desa )enurut 0eraturan Daerah Kabupaten Direbon 9o. 1: ;ahun %&&( tentang 3adan 0ermusyawaratan Desa, pengertian 30D adalah @embaga yang merupakan perwu+udan demokrasi dalam penyelenggaraan 0emerintahan Desa sebagai unsur penyelenggara 0emerintahan Desa. 0engertian tersebut sama dengan pengertian 30D yang terdapat dalam 00 9o.1% tahun %&&5 tentang Desa. BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Masa jabatan anggota BPD adalah 6 (enam) tahun dan dapat diangkat/diusulkan kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. 3erdasarkan 0asal %&4 8ndang.8ndang 9omor :% ;ahun %&&' tentang 0emerintah Daerah 3adan 0ermusyawaratan Desa ber,ungsi menetapkan peraturan Desa bersama

%/

kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta di dalamnya +uga mempunyai ,ungsi dalam penetapan A03Des. Menurut PP No. 1% tahun %&&5 tentang Desa, wewenang 30D adalah : 1) membahas ran angan peraturan desa bersama kepala desa! ") melaksanakan penga#asan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa! $) mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa! %) membentuk panitia pemilihan kepala desa! &) menggali'menampung' menghimpun' merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat! dan 6) menyusun tata tertib BPD. =ak 30D seperti yang tercantum dalam 0asal :( 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5 adalah meminta keterangan kepada 0emerintah Desa dan menyatakan pendapat. Sedangkan hak anggota 30D menurut 0eraturan Daerah Kabupaten Direbon 9o. 1: ;ahun %&&( tentang 3adan 0ermusyawaratan Desa, yaitu : 1! menga+ukan <ancangan 0eraturan Desa" %! menga+ukan pertanyaan" :! menyampaikan usul dan pendapat" '! memilih dan dipilih sebagai 0impinan 30D"dan 5! memperoleh tun+angan sesuai dengan kemampuan Keuangan Desa dan#atau ketentuan peraturan perundang.undangan. Anggota 30D mempunyai kewa+iban: 1! mengamalkan 0ancasila, melaksanakan 8ndang.8ndang Dasar 9egara <epublik -ndonesia ;ahun 14'5 dan mentaati segala peraturan perundangundangan" %! melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa" %4

:! mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan 9egara Kesatuan <epublik -ndonesia" '! menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklan+uti aspirasi masyarakat" 5! memproses pemilihan kepala Desa" (! mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan" 1! menghormati nilai.nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat" dan /! men+aga norma dan etika dalam hubungan ker+a dengan lembaga kemasyarakatan. ;ugas 3adan 0ermusyawaratan Desa diharapkan lebih bisa mengakomodasikan kepentingan masyarakat desa. Kemungkinan besar segala tugas utamanya dapat dilaksanakan dengan baik mengingat keanggotaannya dipilih dari dan oleh masyarakat dan pimpinannya dipilih oleh anggotanya. 2ungsi yang penting daripada 3adan 0ermusyawaratan harus disadari benar.benar oleh setiap anggota daripada 3adan 0ermusyawaratan tersebut, selaku wakil.wakil dari pada rakyat. Kesadaran bahwa setiap keputusan daripada 3adan 0ermusyawaratan ini akan membawa akibat langsung atau tidak terhadap keuntungan atau kerugian bagi rakyatnya. Cleh karena itu, masalah pemilihan Wakil.wakil <akyat di dalam negara demokrasi benar.benar merupakan masalah yang prinsipil, rakyat harus berhati.hati memilihnya 7oeniarto, 144&:%'!. Apabila diperhatikan, kehadiran 3adan 0ermusyawaratan Desa selaras dengan tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya kontrol atau pengawasan terhadap pelaksanaan roda pemerintahan dan pembangunan oleh Kepala Desa dan masyarakat. %. Tinjauan Demokrasi Desa

:&

Demokrasi memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan harus mengakomodasi aspirasi masyarakat. -stilah Demokrasi itu sendiri berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua perkataan yaitu, demos yang berarti rakyat dan cratein yang berarti berkuas. Dengan demikian, demokrasi secara terminologi berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat 3udiard+o, %&&&: 5&!. Dalam arti yang relati, agak luas demokrasi sering dimaknai sebagai pemerintahan dengan segenap kegiatan yang dikelola, dengan men+adikan rakyat sebagai sub+ek dan titik tumpu roda penentu ber+alannya kepolitikan dan kepemerintahan Agustino, %&&(: %1%!. Selan+utnya =ans Kelsen men+elaskan bahwa semua kekuasaan harus dilaksanakan oleh satu organ kolegal yang para anggotanya dipilih oleh rakyat dan secara hukum harus bertanggung +awab kepada rakyat. )elihat pertumbuhannya, demokrasi terus berkembang, sehingga tepat apa yang dikemukakan 3agir )anan bahwa demokrasi merupakan suatu ,enomena yang tumbuh, bukan suatu penciptaan 3agir )anan" 144': %!. Cleh karena itu, praktik disetiap negara tidak selalu sama. )enurut <obert Dahl men+elaskan +uga bahwa demokrasi mesti membutuhkan kondisiEkondisi awal yang memadai guna terwu+udnya demokrasi itu sendiri, diantaranya adalah Agustino, %&&( : %1:! : 1. Adanya pemilihan umum yang bebas, adil, dan berkala" %. Kebebasan berpendapat" :. Adanya akses ke sumber E sumber in,ormasi yang luas dan beralternati," '. Adanya otonomi asosiasional" 5. Dibangunnya pemerintah perwakilan" dan (. Adanya hak warga 9egara. Cleh karena itu, demokrasi pada esensinya tidak bisa dipisahkan dengan rakyat dan kedaulatan rakyat. 3erkaitan dengan hal itu, demokrasi didesa harus mengakomodasi aspirasi masyarakat yang diartikulasi melalui 3adan 0ermusyawaratan Desa 30D! dan @embaga Kemasyarakatan

:1

sebagai mitra 0emerintahan Desa. 0rinsip dasar suatu kehidupan yang demokratis ialah tiap warga negara turut akti, dalam proses politik. Dengan kata lain, anggota masyarakat berpartisipasi dalam menyusun agenda politik, yang di+adikan landasan bagi pengambilan keputusan pemerintah. Demokrasi bisa ber+alan +ika pencapaian tu+uan.tu+uan dalam masyarakat diselenggarakan oleh wakil.wakil mereka representatif government!, yang dibentuk berdasarkan hasil pemilihan umum. 0artisipasi memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan desa harus mampu mewu+udkan peran akti, masyarakat, agar masyarakat senantiasa memiliki dan turut serta bertanggung+awab terhadap perkembangan kehidupan bersama. Sedangkan otonomi asli, memilik makna bahwa kewenangan pemerintahan desa dalam mengatur dan mengurus masyarkat setempat didasarkan pada hak asalEusul dan nilaiEnilai sosial budaya yang terdapat pada masyarakat setempat. )akna dari Demokrasi bahwa penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan di desa harus mengutamakan aspirasi masyarakat yang melalui 30D sebagai mitra pemerintah desa dalam melaksanakan pemerintahan di desa. 3erdasarkan pen+elesan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ,ungsi 30D dalam rangka demokratisasi desa dapat di+abarkan sebagai berikut 0hinanditia, %&1&:%'! : a! )engayomi, yaitu men+aga kelestarian adat.istiadat yang hidup dan berkembang di desa yang bersangkutan sepan+ang menun+ang kelangsungan pembangunan. b! @egislasi, yaitu merumuskan dan menetapkan 0eraturan Desa bersama.sama 0emerintah Desa. c! 0engawasan, yaitu meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan 0eraturan Desa, Anggaran 0endapatan dan 3elan+a Desa, serta Keputusan Desa.

:%

d! )enampung

aspirasi

masyarakat,

yaitu

menangani

dan

menyalurkan aspirasi yang diterima dari masyarakat kepada 0e+abat atau instansi yang berwenang. 0engertian wu+ud demokrasi desa adalah salah satunya melalui pembentukan 30D semakin nyata dengan adanya 0asal 11 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5. 3entuk pengakuan 3adan 0ermusyawaratan Desa 30D! melalui 0eraturan 0emerintah ini telah menempatkan 30D sebagai unsur demokratisasi di dalam pemerintahan desa.

B. Kerangka Pemikiran 3erdasarkan pada apa yang telah disusun dalam kerangka teoritik tin+auan pustaka dan paparan latar belakang di atas, penulis akan menya+ikan bagan kerangka pemikiran yang akan membantu dan memberikan gambaran yang lebih riil mengenai alur berpikir dalam penyusunan penelitian ini.

::

0engaturan 30D diatur secara garis besar dalam 88 9o.:% ;ahun %&&' ;entang 0emda 0engaturan tentang 30D diatur secara lebih khusus dalam 00 9omor 1% ;ahun %&&5 ;entang Desa ;ahap 0encalonan Dan 0enetapan Anggota 30D 0lumbon berdasarkan 0erda Kab.Direbon 9o.1: ;ahun %&&( ;entang 30D

-mplementasi

Kendala.Kendala

?ambar %. 3agan Kerangka 0emikiran

K&T&'AN(AN ) Desa sebagai struktur pemerintahan terbawah dalam tata pemerintahan -ndonesia secara legal pengaturan umumnya terdapat dalam 8ndang.8ndang 9o.:% ;ahun %&&' ;entang 0emerintahan Daerah. Secara khusus pengaturan mengenai Desa diatur dalam 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5 tentang Desa. Dalam 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5 tentang Desa tersebut terdapat pengaturan tentang 0emerintahan Desa termasuk di dalamnya tentang 3adan 0ermusyawaratan Desa 30D!. @ebih lan+ut, 0eraturan 0emerintah 9omor 1% ;ahun %&&5 mengamanatkan agar dibuat suatu peraturan daerah Kabupaten#Kota yang mengatur tentang 30D termasuk tahapan pencalonan hingga penetapan anggota 30D.

:'

Di Kabupaten Direbon, pengaturan menegenai 30D secara khusus diatur dalam 0erda 9o.1: ;ahun %&&( ;entang 30D. Secara umum pemilihan anggota 30D dilakukan dengan cara musyawarah mu,akat. 9amun seperti yang sudah dipaparkan pada bagian latar belakang, terdapat penyimpangan di beberapa daerah mengenai tahapan pencalonan hingga penetapan anggota 30D tersebut. 0enyimpangan tersebut yaitu mengenai tidak sesuainya antara peraturan yang ada dengan implementasi di lapangan mengenai tahapan pencalonan dan penetapan anggota 30D. Kenyataan tersebut menarik penulis untuk meneliti implementasi serta melihat kendala.kendala yang ter+adi sehubungan dengan pemilihan anggota 30D di Desa 0lumbon dengan acuan 0erda Kab.Direbon 9o.1: ;ahun %&&( ;entang 30D.

:5