Anda di halaman 1dari 2

Evaluasi CT-Scan Kepala Langkah I (Identitas dan Persiapan) Pastikan bahwa gambar CT-Scan tersebut adalah betul milik

lik pasien yang mau diperiksa. Pastikan bahwa CT-Scan dibuat tanpa kontras intravena. Gunakan temuan gejala klinis pasien untuk memfokuskan mencari kelainan pada CT-Scan, dan gunakan temuan dari gambaran CT-Scan untuk memeriksa ulang pemeriksaan fisik bila diperlukan.

Langkah II (Kulit Kepala) Periksa bagian kulit kepala yang mengalami kontusio atau edema yang merupakan petunjuk adanya trauma eksternal.

Langkah III (Kranium) Periksa adanya fraktur tulang tengkorak. Garis sutura (sambungan antara tulang-tulang cranium) dapat disalah artikan sebagai fraktur. Fraktur depresi tengkorak (melebihi ketebalan tengkorak) Periksa adanya fraktur terbuka. Lintasan luka tembak dapat tampak sebagai area berdensitas rendah

Langkah IV (Nilai kesimetrisan girus dan sulkus, karena jika tidak simetris maka perlu dipertimbangkan) A. Subdural Hematom (SDH) Cirinya adalah gambaran hiperdensitas yang menyelubungi dan menekan girus dan sulkus di semua permukaan hemisfer. Terletak di dalam rongga tengkorak. Dapat menyebabkan pergeseran ventrikel melewati garis tengah. Lebih sering terjadi daripada epidural hematom. Dapat disertai dengan kontusio serebri dan hematom intra serebral. B. Epidural Hematom (EDH) Cirinya adalah gambaran hiperdens berbentuk lentikuler atau bikonveks. Terletak di dalam rongga tengkorak dan menekan girus dan sulkus dibawahnya. Dapat menyebabkan pergeseran ventrikel melewati garis tengah. Sering terletak di region temporalis atau temporo-parietalis. Langkah V (Menilai hemisfer serebri dan serebeli) Bandingkan kedua hemisfer serebri dan serebeli, densitas dan kesimetrisannya. Hematom intraserebral tampak sebagai area hiperdens. Kontusio serebri tampak sebagai bercak-bercak yang hiperdens.

Cedera aksonal difus (DAI) dapat tapak sebagai gambaran yang normal atau area kontusio serebri kecil tersebar dan area yang hipodens.

Langkah VI (Menilai sistim ventrikel) Perhatikan ukuran dan kesimetrisan ventrikel. Lesi massa yang cukup bermakna akan menekan dan mengubah bentuk ventrikel terutama ventrikel lateral. TIK yang cukup tinggi sering berhubungan dengan gambaran ventrikel yang menyempit. Perdarahan intra ventrikuler tampak sebagai daerah hiperdens (titik yang cerah) dalam rongga ventrikel.

Langkah VII (Tentukan ada pergeseran atau tidak) Pergeseran garis tengah dapat terjadi akibat hematom atau edema yang menyebabkan septum pelusidum yang terletak diantara kedua ventrikel lateral, bergeser jauh dari tengah. Garis tengah adalah garis yang menghubungkan antara krista galli di anterior dan inion yaitu proyeksi posterior puncak tentorium serebeli. Setelah mengukur jarak pergeserean antara garis tengah ke septum pelusidum yang bergeser itu, ukur jarak tersebut dengan skala yang ada pada film CTScannya.pergeseran lebih dari 5 mm merupakan petunjuk adanya lesi massa dan memerlukan tindakan dekompresi pembedahan.

Langkah VIII (menilai struktur-struktur maksilofasial) Periksa tulang-tulang wajah terhadap adanya krepitus akibat fraktur. Periksa sinus-sinus dan udara dalam sinus mastoideus akan adanya gambaran batas udara-air. Fraktur tulang wajah, fraktur sinus, dan gambaran batas udara air dalam sinus maupun mastoideus merupakan indikasi suatu fraktur dasar tengkorak atau tulang kribriformis.

Langkah IX (Cari adanya 4 C hiperdens) Contrast (Kontras) Clot (Bekuan darah) Cellularity (Tumor) Calcification (Glandula Pinealis, Plexus Choroideus)