Anda di halaman 1dari 13

ANESTESI PADA PASIEN PPOK

PPOK merupakan kelainan paru yang paling umum

terjadi pada praktik anestesi. Prevalensinya meningkat seiring dengan usia. PPOK berkaitan erat dengan merokok, dan didominasi oleh pria (mengenai lebih dari 20% pria). Mayoritas pasien bersifat asimtomatik atau hanya simtomatik ringan tapi menunjukkan obstruksi aliran udara ekspirasi pada PFT

Tanda dan Gejala Penyakit Paru Obstruktif Kronis.


Features Cough Sputum Hematocrit PaCo2 (mmHg) Chest Radiograph Elastic Recoil Airway Resistance Cor Pulmonale Chronic Bronchitis Frequent Copious Elevated Often elevated (>40) Increased lung markings Normal Increased Early Scant Normal Usually normal or <40 Hyperinflation Decreased Normal to Slightly increased Late Emphysema With Exertion

BRONKHITIS KRONIS

Diagnosis klinis bronkhitis kronis

didefinisikan dengan adanya batuk produktif pada sebagian besar hari dalam tiga bulan berturut-turut selama minimal dua tahun berturut-turut. Selain merokok polutan udara, paparan okupasional terhadap debu, infeksi paru rekuren, dan faktor-faktor familial mungkin bisa menyebabkan terjadinya bronkitis kronis ini.

EMFISEMA
Emfisema merupakan kelainan patologis yang dicirikan dengan pelebaran jalan napas bronkhiolus distal ke terminal yang ireversibel dan kerusakan

septum alveolus. Emfisema yang bermakna hampir selalu terkait dengan merokok. Jarang didapatkan emfisema yang terjadi pada usia dini dan terkait dengan defisiensi antitripsin 1 homozigot. Secara khas, pasien memiliki RV, FRC, TLC, dan rasio RV/TLC yang meningkat. Peningkatan ruang mati merupakan gambaran utama emfisema. Tekanan oksigen arteri biasanya normal atau hanya sedikit berkurang; tekanan CO2 juga biasanya normal

TERAPI
Terapi untuk PPOK terutama adalah suportif. Intervensi

terpenting adalah berhenti merokok Pasien yang menunjukkan obstruksi jalan napas yang reversibel (> 15% perbaikan pada FEV1 setelah pemberian bronkhodilator) harus mulai diberikan terapi bronkhodilator jangka panjang Eksaserbasi sering dikaitkan dengan periode bronkhitis, yang ditunjukkan dengan perubahan sputum; terapi yang sering dengan antibiotik spektrum luas (contohnya, ampisilin, tetrasiklin, sulfametoksazol-trimetoprim) mungkin perlu diberikan. Hipoksemia harus diterapi dengan hati-hati dengan oksigen suplemen. Pasien dengan hipoksemia kronis (PaO2 < 55 mm Hg) dan hipertensi pulmonal membutuhkan terapi oksigen beraliran rendah (1-2 L/menit).

Pertimbangan Anestesi PENATALAKSANAAN PREOPERATIF

Pasien dengan PPOK harus dipersiapkan secara

optimal sebelum prosedur pembedahan elektif. Pasien harus ditanyai mengenai perubahanperubahan terbaru dalam dispnu, sputum, dan mengi. PFT, foto thoraks, dan pengukuran gas darah harus dinilai secara hati-hati. Kebanyakan pasien memiliki penyakit jantung yang menyertai sehingga harus mendapatkan evaluasi kardiovaskuler yang cermat

Intervensi preoperatif pada pasien dengan PPOK

bertujuan untuk memperbaiki hipoksemia, melegakan bronkhospasme, memobilisasi dan mengurangi sekresi, dan mengobati infeksi dapat menurunkan angka kejadian komplikasi pulmo pascaoperasi. Pasien dengan risiko tinggi mengalami komplikasi yaitu pasien dengan pengukuran fungsi paru preoperatif kurang dari 50% dibandingkan dengan yang diramalkan.

Merokok harus dihentikan minimal 6-8 minggu

sebelum operasi dilakukan untuk mengurangi sekresi dan komplikasi komplikasi paru. Bronchospasme harus diterapi dengan bronchodilator. Hipertensi pulmonal harus diterapi dengan mengoptimalkan oksigenasi

PENATALAKSANAAN INTRAOPERATIVE
Walaupun penggunaan regional anestesi lebih disukai daripada general anestesi pada pasien dengan PPOK, Spinal tinggi ataupun epidural anestesi dapat mengurangi volume paru, merestriksi penggunaan otot2 accesorius pernapasan, dan menimbulkan batuk yang tidak

efektif yang bisa menyebabkan dispneu dan retensi sekresi.

Air trapping harus dihindari dengan cara

pemberian ventilasi yang terkontrol dengan tidal volume kecil sampai moderate dan rate yang kecil. Hindari penggunaan N2O terutama pada pasien PPOK dengan pulmonary bulae dan hipertensi pulmonal. Obat-obatan yang sering berhubungan dengan pelepasan histamin (contohnya, kurare, atrakurium, mivakurium, morfin, dan meperidin) harus dihindari atau jika digunakan, diberikan dengan sangat lambat.

Ekstubasi dapat mengurangi resiko terjadinya bronkospasme tetapi harus dilihat apakah nafas pasien sudah adekuat.