Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK PERCOBAAN X PEMBUATAN KALIUM MERKURI IODIDA

OLEH : NAMA STAMBUK KELOMPOK ASISTEN : EKA SAFUTRA : F1C1 06 008 : V (LIMA) : JUNARTIN TEKE

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2011

PEMBUATAN KALIUM MERKURI IODIDA A. Tujuan Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui pembuatan kalium merkuri iodia. B. Landasan Teori Kalium adalah unsur kimia dalam tabel periodik. Ia mempunyai simbol K (Bahasa Latin: "Kalium" daripada bahasa Arab: "alqali") dan nomor atom 19. Kata kalium kemungkinannya berasal dari bahasa Arab yang bermaksud memanggang, yaitu abu tumbuh-tumbuhan yang dibakar. Kalium terikat dengan unsur lain-lain dalam air laut atau kebanyakan mineral. Ia teroksida cepat dalam udara, sangat reaktif, terutamanya dalam air, dan menyerupai natrium secara kimia. Kalium merupakan mineral zat mikro penting dalam gizi manusia; ia membantu dalam pengecutan otot dan pengekalan keseimbaingan bendalir dan elektrolit dalam sel tubuh. Kalium juga penting dalam penghantaran impuls saraf serta pembebasan tenaga daripada protein, lemak, dan karbohidrat semasa metabolisme (http://ms.wikipedia.org/wiki/kalium). Kalium merupakan logam putih perak lunak, logam ini melebur pada suhu 63,5oC. Ia tetap tak berubah di dalam udara kering, tetapi dengan cepat teroksidasi dalam udara lembab menjadi tertutup dengan suatu lapisan biru. Logam ini menguraikan dengan dahsyat, sambil melepaskan hydrogen dan terbakar dengan nyala lembayung. Kalium biasanya disimpan dalam pelarut nafta. Garam-garam kalium mengandung kation monovalen K+. Garam-garam ini biasanmya larut dan membentuk larutan yang tak berwarna, kecuali bila ionnya berwarna(Vogel, 1994).

Ada tiga macam bentuk merkuri (Hg), yaitu uap Hg (unsur Hg), garam Hg, dan Hg organik. Unsur Hg biasanya digunakan di laboratorium penelitian, sedangkan garam Hg pernah digunakan sebagai obat cacing (HgCl2), bahkan sekarang masih digunakan dalam sejumlah krim kulit sebagai antiseptik. Selain itu garam Hg juga digunakan dalam industri elektronik, pembuatan plastik, fungisida, germisida, formula algam untuk tambal gigi. Salah satu senyawa Hg organik yang paling berbahaya adalah metilmerkuri. Senyawa ini pernah digunakan sebagai fungisida tanaman. Keracunan merkuri pada manusia akibat konsumsi biji bibit gandum bermerkuri telah terjadi di Irak, Pakistan, Ghana dan Guatemala selama musim gugur tahun 1971. Irak telah mengimpor sejumlah besar biji gandum yang diawetkan dengan metil merkuri dan mendistribusi biji gandum tersebut untuk ditanam pada masa tanam musim semi. Meskipun sudah diberi peringatan resmi, biji gandum tersebut tetap digiling dan selanjutnya dibuat roti. akibatnya, 6530 orang dirawat di rumas sakit dan 500 orang meninggal (http://www.wartamedika.com/ Merkuri). Meskipun kandungan Hg dalam air belum dikategorikan sebagai

pencemar/polutan, perlu diwaspadai kandungan unsur yang berada dalam sedimen sungai mengingat akumulasi Hg dalam jangka waktu panjang dapat membentuk senyawa methylmercury (CH3Hg ) yang bersifat racun (toxic). Senyawa ini dapat terbentuk segera ketika Hg
2+ +

berasal dari sedimen sungai (berkonsentrasi hidrogen

tinggi) terlarutkan melalui pertukaran ion di dalam air (pH rendah), yang kemudian dapat berkembang setelah diserap oleh mikro-organisma yang berada di dalam sungai (Herman, 2005).

Iod adalah padatan hitam dengan sedikit kelap logam. Pada tekanan atmosfer ia menyublim tanpa molekul. Ia segera melarut dalam pelarut non polar. Iod terdapat sebagai iodat dalam air laut dan sebagai iodat dalam garam chili. Ion iodat yang pirimidal terutama sekali dijumpai pada garam logam alkali. Iodat dapat diendapkan dengan menggunakan HNO3 (Cotton dan Wilkinson, 1989). Bila suatu kristal sangat larut dalam suatu pelarutan sangat tidak larut dalam pelarut lain maka akan memberikan rekristalisasi yang memuaskan. Reksristalisasi dengan pelarut campuran terjadi dekat titik didih campuran. Senyawa dilarutkan dalam pelarut yang sangat melarutkan, dalam keadaan panas dimana zat hanya sedikit larut, ditambahkan terus menerus hingga kejenuhan terjadi. Kejenuhan dihilangkan dengan penambahan sedikit pelarut dan campuran dibiarkan dingin pada temperatur kamar. Kristal akan terpisah setelah filtrat didinginkan. Pada rekristalisasi, pengotor ini bisa larut dalam pelarut mendidih dan sebagian diserap oleh kristal dan sebagian yang lain memisah pada pendinginan(Anwar, 1994). Di bidang teknik kimia seringkali bahan padat harus dipisahkan dari larutan atau lelehan, tanpa mengikat kotoran-kotoran yang terkandung dalam fasa cair tersebut. Seringkali juga bahan padat kristalin yang mengandung pengotor harus dibersihkan atau harus dihasilkan bentuk-bentuk kristal tertentu, untuk maksud tersebut proses kristalisasi dapat digunakan. Kristal adalah bahan padat dengan susunan atom atau molekul yang teratur. Yang dimaksud kristalisasi adalah pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan atau lelehan. Hasil kristalisasi dari lelehan sering harus didinginkan lagi atau dikecilkan ukurannya (Bernaseoni, 1995).

C. Alat dan Bahan a. Alat Timbangan analitik Gelas kimia 100 mL 2 buah Batang pengaduk Corong Cawan penguapan Hot plate Pipet ukur Pipet tetes Botol semprot Desikator

b. Bahan Larutan KI Larutan HgCl2 Aquadest

D. Prosedur Kerja

10 mL KI 0,1 mol Ditambahkan 15 mL larutan HgCl2 0,05 mol Diaduk sampai terbentuk endapan merkuri iodida Disaring endapan yang terbentuk dan dikeringkan

Endapan HgI2 yang terbentuk

Endapan merkuri iodida Dimasukkan ke dalam larutan KI (16 gram KI dalam 10 mL Aquadest) panas sambil diaduk Dipanaskan campuran tersebut dengan penangas selama 30 menit sampai jenuh Dipindahkan larutan ke dalam cawan petri dan diuapkan di atas penengas air

Larutan jenuh dalam cawan penguapan Dimasukkan dalam desikator Dibiarkan beberapa jam (bahkan malam) Diambil endapan dengan mengikisnya Dikeringkan dengan desikator Ditimbang dan dihitung rendamennya

% rendamen = 56,784 %

E. Hasil Pengamatan Dik : Mol HgCl2 Mol KI Berat cawan penguapan = 0,05 mol = 0,1 mol = 54,48 gram

Berat cawan pengauapan + sampel = 77,839 gram Berat sampel Dit : % Rendamen = Reaksi : HgCl2 + 2KI HgI2 + 2KI + 2H2O Mol HgCl2 mol HgI2 Mol K2HgI4.2H2O mol HgI2 Berat K2HgI4.2H2O 2KCl + HgI2 K2HgI4.2H2O = 0,005 mol = 0,005 mol = 23,35 gram

= mol K2HgI4.2H2O x Mr K2HgI4.2H2O = 0,05 mol x 822,41 g/mol = 41,1205 gram

Jadi, berat teoritis K2HgI4.2H2O adalah 41,1205 gram % Rendamen =


Berat eksperimen x 100 % Berat teoritis

23,35 gram x 100 % 41,1205 gram

= 56,784 %

F. Pembahasan Pemahaman termodinamika kesetimbangan penting untuk memahami kimiawi keadaan air raksa. Berdasarkan data potensial reduksi yaitu : Hg22+ + 2eHg2+ + 2e2Hg 2Hg E0 = 0,789 V E0 = 0,854 V

Jadi jelaslah bahwa hanya zat pengoksidasi yang memiliki potensial oksidasi antara 0,789 0,848 V yang dapat mengoksidasi Hg menjadi Hg2+. Fenomena lain yang penting adanya proses kesetimbangan disproporsional, yaitu : Hg22+ Hg + Hg2+ E0 = -0,131 V

Dimana dari persamaan tersebut memberikan penjelasan bahwa Hg sendiri dengan mudah mereduksi Hg2+ menjadi Hg22+ . Jadi pereaksi apapun yang mereduksi keaktifan Hg2+ (dengan pengendapan atau pengompleksan) sampai batas tertentu yang lebih besar jika pereaksi tersebut menurunkan keaktifan Hg2+, akan menyebabkan disproporsional Hg22+. Terdapat banyak pereaksi semacam di atas OH-, S2-, CN-, dsb. Menyebabkan senyawa Hg22+ yang stabil sangat sedikit jadi cenderung Hg menggunakan valensi +2 misalnya K2HgI4.2H2O. Pada percobaan kali ini, dilakukan pembuatan Kalium merkuri iodida (K2HgI4.2H2O). Pembuatan kalium merkuri iodida ini dilakukan dalam dua tahap. Pertama, dengan mereaksikan HgCl2 dan KI. Larutan campuran tersebut kemudian diaduk hingga diperoleh endapan HgI2 yang berwrna merah. Endapan tersebut diambil dengan menyaringnya menggunakan kertas saring setelah itu dikeringkan dalam oven

Kalium merupakan logam putih perak lunak, logam ini melebur pada suhu 63,5oC. Ia tetap tak berubah di dalam udara kering, tetapi dengan cepat teroksidasi dalam udara lembab menjadi tertutup dengan suatu lapisan biru. Logam ini menguraikan dengan dahsyat, sambil melepaskan hydrogen dan terbakar dengan nyala lembayung. Kalium biasanya disimpan dalam pelarut nafta Endapan HgI2 kemudian direaksikan lagi dengan larutan KI yang dibuat dengan melarutkan 16 g padatan KI dalam 10 mL aquadest. Setelah itu, campuran keduanya dipanaskan selama 30 menit sampai jenuh dan diperoleh larutan K2HgI4.2H2O. Setelah jenuh, larutan tersebut dipindahkan ke dalam cawan porselen yang telah ditimbang berat kosongnya, untuk dididihkan lagi di atas penangas kemudian setelah itu didiamkan selama 24 jam agar kristal yang terbentuk benar-benar semprna. Proses ini, harus dihindarkan dari udara luar, mengingat udara luar dapat mengoksidasi Kalium dengan cepat. Oleh karena itu, sampel disimpan dalam desikator agar diperoleh kristal yang baik. Secara keseluruhan, rangkaian pembuatan K2HgI4.2H2O dapat diamati dari reaksi berikut : HgCl2 + 2KI HgI2 + 2KI + 2H2O 2KCl + HgI2 K2HgI4.2H2O

Setelah didinginkan dalam desikator, kristal yang terbentuk dalam cawan kemudian ditimbang untuk ditentukan % rendamennya. Secara teoritis, berat kristal K2HgI4.2H2O adalah 41,1205 gram. Namun, pada percobaan ini diperoleh berat kristal sebesar 23,35 gram. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, % rendamen yang diperoleh dari percobaan ini adalah 56,784 %.

G. Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Kalium merkuri iodida dapat dilakukan dengan dua tahap yaitu mereaksikan HgCl2 dengan padatan KI lalu terbentuk HgI2 dan dilanjutkan dengan mereaksikannya kembali dengan padatan KI dalam suhu tinggi. Pada praktikum kali ini diperoleh rendamen K2HgI4.2H2O yang terbentuk adalah 56,784 %.

DAFTAR PUSTAKA Anwar, Chairil, 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. UGM. Yogyakarta. Bernaseoni,G., 1995. Teknologi Kimia. PT Padya Pranita. Jakarta. Herman, D. S, 2005. Pendataan Sebaran unsur Merkuri pada Wilayah Pertambangan Ciberang dan sekitarnya Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hasil Kegiatan Subdit Konservasi:17-1. http://ms.wikipedia.org/wiki/kalium, diakses tanggal 16 November 2008 http://www.wartamedika.com/Merkuri, diakses tanggal 16 November 2008 Cotton, Wilkinson, 1994. Kimia Anorganik Dasar I. Universitas Indonesia. Jakarta. Vogel, 1995, Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semi Mikro. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta.