Anda di halaman 1dari 6

Proses Diagenesa Batuan Karbonat Batuan karbonat merupakan salah satu jenis batuan sedimen non silisiklastik.

Batuan ini merupakan batuan yang fraksi karbonat lebih besar dari fraksi non karbonat dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 % yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986). Sedangkan batugamping menurut definisi Reijers &Hsu (1986) adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan karbonat adalah batugamping. Diagenesa merupakan perubahan yang terjadi pada batuan karbonat yang terjadi secara alami, sejak proses pengendapan awal hingga batas (onset) dimana metamorfisme akan terbentuk. Sedangkan pada batuan karbonat, diagenesa merupakan proses transformasi menuju batugamping atau dolomit yang lebih stabil. Proses diagenesa terjadi pada temperature dan tekanan yang lebih tinggi dari temperature dan tekanan pada proses pelapukan, tetapi lebih rendah dari proses metamorfisme. Meskipun demikian tidak diketahui batas yang pasti antara proses diagenesa dengan proses metamorfisme. Proses diagenesa dimulai ketika adanya aktifitas organik awal dari proses sementasi ketika material sedimen masih di dasar cekungan sedimentasi. Komposisi mineral asal, kemungkinan mengalami perubahan karena terjadinya reaksi kimia yang mengakibatkan terjadinya pernggantian mineral, terbentuknya mineral baru dan pelarutan mineral. Proses-proses tersebut mengakibatkan perubahan tekstur batuan, struktur batuan, komposisi dan porositas batuan sedimen. Faktor yang menentukan karakter akhir produk diagenesa antara lain : 1. Komposisi sedimen mula-mula 2. Sifat alami fluida interstitial dan pergerakannya 3. Proses kimia dan fisika yang bekerja selama diagenesa Proses diagenesa dapat disebabkan oleh beberapa proses baik fisika, kimia, biologi dan sebaigainya. Bermacam-macam proses diagenesis pada batuan karbonat adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Proses deagenesa batuan karbonat Sumber gambar : http://www.geol.umd.edu/~hcui/Teaching/DiagenesisHuanCui.pdf

Dissolution (pelarutan) Sementasi merupakan proses diagenesis yang paling umum dalam batuan karbonat. Proses pelarutan atau dissolution merupakan proses melarutnya komponen karbonat yang terjadi pada fluida pori tidak jenuh (under saturated) oleh mineral-mineral karbonat sehingga proses ini menyebabkan meningkatnya porositas dan penipisan lapisan batuan karbonat terutama pada batuan yang mudah larut. Adapun pelarutan sifatnya berlawanan dengan sementasi, dimana sementasi membuat mineral semen (karbonat) terpresipitasi, sementara pelarutan akan merusak struktur mineral yang telah terbentuk. Pelarutan mineral karbonat memerlukan kondisi berlawanan dengan proses presipitasi. Pelarutan akan terbantu oleh adanya mineral yang bisa larut (mineral karbonat yang tidak stabil seperti aragonit dan Mg-calcite), nilai pH yang rendah (lingkungan menjadi asam). Proses ini dikontrol oleh pH, Eh, temperature, tekanan parsial CO2, komposisi kimia dan ion strength. Proses pelarutan juga dikontrol oleh porositas dan permiabilitas awal, mineralogi dan ukuran butir sedimen. Pelarutan karbonat kurang banyak terjadi di lingkungan laut. Tapi pada lingkungan darat atau manapun yang ada perkolasi (rembesan) dari air meteorik (air hujan maupun air tawar) maka karbonat akan semakin mudah larut. Biasanya hal ini terjadi pada zona vadose (zona yang berada diatas muka air tanah) tapi karena posisinya berada diatas (dekat permukaan) maka air hujan paling pertama kali melewati zona ini sebelum masuk ke zona air tanah (dibawah water table) atau zona freatik pelarutan ekstensif dari aragonit dan high-magnesian calcite bahkan kalsit sealipun Terjadi pada lingkungan ini (zona perkolasi air meteorik). Untuk zona yang berada dekat zona freatik, pelarutan cenderung terkonsentrasi di muka air tanahnya saja artinya di dalam akifer air tanah pelarutan tidak telalu ektensif tapi pada muka air tanah (batas antara zona vadose dan zona freatik atau water table) pelarutan cukup ektensif. Cementation (sementasi) yaitu proses pembentukan mineral baru dalam pori batuan oleh proses presipitasi yang ditandai dengan turunnya material-material di ruang antar butir karbonat dan secara kimiawi mengikat butirbutir karbonat satu dengan yang lain. Proses ini dapat juga terjadi karena adanya penambahan unsur kimia pada butiran mineral penyusun sedimen sehingga menyebabkan mineral tersebut semakin bertumbuh. Semen dapat mengisi semua lubang pori batuan, sehingga dapat menurunkan porositas batuan menjadi nol. Semen juga mengakibatkan material sedimen, dan proses sementasi merupakan proses kimia yang menyebabkan terjadinya proses pembatuan. Proses sementasi terjadi terutama pada tingkat awal hingga pertengahan proses diagenesa atau dapat juga terjadi pada akhir atau bahkan setelah terjadinya pengangkatan batuan karbonat. Proses sementasi yang terjadi di awal dapat mengurangi proses pemadatan mekanik sedimen, kecuali semen yang terbentuk mengalami pelarutan. Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan ( permeabilitas relatif ) pada ruang antar butir makin besar. Sementasi, dengan keluarnya air dari ruang pori-pori, material yang terlarut didalamnya mengendap dan merekat pada butiran sedimen. Material semennya dapat merupakan karbonat (CaCO3), silika (SiO3), oksida (besi) atau mineral lempung. Proses sementasi menyebabkan porositas batuan karbonat menjadi lebih kecil dari material semula. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras.

Gambar 2. Proses sementasi pada bataun karbonat Sumber gambar : http://www.sepmstrata.org/page.aspx?pageid=479

Dolomitization (dolomitisasi) merupakan proses penggantian mineral-mineral kalsit menjadi dolomit. Dolomitisasi, dalam proses ini batugamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi dolomite (CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi kimia : 2CaCO3 + MgCl3 CaMg(CO3)2 + CaCl2 Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas yang lebih besar dari pada batugamping sendiri. Dolomitisasi bisa terjadi di laut dangkal-campuran fresh dan sea water, tidal flat, di danau, lagoon, dll. Apalagi kalau ada batuan yang mengandung Mg yang dilewati sungai-sungai dan membawanya ke lingkungan dimana batu gamping berada atau terjadi. Dolomitisasi juga bisa di laut dalam, contoh Ammonitico Rosso Lst di Italia yang berwarna merah dan terletak dekat lava basalt. Yang menjadi pengontrol dolomit dan kalsit dalam limestone biasanya faktor kedalaman. Kalau kedalamannya kurang dari 3000 m maka akan banyak mengandung dolomit, sebaliknya kalau lebih dari 3000 m banyak mengandung kalsit. Disamping itu distribusi dolomit terjadi disekitar daerah yang mengalami proses hydrothermal. Dolomite atau dolomitisasi umumnya terjadi di Laut dangkal seperti yang terjadi di Irian Jaya yang bernama Modio Dolomite dengan ketebalan 2000 m. Dolomitisasi juga bisa terjadi pada batuan dolomite. Dolomicrite mengalami secondary diagenesis yaitu terjadi mineral-mineral dolomite yang baru, euhedral, besar-besar, sehingga porositas batuan dolomite menjadi besar. Hal ini terjadi di Curoong Lagoon dimana dolomite berumur Pre-Cambrium yang diketemukan di laut dalam. Batuan dolomicrite berasosiasi dengan shale pada laut dalam dengan ukuran tidak begitu tebal, tetapi distribusinya mencapai puluhan kilometer dan membentuk membentuk double layers sehingga diinterpretasikan sebagai condenced section. Pembentukan dolomit mempunyai kisaran yang lebar, yaitu mulai dari setelah sedimen diendapkan, contohnya saat menggantikan CaCO3 dan presipitasi membentuk semen dolomit, bisa juga selama diagenesa sampai pengendapannya benar-benar selesai dan biasanya ditunjukkan dengan adanya sementasi sebagai akibat pembebanan (disebut epigenetic dolomitization).

Microbial activity adalah proses dimana butiran skeletal teralterasi pada dasar laut oleh organisme seperti bacteria, dan fungi. Aktifitas organisme terjadi pada awal proses diagenesa segera setelah material sedimen mengalami pengendapan. Aktifitas organisme akan mempercepat atau memacu terjadi proses diagenesis lainnya. Organisme yang menyebabkan proses ini dapat merupakan organisme yang sangat kecil (mikrobia) dimana aktifitas jasad renik sangat berhubungan dengan proses dekomposisi material organik. Proses dekomposisi material organik akan mempengaruhi pH dan Eh air pori sehingga mempercepat terjadinya reaksi kimia dengan mineral penyusun sedimen. Aktifitas mikroba antara lain fermentasi, respirasi, pengurangan nitrat, besi, sulfat dan pembentukan gas methana. Aktivitas ini akan merusak struktur karbonat yang berkembang pada sedimen karbonat dan meninggalkan jejak-jejak aktivitasnya saat organisme ini beraktivitas. Semua jenis organisme kecil macam fungi bakteri, dan alga membentuk microboring dalam fragmen skeletal dan butiran karbonat lainnya yang berukuran besar dan presipitasi mikrit dapat terjadi secara intensif di lingkungan yang berair hangat dimana butiran karbonat menjadi berkurang dan berubah menjadi mikrit, proses pada kondisi ini dikenal sebagai mikritisasi (Boggs, 2006). Jika boring kurang intensif, maka yang terbentuk adalah micrite rim (matrik yang mengisi tepi butiran karbonat). Bakteri dianggap mempengaruhi diagenesisi karbonat, sebagaimana diketahui pelarutan mikrit ini menyumbangkan semen dalam jumlah banyak di batuan karbonat (Vanneau, 1997). Mechanical activity (kompaksi) yaitu proses diagenesa yang terjadi akibat adanya peningkatan tekanan overburden yaitu termampatnya butiran sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban diatasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat. Pada saat perlapisan di batuan sedimen terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Akibat kompaksi beban akumulasi sedimen atau material lain menyebabkan hubungan antar butir menjadi lebih lekat dan air yang dikandung dalam ruang pori-pori antar butir terdesak keluar. Dengan demikian volume batuan sedimen yang terbentuk menjadi lebih kecil, namun sangat kompak. Hasil dari proses kompaksi adalah penurunan porositas dan permeablitas sedimen, pengualaran fluidadan pori antara butiran, penipisan perlapisan. Secara teori proses kompaksi pada sedimen silisiklastik dengan butir yang mebundar akan menurunkan porositas dari sekitar 48% menjadi sekitar 26%.

Gambar 3. Proses kompaksi pada batuan karbonat Sumber gambar : http://www.southampton.ac.uk/~imw/Durlston-Bay-Middle-Purbeck.htm

Chemical compaction Pada kedalaman burial sekitar 200-1500 m, kompaksi kimia dari sedimen karboat dimulai. Tekanan larutan pada kontak antar butiran seperti pada diagenesa sedimen klastik lainnya akan melarutkan permukaan butiran mineral dan pada karbonat dapat membentuk kontak-kontak begerigi. Pada skala yang lebih besar pressure solution pada batuan karbonat membentuk pola bergerigi (zig-zag) yang kita kenal sebagai struktur styolite. Styolite umum hadir pada batuan karbonat berbutir halus. Jadi Pressure solution pada batuan karbonat diikuti perkembangan strktur styolite, mecirikan hilangnya porositas dan thining (penipisan) dari bed (pelapisan).

REFERENSI Graha,D.S.1987. Batuan dan Mineral. Penerbit Nova. Bandung Yudianto, Ardhi Ishak Koesen, Sidik Pramada D. Hendra Amijaya dan Thomas Y.Yoga. 1997. Diktat Praktikum Petrologi. Laboratorium Bahan Galian Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta http://acisarea.blogspot.com/2011/04/diagenesis.html Diakses pada hari Jumat, 15 November 2013 pukul 19.15 WIB http://abgheo.wordpress.com/2012/06/15/batuan-karbonat/Diakses pada hari Minggu, 17 November 2013 pukul 13.28 WIB http://dimasap.files.wordpress.com/2009/10/sifat-fisik-batuan-reservoir.pdf Diakses pada hari Minggu, 17 November 2013 pukul 17.06 WIB http://thekoist.wordpress.com/2012/07/25/diagenesis-pada-batuan-batuan-sedimen-diagenesis-part ii/ Diakses pada hari Minggu, 17 November 2013 pukul 13.11 WIB http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg09155.html Diakses pada hari Minggu, 17 November 2013 pukul 18.20 WIB http://www.scribd.com/doc/95689907/Proses-Diagenesa-Dan-Faktor-Pengontrolnya Diakses pada hari Jumat, 15 November 2013 pukul 19.24 WIB http://www.scribd.com/doc/86220413/48859285-PROSES-SEDIMENTASI Sabtu, 17 November 2013 pukul 07.03 WIB Diakses pada hari

http://www.scribd.com/search-documents?page=2&query=petrologi+batuan+karbonatDiakses pada hari Jumat, 15 November 2013 pukul 19.18 WIB