Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anakanak. Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia tertinggi di Asia

Tenggara. Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan "Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia". Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia enam bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun. (GNPP-ASI oleh Bapak Presiden tanggal 22 Desember 1990) Salah satu kebijakan dalam menanggulangi masalah kependudukan di Indonesia adalah dengan memberikan pengetahuandan pengetahuan tentang kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) secara bertahap agar sikap penerimaan keluarga beras akan dapat diubah lalu dihayati menjadi sikap keluarga kecil menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) (Mochtar, 1998). Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa manfaat KB bagi keluarga sangat besar terutama bagi ibu. Selain itu, KB dan kontrasepsi juga menjamin bahwa bayi akan mendapat nutrisi yang cukup untuk waktu tertentu dengan cara mencegah kehamilan yang terlampau dini setelah melahirkan. Hal ini sangat penting karena ASI merupakan sumber nutrisi dan imunisasi yang paling baik untuk bayi yang sedang tumbuh berkembang dan laktasi juga dapat menunda ferilitas post partum (Hartanto, 2003)
1

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penyuluhan tentang keluarga berencana pada ibu menyusui.

1.2 Tujuan a. Tujuan Umum Setelah akhir pembelajaran para peserta mampu memahami hal-hal yang berkaitan dengan kb yang aman untuk ibu menyusui dan bersedia untuk melakukannya b. Tujuan Khusus Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 20 menit para peserta mampu : 1. Menjelaskan tentang menyusui 2. Menjelaskan manfaat KB yang aman untuk ibu menyusui 3. Menjelaskan cara kerja KB yang aman untuk ibu menyusui 4. Menjelaskan Efeksamping KB yang aman untuk ibu menyusui 5. Menjelaskan keuntungan dan kerugian KB yang aman untuk ibu menyusui jenis-jenis metode kontrasepsi yang aman untuk ibu

1.3 Sasaran Ibu-ibu yang telah didata dan dikunjungi di desa Janegara yang sedang menyusui : Disuatu desa diadakan penyuluhan KB yang bertempat di desa JANEGARA di kegiatan tersebut dihadiri oleh ibu ibu setempat diantaranya: 1. Fina mentari fatimah sebagai Bidan 2. Harni riyani sebagai ibu menyusui dengan bayi berumur 6 bulan

3. Luthfia shofa a s sebagai ibu menyusui dengan bayi berumur 1 tahun 4. Rizky amalia sebagai ibu menyusui dengan bayi berumur 2 bulan 5. Yustika aulia fani sebagai ibu menyusui dan wanita karir dengan bayi berumur 4 bulan.

1.4 Target Ibu ibu menyusui

1.5 Strategi Pelaksanaan


2

Waktu Pukul, Tempat

: tanggal, 2 mei 2013 :10.00 s/d selesai : di desa Janegara

1.6 Metode 1. Ceramah tentang KB 2. Diskusi dan tanya jawab

1.7 Media Presentai, leaflet, lembar balik, contoh alat kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui.

1.8 Materi Terlampir

1.9 Evaluasi Evaluasi dilakukan secara lisan dan para peserta dapat memahami penjelasan yang diberikan oleh bidan.

BAB II
3

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keluarga Berencana Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga. Pengertian program KB menurut UUD no 10 tahun 1991 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga Sejahtera adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Program Keluarga Berencana (KB) mempunyai banyak keuntungan. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium. Bahkan dengan perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya menurunkan angka kematian maternal. Ini berarti program tersebut dapat memberikan keuntungan ekonomi dan kesehatan. Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr Sugiri Syarif, Keluarga Berencana memberikan keuntungan ekonomi pada pasangan suami istri, keluarga dan masyarakat, Perencanaan ini harus dimiliki oleh setiap keluarga termasuk calon pengantin. Dan setiap individu harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi seperti misalnya kapan usia ideal untuk melahirkan, berapa jumlah anak, dan jarak kelahiran yang ideal, bagaimana perawatan kehamilan, serta tanda-tanda bahaya dalam kehamilan. Pengetahuan mengurangi risiko langsung maupun tidak langsung dari risiko kematian maternal. Selain pengetahuan, tambahnya, pasangan suami istri harus memiliki akses seluasluasnya terhadap pelayanan kontrasepsi yang berkualitas. Sehingga mudah merencanakan kehamilan seperti yang diinginkan dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Dengan demikian, program KB menjadi salah satu program pokok dalam meningkatkan status kesehatan dan kelangsungan hidup ibu, bayi, dan anak.

Pengaturan kelahiran memiliki benefit (keuntungan) kesehatan yang nyata, salah satu contoh pil kontrasepsi dapat mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium, penggunaan kondom dapat mencegah penularan penyakit menular seksual, seperti HIV. Meskipun penggunaan alat/obat kontrasepsi mempunyai efek samping dan risiko yang kadang-kadang merugikan kesehatan, namun demikian benefit penggunaan alat/ obat kontrasepsi tersebut akan lebih besar dibanding tidak menggunakan kontrasepsi yang memberikan risiko kesakitan dan kematian maternal. Program KB menentukan kualitas keluarga, karena program ini dapat menyelamatkan kehidupan perempuan serta meningkatkan status kesehatan ibu terutama dalam mencegah kehamilan tak diinginkan, menjarangkan jarak kelahiran mengurangi risiko kematian bayi. Selain memberi keuntungan ekonomi pada pasangan suami istri, keluarga dan masyarakat, KB juga membantu remaja mangambil keputusan untuk memilih kehidupan yang lebih baik dengan merencanakan proses reproduksinya. Program KB, bisa meningkatkan pria untuk ikut bertanggung jawab dalam kesehatan reproduksi mereka dan keluarganya. Ini merupakan keuntungan seseorang mengikuti program KB. Kendala pelaksanaan program KB-KR (Keluarga Berencana -Kesehatan Reproduksi), antara lain masih adanya pemahaman tentang KB yang sempit, baik di kalangan masyarakat maupun para tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Demikian pula pelayanan kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan IUD yang masih dianggap tabu karena harus membuka aurat. Selain itu, masih ada persepsi bahwa kematian ibu melahirkan adalah mati sahid dan banyak anak akan membawa rezeki. Kendala lainnya, masih adanya anggapan atau pengetahuan dari para tokoh agama bahwa KB hanya untuk membatasi jumlah anak atau kelahiran saja, dan belum memahami manfaat KB dalam kesehatan.

2.2 Tujuan Keluarga Berencana (KB) Tujuan keluarga berencana di Indonesia adalah: a. Tujuan umum Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak dalam rangka mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya

pertambahan penduduk.

b. Tujuan khusus 1) Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi. 2) Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi. 3) Meningkatnya kesehatan keluarga berencana dengan cara penjarangan kelahiran 4. Program Keluarga Berencana di Indonesia

2.3 Manfaat Keluarga Berencana 1. Memungkinkan wanita untuk mengontrol kesuburan mereka sehingga dapat memutuskan bila dan kapan mereka ingin hamil dan memiliki anak. Wanita dapat mengambil jeda kehamilan selama sedikitnya dua tahun setelah melahirkan, yang memberikan banyak manfaat bagi perempuan dan bayi mereka. 2. Wanita yang hamil segera setelah melahirkan berisiko memiliki kehamilan yang buruk. Mereka lebih mungkin menderita kondisi medis yang serius atau meninggal selama kehamilan. Bayi mereka juga lebih cenderung memiliki masalah kesehatan (misalnya lahir dengan berat badan rendah). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa secara global, 100.000 kematian ibu dapat dicegah setiap tahun, jika semua wanita yang tidak ingin anak lagi mampu menghindari kehamilan. Kematian ini terjadi sebagian besar di negara berkembang di mana cakupan kontrasepsi rendah. 3. Wanita lebih dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, mencari pekerjaan dan meraih pendidikan ketika mereka menggunakan alat kontrasepsi dan tidak berisiko hamil. Karena kegiatan ini umumnya meningkatkan status perempuan dalam masyarakat, kontrasepsi secara tidak langsung mempromosikan hak-hak dan status perempuan. 4. Memberikan manfaat kesehatan non-reproduksi. Metode kontrasepsi hormonal gabungan (yaitu estrogen dan progesteron) dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrium. Injeksi progesteron juga melindungi terhadap kanker ini dan juga terhadap fibroid rahim. Kontrasepsi implan dan sterilisasi wanita telah terbukti mengurangi risiko penyakit radang panggul. 5. Mencegah efek kesehatan jiwa dari kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi aborsi. 6. Kemampuan untuk mengontrol kesuburan juga memungkinkan wanita untuk lebih mengontrol aspek lain dari kehidupan mereka, misalnya memutuskan kapan dan mengapa mereka menikah. Sejak kontrasepsi tersedia secara luas pada 1970-an, pola perkawinan telah berubah. Wanita sekarang menikah dan memiliki anak di usia yang
6

lebih matang dan rata-rata memiliki anak lebih sedikit. Perubahan demografis cenderung telah mengurangi beban emosional dan ekonomi untuk membesarkan anak, karena keluarga sekarang biasanya memiliki lebih banyak waktu untuk mengumpulkan sumber daya keuangan sebelum kelahiran anak. Ukuran keluarga yang lebih kecil juga berarti bahwa orang tua memiliki lebih banyak waktu dan sumber daya yang diberikan per anak.

2.4 Metode kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui Manfaat menyusui ASI Kita semua mengetahui betapa bermanfaatnya ASI untuk bayi, apa saja kelebihan ASI ? 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nutrisi lengkap Sumber nutrisi yang aman dan mudah didapat Bukan alergen Mengandung antibodi Menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium Efek kontraseptif (ASI ekslusif) Ekonomis

Metode Amenore Laktasi (MAL) Apa yang disebut MAL ? Pada wanita menyusui yang mengalami amenore (tidak haid) yang menyusui eksklusif dengan interval regular, teratur, termasuk malam hari (pada beberapa kasus, pada malam hari ASI diganti dengan susu formula dalam botol dot, karena ada beberapa wanita yang malas menyusui jika malam, dengan berbagai alasan, lelah, ngantuk, bayi rewel). Nah pemberian ASI eksklusif ini yang berjalan dalam 6 bulan pertama setelah melahirkan, tanpa suplemen susu formula tambahan, merupakan suatu proteksi kontrasepsi yang sama dengan yang dihasilkan oleh kontrasepsi oral (efektifitasnya mencapai 98%). Inilah yang disebut Metode Amenore Laktasi (MAL). Menyusui efektif ini untuk mencegah ovulasi, terjadinya pematangan sel telur dan pengeluarannya, yang akan memungkinkan terjadinya pembuahan oleh sperma. Setelah terjadi menstruasi atau diatas 6 bulan namun belum menstruasi, kemungkinan terjadinya ovulasi akan meningkat. Dengan Asi eksklusif atau mendekati eksklusif, sebanyak 70% wanita mengalami amenore sampai 6 bulan, dan hanya 37 % yang mengalami sampai 1 tahun.
7

Menyusui eksklusif pada wanita sering mengakibatkan perdarahan bercak (spotting) pada 8 minggu pertama postpartum, tapi perdarahan ini bukan ovulasi. Pemberian makana/susu formula tambahan akan meningkatkan terjadinya

ovulasi, karena frekuensi menyusui akan berkurang, untuk itu diperlukan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Ovulasi terjadi sebelum 6 minggu postpartum pada sebagian besar wanita yang tidak menyusui eksklusif. Mengapa harus menyusui? Pemberian terbaik dari Ibu kepada bayi yang memulai kehidupannya 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Cost effective Selalu tersedia setiap saat Kenyamanan Dapat diberikan dengan posisi yg ibu kehendaki Mendekatkan ibu kepada bayinya Kemudahan Mudah untuk dibawa kemanapun Bayi yang menyusui dengan ASI lebih tahan terhadap infeksi

Kontrasepsi Ideal Ibu Menyusui Yang harus diperhatikan pada pemilihan kontrasepsi pada masa laktasi ini sebaiknya tidak mempengaruhi: 1. Kualitas dan produksi ASI 2. Pertumbuhan bayi tidak terganggu 3. Mudah dipergunakan 4. Efek samping minimal/negatif 5. Efektif 6. Murah 7. Fertilitas kembali cepat ( mudah hamil kembali saat kontrasepsi dilepas) Metoda Kontrasepsi pada masa laktasi ini ada beberapa macam, antara lain : 1. Metoda Barrier : Kondom, Diaphragma, Femidom, Kap serviks

2. Metoda hormonal Oral: POP (Progestin only pil) Injeksi : DMPA (depo provera, depo progestin) Implan(susuk KB) LNG-IUS (IUD/Spiral dengan kandungan hormon Levonorgestrel, di Indonesia dikenal Mirena) 3. IUD (spiral) 4. KONTAP (kontrasepsi mantap/steril/tubektomi) Bagaimana progesteron bekerja? Bagaimana progesteron bekerja, merupakan suatu kondisi yang akan menguntungkan dengan tidak terjadinya ovulasi maupun tidak terjadinya pembuahan, dengan tidak mengurangi produksi ASI 1. Mengentalkan mukus serviks 2. Menghambat penetrasi sperma 3. Membuat endometrium tidak siap untuk menerima nidasi, karena endometrium biasanya menjadi tipis Pil Progestin only (POP) Pemberian pil kontrasepsi yang hanya berisi progestin tidak mempengaruhi produksi ASI, beberapa juga penelitian menyebutkan tidak mempengaruhi kualitas nutrisi yang terkandung pada ASI maupun kuantitas ASI tersebut. 1. Cocok untuk ibu menyusui yang ingin memakai pil KB 2. Sangat efektif pada masa laktasi 3. Dosis rendah 4. Tidak menurunkan produksi ASI 5. Tidak memberikan efek samping seperti estrogen 6. Kesuburan dapat kembali dengan cepat setelah pil progestin ini dihentikan 7. Efek samping yang mungkin terjadi adalah - gangguan perdarahan - perdarahan bercak - perdarahan tidak teratur

Indikasi penggunaan POP Pemakaian pil kontrasepsi yang berisi hanya progestin saja (POP), tidak hanya diperuntukkan untuk wanita yang menyusui. Pada beberapa kondisi tertentu, juga dapat menggunakan POP ini, nah, mari kita lihat siapa saja sih yang dapat menggunakan POP ini 1. 2. 3. Wanita menyusui yang ingin berKB Kontraindikasi atau berisiko menggunakan pil kontrasepsi kombinasi Berisiko menderita penyakit venous/arterial dengan menggunakan pil kontrasepsi kombinasi 4. 5. 6. Wanita yang memilih menggunakan metode ini Perokok Pasca keguguran

Kapan kita bisa mulai menggunakan POP ini ? Pil progestin only ini ada beberapa yang sudah kita kenal, diantaranya exluton dan microlut. Jika Exluton mengandung 0,5 mg lynestrenol, microlut mengandung 0,03 mg norgestrel. Referensi yang saya miliki kebetulan berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap microlut 1. Bila menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, Microlut dapat dimulai setiap saat 2. Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan akseptor telah mendapat haid, Microlut dapat dimulai pada hari 1 5 siklus haid 3. Bila kontrasepsi sebelumnya yang digunakan adalah AKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon), Microlut dapat diberikan pada hari 1 5 siklus haid. Tentunya setelah dilakukan pengangkatan AKDR. 4. 5. 6. Microlut dapat diberikan segera pasca keguguran Microlut diminum pada hari pertama haid pada jam yang sama setiap harinya Bila akseptor sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin menggantikannya dengan Microlut, dapat segera diberikan, tidak perlu menunggu sampai datangnya haid berikutnya 7. Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, Microlut diberikan pada jadwal suntikan yang berikutnya
10

Catatan khusus Ada beberapa kondisi khusus yang harus kita ketahui juga 1. Bila akseptor muntah/diare dalam waktu 3-4 jam setelah minum tablet, gunakan metode barier selama 7 hari 2. Bila akseptor menggunakan pil terlambat lebih dari 3 jam, minumlah pil tersebut begitu akseptor ingat, dan gunakan metode barier selama 7 hari 3. Jika lupa 1-2 tablet dan tidak mendapatkan haid dalam 45 hari ke depan,hentikan Microlut dan gunakan metode kontrasepsi alami sampai benar-benar dibuktikan tidak hamil 4. Walaupun akseptor belum haid, mulailah paket baru sehari setelah paket terakhir habis Terjadinya perubahan pola haid merupakan hal yang sering ditemukan selama menggunakan Microlut, terutama pada 2 atau 3 bulan pertama

Perubahaan pola haid umumnya bersifat sementara dan tidak sampai mengganggu kesehatan Kontraindikasi Apakah setiap wanita boleh mengunakan pil progestin ini ? tentu saja ada beberapa wanita yang tidak dianjurkan untuk menggunakan pil ini. Siapa saja kah ? dan dalam kondisi apa ? 1. Hamil atau diduga hamil 2. Perdarahan per vaginam yang belum jelas penyebabnya 3. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid 4. Menggunakan obat tuberkulosis (rifampisin), atau obat untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturat) 5. Kanker payudara atau riwayat kanker payudara 6. Mioma uterus 7. Riwayat stroke

11

BAB III PENUTUP

1.1 Kesimpulan Metoda Kontrasepsi pada masa laktasi ini ada beberapa macam, antara lain : Metoda Barrier : Kondom, Diaphragma, Femidom, Kap serviks Metoda hormonal Oral: POP (Progestin only pil) Injeksi : DMPA (depo provera, depo progestin) Implan(susuk KB) LNG-IUS (IUD/Spiral dengan kandungan hormon Levonorgestrel, di Indonesia dikenal Mirena) IUD (spiral) KONTAP (kontrasepsi mantap/steril/tubektomi) Metode Amenore Laktasi (MAL)

1.2 Saran Pada pemilihan alat kontrasepsi untuk ibu menyusui yang belum ingin hamil lagi, tentu membutuhkan kontrasepsi yang aman, tidak mengganggu proses menyusui, juga tidak mengurangi produksi ASI bidan harus lebih aktif dalam melaksanakan tugasnya dalam melaksanakan pelayanan kebidanan sesuai dengan ruang lingkup sasaran KB. Bukan sekedar pengubahan gaya hidup saja,namun berkaitan dengan pengubahan lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung dalam membuat keputusan yang sehat.

12

Foto kegiatan penyuluhan KB

13