Anda di halaman 1dari 10

HORMON DAN REGULATOR PERTUMBUHAN PADA TANAMAN FITHRIA DINIYATI 1110423034 Abstrak Tujuan pratikum agar dapat melihat

pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar, melihat bahwa sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam perlambatan proses senescence, serta melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji.Praktikum ini dilaksanakan dilaboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi Universitas Andalas.hasil yang didapatkan pada percobaan kali adalah Hormon auksin memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kecambah pada hari ke 5 sudah lebih dari 75 % biji sudah berkecambah dan daun yang diberi sitokinin tetap hijau sampai hari terkahir pengamatan.kesimpulannya hormon yang diberikan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Kata kunci : Hormon, zpt dan sitokinin 1. PENDAHULUAN Sebagaimana yang kita ketahui, konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proses lain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan (Salisbury and Ross, 1995). Santosa (2011) menyatakan bahwa hormon pertumbuhan akan mempengaruhi satu sama lainnya, dimana hubungannya dengan perubahan selsel dari bentuk-bentuk unit yang bebas menjadi bagian organisme yang menyatu. Dengan adanya hormon itu, hormon terbagi atas tiga salah satunya adalah auksin, yang mempercepat perkembangan tumbuhan dengan adanya rangsangan dari perbesaran sel-sel tumbuhan yang akan mempercepat pertumbuhan. Menurut Prawinata (1981), hingga saat ini hanya ada lima kelompok hormon yang dikenal, walaupun masih banyak lagi yang dapat dipastikan akan ditemukan. Kelima kelompok hormon yang sudah dikenal itu meliputi empat macam auksin, berbagai macam giberelin, beberapa sitokinin, asam absisat dan etilen. Dalam membahas tentang hormon-hormon ini, selalu dikaitkan dengan efek-efeknya terhadp fisiologi tumbuhan. Semakin banyak diketahui tentang hubungan pertumbuhan dan perkembangan, kedua proses tersebut menjadi semakin rumit. Walaupun pembahasan tentng hormon dan zat pengatur tumbuhan ini menjadi rumit, tetapi perlu diketahui bahwa keberadaan hormonhormon tersebut perlu diperhitungkan dalam upaya mamahami pertumbuhan serta perkembangan dari tanaman. Auxin merupakan salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu tanaman. Hasil penemuan Kogl dan Konstermans dan Thymann mengemukakan bahwa Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin. Indoleacetaldehyde diidentifikasikan sebagai bahan auxin yang aktif dalam tanaman, selanjutnya ia mengemukakan bahwa zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah menjadi IAA. Perubahan tersebut adalah perubahan dari Trypthopan menjadi IAA. Tryptamine sebagai salah satu zat organik, merupakan salah satu

zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Dalam hal ini perlu dikemukakan dalam tanaman fanili Cruciferae dan merupakan zat yang dapat dikelompokan ke dalam auxin. Zat tersebut atas bantuan enzym nitrilase dapat membentuk auxin. Ahli lainnya (Cmelin dan Virtanen) menerangkan bahwa Indoleacetonitrile yang terdapat pada tanaman, terbentuk dari Glucobrassicin atas aktivitas enzym Myrosinase. Dan zat organik lain (Indoleethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosin. Thesis IAA adalah atas bantua bakteri (Santosa, 2011). Sedangkan menurut Loveless (1991), auksin sintetik seperti NAA, 2,4-D, dan MCPA berbeda sifatnya dengan auksin alami. Zat-zat ini akan sangat beracun jika kelebihan sedikit saja dalam penggunaannya, sehingga memungkinkan digunakan sebagai pemberantas hama/gulma. Seperti 2,4-D yang digunakan sebagai pemberantas gulma jenis yang berdaun lebar. Noggle (1979) menyatakan bahwa dibandingkan IAA, 2,4D secara fisiologi lebih aktif dan lebih tahan lama didalam jaringan tumbuhan serta harganya lebih murah. Sejumlah uji biologis untuk auksin dilakukan berdasarkan pengaruhnya terhadap penghambatan perpanjangan akar. Oleh karena pertumbuhan akar sangat peka terhadap auksin, maka pengujian dengan akar juga merupakan cara yang peka, dibandingkan bahan kimia lainnya (senyawa arsenin, minyak dll). Penggunaan auksin (2,4D) sebagai herbisida lebih menguntungkan karena alasan alasan berikut: pertama karena efek herbisida auksin bersifat selektif. Dua karena residunya cepat hilang (hanya dalam beberapa minggu). Tiga karena kosentrasi yang digunakan lebih rendah. Empat karena pada kosentrasi yang digunakan, auksin (2,4D) tidak toksik terhadap hewan dan manusia. Menurut Kramer (1980), hormon pertumbuhan auksin, giberalin dan sitokonin yang jika terdapat dalam kosentrasi tinggi dalam jaringan meristem menimbulkan dugaan bahwa zat-zat ini terbantuk dalam daerah daerah tersebut. Kemungkinan juga bahwa kosentrasi yang tinggi itu dipertahankan tidak hanya dengan proses sintesa tetapi juga dengan transpor dari satu bagian ke bagian lain dari tumbuhan atau dengan mekanisme degradasi dan inativasi secara aktif. Penelitian terbaik tentang sintesa, transpor dan perombakan zat zat tumbuh adalah tenatang IAA. Pada kecambah monokotil, kosentrasi IAA tertinggi terdapat pada ujung akar. Hali ini dianggap menunjukkan bahwa IAA terbentuk ujung ujung tersebut dan diangkut kebagian kecambah lain. Selama pengangkutan tersebut IAA digunakan dalam reaksireaksi tumbuh menjadi tidak stabil karena membentuk komplek dengan molekul-molekul organik lainnya, atau dirombak lagi oleh kegiatan enzim. Menurut Salisburry and Ross (1995), ilmuwan Jepang (Eiichi Kurosawa) pada tahun 1926 mengemukan bahwa cendawan Gibberella fujikuroi mengeluarkan senyawa kimia yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Senyawa kimia tersebut dinamakan Giberelin. Disintesis pada ujung batang dan akar, giberelin menghasilkan pengaruh yang cukup luas. Salah satu efek utamanya adalah mendorong pemanjangan batang dan daun. Pengaruh GA umumnya meningkatkan kerja auksin, walaupun mekanisme interaksi kedua ZPT tersebut belum diketahui secara pasti. Demikian juga jika dikombinasikan dengan auksin, giberelin akan mempengaruhi perkembangan buah misalnya menyebabkan tanaman apel, anggur, dan terong menghasilkan buah walaupun tanpa fertilisasi. Diketahui giberelin digunakan secara luas untuk menghasilkan buah anggur tanpa biji pada varietas Thompson. Netty (2008) menyatakan bahwa jumlah giberelin yang ditemukan saat ini yaitu 80 jenis dan dikenal sebagai GA1, GA2 dan GA3 serta seterusnya. Distribusi sintesa giberelin pada tanaman yaitu dapat ditemukan pada seluruh bagian tanaman terutaman/terbanyak pada biji yang sedang berkecambah

seperti embrio axis, kotiledon dan kulit biji. Bahan baku dari giberelin adalah asetil CoA dan jalur mevalonat. GA 12 merupakan senyawa perantara untuk menghasilkan sejumlah giberelin lainya. Dan beberapa senyawa yang memiliki aktivitas mirip giberelin yaitu 1) Helminthrosporal, walau tidak memeiliki gibban ring, senyawa ini aktif pada aleuron dari barley yang dapat meningkatkan pertumbuhan batang dan mengatasi kekerdilan dari kecambah jagung; 2) Phaseolic Aciddapat mensintesa enzim alpha amylase; 3) Ecdyson, merupakan hormone steroid dari insect yang mengontrol moulting; 4) Steviol, memiliki kemampuan untuk mengkonversi giberellin pada tanaman. Penelitian pertumbuhan pith tissue culture dengan menggunakan cytokinin dan auxin dalam berbagai perbandingan telah dilakukan. Hasil yang didapat adalah apabila dalam perbandingan cytokinin lebih besar dari auxin, maka hal ini akan memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Sebaliknya apabila cytokinin lebih rendah dari auxin, maka ini akan mengakibatkan stimulasi pada pertumbuhan akar. Sedangkan apabila perbandingan cytokinin dan auxin berimbang, maka pertumbuhan tunas, daun dan akar akan berimbang pula. Tetapi apabila konsentrasi cytokinin itu sedang dan konsentrasi auxin rendah, maka keadaan pertumbuhan tobacco pith culture tersebut akan berbentuk callus. Sedangkan dalam pembelahan sel, dikemukakan bahwa IAA dan kinetin, apabila digunakan secara tersendiri akan menstimulasi sintesis DNA dalam tobacco pith culture. Dan menurut ahli tsb, kehadiran IAA dan kinetin ini diperlukan dalam proses mitosis walaupun IAA lebih dominan pada fase tersebut (Santosa, 2011). Suatu penelitian dilakukan dengan menggunakan buah jeruk dan anggur yang diperam di dalam gudang yang dilengkapi dengan kompor minyak tanah. Semula petani buah mengira bahwa hawa panas itu yang mematangkan buah, tetapi dugaan tersebut tidak terbukti ketika mereka mencoba metode baru menggunakan kompor yang dilengkapi dengan pembersih (tanpa polusi) yang menghasilkan buah-buah yang tidak cepat matang. Ahli biologi tumbuhan menduga bahwa pematangan buah yang disimpan di dalam gudang tersebut sebenarnya berkaitan dengan produksi etilen yaitu gas hasil pembakaran minyak tanah (Dwijseputro, 1985). Menurut Santosa (2011), ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auxin, Gibberellin, dan Cytokinin. Penelitian terhadap ethylene, pertama kali dilakukan oleh Neljubow dan Kriedermann, hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada akar tanaman. Hasil penelitian Zimmerman menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun. Namun menurut Rodriquez zat tersebut dapat mendukung proses pembungaan pada tanaman nanas. Penelitian lain telah membuktikan tentang adanya kerja sama antara auxin dan ethylene dalam pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara mengaplikasikan auxin pada jaringan setelah ethylene berperan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran auxin dapat menstimulasi produksi ethylene. Bila hormon tumbuhan terdapat dalam konsentrasi sangat kecil untuk aktif dan spesifik sangat kecil, harus ada 3 bagian utama dalam sistem respon tumbuhan : (1) hormon harus terdapat dalam jumlah yang cukup dalam sel yang cocok, (2) homon harus dikenal dan terikat erat oleh sekelompok sel-sel yang respon terhadap hormon yang bersangkutan (sel target). Sekarang telah diketahui adanya protein pengikat hormon di dalam sel tumbuhan yang disebut protein reseptor, (3) protein reseptor (konfigurasinya di duga berubah saat mengikat hormon) harus menyebabkan perubahan metabolik lainnya yang memimpin ke arah amplikasi sinyal hormon (Burhan, 1997).

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar dapat melihat pengaruh 2,4-D dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar, melihat bahwa sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam perlambatan proses senescence, serta melihat pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji. 2. PELAKSANAAN PRATIKUM 2.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu, tanggal 27 Maret 2013, di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. 2.2 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang diguanakan pada praktikum ini adalah kertas merang, cawan petri, gunting, dan botol sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan 2,4-D 100 ppm, serta kinetin dengan kosentrasi 0,00; 0,001; 0,01; 0,1 dan 1 mg/L, aquadest dan larutan giberalin (GA3) dengan kosentrasi 0,01; 0,1; dan 1 mg/L. Dan biji mentimun. 2.3 Cara Kerja 2.3.1 Uji Biologis 2,4-D pada pertumbuhan akar Disediakan 5 botol Selembar kertas saring diletakan kedalam botol kemudian diambil 10 ml larutan 2,4-D dengan kosentrasi 0,01; 0,1; 1; 10 dan aquadest, diletakan biji mentimun 20 butir biji pada masing-masing botol dan disimpan di ruangan yang gelap. Pada akhir percobaan diukur panjang akar primer setiap kecambah dan dihitung panjang rata-rata pada masing-masing perlakian. Setelah semua data didapat dimasukan kedalam tabel dan dibuat grafiknya. 2.3.2 Sitokinin dan Senescence pada Daun Tanaman Disiapkan potongan daun tanaman Spilanthes agmela sebanyak 30 potong dan dimasukan kedalamlarutan kinetin dengan kosentrasi 0,1 dan 1 serta aquadest sebagai kontrol. Kemudian ditempatkan pada tempat yang gelap dan kemudian diamati warna pada daun setelah satu minggu perendaman baik kontrol maupun perlakuan dengan kinetin. 2.3.3 Peranan Giberalin (GA3) Dalam Perkecambahan Biji Tumbuhan Disediakan 100 biji tanaman dan disiapkan 4 botol yang sudah di lapisi dengan kertas merang setelah itu dimasukan larutan giberalin dengan kosentrasi 0,01; 0,1 dan 1 serta aquadest sebagai kontrol. Kemudian dimasukan biji tanaman pada masing-masing botol senayak 25 butir biji. Disimpan ditempat yang gelap dan dilakukan pengamatan setiap hari apakah biji tersebut berkecambah atau belum kemudian dialakukan penyiraman dengan urutan yang sama jika terjadi kekeringan. Dan terakhir dicatat waktu yang diperlukan untuk brkecambah dan dibandingkan hasilnya diantara masing-masing perlakuan. 2.4 Pengamatan Praktikum kali ini akan mengamati atau melihat pengaruh 2,4Dichlorophenoxyaceticacid dalam perkecambahan dan pertumbuhan akar, dimana menggunakan kecambah dari biji kacang hjiau (Phaseulus radiatus). Selain itu juga dilakukan pengamatan terhadap sitokinin yang merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam perlambatan proses senescence (proses penuaan) dari daun tumbuhan Morus alba dan pengamatan terhadap pengaruh giberelin terhadap perkecambahan biji.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Percobaan a Uji biologis 2,4- Diclorophenocyaceticacid pada pertumbuhan akar No Konsentrasi 2,4 -D 1 2 3 4 5 6 0,0 0,001 0,01 0,1 1,0 10 Jumlah yang berkecmbahhari ke-1 5 5 5 10 5 3 Jumlah yang berkecambahharike -5 10 10 10 10 10 11 Jumlah yang berkecmabhahari ke-7 17 17 18 Semuaberkecambah 18 17

Tabel 2. Percobaan b Sitokinin dan Senescence pada daun tanaman No 1 2 3 4 5 Konsentrasi 0,0 0,001 0,01 0,1 1,0 hari ke-1 Hijau Hijau Hijau Hijau Hijau harike -5 Hijau Hijau Hijau Agakcoklat Agakcoklat hari ke-7 Hijau Hijau Hijau Coklat Coklat

Tabel 3. Percobaan c Peranan Giberelin (GA3) dalam perkecambahan biji tumbuhan

No Konsentrasi 1 2 3 4 5 0,0 0,001 0,01 0,1 1,0

hari ke-1 2 2 2 2 2

harike -5 12 12 15 10 14

hari ke-7 20 18 17 18 20

3.2 Pembahasan

Dari tebel diatas maka dapat diketahui bahwa rata-rata pertumbuhan akar primer yang paling tinggi atau cepat adalah pada aquadest (air destilata). Senyawa 2,4Dichlorophenoxyaceticacid yang merupakan auxin sintetik secara fisiologi lebih aktif dan lebih tahan lama didalam jaringan tumbuhan. Sejumlah uji biologis untuk auksin dilakukan berdasarkan pengaruhnya terhadap penghambatan perpanjangan akar. Oleh karena pertumbuhan akar sangat peka terhadap auksin, maka pengujian dengan akar juga merupakan cara yang peka, dibandingkan bahan kimia lainnya (senyawa arsenin, minyak dll). Menurut Gadrner (1991), mekanisme kerja auksin dalam mempengaruhi pemanjangan sel-sel tanaman di atas dapat dijelaskan dengan hipotesis sebagai berikut: auksin menginisiasi pemanjangan sel dengan cara mempengaruhi

pengendoran /pelenturan dinding sel. Auksin memacu protein tertentu yang ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ ini mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis. Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuh dengan mensintesis kembali material sitoplasma dan dinding sel. Untuk selanjutnya pada tabel pengamatan kedua dapat diamati bahwa daun Spilanthes acmella memperlihatkan perubahan warna yang paling jelas pada kinetin dengan konsentrasi 1.0 mg/L dibandingkan dengan aquadest dan kinetin dengan konsentrasi 0.1 mg/L, dimana kinetin ini merupakan hormon pertumbuhan jenis sitokinin. Hasil ini sesuai dengan literatur, dimana Salisburry and Ross (1995) menyatakan bahwa ahli biologi tumbuhan juga menemukan bahwa sitokinin dapat meningkatkan pembelahan, pertumbuhan dan perkembangan kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun, bunga dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran yang menyebabkan kematian sel-sel tanaman. Penuaan pada daun melibatkan penguraian klorofil dan protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan meristem atau bagian lain dari tanaman yang membutuhkannya. Dengan kinetin maka bentuk pertumbuhan kecambah di daerah gelap batang dan daun kuning, ukuran panjang dan akar banyak cabang, kecambah sudah di atas sedangkan dengan aquadest batang dan daun kuning, ukuran lebih

pendek, akar tidak banyak, kecambah sudah berada diatas. Dwijoseputro (1985) menyatakan bahwa sitokinin merupakan ZPT yang mendorong pembelahan

(sitokinesis). Beberapa macam sitokinin merupakan sitokinin alami (misal : kinetin, zeatin) dan beberapa lainnya merupakan sitokinin sintetik. Sitokinin alami dihasilkan pada jaringan yang tumbuh aktif terutama pada akar, embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem menuju sel-sel target pada batang. Menurut Heddy (1986), pemberian sitokinin pada daun atau kotiledon yang teretiolasi, beberapa jam sebelum dipajankan pada cahaya menghasilkan dua efek utama, yaitu memacu perkembangan lanjut (dalam keadaan terang) etioplas menjadi kloroplas, khususnya mendorong pembentukkan grana, dan

meningkatkan laju pembentukkan klorofil. Alasan utama bagi munculnya kedua efek itu mungkin karena sitokinin mendorong terbentuknya protein, tempat klorofil menempel dan menjadi mantap. Diduga bahwa sitokinin endogen meningkatkan perkembangan kloroplas daun dengan cara serupa. Pada tabel pengamatan ketiga diketahui bahwa jumlah kecambah Cucumis sativus pada aquadest dan pembrian hormon tumbuh giberelin (GA3) dengan konsentrasi 0.1 mg/L hampir sama. Giberelin sebagai hormon tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh pada sifat genetik (genetic dwarfism), pembungaan, penyinaran, partenokarpi, mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan

(germination) dan aspek fisiologi kainnya. Gibereline mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel (cell elongation), aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein. Genetic dwarfism adalah suatu gejala kerdil yang disebabkan oleh adanya mutasi. Gejala ini terlihat dari memendeknya internodus. Terhadap genetic dwarfism ini, giberelin mampu merubah tanaman yang kerdil menjadi tinggi. Seperti auksin, giberelin pun berpengaruh terhadap partenokarpi. Hasil penelitian menunjukan bahwa gibberellic acid (GA3) lebih efektif dalam terjadinya partenokarpi dibanding dengan auksiin yang dilakukan pada blueberry (Bidwel, 1979).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Dari pecobaan yang telah dilaksanakan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Senyawa 2,4-D yang merupakan auxin sintetik dapat mempercepat

pembelahan sel pada embrio yang sedang berkembang. Semakin tinggi konsentrasi 2,4-D maka akan semakin banyak embrio yang tumbuh. 2. Sitokinin berperan dalam perlambatan proses Senescence (penuaan) pada daun. 3. Hormon giberelin sangat berpengaruh dalam perkecambahan biji tumbuhan, dimana larutan giberelin dengan konsentrasi 0.001 mg/L jumlah biji Cucumis sativus yang berkecambah adalah 19 biji.

4.2 Saran Dari praktikum yang dilaksanakan, disarankan kepada praktikan selanjutnya agar lebih serius dalam menjalani praktikum agar tujuan dari praktikum ini dapat terlaksana dengan baik dan praktikan dapat mengetahui dan memahami prosedur kerja sehingga dapat membuat laporan dengan baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA Bidwell. 1979. Plant Phisology 2nd Edition. Mac Millian Publishing: New York. Burhan, W. 1997. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Universitas Andalas: Padang. Dwijoseputro, D. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta. Gardner, F. P. R. Brent pearce dan Goger L. Mitchell. 1981. Fisiologi Tanaman Budidaya, Universitas Indonesia Press : Jakarta Heddy, S. 1986. Hormon Tumbuhan. Raja Grafindo Persedo. Jakarta Kramer. 1980. Plant and Soil Relationship, Mc Graw Hill Company. Mc New York. Loveless, A. R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 1. Gramedia: Jakarta. Netty, WS. 2008. Bahan Ajar Fisiology Tumbuhan. Unand. Padang. Noggle, G. R and Fritz, G.J. 1979. Introduction Plant Physiology. Prectice Hall of India Prawinata, dan Tjondronegoro. 1981. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan Jilid1. Institut Pertanian Bogor: Bogor. Salisbury, F. B and Cleon W, Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB : Bandung Santosa, S. 2011. Artikel ZPT. http://sugihsantosa.atspace.com. Diakses pada tanggal 01 Juni 2011.