Anda di halaman 1dari 13

PENDIDIKAN ANAK GIFTED

Disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Diferensial Dosen Pengampu: Selly Astriana, S.Psi., M.A

Disusun oleh: 1. Fatikha Sabrina S 2. Aprilia Rifresiani 3. Bellatrix Putri B 4. Duhita Laksmi H C G0110024 G0111004 G0111011 G0111022

5. Elan Akbar Lazuardi G0111023 6. Ervina Sarli O 7. Hesti Ratnafuri 8. Ika Nurngaini G0111031 G0111041 G0111043

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

A. PENGERTIAN ANAK GIFTED


Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children. Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang. Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron. Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas. Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.

B. CIRI-CIRI ANAK GIFTED


Anak-anak ini memiliki komitmen terhadap tugas yang sangat tinggi, mereka memiliki orientasi dan tanggung jawab yang jelas terhadap tugas yang diberikan. Cara lain yang dapat digunakan orang tua dalam mengidentifikasi anak gifted, yakni saat berusia antara 4 sampai 8 tahun.

Selain itu juga terdapat beberapa karakteristik tertentu yang dapat diamati saat anak berada di rumah (Smutny, 1999):

1. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal, 2. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan menggunakan kalimat lengkap saat berkomunikasi, 3. Memiliki sense of humor dan berpikir dengan cerdas, 4. Menyelesaikan masalah dengan cara yang unik atau tidak biasa, 5. Memiliki ingatan yang bagus, 6. Menunjukkan bakat yang menonjol dalam seni, musik atau drama, 7. Menunjukkan imajinasi yang orisinil, 8. Bekerja secara mandiri dan berinisiatif, 9. Memiliki minat dalam membaca, 10. Memiliki perhatian yang menetap atau keinginan yang menetap dalam tugas yang dikerjakan, 11. Merupakan anak yang dapat belajar dengan cepat,.

C. PERBEDAAN ANAK GIFTED DAN ANAK CERDAS


Anak gifted dan anak cerdas memiliki perbedaan antara lain : 1. Dari segi karakteristik, anak gifted memiliki kewaspadaan yang tinggi sehingga apabila kita mengambil sisi positifnya anak gifted akan cepat mengetahui masalah apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Namun hal negatifnya adalah anak gifted akan cenderung senang untuk mengoreksi orang lain. Selain itu ternyata anak gifted juga memiliki selera humor yang mana dari sisi positifnya mereka akan menertawakan diri mereka sendiri dan sisi negatifnya adalah mereka akan membuat lelucon yang justru mengorbankan orang lain 2. Anak cerdas pasti akan menjawab pertanyaan yang benar dan berminat akan sesuatu sedangkan anak gifted akan mempersoalkan suatu

pertanyaan dan memiliki rasa penasaran akan sesuatu

3. Anak cerdas memiliki gagasan yang bagus dan populer sementara anak gifted memiliki gagasan yang terkesan konyol, aneh, dan di luar keumuman. 4. Sebenarnya anak gifted bukan anak yang rajin belajar seperti anak cerdas tetapi anak gifted selalu mendapatkan nilai yang bagus. Bedanya adalah kalau anak cerdas biasanya menjawab soal sesuai yang ditanyakan sedangkan anak gifted lebih memperluas konteks jawaban. 5. Perbedaan lainnya, anak cerdas menyukai linearitas sementara

anak gifted menyukai kompleksitas. Anak cerdas adalah pemerhati yang baik sedangkan anak gifted adalah pengamat yang kritis. 6. Ada perbedaan pula dalam hal penguasaan materi, kalau anak cerdas membutuhkan 6-8 kali pengulangan sementara anak gifted hanya butuh 1-2 kali pengulangan. 7. Anak cerdas dapat memahami gagasan orang lain dengan baik sementara gifted membentuk gagasannya sendiri. 8. Saat anak cerdas menyelesaikan tugas yang diberikan, gifted lebih senang memulai proyeknya sendiri. 9. Senang bergaul dengan orang dewasa dibanding anak sebaya merupakan kesenangan anak gifted. 10. Tingkat kreativitas dan komitmen kerja anak gifted pun luar biasa. Dengan perkembangan motorik yang melebihi anak

biasa, gifted memiliki daya serap yang tinggi juga daya lontar yang tinggi.

D. MASALAH YANG DIHADAPI ANAK GIFTED


Kondisi atau keadaan yang dialami oleh anak gifted ini merupakan suatu keadaan yang membanggakan dan diidamkan bagi para orang tua. Namun hanya sebagian kecil orang tua yang mampu memahi potensi tersebut. Dalam banyak kasus justru muncul kendala yang dihadapi oleh anak gifted, yakni berupa permasalahan:

1.

Anak gifted biasanya memiliki problem dalam membina hubungan dengan teman. Karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan berpikir yang bagus, sehingga tidak jarang teman sebayanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengimbangi pembicaraan dengan anak ini

2.

Kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, karena mereka cenderung mandiri dan sulit untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ada

3.

Mereka memiliki standart yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, sehingga terkadang tidak disukai teman-temannya. Dari permasalahan sosial yang telah dijelaskan, secara tidak langsung pasti

akan berpengaruh terhadap

perkembangan emosinya. Anak akan merasa

ditolak oleh lingkungannya, sulit bergaul dan kemudian menarik diri, bahkan frustasi dengan keadaan yang mereka alami. Karena ada perbedaan yang cukup jauh antara keadaan di sekeliling dengan kemampuannya yang jauh lebih tinggi dibanding anak lain seusianya.Sementara itu memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena: 1. Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children). 2. Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa. 3. Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi

pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi. 4. Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepat selesai. 5. Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan

pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ekstra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi. 6. Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus. Maka, identifikasi lebih awal terhadap anak gifted sangat disarankan karena anak-anak ini memerlukan penanganan atau intervensi sedini mungkin, agar tidak menghambat perkembangannya terutama dalam aspek sosial dan emosi. Orangtua diharapkan mengkomunikasikan hal ini dengan guru sekolahnya, atau dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar pendidikan atau psikolog. Orang tua dituntut dalam rangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah, guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok.

E. PENDIDIKAN ANAK GIFTED

1.

Belanda Pendidikan sekolah dasar di Belanda menganut dua sistem, yaitu sekolah regular dan sekolah khusus (SLB). Sekolah reguler Belanda menganut sistem pendidikan dengan pendekatan adaptif, yaitu

memberikan perhatian pada keunikan setiap anak dan tawaran pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan anak. Dengan demikian ia melayani pendidikan inklusi, yaitu menerima anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak-anak normal lainnya. Kebutuhan khusus yang diterima SD reguler ini adalah: ADHD, Autisme, spectrum disorder, Gifted, dan Disleksia. Sekalipun keempat bentuk special needs itu sudah ada UU nya bahwa ia boleh masuk dalam sekolah reguler, pihak sekolah juga masih menerima anak-anak Down Syndrom, cacat primer seperti tuli (yang sudah terlatih dengan alat bantu dengar) dan gangguan penglihatan. Juga anak-anak dengan inteligensia borderline. Mereka yang berkebutuhan khusus akan mendapatkan metode pendidikan khusus dan layanan kebutuhan pembelajaran khusus. Misalnya yang disleksia akan mendapatkan remedial teaching, kompensasi waktu (lebih lama) dan fasilitas lain seperti pita rekaman saat harus membaca, reading pen, dan komputer. Bagi yang mengalami gangguan motorik halus tidak bisa menulis dengan baik, maka ia boleh menggunakan komputer. Bagi anak yang mengalami gangguan cacat primer seperti gangguan pendengaran dan penglihatan, juga diberi kemudahan fasilitas. Untuk anak-anak gifted juga dilayani giftednessnya dengan memberikan pengkayaan, percepatan, dan pendalaman. Semua anak dalam sekolah reguler ini haruslah mempunyai inteligensia normal ke atas. Pendekatan pendidikan yang diutamakan adalah pendekatan keharmonisan tumbuh kembang. Karena itu untuk anak-anak gifted lebih diutamakan masuk ke sekolah reguler bukan sekolah khusus anak gifted. Kelak saat di sekolah lanjutan anak-anak ini

akan masuk ke dalam sekolah khusus. Walaupun begitu ada tiga bentuk sekolah untuk anak-anak gifted ini di tingkatan sekolah lanjutan. a. Model sekolah yang menempatkan anak-anak gifted bersama anakanak lain hingga dua tahun lamanya (dengan pendekatan inklusi), baru di tahun ke tiga ia dipisahkan masuk sekolah khusus (gymansium & athenium). Bentuk sekolah bersama-sama sampai dua tahun disebut brugklas (kelas jembatan). b. Model sekolah yang langsung dari sekolah dasar masuk ke sekolah khusus gifted, disebut gymnasium dan athenium. (Gymnasium menekankan pada bahasa dan ilmu-ilmu sosial, athenium menekankan pada sains dan matematika). Atau kombinasi keduanya. c. Model sekolah khusus gifted extra. Bentuk ini adalah model baru yang tengah dikembangkan oleh pemerintah Belanda, dengan pendekatan teori multifactor dari Kurt Heller. Artinya ada delapan bidang ketrampilan yang perlu pengolahan. Mana yang terkuat dikembangkan, mana yang lemah dibantu agar bisa juga berkembang. Karena setiap anak dianggap mempunyai keunikan individu, maka dalam satu kelas dibuka sistem pendidikan yang sangat berdiferensiasi dalam materi. Untuk masuk kesini ditutut anak-anak dengan kecepatan pikir, kreativitas dan ketahanan yang tinggi. Pelajaran diberikan secara mandiri, individual, dan menggunakan pendekatan problem based learning. Problem based learning di Belanda dikenal sebagai pendidikan dengan pendekatan projek (project onderwijs). Kepada anak-anak ini diberi tugas yang harus dipecahkan melalui riset, kepustakaan, dan melaporkannya dalam bentuk makalah. Pokok bahasan, mereka boleh memilih sendiri mana yang menjadi minatannya. Jadi disini juga ditekankan pada konsep kebebasan, kemandirian, tetapi harus

bertanggung jawab akan keberhasilan tugas. Dengan begitu dituntut ketahanan kerja yang tinggi. Secara teoritis pendekatan model seperti ini (no 3) adalah pendekatan yang paling ideal untuk seorang anak gifted yang memang selalu mendahulukan berpikir secara konsep. Ia bisa langsung menyalurkan pemikiran-pemikirannya.

2.

Amerika Serikat Di Amerika Serikat, layanan pendidikan khusus bagi anak-anak berbakat

diberikan melalui gifted education program. Prosedur untuk memasukkan anak ke program pendidikan anak berbakat ini pada umumnya mengikuti empat langkah dasar: (1) rujukan (referral), (2) asesmen, (3) seleksi, dan (4) penempatan. Rujukan didasarkan atas pertimbangan guru, nominasi orang tua, nilai raport, skor tes kelompok, atau gabungan hal-hal tersebut. Asesmen mencakup penetapan tingkat kemampuan anak yang dirujuk berdasarkan serangkaian tes, yang pada umumnya mencakup pengukuran inteligensi, tes prestasi, atau tes pemecahan masalah. Seleksi dilakukan hanya setelah anak diasesmen dan dinyatakan berpotensi memiliki keberbakatan dan tingkat kemampuannya sudah ditetapkan. Keputusan penempatan didasarkan atas informasi tersebut, kebutuhan anak, serta pilihan program yang tersedia. (Florey & Tafoya, 1988). Program khusus untuk pendidikan anak berbakat ini dibuat karena anakanak berbakat mempunyai kebutuhan pendidikan khusus. Anak-anak ini telah menguasai banyak konsep ketika mereka ditempatkan di satu kelas tertentu,

sehingga sebagian besar waktu sekolah mereka akan terbuang percuma. Mereka mempunyai kebutuhan yang sama dengan siswa-siswa lainnya, yaitu kesempatan yang konsisten untuk belajar bahan baru dan untuk

mengembangkan perilaku yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan dan perjuangan dalam belajar sesuatu yang baru. Akan sangat sulit bagi anakanak berbakat ini memenuhi kebutuhan tersebut bila mereka ditempatkan dalam kelas yang heterogen. (Winebrenner & Devlin, 1996). Terdapat tiga model layanan pendidikan bagi anak-anak berbakat, yaitu (1) model inklusi (inclusion model), dan (2) cluster grouping model (model pengelompokan terbatas) serta tracking system. a. Model Inklusi Dalam model layanan ini, anak-anak berbakat ditempatkan sekelas (inklusif) dengan anak-anak lain, termasuk anak-anak penyandang kebutuhan pendidikan khusus lainnya seperti anak berkesulitan belajar (learning disabled) dan anak cacat. Guru yang telah memperoleh pelatihan khusus dalam bidang keberbakatan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak berbakat ini agar kebutuhan pendidikan khususnya terpenuhi. Layanan khusus itu terutama berupa pemberian materi pengayaan. Dalam model ini, anak berbakat sering difungsikan sebagai tutor bagi anak-anak lain. (Winebrenner & Devlin, 1996). b. Tracking System Dalam tracking system, siswa-siswa diklasifikasikan berdasarkan kemampuannya, dan setiap klasifikasi ditempatkan dalam satu kelas yang sama. Jadi, anak-anak berbakat akan berada dalam kelas khusus siswa berbakat sepanjang masa sekolahnya. (Winebrenner & Devlin, 1996). c. Model Cluster Grouping Dalam model ini, anak-anak berbakat dari semua tingkatan kelas yang sama di satu sekolah (biasanya mereka yang termasuk 5% dari

siswa berprestasi tertinggi dalam populasi tingkatan kelasnya), dikelompokkan dalam satu kelas. Kelompok tersebut terdiri dari 5 sampai 8 siswa berbakat, dibimbing oleh seorang guru yang telah memperoleh pelatihan dalam mengajar anak-anak berkemampuan luar biasa. Jika terdapat lebih dari 8 anak berbakat, maka mereka dikelompokkan ke dalam dua atau tiga cluster group. Pada umumnya, satu cluster group itu belajar bersama-sama dengan anak-anak lain dari berbagai tingkat kemampuan, tetapi dalam bidang keluarbiasaannya (misalnya matematika), mereka belajar secara terpisah. (Winebrenner & Devlin, 1996). Model cluster grouping ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan apabila anak-anak berbakat itu didistribusikan secara merata di semua kelas. Pertama, anak berbakat itu memperoleh perhatian khusus untuk pengembangan bidang-bidang kemampuan luar biasanya, dan sekaligus juga tetap memperoleh keuntungan dari belajar bersama dengan anakanak dari berbagai tingkatan kemampuan lainnya. (Hoover, Sayler, & Feldhusen, 1993; Kulik & Kulik, 1990; Rogers, 1993). Kedua, Pengaturan waktu untuk mempersiapkan bahan-bahan khusus untuk anak berbakat akan lebih efisien bila anak-anak itu berada dalam satu kelompok. Ketiga, siswa-siswa berbakat akan dapat lebih memahami dan menerima kenyataan bahwa mereka mempunyai "kelainan" dalam belajarnya jika di dalam kelasnya ada anak lain yang seperti mereka. (Winebrenner & Devlin, 1996).

3.

Pendidikan untuk anak gifted di Indonesia Untuk tingkat SD dan SMP dapat dikembangkan: a. Belajar mandiri (independent study),

b. Kesempatan untuk belajar cepat dan melakukan tes lebih awal, sehingga waktunya bisa digunakan untuk mempelajari unit yang sama lebih mendalam dan materi lain yang diminati, c. Menerapkan proses berpikir tingkat yang lebih tinggi, d. Menghadirkan pembicara tamu, e. Menjadi mentor sebaya, f. Memberikan materi untuk tingkat yang lebih tinggi. Sementara itu untuk sekolah menengah dapat dikembangkan juga: a. Sumber-sumber materi untuk tingkat perguruan tinggi, b. Pendidikan karir berbasis masyarakat, c. Program pertukaran, dan d. The International Baccaloureate yang merupakan program standar internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2012. Mengupas Sisi Anak Gifted. Diunduh dari (http://mereka-luarbiasa.blogspot.com/2012/12/mengupas-sisi-anak-gifted.html) Jumat,1 Nopember 2013 pukul 20.08 WIB Admin. Tanpa Tahun. Problem Based Learning untuk Gifted Child?. Diunduh dari (http://kelas-inklusi.blogspot.com/) pada hari Jumat, 1 November 2013 pukul 20.15 WIB Tarsidi, Didi. 2013. Anak-Anak Berbakat dalam Pendidikan. pada hari

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/1957013119 86031-NIA_SUTISNA/AB/GIFTED.pdf diunduh tanggal 1 November 2013 pukul 19.30 WIB Wahab, Rochmat. 2013. Pengelolaan Pendidikan Anak Gifted di Indonesia. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Rochmat%20Wahab,%20 M.Pd.,MA.%20Dr.%20,%20Prof.%20/PENGELOLAAN%20PENDIDIKA N%20ANAK%20GIFTED%20DI%20INDONESIA.pdf diunduh tanggal 1 November 2013 pukul 20.00 WIB