Anda di halaman 1dari 5

Menyikapi Nikah Beda Negara (Posted Juli 24, 2009 by komunitasamam in berita ekbis. Ditandai:Majalah Anggun, Pernikahan.

7 Komentar Penulis Lukman Hakim Zuhdi)

Tidak sedikit orang yang membayangkan bahwa pernikahan beda negara atau menikah dengan orang asing adalah suatu hal yang sangat pelik. Pasalnya, berbagai persoalan kerap mengiringinya. Sebutlah dari mulai hubungan jarak jauh, ketidaksejutuan orang tua, tahap membina rumah tangga, pengasuhan anak dan tanggung jawab keluarga. Belum lagi perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup, dan pola pikir yang jelas sekali. Sepertinya akan lebih rumit lagi jika urusan nikah ini ditarik lebih jauh kemasalah imigrasi, perjanjian pranikah, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), tantangan dari negara (kebijakan, aturan hukum dan perundang-undangan), masyarakat maupun dari dalam keluarga sendiri. Yang jelas, bagi yang berminat menikah lintas negara, bersiaplah untuk memupuk kesabaran dan kesungguhan yang ekstra. Namun, bagi psikolog Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si (53), nikah beda negara tergolong gampang-gampang susah. Gampang jika para pelakunya bisa mempersepsikannya secara tepat dan sederhana. Sementara dapat dipandang rumit bila sejak awal orang yang menjalaninya tidak sepenuh hati atau benar-benar awam. Nikah beda negara sebetulnya nggak jauh beda dengan orang yang menikah antar suku, daerah atau provinsi. Coba lihat, tipologi masyarakat Indonesia bermacam-macam, kan. Ada Jawa, Sunda, Madura, Sumatera, Kalimantan, Aceh, Ambon, dan lainnya. Semuanya memiliki karakter, gaya dan tradisi sendiri-sendiri, yang belum tentu sama setiap daerah. Jadi, menurut saya, itu dikembalikan kepada individu-individu yang akan menjalaninya, cetus Fadhilah Suralaga. Fadhilah memberikan contoh kongkret. Dulu, adik perempuannya kuliah S2 di Amerika Serikat. Di negeri Presiden Barrack Obama, adiknya yang juga aktivis lingkungan hidup itu berkenalan dengan seorang pria asal Belanda. Keduanya lalu menjalin hubungan hingga berhasil kejenjang pelaminan. Setelah menikah, bule asli Negeri Kincir Angin itu dibawa ke Indonesia, diperkenalkan kepada keluarga besarnya. Ketika kami (keluarga) berinteraksi dengan adik ipar saya yang orang asing itu, semua baik baik saja. Dia sangat mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya di Indonesia. Malah terlihat enjoy. Mungkin karena pendidikannya sarjana, penghormatan dan rasa

toleransinya tinggi terhadap orang lain, sehingga saya lihat dia tidak canggung sedikit pun ketika berkomunikasi atau berinteraksi, tutur psikolog yang mengajar di Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengalaman yang dirasakan Riyanti Kutty Nurinda Nusrtdinova (27) hampir serupa. Lulusan Master of International Relation di salah satu universitas ternama di Rusia itu menikah dengan Fidanis Fazilyanovich Nusrtdinov (29). Nurinda tidak terlalu menemui kendala serius saat hidup satu atap bersama suaminya yang asli orang Rusia yang berasal dari suku Tatar. Suami saya jebolan akademi kedokteran spesialisasi ER (Emergency). Kebetulan sudut pandang antara saya dengan suami selaras. Ada beberapa kesamaan, seperti budaya ramah tamah, senang membantu orang lain dan bersilaturahim. Suami saya bertanggung jawab, tegas dan disiplin. Dia akan sangat marah bila saya telat melakukan sesuatu yang sudah terjadwal. Karakter itu yang sering tidak saya temukan pada orang asing maupun orang Indonesia, papar Nurinda, tanpa bermaksud memamerkan kehebatan suaminya. Nurinda menceritakan, pola atau strategi dalam beradaptasi dengan keluarga pada dasarnya semua dikembalikan ke Islam. Apabila hal tersebut tidak bertentangan dengan Islam, maka ia akan sama-sama bertoleransi untuk menerima adat kebiasaan masing-masing. Mengapa, karena di Rusia itu akan sangat sulit. Budaya di sana, apabila pergi piknik dengan keluarga ke sungai, mereka yang wanita, baik itu tua-muda, gendut-kurus, cantik-tidak cantik, semua akan berbikini. Persis seperti ajang pemilihan Miss Universe. Bukan baju renang, tapi bikini. Selain itu, budaya di Rusia harus minum alkohol apabila kita ingin menghormati orang kalau ke kondangan, bertamu. Makanya saya sangat strict dalam hal itu. Karena tidak semua sanak keluarga dari pihak suami adalah muslim taat, walaupun mereka dari satu suku yang sama. Terkadang sama saja seperti orang Rusia pada umumnya, bebernya. Begitu pula saat Nurinda hendak melangsungkan akad nikah di Indonesia, tahun 2007. Ketika itu, segalanya serba mendadak. Ia dan calon suaminya tidak bisa menetap lama di Indonesia, hanya 10 hari. Sebelum sampai di tanah air, orang tuanya tidak mau banyak melakukan persiapan. Mereka takut acara pernikahan putrinya tidak bisa dilaksanakan tepat waktu lantaran dokumen dan lain hal belum siap. Ternyata, semua dokumen selesai hanya dalam satu hari.

Saya pernah dengar, kalau orang Indonesia mau menikah dengan orang asing, banyak berkas yang harus diurus. Butuh waktu yang tidak sebentar. Alhamdulillah, surat ijin menikah dari kedutaan Rusia sudah siap dalam 10 menit. Saat itu saya banyak mendapat kemudahan dan support dari berbagai pihak, ucapnya, bahagia.

Mau Menerima Konsekuensi Bila ada dua latar belakang kebudayaan yang berbeda yang dibangun dalam satu atap, maka yang ada pastilah take and give, push and pull, bagaimana mensikronkan pribadi, kepercayaan, dan perilaku demi keseimbangan kehidupan pernikahan. Hal tersebut diakui Mohammed Lorand, pria kelahiran Rumania yang pernah menjadi koki di beberapa restaurant dan hotel berbintang di Jakarta dan Medan. Kalau saya tidak bisa menyeimbangkan diri, rasanya rumah tangga saya akan ribut terus. Untunglah antara saya dan istri ada proses take and give. Kami saling memahami, saling mengisi. Alhamdulillah, kami bisa menjaganya hingga akhirnya istri saya meninggal dunia, kata pemilik nama asli Lorand Mercia Kunta, yang sudah menjadi yatim sejak bocah. Mohammed Lorand orang sekitarnya akrab memanggil Abang Lorand boleh dikata seorang petualang. Sepanjang usianya, dia telah menjelajah 56 negara di lima benua dan menguasai lima bahasa internasional. Namun, kini ia memilih mengabdikan diri mengasuh anak-anak yang kurang beruntung di Jakarta. Dari pengalamannya mengunjungi berbagai negara, ia lebih tertarik dengan Indonesia. Latar belakang budaya antar Rumania dan Indonesia relatif sama. Tenun ikat misalnya, di Rumania juga ada. Demikian juga peternakan domba di pegunungan, ternyata di Indonesia juga bisa ditemui. Makanya saya mau menikahi perempuan Indonesia, tukasnya sembari melempar senyum. Sebenarnya, sambung Abang Lorand, masalah-masalah yang kerap mencuat pada pasangan beda negara karena ketidaktahuan dan ketidaksiapan pemahaman tentang budaya dan etika yang berlaku. Atau bisa jadi perbedaan dua pribadi yang berlainan akar budaya. Akibatnya, bagi mereka yang kurang siap mental dan batin, ditambah harapannya yang kadang tak sesuai dengan kenyataan, tanpa sadar telah membuat mereka tertekan dan berujung pada berbagai masalah.

Menikah dengan orang asing akan mengubah diri kita sendiri. Kita pun harus mampu beradaptasi dengan budaya dan negara asing yang akan kita nikahi. Itu konsekuensinya, Abang Lorand mengingatkan. KH. Anis Manshur Arsyad (48) menambahkan, sejak awal pasangan suami istri yang beda negara harus siap menanggung segala konsekuensi kedepannya. Alumnus Pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak, ini pernah mendengar kejadian nyata dari pasangan suami istri campur negara. Ceritanya seorang perempuan dari Bandung menikah dengan pria berkulit hitam dari salah satu negara. Beberapa saat setelah si perempuan melahirkan, ternyata dia langsung pingsan begitu melihat bayinya sendiri. Dokter mengira perempuan itu kehabisan tenaga. Begitu sadar, perempuan itu baru memberitahu kalau penyebab pingsannya karena kaget melihat bayinya yang postur tubuh dan warna kulitnya mirip sang suami. Saya mohon maaf, cerita ini bukan bermaksud merendahkan orang kulit hitam. Ini sekadar contoh bahwa perempuan itu sebetulnya belum seratus persen siap menikah dengan orang yang beda negara. Istilahnya dia tidak mau menanggung resiko. Untungnya bangunan cinta mereka kokoh, sehingga tidak sampai bercerai, tutur Anis Manshur. Sementara itu, Nurinda bersedia membagi pengalamannya yang lain. Sebagai istri, ia lebih sering mengalah, bersabar dan mau mengerti kebutuhan suaminya. Sebelum menikah, ia memang sudah mengenal budaya dan interaksi kehidupan di Rusia.Sehingga saya bisa j auh lebih memahami pola hidup mereka. Termasuk misalnya masalah makanan. Saya yang berusaha menyesuaikan ke suami, karena saya yang memasak, menyiapkan. Saya rasa itu bagian dari cara saya melayani suami, agar suami akan semakin menyayangi saya, dan tentunya Allah juga. Karena cita-cita saya sebelum menikah ingin melayani suami dengan baik dan taat pada suami, tandasnya. Menyangkut kewarganegaaran anak-anak dari pernikahan beda negara, Indonesia sudah mengaturnya dalam UU Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan dan UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Meski demikian, Nurinda punya rencana sendiri. Jika kelak anak-anak sampai umur 18 tahun, mungkin akan memiliki dua kewarganegaraan. Sementara ini kami belum memiliki anak. Jadi ke depannya, apakah nanti anak-anak akan menjadi WNI atau Warga Negara Rusia, itu akan kami serahkan kepada mereka. Cita-cita kami ingin membesarkan anak di negara Islam. Kemungkinan nanti kami pindah ke Dubai. Tapi ini pun perlu dipertimbangkan secara matang, mengingat perlu dukungan finansial dan

pengurusan dokumen, kata perempuan yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S3 (Phd) di jurusan Hubungan Internasional Rusia dan kuliah jarak jauh dengan jurusan syariah Islam. Seperti ditulis dalam buku Perkawinan Antarbangsa: Love and Shock! karya Hartati Papafragos (Penerbit Esensi, 2008), gegar budaya alias culture shock adalah hal yang dialami oleh mereka yang menikah dengan orang asing, kemudian menetap di negara asal pasangannya. Culture shock memang sulit dihindari dalam sebuah hubungan beda bangsa, tetapi tak berarti pula culture shock harus ditakuti. Guna mengatasinya, bersikaplah sebagai seorang yang berminat mengamati dan belajar adat istiadat setempat, mendengar nasihat atau petunjuk dari berbagai sumber serta tidak malu untuk bertanya mengenai suatu hal yang tidak dimengerti. (Tulisan ini dimuat di Majalah ANGGUN edisi Juli-Agustus 2009)

Anda mungkin juga menyukai