Anda di halaman 1dari 3

RESENSI FILM TANAH SURGA KATANYA

Terdapat sebuah dusun yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat tepatnya diantara perbatasan Indonesia dengan Malaysia, warga dusun itu hidup dengan kondisi mereka yang masih sangat sederhana. Ada seorang kakek bernama kakek Hasyim yang merupakan pahlawan bangsa Indonesia pada saat terjadi pertempuran dwikora yang hidup bersama kedua cucunya yaitu Salman dan Salina, Kakek Hasyim mengurus Salman dan Salina karena ayah mereka pergi ke Malaysia untuk berdagang. Tiap hari dikala malam sang kakek terus menceritakan perjuangannya ketika pertempuran dwikora kepada Salman dan Salina sehingga mereka tau seharusnya mereka mencintai bangsa Indonesia seperti kakeknya. Ketika di sekolah seorang guru mereka bernama Bu Astuti dibuat takjub ketika dimintanya para murid untuk menggambar bendera merah putih dan hanya Salina lah yang dapat menggambarkan bendera itu dengan benar. Anak-anak disana sangat minim pendidikan akan nasionalisme dan rasa cinta terhadap bangsanya. Ayah Salman dan Salina pulang dengan membawa kesuksesan dari Malaysia dan mengajak kedua anaknya beserta sang kakek untuk pindah ke Malaysia. Sang kakek yang mempunyai rasa cinta yang amat sangat dengan Bangsa Indonesia enggan untuk pindah, Salman pun tidak mau pindah jika sang kakek tidak ikut pindah. Akhirnya Salina ikut dengan sang Ayah untuk tinggal di Malaysia. Betapa miris sang kakek melihat anaknya yang lebih bangga dengan bangsa asing ketimbang dengan bangsanya sendiri. Bagi kakek Hasyim Malaysia akan tetap menjadi musuhnya sama seperti pada tahun 1965 ketika Malaysia melanggar perjainjian Manila dan menghancurkan harga diri bangsa Indonesia dengan mengkoyak-koyak bendera Indonesia dan membakar foto Bung Karno sang Presiden bangsa ini. Suatu hari datanglah seorang dokter dari kota untuk bertugas di dusun itu, sang dokter bertemu dengan Lizet teman Salman dan dibantunya sang dokter untuk membawa barang bawaannya dengan maksud meminta upah sebesar 20 ringgit. Ketika sampai dirumah pak kepala dusun Lizet pun diberikan uang 50 ribu rupiah, Lizet yang tak pernah melihat uang semacam itu menganggap sang dokter ingin menipunya. Sang doketer merasa bingung karena menurutnya ia masih berada di Indonesia tapi kenapa mata uang Malaysia yang dipergunakan di dusun itu. Bu Astuti menjelaskan karena para warga dusun itu bekerja dan berdagang dengan orang Malaysia oleh karena itu ringgit lah yang dipakai di dusun itu. Pada suatu malam saat sedang bersama Salman, tiba-tiba kakek Hasyim sesak nafas. Lalu Salman berlari menuju rumah pak kepala dusun untuk memanggil Dokter Anwar. Menurut sang Dokter penyakit kakek Hasyim memerlukan penangan yang lebih serius dan harus dibawa ke rumah sakit. Salman memutuskan untuk bekerja agar mendapatkan uang untuk membawa kakek ke rumah sakit. Salman menjual kain tenun ke pasar Malaysia, ketika Salman diperjalanan pulang Salman melihat penjual Malaysia menggunakan bendera Merah

Putih sebagai alas dagangannya. Salman merasa tidak seharusnya bendera pusaka Bangsa Indonesia diperlakukan seperti itu. Pak Kepala Dusun dikabarkan bahwa akan ada kunjungan pendidikan ke desa tersebut. Bu Astuti diminta untuk mempersiapkan murid-murid untuk menyambut kunjungan tersebut. Bu Astuti mengarjakan anak-anak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya karena para murid tidak tahu lagu Kebangsaan Bangsa Indonesia yang mereka tahu hanya lagu Kolam Susu. Para murid diajarkan untuk melaksanakan upacara Bendera. Bu Astuti pergi ke rumah Pak Kepala Dusun untuk meminjam bendera merah putih akan tetapi Pak Kepala Dusun tidak punya. Kemudian Bu Astuti pergi ke rumah Kakek Hasyim dan ternyata Kakek Hasyim masih menyimpan bendera sang Saka Merah Putih sejak peperangan dwikora yang dijahit oleh Nenek Salman. Hari kehari Salman bekerja dan akhirnya uang yang didapat Salman sudah cukup banyak. Salman memutuskan untuk membelikan kain untuk sang Kakek karena kain yang biasa dipergunakan sang Kakek untuk solat sudah rusak. Ketika Salman telah selesai menjual kain tenun Salman lalu bergegas untuk membelikan kain untuk kakek. Setelah membayar kain tersebut Salman melihat pedagang Malaysia yang mempergunakan bendera merah putih sebagai alas dagang. Salman meminta pedagang tersebut untuk menukarkan bendera tersebut dengan kain yang dibeli Salman. Ketika mendapatkan bendera tersebut Salman merasa sangat senang karena telah menyelamatkan bendera bangsanya agar tidak diperlakukan sembarangan oleh bangsa lain. Kondisi Kakek Hasyim semakin parah dan akhirnya Salman dibantu oleh dokter Anwar dan Bu Astuti membawa kakek Hasyim ke rumah sakit di kota. Pada saat perjalanan menuju kota, sampan yang dinaiki mereka rusak sehingga harus menggunakan dayung dan akan memakan waktu yang sangat lama untuk sampai ke kota. Di tengah perjalanan Kakek Hasyim terlihat kondisinya semakin parah. Akhirnya dikala senja menuju malam kakek Hasyim berpesan kepada Salman untuk tetap mencintai bangsa Indonesia. Kemudian kakek Hasyim menghembuskan nafas terakhir setelah mengucapkan pesannya kedapa Salman. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kondisi para warga yang berada diperbatasan karena sangat rentan bagi mereka untuk dipengaruhi bangsa lain yang terlihat lebih makmur dibandingkan dengan bangsanya sendiri. Memang sangatlah sulit untuk memberikan fasilitas yang mereka butuhkan diperbatasan karena akses jalan yang sulit dimana harus menggunakan perahu dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk dapat sampai ketempat mereka. Seharusnya pemerintah mengirim orang-orang yang peduli dengan bangsa ini untuk mengajar di sana dan untuk memberikan fasilitas yang baik disana seperti pendidikan dan kesehatan. Haruslah di pupuk dari kecil rasa nasionalisme mereka agar mereka tetap akan mencintai bangsanya apa pun yang terjadi.

TEORI NASIONALISME Gellner mengemukakan bahwa nasionalisme terutama merupakan satu prinsip politik, yakni teori legitimasi politik yang memerlukan batas etnis yang tidak melintasi politik. Dengan kata Iain, nasionalisme adalah satu perjuangan untuk membuat budaya dan "kepolitikan" menjadi bersesuaian. Lebih dari itu, nasionalisme adalah pemaksaan umum satu budaya tinggi kehidupan masyarakat, di mana budaya rendah sebelumnya telah mengang-kat kehidupan mayoritas dan dalam beberapa kasus keseluruhan penduduk. Arti penting nasionalisme menurut Mazzini, adalah sebagai jembatan persaudaraan manusia, yang di dalamnya terkandung revolusi sosial, intelektual, dan moral. Dan dalam era kolonial, nasionalisme mempunyai akar demokratis dibandingkan dengan negara yang tidak terjajah. Kecuali itu, nasionalisme merupakan satu ideologi untuk generasi muda.