Anda di halaman 1dari 14

Bab 1.

Pendahuluan Sistem Informasi Manajemen dan Perancangan Strategis pada Pelayanan Kantor Pajak tahun 2010 Bertha Meyke Waty Hutajulu., S.Kom, M.MSI bertha.hutadjoloe@gmail.com Abstrak Sistem Informasi Manajemen digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga terdapat alasan bahwa informasi sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan. Perancangan Strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya, termasuk modal dan sumber daya manusia, untuk mencapai strategi ini Pelayanan Kantor Pajak menggunakan proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social, Technological), atau STEER (Socio-cultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory), Kantor Sistem Penerimaan Pajak merupakan integrasi sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak DitJen Pajak (MP3), sistem Electronic Data Interchange UN/EDIFACT DitJen Bea & Cukai (EDI) & Sistem Penerimaan Negara DitJen Perbendaharaan (SISPEN). Kunci: Sistem Informasi Perancangan Strategis Manajemen, Kemajuan alat komunikasi pada melinium ketiga semakin mempermudah perolehan informasi dari berbagai sumber untuk berbagai kepentingan terutama dalam berbagai pengambilan keputusan didalam perusahaan, itulah sebabnya sangat dirasakan pentingnya mengelolah informasi secara terintegrasi pada setiap organisasi perusahaan. Oleh karena itulah fokus utama dari sistem informasi manajemen adalah bagaimana mengelolah informasi sebaikbaiknya agar dapat menjadi alat pembantu bagi setiap manajer dalam pengambilan keputusan. Departemen Keuangan RI merupakan departemen teknis yang mempunyai tugas mengelola penerimaan keuangan negara. Diawali dengan sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak Sistem (MP3) yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) membuktikan bahwa penerimaan keuangan negara dapat ditingkatkan efektivitasnya melalui mekanisme penerimaan secara online. Dengan itu sistem MP3 memiliki ruang lingkup untuk penerimaan negara sektor pajak dan bea&cukai. Sistem ini kemudian dikembangkan menjadi Sistem Penerimaan Pajak dengan memasukan penerimaan bukan pajak, potongan SPM, dan lain-lain. Dengan demikian sistem penerimaan pajak merupakan integrasi sistem monitoring pelaporan pembayaran pajak DitJen Pajak (MP3), sistem Electronic Data Interchange UN/EDIFACT DitJen Bea & Cukai (EDI), dan Sistem Penerimaan Negara DitJen Perbendaharaan (SISPEN). Sistem Penerimaan Pajak terhubung dengan seluruh Bank Persepsi dan Kantor Pos yang menerima pembayaran penerimaan negara. Pembayaran penerimaan negara dinyatakan sah jika telah mendapat Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) yang dikeluarkan oleh Sistem Penerimaan Pajak. Dalam rangka
1

meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak/ Wajib Bayar/ Wajib Setor, maka Pelayanan Pengesahan Penerimaan Negara dapat dilakukan selama 24 jam X 7 hari. Sehingga dengan demikian Sistem Penerimaan Pajak harus tetap dapat diakses oleh Bank dan Kantor Pos selama 24 jam X 7 hari. Disisi lain ada data-data transaksi Sistem Penerimaan Pajak yang memiliki sifat yang peka terhadap waktu, karena dibutuhkan untuk memberikan pelayanan dengan segera. Sebagai contoh adalah data transaksi pembayaran bea masuk dan Cukai. Data ini sangat dibutuhkan untuk konfirmasi pengeluaran barang oleh importir/ petugas dari lokasi kantor pelayanan Bea & Cukai (KPBC). Sistem Penerimaan Pajak juga melakukan pencatatan Administrasi Pelimpahan Kas serta melakukan distribusi transaksi penerimaan harian kepada unit kerja terkait yang membutuhkan. Pada waktu-waktu tertentu, data-data transaksi yang telah tercatat di Sistem Penerimaan Pajak akan didistribusikan ke unit-unit kerja terkait. Dengan berjalannya Sistem Penerimaan Pajak, petugas operasional Sistem Penerimaan Pajak memiliki tugas dan tanggung jawab yang lebih besar. Penerimaan negara yang dilaporkan oleh Bank atau kantor Pos Persepsi ke Sistem Penerimaan Pajak untuk mendapatkan pengesahan dengan menggunakan sistem yang terhubung ke Sistem Penerimaan Pajak secara dengan waktu yang tepat, walaupun terkadang mengalami masalah. Masalahmasalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, masalah ini harus sesegera mungkin untuk diselesaikan karena menyangkut penerimaan negara. Masalah-masalah tersebut diantaranya 1. Adanya gangguan teknis pada jaringan komunikasi antara Bank dan DJP sehingga menyebabkan : a. Bank tidak bisa melakukan inquery data Wajib Pajak/Wajib

Bayar/Wajib Setor ke Sistem Penerimaan Pajak untuk mengecek kebenaran data Wajib Pajak/Wajib Bayar/Wajib Setor. b. Bank tidak bisa melakukan pengesahan pembayaran Pajak atau Bukan Pajak secara realtime online ke Sistem Penerimaan Pajak. c. Bank tidak bisa melakukan reversal atas pembayaran Pajak atau Bukan Pajak yang sebelumnya telah mendapat NTPN. 1. Adanya transaksi reversal yang dilakukan oleh Bank melebihi batas waktu reversal yang ditetapkan pada Sistem Penerimaan Pajak sehingga reversal tidak bisa dilakukan secara realtime online. 2. Adanya transaksi advice yang dilakukan oleh Bank melebihi batas waktu advice yang ditetapkan pada Sistem Penerimaan Pajak sehingga advice tidak bisa dilakukan secara realtime online. Pengesahan penerimaan negara melalui Sistem Penerimaan Pajak, melibatkan Bank Persepsi dan Kantor Pos sebagai tempat pembayaran penerimaan negara. Meskipun kegiatan pengesahan penerimaan negara telah dilakukan secara realtime online, namun tetap diperlukan kegiatan rekonsiliasi data harian antara Bank Persepsi dan Kantor Pos sebagai tempat penerima pembayaran dengan Sistem Penerimaan Pajak. Sistem rekonsiliasi harus terintegrasi dengan Sistem Penerimaan Pajak. 2. Landasan Teori Sistem Informasi Manajemen digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga terdapat alasan bahwa informasi

sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan. Perancangan Strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya, termasuk modal dan sumber daya manusia, untuk mencapai strategi ini Pelayanan Kantor Pajak menggunakan proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social, Technological), atau STEER (Socio-cultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory). Pada saat ini pengoperasian Sistem Penerimaan Pajak masih dilakukan di Kantor Pusat DJP. Sebagai sistem penerimaan negara yang real time online melayani pengesahan transaksi pembayaran penerimaan negara selama 24 jam x 7 hari seminggu, maka kesinambungan pelayanan Sistem Penerimaan Pajak harus tetap terjaga. Saat ini Sistem Penerimaan Pajak beroperasi hanya di Data Center saja dan belum memiliki disaster recovery center. Bila terjadi gangguan / kerusakan / kegagalan fungsi pada server, sistem aplikasi dan jaringan Sistem Penerimaan Pajak yang terletak di Data Center Kantor Pusat DJP dapat mengakibatkan bank atau unit kerja terkait lainya tidak bisa berhubungan dengan Sistem Penerimaan Pajak. Hal ini tentunya akan mengganggu kelancaran pelayanan transaksi pembayaran penerimaan negara oleh bank & kantor pos maupun pemanfaatan data-data transaksi Sistem Penerimaan Pajak oleh Unit Kerja terkait. Adalah sebuah hal penting untuk melakukan tindakan pencegahan sebelum bencana tersebut terjadi. Tidak hanya untuk melindungi data tetapi juga untuk menjamin pemulihan secara cepat pelayanan yang dilakukan oleh Sistem Penerimaan Pajak ke kondisi operasi normal setelah terjadinya kegagalan atau kerusakan pada sistem utama

Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP. Disisi lain, saat ini DJP telah mengoperasikan sebuah Disaster Recovery Center (DRC) site yang terletak di Cikarang, Bekasi. Hanya saja DRC site milik DJP tersebut belum memiliki kemampuan untuk menjalankan Sistem Penerimaan Pajak. Untuk itu kegiatan/ pekerjaan ini dilakukan yaitu dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan DRC milik DJP agar dapat menjalankan Sistem Penerimaan Pajak. Disamping itu ketersediaan layanan jaringan komunikasi data di DRC dengan pihak yang memberikanan layanan telekomunikasi harus mampu menjalankan fungsi DRC nantinya secara penuh antara Pajak dengan pihak Bank. Dimana ketika sistem di data center mengalami permasalahan maka secara otomatis jaringan komunikasi data dapat melakukan pemindahan secara otomatis ke DRC. Secara umum DRC untuk Sistem Penerimaan Pajak adalah melakukan pemulihan operasional Sistem Penerimaan Pajak dengan melakukan pengaktifan terhadap sistem dan jaringan komunikasi pada sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DRC DJP pada saat terjadinya kegagalan pada sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP. Hal ini dicapai dengan meningkatkan kemampuan DRC site yang saat ini sudah dimiliki oleh DJP sehingga mampu menjalankan Sistem Penerimaan Pajak. Solusi untuk melakukan pemulihan kerusakan DRS adalah merupakan bagian dari Perencanaan Kesinambungan Bisnis atau Business Continuity Plan (BCP) untuk Sistem Penerimaan Pajak secara keseluruhan. Pada saat Sistem Penerimaan Pajak di DRC site dioperasikan, maka harus ada kegiatan sinkronisasi data OLTP dan data transaksi hasil rekonsiliasi antara Sistem

Penerimaan Pajak Kantor Pusat DJP dengan Sistem Penerimaan Pajak di DRC site. Setiap jenis aplikasi Sistem Penerimaan Pajak membutuhkan tingkatan kemutakhiran data yang berbeda. Pemutakhiran data yang terdapat pada Sistem Penerimaan Pajak sangat tergantung pada teknologi dan teknik yang digunakan oleh Penyedia Barang & Jasa. Sistem Penerimaan Pajak di Kantor Pusat DJP harus selalu memiliki basis data yang sama dengan Sistem Penerimaan Pajak yang ada di DRC site dengan toleransi yang sangat terbatas. Seperti diketahui data yang ada pada Sistem Penerimaan Pajak selalu berubah dari waktu ke waktu. Demikian halnya dengan Aplikasi Sistem Penerimaan Pajak dapat mengalami pemutakhiran setiap waktu. Dengan demikian harus ada mekanisme untuk melakukan sinkronisasi data dan aplikasi antara Sistem Penerimaan Pajak di Kantor Pusat DJP dengan Sistem Penerimaan Pajak di DRC site. A. Pengadaan Perangkat Pembangunan Jaringan 1. Keras dan

3.

4.

5.

6.

7.

Infrastruktur yang akan dikembangkan harus mempertimbangkan segi kemudahan dalam pengelolaan atau operasional. Infrastruktur yang dikembangkan juga harus mempertimbangkan terjaganya tingkat layanan yang tinggi terhadap sistem. Infrastruktur yang dikembangkan memiliki skalabilitas dan reliabilitas yang tinggi. Melaksanakan setting dan tuning perangkat serta melakukan pengujian yang diperlukan. Melaksanakan pengadaan sarana pendukung lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan operasional. dan Implementasi

B. Pengembangan Sistem 1.

2.

Memahami sistem dengan melakukan analisa terhadap infrastruktur informasi DJP yang ada saat ini baik di Data Center dan Disaster Recovery Center serta kebutuhan sistem penerimaan pajak secara keseluruhan. Pemahaman dimaksud akan menjadi aspek penting dalam penilaian. Membuat desain Infrastruktur Teknologi Informasi Sistem Penerimaan Pajak yang dapat memenuhi kapasitas informasi mengenai penerimaan pajak sesuai dengan solusi yang diinginkan. Desain tersebut dibuat berdasarkan pemahaman infrastruktur di DJP saat ini.

2.

3.

4.

5.

Memahami proses bisnis sistem penerimaan pajak yang dilakukan oleh Pihak Bank ke Direktorat Jenderal Pajak. Pemahaman dimaksud akan menjadi aspek terpenting dalam penilaian. Memahami proses bisnis Disaster Recovery Center baik secara teori maupun teknis. Pemahaman dimaksud akan menjadi aspek terpenting dalam penilaian. Memahami sistem dengan melakukan analisa terhadap infrastruktur informasi DJP yang ada saat ini dan kebutuhan akan backup sistem penerimaan pajak di DRC. Melaksanakan analisis terhadap kebutuhan data dan informasi mengenai sistem penerimaan pajak secara kseluruhan. Desain sistem di atas harus mempertimbangkan segi kehandalan, keamanan, integrasi,

6.

7.

kecepatan proses dan kemudahan pengelolaan. Melaksanakan pembangunan aplikasi-aplikasi dimaksud setelah rancangan disetujui oleh pihak DJP. Melakukan dokumentasi atas seluruh tahapan pembangunan dan implementasi infrastruktur dan perangkat lunak sistem penerimaan pajak.

Loket, aplikasi penerimaan yang melayani pembayaran melalui loket bank; SPM Potongan, aplikasi penerimaan yang melayani pemotongan SPM yang dilakukan oleh KPPN; 2) Aplikasi Staging melayani fasilitas sbb : Distribusi, aplikasi penerimaan yang mendistribusikan data penerimaan kepada unit terkait seperti DJP, DJBC, DJPb dan unit PNBP; 3) Database OLTP, meliputi: OLTP, database penerimaan yang menampung data transaksi harian. Referensi, database penerimaan yang menampung referensi seperti Master file wajib pajak, dan lainlain. 4) Console sebagai berikit : a) Crypto Device Console, Console yang mengontrol perangkat Cryptographic dan men-generate NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara). b) Console Management Switching, console yang digunakan untuk melakukan konfigurasi terhadap perubahan koneksi dengan perbankan. c) Console Administratif dan Monitoring, console yang mengontrol status transaksi penerimaan. d) Console infra dan transaksi, console yang digunakan untuk mengontrol jalannya transaksi penerimaan negara. SubSistem Penerimaan Pajak -Backoffice meliputi aplikasi-aplikasi sbb :

A. Arsitektur Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP

Sistem Penerimaan Pajak terdiri dari 2 subsistem yaitu Sistem Penerimaan PajakSwitching dan Sistem Penerimaan Pajak BackOffice. SubSistem Penerimaan Pajak-Switching meliputi aplikasi-aplikasi sbb : 1) Aplikasi Message Exchange Server yang melayani kegiatan sbb :

1) a)

Aplikasi backoffice yang melayani fasilitas sbb : Portal Rekonsiliasi, aplikasi yang nantinya akan digunakan untuk kegiatan rekonsiliasi data transaksi harian. Aplikasi ini akan diakses langsung oleh Bank. b) Portal Back Office, aplikasi yang nantinya akan digunakan untuk mencatat, menindaklajuti dan memonitor permasalahan implementasi bisnis proses Loket dengan unit terkait. c) Pengembangan aplikasi Back Office akan dikerjakan bersamaan dengan pekerjaan ini.

Barang dan Jasa harus membuat sebuah rancangan pemrosesan data yang melibatkan pengembangan sebuah solusi yang mengintegrasikan elemen-elemen sistem informasi yang mendukung kesinambungan operasional Sistem Penerimaan Pajak, antara lain: a) Data b) Servers c) Aplikasi d) Network access.

2) 3) a)

Mail Server digunakan untuk berkolaborasi dengan perbankan. Database OLAP & Rekonsiliasi, meliputi : OLAP, database penerimaan yang menampung data transaksi harian gabungan. Stagging, database untuk proses staging. Distribusi, database berisi data yang siap didistribusikan. Rekonsiliasi, database berisi hasil proses rekon. Sinkronisasi, database berisi data hasil proses sinkronisasi. Transaksi histori, berisi data untuk audit trail.

b) c) d) e) f)

B. Kebutuhan Backup Sistem di lokasi DRC Untuk menjaga ketersediaan data dan aplikasi Sistem Penerimaan Pajak pada tingkatan yang ditetapkan, maka perlu dikembangkan sebuah sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DRC DJP. Implementasi Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DRC dimulai dengan melakukan perancangan. Penyedia

Setiap jenis aplikasi Sistem Penerimaan Pajak memiliki karakterisitik yang berbeda dalam konteks pemulihan setelah terjadinya kegagalan/ kerusakan sistem. Setiap jenis aplikasi juga membutuhkan tingkatan kemutakhiran data yang berbeda. Pemutakhiran data yang terdapat pada sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak sangat tergantung pada teknologi dan teknik yang digunakan oleh Penyedia Barang dan Jasa. Dengan demikian, Penyedia Barang & Jasa harus membuat mekanisme pemulihan

Sistem Penerimaan Pajak yang memiliki ketergantungan pada: 1) Ketersediaan data dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemulihan operasi sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DRC, yang mana waktu pengaktifan tersebut harus kurang dari waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan / kegagalan yang terjadi pada sistem aplikasi dan data Sistem Penerimaan Pajak di Data Centre KP DJP. 2) Jumlah server yang harus dipulihkan. 3) Prosedur pemulihan. untuk melakukan

Pajak di Data Center KP DJP. Solusi yang diterapkan harus menggunakan mekanisme replikasi data secara otomatis pada sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak untuk mencegah kemungkinan hilangnya data dan informasi penting serta memberikan jaminan pada tingkat yang diinginkan. 3. Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak DRC harus dapat diakses oleh Bank. 4. Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak DRC harus dapat diakses oleh Unit Kerja terkait. Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak yang ada di DRC harus dikonfigurasikan sama seperti yang ada di KP DJP. Tujuannya adalah agar pada saat pengaktifan sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak akibat kegagalan sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak dapat berjalan secara transparan untuk Bank & Kantor Pos maupun Unit Kerja terkait. C. Ruang Lingkup Pekerjaan Berikut ini adalah beberapa pekerjaan yang harus dilakukan di lokasi DC KP DJP dan di lokasi DRC : 1. Rancangan dan Solusi proses sinkronisasi data dan aplikasi. Proses Roll-over Data dan Aplikasi dilakukan antara lokasi operasional sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak di DC KP DJP dengan lokasi sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak secara sinkron. Proses Sinkronisasi Data dan Aplikasi harus dirancang dengan baik sehingga proses sinkronisasi dapat berjalan dengan sempurna.

Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di DRC harus selalu memiliki basis data yang sama dengan sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak yang ada di Data Center KP DJP dengan toleransi yang sangat terbatas. Seperti diketahui data yang ada pada sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak selalu berubah dari waktu ke waktu. Demikian halnya dengan Aplikasi sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP dapat mengalami pemutakhiran setiap waktu. Dengan demikian harus ada mekanisme untuk melakukan sinkronisasi data dan aplikasi antara sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP dengan sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di DRC. Beberapa hal yang menjadi kebutuhan di DRC adalah : 1. Sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di DRC harus memiliki konfigurasi fungsi-fungsi sistem yang sama dengan Sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak yang terletak di Data Center KP DJP. 2. Database sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak DRC harus sama dengan database Sistem Penerimaan

Penyedia Barang & Jasa tidak boleh mengabaikan keterbatasan teknologi dan jaringan komunikasi yang menghubungkan kedua lokasi tersebut. Untuk itu Penyedia Barang & Jasa harus memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi keterbatasan yang ada. Aspek penting yang harus ditetapkan adalah tingkat ketersediaan data dan sistem aplikasi yang ditetapkan mengacu kepada teknologi dan teknik yang digunakan untuk mencapainya. Tingkat ketersediaan data dan sistem aplikasi yang ingin dicapai akan disepakati bersama-sama. 2. Menyiapkan Perangkat Server Penyedia Barang dan Jasa harus menyediakan server-server yang digunakan oleh Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DC KP DJP dan di lokasi DRC DJP mengacu kepada lampiran F.1 (spesifikasi teknis perangkat server). 3. Installasi Server (OS dan software license lainnya); Penyedia Barang & Jasa juga harus menyediakan OS yang dibutuhkan oleh server-server di atas dan melakukan instalasi OS pada server-server tersebut. Lihat Lampiran F.3 (spesifikasi teknis Sistem Operasi). Sistem Aplikasi Sistem Penerimaan Pajak bekerja pada lingkungan Sistem Operasi berbasis Linux. Untuk server yang dipasang di lokasi Disaster Recovery akan menggunakan sistem operasi Oracle Enterprise Linux. Dimana Sistem Aplikasi Sistem Penerimaan Pajak saat ini menggunakan standar ISO 8583. Server DB OLTP, DB OLAP dan DB Rekonsiliasi bekerja pada lingkungan sistem operasi Oracle Enterprise Linux. Sedangkan Server sistem aplikasi lainnya bekerja pada lingkungan sistem operasi WINDOWS 2003.

4. Instalasi Cryptographic Processor NTPN Generator Cryptographic processor digunakan untuk menghasilkan NTPN. Penyedia Barang & Jasa harus menyediakan dan melakukan instalasi sistem Cryptographic Processor agar dapat digunakan oleh aplikasi NTPN generator. Spesifikasi perangkat Cryptographic Processor dapat dilihat pada lampiran F.2 (spesifikasi teknis Cryptographic Processor). Perangkat Cryptographic processor akan diletakan di lokasi DC KP DJP dan di lokasi DRC DJP. Dengan demikian aplikasi NTPN Generator harus diinstall di dua lokasi, disesuaikan dengan jumlahnya. 5. Installasi Aplikasi pada server sesuai dengan peruntukkannya; Server-server tersebut akan digunakan untuk menjalankan aplikasi Sistem Penerimaan Pajak yang terdiri atas: a) Server ISO 8583 Message Exchange 10 unit b) Server Portal Rekonsiliasi 4 unit c) Server NTPN 4 unit d) Server Portal Back-office 3 unit e) Mail Server 1 unit f) Server Sinkronisasi & Distribusi 3 unit Server-server tersebut akan diletakkan di dua lokasi, yaitu di DRC dan di DC KP DJP. Secara lebih detail, di bawah ini adalah pembagian server menurut lokasi dan fungsinya: a) Penggunaan Server di DRC b) Server untuk aplikasi ISO 8583 Message Exchange = 8 c) Server untuk Rekonsiliasi = 2 aplikasi Portal

d) Server untuk Backoffice = 2

aplikasi

Portal

e) Server untuk aplikasi Sinkronisasi & Distribusi = 1 f) Server untuk aplikasi Mail Server = 1 g) Server untuk Generator = 4 aplikasi NTPN

Database yang digunakan adalah Database Oracle yang bekerja pada lingkungan OS Linux. 8. Inisialisasi Data pada database server. Untuk dapat mencapai tujuan dari Penyedia Barang & Jasaan sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak, datadata yang terdapat pada Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP harus di copy terlebih dahulu. Penyedia Barang & Jasa harus memasukkan data awal setiap jenis server DB tersebut. Titik awal dari data akan ditetapkan kemudian. Beberapa data pada database di Data Center KP DJP yang harus diinisialiasi di database DRC diantaranya adalah : a) Supporting Data, meliputi data NOP, data NPWP, data Kantor Pelayanan, data Satker, data MAP. b) Core Data, meliputi data OLTP, data OLAP. 9.Penyusunan mekanisme akses Sistem Penerimaan Pajak oleh Bank-bank dan Unit Kerja terkait.

h) Penggunaan Server di DC KP DJP i) Server untuk aplikasi ISO 8583 Message Exchange = 2 j) Server untuk Rekonsiliasi = 2 k) Server untuk Backoffice = 1 aplikasi aplikasi Portal Portal

l) Server untuk aplikasi Sinkronisasi & Distribusi = 2 Penyedia Barang & Jasa harus melakukan instalasi aplikasi-aplikasi tersebut pada server-server di atas sesuai dengan peruntukkannya. 6. Konfigurasi Aplikasi pada server sesuai dengan peruntukkannya. Penyedia Barang & Jasa harus melakukan konfigurasi aplikasi sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak yang diperlukan untuk setiap server sesuai dengan peruntukan aplikasi yang terpasang di setiap server tersebut. Konfigurasi aplikasi pada sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak di lokasi DRC DJP harus sama dengan konfigurasi aplikasi yang telah terpasang pada sistem Utama Sistem Penerimaan Pajak di Data Center KP DJP. 7. Installasi Database pada server. Server DB terdiri atas DB OLTP, DB OLAP dan DB Rekonsiliasi. Penyedia Barang & Jasa harus melakukan instalasi Sistem DB Oracle untuk ketiga jenis server tersebut. Sistem

10

Arsitektur Exisiting Media Komunikasi Sistem Penerimaan Pajak 1. Peserta lelang harus membuat skema pengaksesan jaringan komunikasi sistem Utama dan Backup Sistem Penerimaan Pajak oleh Bank-Bank & Kantor Pos dan Unit Kerja terkait bekerja sama dengan penyelenggara jaringan komunikasi. Untuk Koneksi dari perbankan yang mempergunakan Jaringan Komunikasi baik Telkom maupun Lintas Arta, dan lainnya untuk mengakses Server Aplikasi Sistem Penerimaan Negara. Saat ini Backhaul pajak di DRC yang menggunakan jalur komunikasi data PT. Telkom Tbk dan PT. Lintas Arta sebesar 512 Kbps. 2. Peserta lelang harus mampu memberikan solusi terhadap skema jaringan komunikasi data baik komunikasi yang menggunakan PT. Telkom., Tbk, PT. Lintas Arta, maupun koneksi secara dipersembahkan langsung ke Data Center Direktorat Jenderal pajak. 3. Saat ini Nomor Dial In yang dipergunakan oleh DJP untuk memfasilitasi perbankan dalam mengirimkan data pajak merupakan nomor PSTN yang memiliki keterbatasan batas wilayah, sehingga redundansi hanya mungkin dilakukan dengan mempersiapkan nomor PSTN di lokasi DRC dan dengan sendirinya DJP harus mempersiapkan perangkat Radius Server dan Ras di lokais DRC dan DC Ditjen Perbendaharaan. Adapun solusi yang harus dilakukan oleh peserta lelang yang menggunakan dial in, antara lain : a) Teknologi komunikasi data yang digunakan harus

b)

c)

d)

e)

mampu melakukan topologi Full Mesh untuk melakukan routing secara otomatis ke lokasi DRC apabila terjadi gangguan pada link data center. Menyiapkan Cloud Ekstranet DJP khusus untuk aplikasi Sistem Penerimaan Pajak, DC di Kantor Pusat sebagai main backhaul DJP dan DRC di Cikarang sebagai secondary backhaul. Penggunaan layanan dengan single number dengan tarif flat secara nasional yang sekaligus dapat di pergunakan sebagai backup apabila jaringan komunikasi data utama down. Saat ini nomor dial in yang di pergunakan oleh DJP untuk memfasilitasi perbankan dalam mengirimkan data pajak merupakan nomor PSTN yang memiliki keterbatasan boundary wilayah, sehingga redundansi hanya mungkin dilakukan dengan mempersiapkan nomor PSTN di lokasi DRC dan dengan sendirinya DJP harus mempersiapkan perangkat Radius Server dan Ras di lokais DRC dan DC DJP, sehingga biaya akses ke nomor dial in tergantung pada jarak lokasi Bank yang melakukan koneksi (SLJJ). Jaringan komunikasi data dapat di pergunakan minimal 180 user secara bersamaan (concurent). Memiliki sistem keamanan dengan menggunakan user id dan password pada masing-

11

masing end user. Pengelolaan user id dan password di lakukan oleh pihak DJP. f) Tarif flat yang digunakan harus lebih murah dibandingkan dengan tarif lokasi. g) Manage End to End dari DC sampai dengan RAS di lokasi Perbankan. h) Menyiapkan design jaringan komunikasi data beserta dokumentasinya. i) Setiap bank yang akses ke DC maupun DRC yang menggunakan teknologi ini dapat di monitoring jalur komunikasi data, sehingga apabila terjadi failed koneksinya bisa dapat di ketahui secara cepat dan tepat.kemampuan minimal monitoring yang harus di penuhi oleh pihak penyedia jasa telekomunikasi data adalah Fault Management, Configuration Management, Performance Management, Account Management, Security Management. j) Pihak penyedia jasa telekomunikasi harus memberikan 1 user id dan password untuk login ke alamat situs monitoring sehingga bisa memonitor [erformansi network secara real time. 4. Peserta Lelang harus bisa memenuhi service level agreement (SLA) kepada penyedia jasa telekomunikasi minimal sebagai berikut: a) Link Operation 24 jam/hari dan 7 hari/minggu (dedicated connection).

b) Maksimal 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja atau Surat Perjanjian (Kontrak). c) Rata-rata waktu pemberian response oleh Penyedia Jasa Telekomunikasi sejak diterimanya laporan gangguan dari DJP yang dijaminkan maksimum 15 menit melalui saluran elektronik seperti: telepon, dan atau sms. Dan atau 1 x 24 jam jika dibutuhkan kunjungan fisik ke lokasi. d) Rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh Penyedia Jasa Telekomunikasi dalam memperbaiki gangguan yang terjadi sejak tiba di lokasi DJP maksimum 3 (tiga) jam. 5. Ketersediaan minimum jaringan terus menerus dari sisi asal ke sisi tujuan minimal 99 % untuk teknologi akses yang di pergunakan.

12

Arsitektur Yang Harus Dilakukan Penyedia Barang Dan Jasa untuk Sistem Penerimaan Pajak 10. Pengujian integrasi sistem Utama dan sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan, akan dilakukan pengujian secara LIVE terhadap hasil implementasi sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak. Penyedia Barang & Jasa harus membuat skenario pengujian beserta dengan material yang dibutuhkan untuk melakukan pengujian. Pada akhir pengujian Penyedia Barang & Jasa membuat laporan-laporan yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa sistem Backup Sistem Penerimaan Pajak telah bekerja dengan benar. D. Ruang Lingkup Pekerjaan Pengembangan Sistem Aplikasi Portal Rekonsiliasi Aplikasi Portal Rekon adalah aplikasi yang disediakan untuk Bank & Kantor Pos agar melakukan proses Rekonsiliasi transaksi secara mandiri. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat pada lampiran G.

F. Spesifikasi Teknis Dibawah ini adalah spesifikasi teknis minimum Perangkat Keras dan Perangkat Lunak yang harus dipenuhi oleh Penyedia Barang/ Jasa. Spesifikasi dibuat berdasarkan hasil riset oleh internal DJP. DJP menyadari bahwa spesifikasi teknis minimum tersebut masih terdapat ketidaksempurnaan sehingga menjadi kewajiban Penyedia Barang/ Jasa untuk melengkapi/ mengubah konfigurasi ini menjadi lebih sempurna. LAMPIRAN G: SPESIFIKASI TEKNIS APLIKASI PORTAL REKON Arsitektur Aplikasi Proses Rekonsiliasi akan dilakukan secara mandiri oleh Bank/Pos. Bank/Pos melakukan proses rekonsiliasi dengan menggunakan aplikasi Portal Rekon yang disediakan oleh DJP. Dengan demikian, maka aplikasi Portal Rekon harus berbasis web dengan menerapkan model arsitektur aplikasi n-tier. Aplikasi berbasis web ditujukan untuk memudahkan pemeliharaan sistem. Bank yang akan melakukan proses rekonsiliasi mengirimkan file CSV yang berisi data transaksi penerimaan, setelah file diterima oleh Portal Rekon bank akan diberikan ID sebagai identitas proses rekonsiliasi. Selanjutnya file yang sudah dikirimkan tadi, akan dilakukan proses rekonsiliasi di server, hasil dari proses rekonsiliasi tersebut dapat di-download oleh bank. Setelah Bank menerima file tersebut, Bank dapat melihat hasil dari proses rekonsiliasi. Jika ternyata masih ditemukan data yang tidak sama, maka bank dapat mengirimkan kembali data-data dengan perubahan yang diperlukan. Aplikasi Portal Rekon akan diakses oleh seluruh Bank/Pos secara bersamaan pada saat melakukan rekonsiliasi. Dengan demikian, design aplikasi harus dibuat dengan

E. Ruang Lingkup Pekerjaan Pengembangan Sistem Aplikasi BackOfice Administration Aplikasi Back-Office Administration digunakan untuk menangani transaksi yang diterima oleh Bank & Kantor Pos dalam keadaan OffLine. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat pada lampiran H.

13

memperhatikan jumlah akses dan proses yang tinggi yang terjadi pada saat bersamaan. 3) Design Aplikasi Portal Rekon harus dibuat user friendly karena dengan demikian user akan dapat dengan mudah menggunakan aplikasi. Aplikasi Portal Rekon harus dikembangkan dengan menggunakan teknologi .Net. Portal Rekon nantinya akan diletakkan pada server dengan sistem operasi Windows Server 2003. Database dan Metode Pengaksesan Data Data transaksi penerimaan negara yang telah dilaporkan oleh bank telah disimpan dalam database Oracle. Portal Rekon akan menampilkan data-data tersebut sesuai dengan identitas user yang menggunakan sistem. Skema database untuk Portal Rekon sendiri tentunya akan dibuat sebagai salah satu bagian penting dari sistem. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah Portal Rekon harus dapat melayani jumlah maksimum user secara simultan dengan response time yang dapat diterima. Keamanan Security atau keamanan suatu aplikasi merupakan bagian yang sangat penting dari aplikasi apapun. Suatu aplikasi harus melakukan otentikasi user untuk memeriksa apakah benar yang mencoba untuk login ke dalam aplikasi adalah user tersebut. Selanjutnya aplikasi juga harus melakukan otorisasi untuk memeriksa apakah user yang login tersebut mempunyai hak untuk mengakses fitur-fitur dari aplikasi. Bank atau Kanotr Pos akan mengakses aplikasi Portal Rekon melalui jaringan komunikasi antara Bank atau kantor Pos dan DJP yang sudah ada saat ini. Standard-standard keamanan yang akan diterapkan adalah sebagai berikut: 1) Limit device sign on, sistem tidak akan menerima user yang sudah login ke dalam sistem untuk login. 2) 3 kali salah memasukkan password 4) 5) 6) 7) 8)

secara berturut-turut akan menyebabkan user di-disable. Setiap 30 hari user diharuskan untuk mengganti password. Panjang password minimal adalah 6 karakter. Nama user harus unik, tidak boleh sama dengan user yang lain. Password harus menggunakan karakter Alphanumeric. Password bersifat case sensitive. Konfirmasi setiap kali membuat password, mereset password, dan melepas lock user

Sistem juga harus menyediakan laporan audit trail berkaitan dengan Data Entry, Verification, Release (EVR). Selain itu juga harus disediakan logs terhadap keamanan sistem, seperti: Audit trail untuk user dan admin yang merekam ID, tanggal, jam, dan aktifitas. Data aktifitas user dikelompokkan berdasarkan role. Security Violation. Waktu Log on/off user. Waktu perubahan password yang terakhir. User yang tidak aktif dan waktunya. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah suatu sistem manusia/ mesin yang terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung fungsi-fungsi operasi manajemen dan pengambilan keputusan di dalam organisasi. . Sistem informasi manajeman

14

digambarkan sebagai sebuah bangunan piramida dimana lapisan dasarnya terdiri dari informasi, penjelasan transaksi, penjelasan status, dan sebagainya. Lapisan berikutnya terdiri dari sumbersumber informasi dalam mendukung operasi manajemen sehari-hari. Lapisan keriga terdiri dair sumber daya sistem informasi untuk membantu perencanaan taktis dan pengambilan keputusan untuk pengendalian manajemen. Lapisan puncak terdiri dari sumber daya informasi utnuk mendukung perencanaan dan perumusan kebijakan oleh tingkat manajemen. Sistem ini menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer, prosedur pedoman, model manajemen dan keputusan, dan sebuah basis data. Pelayanan Kantor Pajak menggunakan proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social, Technological), atau STEER (Sociocultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory), Kantor Sistem Penerimaan Pajak merupakan integrasi sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak DitJen Pajak (MP3), sistem Electronic Data Interchange UN/EDIFACT DitJen Bea & Cukai (EDI) dan Sistem Penerimaan Negara DitJen Perbendaharaan (SISPEN). Saran Pembuatan Jurnal ini sangat jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan sumber yang diperoleh. Sehingga isi dari makalah ini masih bersifat umum, oleh karena itu diharapkan agar pembaca bisa

mecari sumber yang lain guna membandingkan dengan pembahasan yang dibuat, guna mengoreksi bila terjadi kesalahan dalam penelitian ini.

Daftar Pustaka Manullang .M, 2002, Pengantar Bisnis, ugm Gadjah Mada University Press, Yogyakarya. Sadono Sukirno., Wan Sabri Husin., Danny Indrianto., Charles Sianturi., Kurniawan Saefullah., 2006, Pengantar Bisinis, Kencana, Jakarta.