Anda di halaman 1dari 12

Kuliah kelima

Teori / pemikiran Gerakan Sosial Kontemporer I struktural strain theory (Fungsionalis Psikologi Sosial)

Latar belakang
Secara history (sejarahnya) Struktural strain theory merupakan teori yang pertama dari semua teori lainnya yang masuk dalam kategori teori gersos kontemporer, teori ini muncul pada periode kedua (1950-an, Smelser dkk) dan dalam banyak hal sekaligus menjembatani pendekatan-pendekatan terdahulu yang berlatar belakang psikologi sosial/individu (mikro) pada periode pertama dengan model-model stuktural (makro) Struktural strain theory akar konseptualnya dominan mengacu pada Teori fungsionalisme (grandtheory sociological) yang sering disebut juga dengan teori Fungsionalisme Struktural, dan sedikit pengaruh Psikologi sosialnya, sering disebut jg teori Fungsionalis Psikologi Sosial (merupakan gabungan antara sosiologi dan psikologi)

Mindmap teori Fungsionalisme Psikososial


Struktural Strain Theory

Dipengaruhi Konsep Fungsionalisme (Sosiologi) Menghasilkan Civil society action/ gerakan sosial

Konsep Psikologis

Konsep sistem dalam teori fungsionalisme Dominasi teori sosiologi sangat kuat dalam teori ini, dimana teori Fungsionalisme memandang masyarakat dan pranata sosial sebagai suatu model sistem di mana seluruh bagiannya saling bergantungan satu sama lain dan bekerja bersama guna mencapai suatu keseimbangan. Dengan demikian keseimbangan merupakan unsur kunci dalam Fungsionalisme, salah satu Proposisi terpenting Fungsionalisme adalah akan selalu ada reorganisasi dikarenakan kebutuhan akan memperbaiki keseimbangan.

Skema struktural strain


Ketegangan struktural Faktor Pendorong Relative deprivation model Globalisasi atau modernisasi (model tekanan struktural) Mempengaruhi Ketidakyamanan Sosial Mendorong Social Movement The Collective behavior (model 6 tahap)

Dalam menganalisis bagaimana sistem sosial mempertahankan dan memperbaiki keseimbangan, mereka condong menggunakan nilai-nilai yang dimiliki atau standar sifat yang diterima secara umum sebagai konsep sentral.

Perubahan dalam teori fungsionalisme adalah perubahan yang bersifat perlahan-lahan dan teratur yang senantiasa menyeimbangkan kembali.Perubahan ini dikategorikan sebagai ketakseimbangan sistem yang berasal dari ketegangan struktural (struktural strain) yang berasal dari faktor luar yang dapat mengikis efektifitas sub-sistem serta menghasilkan dis-fungsi patologis yang dapat menyebabkan ketidakstabilan sistem, model ketegangan struktural ini bisa diakibatkan oleh; 1. proses perbandingan karena ada kelompok acuan (reference group) dan reference future sebagai pembanding dikenal dengan teori perampasan relatif (relative deprivation model), 2. Perbedaan nilai krn modernisasi atau Globalisasi (model tekanan struktural) dan 3. 3. Pendorong struktural/heteroginitas setting sosial (theory of collective behavior )

Jadi civil society in action yang terjadi dalam rangka untuk menjaga keseimbangan dari ketegangan sosial inilah yang memicu tindakan-tindakan kolektif. Ketegangan Struktural juga memicu ketidaknyamanan sosial (ini dibaca sebagai suatu adanya konsep psikologis).

Teori ketegangan struktural dianggap sebagai suatu teori harmonis karena menjungjung menjaga keseimbangan sebagai sebuah sistem,kalau dilihat dari asumsi dasarnya maka teori ini disebut sebagai teori stabilitas sosial dan konsensus normatif karena bersandar pada status quo.

Jadi dalam Teori gersos Fungsionalisme Psikologi Sosial Gerakan Sosial Merupakan perwujudan dari Tindakan-tindakan kolektif (civil society in action) yang terjadi karena adanya reaksi-reaksi kolektif untuk menjaga keseimbangan sebagai sebuah sistem dan adanya ketidaknyamanan psikologis (sebagai konsep psikologisnya) sebagai akibat dari adanya ketegangan struktural.

Contoh kasus yang cukup baik tentang bagaimana implikasi fungsionalisme pada level politik sebuah negara, antara lain, bisa dilihat dari kasus Indonesia. Hampir semua sarjana sosiologi atau ilmu sosial yang lain yang lulus sekolah di Amerika sampai sekitar awal dekade 1980an merupakan orang-orang yang dididik dalam tradisi fungsionalisme. Sebagian dari mereka kemudian dimanfaatkan oleh Jendral Soeharto untuk merancang trajektori pembangunan nasional selama kekuasaannya. Tidaklah mengherankan jika baik pendekatan pembangunan maupun faham politik Orde Baru sangat didominasi oleh perspektif fungsionalisme.

Setiap sikap kritis atas pelbagai kebijakan politik akan serta merta dianggap gangguan bagi stabilitas nasional, dan menghambat jalannya pembangunan. Cara yang kemudian dipakai Orde Baru untuk menghadapi sikap kritis sebagian masyarakat adalah melalui upayaupaya represi militer. Konflik, dengan demikian, tidak dikelola untuk mendinamiskan masyarakat melainkan lebih dilihat sebagai ancaman yang sangat berbahaya bukan terutama bagi kelangsungang hidup bangsa melainkan lebih bagi kelanggengan kuasa rezim yang sedang memerintah

Obsesi pada keteraturan ala Orde Baru bukan hanya telah mengkebiri sikap kritis politik masyarakat, melainkan benar-benar telah memandulkan seluruh potensi kecerdasan seluruh bangsa. Hasilnya, di balik segala kisah sukses pertumbuhan ekonomi (yang kemudian terbukti semu belaka), rezim Orde Baru menyembunyikan benih-benih kehancuran kita sebagai bangsa. Hasilnya, ketika Indonesia dilanda krisis mata uang pada tahun 1997 dengan mudah krisis tersebut mengimbas pada sektor-sektor kehidupan yang lain dan mengakibatkan sebuah krisis multidimensi yang amat parah sampai sekarang. Sebuah masyarakat, sebuah bangsa, ternyata tidak cukup hanya dipahami seperti kita memahami sebuah organisme biologis.

Sukron CARI CONTOH KASUS YG RELEVAN DALAM WILAYAH SOCIAL SOCIETY YG RELEVAN DENGAN TEORI FUNGSIONALISME