Anda di halaman 1dari 10

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA 1.

Uang, barang, dan surat berharga yang dimiliki PT Daya Mukti Migas bukan merupakan keuangan negara Pada dasarnya bentuk daripada PT Daya Mukti Migas merupakan Badan Usaha Milik Daerah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom dimana pemerintah daerah dalam kewenangan otonominya diberikan kewenangan merlakuka Penetapan pedoman dan memfasilitasi pembentukan dan pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah/Desa. Defenisi Badan Usaha Milik Daerah menurut pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1962 Tentang Perusahaan Daerah adalah semua perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-undang ini yang modalnya untuk seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan, kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang. Sedangkan untuk modal, berdasarkan pasal 7 Undang-undang tersebut bahwasannya modal dari BUMD itu sendiri berasal seluruhnya atau sebagian dari keuangan daerah yang dipisahkan. Bila kita mengacu kepada Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.17 tahun 2003 tentang keuangan negara mendefinisikan keuangan negara sebagai semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dan diperjelas dalam pasal 2 huruf g bahwa pengertian keuangan negara itu termasuk kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah; Bila secara positivistik kita mengacu kepada Undang-undang tersebut maka saya akan mengatakan bahwa Uang, barang, dan surat berharga PT. Daya Mukti Migas Merupakan keuangan negara yang dalam hal ini merupakan keuangan daerah yang dipisahkan yang menjadi modal dari perusahaan, karena jelas bahwa modal dari BUMD adalah dana dari daerah dan keuangan daerah adalah keuangan negara juga. Akan tetapi prof Arifin P. Soeria Atmadja terhadap pengertian keuangan daerah yang merupakan keuangan negara, karena tidak jelas pengertiannya tidak sependapat. Ia

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA menyatakan Reformasi di bidang keuangan negara seperti terbitnya UU No. 17 Tahun 2003 dan undang-undang lainnya termasuk pengaturan sistem pengelolaan keuangan daerah yang telah dilekatkan di dalam sistem keuangan negara. Reformasi di bidang keuangan negara membawa dampak yang serius, yakni kebaradaan keuangan daerah dalam sistem keuangan negara, seperti tidak dimuatnya pengertian, lingkup dan hubungannya dengan keuangan negara. Akibat ketidakselarasan pengertian ini dapat berdampak juga pada sistem dan kewenangan pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan oleh BPK.1 Namun dalam kerangka teoritis hukum keuangan negara, berdasarkan penafsiran Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 jo. Pasal 23 ayat (5) UUD 1945 yang dimaksud sebagai keuangan negara adalah yang ditetapkan dalam Undang-Undang APBN. Dengan dasar penafsiran itu Arifin P. Soeria Atmadja menyimpulkan secara tegas maksud keuangan negara sebagai APBN, yang kemudian menjadi dasar pemeriksaan BPK dalam memeriksa keuangan negara. Hal ini berarti keuangan lain di luar APBN tidak dapat dikategorikan sebagai keuangan negara.2 Sehingga keuangan daerah dimasukkan sebagai keuangan negara berdasarkan UU UU No. 17 Tahun 2003 adalah perdebatan Secara Hukum Administrasi Daerah, pemerintah daerah yang hal ini adalah pemerintah provinsi merupakan perpanjangan tangan dari proses pelimpahan kewenangan / separation of power dari pemerintah pusat (dekonsentrasi) yang adalah pihak yang menjalankan kewenangan pemerintah pusat di daerah yang berbeda dengan pemerintahan di daerah tingkat II, yang mendapat kewenangan dengan mekanisme otonomi daerah yang merupakan penyerahan kewenagan dari pemerintah pusat kepada daerah Pengaturan mengenai BUMD sendiri sampai saat ini masih tunduk kepada UndangUndang Nomor 5 Tahun 1962 tentang perusahaan daerah yang menurut saya tidak update karena sebagaimana kita ketahui dengan adanya otonomi daerah bentuk pemerintah daerah sudah berubah tidak seperti pada saat rezim saat Undang-undang tersebut diciptakan. Pendapat dari Prof Erman Rajaguguk menyatakan bahwasannya menurut doktrin hukum dari sistem hukum Civil Law maupun Common Law, kekayaan bank BUMN
1

Arifin P. Soeria Atmadja, Hukum Keuangan Negara Pasca 60 Tahun Indonesia Merdeka, tanpa tahun, www.Pemantauperadilan.com, akses tanggal 2 Desember 2009, hlm. 4-5. 2 Telly Sumbu, Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Kerangka Pengelolaan Keuangan Negara dan Daerah, JURNAL HUKUM NO. 4 VOL. 17 OKTOBER 2010: 567 588, hlm 571

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA Persero bukanlah kekayaan negara. Karakteristik utama badan hukum adalah pemisahan kekayaan badan hukum dari kekayaan pemilik dan pengurusnya. Perseroan Terbatas mendapat status badan hukum setelah akte pendiriannya mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan HAM. Dalam hal ini kekayaan negara sebagai pemegang saham adalah lembar-lembar saham itu sendiri. Berdasarkan Pasal 11 UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN menyatakan bahwa BUMN Persero tunduk pada UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Karena itu, UU No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan bahwa KPK berhak memeriksa BUMN Persero, karena harta kekayaan BUMN Persero termasuk sebagai harta kekayaan negara merupakan sesuatu yang keliru. Oleh karena kekayaan BUMN Persero bukan kekayaan negara, maka Pasal 2 UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang menyatakan kekayaan negara/kekayaan daerah termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah turut keliru pula.3 Sehingga dapat kita simpulkan disini bahwasannya terkain pengaturan apakah keuangan PT. Daya Mukti Migas merupakan keuangan negara, ada 2 poin perdebatan. Pertama mengenai apakah keuangan daerah yang adalah sumber modal dari BUMD merupakan keuangan daerah, dan kedua mengenai apakah keuangan BUMD tersebut adalah keuangan daerah. Saya pribadi berpendapat bahwasannya keuangan dan harta BUMD bukan merupakan keuangan negara, dikarenakan seharusnya keuangan negara hanyalah sebesar persentase saham yang dimiliki oleh daerah atau negara yang dikuasainya. Keuangan perusahaan adalah keuangan perusahaan, dan harta perusahaan adalah harta perusahaan. Secara hak, BUMD memiliki hak untuk memiliki suatu barang, karena dirinya meruopakan sebuah badan hukum perdata. Negara dalam posisinya sebagai pemberi modal adalah investor. Dan terkait keuangan daerah sendiri, saya sepakat bahwa keuangan daerah merupakan keuangan negara, karena sekalipun otonomi daereah sudah berjalan, secara ketatanegaraan negara kita adalah megara kesatuan dan bukan federasi yang daerah memiliki otonomi dalam keuangan dan pusat tidak punya otorisasi mengganggu-gugat. Akan tetapi mengenai keuangan BUMD, saya sendiri tidak sependapat dengan undang-undang keuang
3

Prof Erman Rajagukguk, Kekayaan BUMN Persero bukan kekayaan negara, tanpa tahun, http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=6831&coid=2&caid=30&gid=3, akses pada tanggal 28 Mei 2013

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA 2. apakah utang PT. Daya Mukti Migas termasuk keuangan negara? Menurut pasal 2 Undang-Undang no. 17 tahun 2003 tentang keuangan negara, maka keuangan negara meliputi: a. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman; b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga; c. Penerimaan Negara; d. Pengeluaran Negara; e. Penerimaan Daerah; f. Pengeluaran Daerah; g. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah; h. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum; i. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.

Dalam hal kita akan mengkaji apakah utang dari pihak PT. Daya Mukti Migas termasuk keuangan negara? Berdasarkan pasal 2 Undang-Undang no. 17 tahun 2003 tentang keuangan negara sebenarnya tidak diatur apakah merupakan utang milik BUMD termasuk kedalam keuangan negara, akan tetapi ketika kita mengacu pada huruf g disebutkan kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah; Pengaturan mengenai hutang ini sebenarnya belum ada, sepanjang pasal tersebut pun sebenarnya belum mengatur, yang diatur hanya keuangan yang dikelola dan pemasukan. Bila kita mengacu kepada konsep perikatan dan hukum kebendaan dalam perdata, maka hukum mengenai hutang-piutang tunduk kepada asas-asas hukum perikatan dalam KUHPerdata, salah satunya adalah Pasal 1315 KUHperdata yang menyatakan Pada

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA umumnya seseorang tidak dapat mengadakan pengikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. Dua pasal dalam hukum perdata diatas yang merupakan ketentuan umum dalam hukum perikatan perdata, pada dasarnya membuat sulit memasukkan hutang BUMD kedalam keuangan negara. Dikarenakan sesuai dengan pasal 1315 KUHperdata, maka apabila BUMD melakukan perjanjian hutang piutang dengan pihak lain, maka yang seharusnya menjadi debitur adalah BUMD bukan negara. Asas umum dalam perikatan adalah pacta sund servanda dimana ketika dilahirkan sebuah perjanjian maka berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang mengikatkan diri. Maka yang terikat dalam perjanjian dalam hal seperti ini adalah BUMD dan segala tanggungannya adalah aset dari BUMD tersebut sebagai sebuah badan hukum perdata, bukan sebagai alat negara menurut saya. Sesuai dengan asas kemandirian Perseroan terbatas sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, dimana disebutkan bahwa Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki. Jadi menurut saya, dalam posisi sebagai pemegang saham BUMD, negara tidak memiliki hubungan hukum seharusnya dengan utang BUMD, itu adalah keuangan PT. Daya Mukti Migas, karena sebagaimana alasan-alasan diatas bahwasannya negara tidak punya hubungan hukum keperdataan dengan kreditur karena posisi negara hanya sebagai pemegang saham, sedangkan kalau kita melihat dari sudut pandang lainnya apabila utang BUMD merupakan keuangan negara, keuangan negara sendiri yang menjadi mengkhawatirkan dimana apabila ada utang, negara yang akan menjadi jaminan hutang tersebut. Karena Pelunasan hutang dilakukan dengan jaminan umum didasarkan pada pasal 1131KUH Perdata dan pasal 1132 KUH Perdata.Dalam pasal 1131 KUH Perdata dinyatakan bahwa segala kebendaan debitur baik yang ada maupun yang akan ada baik bergerak maupun yang tidak bergerak merupakan jaminan terhadap pelunasan hutang yang dibuatnya. Sedangkan pasal 1132 KUH Perdata menyebutkan harta kekayaan debitur menjadi jaminan secara bersama-sama bagi semua kreditur yang memberikan hutang kepadanya.

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA 3. apakah piutang milik PT. Daya Mukti Migas merupakan keuangan Negara?

Bahwa kalau melihat undang-undang No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara, maka yang dimaksud sebagai Perbendaharaan Negara dalam pengertiannya sebagai pengelolaan keuangan negara meliputi: a. pelaksanaan pendapatan dan belanja negara; b. pelaksanaan pendapatan dan belanja daerah; c. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara; d. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran daerah; e. pengelolaan kas; f. pengelolaan piutang dan utang negara/daerah; g. pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah; h. penyelenggaraan akuntansi dan sistem informasi manajemen a. keuangan negara/daerah; i. penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD; j. penyelesaian kerugian negara/daerah; k. pengelolaan Badan Layanan Umum; l. perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD.

Dimana jelas disebutkan bahwasannya dalam huruf f pengelolaan piutang dan utang negara/daerah termasuk dalam perbendaharaan negara dalam pengertian sebagai bentuk pengelolaan keuangan negara. Akan tetapi untuk keuangan BUMD sebagai badan usaha milik daerah, belum ada pengaturan jelas mengenai piutang BUMD, tersebut apakah masuk keuangan negara atau bukan. Sedangkan apabila kita lihat Berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara, pengurusan piutang kementrian Negara/Lembaga Pemerintah Non Kementerian Negara/Lembaga Negara, piutang Pemerintah Daerah, piutang BUMN, piutang BUMD, dan piutang badan usaha yang modalnya sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh BUMN/BUMD dilakukan oleh Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN)/Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Sesuai dengan amanat yang terdapat dalam pasal 8 dan pasal 12 Undang-undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960, piutang instansi pemerintah dan badan-badan tersebut di atas instansi wajib diserahkan piutangnya kepada PUPN.

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA Dengan undang-undang tersebut, dikarenakan piutang BUMD diurus oleh panitia urusan piutang negara, maka seakan-akan piutang BUMD merupakan keuangan negara. padahal Bila dicermati, pengertian piutang negara sesuai ketentuan undang-undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 tentang PUPN tersebut di atas berbeda dengan pengertian piutang negara sebagaimana yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Di dalam Pasal 1 angka 6 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 disebutkan bahwa Piutang Negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada Pemerintah Pusat dan/atau hak Pemerintah Pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau akibat lainnya yang sah. Artinya piutang negara didefinisikan hanya sebagai piutang instansi Pemerintah Pusat saja.

Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) adalah sebuah panitia yang dibentuk untuk melakukan Pengurusan piutang negara yang dilaksanakan oleh berdasarkan UndangUndang No. 49 Prp Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara merupakan upaya Pemerintah R.I. untuk melakukan pengamanan keuangan Negara. Panitia tersebut beranggotakan unsur-unsur dari Kementerian Keuangan, Kejaksaan, Kepolisian, dan Pemerintah Daerah yang diketuai oleh unsur Departemen Keuangan R.I.4

PUPN sendiri muncul Pada tanggal 14 Desember 1960 ketika pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara. Berdasarkan Undang-Undang tersebut pemerintah membentuk Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) sebagai pengganti P3N. Guna melestarikan dan mempertahankan eksistensi kewenangan P3N, maka PUPN juga diberikan kewenangan Parate Eksekusi dalam melaksanakan tugasnya.5 Panitia Penyelesaian Piutang Negara (P3N) adalah panitia yang dibentuk berdasarkan Keputusan Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Kpts/Peperpu/0241/1958 tanggal 6 April 1958 dengan tugas melakukan penyelesaian piutang Negara dengan cara Parate Eksekusi (melaksanakan sendiri putusanputusannya seperti surat paksa, sita, lelang, dan keputusan hukum lainnya tanpa harus meminta bantuan lembaga peradilan).

Departemen Keuangan RI, Prosedur Layanan Piutang Negara, 2011, http://www.djkn.depkeu.go.id/pages/layanan-pn.html, data diakses pada tanggal 27 Mei 2013 5 Departemen Keuangan RI, Sejarah Direktorat Jendral Kekayaan Negara, 2013, http://www.djkn.depkeu.go.id/pages/sejarah-djkn.html, data diakses pada tanggal 27 Mei 2013

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA Polemik muncul bahwa ternyara PUPN dijadikan alat oleh BUMN dan BUMD untuk melakukan penagihan piutang terhadap kreditur. Padahal natuur PUPN itu sendiri adalah penagihan piutan negara secara langsung. Hal ini tidak menunjukkan bahwa peran BUMN/BUMD juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik6 sehingga pelaksaan permintaan piutang seakan-akan sangat memaksa masyarakat. Putusan Mahkamah Konstitusi nomor 77/PUU-IX/2011 yang dibacakan pada sidang terbuka pada hari Selasa, 25 September 2012 berkaitan dengan salah satu bank BUMN, yaitu BNI. Hal ini disebabkan para pemohon yang menjadi pihak yang berperkara merupakan debitur bank BNI dan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan urusan hutang piutangnya dengan BNI. Akan tetapi, putusan MK tidak hanya menyangkut BNI namun juga keseluruhan Bank-Bank BUMN karena sifat putusan MK adala erga omnes (berlaku secara umum). Dimana MK memutus bahwa PUPN tidak berhak melakukan penagihan terhadap piutang BUMN maupun BUMD. Adapun permohonan judicial review terhadap pasal 4, 8, dan 12 ayat (1) UUNo.49 Prp Tahun 1960 diakibatakan Para pemohon, yang terdiri dari 7 (tujuh) perusahaan/badan hukum privat yang merupakan debitur PT. Bank Negara Indonesia Tbk. Pada saat terjadi krisis moneter yang termasuk sebagai suatu peristiwa diluar kekuasaan (force majeure), pemohon tidak mendapatkan bantuan berupa pemberian keringanan kewajiban pembayaran termasuk pemotongan hutang (hair cut). Disisi lain, debitur-debitur bermasalah yang tidak kooperatif yang menyelesaikan kreditnya melalui Lembaga BPPN, telah menikmati pengurangan hutang pokok (hair cut) hingga mencapai diatas 50% dari hutang pokoknya. Akan tetapi, para Pemohon yang direstrukturisasi kreditnya melalui Panitia Urusan Piutang Negara ternyata hutang pokoknya semakin bertambah besar. Adanya perbedaan perlakuan ini disebabkan karena masih berlakunya ketentuan-

ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 tentang Panitia Urusan Piutang Negara. Bank-bank BUMN (termasuk PT. BNI Tbk.) hanya dapat menyelesaikan utang tidak tertagih melalui PUPN tanpa memiliki keleluasaan untuk adanya restrukturisasi utang ataupun penundaan utang. Sehingga UU yang mendasari bahwa piutang BUMN menjadi keuangan negara menjadi hilang, sehingga piutang BUMN bukanlah keuangan negara.

Naskah Akademik Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA 4. kerugian keuangan negara / daerah menurut UU No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara

Defenisi Kerugian Negara/Daerah menurut pasal 1 ayat 22 UU No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Defenisi ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan yang sebelumnya tidak sepakat dengan defenisi korupsi dalam UU Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dimana dalam dalam Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa dapat menyebabkan kerugian keuangan negara pun termasuk kedalam defenisi korupsi. Banyak yang menkritisi defenisi ini karena seakan-akan tidak menunjukkan kepastian hukum (lex certa) Prof. Erman Rajagukguk menyatakan telah terjadi perubahan pengertian Kerugian Negara itu oleh pembuat undang-undang karena Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara tersebut juga memuat sanksi-sanksi pidana, Pasal 64 Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 menyatakan: Bendahara, Pegawai Negeri bukan bendahara, dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian negara/daerah dapat tuntutan ganti rugi. (garis bawah dari saya)7 Sebagaimana disebutkan dalam pendapat Prof. Erman tersebut, maka pengertian keuangan negara sudah ada pergeseran paradigma dari pembuat Undang-undang sendiri, akan tetapi Mahkamah Konstitusi RI sendiri dalam Judicial Review terhadap pasal ini berpendapat bahwa kalimat dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara tidak bertentangan dengan hak atau atas kepastian hukum yang adil sebagaimana yang dimaksud Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945. Adanya ketidaksinkronan pengertian kerugian Negara dalam UU PTPK dan UU Perbendaharaan Negara menyebabkan tidak adanya batasan kerugian Negara yang bersifat
7

dikenai sanksi

administratif dan/atau sanksi pidana. Putusan pidana tidak membebaskan dari

Prof Erman Rajagukguk, Pengertian Keuangan Negara Dan Kerugian Negara, tanpa tahun http://www.ermanhukum.com/Makalah%20ER%20pdf/PENGERTIAN%20KEUANGAN%20NEGARA.pdf, hal. 11 data diakses tanggal 28 Mei 2013

Reindra Jasper H. Sinaga / 1006709903 UAS HUKUM ANGGARAN NEGARA tunggal. Padahal sebuah batasan yang tunggal diperlukan untuk menentukan terjadi tidaknya kerugian Negara. Dalam hal ini yang dimaksud batasan adalah ukuran-ukuran yang menjadi tolak ukur terjadinya kerugian Negara. Berangkat dari kenyataan tersebut, disertai penjelasan beberapa ahli di atas, dalam tulisan ini pengertian kerugian Negara diambil dari perspektif UU Perbendaharaan Negara untuk menentukan batasan kerugian Negara. Kerugian Negara/daerah dalam pengertian UU perbendaharaan negara, ada mekanisme penggatian kerugian, tidak dengan secara langsung di pidanakan tetapi mekanisme ganti kerugian sebagaimana dalam Bab XI secara keseluruhan UU perbendaharaan negara tersebut, mekanismenya adalah penunjukan secara langsung kepada orang yang diduga sengaja maupun lalai melakukan perbuatan yang secara melawan hukum merugikan negara atau daerah. Dan sekalipun ada putusan pidana, kerugian ini harus tetap di bayarkan. Lalu apakah dalam hal PT. Daya Mukti Migas telah melakukan kerugian keuangan negara / daerah dalam hal dia tidak menyetujui penjualan aset yang akan dilakukan DPRD dan pemerintah daerah dimana nilai aset lebih besar daripada nilai jual aset. Kalau kita berpandangan dari UU No. 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara maka menurut saya tidaklah terdapat kerugian keuangan negara dimana tidak ada secara pasti kerugian yang dialami negara yang nyata dan pasti jumlahnya oleh PT. Daya Mukti Migas, apakah dengan dia tidak melakukan persetujuan terhadap penjualan asetnya merupakan kerugian terhadap negara? Menurut saya tidak. Akan tetapi kalau dikatakan berpotensi benar. Sehingga dengan UU Pemberntasan Tindak Pidana Korupsi baru dapat dikatakan ada potensi kerugian dan dapat ditarik kepada korupsi. Sekalipun ada kerugian, akan tetapi tidak dilakukan dengan sengaja sehingga seharusnya penyelesaiannya adalah dengan mekanisme dalam UU No. 1 tahun 2004, bukan dengan UU PTK. Sesuai dengan asas Lex Priori derogat lex posteriori.