Anda di halaman 1dari 11

Cara-Cara Pengambilan Kebijakan dalam Pendidikan

Sistem pendidikan selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu, dan butuh proses yang panjang dalam implementasi perubahan itu. Yang menjadi prioritas sekarang adalah bagaimana memilih kebijakan pendidikan yang dijadikan prioritas dan bagaimana cara mengimplementasikannya agar kebijakan tersebut membawa perubahan yang diinginkan oleh si pembuat kebijakan. Sekarang cara mengaplikasikan kebijakan dalam pendidikan menjadi salah satu bagian dari penelitian-penelitian baru dalam pendidikan modern. (Rosekrans, 2006)

Seperti yang ditekankan oleh Rosekrans sebelumnya, kunci keberhasikan implementasi kebijakan dalam pendidikan (baik tingkat daerah, secara nasional bahkan secara internasional) salah satunya adalah kolaborasi (kerja sama). Tapi banyak orang merasa kalau kerja sama tidak berjalan dangan baik dalam impelemntasi setiap kebijakan pendidikan. Levin (1998) mengatakan:

Apa yang terjadi dalam implementasi kebijakan pendidikan yang diambil dari satu negara kemudian diaplikasikan ke negara lain biasanya tidak berhasil, karena seringkali kebijakan yang diadopsi di negara lain tersebut saat diaplikasikan ke negara dilakukan dengan pendekatan yang berbeda, sehingga ada hal-hal yang seharusnya diaplikasikan, namun tidak diaplikasikan sehingga implementasi kebijakan tersebut tidak berhasil.

Bahkan Levin mengatakan perubahan-perubahan kebijakan dalam pendidikan yang terjadi sekarang sebagai epidemi kebijakan. Maksudnya implementasi kebijakan harus dilihat seperti bagaimana epidemi (wabah) penyakit terjadi. Seperti halnya saat terjadi wabah, penentu penting menyebarnya suatu wabah penyakit adalah lingkungan dan orang-orang dalam lingkungan itu sendiri. Jadi dalam implementasi pendidikan, yang harusnya menjadi fokus, bukan hanya lingkungan sosial tempat kebijakan akan diaplikasikan, tapi orang-orang seperi menteri, orang-orang penting dalam departemen yang memegang peranan penting dalam penyebaran implementasi pendidikan juga harus diperhatikan bagaimana cara mereka menerapkan implementasi kebijakan tersebut (levin, 1998). Pendekatan implementasi kebijakan pendidikan dengan memperhatikan konteks kebijakan pendidikan itu sendiri dibahas Levin dalam bukunya, menekankan pentingnya peran semua yang terlibat untuk memperhatikan isi kebijakan pendidikan. Jadi selain, pemerintah, orang yang terlibat dan juga stakeholder

harus mengerti tentang konteks (isi) sebenarnya kebijakan pendidikan yang akan diimplementasikan, selain juga memperhatikan keadaan politik dan sosial dimana kebijakan tersebut diterapkan. Levin juga mempertanyakan mengapa ada beberapa komunikasi dalam penerapan kebijakan yang tidak berhasil, namun ada bentuk komunikasi yang berhasil dalam penerapan beberapa kebijakan. Levin menekankan bahwa dalam penerapan kebijakan pendidikan kita harus memperhatikan perubahan yang juga terjadi di dunia. Cara pendekatan seperti ini seperti yang juga diterapkan dalam penerapan kebijakan pendidikan yang terjadi di Negara El Salvador yang dibahas oleh Rosekran (2006) dalam bukunya dan akan menjadi dasar pembahasan pada bab berikut ini.

PENERAPAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI EL SALVADOR Mulai dari tahun 2002, Pemerintah El Salvador bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Amerika Serikat berupaya menerapkan penelitian pada beberapa pihak dan stakeholder pendidikan di El Salvador yang hasilnya akan mendorong perubahan kebijakan pendidikan di negara tersebut (Rosekrans, 2006). Kebijakan pendidikan terbaru yang akan diterapkan ini akan memfokuskan pendidikan bagi orang-orang miskin di El Salvador dan memastikan setiap anak sekolah dasar di sana dapat berhitung, membaca dan menulis. Rosekran mengambil pelajaran penting dari studi ini, yang difokuskannya pada, waktu, tempat serta keadaan politik di sana. Rosekran menekankan pentingnya mempelajari proses internal implementasi kebijakan, dan mempelajari apa-apa dan siapa yang dapat menjadi penghambat keberhasilan

implementasi kebijakan baru, dilihat dari segi politik dan juga alokasi waktu yang tersedia untuk impelementasi. Hasil penelitian Rosekrans (2006) di El Salvador ini ternyata kebetulan sekali serupa dengan penelitian yang pernah dilakukan Schwab pada tahun 1964, yang fokus pada pendekatan kerja sama bebrapa pihak dan penggunaan berbagai alat dan instrumen dalam implementasi kebijakan pendidikan. Rosekran juga berpendapat bahwa orang yang berwenang membuat suatu kebijakan juga harus berpikir dalam-dalam, apalagi karena pemikirannya akan menjadi dasar dari kebijakan yang dibuat oleh orang tersebut. Rosekran juga berpendapat, semakin banyak pandangan dari orang-orang yang berbeda untuk menelurkan suatu keputusan maka hasil kebijakan tersebut akan semakin valid. Penyatuan pandangan yang berbeda untuk menghasilkan satu kebijakan tertentu disebut pemutusan kebijakan dengan koalisi divergen. Hasil kebijakan seperti ini akan berisi perspektif dari beberapa macam pengetahuan dari berbagai bidang berbeda, baik dari bidang sosial, politik, psikologi bahkan dari pola migrasi dan juga dari berbagai grup-grup yang punya kepentingan yang berbeda-beda. Contoh berikut ini contoh pengambilan keputusan atau kebijakan yang melibatkan banyak pihak dari dari berbagai pandangan. 2

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN KEBIJAKAN DI BEBERAPA NEGARA DI AMERIKA LATIN Contoh ini akan dimulai dengan mempresentasikan pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan di bidang pendidikan negara-negara Amerika Latin pada tahun 1990an (Grindel, 2004). Analisis yang dilakukan Grindel ini memberikan kita beberapa pandangan tentang hubungan kebijakan ekonomi, politik dan juga dengan kekuasaan dan juga dengan pihak-pihak yang sedang berkuasa. Beberapa pandangan ini didapat Grindel dari gabungan beberapa penelitian yang dilakukannya di beberapa negara di Amerika Latin. Mengapa penulis memilih pengambilan keputusan di Amerika Latin karena hasil penelitian Grindel sama dengan hasil penelitian yang jgua dilakukan oleh seorang peneliti di Israel.

Fase-fase dalam Pembuatan Kebijakan Grindel memulai analisisnya dengan melihat poses reformasi yang terjadi di beberapa negara di Amerika Latin (contohnya seperti Brazil, Bolivia, Chile dan Argentina), dimulai dengan fase atau tahap penentuan agenda atau jadwal, lalu dilanjutkan ke tahap desain, adaptasi, implementasi sampai ke tahap pengawasan berjalannya kebijakan (sustainabilitas). Setiap fase ini tidak lepas dari politik, birokrasi, baik secara langsung maupun tidak langsung (Grindel, 2004).

Pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan kebijakan Grindle menyebutkan ada banyak pihak dan stakeholder yang terlibat dalam pengambilan dan pembuatan suatu keputusan atau kebijakan. Stakeholder yang dimaksud bisa berupa indivual atau orang per orang atau organisasi-organisasi tertentu yang terlibat. Pihak-pihak yang terlibat ini termasuk didalamnya pemimpin-pemimpin politik, birokrat, walikota, dan orang-orang yang tertarik dan terlibat dalam pendidikan seperti orang tua murid, persatuan guru, media dan lain-lain. dan persatuan guru biasanya sangat menentang bila ada kebijakan baru yang diterapkan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kebijakan: orang-orang yang berkuasa, misalnya presiden, menteri, orang-orang kunci dalam bidang pendidikan, selain itu faktor lain yang juga berpengaruh adalah misalnya waktu munculnya inisiatif untuk membuat kebijakan baru, dan juga hal-hal lain yang muncul selama proses pembuatan kebijakan terjadi, selain itu sejarah dan budaya pun ternyata merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kebijakan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya kebijakan baru Grindel juga membuat hipotesis beberapa faktor yang kira-kira mendorong munculnya inisiatif adanya kebijakan baru pada fase pembuatan agenda kebijakan baru, misalnya situasi politik dan ekonomi, 3

timbulnya sebuah konflik ataupun inisatif yang dimulai atau diinisiasi oleh kelompok-kelompok reformasi, Situasi ekonomi, baik adanya krisis ekonomi ataupun pertumbuhan ekonomi dapat mendorong timbulnya reformasi kebijakan. Biasanya reformasi ini punya beberapa tujuan yang ingin dipenuhi dengan adanya reformasi, misalnya untuk mengatasi krisis, mengurangi kemiskinan ataupun untuk memanipulasi ekonomi pasar. Terkadang ada juga organisasi internasional yang mendorong suatu pemerintah negara membuat kebijakan di dalam negeri, seperti Bank Dunia yang biasanya mempunyai persyaratan tertentu bagi negara-negara yang meminjam pada Bank Dunia, seperti yang kita ketahui karena memang keadaan dunia secara global sangat mempengaruhi ekonomi suatu negara yang nantinya akan berujung pada pembuatan kebijakan-kebijakan tertentu yang dipengaruhi oleh keadaan atau situasi global di dunia. Bahkan penelitian atau studi Grindel juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara kebijakan-kebijakan baru dalam pendidikan dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Aspek lain yang mempengaruhi sebuah keputusan atau kebijakan baru yang timbul, salah satunya adalah situasi dan keadaan politik dimasa pertimbangan pengambilan kebijakan baru. Salah satu temuan menarik dalam penelitian Grindel dituangkan dalam kalimat berikut ini:

Sayangnya jarang sekali pengambilan keputusan atau pengambilan kebijakan yang tujuannya untuk memperbaiki pendidikan atau memperbaiki sebuah keadaan sosial, atau untuk memperbaiki sistem yang pendidikan yang tidak baik, ataupun karena ada ide-ide baru yang lebih baik. Namun sebaliknya yang menjadi agenda prioritas yang ingin dicapai saat ada proses inisiatif kebijakan baru selalu dipengaruhi ataupun mayoritas didorong oleh agenda-agenda yang dibuat oleh partai politik atau faksi politik yang sedang berkuasa. Jadi untuk sebuah reformasi bisa jadi agenda politik, biaya reformasi yang disorongkan tersebut harus sesuai dengan keinginan politikus atau partai politik berpengaruh yang dapat lolosnya reformasi tersebut menjadi sebuah kebijakan nasional.

Bahkan Grindel mengamati bahkan kebijakan-kebijakan yang digembar-gemborkan calon politik selama masa kampanye jarang sekali mempengaruhi kebijakan-kebijakan dalam pendidikan ataupun reformasi pendidikan, walaupun mungkin pengamatan ini tidak bisa diterapkan pada kebijakan-kebijakan lain seperti ekonomi kerakyatan ataupun lingkungan. Menurut teori, Reformasi atau perubahan kebijakan bisa sukses kalo pencetus kebijakan dekat atau punya hubungan dekat dengan bagian eksekutif dan legislatif pemerintah. Namun hal seperti ini tidak terjadi di negara-negara Amerika latin, para eksekutif pemerintah (presiden, menteri, dll) di negara ini dapat 4

menggolkan suatu kebijakan tanpa ada bantuan dari legislatif atau suara dukungan dari legislatif sama sekali. Walaupun memang, anggota eksekutif di pemerintahan tetap memperhatikan pendapat atau pandangan masyarakat umum tentang kebijakan yang dibuatnya. Sayangnya, walaupun misalnya masyarakat umum atau publik beranggapan bahwa ada satu kebijakan pendidikan adalah salah satu jalan memperbaiki tahap hidup mereka dan amat sangat penting, belum tentu para anggota eksekutif pemerintah melakukan atau membuat kebijakan ramah publik seperti itu (Grindel, 2004). Kebanyakan opini publik atau suara masyarakat di Amerika latin biasanya disuarakan lewat mobilisasi kelompok-kelompok tertentu yang tinggi di mata masyarakat, misalnya lewat perwakilan-perwakilan dari universitas-universitas yang ada di Amerika Latin. Dan kelompok-kelompok kecil seperti asosiasi orang tua murid, atau organisasi lokal lainnya malah tidak pernah terdengar berusaha menyuarakan suatu kebijakan atau perubahan dalam pendidikan (reformasi pendidikan). Jadi sepertinya, suara-suara dari universitas lebih di dengar daripada suara-suara pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan pendidikan dasar seperti orang tua murid ataupun organisasi lainnya. Grindel membuat generalisasi tentang fase atau tahap agenda pembuatan kebijakan baru dengan:

Hasil analisis dari dua belas kasus penelitian yang sama di negara-negara Amerika Latin menunjukkan hanya presiden dan elit politik lain yang dapat mengajukan perubahan atau reformasi sebuah kebijakan pada level pemerintah/pembuat keputusan seperti DPR, MPR atau presiden. Mereka juga punya andil penting dalam memutuskan mana kebijakan yang harus dipilih dan mana kebijakan yang tidak. Jadi, bahkan kebijakan dalam bidang pendidikan pun selalu dilihat sebagai kebijakan elit politik.

Grindel juga menitikberatkan dua faktor utama yang juga menjadi penentu timbulnya inisiatif adanya sebuah kebijakan baru, kedua hal tersebut adalah tim-tim desain reformasi atau reformasi dan satu hal lainnya adalah konflik. Bahkan tim-tim desain reformasi ini adalah faktor utama dalam proses reformasi, seperti yang disebutkan Grindel berikut ini: Bagaimana seseorang atau satu kelompok mendesain reformasilah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah reformasi atau perubahan. Agen atau kelompok yang menginginkan reformasi harus dekat dengan para birokrat, apalagi seperti menteri dan jabatan birokrasi tinggi lainnya, juga agen atau orang atau kelompok yang menginginkan reformasi ini juga harus bisa mencari dukungan baik nasional maupun internasional agar reformasi yang diinginkannya berhasil dan tidak ditentang oleh banyak pihak yang tidak menginginkan reformasi tersebut. (Grindel, 2004)

Konflik juga menjadi salah satu faktor penting dalam proses pengambilan keputusan sebuah kebijakan baru di negara-negara Amerika Latin. Salah satu contohnya seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa kelompok-kelompok yang paling menentang sebuah kebijakan baru dalam pendidikan biasanya adalah asosiasi atau persatuan guru-guru. Persatuan guru-guru ini bahkan bisa menggolkan sebuah kebijakan baru atau dapat menghapuskan sebuah kebijakan baru bila mereka berhasil menolaknya, karena itu sebelum membuat suatu kebijakan baru dalam pendidikan biasanya asosiasi atau persatuan guru-guru ini lah yang didekati oleh pemerintah dengan pendekatan tertentu agar mereka menerima atau paling tidak merespon kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah. Penelitian Grindel ini akan dibandingkan dengan Penelitian serupa di Israel yang juga akan membahas tentang proses pengambilan keputusan atau pembuatan kebijakan dalam bidang pendidikan berikut ini:

PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN DI ISRAEL Contoh pengambilan kebijakan kali ini merupakan hasil laporan berbagai pengambilan keputusan dan kebijakan pendidikan yang terjadi di negara Israel pada tahun 1970an. Dalam contoh ini proses pengambilan kebijakan dalam pendidikan di Negara-negara Amerika latin akan dibandingkan dengan proses pengambilan keputusan/kebijakan yang terjadi di negara Israel. Seperti telah disebutkan pada bab-bab sebelumnya, reformasi besar-besaran sekolah menengah dilakukan oleh pemerintah Israel pada tahun 1970an, dan reformasi ini punya dua tujuan utama yaitu (1) Meningkatkan prestasi belajar (2) Meningkatkan interaksi sosial di dalam sekolah. Kedua tujuan ini dibuat agar Israel dapat menjawab tantangan global masyarakat modern yang semakin maju, namun sayangnya bertolak belakang dengan poin (2), yaitu integrasi sosial, agak sulit dilakukan karena Israel adalah negara yang multikultural (terdiri atas beragam budaya dan ras yang berbeda-beda).

Fase-fase Pengambilan Keputusan dalam Reformasi Sekolah Menengah di Israel Dari penelitian didapat beberapa fase berikut ini dalam pengambilan kebijakan reformasi SMP/SMA di Israel: Fase Agenda Pembuatan Kebijakan Agenda-setting phase Untuk membuka peluang untuk reformasi kebijakan maka ada tiga jendela peluang yang bisa digunakan: pertama, peluang yang didapat dari adanya masalah, yaitu kebijakan yang timbul akibat adanya masalah, lalu kedua: kebijakan sebagai alternatifm jadi kebiajakna yang akan dibuat sebagai jalan memecahkan masalah, dan ketiga: peluang yang dari politik: jadi kebijakan yang bisa timbul dari adanya ideologi-ideologi tertentu, atau ada tekanan dari masyarakat dan lain-lain.

Fase desain/fase perencanaan: saat ada jalan atau peluang bagi sebuah kebijakan, maka sebuah komite akan dibentuk untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan baru tersebut.

Munculnya Kebijakan baru: Persiapan dan pekerjaan yang dilakukan oleh komite kebijakan baru akan menghasilkan sebuah kebijakan baru yang dihasilkan dari konsensus dan perbincangan dengan berbagai pihak yang terlibat.

Fase Implementasi: saat kebijakan baru keluar, maka harus ada implementasi. Ada beberapa cara implementasi kebijakan baru, pertama mode implementasi revolusioner, jadi perubahan langsung dari atas (atasan) ke bawah. Sedangkan cara kedua adalah mode implementasi evolusioner, dimana implementasi dilakukan perlahan-lahan dari bawah ke atas, misalnya dimulai dari sekolah-sekolah yang dijadikan contoh implementasi kebijakan baru, lalu akan dilihat hasil implementasi kebijakan tersebut disekolah tersebut serta efeknya di daerah tempat sekolah tersebut berada.

Pihak-pihak yang terlibat Seperti yang telah disebutkan dalam bab 10 sebelumnya, di bawah ini adalah beberapa pihak yang terlibat dalam mendesain, merencanakan dan mengimplementasi kebijakan baru SMP di Israel yang dapat dilihat pada deskripsi berikut ini: Pemerintah pusat dan lokal (propinsi), misalnya contohnya Menteri Pendidikan, parlemen (anggota DPR dan MPR) atau juga pegawai pemerintah kota. Stakeholder seperti pemimpin-pemimpin organisasi, kepala sekolah, guru dan juga orang tua murid. Pihak eksternal: pihak di luar sistem sekolah atau pendidikan seperti Mahkamah tinggi, peneliti, partai politik, dan lain-lain. Analisis terhadap dua contoh lain juga dapat dilihat di bab 8 dan 9, juga menunjukkan ada pola yang sama seperti yang terlihat pada reformasi budaya SMA di Israel ini. Berikut ini adalah persamaan pembuatan kebijakan atau implementasi kebijakan baru yang terjadi di Amerika Latin dan Israel:

PERSAMAAN PEMBUATAN KEBIJAKAN BARU DI AMERIKA LATIN DAN ISRAEL Ada beberapa persamaan yang dapat dilihat dari pembuatan serta implementasi kebijakan baru di Israel dan negara-negara di Amerika latin.

Kesamaan dalam Fase atau tahap Pembuatan Kebijakan Sama seperti yang terjadi di Amerika Latin fase munculnya kebijakan baru di Israel juga dimulai dengan fase inisiasi (fase permulaan), dilanjutkan dengan fase diskusi antara setiap pihak yang terlibat, dan diakhiri dengan munculnya kebijakan baru yang akan diimplementasikan. Sama seperti yang juga terjadi di Israel, saat proses diskusi, bila terlalu banyak oposisi, maka kebijakan tersebut bisa ditolak.

Pihak yang terlibat Dalam dua kasus contoh diatas, pihak-pihak yang terlibat hampir sama, dan diAmerika latin maupun di Israel, pihak yang paling oposisi bila ada kebijakan baru, kedua-duanya adalah asosiasi guru atau persatuan guru-guru yang vokal menolak atau melawan sebuah kebijakan pendidikan baru.

Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Kebijakan Baru Sama seperti di Amerika Latin, di Israel, pihak atau orang yang memutuskan apakah sebuah kebijakan baru tetap dijalankan atau tidak, ditentukan oleh elit politik, seperti presiden, ataupun menteri-menteri pendidikan. Sama seperti di Israel, ideologi yang dianut negara tertentu juga jadi penentu penting dalam sebuah pengambilan kebijakan dan juga saat implementasi kebijakan baru tersebut. Miller dan Frederiks (2000) bahkan menekankan peran ideologi dalam munculnya atau pembentukan sebuah kebijakan, Miller dan Frederick mengatakan:Timbulnya suatu kebijakan baru biasanya tidak pernah berlawanan dari ideologi yang sedang dianut.

Dilihat dari kedua kasus di atas (antara Amerika Latin dan Israel), tidak ada banyak perbedaan dalam parameter pembuatan dan implementasi sebuah kebijakan, sehingga bisa diasumsikan bahwa parameter yang sama (pihak yang terlibat, fase pembuatan kebijakan dan juga faktor) juga ada dalam proses pembuatan dan implementasi kebijakan baru.

CONTOH PENGAMBILAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI NEGARA LAIN Contoh berikut adalah contoh pembuatan dan implementasi kebijakan pendidikan baru di Inggris dan Seladia Baru yang dibuat kedua negara tersebut untuk mengatasi era globalisasi, contohnya di Inggris, dibuat kebijakan untuk lebih fokus pada pengajaran teknologi dan sains, sedangkan di Selandia Baru, hal yang sama juga dilakukan (Jordan dan Yeomatis, 2003), selain itu juga ada kebijakan yang mendorong penghapusan buta huruf di Inggris dan Selandia Baru, kedua negara melakukan kebijakan penghapusan

buta huruf ini untuk menjawab masalah globalisasi ekonomi dan masalah yang ditimbulkannya pada kedua negara yang dua-dua masyarakatnya adalah multikultur (multi budaya).

Kebijakan Teknologi dan Sains dalam Pendidikan di Inggris dan Selandia Baru Kebijakan teknologi dan sains dalam pendidikan ini dilakukan terlebih dahulu di Inggris, lalu diadopsi di Selandia Baru. Kedua hal ini dilakukan dengan cara yang berbeda di kedua negara, dimana di Inggris implementasi kebijakan dimulai dengan melihat efek kebijakan tersebut pada kampus-kampus teknik di Inggris, sedangkan di Selandia Baru, implementasi kebijakan difokuskan pada skema pelatihan guru teknik dan sains. Jordan dan Yeomans (penulis dan peneliti tentang kedua kasus ini) berpendapa, walau kedua kebijakan berbeda (karena diaplikasikan pada hal yang berbeda pula), keduanya sama-sama tidak memandang ke masa depan walaupun kebijakan teknologi dan sains ini katanya sama-sama diterapkan untuk menjawab tantangang globalisasi. Karena impelementasi kebijakan pendidikan ini sama-sama tidak merubah keadaan awal walaupun kebijakan ini juga meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya riset-riset dalam ilmu pengetahuan alam (sains) dan juga riset dalam teknologi, namun keadaan awal (birokrasi, dan lain-lain) tetap tidak berubah, padahal seharusnya bila kebijakan ini diterapkan maka semua pihak yang terlibat juga harus merubah pandangan mereka terhadap sains dan teknologi dan bagaimana caranya agar mengajari murid agar fleksibel dan adaptif dan siap dalam menghadapi globalisasi, namun menurut Yeoman dan Jordan hal tersebut tidak dilakukan oleh kedua pemerintah, mereka hanya mengimplementasikan kebijakan baru mereka saja tanpa mempersiapkan masyarakatnya dengan baik untuk menghadapi masa depan global yang tidak dapat diprediksi dan tidak pasti (Jordan dan Yeoman, 2003).

Agenda Penghapusan Buta Huruf di Negara-negara yang Berpengantar Bahasa Inggris Kasus kedua yang dijadikan contoh disini adalah pembuatan kebijakan yang dapat mendorong terhapusnya buta huruf di negara-negara berbahasa pengantar bahasa Inggris (Lo Bionco, 2004). Sama seperti dalam ilmu pengetahuan, dalam pemberantasan buta huruf, kebijakan yang diambil tidak pernah lepas dari situasi politik atau keadaan politik saat kebijakan tersebut diambil. Contohnya saja pada tahun 1990an saat Organisasi Kerjasama dan Perkembangan Ekonomi, sebuah organisasi mendukung dan mensponsori demokrasi dan ekonomi pasar bebas, yang mendorong: internasional

negara-negara berkembang selalu tidak bisa berkompetisi di pasar global, dan ini disebabkan oleh masih banyaknya kasus buta huruf di negara-negara yang 9

ekonominya sedang berkembang. Pemerintah negara-negara tersebut sudah didorong untuk membuat suatu kebijakan yang akan mendorong kepedulian masyarakat akan pentingnya penghapusan buta huruf (Lo Bianco, 2004.

Lo Bianco lalu menyatakan bahwa ada dua faktor penting dalam pengaruh sebuah kebijakan terhadap pendidikan: faktor sosial dan faktor manusia. Yang disebut faktor manusia adalah pengetahuan yang dimiliki manusia tersebut yang mereka dapat/mereka kumpulkan selama mereka hidup yang dapat mereka gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dijual atau pun digunakan dalam konteks sosial. Faktor sosial, berbeda dengan faktor manusia, lebih fokus pada hubungan sosial. Kedua konsep di atas perlu diketahui untuk mengetahui latar belakang atau situasi sosial seperti apa yang mempengaruhi pengambilan sebuah keputusan atau kebijakan. Bila sebuah kebijakan pendidikan dibuat lebih fokus untuk menjawab tantangan globalisasi seperti di era sekarang, biasanya kebijakan-kebijakan tersebut akan mendorong semakin siapnya seorang individu menghadapi tantang ekonomi global. Sedangkan bila kebijakan dibuat didorong atas faktor sosial, biasanya kebijakan yang dibuat akan dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena keduanya saling bertolak belakang, maka peran pemegang kekuasaan atau elit politik akan sangat berpengaruh dalam memutuskan mana yang terlebih dahulu diprioritaskan. Pada tahun 1950an, ada istilah ilmu tentang kebijakan (policy science) yang dicetuskan dan diperkenalkan pertama kali oleh Harold Lasswell. Namun sayangnya istilah di atas tidak dapat lagi diterapkan pada masa sekarang. Karena ilmu kebijakan seperti yang diperkenalkan di tahun 1950an tersebut tidak bisa dipakai pada kompleksitas dan masalah-masalah yang timbul saat ada implementasi kebijakan baru yang terjadi pada masa yang lebih kompleks dan modern saat ini. Malah, pendekatan sekarang harus dihubungkan dengan pendekatan lingkungan malah akan lebih berhasil. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pembuatan kebijakan maka akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

KESIMPULAN Proses munculnya suatu kebijakan baru dalam pendidikan adalah proses yang sangat kompleks, yang biasanya selalu diwarnai konflik dan dinamika yang kompleks. Bentuk-bentuk dan cara-cara pembuatan atau pengambilan keputusan atau kebijakan yang di bahas dalam bab ini adalah untuk membantu pembaca memahami kompleksitas proses pengambilan atau proses pembuatan kebijakan baru dalam pendidikan, sekaligus untuk membantu pembaca mengidentifikasi atau mengenali faktor-faktor apa yang mempengaruhi sukses atau tidak suksesnya sebuah kebijakan yang baru saja diimplementasikan, seperti yang digambarkan pada beberapa contoh di Amerika Latin, Israel, Inggris dan Selandia Baru. 10

Contoh-contoh diatas dapat dijadikan referensi untuk melihat faktor dan stakeholder seperti apa yang dapat mempengaruhi pengambilan sebuah kebijakan baru dalam pendidikan.

11