Anda di halaman 1dari 18

Kuliah ke-9

New Social Movement

Social Movement Theory merupakan konsep teori tentang gerakan sosial baru (GSB). Dengan menggunakan kelompok (organisasi) sebagai unit analisis, keterlibatan anggota jg diperhitungkan namun dengan batasan tertentu. gerakan sosial memiliki semacam siklus kehidupan yakni diciptakan, tumbuh, mencapai sukses atau gagal, terkadang bubar, dan berhenti atau hilang eksistensinya. gerakan sosial dari berbagai prespektif kurang lebih memiliki semacam titik temu bahwa setidaknya ditemukan tiga faktor (variabel) yang bisa menjelaskan siklus gerakan sosial tersebut (reason for sustainability).

Mind map New Social Movement


Social Movement
Dipengaruhi

Tiga Faktor/Variabel
Pertama Kedua Ketiga

Struktur Kesempatan Politik (Political Opportunity structure)

Struktur Mobilisasi (Mobilization structure)

Pembingkaian (Framing)

-Faktor/variabel Pertama;Struktur kesempatan politik (political oppurtunity structure/POS). Mekanisme POS berupaya menjelaskan bahwa gerakan sosial terjadi karena disebabkan oleh perubahan dalam struktur politik yang dilihat sebagai kesempatan. Kesempatan politis merujuk pada keseluruhan faktor lingkungan (struktur dan sistem politis, sistem ekonomi, aliansi elit, dan lainlain) yang memfasilitasi timbulnya gerakan sosial. Para ilmuwan sosial (Charles Tilly, 1978; Doug McAdam, 1982; Sidney Tarrow, 1983) telah lama memandang kesempatan politis sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kemunculan gerakan sosial. Perubahan yang terjadi dalam struktur dan sistem politik menciptakan kemungkinan baru bagi aksi kolektif.

Kesempatan politis ini meliputi faktor-faktor 1. keterbukaan atau ketertutupan sistem kelembagaan politis, 2. konfigurasi stabilitas politis, 3. kehadiran atau ketidakhadiran sekutu elit, dan 4. kapasitas atau kemampuan negara untuk melakukan represi. Jadi suatu gerakan sosial bisa muncul jika ada kesempatan politis dalam struktur masyarakat dan atau ketidakleluasaan politik.

Perubahan dalam struktur kesempatan bisa datang dari berbagai sumber, termasuk struktur internasional atau faktor external yakni; seperti globalisasi, adanya kekuatan asing,, dan Faktor internal ; perubahan rezim atau pemerintahan dalam negeri, serta kebijakan domestik, dan konflik dan friksi politik antar elite kekuasaan . Variabel-variabel struktur kesempatan politik bekerja; Pertama; gerakan sosial muncul ketika akses tingkat terhadap lembaga-lembaga politik mengalami keterbukaan. Kedua; ketika keseimbangan politik sedang tercerai berai sedangkan keseimbangan politik baru belumlah terbentuk. Ketiga; ketika para elite politik mengalami konflik besar dan konflik ini dipergunakan oleh para pelaku perubahan sebagai kesempatan. Keempat; ketika para pelaku perubahan digandeng oleh para elite yang berada dalam sistem untuk melakukan perubahan.

Faktor/variabel kedua; Struktur mobilisasi (Mobilizing Structure) Adalah sejumlah cara kelompok gerakan sosial melebur dalam aksi kolektif, termasuk didalamnya taktik gerakan dan bentuk organisasi gerakan sosial, yg bertujuan untuk memobilisasi dan mengorganisasikan masyarakat. Struktur mobilisasi juga memasukkan serangkaian posisi-posisi sosial dalam kehidupan sehari-sehari dengan tujuannya adalah mencari lokasi-lokasi di dalam masyarakat untuk dapat dimobilisasi. Struktur Mobilisasi Target oriented rekruitmen atau pemilihan Kelompok sasaran dari berbagai segmentasi atau lapisan masyarakat

Ada dua kategori didalam membuat struktur mobilisasi yakni: struktur formal dan struktur informal 1. Struktur informal atau struktur mobilisasi mikro meliputi unit-unit keluarga, jaringan pertemanan, asosiasi tenaga sukarela, unit-unit tempat bekerja dan komunitas masyarakat tertentu. 2. Struktur formal atau struktur mobilisasi makro meliputi parpol, organisasi masyarakat atau organisasi gerakan sosial. Secara empirik dalam suatu gerakan sosial menggunakan dua struktur tersebut. Melalui cara-cara tersebut, sebuah organisasi bisa melakukan perekrutan anggota, mensosialisasikan visi, mengatasi masalah penyusupan dan membentuk opini publik.

-faktor/variabel ketiga; Pembingkaian (Framing) Proses pembingkaian (framing) merujuk ke definisi David snow diartikan sebagai upaya-upaya strategis secara sadar oleh kelompok-kelompok orang untuk membentuk pemahaman bersama tentang dunia dan diri mereka sendiri yang mengabsahkan dan mendorong aksi kolektif (konstruksi isu/problem sosial) Framing menentukan bagaimana peristiwa didefinisikan. Framing juga menentukan apakah peristiwa dianggap sebagai suatu isu (social problem) ataupun tidak. Dalam proses pendefinisian masalah sosial tersebut framing memainkan peranan penting, karena Framing merupakan mekanisme yang digunakan untuk mengarahkan perhatian khalayak bagaimana seharusnya peristiwa dilihat. Bahkan ia bisa digunakan untuk menyakinkan khalayak bahwa peristiwa tertentu adalah peristiwa besar yang harus mendapatkan perhatian seksama dari khalayak.

Dalam proses pembentukan realitas selalu menyertakan penonjolan dan pembingkaian peristiwa tertentu, penyembunyian fakta tertentu yang tidak mendukung, kita harus melihat framing sebagai sesuatu yang tidak tunggal. Sebuah peristiwa dapat dilihat dari kacamata yang berbeda, dan demikian menghasilkan frame yang berbeda pula. Dalam suatu gerakan proses framing merupakan sesuatu yang penting untuk dapat memobilisasi massa dan membentuk opini massa akan suatu isu/problem sosial tertentu Politik bahasa dan Politik Pemberitaan (pencitraan), framing dlm gersos jg merupakan proses included (Fakta yg dipilih) dan excluded (fakta yg dihilangkan) Proses Framing sumbernya berdasarkan dua hal penting yaitu: 1. Kontradiksi budaya dan alur sejarah 2. Proses framing sebagai sebuah aktivitas strategi Keretakan dan kontradiksi budaya budaya menyediakan konteks dan sekaligus kesempatan bagi kader-kader gerakan, yaitu pemimpin, partisipan aktif, aktivis dan simpatisan.

Karena diperlukan pendifinisian ideologi, simbol, semboyan, maskot atau jargon-jargon yang bisa dipahami oleh aktivis gerakan agar tujuan tercapai (bentuk framing). Menurut perspektif ini, budaya (culture), ideologi dan frame adalah aspek penting dalam gerakan sosial, karena interaksi antara ketiga aspek tersebut menjadi simbol, amunisi atau semangat untuk melakukan perubahan sosial. Budaya disini adalah merupakan strategi pemanfaatan generalized belief yg ada pada masyarakat sebagai bahan membentuk pemahaman dengan memasukan ideologi yg diusung oleh suatu organisasi gerakan sosial.

Untuk mencapai sebuah kelompok sasaran, aktor gerakan membutuhkan alat dalam menjalankan framing, yaitu media. Karenanya debat mengenai proses framing juga memasukan media sebagai sebuah topik penting. Media disini dapat berupa media cetak dan elektronik, buku, pamflet, serta dalam artian aktivitas strategi. Aktivis gerakan sosial mempergunakan warung kopi, caf dan ruang-ruang pertemuan sebagai media berdebat untuk mensosialisasikan isu sehingga kelompok masyarakat berkeinginan untuk terlibat dalam gerakan sosial tersebut. Bahkan ada yang menggunakan aksi jalanan, long march sebagai bagian dari repertoire (pilihan bentuk taktik dan strategi aksi dalam menjelaskan aksi bersama dan bentuk protes lainnya.)

Dari paparan diatas sesungguhnya telah menegaskan bahwa sukses tidaknya gerakan sosial itu juga tergantung pada berhasil tidaknya mereka dalam mengembangkan jaringan pendukung gerakan. Jika suatu gerakan mampu mengembangkan jaringan yang lebih luas, maka itu berarti mereka akan memiliki peluang keberhasilan yang tinggi. Namun jika sebaliknya, maka suatu gerakan tersebut akan mendapat banyak rintangan, atau bahkan ia akan mati sebelum mencapai apa-apa yang ditargetkannnya. Itulah mengapa John Loflan (1996) menempatkan aktivitas pengembangan jaringan sebagai prinsip mendasar dari ketiga prinsip dasar dalam mengorganisir perjuangan bersama dalam gerakan sosial.

Dalam buku Social movement Organization, dia memaparkan bahwa untuk efektivitas sebuah gerakan kolektif, maka perlu adanya frame gerakan yang memegang 3 prinsip mendasar. Pertama, Punctuation. Adanya penandaan yang bisa menjelaskan kondisi di luar yang kemudian muncul kesadaran bahwa di luar sana ada kondisi atau tindakan yang ; tidak adil, tidak manusiawi, tidak demokratis, melanggar HAM, tidak ramah lingkungan dan sebagainya. Kedua attribution, artinya pemberian atribut dan diagnosis. Identifikasi dilakukan para aktor yang awalnya dengan menyalahkankondisi problematik dengan mengidentifikasi agen-agen yg patut disalahkan atau ditentang, kemudian melakukan prognosis dengan memberikan kerangka solutif. Yang ketiga adalah articulation. Prinsip ini berisi kerangka tindakan kolektif yang memungkinkan aktor mengartikulasi dan menyusun jaringan luas misalnya melakukan event, sehingga ada kebersamaan dan pola yg kooperatif.

Studi kasus : MESIR KRITIS Semua kekuatan politik di mesir saat ini, baik yang ikut serta dalam unjuk rasa di Alun-alun Tahrir maupun di luar alun-alun tujuannya peralihan kekuasaan dari militer ke sipil Dari prespektif POS : kondisi politik Mesir yg masih blm stabil krn adanya perubahan rezim mendorong terciptanya gerakan sosial Dari prespektif Struktur mobilisasi : komunitas akademisi, parpol dan ormas. Para aktor-aktor gerakan sosial di Mesir melakukan pembingkaian aksi dengan pengemasan bahasa bahwa dewan militer yang berkuasa sekarang adalah perpanjangan tangan dari penguasa sebelumnya (Mubarok).

Dalam kajian tentang teori gerakan sosial yang telah kita pelajari sebelumnya, dapat pula diketahui bahwa perjuangan dari aktor-aktor gersos itu banyak dipengaruhi oleh aspek-aspek eksternal, atau makro maupun internal (mikro) yang melingkupi gerakan itu. Dengan demikian sesungguhnya dapat disimpulkan bahwa suatu gerakan itu tidak hanya tergantung pada sumber daya diri aktor semata, namun juga terjadi tarik menarik dengan situasi kondisi eksternal yang ada. Gagasan ini dapat digambarkan kedalam tabel di bawah ini;
Aspek Mikro (Internal Diri aktor) Aspek Makro (Eksternal Diri Aktor)

-Ideologi diri -Nilai nilai diri -Perspektif atau pandangan aktor tentang suatu fenomena yang berkembang -Sumber daya diri -Komitmen diri -Esprit de corps

-Kondusivitas struktural -Ketegangan struktural -Penyelenggaraan pemerintah -Strategi pembangunan -Model kepolitikan yang berkembang -Perkembangan diskusus: HAM, keadilan, demokrasi, dan lingkungan hidup -Situasi dan kondisi yang sedang berlangsung, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional.

Lanjutkan pendalaman materi studi kasus PERTEMUAN 9 Kasus ratu adil atau messianik (2kelompok) PERTEMUAN 10 Presentasi mengenai kasus perburuhan Perempuan (2 kelompok) PERTEMUAN 11 Presentasi dan diskusi kasus lingkungan (2 kelompok) PERTEMUAN 12 Presentasi dan diskusi mengenai kasus radikalisme agama (2 kelompok) PERTEMUAN 13 Presentasi dan diskusi mengenai kasus jejaring dunia maya (2 kelompok) Pertemuan 14 Presentasi dan diskusi kasus Global civil society, gerakan anti neoliberalisme

Sukron Matur Nuwun Terima kasih Thank you