Anda di halaman 1dari 5

Seminar Nasionat Peternakan clan veteriner 2000

BOBOT LAUIR DAN KINERJA REPRODUKSI SAM HASIL PERSILANGAN BOS TAURUS X BOS BANTENG
Instalasi Penelitian clan Pengkajian Teknologi Pertanian Gowa, Kotak Pos 4 Sungguminasa, Gowa
SURYA NATAL TAKING, MATHEus SARnmANG, clan CHALmjAH

ABSTRAK Suatu penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui produktivitas clan reproduktivitas sapi hasil persilangan Bos taurus x Bos banteng melalui aplikasi teknologi IB. Sapi yang diamati adalah persilangan Simmental x Bali sebanyak 115 ekor (46 ekor jantan clan 69 ekor betina) clan persilangan Limousine x Bali sebanyak 151 ekor (70 ekor jantan clan 81 ekor betina). Parameter yang diamati adalah bobot lahir, umur pertama kali kawin, kawin per bunting, lama bunting, kawin post partum, clan jarak beranak . Data yang cliperoleh dinalisis secara statistik dengan menggunakan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot lahir sapi hasil persilangan Simmental x Bali nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan sapi hasil persilangan Limousine x Bali. Dilihat dari jenis kelamin, bobot lahir sapi jantan nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan sapi betina baik pada persilangan Simmental x Bali maupun Limousine x Bali. Umur pertama kali kawin clan kawin per bunting tidak berbeda (P>0,05) antara kedua persilangan, tetapi lama bunting, kawin post partum, clan jarak beranak sapi hasil persilangan Simmental x Bali nyata berbeda (P<0,05) dibandingkan sapi hasil persilangan Limousine x Bali. Dengan demikian disimpulkan introduksi pejantan Bos taurus terutama Simmental melalui 113 dapat memperbaiki bobot lahir, lama bunting, kawin post partum, clan jarak beranak; tetapi belum mempengaruhi umur pertama kali kawin clan jurnlah pelayanan per kebuntingan sapi-sapi hasil silangannya.
Kata kunci :

Bobot lahir, kinerja reproduksi, sapi PENDAHULUAN

Permintaan akan produk peternakan terutama daging semakin meningkat dari tahun ke tahun . Hal ini menandakan bahwa semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dalam keluarga, terutama yang bersumber dari protein hewani . Sebagai konsekuensinya, perlu peningkatan produktivitas ternak. Sapi Bali adalah salah satu plasma nutfah di Indonesia sangat potensial sebagai penyedia claging . Sapi ini mudah beradaptasi dengan lingkungan dimana dia berada clan memiliki potensi genetis serta nilai ekonomis tinggi untuk dikembangkRn sebagai ternak potong.

Kenyataan menunjukkan bahwa produktivitas sapi Bali saat ini menurun dari tahun ke tahun sehingga tidak mampu lagi diandalkan sebagai penyedia claging untuk kebutuhan masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengurasan/pemotongan sapi Bali yang memiliki produktivitas tinggi secara terus-menerus dari daerah produsen tanpa memperhatikan upaya penerapan program pemuliaan (seleksi) secara tepat. Selain itu adanya dugaan faktor perkawinan sekeluarga (inbreeding) yang mana akan meningkat demjat homosigot sehingga daya tahan (hybrid vigor) tubuh, fertilitas clan mutu genetik sapi Bali semakin menurun. Hal ini menandakan perlu adanya penerapan teknologi peternakan secara tepat. Inseminasi buatan (IB) adalah satu bioteknologi reproduksi yang dapat digunakan untuk memperbaiki mutu genetik sapi. Hal ini tidak terlepas dari peranannya untuk meningkatkan populasi ternak, memperbaiki mutu genetik ternak melalui penggunaan pejantan unggul clan pencegahan 75

Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner 2000

penyakit yang dapat berpindah melalui perkawinan alam. Bioteknologi ini sudah lama diterapkan pada sapi di Indonesia (sejak tahun 1952) namun sampai saat ini hasilnya bervariasi . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penerapan IB melalui penggunaan pejantan unggul Bos taurus (Simmental dan Limousine) terhadap bobot lahir dan kinerja reproduksi sapi hasil persilangannya . MATERI DAN METODE Penelitian dilaksanakan di kabupaten Bantaeng (Sulawesi Selatan) sebagai salah satu daerah/lokasi pelaksanaan program inseminasi buatan pada T.A . 1997/199 8. Jenis sapi yang digunakan adalah persilangan Simmental x Bali sebanyak 115 ekor (46 ekor jantan dan 69 ekor betina) dan persilangan Limousine x Bali sebanyak 151 ekor (70 ekor jantan dan 81 ekor betina). Data yang diamati adalah bobot lahir, tunur pertama kali kawin, kawin per bunting, lama bunting, kawin post partum dan calving interval. Data diperoleh dari petugas IB (inseminator) dan catatan petemak pemilik sapi . Selanjutnya data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Ttest menurut STEEL dan TORRiE (1993) . HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot lahir Dampak persilangan Bos taurus dengan Bos banteng melalui IB dapat memperbaiki bobot lahir sapi hasil persilangannya. Hal ini terlihat dari analisa statistik menunjukkan bahwa bobot lahir sapi hasil persilangan Simmental x Bali nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan hasil persilangan Limousine x Bali (Tabel 1) . Perbedaan bobot lahir antara kedua persilangan ini sebesar 3,32 kg. Adanya perbedaan bobot lahir ini diduga karena telah terbentuknya karakteristik tertentu untuk bobot lahir dan Adanya perpaduan sifat unggul yang dimiliki oleh masing-masing bangsa . Selain itu bobot lahir dipengaruhi oleh bobot plasenta, di mans semakin tinggi bobot plasenta diharapkan sel selnya telah tumbuh dan berkembang serta pembuluh darahnya semakin aktif melakukan fungsi fisiologisnya mentransfer nutrien untuk pertumbuhan foetus. ALEXANDER (1964) yang disitasi PUTRA (1999) mengatakan bahwa terdapat korelasi positif antara bobot plasenta dan bobot fetus serta penurunan ukuran plasenta selama masa kebuntingan akan menghasilkan bobot buaan yang rendah. Tabel 1. Bobot lahir sapi hasil persilangan Bos taums dengan Bos banteng Uraian Bangsa - Simmental x Bali - Limousine x Bali Bobot lahir (kg)
30,94 t 6,19' 27,62 t 5,04b

Jenis kelamin Simmental x Bali - Jantan 33,23 t 6,27' - Betina 29,40 t 5,65 6 Limousine x Bali - Jantan 29,71 t 5,57' - Betina 27,51 t 4,34' Keterangan : = huruf yang berbeda pads kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) 76

Seminar Nasional Peternakan dam Peteriner 2000

Bila dilihat dari jenis kelamin, ternyata hasil analisa statistik menunjukkan bobot lahir sapi jantan nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan sapi betina, baik pada persilangan Simmental x Bali maupun Limousine x Bali . Hal ini berarti jenis kelamin turut mempengaruhi bobot lahir sapi . CANTET et al . (1988) yang disitasi PUrRA (1999) mengatakan bahwa keragaan bobot lahir sapi 3665% dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur induk dan urutan tahun kelahiran. Hal yang sama dikemukakan oleh DJAGRA et al. (1979) bahwa bobot lahir dipengaruhi oleh jenis kelamin dan umur induk. Selisih bobot lahir antara sapi jantan dan sapi betina hasil persilangan Simmental x Bali dan Limousine x Bali masing-masing 3,89 dan 2,20 kg . Rataan bobot lahir yang diperoleh ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian TOEUHERE et al. (1994) yang mendapatkan bobot lahir sapi persilangan Simmental x Bali dan Limousine x Bali masing-masing 24 dan 20,75 kg . Demikian juga hasil penelitian THALIB (1989) mendapatkan bobot lahir sapi persilangan Simmental x Bali dan Limousine x Bali masing-masing 25,4 dan 24,4 kg . Hasil pengamatan TAMBING et al. (1996) di kabupaten Lombok Barat (NTB) didapatkan bobot lahir sapi persilangan Simmental x Bali 27,54 kg . Adanya variasi bobot lahir diduga selain faktor genetik, jugs kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang panas. Sebagaimana dikemukakan YusRAN et al . (1991) bahwa temperatur udara yang panas akan menurunkan bobot lahir. Kinerja reproduksi Kinerja reproduksi sapi hasil persilangan Bos taurus x Bos banteng dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kinerja reproduksi sapi hasil persilangan Simmental x Bali dan Limousine x Bali Parameter 1. Umur pertama kali kawin (bln) 2. Kawin per bunting (kali) Simmental x Bali 19,07 t 3,78' 283,50 t 14,85' 92,50 t 58,52' 407,50 5,65' 1,60 t 0,55' Limousine x Bali 22,00 t 5,66' 299,50 t 23,33 1,80 t 0,45-

3. Lama bunting (hari) 4. Kawin post partum (hari) 5. Jarak beranak (hari) Keterangan :
` = hurufyang

436,24 t 5,656 berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)

101,67 t 34,036

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa umur pertama kali bunting tidak berbeda nyata (P>0,05) antara kedua persilangan ini. Ada dugaan disebabkan oleh pengaruh pakan dan pemeliharaan, di mana pemberian pakan dan pemeliharaan yang baik selain mempercepat pertumbuhan, juga saat mulai dapat kawin. Walaupun tidak ada perbedaan antara kedua persilangan ini, akan tetapi lebih cepat bila dibandingkan dengan umur pertama kali kawin pada sapi Bali, yaitu 33,4 bulan (LIWA, 1991). Demikian pula pada kawin per bunting, ternyata tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) antara kedua persilangan ini. Namun demikian angka yang diperaleh masih masuk dalam kategori normal, yaitu 1,6 sampai 2 (TOELIHERE, 1979). Dengan semakin kecil angka kawin per bunting diharapkan bahwa angka fertilitas (conception rate) yang diperoleh akan semakin tinggi . Lama bunting pada sapi persilangan Simmental x Bali nyata lebih pendek (P<0,05) dibandingkan sapi persilangan Limousine x Bali . Sebagai perbandingan, lama bunting pada sapi Bali 285,53-287,4 hari (DARMADJA, 1980 ; LIWA, 1991).

77

Seminar Marional Peternakan dam Veteriner 2000

Kawin post partum pada sapi persilangan Simmental x Bali nyata lebih pendek (P<0,05) dibandingkan pada persilangan Limousine x Bali. Hasil yang diperoleh ini masih lebih lama dari yang ideal. Hal ini mungkin disebabkan lambatnya ovarium untuk aktif kembali sehingga menyebabkan timbulnya gejala anestrus yang mana akan memperlambat sapi-sapi tersebut untuk kawin kembali . Menurut HARDJOPRANJOTO (1995) lambatnya ternak untuk kawin kembali setelah melahirkan disebabkan pedet yang terus-menerus menyusu pada induknya, kadar LTH dalam darah tinggi menyebabkan terjadinya penurunan sekresi hormon LH dari kelenjar hipofisa anterior clan terbentuknya korpus luteum persisten . SALISBURY et al. (1985) menganjurkan sebaiknya sapi dikawinkan kembali 60 hari setelah beranak agar kondisi uterus kembali normal secara sempurna. Hasil yang diperoleh ini masih lebih baik dibandingkan kawin post partum sapi Bali 178 t 40 hari (LIWA, 1991). Pada penelitian SIREGAR et al. (1995) di Pangandaran (Ciamis) didapatkan kawin post partum pada sapi 105 t 37,5 hari. Jarak beranak pada sapi hasil persilangan Simmental x Bali nyata lebih pendek (P<0,05) dibandingkan persilangan Limousine x Bali . Namun demikian, jarak beranak pada kedua persilangan ini masih lebih baik dibandingkan jarak beranak sapi Bali 478.5 sampai 555 .48 hari (DARMADJA, i980; UWA, 1991). Pada penelitian SUTAN (1988) diperoleh jarak beranak sapi Bali di Batumaria (Sum-Sel) 444,5 hari. ASTUTI et al. (1983) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jarak beranak pada sapi adalah lama bunting, jenis kelamin anak, umur penyapihan, perkawinan per kebuntingan clan musim beranak. Namun yang terpenting adalah semakin lama pedet clipisahkan dari induknya akan semakin panjang jarak beranak. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa introduksi pejantan Bas taurus terutama Simmental melalui IB dapat memperbaiki bobot lahir, lama bunting, kawin post partum, clan jarak beranak ; tetapi belum mempengaruhi umur pertama kali kawin clan jumlah pelayanan per kebuntingan sapi hasil silangannya . Perlu penelitian lebih lanjut mengenai dampak persilangan pejantan Bos taurus dengan sapi lokal terhadap kualitas genetik turunannya. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan penghargaan clan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. 2. Dinas Peternakan Dati I Sulawesi Selatan clan Dinas Peternakan Dati II Bantaeng atas bantuan clan perhatiannya Eehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan balk. Sdr . M. Sidik Azis Hamzah, Kasman clan Empo atas bantuannya dalam pengumpulan data di lapangan. DAFTAR PUSTAKA
AsTuTi, M.,

W. HARDJOSOEBROTO, clan S. LEBDosoEKOYO . 1983 . Analisajarak beranak sapi PO di kecamatan Cangkringan, DIY. Pros. Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar. Pusat Penelitian clan Pengembangan Petemakan, Bogor. hal . 135-138 . Setengah Abad Petemakan Sapi Tradisional dalam Ekosistem Pertanian di Bali. Universitas Padjajaran, Bandung .

DARMADJA, D. 1980.

Seminar Nasional Peternakanclan Veteriner 2000


DIAGRA, I.B .K. LANA, clan K. SULANDRA. 1979. Faktor-faktor yang berpengaruh pada bobot lahir clan berat sapih sapi Bali . Proc . Seminar Keahlian di Bidang Peternakan : Thema Sapi Bali . Fakultas Kedoktemn Hewan clan Peternakan Universitas Udayana, Denpasar . HARDJOPRANJOTO, S. 1995 . Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press, Surabaya. LIwA, M. 1991 . Jarak beranak clan ripitabilitas bobot lahir sapi Bali yang dipelihara di ladang ternak PT . Bina Mulya Ternak Sul-Sel. Buletin I1mu Peternakan clan Perikanan 1(2) :50-61 . PuTRA, S. 1999 . Peningkatan Performans Sapi Bali Melalui Perbaikan Mutu Pakan clan Suplementasi Seng Asetat . Disertasi. Program Pascasarjana, Insitut Pertanian Bogor, Bogor. SALISBURY, G.W., N.L. VANDEMARK, clan R. DiANuAR. 1985 . Fisiologi Reproduksi clan lnseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah mada University Press, Yogyakarta. SIREGAR, S.B ., S.N . TAMBING, clan P. SITORUS. 1995 . Upaya memacu peningkatan populasi sapi potong melalui pelaksanaan inseminasi buatan di daerah Ciamis, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Peternakan Indonesia. 2: 31-35. STEEL, R.G .D . clan J.H . TGRRIE . 1993 . Prinsip clan Prosedur Statistika : Suatu Pendekatan Biometrik. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. SuTAN, S.M . 1988 . Suatu Perbandingan Performans Reproduksi clan Produksi antara Sapi Brahman, PO clan Bali di Daerah Transmigrasi Batumarta Sumatera Selatan. Disertasi. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. THALm, Ch . 1989. Pengaruh bangsa pejantan, jenis kelamin clan musim terhadap bobot lahir clan lama kebuntingan pedet hasil persilangan Bos taurus x Bos banteng . Proc. Pertemuan Ilmiah Ruminansia. Balai Penelitian Temak, Bogor. TAMBING, S.N ., SRi RACHMAwAn, clan P. SrTORUS. 1996 . Bobot lahir, lingkar dada clan bobot badan anak sapi hasil IB persilangan antara pejantan Bos taurus dengan induk sapi lokal di kabupaten Lombok Barat, NTB. Pros. Seminar Nasional Peterakan clan Veteriner. Pusat Penelitian clan Pengembangan Petemakan, Bogor. hal. 471-474.
TORLMERR ,

M.R. 1979 . Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung.

TOELIHERE, M.R ., P. KuNE, J.I . MANAFE, BURHANUDDIN, Y. KUAHATI, RL .L . BELLY, I.G .N . JELANTIK, clan n Teknik Produksi clan Reproduksi Temak Sapi di Desa Naiola-TTU . M.L. MULLIK. 1994 . Perbaika Laporan Pengabdian Pada Masyarakat . Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana, Kupang. YusRAN, M.A., K. MA'sum, clan N. KUSumA. 1991 . Perbandingan daya tahan panas sapi betina dewasa antara sapi Bali dengan persilangannya dengan Bos taurus. Pros. Seminar Nasional Sapi Bali . Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.