Anda di halaman 1dari 21

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOEDONO SMF OBSTETRI GINEKOLOGI Jl. Dr. Soetomo 59. Telp.

. 0351-464326 pswt.150

LAPORAN KASUS No. Rekam Medis : 6338227

IDENTITAS Nama pasien Nama suami Agama Pendidikan istri Pekerjaan istri Lama menikah Alamat Telpon : Ny. Rahmawati : Tn. Dadik : Islam : SMU : IRT : 11 tahun : Desa Krajan RT 12/RW 06 Mejayan, Madiun : 085233598988 pendidikan suami: SMU pekerjaan suami : Swasta umur : 34 th umur : 45 th

MASUK dan KELUAR RS Masuk : 07-11-2013 Keluar : 10-11-2013

ANAMNESIS Keluhan utama : Pasien kiriman BPS dengan GIIIP1011 umur kehamilan 39/40

minggu dengan BSC dan curiga bayi besar. Pasien belum ada merasakan kencengkenceng, keluar lendir/darah maupun ketuban mengalir. Hasil USG terakhir di dr. Suwardi, Sp.OG dikatakan tidak dapat lahir pervaginam dikarenakan ukuran bayi besar. HPHT : 01 02 2013 HPL : 08 11 -- 2013

Riwayat pernikahan : Kawin : 1 kali

Umur kawin : 23 tahun Lama kawin : 11 tahun

Kontrasepsi sebelum hamil ini : tidak ada Riwayat Persalinan : 1. Aterm / 3000 / SC a/i letak oblique / RS Hasanah / L / 5th / H 2. Abortus / 3 bulan / Kuretase di RS Bakti Waluyo Caruban tahun 2011 3. Hamil ini

Riwayat Antenatal Care (ANC) : BPS (8x) terakhir 7/11/2013 dirujuk RSSM Sp.OG (4x) terakhir 4/11/2013 dikatakan TBJ 3700gr, ketuban cukup, DJJ (+)

Riwayat Persalinan Sekarang : His (-) Ketuban Pecah (-) Keluar lendir / darah (-)

PEMERIKSAAN FISIK Status Umum Tinggi badan Berat badan BMI Keadaan umum Kesadaran Vital sign : 153 cm : 70 kg : 29,9 kg/m2 : baik : compos mentis : TD Nadi : 120/80 mmhg : 86 x/mnt

Suhu : 36,7 C (axila) Nafas : 20 x/menit Kepala leher Respirasi Cardiologi :anemi (-), icteric (-), tremor (-) : ronki -/-, wheezing -/: S1S2 tunggal, bising (-)

Status Obstetri TFU : 36 cm Letak janin : kepala His (-) DJJ (+) : 11-12-12

Pemeriksaan Dalam : tidak ada pembukaan / 25% / bagian terendah janin masih tinggi / UPD N Osborn test (+)

DIAGNOSA GIIIP10011 umur kehamilan 39 / 40 minggu, tunggal hidup intar uterine letak kepala + BSC + CPD + TBJ 3600 gr.

FOLLOW UP (VK Bersalin) Tanggal SUBJECTIVE : 07 November 2013 pukul 08.15

: Pasien kiriman BPS dengan GIIIP1011 umur kehamilan 39/40 minggu : : Baik : 4 5 6 (Compos Mentis) : : 120/80 mmHg : 36,7 C : 86x/menit : 20x/menit : : 36 cm

dengan BSC dan curiga bayi besar OBJECTIVE

Keadaan umum GCS VITAL SIGN TD TEMP NADI NAFAS PX Obstetri TFU

Letak janin kepala DJJ (+) 11-12-12 His (-) Pemeriksaan Dalam : belum ada pembukaan / 25% / Bagian terendah janin masih tinggi / UPD N Osborn test (+) Px Laboratorium Hb 10,2 g/dL Hct 33,2 % Lekosit 8.800 ribu/uL Trombosit 318.000 ribu/uL :

ASSESTMENT

GIIIP10011 umur kehamilan 39 / 40 minggu, tunggal hidup intar uterine letak kepala + BSC + CPD + TBJ 3600 gr PLANNING NST USG Atas pertimbangan : BSC CPD U.k 38 minggu :

Usul semi akut SC + IUD hari ini Lapor SpV dr. Setyo Utomo, Sp.OG(K) disetujui

Tanggal

: 07 November 2013

Pukul 14.10

Persiapan pasien untuk SC (pasang infus, kateter, Ab profilaksis inj. Ceftriaxone 2gr iv

Pukul 14.30 Pukul 14.35 Pukul 14.45 Pukul 16.00

Masuk ruang Operasi SC Lahir bayi laki-laki / SC / 3700 / 52 / AS 8-9 SC selesai, pasien pindah ke IPI

Terapi post operasi Sementara puasa Cek Hb post op, bila Hb <8, pro transfusi s/d Hb >8 Drip oksitosin 2 amp dalam RL selama 12 jam Inj. Ketorolac 3x1 amp Inj. Ranitidin 3x1 amp Inj. Alinamin F 3x1 amp Inj. Vitamin C 3x1 amp Monitoring keluhan / VS / kontraksi uterus / fluxus / luka post operasi

FOLLOW UP (Ruangan Mawar) Tanggal : 08 November 2013 pukul 06.00

SUBJECTIVE OBJECTIVE

: perut terasa kembung, nyeri : :Baik :4 5 6 (Compos Mentis) : :120/60 mmHg : 72x/menit : 36oC

Keadaan umum GCS VITAL SIGN TD NADI SUHU

Kepala/ leher : Anemis (-), Icteric (-), Cyanosis (-), Dyspneu (-) PX Obstetri : TFU : 2 jari bawah pusat

Vulva / vagina fluxus (-) Kontraksi uterus (+) baik Px Laboratorium :

Hb post operasi : 10,3 g/dL Hct 34,4% Lekosit 17.100 ribu/uL Trombosit 314.000 ribu/uL :

ASSESTMENT

P20012 PP SC + IUD (a/i BSC + CPD) hari I PLANNING Diet TKTP Mobilisasi bertahap Inj. Alinamin F 3x1 Asam mefenamat 3x500 mg SF 2x1 KIE ASI eksklusif Pindah ruangan Aff infus dan kateter Monitoring keluhan / VS / Kontraksi uterus / fluxus / luka post op :

Tanggal SUBJECTIVE OBJECTIVE : keluhan (-) : :Baik

: 09 November 2013 pukul 06.00

Keadaan umum GCS VITAL SIGN TD NADI SUHU

:4 5 6 (Compos Mentis) : :120/70 mmHg : 72x/menit : 36oC

Kepala/ leher : Anemis (-), Icteric (-), Cyanosis (-), Dyspneu (-) PX Obstetri : TFU : 2 jari bawah pusat

Vulva / vagina fluxus (-) Kontraksi uterus (+) baik ASSESTMENT :

P20012 PP SC + IUD (a/i BSC + CPD) hari II PLANNING Diet TKTP Mobilisasi bertahap Asam mefenamat 3x500 mg SF 2x1 KIE ASI eksklusif Monitoring keluhan / VS / Kontraksi uterus / fluxus / luka post op :

Tanggal SUBJECTIVE OBJECTIVE : keluhan (-) : :Baik

: 10 November 2013 pukul 06.00

Keadaan umum GCS VITAL SIGN TD NADI SUHU

:4 5 6 (Compos Mentis) : :120/60 mmHg : 72x/menit : 36oC

Kepala/ leher : Anemis (-), Icteric (-), Cyanosis (-), Dyspneu (-) PX Obstetri : TFU : 2 jari bawah pusat

Vulva / vagina fluxus (-) Kontraksi uterus (+) baik ASSESTMENT :

P20012 PP SC + IUD (a/i BSC + CPD) hari III PLANNING Diet TKTP Mobilisasi Asam mefenamat 3x500 mg SF 2x1 KIE ASI eksklusif Rawat luka operasi Pro KRS hari ini :

PEMBAHASAN CEPHALO-PELVIC DISPROPORTION (CPD)

A. DEFINISI Disproporsi sefalopelvik atau Cephalo-Pelvic Disproportion (CPD) adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui jalan lahir (vagina). CPD dapat disebabkan dari ibu, yaitu panggul sempit dan dari faktor anak, yaitu janin yang besar atau karena presentasi janin yang tidak memungkinkan untuk janin melewati rongga pelvis, atau kombinasi dari keduanya. Menurut data dari World Health Report dari WHO menyatakan bahwa persalinan yang terhambat, misal akibat CPD, berperan sebanyak 8% dari jumlah seluruh kematian ibu di seluruh dunia. Ditemukan kecenderungan untuk persalinan yang terhambat tersebut menyebabkan angka kematian yang tinggi diakibatkan oleh perdarahan post partum dan infeksi / sepsis. Begitu juga dengan angka operasi seksio sesarean didapatkan bahwa distosia (akibat CPD), fetal distress, presentasi bokong, dan bekas seksio sesarean adalah empat indikasi tersering dilakukannya operasi.

B. ETIOLOGI-FAKTOR RESIKO Distosia (persalinan yang sulit) dapat disebabkan oleh karena 3 faktor, yaitu : Power (kekuatan Ibu dalam mengejan saat persalinan) Passage (jalan lahir atau ukuran panggul ibu, misal panggul sempit) Passenger (berat janin, misal bayi besar) Pada kasus CPD, kebanyakan faktor yang menyebabkan sulitnya persalinan adalah 2 faktor, yaitu passage dan passenger, faktor ibu atau faktor janin. Dari faktor ibu, biasanya disebabkan karena anatomi panggul ibu yang sempit sehingga bagian terbawah janin tidak dapat masuk ke ruang panggul. Sedangkan dari faktor janin, dapat disebabkan dari janin yang besar atau malposisi dan malpresentasi janin. 1. Panggul sempit Bila dari faktor resiko, seperti tinggi badan ibu yang kurang dari 152 cm atau status antropometri dengan BMI 25 kg/m2 maka perlu dipertimbangkan resiko panggul

ibu sempit dan tidak bisa dilewati oleh kepala bayi. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk benar-benar mengetahui apakah panggul ibu sempit atau tidak. 2. Janin yang besar Janin yang besar ialah janin yang beratnya lebih dari 4000 gr. Dari beberapa penelitian juga dikatakan janin yang beratnya lebih dari 4500 gr dapat menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Beberapa penyebab dari janin yang besar antara lain diabetes mellitus, herediter, dan multipara. Kesulitan persalinan dikarenakan kepala yang besar atau bahu yang besar. Akibatnya bila tetap dilahirkan pervaginam, resikonya dapat terjadi inersia uteri bahkan perdarahan post partum akibat atonia uteri. 3. Malposisi dan malpresentasi Presentasi muka Presentasi muka adalah presentasi kepala dengan defleksi maksimal hingga oksiput mengenai pinggul dan muka terarah ke bawah (kaudal terhadap ibu). Presentasi muka dapat disebabkan panggul sempit, bayi besar, multipara, lilitan tali pusat leher, dan anencephal. Pada pemeriksaan dalam, dapat teraba pinggir orbita, hidung, tulang pipi, mulut dan dagu.

Presentasi dahi Presentasi dahi adalah presentasi kepala dengan defleksi yang sedang. Etiologinya hampir sama dengan presentasi muka. Biasanya hanya sementara dan dapat berubah menjadi presentasi muka atau belakang kepala. Presentasi dahi jarang terjadi, dapat dicurigai bila pada pemeriksaan dalam teraba sutura frontalis, ubun-ubun besar, pinggir orbita, dan pangkal hidung. Bila presentasi dahi menetap, harus dilakukan persalinan perabdominam.

Letak lintang Pada letak lintang, sumbu panjang anak tegak lurus atau hampir tegak lurus pada sumbu panjang ibu. Pada letak lintang, bahu menjadi bagian terendah, sehingga disebut presentasi bahu atau presentasi akromion. Jika punggung terdapat didepan disebut dorsoanterior, jika dibelakang dorsoposterior. Penyebab letak lintang antara lain dinding perut yang kendur akibat multipara, panggul sempit, plasenta previa, prematuritas, kelainan bentuk uterus, mioma uteri, hidramnion, atau kehamilan ganda.

C. ANATOMI PANGGUL 1. Pintu Atas Panggul (Pelvic Inlet) Pintu atas panggul adalah suatu bidang yang dibatasi di sebelah posterior oleh promontorium, di lateral oleh linea terminalis dan di anterior oleh pinggir atas simfisis. Pada panggul ginekoid pintu atas panggul hampir bundar, kecuali di daerah promontorium agak masuk sedikit. Macam ukuran pintu atas panggul : Diameter anteroposterior, diukur dari promontorium sampai ke tengah permukaan posterior simfisis pubis, disebut pula konjugata obstetrika. Diameter paling penting karena merupakan jarak terpendek dari os sakrum ke simfisis pubis. Normalnya panjangnya sekitar 12,5 cm. Konjugata diagonalis, jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium, yang dapat diukur dengan memasukkan jari tengah dan telunjuk ke dalam vagina dan mencoba meraba promontorium. Pada panggul normal promontorium tidak teraba dengan jari yang panjangnya 12-13 cm. Konjugata vera, jarak pinggir atas simfisis dengan promontorium. Konjugata diagonalis dikurangi 1,5 cm, didapatkan panjang kurang lebih 11 cm. Diameter transversa, adalah jarak terjauh garis lintang pintu atas panggul, biasanya sekitar 12,5-13 cm. Garis yang dibuat antara persilangan konjugata vera dengan diameter transversa ke artikulasio sakroiliaka, disebut diameter oblique, panjang sekitar 12,5 cm.

2. Pintu Tengah Panggul (Pelvic cavity) Ruang tengah panggul adalah saluran diantara pintu atas panggul dan pintu bawah panggul. Dinding anterior sekitar 4 cm terdiri dari os pubis dengan simfisisnya. Dinding posterior dibentuk oleh os sakrum dan os koksigis, sepanjang 12 cm. Karena itu ruang panggul berbentuk saluran dengan sumbu melengkung ke depan. Ruang tengah panggul memiliki ukuran yang paling luas. Rata-rata ukuran diameter pintu tengah panggul adalah diameter transversal (interspinarum) sepanjang 10,5 cm, diameter anteroposterior (dari batas bawah simfisis pubis ke perbatasan antara vertebra keempat dan kelima) sepanjang 11,5 cm, dan diameter sagitalis posterior (dari titik tengah garis interspinarum ke titik tengah di sakrum) sepanjang 5 cm.

3. Pintu Bawah Panggul (Pelvic Outlet) Pintu bawah panggul bukan bidang datar, tetapi tersusun atas dua segitiga dengan diameter intertuberosum sebagai dasar keduanya. Sisi-sisi segitiga anterior dibentuk oleh kedua ramus pubis, dan puncaknya adalah pemukaan posterior inferio simfisis pubis. Sedangkan segitiga posterior di apeksnya dibatasi oleh ujung vertebra sakralis terakhir (bukan ujung os koksigis). Batas atas pintu bawah panggul adalah setinggi spina ischiadika. Jarak antara kedua spina disebut diameter bispinosum sekitar 9,5-10 cm. Batas bawah pintu bawah panggul berbentuk persegi panjang, di sebelah anterior dibatasi oleh arkus pubis, di lateral oleh tuberositas ischii, dan di posterior oleh os koksigis dan ligamentum sakrotuberosum. Pada panggul normal besar sudut arkus

pubis 90o. Jika kurang, lahirnya kepala janin akan lebih sulit karena butuh lebih banyak tempat ke posterior. Diameter anteroposterior diukur dari apeks arkus pubis ke ujung os koksigis.

Jenis Panggul menurut Caldwell-Moloy 1. Ginekoid : 45% wanita. Panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter transversa. 2. Android : 15% wanita. Bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Walau panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter transversa, tetapi diameter transversa dekat dengan sakrum. 3. Antropoid : 35% wanita. Bentuk pintu atas panggul agak lonjong seperti telur. Diameter anteroposterior lebih besar dibandingkan diameter transversa. 4. Platipelloid : 5% wanita. Diameter transversa lebih besar dibandingkan diameter anteroposterior.

Panggul Sempit Panggul dikatakan sempit bila ukurannya kurang dari ukuran yang normal. Kesempitan bisa dari pintu atas panggulm pintu tengah panggul, pintu bawah panggul atau kombinasi ketiganya. 1. Kesempitan Pintu atas panggul Pintu atas panggul dikatakan sempit bila diamter anteroposterior terpendeknya (konjugata vera) kurang dari10 cm, atau bila diameter transversa kurang dari 12 cm. Diameter biparietal janin berukuran 9,5-9,8 cm, sehingga akan sulit bila janin melewati pintu atas panggul dengan diameter anteroposterior <10 cm. Pada panggul sempit, kemungkinan kepala tertahan oleh pintu atas panggul, sehingga gaya dari kontraksi uterus dapat menekan bagian selaput ketuban di serviks. Akibatnya ketuban dapat pecah pada pembukaan kecil dan ada resiko prolapsus funikulus. Setelah selaput ketuban pecah, tidak ada tekanan kepala terhadap serviks sehingga kontraaksi jadi inefektif dan pembukaan berjalan lambat. Adanya penyempitan pintu atas panggul menyebabkan kepala janin mengapung (floating) di atas pintu atas panggul atau lebih lateral di salah satu fossa iliaka sehingga dapat menyebabkan presentasi janin berubah. Pada wanita dengan panggul sempit, presentasi wajah dan bahu 3x lebih sering dan prolaps tali pusat 4-6x lebih sering dibandingkan wanita panggul luas. Pembagian tingkatan panggul sempit : Tingkat I : CV 9-10 cm = borderline Tingkat II : CV 8-9 cm = relatif Tingkat III : CV 6-8 cm = ekstrim Tingkat IV : CV 6 cm = absolut

Pembagian menurut tindakan : CV 8-10 cm = trial of labor CV 6-8 cm = SC primer CV 6 cm = SC primer

2. Kesempitan Pintu tengah panggul Penyempitan ini lebih sering ditemukan dibandingkan penyempitan pintu atas panggul dan menyebabkan terhentinya kepala janin pada bidang transversal, yang dapat menyebabkan perlu tindakan forseps atau seksio sesarea. Bidang obstetris panggul bagian tengah membentang dari batas inferior simfisis pubis, melalui spina-

spina iskiadika, dan menyentuh sakrum dekat pertemuan antara vertebra keempat dan kelima. Garis transversal antara kedua spina iskiadika membagi panggul tengah menjadi bagian anterior dan posterior. Walau masih belum jelas, pintu tengah panggul dikatakan sempit apabila jumlah diameter interspinarum ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah (normal, 10,5 cm ditambah 5 cm, atau 15,5 cm) adalah 13,5 cm atau kurang. Patut dicurigai penyempitan panggul tengah bila diameter interspinarum kurang dari 10 cm. Bila lebih kecil daripada 8 cm, sudah pasti dapat dikatakan sempit. Karena masih belum ada metode manual untuk mengukur pasti ukuran panggul tengah, kemungkinan ada penyempitan bila spina-spina iskiadika menonjol, dinding samping panggul mengalami konvergensi, atau takik sakroiskiadika sempit. 3. Kesempitan Pintu bawah panggul Biasanya didefinisikan sebagai pemendekan diameter intertuberosum hingga 8 cm atau kurang. Menyempitnya diameter intertuberosum menyebabkan penyempitan segitiga anterior yang akan mendorong kepala janin ke arah posterior. Penentuan janin dapat lahir bergantung pada diameter intertuberosum dan diameter sagitalis posterior pintu bawah panggul. Penyempitan pintu bawah panggul tanpa disertai penyempitan pintu tengah panggul jarang terjadi, sehingga disproporsi kepala janin dengan pintu bawah panggul tidak tidak terlalu besar menimbulkan distosia berat. Hal ini berperan penting dalam menimbulkan robekan perineum. Hal ini disebabkan arkus pubis sempit sehingga oksiput tidak dapat keluar tepat di bawah simfisis pubis, melainkan menuju ramus iskiopubik sehingga perineum teregang dan mudah terjadi robekan.

D. DIAGNOSIS Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari anamnesa dan pemeriksaan fisik. Beberapa parameter yang sering dipakai untuk menentukan apakah panggul ibu sempit atau tidak ada beberapa macam. Bisa dari pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan pelvimetri. Status Antropometri Faktor resiko dari status antropometri yang sering dipakai sebagai patokan adalah tinggi badan ibu. Ibu yang tinggi badannya pendek sering dihubungkan dengan panggul sempit sehingga mengalami kesulitan saat persalinan. Dari anamnesa pada status persalinan dahulu juga bisa ditanyakan bila persalinan berjalan lancar dengan

bayi berat badan normal kemungkinan panggul sempit adalah kecil. Dari penelitian Bernard, didapatkan hubungan antara ukuran dan bentuk panggul dengan tinggi badan. 34% wanita yang tinggi badannya kurang dari 152,5 cm mempunyai panggul tipe platypelloid dibandingkan wanita yang tingginya lebih dari 176 cm. Didapatkan juga penelitian dimana angka kejadian yang tinggi untuk seksio sesarea pada wanita yang tinggi badannya kurang dari 160 cm (20%). Dari suatu penelitian di Thailand, mereka menggunakan standar tinggi ibu dibawah 145 cm yang dikatakan memiliki resiko untuk kejadian disproporsi kepala panggul. Semakin tinggi BMI ibu sebelum hamil, maka semakin besar resiko kejadian disproporsi kepala-panggul, dikarenakan obesitas. BMI 25 kg/m2 juga meningkatkan resiko seksio sesarean. Mengapa diambil status antropometri sebelum hamil, karena lebih menggambarkan status gizi ibu dan memperkirakan besar janin. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan dalam (vaginal touche) dapat diukur konjugata diagonalis, dimana diukur jarak dari promontorium ke tepi bawah simfisis pubis. Pemeriksa memasukkan 2 jari ke dalam vagina, evaluasi mobilitas koksigis dan permukaan anterior sakrum dipalpasi. Mobilitas koksigis diperiksa dengan diraba dan dicoba digerakkan maju mundur. Permukaan anterior sakrum juga diraba dari bawah ke atas dan kelengkungannya diperhatikan. Pada panggul normal hanya 3 vertebra sakralis terakhir saja yang dapat diraba, sedangkan pada panggul yang sangat sempit seluruh permukaan anterior sakrum dapat dicapai dengan mudah. Untuk mencapai promontorium, siku pemeriksa ditekan ke bawah. Jari telunjuk dan jari tengah dirapatkan dan dimasukkan menyusur naik dan ke seluruh permukaan anterior sakrum. Dengan menekan pergelangan tangan secara kuat, promontorium dapat teraba oleh ujung jari tengah seperti penonjolan tepi tulang. Ujung jari tetap menempel ke promontorium dan bagian jari yang berada di vagina diangkat sampai menempel pada arkus pubis dan titik yang paling dekat dengan jari telunjuk ditandai lalu diukur. Konjugata diagonalis yang diukur, lalu untuk mendapatkan konjugata vera dikurangi 1,5 cm. Bila konjugata diagonalis lebih besar dari 11,5 cm dapat dikatakan pintu atas panggul berukuran cukup untuk persalinan pervaginam.

Pada kehamilan aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr. Pada metode Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas ke arah rongga panggul dan tangan lain diletakkan di atas simfisis untuk menentukan apakah kepala menonjol di atas simfisis atau tidak. Bila ada penonjolan maka osborn test (+) dimana kepala tidak dapat masuk pintu atas panggul. Metode Muller Munro Kerr dilakukan dengan satu tangan memegang kepala janin dan menekan kepala ke arah rongga panggul, sedang dua jari yang masuk vagina menentukan seberapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut dan ibu jari memeriksa dari luar hubungan antara kepala dan simfisis. Pemeriksaan Pelvimetri Selain dari pemeriksaan pelvimetri secara klinis, dapat juga ditentukan dengan pemeriksaan radiologi, CT-scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Tujuannya untuk memastikan pasien mana yang benar-benar memiliki disproporsi kepala panggul. Walau tidak terlalu bermanfaat dalam penatalaksanaan persalinan, terkadang pelvimetri radiologik masih digunakan di pusat kesehatan. Tergantung dari setiap institusi kesehatan apakah memiliki alat yang menunjang untuk pemeriksaan pelvimetri ini. Dari beberapa pemeriksaan tersebut, dikatakan panggul sempit ringan apabila panjang konjugata vera 9-10 cm, sempit sedang bila konjugata vera panjangnya 8-9 cm, sempit berat panjang 6-8 cm, dan dikatakan sangat sempit bila kurang dari 6 cm. Seseorang juga bisa dicurigai beresiko untuk panggul sempit apabila : Primigravida dengan kepala anak belum turun setelah minggu 36 Pada primigravida terlihat perut menggantung Pada multigravida persalinan yang dulu sulit Kelainan letak pada hamil tua

Kelainan bentuk badan Osborn test (+)

E. TATALAKSANA Dari pemeriksaan dalam, dapat ditentukan konjugata diagonalis dan memperkirakan panjang konjugata vera. Sesuai panjang konjugata vera dapat dibedakan tatalaksananya : 1. CV 8,5-10 cm : dilakukan trial of labor yang kemungkinan bisa dengan persalinan spontan, ekstraksi vakum, seksio sesarea sekunder dengan adanya pertimbangan lain. 2. CV 6-8,5 cm : dilakukan SC primer 3. CV <6 cm : dilakukan SC primer Disamping hal-hal tersebut, pilihan tatalaksana dapat bergantung pada : His atau tenaga yang mendorong anak Besar janin, presentasi dan posisi janin Bentuk panggul Umur ibu dan tingkat sosial (High Social Value Baby) Penyakit ibu

TRIAL OF LABOR Pada panggul sempit ringan masih bisa dilakukan persalinan percobaan, sedangkan mulai panggul sempit sedang dan seterusnya dilakukan persalinan dengan seksio sesarea. Trial of labor atau persalinan percobaan adalah persalinan pervaginam pada wanita dengan panggul relatif tetap. Trial of labor dilakukan hanya pada letak belakang kepala, jadi tidak dilakukan pada kelainan letak lainnya. Trial of labor dikatakan berhasil bila anak lahir pervaginam secara spontan atau dibantu dengan ekstraksi (forceps atau vacum) dan anak dan ibu dalam keadaan baik. Menghentikan trial of labor apabila : 1. Pembukaan tidak ada atau kemajuan sangat kurang 2. Keadaan ibu atau anak menjadi kurang baik 3. Setelah pembukaan lengkap dan pecahnya ketuban, kepala dalam 2 jam tidak mau masuk kedalam rongga panggul walau his baik 4. Forceps gagal. Pada keadaan-keadaan tersebut dilakukan seksio sesarea.

SEKSIO SESAREA Seksio sesarea elektif dilakukan pada panggul sempit berat dengan kehamilan aterm, atau disproporsi sefalopelvik yang nyata. Seksio juga dapat dilakukan pada panggul sempit ringan dengan indikasi lain seperti primigravida tua dan kelainan letak janin. Seksio sesarea sekunder (setelah trial of labor beberapa waktu) dilakukan karena percobaan persalinan dianggap gagal atau ada indikasi untuk persalinan secepat mungkin sedangkan syarat persalinan pervaginam belum terpenuhi. Dari penelitian didapatkan, beberapa faktor resiko dilakukan seksio akibat CPD adalah tinggi badan ibu 154 cm, pertambahan berat badan saat hamil 16 kg, BMI sebelum hamil >25 kg/m2 dan tinggi fundus uteri 33 cm.

F. KOMPLIKASI 1. Bahaya pada ibu Partus berlangsung lama Partus lama akan menyebabkan peregangan SBR dan bila berlarut-larut akan menyebabkan ruptur uteri Infeksi intrapartum Partus lama mengakibatkan penekanan yang lama pada jaringan lunak menyebabkan edema dan hematoma jalan lahir yang kelak akan menjadi nekrotik dan terjadi fistula Simfisiolisis

2. Bahaya pada anak Karena sering terjadi ketuban pecah dini akan meningkatkan resiko infeksi intrapartum Resiko prolaps tali pusat Robekan pada tentorium serebri dan perdarahan otak akibat moulage yang hebat dan lama. Biasanya pengecilan ukuran kepala lebih dari 0,5 cm. Fraktur pada tulang kepala akibat tekanan yang hebat dari his dan alat-alat yang dipakai

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk., Obstetri Williams Edisi 21, Jakarta: EGC, 2005 Cunningham, FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Williams Obstetrics, 23rd ed. USA Prentice Hall International Inc. McGraw-Hill Companies. 2010. Khunpradit,S.,Patumanond,J., Tawichasri,C., Risk Indicators for Cesarean Section due to Cephalopelvic Disproportion in Lamphun Hospital, 2005, J Med Assoc Thai, 88 : S63-8. Maharaj,D., Assessing Cephalopelvic Disproprtion: Back to the Basics, 2010, Obstetrical and Gynecological Survey, 65 : 387-395. Saifuddin AB., Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo Edisi Keempat, Jakarta : YBP-SP, 2008. Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Bedah Kebidanan edisi pertama cetakan kedelapan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2010. Suranthapisit,P.,Thitadilok,W., Risk factors of caesarean section due to cephalopelvic disproportion, 2006, J Med Assoc Thai, 89 : S105-11. Toh-adam,R., Srisupundit,K.,Tongsong,T., Short stature as an independent risk factor for cephalopelvic disproportion in a country of relatively small-sized mothers, 2011, Arch Gynecol Obstet, 285 : 1513-1516. Wianwiset,W., Risk Factors of Cesarean Delivery due to Cephalopelvic Disproportion in Nuliiparous Women at Sisaket Hospital, 2011, Thai Journal of Obstetrics and Gynaecology, 19 : 158-164.