Anda di halaman 1dari 65

LAPORAN HASIL PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DAN BAHASA INDONESIA MELALUI PENELITIAN TINDAKAN KELAS DI KELAS V SEKOLAH DASAR

NEGERI 1 MAJATENGAH KECAMATAN KEMANGKON KABUPATEN PURBALINGGA

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4510 ) Program S1 PGSD FKIP Universitas Terbuka

Oleh KURTIMAH NIM. 822002024

UNIVERSITAS TERBUKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH PURWOKERTO TAHUN 2013

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP MATERI OPERASI BILANGAN PECAHAN DALAM PEMECAHAN MASALAH MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI KELAS V SD NEGERI 1 MAJATENGAH

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4510 ) Program S1 PGSD FKIP Universitas Terbuka

Oleh : KURTIMAH NIM. 822002024

UNVERSITAS TERBUKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UPBJJ PURWOKERTO TAHUN 2013 i

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN PEMBELAJARAN Laporan ini disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PGSD 4510 ) pada Program S1 PGSD FKIP Universitas Terbuka Nama NIM Program Studi Tempat Mengajar Pembelajaran Kelas / Semester Waktu Pembelajaran : KURTIMAH : 822002024 : S1 PGSD : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : Siklus I : Pertemuan I tanggal 20 Oktober 2013 Pertemuan II tanggal 4 Oktober 2013 Siklus II : Pertemuan I tanggal 9 Oktober 2013 Pertemuan II tanggal 11 Oktober 2013 Siklus III : Pertemuan I tanggal 16 Oktober 2013 Pertemuan II tanggal 18 Oktober 2013 Masalah yang menjadi fokus perbaikan : 1. Apakah dengan pemecahan masalah melalui metode bermain pesan terhadap operasi bilangan pecahan hasil belajar siswa dapat meningkat ? 2. Apakah siswa dapat mengetahui materi lebih baik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran ?

Mengetahui : Supervisor

Purwokerto, Desember 2013 Mahasiswa,

ANDRI TRIANIVANO M. Si NIP. 41001234

KURTIMAH NIM. 822002024

ii

ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Peningkatan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Materi Operasi Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Melalui Metode Bermain Peran di Kelas V SD Negeri 1 Majatengah . Masalah yang menjadi fokus perbaikan adalah (1) Apakah dengan pemecahan masalah melalui metode bermain peran terhadap operasi bilangan pecahan hasil belajar siswa dapat meningkat? (2) Apakah siswa dapat menguasai materi lebih baik setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran?. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini (1) untuk mendeskripsikan pemahaman siswa dalam pembelajaran siswa dalam pembelajaran setelah menggunakan pola pembelajaran bermain peran (2) untuk menganalisis dampak penggunaan pola pembelajaran metode bermain peran dalam pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi) dalam tiga siklus perbaikan pembelajaran. Dari hasil analisis kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini (1) penggunaan pola pembelajaran bermain peran pada materi yang lebih baik baik dari papan bilangan atau gambar. (2) Penggunaan pola pembelajaran bermain peran dapat meningkatklan hasil belajar siswa. Kata Kunci : Pemahaman siswa, Metode Bermain Peran.

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan laporan perbaikan pembelajaran. Laporan ini dibuat berdasarkan tuntutan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PKP ). Profesi guru memang profesi yang memerlukan inovasi dalam

implementasinya. Di era globalisasi profesionalisme seorang guru perlu ditingkatkan agar dapat melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum. Jika peserta didik mengalami permasalahan dalam pembelajaran bukan berarti peerta didik yang salah. Seorang guru yang profesional hendaklah meninjau kembali pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan cara melakukan refleksi diri. PKP merupakan salah satu materi mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa S1 PGSD, membekali mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan mengajar secara profesional melalui beberapa kegiatan dalam menemukan dan mengatasi masalah pembelajaran yang dikelolanya. Setelah melaksanakan perbaikan pembelajaran, mahasiswa diharuskan menulis laporan hasil perbaikan pembelajaran yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penulisan laporan perbaikan pembelajaran ini sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah PKP. Penulis berharap semoga laporan ini dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi dalam pembelajaran di sekolah dasar, khususnya di Sekolah Dasar Negeri 1 Majatengah UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga. Penulisan ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada : 1. Rektor Universitas Terbuka 2. Dekan FKIP UT 3. Ketua Program S1 PGSD Universitas Terbuka iv

4. Kepala UPBJJ UT Purwokerto 5. Para Dosen UPBJJ UT Purwokerto 6. Andri Ttianvano. M.Si, selaku Dosen Pembimbing 7. Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kemangkon 8. Kepala Sekolah Dasar Negeri 1 Majatengah 9. Dewan Guru SD Negeri 1 Majatengah yang telah membantu memberikan masukan 10. Semua pihak yang telah memantu proses penyusunan laporan ini

Penulis menyadari akan segala kekurangan yang terdapat dalam laporan ini, namun demikian penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat untuk kita semua.

Purwokerto,

Desember 2013 Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................... LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ......................................... ABSTRAK ................................................................................................ KATA PENGANTAR ............................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................. DAFTAR TABEL ..................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ..................................................... B. Rumusan Masalah ............................................................... C. Tujuan Penelitian ................................................................ D. Manfaat Penelitian .............................................................. KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritik ............................................................... B. Kerangka Berfikir ............................................................... C. Hipotesis Tindakan ............................................................. D. Kriteria Keberhasilan .......................................................... i ii iii iv vi vii viii ix

1 4 4 4

BAB II

6 16 17 18

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN A. Subjek Penelitian ................................................................. B. Prosedur PTK ...................................................................... C. Data Teknik Pengumpulan Data .......................................... D. Deskripsi Per Siklus ............................................................ BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Per Siklus ............................................................. B. Pembahasan ........................................................................ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT A. Kesimpulan ........................................................................... B. Saran Tindak Lanjut ...........................................................

19 20 22 22

30 35

37 37 38

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

LAMPIRAN LAMPIRAN

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Tabel Rekapitulasi Nilai Tes Ulangan Harian Pembelajaran Matematika terhadap Materi Operasi Bilangan Pecahan pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II, Siklus III ................................................. 4.2 Tabel Ketuntasan Belajar pada Siklus I,II dan III ............................. 4.3 Tabel Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran .................................................... 4.4 Tabel Keaktifan siswa dalam kegiatan perbaikan pembelajaran ...... 4.5. Rekapitulasi Keaktifan Belajar Siswa untuk setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran .................................................................... 4.6. Kenaikan Nilai Rata rata ................................................................

Halaman

30 31

33 34

34 36

vii

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Gambar Alur Kerangka Berfikir PTK .............................................. 3.1. Gambar Daur PTK ( Rusna Ristatasa, 2006:46 ) ............................. 3.2. Gambar Daur Penelitian Tindakan Kelas ......................................... 4.1. Gambar Grafik Ketuntasan Belajar Anak ........................................ 4.2. Gambar Grafik Persentase Tingkat Ketentuan Belajar Anak .......... 4.3. Diagram Batang Persentase Keaktifan Belajar Siswa ......................
4.4. Gambar Grafik Nilai Rata-rata Pra Siklus, Siklus I, II dan III Mata

Halaman 17 20 21 32 33 34

Pelajaran Matematika .......................................................................

36

viii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 39 43 47 51 52 53 54

Lampiran 1 RENCANA PERBAIKAN SIKLUS I ..................................... Lampiran 2 RENCANA PERBAIKAN SIKLUS II .................................... Lampiran 3 RENCANA PERBAIKAN SIKLUS III .................................. Lampiran 4 LEMBAR KERJA SIKLUS I .................................................. Lampiran 5 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS II ................................... Lampiran 6 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS III .................................. Lampiran 7 LEMBAR OBSERVASI .......................................................... Lampiran 8 FORMAT KETERSEDIAAN TEMAN SEJAWAT DALAM PENYELENGGARAAN PKP ................................................ Lampiran 9 SURAT PERNYATAAN ........................................................

54 55

ix

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan proses yang ditata dan diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar dalam pelaksanaanya dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pengaturan tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran. Didalam rencana pelaksanaan pembelajaran, berisi perkiraan atau gambaran mengenai apap yang diperoleh dan apa yang harus dilakukan oleh pelaku dalam pembelajaran. Matematika merupakan satu kajian yang mempunyai objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dan kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas ( Depdiknas 2004 ) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi bekerja sama secara stimulan pada tingkat atas dan bawah, yakni : Depdiknas (Direktorat Pembinaan TK dan SD). Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten dan Sekolah mengadakan langkah melalui pelatihan, bantuan profesional untuk guru, sistem peralatan, bahan tertulis dan sistem penilaian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika SD / MI. Melalui metode bermain peran diharapkan guru dapat merancang pembelajaran matematika agar pembelajaran yang dlakukan di dalam kelas dapat menyenangkan, interaktif dan kompetitif sehingga dapat membentuk pola belajar siswa / kelompok siswa secara mandiri melalui penggunaan alat peraga dan lingkungan. Pada umumnya banyak siswa kurang menyukai pelajaran matematika dengan berbagai alasan diantara susah dimengerti, gurunya galak, nilainya selalu jelek dan sebagainya. Dari nilai rata-rata perolehan nilai tes atau ujian nasionalpun nilai matematika biasanya paling rendah. Ini menunjukan ada masalah dalam pembelajaran Matematika.

Untuk membimbing siswa dalam pembelajaran dimana materi pembelajaran merupakan hal yang abstrak. Sementara siswa masih dalam tahap operasional konkret. Tidaklah mudah, apalagi untuk merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa ikut aktif terlibat dalam proses pemerolehan pengetahuan tersebut. Guru harus merancang pembelajaran dengan baik sebelum melaksanakannya. Banak guru kurang mempunyai wawasan dalam hal merancang pembelajaran dan mengembangkan meteri pembelajaran. Kegiatan

pembelajaran dianggap tugas rutin yang dilakukan hampir 90% tanpa persiapan yang matang dilaksanakannya dengan metode yang selalu sama, teknik dan model pembelajaran yang sama tanpa ada usaha memperbaikinya. Cara mengajar dilakukan dengan sebuah kebiasaan yang diperoleh dari para seniornya. Guru kurang memberkan tenik pembelajaran yang nenjadi dasar kerangka berfikir anak dalam mempelajari penjumlahan-penjumlahan dan perkalian. Dalam kaitan hal-hal diatas, penulis akan berusaha mengadakan penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode bermain peran yaitu metode pembelajaran dengan mengefektifkan penggunaan alat peraga dengan menggunakan lingkungan. Menyadari keadaan tersebut, dengan berbekal kejujuran dan keterbukaan, saya mencoba melakukan diagnosis terhadap pembelajaran yang telah dilakukan, kemudian untuk melakukan upaya perbaikan melalui Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ditempat peneliti bertugas. Mata pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang menjadi momok menakutkan bagi anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket yang penulis buat untuk anak tentang mata pelajaran yang disukai dan tidak disukai. Hasil angket menunjukan 16 anak dari 22 siswa kelas V SD Negeri 1 Majatengah tidak menyukai pelajaran matematika. Berarti, 81 % dari siswa yang ada dikelas V yang tidak suka dengan Matematika, karena takut. Nilai rata-rata hasil yang diperoleh anak untuk mata pelajaran matematika selalu lebih rendah dibanding nilai rata-rata mata pelajaran lainnya disebabkan adanya rasa takut terhadap mata pelajaran Matematika ini, Anak

cenderung bersifat pasif, anak hanya menerima konsep-konsep, mencoba dan mengerjakan latihan. Pembelajaran menjadi kurang menarik dan bermakna bagi siswa. Bahkan jika anak merasa belum memahami konsep yang diberikan oleh guru. Anak tidak merani bertanya, anak memilaih diam, karena takut disuruh mencoba. Dalam beberapa kali ulangan yang penulis adakan di kelas, hanya 4 dari 22 siswa di kelas V yang mendapat nilai 70 keatas. Berarti pembelajaran belum tuntas. 1. Identifikasi Masalah Dari hasil diskusi dengan teman sejawat dan kepala sekolah di sekolah tempat penulis mengajar, dapat diidentifikasikan beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran Matematika yang menyebabkan penguasaan anak pada materi pelajaran rendah diantaranya adalah : a. Anak merasa tidak senang terhadap mata pelajaran matematika karena kegiatan pembelajaran menakutkan dan tidak menyenangkan. b. Anak kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. 2. Analisis dan Alternatif Pemecahan Masalah Mengetahui hasil belajar siswa yang kurang jauh dari harapan, peneliti mencoba melakukan refleksi diri, dengan mengaji berbagai dokumen dan berdiskusi dengan supervisor serta banyak bertanya kepada sisiwa tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari senua proses itu akhirnya dapat dianalisis bahwa kemungkinan faktor penyebab rendahnya tingkat pemahaman dan kurangnya kesungguhan belajar terhadap materi yang di ajarkan adalah : c. Media dan pola pembelajaran yang dipilih kurang mampu

mempermudah siswa dalam memahami materi d. Kurangnya alat peraga dalam penanaman konsep pembelajaran e. Guru kurang mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang mampu membangkitkan minat sisiwa untuk belajar lebih bersungguh-sungguh. Dengan mempertimbangkan kedua faktor dan penyebab diatas dan saran supervisor, alternatif, pemecahan masalah yang akan ditempuh lebih diorientasikan pada penggunaan media dan pola pembelajaran. Untk itu

guru dalam hal ini sebagai peneliti memilih pola pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa kelas V SD dapat meningkatkan minat belajar siswa yaitu pemahaman sisiwa terhadap materi Operasi bilangan pecahan dalam pemecahan masalah dengan metode bermain peran. Penggunaan model pembelajaran dengan metode bermain peran diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa karena sisiwa SD lebih menyukai pola pembelajaran yang menyenangkan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan alternatif pemecahan masalah di atas, maka masalah yang menjadi faktor perbaikan dalam penilaian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah penerapan metode bermain peran dapat meningatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika kelas V SD N 1 Majatengah 2. Apakah metode bermain peran dalam pembelajaran Matematika kelas V dapat meningkatkan hasil belajar siswa? C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah yang diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. Mendiskripsikan penerapan metode bermain peran peningkatan keaktifan belajar sisiwa dalam pembelajaran Matematika. 2. Menganalisis dampak penggunaan model pembelajaran bermain peran terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika kelas V SD N 1 Majatengah D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat bagi siswa a. Dapat meningkatkan proses atau hasil belajar dan dapat menumbuhkan sikap kritis terhadap siswa. b. Dapat mempermudah sisiwa dalam memahami materi bilangan pecahan

2. Manfaat bagi guru ( peneliti ) a. Dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. b. Dapat meningkatkan kemampuan dalam merancang model

pembelajaran yang sesuai untuk materi bilangan pecahan, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, dan menyenangkan. 3. Manfaat bagi sekolah Membantu meningkatkan kualitas sekolah kerena adanya

peningkatan kemampuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.

Kerangka Teori 1. Pemahaman Hasil belajar mengacu pada segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Hal inilah yang dimaksud dengan pemahaman. Dalam kegiatan pembelajaran hasil belajar ini dinyatakan dalam rumusan tujuan. Oleh karena itu, setiap mata pelajaran dan kompetensi dasar menuntut hasil belajar yang berbeda. Menurut Bloom, seperti dikutip Asep Herry Hernawan, dkk ( 2007 : 10:23 ) tujuan atau hasil belajar dogolongksn menjadi tiga domain, yaitu domain kognitif, efektif dan psikomotorik. Hasil belajar kognitif mengacu pada hasil belajar yang berkenaan dengan pengembangan kemampuan otak dan kenalaran sisiwa. Menurut bloom, domain kognitif ini memiliki enam tingkatan, yaitu ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan efaluasi. a. Ingatan ( Recall ) Hasil bekajar pada tingkatan ditunjukan dengan kemampuan mengenal atau menyebutkan kembali fakta-fakta, istilah, hukum, rumus yang telah dipelajari. b. Pemahaman ( Comprehension ) Hasil belajar yang dituntut pada tingkat pemahaman adalah menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Hasil belajar pemahaman terdiri dari 3 tingkatan, yaitu : 1) Pemahaman terjemahan yaitu kemampuan menjelaskan 2) Pemahaman penafsiran yaitu kemampuan menyimpulkan 3) Pemahaman ekstrapalasi yaitu kemampuan melihat dibalik yang tertulis kemudian dapat meramalkan. c. Penerapan ( application ) Hasil belajar penerapan adalah kemempuan menerapkan suatu konsep pada situasi baru. 6

d. Analisis ( analysis ) Kemampuan untuk memecahkan, menguraikan kesatuan yang utuh menjadi unsur-unsur atau bagian yang mempunyai arti e. Sintesis ( synthesis ) Kemampuan untuk menyatakan beberapa jenis informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu komunikasi yang baru dan lebih jelas dari sebelumnya. f. Evaluasi ( evaluation ) Evaluasi adalah langkah terakhir seorang guru guna mengetahui pembelajaran yang telah dilakukan bisa diterima atau tidak bagi siswa, sehingga guru harus bisa mengukurnya dengan evaluasi sesuai dengan indikator yang diukur.

2. Kesungguhan belajar Secara umum banyak yang mengaitkan kesungguhan belajar dengan minat dan Motivasi. Kesungguhan merupakan aspek penting Motivasi yang mempengaruhi perhatian, belajar, dan berprestasi ( dalam printrich dan schunk, 1996 seperti dikutip Hera Lestari Mikarasa, dkk. 2007:33 ). Menurut Krapp, Hiddy dan Remninger seperti dikutip Hera Lestari Mikarasa, dkk. ( 2007:3.5 ) Kesungguhan merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek yang menguntungkan, menyenangkan dan lama kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya. Menurut Krapp, Hiddy dan Remninger ( dalam Printrich dan schunk, 1996 ) ada tiga macam kesungguhan, yaitu : a. Kesungguhan pribadi, sebagai suatu ciri pribadi individu yang merupakan diposisi abasi yang relatif stabil b. Kesungguhan situasional, minta yang ditimbulkan kondisi atau oleh faktor lingkungan c. Kesungguhan sebagai keadaan psikologis, menggambarkan pandangan yang interaktif, pada saat minat pribadi seseorang saling berinteraksi

dengan lingkungan untuk menghasilkan suatu keadaan psikologis dari minat diri seseorang. Menurut Hurlock seperti yang dikutip Hera Lestari Mikarasa, dkk ( 2007:3:7 ) ada empat cara minat mempengaruhi kesungguhan belajar anak, yaitu : a. Minat dapat mempengaruhi bentuk dan intensitas aspirasi b. Minat dapat sebagai pendorong c. Minat berpengaruh pada prestasi d. Minat yang berhubungan pada masa kanak-kanak dapat menjadi minat selamanya. Seorang anak tidak lahir dengan minat tertentu. Minat berkembang melalui pengalaman belajar. Seorang guru harus dapat menumbuhkan minat anak, agar perkembangan minatnya sejalan dengan meluasnya cakrawala mental anak. Cara meningkatkan minat anak : a. Trial and Error ( coba ralat ) Dengan mencoba-coba secara tidak langsung akan timbul minat terhadap sesuatu. b. Proses identifikasi pada orang yang dicintai Jika siswa diharapkan senang melakukan kegiatan waktu

pembelajaran, maka guru harus memberi contoh.

3. Media pembelajaran Model peraga merupakan bagian dari media pembelajaran. Secara harfiah media diartikan sebagai medium atau perantara. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi pembelajaran, media diartikan sebagai wahana penyalur pesan pembelajaran. Beberapa ahli dari asosiasi telah mengemukakan pengertian media pembelajaran antara lain : a. Menurut Nea seperti dikutip Asep Hery Hernawan, dkk ( 2007:11:18 ) mengertikan media pembelajaran sebagai sarana komunikasi, baik dalam bentuk corak maupun pandangan dengar. b. Menurut Miarso seperti dikutip Asep Hery Hermawan, dkk ( 2007:18:18 ) menegaskan bahwa media pembelajaran adalah segala

sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan anak didik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. c. Menurut Gagne seperti dikutip Slamet Tri Hartanto ( 2007:2 ) media pembelajaran adalah sebagai jenis komponen dalam lingkungan sisiwa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Dari batasan-batasan itu dapat disimpulakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan sisiwa sehingga dapat mendorong proses belajar pada diri siswa. Media sangat bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran. Menurut Necyclopedia of educational research ( dalam Oemar Hamalik, 2004;16 ) nilai atau manfaat media pendidikan adalah sebagai berikut : a. Meletakan dasar berfikir konkret dan mengurangi ferbalisme b. Memperbesar perhatian sisiwa c. Meletakan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusa sendiri dikalangan siswa e. Membantu tumbuhnya pengertian yang teratur dan kontinen, hal ini terutama terdapat dalam gambar hidup f. Membantu tumbuhnya pengertian, dengan demikian membantu perkembangan kemempuan berbahasa g. Memberikan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta keseragaman yang lebih banyak dalam belajar Pengelompokan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh Seells dan Gllasgous seperti yang dikutip Slamet Tri Hartanto ( 2007:6 ) dibagi kedalam dua kategori, yaitu : 1. Pilihan media tradisiobal a. Visual diam yang diproyeksikan ( OHP, slide, video )

10

b. Visual yang tak diproyeksikan ( gambar, potret, chart, grafik ) c. Audio ( rekaman, CD dan pita kaset ) d. Penyajian multi media e. Visual dinamis yang diproyeksikan ( film, televise, video ) f. Media cetak buku, koran, majalah, hand-out g. Realiti ( model, specimen, contoh, manipulasi ( peta, globe ) 2. Pilihan media mutakhir a. Media berbasis telekomunikasi ( teleconference ) b. Media bebasis mikro prosesor ( pembelajaran berbantuan computer, pembelajaran iteraktif ) Pengelompokan media yang disampaikan oleh Kemp dan Dayton ( Slamet Tri Hartanto, 2007:7 ) dikelompokan menjadi delapan jenis yaitu : media cetak, media panjang, OHT dan OHP, rekaman audio tate, slide, dan filmstrip. Penyajian multi-emage, rekaman video, dan film serta komputer.

4. Motivasi Belajar Proses belajar akan menghasilkan hasil belajar. Meski

pembelajaran telah dirumuskan secara jelas dan baik belum tentu pengajaran yang diperoleh akan optimal. Hal ini dikarenakan hasil yang baik dipengaruhi beberapa faktor. Tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, sikap dan kepribadian guru ikut menentukan keberhasilan belajar yang dicapai anak. Guru memberi peranan kepemilikan yang hakiki dalam hubungan produktifitas belajar. Ia memiliki tanggungjaawab dalam menciptakan kondisi yang serentak memenuhi kebutuhan siswa dan kebutuhan tugas ( Basuki Wibawa Dan Darida Mukti 2001;220 ). a. Pengertian Motivasi belajar matematika Motivasi belajar tidak dapat dipisahkan artinya seseorang melakukan aktifitas belajar didukung oleh suatu keinginan yang ada pada dirinya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan adanya motivasi yang tinggi dalam belajar tentunya hasil yang dicapai dapat diperoleh secara optimal. Dalam kegiatan belajar, maka Motivasi

11

dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin

kelangsungan dari kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai ( Sardiman A.M. 1987:75 ). S. Nasution ( 1995 : 760 ) mengemukakan bahwa belajar merupakan motivasi. Motivsi an essencial condition of learning. Hasil belajar pun banyak ditentukan oleh motivasi. Makin tepat motivasi yang kita berikan, makin berhasil perjalanan itu. Motivasi menentukan identitas usaha belajar anak. Motivasi dapat dikatakan serangkaian usaha untuk

menyediakan kondisi-kondisi tertentu sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan seseuatu dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk menediakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu. ( Sardiman. A M, 1997: 7 ). Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu akan tumbuh didalam diri seseorang. Hal ini berkaitan dengan adanya beberapa macam motivasi intrinsik. Heinz Kock ( 1981 : 7 ) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik yaitu dorongan untuk mencapai tujuan-tujuan ysng teerletak diluar perbuatan belajar sedangkan motivasi intrinsik yaitu dorongan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terletak di dalam perbuatan belajar. Motivasi dalam belajar dilihat dalam manifestasinya atau kegiatan nyata seseorang dalam belajarnya akan menampakan ciri-ciri sebagai berikut : a) Tekun menghadapi tugas ( dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai ) b) Ulet menghadapi kesulitan, tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin c) Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah d) Lebih senang belajar mandiri e) Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin

12

f) Dapat mempertahankan pendapatan kalau sudah yakin akan sesuatu g) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu h) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal ( Sardiman A M, 1987 : 83 ) b. Fungsi motivasi dalam belajar matematika a) Mendorong manusia untuk berbuat b) Menentukan arah perbuatan yakin kearah tujuan yang hendak dicapai c) Menyelesaikan perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan guna untuk mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Berdasarkan fungsi diatas, dapat disimpulkan fungsi utama motivasi dalam belajar adalah menolong dan mengarahkan kegiatan atau aktifitas belajar sehingga individu secaara efektif dapat mencapai tujuan belajar. c. Prinsip motivasi dan belajar Kenneth A Hover mengemukakan prinsip-prinsip motivasi yang diikuti oleh Tabrani Rusyan, Aang Kusdinar dan Zainal Arifin ( 1992 : 124 ) yaitu : a) Pujian levih efektif dari pada hukuman, hukuman bersufat menghentikan suatu perbuatan sedangkan pujian bersifat

menghargai apa yang telah dilakukan. b) Modeling c) Komunikasi terbuka d) Novelty e) Aktif dalam latihan f) Fading g) Kondisi belajar yang menyenangkan

13

d. Cara membangkitkan belajar matematika Usaha dapat dilakukan untuk menimbangkan dan

membangkitkan motivasi antara lain : a) Menghindari sugesti yang bersifat negatif b) Memberikan tujuan pembelajaran yang jelas c) Mengadakan persaingan sehat, baik individu maupun kelompok d) Memberikan pengetahuan mengenai hasil yang dicapai. Menurut Sardiman AM ( 1987 : 91 94 ) bentuk dan cara untuk membangkitkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah sebagai berikut : Semua peserta didik mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis tettentu yang harus mendapat kepuasan. Motivasi berasal dari dalam individu yang lebih efektif daripada motivasi yang dipaksakan dari luar. Terhadap jawaban ( perbuatan ) yang sesuai dengan keperluan/keinginan perlu dilakukan usaha memantapkan. Motivasi itu mudah menjalar atau tersebar kepada orang lain.

e) Pemahaman yang jelas terhadap tujuan akan merangsang motivasi f) Tugas-tugas yang datangnya dari sendiri g) Puji-pujian yang datangnya dari luar ( external reward ) h) Teknik dan prosedut mengajar yang bermacam-macam efektif untuk memelihara minat peserta didik i) Manfaat minat yang telah dimiliki oleh peserta didik bersifat ekonomis j) Kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang minat oleh peserta didik yang tergolong pandai k) Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan belajar. Dari usaha yang dilakukan untuk membangkitkan motivasi secara efektif yang penting adalah mempelajari kebutuhan sisiwa secara individual, sedalam dan seluas mungkin. Sehingga guru dapat menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan sisiwa.

14

5. Tinjauan tentang metode 1) Pengertian metode Metode merupakan komponen dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu penggunaan metode sangat dianjurkan agar interaksi yang berlangsung antara guru dan sisiwa tidak membosankan, memberikan minat dan rangsangan untuk belajar. Jadi yang dimaksud dengan metode adalah alat dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antar guru dan sisiwa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Berkaitan dengan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah teknik yang dapat digunakan untuk menyampaikan metode pelajaran dari seorang guru kepada sisiwa sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. 2) Tujuan dan fungsi metode Menurut pengertian dari metode yang digunakan dalam proses belajar mangajar terkait dari tujuan penggunaan metode yaitu untuk membantu guru untuk menyampaikan materi secara lebih mudah kepada peserta didik sehingga sisiwa dapat menguasai materi tersebut secara tepat dan akurat. Adapun fungsi dari metode secara umum adalah sebagai berikut : a. Alat bantu mewujudkan situsi belajar yang efektif b. Bagian integral dari keseluruhan situasi belajar c. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik d. Mempertinggi mutu belajar mengajar 3) Pentingnya penggunaan metode pada pengajaran matematika British Audio Visual Association menyatakan jika proses belajar mengajar hanya menggunakan metode membaca saja, maka

pengetahuan yang menghendap hanya 10%, jika mendengar saja menghendap 20%, jika melihat saja 30%, jika mendengar dan melihat bisa menghendap 50%, mengungkap sendiri bisa menghendap sendiri 90%.

15

Dari ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa metode pengajaran dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai 6. Metode Bermain Peran Metode bermain peran adalah suatu metode pembelajaran diaman seorang guru menggunakan sisiwa sebagai media atau alat pembelajaran guna terlaksananya proses pembelajaran ssuai dengan tujuan yang diharapkan. Sisiwa melakukan sesuatu sesuai dengan peran yang dibawakan sehingga proses pembelajaran akan sesuai skenario

pembelajaran. Metode ini sangat menarik bagi siswa dan akan timbul kebermakanaan dan lebih meresap bagi siswa karena sisiwa melakukannya sendiri. Bermain peran merupakan salah satu variasi dalam mengajar dan mempunyai tujuan pokok mengorganisir gerak, mimik, perilaku, emosi siswa sehingga mudah menangkap, memahami dan mencerna materi ajar tertentu. Ekspresi atau aktualisasi konsep dalam gerak dan lagu memepunyai banyak manfaat antara lain, sebagai hiburan sekaligus belajar (learning is fun). Konsep ini berperinsip bahwa semua dapat dipelajari oleh semua siswa bila kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dalam suasana menyenangkan. Kegiatan ekspresi siswa lewat bermain peran akan lebih menarik terutama para pelaku peran lebih terkesan di pribadi masingmasing. Siswa terlatih dan terasah ranah efektifnya. Bermain peran akan mengasah skill atau keterampilan siswa pada ranah efektif sekaligus psikomotoriknya. Model ini juga akan melatih penguasaan bahasa yang baik dan benar. Penguatan kompetensi dalam berbahasa menjadikan siswa belajar matematika lebih dewasa dan matang di lingkungannya. Pelaku pembelajar akan memiliki konsep yang tidak mudah hilang. Bermain peran juga merupakan atribut alat peraga. Sangat mungkin dijadikan sebagai alat bagi guru untuk menjelaskan suatu konsep. Bermain peran dalam konsep matematika akan semakin baik pula diterapkan dalam pembahasan yang susah dilihat dengan mata telanjang. Namun demikian

16

model ini banyak kendala yang dihadapi oleh siswa dan guru. Model ini memerlukan persiapan matang seperti lembar kerja siswa (LKS), skenario drama, instrumentasi evaluasi yang cepat, persiapan mengajar yang mantap serta memperhitungkan waktu yang ada. Tahap persiapan yang matang jangan mengharapkan hasil yang terbaik, bahkan akan membuang energi dan waktu secara sia-sia. Penggunaan metode ini hanyalah salah satu model menuju keberhasilan siswa. Perlu disadari guru dalam bertindak sebagai motivator, fasilitato, sekaligus akan lebih bermakna bila siswa mampumeraih keberhasilan. B. Kerangka Berfikir Yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah pemahaman sisiwa terhadap materi operasi bilangan bulat rendah. Kekurang berhasilan tersebut disebabkan oleh pola pembelajaran guru yang monoton sehingga sisiwa terlihat jenuh, bosan dan kurang bersemangat mengikuti pelajaran. Pada prinsipnya pola pembelajaran peran adalah suatu cara

pembelajaran guru yang memaksimalkan alat peraga dan lingkungan guna tercapainya pemahaman sisiwa terhadap materi. Pemahaman materi operasi bilangan pecahan tidak hanya cukup ditebak-tebak atau diterka-terka tapi siswa harus benar-benar bisa memahami, menganalisa maksud dan tujuan dari soal sehingga dibutuhkan ketekunan, ketelitian untuk sering berlatih mengerjakan soal. Proses pembelajaran ini perlu dirancang dengan mengutamakan yang mendukung siswa sebagai subjek belajar sehingga siswa dapat memahami, merasakan adanya manfaat dan tertarik untuk selalu mengembangkannya. Oleh sebab itu perlu diterapkan pembelajaran yang lebih memperdayakan sisiwa, yaknik pembelajaran pola bermain peran akan terjalin suasana belajar yang mngutamakan membosankan, kerja sama, saling menunjang, menyenangkan, tidak

belajar

dengan

bergairah.

Pembelajaran

terintegrasi,

menggunakan berbagai sumber sisiwa aktif, sharing dengan teman, sisiwa kritis dan kreatif. Pada akhir pembelajaran siswa dapat merefleksi terhadap apa yang dipelajarinya sehingga dapat meningkatkan pemahaman materi operasi bilangan pecahan.

17

Secara skematis uraian digambarkan kerangka pikirannya sebagai berikut :

KONDISI AWAL

Guru :
Belum menggunakan pola pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan perkembangan kognitif sisiwa

Siswa : Pemahaman sisiwa terhadap materi operasi bilangan pecahan rendah

Siklus I : Penggunaan pola pembelajaran Bermain peran menggunakan Papan bilangan

TINDAKAN

Menerapkan pola pembelajaran bermain peran Siklus II : Penerapan pola pembelajaran Bermain peran menggunakan Peraga gambar laki-laki dan perempuan

KONDISI AKHIR

Diduga melalui Pembelajaran bermain peran Dapat meningkatkan Pemahaman siswa kelas V Materi operasi hitung Bilangan pecahan

Siklus III : Penerapan pola pembelajaran Bermain peran

Gambar 2.1. Alur Kerangka Berfikir PTK C. Hipotesis Tindakan Dengan memperhatikan dan merujuk kepada beberapa pendapat pakar diatas, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut : 1. Penggunaan pola pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran akan dapat mendorong sisiwa untuk belajar lebih bersungguh-sungguh. 2. Siswa akan dapat menguasai materi lebih baik setelah mengikuti pembelajaran dengan melaksanakan pola pembelajaran bermain peran.

18

D.

Kriteria Keberhasilan Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa dalam perbaikan pembelajaran diperlukan indikator. Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman sisiwa adalah ketuntasan sisiwa dalam pembelajaran. Indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran adalah : 1. Pemahaman siswa terhadap pembelajaran operasi bilangan pecahan dinyatakan maksimal jika 75% dari jumlah sisiwa tuntas dalam bekerja. 2. Peningkatan minat sisiwa dalam proses pembelajaran penggunaan pola pembelajaran bermain peran sisiwa lebih aktif dalam kelompok belajar dan diskusi-diskusi akhirnya sebagai akhir pembelajaran adalah nilai rata-rata dari nilai kelas maningkat. 3. Kesungguhan belajar sisiwa terhadap penggunaan pola pembelajaran bermain peran dinyatakan meningkat jika 75% dari jumlah siswa menampilkan minimal satu indikator yang dipersyaratkan.

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Tempat pelaksanaan penelitian : SD Negeri 1 Majatengah , UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga Kelas yang diamati Mata Pelajaran Standar Kompetensi : Kelas V : Matematika : 4. Melakukan operasi hitung bilangan Pecahan dalam pemecahan asalah Kompetensi Dasar : 4.1. Melakukan operasi hitung bilangan Pecahan Indikator : 4.1.1. Menemukan cara mencari hasil operasi penjumlahan bilangan dan pecahan

pengurangan

menggunakan model 4.1.2. Menentukan hasil penjumlahan dan pecahan 4.1.3. Memecahkan masalah yang pengurangan bilangan

berhubungan dengan penjumlahan dan pecahan pengurangan bilangan

Waktu Pelaksanaan

: a. Siklus pertama : 2 dan 4 Oktober 2013 b. Siklus kedua : 9 dan 11 Oktober 2013 c. Siklus ketiga : 16 dan 18 Oktober 2013

19

20

B.

Prosedur Pelaksanaan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Menurut Rusna Ristasa ( 2006 : 46 ) penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahapan yaitu : 1. Merencanakan ( planning ) 2. Tindakan ( acting ) 3. Mengamati ( observing ) 4. Refleksi ( reflecting ) Hasil refleksi terhadap tindakan yang dilakukan akan digunakan kembali untuk merevisi jika ternyata yang dilakukan belum berhasil memecahkan masalah, seperti tampak pada gambar dibawah ini :
Re Planing Re-Planning

Planning

Re Reflecting

Re Reflecting

Re Reflecting

Acting

Re Acting

Re Acting

Observing

Re Observing

Re Observing

Gambar 3.1. Daur PTK ( Rusna Ristasa, 2006 : 46 ) Setelah situs ini berlangsung tiga kali barangkali perbaikan yang diinginkan sudah terjadi. Dalam hal ini daur PTK dengan tujuan perbaikan yang direncanakan sudah berakhir. Namun biasanya akan muncul masalah atau kerisauan baru. Masalah ini akan kembali dipecahkan melalui daur PTK secara lebih rinci seperti pada gambar 3.2.

21

IDE AWAL

Studi Pendahuluan 1. Wawancara dengan siswa 2. Tes diagnosa ( memperoleh data awal ) 3. Analisa Dokumen

Penetapan penggunaan Pemecahan masalah metode bermain peran sebagai model pembelajaran

SIMPULAN

BEHASIL

Tindakan Siklus I 1. Perencanaan perbaikan 2. Pelaksanaan perbaikan 3. Observasi 4. Diskusi dengan pengawas 5. Refleksi Siklus I

BELUM

REVISI SIMPULAN

Persiapan Penelitian ( Studi Literatur dan diskusi ) 1. Penyamaan konsep, penggunaan pemecahan masalah metode bermain peran 2. Penyusunan lembar observasi 3. Penyusunan format wawancara 4. Penyusunan tes

Tindakan Siklus II 1. Perencanaan perbaikan 2. Pelaksanaan kegiatan 3. Observasi 4. Diskusi dengan pengamat 5. Refleksi Siklus II

BERHASIL

BELUM

Tindakan Siklus III 1. Perencanaan perbalikan 2. Pelaksanaan perbalikan 3. Observasi 4. Diskusi dengan pengamat 5. Refleksi Siklus III

REVISI

Gambar 3.2. Daur Penelitian Tindakan Kelas Prosedur perbaikan pembelajaran pada gambar di atas dirancang dalam urutan tahapan sebagai berikut : a. Mengidentifikasi masalah, menganalisis dan merumuskan masalah serta merumuskan hipotesis b. Menemukan cara pemecahan masalah / tindakan perbuatan c. Merancang skenario tindakan perbaikan yang dikemas dalam Rencana Perbaikan Pembelajaran ( RPP ).

22

d. Mendiskusikan aspek-aspek yang diamati dengan teman sejawat yang ditugasi sebagai pengamat ( observer ). e. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah dirancang dan diamati oleh teman sejawat f. Mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sejawat ( observer ). g. Konsultasi dengan supervisor. h. Merancang tindak lanjut. C. Data Teknik Pengumpulan Data dan Analisa Dalam pengumpulan saya dibantu oleh teman sejawat dengan identitas dan tugas sebagai berikut : Nama NIP Pekerjaan Tugas : Galih Budiyanto, S.Pd. : 196503241988061002 : Guru Kelas IV : - Mengobservasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran dari siklus pertama sampai dengan selesai - Memberikan masukan tentang kekuatan dan kelemahan yang terjadi selama pembelajaaran D. Deskripsi Per Siklus 1. Pelaksanaan Perbaikan Siklus I 1) Tahap Perencanaan ( planning ) Berdasrkan rumusan hipotesis yang telah dibuat, peneliti menyiapkan dan menetapkan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) beserta skenario tindakan. skenario ini berisi langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dan sisiwa dalam kegiatan tindakan atau perbaiakan. Terkait dengan RPP, peneliti perlu menyiapkan media dan alat pembelajaran yang dibutuhkan yaitu papan bilangan.

23

Langkah berikutnya bersama dengan observer, menyepakati fokus observasi dan kriteria yang akan digunakan. 2) Pelaksanaan Siklus I Pertemuan ke I a) Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru mengucapkan salam Guru mengabsen sisiwa Guru memotofasi siswa untuk mengikuti pembelajaran Guru melakukan apersepsi

b) Kegiatan Inti ( 40 menit ) Guru menjelaskan tentang materi operasi bilangan pecahan Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas sebagai latihan Guru dan siswa membahas soal dan mencocokan bersama-sama

c) Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran Guru mengevaluasi siswa Guru mengerjakan tindak lanjut

Pertemuan ke II a) Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan

dilaksanakan Guru menyiapkan alat dan membuat cerita yang berkaitan dengan materi tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Guru menggali materi prasyarat yang dibutuhkan untuk pembelajaran dengan mengadakan mencongak penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Guru menyampaikan masalah kontekstual yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari siswa. Hal ini untuk memancing

24

agar siswa merasa tertantang dan termotivasi untuk belajar karena merasa membutuhkan. b) Kegiatan Inti ( 45 menit ) Setelah kondisi belajar benar-benar siap untuk

melaksanakan kegiatan pembelajaran, kemudian guru melakukan kegiatan sebagai berikut : Guru mengenalkan papan bilangan dan cara kerjanya Siswa satu persatu mempraktekan dibimbing guru Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mencoba bagi yang belum jelas Guru membagi LKS untuk dikerjakan secara kelompok Guru berkeliling membimbing siswa yang mengalami

kesulitan Guru membimbing diskusi kelas untuk mencocokan hasil kerja kelompok dan menggunakan papan bilangan untuk

menyamakan persepsi Siswa mengerjakan soal latihan tanpa menggunakan alat peraga Guru mengadakan tes ulangan harian

c) Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Guru menyimpulkan cara mencari hasil penjumlahan dan pengurangan menggunakan papan bilangan Guru mengadakan penilaian terhadap penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dengan tes formatif Guru memberikan PR

3) Observasi Observasi mengadakan pengamatan terhadap fokus yang diamati dari pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan lembar observasi. Disamping itu juga mewawancarai siswa yang belum tuntas belajarnya.

25

4) Refleksi Kelemahan Pembelajaran belum berhasil karena alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran belum dapat menanamkan konsep secara efektif. Kelebihan Bagi siswa yang pandai hal ini menjadi motovasi untuk terus menggali pengetahuan tentang operasi bilangan pecahan yang lebih mendalam. 2. Pelaksanaan Perbaikan Siklus II 1. Perencanaan Menyiapkan RPP siklus kedua yang telah disusun dari hasil diskusi dengan supervisi, menyiapkan alat / media yang digunakan dalam pembelajaran berupa gambar laki-laki dan perempuan yang akan digunting menjadi alat peraga. Potongan gambar ini membantu akan memperoleh pengalaman konkrit sehingga mempertinggi daya serap dan daya ingat siswa dalam belajar sesuai dengan pendapat Edgar Dale yang diikuti oleh Aristo Rahardi ( 2002 : 12 ). 2. Pelaksanaan Siklus II Pertemuan I a) Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru mengabsen siswa Guru menyiapkan alat-alat pembelajaran Guru mengadakan apersepsi tentang materi yang diberikan pada siklus I b) Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru mencocokan PR yang diberikan siklus I Guru memberikan tugas sebagai latihan Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya Guru membimbing siswa menemukan dan menyimpulkan hasil jawaban siswa

26

c) Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Guru menyimpulkan pembelajaran Guru mengevaluasi siswa Guru mengadakan tindak lanjut

Pertemuan II a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan berupa kertas bufallo berwarna bergambar laki-laki dan perempuan Guru menggali materi prasyarat yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan ajar dengan tanya jawab hasil operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok Tiap kelompok siswa menerima kertas bufallo dua warna yang bergambar laki-laki dan perempuan, dan siswa memotong ganbar tersebut. Guru meberi penjelasan dan memancing pengertian tentang makna operasi penjumlahan dan pengurangan menggunakan potongan kertas tersebut Melalui diskusi kelas guru dan siswa menyimpulkan yang

pembelajaran Penugasan kepada siswa sebagai latihan Guru mencocokan hasil pekerjaan siswa

c. Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Guru memberikan penekanan pada hal-hal penting dengan tanya jawab dan soal lisan Guru mengadakan penilaian terhadap penguasaan siswa dengan tes ulangan harian Guru membarikan tindak lanjut dengan pemberian PR

27

3. Observasi Observasi mengadakan pengamatan terhadap fokus yang diamati dari pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan lembur observasi. Di samping itu juga mewawancarai siswa yang belum tuntas belajarnya. Observer mendiskusikan kekurangan yang ada dalam pembelajaran, dan saran untuk memperbaiki pembelajaran pasa siklus ketiga. 4. Refleksi Kelebihan Sudah mengalami kenaikan nialai rata-rata dari 6,0 pada siklus I menjadi 7,09 pada siklus II Kenaikan jumlah yang tuntas dalam belajar mengalami kenaikan

Kelemahan Siswa tidak terlibat bagaimana proses menemukan rumus Siswa hanya menggunakan bangun ruang yang ada untuk membuktikan dan memperjelas konsep materi bilangan pecahan. 3. Pelaksanaan Perbaikan Siklus ke III 1. Perencanaan Menyiapkan RPP siklus ketiga Menyiapkan alat / media yang akan digunakan yaitu siswa laki-laki sebagai lambang bilangan positif dan perempuan sebagai lambang bilangan negatif. 2. Pelaksanaan Pertemuan I 1. Kegiatan Awal ( 10 menit ) - Guru mengabsen siswa - Guru memotivasi siswa - Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti ( 45 menit ) - Guru menjelaskan materi operasi bilangan pecahan - Guru menegaskan siswa untuk mengerjakan tugas

28

- Guru membimbing siswa menjawab dan mencocokan jawaban 3. Kegiatan Akhir ( 15 menit ) - Guru menyimpulkan materi - Guru mengevaluasi siswa - Guru memberikan tindak lanjut Pertemuan II 1) Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru mengadakan pendahuluan dengan tanya jawab materi yang telah dipelajari yaitu operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Guru menyampaikan garis besar rencana kegiatan belajar yang akan dilaksanakan yaitu bermain peran untuk melakukan operasi bilangan penjumlahan dan pengurangan. Siswa laki-laki merupakan bilangan positif dan siswa perempuan merupakan bilangan negatif. Operasi penjumlahan ditunjukan dengan menggabung siswa laki-laki dan perempuan berpasangan. Hasil dari penjumlahan adalah sisa jumlah laki-laki atau perempuan. Jika laki-laki berarti positif dan jika perempuan berarti hasilnya negatif. Guru mengajukan masalah kontekstual yaitu msalah yang dicoba diselesaikan anak yang berhubungan dengan keseharian siswa. 2) Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru membagi siswa manjadi 5 kelompok Tiap kelompok siswa dilibatkan sebagai peraga atau model dalam pembelajaran Siswa dibimbing dengan panduan LKS mempraktekan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan menggunakan bermain peran / model temannya sendiri Melalui lembar tugas siswa, guru mengukur tingkat / pemahaman siswa terhadap penguasaan materi pembelajaran

29

3) Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Guru memberikan kesimpulan materi pembelajaran Guru mengevaluasi siswa

4) Refleksi Kelebihan - Pembelajaran sudah berhasil ditandai dengan penccapaian nialai rata-rata 7,91 Pembelajaran sudah tuntas Menambah kejelasan pada siswa tentang konsep materi bilangan pecahan Kekurangan Pembelajaran yang akan dilaksanakan memerlukan waktu yang lama dan persiapan, skenario yang matang.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Deskripsi Per Siklus 1. Hasil Pengolahan Data a. Pemahaman siswa terhadap Materi Operasi Bilangan Pecahan. Tabel 4.1 Rekapitulasi Nilai Tes Ulangan Harian Pembelajaran Matematika terhadap Materi Operasi Bilangan Pecahan pada Pra Siklus, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III
Nomor Urut Induk 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Nama Siswa Dwi Astuti Dwi Prasetyo Isti Nurchotimah Okti Isna Nuraini Adi Priyanto Adianto Agus Paryono Aisah Nur Isnaini Alif Bakhtiar Ikfan Anggoro Mustika Anhar Restu T Anisa Ati Mugi Lestari Budi Dwi Dika P Dai Amruloh Dhimas Wahyu S Dwi Purwati Efita Sutingah L Hikmah Ardita Joni Tri O Ridho Dwi F Awal Subagyo Jumlah Rata-rata Pra Siklus 60 40 70 70 50 70 50 60 50 50 50 50 70 60 60 70 60 40 60 50 60 40 1.240 56,36 Siklus II 70 60 80 90 70 80 60 80 70 70 70 70 90 80 80 90 70 60 80 70 80 60 1.630 74,09 Keterangan Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas

I 60 60 70 70 60 70 60 60 60 60 60 60 70 70 70 80 70 60 70 60 70 60 1.430 65,00

III 80 70 90 100 90 90 80 90 80 80 80 80 100 80 80 100 80 70 90 90 90 80 1.870 85,00

30

31

Pada siklus pertama, jumlah siswa yang belum tuntas lebih banyak dari siswa yang tuntas dalam pembelajaran itu. Ketuntasan klasikal dalam pembelajaran baru 22,73%. Hal ini menunjukan pembelajaran yang menggunakan alat peraga berupa papan bilangan belum berhasil. Penggunaan alat peraga berupa papan bilangan memang lebih konkrit dari penggunaan garis bilangan karena merupakan peraga tiga dimensi. Berdasarkan data di atas dapat dilihat hasil perubahan nilai yang dicapai siswa dari tiap-tiap siklus, sebagian besar mengalami kenaikan. Tabel 4.2 Ketuntasan Belajar pada Siklus I, II dan III No 1 2 3 4 Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III Tabel Perbaikan Ketuntasan Tuntas Belum 5 10 18 22 17 12 4 0

a. Pada Pra Siklus siswa yang tuntas belajar sebanyak 5 anak dari 22 siswa atau 22,73% b. Pada Siklus I siswa yang tuntas belajar 10 anak dari 22 siswa atau 45,45% c. Pada Siklus II siswa yang tuntas belajar sebanyak 18 anak dari 22 atau 81,82% d. Siklus III siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 anak dari 22 siswa atau 100% Sedangkan siswa yang belum tuntasw dalam belajar adalah sebagai berikut : a. Pada Pra Siklus, siswa yang belum tuntas sebanyak 17 anak dari 22 siswa atau 77,27%

32

b. Pada Siklus I, siswa yang belum tuntas sebanyak 12 anak dari 22 c. siswa atau 54,55% d. Pada Siklus II, siswa yang belum tuntas sebanyak 4 anak dari 22 e. siswa atau 18,18% f. Pada Siklus III, siswa yang belum tuntas sebanyak 0 siswa Dari keterangan diatas dapat digambarkan dengan grafik batang berikut :
30 25 20 15 10 5 5 0 Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 17 12 10 4 0 18 22
Belum Tuntas Tuntas

Gambar 4.1 Grafik Ketuntasan Belajar Anak Setelah dilakukan analisa terhadap data pada tabel 4.1 di atas bahwa tingkat pemahaman terhadap operasi bilangan pecahan dengan pola pembelajaran pemecahan masalah melalui metode bermain peran menunjukan kenaikan angka ketuntasan yang signifikan.

33

Tabel 4.3 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran No 1 2 3 4 Pembelajaran Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III Hasil Belajar Siswa Presentase Belum Persentase 22,73% 17 77,27% 45,45% 81,82% 100% 12 4 0 54,55% 18,18% 100%

Tuntas 5 10 18 22

Dari tabel tersebut diperoleh keterangan sebagai berikut : a. Pada pra siklus siswa tuntas 22,73% sedangkan yang belum tuntas 77,27% b. Pada siklus I, siswa tuntas 45,45% sedangkan yang belum tuntas 54,55% c. Pada siklus II, siswa tuntas 81,82% sedangkan belum tuntas 18,18% d. Pada siklus III, siswa tuntas 100% Untuk lebih jelasnya persentase ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :
100 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 22.73 18.18 0 54.55 45.45
Tuntas Belum Tuntas

81.52 77.27

Gambar 4.2 Grafik Presentase Tingkat Ketuntasan Belajar Anak

34

Tabel 4.5 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa untuk Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelanjaan No 1 2 3 4 Tabel Perbaikan Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III Siswa Menunjukan Keaktifan 6 11 17 22 Persentasi 27,27% 50,00% 77,27% 100%

Dari tabel 4.4 dan 4.5 di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut : 1) Pada pra siklus, siswa yang menunjukan keaktifan belajar 6 dari 22 siswa atau 27,27% 2) Pada siklus I siswa yang menunjukan keaktifan belajar 11 dari 22 siswa atau 50,00% 3) Pada siklus II siswa yang menunjukan keaktifan belajar adalah 17 siswa dari 22 siswa atau 77,27% 4) Pada siklus III siswa yang menunjukan keaktifan belajar 22 siswa dari 22 siswa atau 100% Untuk lebih jelasnya keaktifan belajar siswa dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :
100 100 80 77.73 60
Persentase

40

50

20

27.27

0 Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III

Gambar. 4.3 Diagram Batang Persentase Keaktifan Belajar Siswa

35

B.

Pembahasan 1. Siklus I Alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi rendahnya pemahaman siswa terhadap materi operasi bilangan pecahan dalam pemecahan masalah melalui metode bermain peran dalam materi operasi bilangan pecahan di kelas V SD Negeri 1 Majatengah Kecamatan Kemangkon ternyata memberikan kenaikan hasil belajar dan keaktifan belajar yang signifikan jika dibandingkan dengan studi sebelumnya. Pada siklus pertama jumlah siswa yang belum tuntas lebih banyak daari siswa yang tuntas dalam pembelajaran ini. Ketuntasan klasikal papan papan dalam bilangan bilangan pembelajaran belum baru mencapai 50,00%. alat peraga Hal ini menunjukan pembelajaran yang menggunakan alat peraga berupa berhasil. lebih Penggunaan konkrit dari berupa garis memang penggunaan

bilangan kerana merupakan peraga tiga dimensi. Namun jika dilihat dari cara kerjanya tidak ada perbedaan antara garis bilangan dan papan 2. Siklus II Pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas sudah lebih banyak dari siswa yang sebelum menguasai pembelajaran meskipun baru mencapai anak. 77,27%. Pembelajaran penjumlahan pada siklus ini menggunakan memasangkan potongan gambar laki-laki dan perempuan lebih mudah dimengerti Pengertian dilakukan dengan gambar siswa laki-laki dan gambar siswa perempuan hasil dari penjumlahan adalah sisa dari gambar yang tidak ada pasangannya. 3. Siklus III Pada siklus III, pembelajaran menggunakan model bermain peran pada anak dimana anak terlibat langsung atau dijadikan peraga pembelajaran. Pada siklus III, 100% siswa sudah tuntas dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam kegiatan di dalam kelas akan lebih meningkat motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. bilanngan. Kedua alat peraga tersebut belum dapat memberikan penanaman konsep yang mudah bagi anak.

36

Hal-hal a. Siswa hakikat karena

positif terdorong anak

yang untuk sendiri

terlihat aktif.

pada Siswa

pembelajaran bermain, belajar Kegiatan perhatian, proses

dengan sesuai yang terbukti

menggunakan bermain peran adalah : senang waktu bermain. cukup

menyenagkan bagi anak ini akan memusatkan perhatian anak, semakin tinggi meningkatkan hasil belajar. b. Disamping juga pembelajaran artinya memberi menyenangkan, menghasilkan kesempatan gagasan, pembelajaran tujuan siswa yang untuk sehingga efektif, beberapa kepada

seharusnya dicapai siswa setekah pembelajaran berlangsung. c. Pembelajaran berkreasi mengkomunikasikan bersosialisasi,

yang dicapai bukan tujuan pembelajaran saja tetapi juga tujuan penyerta (Nuturn). Tabel 4.6 Kenaikan Nilai Rata - rata Pra Siklus Jumlah Nilai 1360 Nilai Rt-rt 61.82 Siklus I Jumlah Nilai 1510 Nilai Rt-rt 68,64 Siklus II Jumlah Nilai 1690 Nilai Rt-rt 76,82 Siklus III Jumlah Nilai 1890 Nilai Rt-rt 85,91

Kenaikan nilai rata-rata dapat dilihat pada grafik berikut :


100 80 76.82 60 61.82 40 20 0 Pra Siklus Siklus I Siklus II Siklus III 68.64
Rata-rata

85.91

Gambar 4.4 Gambar Garfik Nilai Rata-rata Pra Siklus, Siklus I, Siklus II, dan III Mata Pelajaran Matematika

BAB V KESIMPUAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A.

Kesimpulan Berdasarkan kesimpulan : 1. Setelah menggunakan pemecahan masalah melalui metode bermain peran, pemahaman siswa tentang materi Operasi bilangan pecan meningkat. 2. Penggunaan pemecahan masalah melalui metode bermain peran hasil Penelitian Tindakan Kelas dapat ditarik

dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B.

Saran dan Tindak Lanjut 1. Meskipun penelitian ini sederhana masih banyak kekurrangan tapi melihat manfaat yang dapat diambil yaitu siswa memperbaiki dalam mutu

pembelajaran

mengenai

pemahaman

pemecahan

masalah melalui metose bermain peran, maka hendaknya kebiasaan melakukan perbaikan pembelajaran dengan PTK ini tidak berhasil sampai disini dan kebiasaan ini dikembangkan untuk semua guru. 2. Dalam melakukan perbaikan pembelajaran ini penulis menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran, metodologi, pendekatan yang dapat

digunakan agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif. Hasil perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan yang tajam

sehingga perbaikan ini dapat dijadikan pedoman bagi guru-guru untuk memperbaiki pembelajaran matematika yang dilakukan. 3. Tindak Lanjut Hasil dari penelitian ini akan ditindak lanjuti kembali dengan meminimalkan variable ekstra, berupa pengulangan pembelajaran.

Selain itu hasil dari penelitian ini akan di uji cobakan lagi pada materi atau mata pelajaran yang lain.

37

DAFTAR PUSTAKA

Aristo Rohadi. ( 2003 ). Media Pembelajaran Jakarta : Depdiknas Asep Heri Hermawan. ( 2004 ). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Jakarta Pusat : Penerbit Universitas Terbuka Darhim. ( 1993 ). Workshop Matematika. Jakarta : Ditjen Dikdasmen Depdikbud - Karunika UT. Didi Suryadi. ( 1997 ). Alat Peraga dan Media Pengajaran Matematika. Jakarta : Ditjen Dikdasmen Depdikbud Karunia UT Suprayekti. ( 2004 ). Pembahasan Pembelajaran di SD. Jakarta Pusat : Penerbit Universitas Terbuka. Tanpa Nama. ( 2006 ). Buku Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga Alternatif Matematika. Jakarta : Depdiknas . Udin S. Winata Putra, dkk. ( 1998 ). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD setara D II. Depdikbud. Wardani, I G. AK. ( 1998 ). Pemantapan Kemampuan Mengajar ( PKM ). Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD setara D II. Wardani, I G. AK. ( 2006 ). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Pusat Penelitian Univesitas Terbuka.

38

39

Lampiran I RENCANA PERBAKAN PEMBELAJARAN SIKLUS I Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 2 dan 4 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Bilangan Pecahan : 4.1.1 Menemukan cara mencari hasil operasi Penjumlahan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan dan Penggurangan Bilangan

Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3 Memecahkan masalah yang berhubungan dengan Penjumlahan Bilangan Pecahan. dan Pengurangan

I. A. Tujuan Pembelajaran 1. Menentukan hasil penjumlahan, penguranan pecahan biasa. 2. Menentukan hasil dengan pengurangan, penjumlahan campuran B. Tujuan Perbaikan Pembelajaran 1. Dengan menerapkan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Dengan penerapan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuannya menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan.

40

II. Materi Ajar Materi Pembelajaran Operasi Hitung Pecahan

III. Metode Pembelajaran Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah : 1. Metode Ceramah 2. Metode Tanya Jawab 3. Metode Dskusi 4. Metode Penugasan 5. Metode Pengamatan ( observasi ) IV. Langkah-langkah pembelajaran Pertemuan I a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Memberi salam dan menanyakan keadaan siswa Guru melakukan apersepsi Tanya jawab penjumlahan bilangan pecahan berpenyebut sama Hasil dari Hasil dari Hasil dari b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru menjelaskan tentang materi operasi bilangan pecahan Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas sebagai latihan Guru dan siswa membahas soal dan mencocokan bersama-sama . = . .

c. Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Siswa mengerjakan tes formatif Penilaian tes formatif Menganalisis tes formatif Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung Guru mengadakan tindak lanjut berupa PR

41

Pertemuan II a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan Menyiapkan alat dan membuat cerita yang berkaitan dengan meteri tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan Guru menggali materi prasyarat yang dibutuhkan untuk pembelajaran dengan mengadakan penjumlahan dan pengurangan blangan pecahan Mengabsen kehadiran siswa berapa jumlah siswa yang hadir dan berapa jumlah siswa yang tidak hadir b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Membahas hasil pekerjaan rumah Guru mengenalkan papan bilangan dan cara kerjanya Siswa satu par satu mempraktekan dibimbing guru Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mencoba lagi yang belum jelas Guru membagi LKS untuk dikerjakan secara berkelompok Guru berkeliling membimbing siswa yang mengalami kesulitan Guru membimbing diskusi kelas menggunakan papan bilangan untuk mnyamakan persepsi Siswa mengerjakan soal latihan Guru mengadakan Tes Formatif

c. Kegiatan Akhir Guru memberikan kesimpulan materi pembelajaran Guru mengevaluasi siswa

V. Alat dan Sumber Belajar a. Alat / Media : Papan bilangan, gambar laki-laki dan perempuan, Siswa laki-laki dan perempuan. b. Sumber bahan : KTSP Matematika Kelas V Silabus Matematika Kelas V Buku Matematika Kelas V M Khafid Suyati, Penerbit Erlangga

42

VI. Penilaian a) Jenis Tes b) Bentuk Tes c) Alat Tes : Lisan, Tertulis, Portofolio, Proses : Isian : Soal soal

Majatengah, Mengetahui : Kepala SD N 1 Majatengah

Oktober 2013

Mahasiswa,

SUPARDI S. Pd. NIP.

KURTIMAH NIM. 822002024

43

Lampiran 2 RENCANA PERBAKAN PEMBELAJARAN SIKLUS II Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 9 dan 11 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan : 4.1.1 Menemukan Penjumlahan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan cara dan mencari hasil operasi Bilangan

Penggurangan

Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3 Memecahkan masalah yang berhubungan

dengan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan. I. A. Tujuan Pembelajaran 1. Menentukan hasil penjumlahan, penguranan pecahan biasa. 2. Menentukan hasil dengan pengurangan, penjumlahan campuran B. Tujuan Perbaikan Pembelajaran 1. Dengan menerapkan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Dengan penerapan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuannya menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan.

44

II. Materi Ajar Materi Pembelajaran Operasi Hitung Pecahan

III. Metode Pembelajaran Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah : 1. Metode Ceramah 2. Metode Tanya Jawab 3. Metode Dskusi 4. Metode Penugasan 5. Metode Pengamatan ( observasi ) IV. Langkah-langkah pembelajaran Pertemuan I a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Memberi salam dan menanyakan keadaan siswa Guru melakukan apersepsi Tanya jawab penjumlahan bilangan pecahan berpenyebut sama Hasil dari Hasil dari Hasil dari b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru menjelaskan tentang materi operasi bilangan pecahan Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas sebagai latihan Guru dan siswa membahas soal dan mencocokan bersama-sama . = . .

c. Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Siswa mengerjakan tes formatif Penilaian tes formatif Menganalisis tes formatif Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung Guru mengadakan tindak lanjut berupa PR

45

Pertemuan II a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan Menyiapkan alat dan membuat cerita yang berkaitan dengan meteri tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan Guru menggali materi prasyarat yang dibutuhkan untuk pembelajaran dengan mengadakan penjumlahan dan pengurangan blangan pecahan Mengabsen kehadiran siswa berapa jumlah siswa yang hadir dan berapa jumlah siswa yang tidak hadir b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Membahas hasil pekerjaan rumah Guru mengenalkan papan bilangan dan cara kerjanya Siswa satu par satu mempraktekan dibimbing guru Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mencoba lagi yang belum jelas Guru membagi LKS untuk dikerjakan secara berkelompok Guru berkeliling membimbing siswa yang mengalami kesulitan Guru membimbing diskusi kelas menggunakan papan bilangan untuk mnyamakan persepsi Siswa mengerjakan soal latihan Guru mengadakan Tes Formatif

c. Kegiatan Akhir Guru memberikan kesimpulan materi pembelajaran Guru mengevaluasi siswa

V. Alat dan Sumber Belajar a. Alat / Media : Papan bilangan, gambar laki-laki dan

perempuan, Siswa laki-laki dan perempuan. b. Sumber bahan : KTSP Matematika Kelas V Silabus Matematika Kelas V Buku Matematika Kelas V M Khafid Suyati, Penerbit Erlangga

46

VI. Penilaian a) Jenis Tes : Lisan, Tertulis, Portofolio, Proses b) Bentuk Tes : Isian c) Alat Tes : Soal soal Kerjakan pengurangan berikut ini ! 1. 2. 3. 4. 5. d) Pedoman Penilaian Setiap soal yang dapat dijawab benar mendapatkan skor 10 Skor akhir 10 x 10 = 100 Nilai akhir 100 e) Kriteria Keberhasilan Pembelajaran dikatakan berhasil jika lebih dari 70% siswa bisa menjawab soal dari jumlah soal yang diajukan. Majatengah, Mengetahui : Kepala SD N 1 Majatengah Oktober 2013 6. 7. 8. 9. 10.

Mahasiswa,

SUPARDI S. Pd. NIP.

KURTIMAH NIM. 822002024

47

Lampiran 3 RENCANA PERBAKAN PEMBELAJARAN SIKLUS II Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 16 dan 18 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan : 4.1.1Menemukan Penjumlahan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan cara dan mencari hasil operasi Bilangan

Penggurangan

Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3Memecahkan masalah yang berhubungan

denganPenjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan.

I. A. Tujuan Pembelajaran 1. Menentukan hasil penjumlahan, penguranan pecahan biasa. 2. Menentukan hasil dengan pengurangan, penjumlahan campuran B. Tujuan Perbaikan Pembelajaran 1. Dengan menerapkan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Dengan penerapan pola pembelajaran metode bermain peran dapat meningkatkan kemampuannya menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan.

48

II. Materi Ajar Materi Pembelajaran - Operasi Hitung Pecahan III. Metode Pembelajaran Metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah : 1. Metode Ceramah 2. Metode Tanya Jawab 3. Metode Dskusi 4. Metode Penugasan 5. Metode Pengamatan ( observasi ) IV. Langkah-langkah pembelajaran Pertemuan I a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Memberi salam dan menanyakan keadaan siswa Guru melakukan apersepsi Tanya jawab penjumlahan bilangan pecahan berpenyebut sama Hasil dari Hasil dari Hasil dari b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Guru menjelaskan tentang materi operasi bilangan pecahan Guru menugaskan siswa untuk mengerjakan tugas sebagai latihan Guru dan siswa membahas soal dan mencocokan bersama-sama . = . .

c. Kegiatan Akhir ( 15 menit ) Siswa mengerjakan tes formatif Penilaian tes formatif Menganalisis tes formatif Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung Guru mengadakan tindak lanjut berupa PR

49

Pertemuan II a. Kegiatan Awal ( 10 menit ) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan Menyiapkan alat dan membuat cerita yang berkaitan dengan meteri tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan Guru menggali materi prasyarat yang dibutuhkan untuk pembelajaran dengan mengadakan penjumlahan dan pengurangan blangan pecahan Mengabsen kehadiran siswa berapa jumlah siswa yang hadir dan berapa jumlah siswa yang tidak hadir b. Kegiatan Inti ( 45 menit ) Membahas hasil pekerjaan rumah Guru mengenalkan papan bilangan dan cara kerjanya Siswa satu par satu mempraktekan dibimbing guru Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan mencoba lagi yang belum jelas Guru membagi LKS untuk dikerjakan secara berkelompok Guru berkeliling membimbing siswa yang mengalami kesulitan Guru membimbing diskusi kelas menggunakan papan bilangan untuk mnyamakan persepsi Siswa mengerjakan soal latihan Guru mengadakan Tes Formatif

c. Kegiatan Akhir Guru memberikan kesimpulan materi pembelajaran Guru mengevaluasi siswa

V. Alat dan Sumber Belajar a. Alat / Media : Papan bilangan, gambar laki-laki dan

perempuan, Siswa laki-laki dan perempuan. b. Sumber bahan : KTSP Matematika Kelas V Silabus Matematika Kelas V Buku

Matematika Kelas V M Khafid Suyati, Penerbit Erlangga

50

VI. Penilaian a) Jenis Tes b) Bentuk Tes c) Alat Tes 1. 2. 3. 4. 5. d) Pedoman Penilaian Setiap soal yang dapat dijawab benar mendapatkan skor 10 Skor akhir 10 x 10 = 100 Nilai akhir 100 e) Kriteria Keberhasilan Pembelajaran dikatakan berhasil jika lebih dari 70% siswa bisa menjawab soal dari jumlah soal yang diajukan. : Lisan, Tertulis, Portofolio, Proses : Isian : Soal soal 6. 7. 8. 9. 10.

Kerjakan pengurangan berikut ini !

Majatengah, Mengetahui : Kepala SD N 1 Majatengah

Oktober 2013

Mahasiswa,

SUPARDI S. Pd. NIP.

KURTIMAH NIM. 822002024

51

Lampiran 4 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS I Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 2 dan 4 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan : 4.1.1 Menemukan cara mencari hasil operasi Penjumlahan dan Penggurangan Bilangan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3 Memecahkan masalah yang berhubungan

dengan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Pecahan.

Kerjakan pengurangan berikut ini ! 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

52

Lampiran 5 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS II Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 9 dan 11 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan : 4.1.1 Menemukan cara mencari hasil operasi

Penjumlahan dan Penggurangan Bilangan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan

Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3 Memecahkan dengan masalah yang dan berhubungan Pengurangan

Penjumlahan

Bilangan Pecahan. Kerjakan pengurangan dan penjumlahan berikut ini ! 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

53

Lampiran 6 LEMBAR KERJA SISWA SIKLUS III : SD Negeri 1 Majatengah : Matematika : V / II : 2 jam pelajaran : 16 dan 18 Oktober 2013 : 4. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan dalam Pemecahan Masalah Kompetensi Dasar Indikator : 4.1. Melakukan Operasi Hitung Bilangan Pecahan : 4.1.1 Menemukan cara mencari hasil operasi

Sekolah Mata Pelajaran Kelas / Semester Alokasi Waktu Hari / Tanggal Standar Kompetensi

Penjumlahan dan Penggurangan Bilangan Pecahan 4.1.2 Menentukan hasil Penjumlahan dan

Pengurangan Bilangan Pecahan 4.1.3 Memecahkan masalah yang berhubungan dengan Penjumlahan Bilangan Pecahan. dan Pengurangan

Kerjakan pengurangan dan penjumlahan berikut ini ! 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

54

Lampiran 8 FORMAT KESEDIAAN TEMAN SEJAWAT DALAM PENYELENGGARAAN PKP

Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama NIP Tugas Unit Kerja : GALIH BUDIYANTO : 19571010 197802 1 008 : Guru Kelas IV : SD Negeri 1 Majatengah Kecamatan Kemangkon

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya teman sejawat dari

Nama NIP Tugas Unit Kerja

: KURTIMAH : 822002024 : Guru Mapel : SD Negeri 1 Majatengah Kecamatan Kemangkon

Purbalingga, Oktober 2013 Teman Sejawat

Galih Budiyanto NIP. 1965032419888061002

55

Lampiran 9 SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama NIP Pokjar : KURTIMAH : 822002024 : Kemangkon

UPBJJ - UT : Purwokerto

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya teman sejawat dari

Nama NIP

: GALIH BUDIYANTO : 19571010 197802 1 008

Guru Kelas : IV

Adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang merupakan tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4501 ). Demikian pernyataan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana perlu.

Purbalingga, Oktober 2013 Teman Sejawat Yang membuat pernyataan Mahasiswa

GALIH BUDIYANTO NIP. 1965032419888061002

KURTIMAH NIM. 822002024