Anda di halaman 1dari 8

19

III. MATERI DAN METODE

3.1.

Materi

3.1.1. Alat Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Budidaya Pakan Alami, yaitu: Tabel 4. Alat yang digunakan dalam praktikum Budidaya Pakan Alami No. Alat Jumlah Kegunaan 1. Mikroskop 1 Untuk mengamati pertumbuhan artemia dan jumlah sel alga 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Hand counter Tabung gelas Pipet tetes Haemocytometer Aerator Kalkulator Botol aqua Gelas beaker Batu aerasi Timbangan elektrik Planktonnet Sedwick rafter Gelas penutup Tissue gulung Botol Flasco Lampu 40 watt 1 1 5 1 1 1 3 1 5 1 1 1 1 1 3 2 Untuk menghitung jumlah sel alga Tempat menumbuhkan sel alga Untuk mengambil sel alga Untuk mengamati sel alga Untuk aerasi Untuk menghitung perhitungan Untuk menumbuhkan sel alga Tempat menghidarsi kista Untuk aerasi Untuk menimbang kista artemia Untuk mrngambil sel alga Untuk pengamatan di bawah mikroskop Untuk pengamatan di bawah mikroskop Untuk membersihkan alat Untuk mengkultur Chlorella Untuk pencahayaan dalam kultur

20

3.1.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum Budidaya Pakan Alami, yaitu: Tabel 5. Bahan yang digunakan dalam praktikum Budidaya Pakan Alami No. Bahan Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Skeletonema sp Chlorella sp Kista artemia Air laut Rotifera Aquadest Media Suminto Hirayama Modifikasi Media EV 20 ml 20 ml 1 gram 220 ml 20 ml 300 ml 30 ml 60 ml

3.2. Metode 3.2.1.Sterilisasi Metode yang dilakukan dalam sterilisasi adalah mencuci semua alat-alat yang akan digunakan dengan sabun hingga bersih, kemudian dikeringkan dan dibungkus dengan alumunium foil. Setelah dibungkus dengan alumunium foil. Untuk alat-alat berbahan kaca dimasukkan ke dalam oven pada suhu 181 selama 2 jam. Untuk pipet tetes, bagian atas ditutup dengan kapas dan bagian bawahnya ditutup dengan alumunium foil, kemudian dioven pada suhu 100. Untuk alat-alat berbahan silikon direbus pada air mendidih. 3.2.2. Pembuatan media a. Soil Extract Prosedur yang digunakan dalam pembuatan media soil extract adalah sebagai berikut, pertama mengambil tanah dari daerah pegunungan dengan ketinggian 500 1000 m di atas permukaan laut. Tanah yang diambil tidak

21

boleh ditumbuhi oleh tanaman pertanian tetapi bisa tanah ladang. Mengambil tanah yang berwarna merah kecoklatan (top soil) sedalam 15 25 cm dari permukaan, kemudian tanah tersebut dibawa ke laboratorium dan kemudian dikeringkan selama beberapa jam. Menyiapkan panci dengan volume 4 liter, kemudian diisi dengan tanah 1 kg ditambah 2 liter air dan beri tanda, yang selanjutnya dimasak dengan api kecil selama 2 3 jam sambil diaduk, lalu tambahkan air jika air terlihat berkurang sebanyak batas berkurangnya sampai batas awal air yang diberi tanda. Tanah kemudian diendapkan selama 24 jam, lalu pisahkan air dengan tanah yang mengendap dengan cara memindahkan airnya kedalam wadah menggunakan selang plastik. Air lalu disaring dengan kertas whatman ashelis 0,8 1,20 m dan dilanjutkan dengan kertas miliphore 0,45 m. Hasil saringan kemudian dimasukkan kedalam botol Erlenmeyer 50 ml lalu dimasukkan kedalam autoclave selama 2 jam kemudian didinginkan lalu masukkan kedalam kulkas (refrigerator). b. Media Suminto Hirayama Modifikasi Metode yang dilakukan dalam pembuatan media Suminto Hirayama adalah pertama mengambil semua bahan penyusun media Suminto Hirayama menurut komposisi yang telah ditentukan seperti pada tabel dibawah ini; Tabel 6. Komposisi bahan penyusun media Suminto Hirayama No. Bahan Dosis 1. 2. 3. 4. 5. Na2SiO3.9H2O Na2-EDTA Citrate acid MnCl2.4H2O NaNO3 100 mg/L 12 mg/L 3,6 mg/l, 1,2 mg/l 360 mg/l

22

Lanjutan Tabel 6. Komposisi bahan penyusun media Suminto Hirayama 6. K2HPO4 12 mg/l, 7. 8. 9. 10. 11. FeSO4.7H2O Clewatt Vitamin B12 Vitamin B1 Biotin 12 mg/l 120 mg/l 160 g/l 80 g/l 0,8 g/l,

Bahan-bahan di atas kemudian dicampur sebanyak 1 ml dalam setiap dosis bahan tersebut lalu masukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan air laut yang telah steril sampai volume mencampai 1 L, kemudian di aduk menggunakan stirer agar tercampur sempurna. Tutup dengan menggunakan kain kassa yang berisi kapas, kemudian seluruh erlenmeyer di bungkus dengan alumunium foil. Erlenmeyer yang telah tertutup dengan alumunium foil dimasukkan ke dalam autoclave selama 2 jam, diangkat dan didinginkan. Media Suminto Hirayama ini digunakan untuk mengkultur Diatom; Nitzchia sp. dan Skeletonema costatum. c. Media EV Metode yang dilakukan dalam pembuatan media EV adalah pertama mengambil semua bahan penyusun media EV menurut komposisi yang telah ditentukan seperti pada tabel dibawah ini: Tabel 7. Komposisi bahan penyusun media EV No. Bahan Dosis 1. 2. 3. 4. Diluted seawater NTA Tris NaNO3 1000 ml 100 g 100 mg 100 mg

23

Lanjutan Tabel 7. Komposisi bahan penyusun media EV 5. Na2HPO4.12H2O 20 mg 6. 7. 8. Vitamin B12 Thiamine HCL Soil Extract 0,5 g 200 g 50 ml

Bahan-bahan diatas kemudian dicampur sebanyak 1 ml dalam setiap dosis bahan tersebut lalu masukkan ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan air laut yang sudah steril hingga volume mencampai 1 L, kemudian di aduk menggunakan stirer agar tercampur sempurna. Tutup dengan menggunakan kain kassa yang berisi kapas, kemudian seluruh erlenmeyer di bungkus dengan alumunium foil. Erlenmeyer yang telah tertutup dengan alumunium foil dimasukkan ke dalam autoclave selama 2 jam kemudian diangkat dan didinginkan. Media EV ini digunakan untuk mengkultur Alga Tetraselmis sp 3.2.3.Kultur Alga a. Chlorella sp. Prosedur yang dilakukan dalam membuat kultur massal microalgae jenis Chlorella sp. adalah sebagai berikut, pertama hitung kepadatan awal microalgae Chlorella sp. lalu menyiapkan 2 buah botol vlasco 100 ml dan diisi masingmasing dengan 30 ml media Suminto Hirayama Modifikasi. Botol vlasco yang telah diisi dengan media kemudian diisi dengan bibit Chlorella sp. dengan kepadatan 20.000 sel/ml masing-masing sebanyak 60 ml lalu ditutup dengan busa silikon, kemudian diletakkan di bawah cahaya lampu selama 24 jam dan setelah 24 jam kemudian diamati pertumbuhannya setiap 24 jam sekali. Pengamatan terhadap pertumbuhan sel dilakukan setiap 24 jam sekali sampai sel mencapai

24

fase kematian (death phase). Perhitungan dalam menentukan jumlah Chlorella sp. yang akan dikultur dapat dilihat pada lampiran 1. 3.2.4.Kultur Diatome a. Skeletonema Langkah-langkah yang dilakukan dalam kultur massal Skeletonema sp. adalah memasukkan Skeletonema sp. ke dalam botol yang telah disiapkan kemudia diaerasi. Menghitung kepadatan Skeletonema sp. dengan cara mengambil sampel dengan menggunakan pipet tetes bersih dan meletakkan pada haemocytometer kemudian diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Kepadatan Skeletonema sp. dihitung dengan cara menghitung plankton yang ada pada kotak bujur sangkar terkecil (terdapat 16 x 25 = 400 kotak). Bila plankton yang didapatkan adalah N maka kepadatan plankton adalah (N x 4.106) : 400 sel/ml. Namun bila kepadatan plankton tinggi sekali, maka diambil beberapa kotak terkecil secara acak, misalnya mengambil 5 kotak, kemudian dirata-rata. Sehingga apabila plankton yang didapat adalah N maka jumlah plankton adalah N x 106 sel/ml. 3.2.5.Kultur Rotifer Metode yang dilakukan dalam kultur rotifer adalah menyiapkan 3 buah botol FX yang diisi dengan 500 ml air laut yang telah disaring, kemudian memasukkan Rotifera dan diaerasi. Rotifer perlu diberi pakan berupa chlorela dengan kepadaatan chlorela pada botol 1 adalah 100.000 sel/individu/hari, pada botol 2, 150.000 sel/individu/hari dan pada botol 3 dengan kepadatan 200.000 sel/individu/hari. Menghitung kepadatan dan mengamati perkembangan dari siklus rotifer. Pengamatan dilakukan setiap 3 jam.

25

3.2.6.Kultur Artemia Lokal/Impor a. Presentase Penetasan (HP) Metode yang dilakukan dalam presentase penetasan kista Artemia mulamula mengambil 1 gram kista artemia dan menghitung jumlahnya. Kemudian kista artemia tadi dihidrasi dengan menggunakan akuades selama 1 jam untuk melunakkan cangkang dari artemia. Setelah dihidrasi, artemia tersebut dimasukkan ke dalam wadah dari botol air mineral yang telah dipotong dan diisi dengan 500 ml air laut, diaerasi selama 36 jam. Mengamati perkembangan kista artemia setiap 1 jam sekali selama 36 jam dengan menggunakan sedgewick rafter. Menghitung naupli yang sudah menetas dan kista artemiayang belum menetas. Kemudian dimasukkan kedalam rumus: HP :

N x 100% N C

Keterangan : HP : Nilai hatching Percentage N C b. : Jumlah naupli yang menetas : Jumlah Kista yang tidak menetas

Hatching Rate (HR) Metode yang dilakukan dalam hatching rate kista Artemia adalah

menghidrasi 1 gram kista kedalam 100 ml air tawar selama 1 jam. Kemudian memindahkan semua kista kedalam 100ml air laut dengan menggunakan plankton net dan mengaerasinya dibawah penyinaran 100lux. Mengambil sampai tiap 1 jam dan mengamati berapa kista yang menetas sampai presentase maksimum tercapai, sehingga didapatkan nilai rata-rata presentase-presentase tiap jamnya kemudian di hitung jangka waktu yang diperlukan untuk mencapai presentase penetasan 90% (t90)

26

HR =

ax bx cx waktu(t )

Keterangan: HR ax, bx, cx t

: Hatching rate : Jumlah kista menetas pada jam ke-x : Waktu yang dibutuhkan untuk menetaskan kista sampai 90%

c.

Efisiensi Penetasan (HE) Metode yang dilakukan dalam efisiensi penetasan kista Artemia adalah

mengambil 1 gram kista artemia dan menghitung jumlahnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah dari botol air mineral yang telah dipotong dan diisi dengan 500 ml air laut, diaerasi selama 36 jam. Untuk pengamatannya, mengambil 5ml sampel kemudian ditetesi dengan 2-3 tetes formalin 4 % agar naupli mati lalu dihitung jumlahnya. Diulangi sebanyak 3 kali. Kemudia dihitung dengan rumus : HE =
N 1 gram telur

Keterangan : HE : Nilai Hatching Efficiency N : Jumlah Naupli yang menetas.