Anda di halaman 1dari 22

UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS PSIKOLOGI

CITRA DIRI PADA PENDERITA SYRINGOMA

Disusun oleh :

Nama NPM Jurusan

: Sorta Marisi Margaretha Nababan : 10507232 : Psikologi

Dosen Pembimbing : Mahargyantari Purwani Dewi, Msi

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Depok 2011 Citra Diri Pada Penderita Syringoma

Sorta Marisi Margaretha Nababan 10507232 Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma

ABSTRAKSI Kulit terutama pada bagian wajah, sangat menjadi perhatian ketika seesorang menjalin komunikasi sosial dengan orang lain. Kekurangan pada kulit wajah terkadang membuat seseorang menjadi tidak percaya diri. Syringoma adalah tumor saluran keringat yang biasanya terdapat di sekitar kelopak mata dan pipi. Penderita Syringoma sering khawatir karena berpengaruh pada kecantikan wajah. Citra diri adalah cara seseorang individu memandang dirinya sendiri. Termasuk juga caranya memandang diri secara fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana citra diri pada penderita Syringoma dan faktor faktor yang berperan di dalam citra diri penderita Syringoma. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan pengertian lebih mengenai citra diri pada penderita Syringoma. Pada penelitian ini, penulis menggunakkan penelitian yang berbentuk studi kasus. Teknik wawancara yang dipakai adalah wawancara terstruktur. Subjek penelitian ini adalah seorang wanita yang memiliki penyakit Syringoma. Dari hasil penelitian ini, dapat dilihat bahwa subjek memiliki citra diri yang positif. Hal ini disimpulkan dari kepercayaan diri, ketegasan, kejujuran, produktifitas, dan sikap optimis subjek sehari hari. Selain itu, faktor faktor yang berperan penting dalam citra diri subjek adalah keluarga, tetangga, lingkungan tempat subjek beraktivitas, dan juga self-talk positif yang sering dilakukan subjek.

Kata kunci : Citra Diri, Syringoma, Wanita.

BAB I PENDAHULUAN

banyak aspek lainnya. Tetapi yang menjadi perhatian di sini adalah, mengenai kesehatan kulit wajah

A. Latar Belakang Masalah Kulit merupakan cermin kesehatan seseorang. Kulit bisa menjadi petunjuk terhadap apa yang terjadi di dalam tubuh seseorang. Pucat, sehat, segar, berjerawat, bercahaya, semuanya ini adalah ungkapan yang umum untuk menggambarkan kesehatan melalui penglihatan pada kulit. Jika seseorang berada di dalam suatu tekanan, kulitnya akan

yang berpengaruh pada perasaan dan pikiran seseorang. bagian Kulit, wajah,

terutama

pada

sangat menjadi titik perhatian ketika seseorang menjalin

komunikasi sosial dengan orang lain. Tidak jarang, kekurangan pada kulit wajah, mulai dari bentuk jerawat, tompel, parutan luka, hingga keropeng terkadang membuat seseorang menjadi tidak percaya diri. Citra seorang diri adalah cara

terlihat pucat dan letih (Scrivner, 2004). Kulit menutupi dan

individu

memandang

melindungi tubuh.Selain peraba, mengatur kulit

permukaan sebagai juga suhu indera

dirinya sendiri. Termasuk juga caranya memandang diri secara fisik atau pendapatnya mengenai siapa dan apadirinya, dan apa yang dia ketahui tentang dirinya. Citra diri terbentuk ketika

membantu dan

mengendalikan hilangnya air dari tubuh. Kulit sedemikian erat

berhubungan dengan mekanisma psikis seseorang, sehingga dapat menjadi cermin emosinya.

seseorang mencerna umpan balik yang diterimanya dari sekeliling (Lama & Cutler, 2004). Banyak manusia menginginkan dan

Penyakit kulit atau gangguan pada kulit dapat disebabkan oleh

mengupayakan agar ia memiliki citra diri yang baik serta mampu bertahan antara dan berkembang di

banyak hal. Keadaan fisik seseorang meliputi kesehatan kulit wajah, kesehatan di dalam tubuhnya, dan

manusia

lainnya

(Dwikomentari, 2005).

Di zaman sekarang ini, begitu banyak iklan dan tayangan komersial televisi yang

jerawat

parah,

tompel,

bekas

cacar, dan juga syringoma. Syringoma adalah tumor saluran keringat tidak berbahaya biasanya ada di sekitar kelopak mata atau di pipi tetapi juga dapat ditemukan di aksila, vulva, dan penis, berukuran 1 - 3 mm, kulit bundar - papula berwarna atau kuning, tidak ada pengobatan yang diperlukan tetapi bisa

menonjolkan kecantikan. Hal ini membuat pandangan sosial bahwa kecantikan cenderung dilihat

sebagai yang superior. Maka, kekurangan sepertinya sesuatu

yang harus dihilangkan agar dapat diterima di mana saja dengan mudah. Hal kebohongan ini

menjamur hingga kepada semua masyarakat, terutama kalangan wanita, di mana kecantikan wajah sering diidentikkan dengan modal utama pergaulan sosial. Kulit wajah berpengaruh kuat pada kesan pertama (first impression) seseorang terhadap lawan bicaranya. Kulit wajah tidak jarang juga disebut sebagai modal utama dalam pergaulan dan mempengaruhi rasa percaya diri seseorang. Kekurangan

dihapus untuk alasan kosmetik menggunakan terapi laser (Wiles dkk, 2011). Syringoma gejala. tidak

menunjukkan sering berpengaruh

Penderita karena kecantikan

khawatir pada

wajah (Frankel, 2006). Syringoma adalah tumor jinak yang berasal dari struktur saluran keringat. Lebih sering terlihat pada wanita, biasanya muncul pada masa

remaja, meskipun mereka dapat muncul pada usia berapapun. Syringoma itu jinak, berbentuk lesi yang tetap, dan biasanya pengobatannya dikhususkan untuk alasan 2002). Dalam kasus penderita kecantikan (Katowitz,

kekurangan yang terdapat di kulit wajah, sedikit banyak

mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya sendiri, yaitu citra dirinya. Terdapat beberapa kasus kelainan maupun

kekurangan di kulit wajah, seperti

dengan penyakit kelainan kulit wajah seperti Syringoma,

diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai apakah penyakit D. Manfaat Penelitian Manfaat yang didapatkan dari penelitian ini antara lain : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan pemikiran yang lebih luas lagi bagi perkembangan Ilmu informasi Psikologi, khususnya bidang

Syringoma ini berpengaruh atau tidak pada nilai diri si penderita. Nilai diri di sini berarti cermin seseorang mengenai dirinya

sendiri (Covey, 2008). Nilai diri inilah yang menjadi titik awal suatu citra diri. Berdasarkan

yang telah diperoleh tersebut dan oleh karena alasan alasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang gambaran citra diri pada penderita syringoma.

Psikologi Klinis dan Psikologi Sosial. 2. Manfaat Praktis Memberikan pengertian lebih mengenai gambaran citra diri dan bagaimana hal itu mempengaruhi pikiran dan perasaan seseorang,

B. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah citra diri pada penderita syringoma? 2. Faktor faktor apa yang berperan penting dalam citra diri seorang penderita syringoma? 3. Bagaimana proses pemebentukan citra diri pada penderita syringoma ?

guna membantu Individu yang mempunyai penyakit ini

memperbaiki citra dirinya ke arah yang positif.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Citra Diri 1. Pengertian Citra Diri merupakan seseorang kesan atau

C. Tujuan Penelitian Penulis melakukan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Citra impresi

terhadap

sesuatu. Citra merupakan persepsi yang terbentuk Citra dalam diri benak adalah

bagaimana Penderita Syringoma berpikir tentang citra dirinya.

manusia.

imajinasi yang dimiliki seseorang atas dirinya sendiri, imajinasi

2.

Karakteristik Citra Diri

Citra diri seseorang berpengaruh pada kehidupan sehari

tersebut seperti rekaman video seseorang sendiri mengenai 2006). dirinya Profesor

hari.Kehidupan seseorang saat ini berada di sekitar citra dirinya sendiri. Citra diri seseorang

(Leo,

Hembing(dalam Sutoyo, 2000) mengatakan menentukan citra apa diri akan jadinya

memainkan peranan terbesar di dalam kehidupan orang tersebut. Jika setiap manusia dikendalikan oleh gambar mental yang

seseorang nanti. Jika citra diri adalah citra diri inferioritas,

kekurangcakapan, dan kegagalan, citra diri itu dapat diubah. Ketika citra diri itu diubah, orang itupun akan berubah. Penemuan yang terbesar, adalah bahwa manusia dapat mengubah hidup mereka dengan mengubah sikap mental dan pikiran mereka. Citra diri merupakan gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri,

dikembangkan mengenai dirinya sendiri, maka ia dapat mengambil langkah langkah gambaran yang untuk itu sesehat

mewujudkan menurut cara

mungkin (Holden, 2005). Di samping itu, citra diri merupakan mekanisme otomatis dari gambaran mental seseorang. Jika citra dirinya sehat maka ia dapat mencapai kebahagiaan

identitasnya, kemampuannya, dan keberhargaannya. Berdasarkan pengertian pengertian yang telah dijelaskan di atas, maka ditarik sebuah kesimpulan adalah seseorang bahwa gambaran mengenai citra diri

sebaliknya jika citra dirinya buruk maka ia akan terlihat sebagai orang yang tidak percaya diri dan tidak mampu. Citra diri atau gambaran yang dimiliki seseorang haruslah realistis. Citra terletak pada akar dari sebagian besar perangai (Darmaputera, 2005). Sebelumnya, sudah

mental dirinya

sendiri yang secara keseluruhan mempengaruhi keyakinannya

mengenai dirinya sendiri.

dibahas terlebih dahulu mengenai faktor faktor pembentukan citra

diri yang membuat seseorang memiliki citra diri yang negatif maupun citra diri yang positif. Dan sekarang peneliti hendak menguraikan, berdasarkan teori teori, ciri ciri orang dengan citra diri yang negatif maupun citra diri yang positif, seperti dibawah ini: a. Orang dengan Citra Diri Positif Individu yang memiliki citra diri yang positif merasa dirinya berharga di mata orang lain. Seperti citra tentang

diri yang buruk, yaitu: minder (tidak percaya diri), sombong (takut gagal, takut tertolak,

pembuktian diri), rasa tidak aman (ingin menjadi orang lain), merasa tidak mampu (menyerah pada situasi ataupun keadaan), mudah tersinggung. Selanjutnya menjelaskan negatif pada Maxwell citra diri (2007) yang akan

seseorang

menghambat orang tersebut untuk berhasil. Citra yang dimiliki

kejujuran, ketegasan, wibawa, dan sikap adil. Citra diri yang positif ditandai dengan kepercayaan diri individu bahwa mereka memiliki lebih banyak kualitas positif bila dibandingkan dengan kualitas

seseorang atas dirinya sendiri mempengaruhi perilakunya. Jika seseorang melihat dirinya sendiri sebagai seseorang yang buruk sekali, maka itulah yang akan terjadi. seseorang Dan itu jika citra diri orang

negatif dari dirinya sendiri Orang yang memiliki citra diri positif mudah untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, simpati

sebagai

rendahan, orang lainpun akan memperlakukan dia sebagai orang rendahan (Suprajitno, 2009).

orang lain selalu tertuju padanya, dan citra dirinya itu memicu antusias (Mangkuprawira, 2008). hidupnya 3.

Faktor faktor yang berperan dalam pembentukan Citra Diri

b.

Orang

dengan

Citra

Diri

Citra diri terbentuk dari sejak masa kecil dimana pengalaman

Negatif Kandani (2010)

hidup di masa lalu dan juga penilaian mengenai masa lalu

menguraikan orang dengan citra

tersebut membuat suatu gambaran mental tentang diri di masa

buruk atau yang bagus. Seperti kulit hitam itu jelek dan kulit putih itu cantik. Orang kulit hitam yang mendengar ini akan merasa dirinya jelek dan berpikir bahwa temannya yang berkulit putih cantik adanya. Sehingga muncul citra diri yang negatif terhadap dirinya sendiri. 3) Diri Sendiri Hal ini berhubungan dengan self talk (pembicaraan dengan diri sendiri). sedang Pada saat seseorang tekanan

sekarang. Citra diri seseorang terbentuk pengalaman keberhasilan dari masa dan perjalanan lalu, kegagalan,

pengetahuan yang dimiliki, dan penilaian objektif. Leo (2006) mengemukakan tiga faktor yang berperan dalam pembentukan citra diri seseorang, antara lain: 1) Orang Tua Katakata yang dianggap orang lain secara

mengalami

tekanan, self talk akan muncul. Apa yang akan dikatakan kepada diri sendiri akan membuat gambar diri yang dapat menipu atau mendukung diri orang tersebut. Dari sinilah dapat muncul

seseorang anak dari orang tuanya dapat dianggap sebagai suatu kebenaran. Anak itu percaya pada apa yang dia masukkan ke dalam imajinasinya. Misalkan ayahnya berkata ia seorang anak bodoh, anak itu dapat tersebut memasukkan ke dalam sebagai

kepercayaan yang benar ataupun kepercayaan yang salah di dalam diri.

informasi gambaran

mentalnya

suatu kebenaran dan akhirnya berpikir bahwa ia adalah seorang anak yang bodoh. 2) Lingkungan sekitar Suatu lingkungan mempunyai nilainilai budaya yang dapat dimasukkan ke dalam imajinasi seseorang. Baik itu nilai yang 1.

B. Syringoma Definisi Syringoma Tumor jinak kulit adalah benjolan pada kulit yang bersifat jinak, tidak berhubungan dengan keganasan kulit. Karena sifatnya jinak, tumor jinak kulit tidak membutuhkan terapi. Namun bila

secara

kosmetis

mengganggu disarankan

Sering ditemukan dalam kelopak mata tetapi juga ada kemungkinan timbul di tempat lain di kulit wajah (Goodheart, 2011).

penampilan,

mendatangi dokter spesialis kulit untuk menghilangkan tumor jinak kulit tersebut. Umumnya dokter akan melakukan tindakan berupa bedah listrik atau bedah laser. Jenis tumor jinak antara lain serperti Syringoma, yaitu tumor kelenjar keringat yang biasanya terdapat di kulit wajah. Syringoma berasal dari

Syringoma adalah jenis tumor jinak yang terkadang mirip

dengan komedo atau jerawat. Karakteristik khasnya berupa

papulpapul multipel di bawah mata atau daerah kulit yang banyak mengeluarkan keringat. Penyakit syringoma ini tidak

kata yunani Syrinx yang berarti pipa. Syringoma adalah tumor kulit jinak yang berasal dari sel sel yang berhubungan dengan kelenjar biasanya keringat. lebih Syringoma rentan pada

terlalu berbahaya tetapi secara kosmetik mungkin mengganggu penampilan. Syringoma adalah tumor jinak yang berasal dari struktur saluran keringat. Lebih sering terlihat pada wanita, biasanya muncul pada masa remaja,

perempuan dan memang memiliki dasar genetika dalam beberapa kasus. Syringoma biasanya

meskipun mereka dapat muncul pada usia berapapun. Syringoma itu jinak, berbentuk lesi yang tetap, dan biasanya

berbentuk benjolanbenjolan kecil berwarna sama dengan kulit

wajah dan bisa berada di kelopak mata, sekitar mata, lengan, perut bagian bawah, dan vulva (Elsayed & Assaf, 2009). Syringoma adalah tumor kecil jinak saluran keringat yang muncul terutama pada wanita dan sering turun termurun. Umumnya pertama muncul sekitar pubertas.

pengobatannya dikhususkan untuk alasan 2002). Berdasarkan pengertian kecantikan (Katowitz,

yang telah diuraikan diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa syringoma adalah suatu penyakit tumor jinak yang

disebabkan oleh kelenjar keringat yang terdapat di wajah dan bagian tubuh lainnya dan secara kosmetik dapat menganggu penampilan.

3.

Fisiologi Treatment Syringoma Diketahui, bahwa begitu

banyak rumahrumah aesthetic yang ada di zaman canggih seperti

2.

Penyebab Syringoma Tumor kulit pada wajah

ini. Mereka dilengkapi dengan begitu banyak alat peralatan laser maupun menawarkan jenisnya yang perbaikan

biasanya paparan

disebabkan sinar matahari

karena yang

berlangsung lama. Penyebab lain tumor kulit adalah pemakaian bahan kimia yang tidak aman bagi kulit, seperti arsen, berilium,

kecantikan terutama dikalangan wanita. Tetapi pergi ke rumah sakit dan mencari dokter spesialis kulit tetap option yang terbaik dan teraman. Dari berbagai macam medikasi yang ditawarkan, mulai dari kasus yang paling ringan hingga yang paling berat, mulai dari jenis salep pelembut kulit hingga mesin laser, peneliti

kadmium, mercury, plumbum dan berbagai jenis logam berat lainnya (Megasari, 2008). Hormon steroid dikaitkan dengan regulasi dari pertumbuhan kulit. Hormon ini mempunyai pengaruh atas efek biologis kulit melalui interaksi dengan reseptor afinitas-tinggi. Disimpulkan

menguraikan dua perawatan / pengobatan yang paling sering diberikan kepada penderita

bahwa hormon dapat menjadi penyebab dari Syringoma (Fathy dkk, 2005). Syringoma

syringoma, yaitu sinar laser C02 dan teknik cauter. Pengobatan Syringoma

disebabkan oleh kelenjar keringat yang sangat produktif. Biasanya muncul diyakini setelah pubertas dan

bervariasi macamnya tergantung pada sejauh mana area yang terkena dan jenis kulit pasien. Ada dua metode dasar yang digunakan dan menawarkan jaringan parut yang minimal ketika syringoma dihapus. Pertama, Laser CO2,

berkaitan

dengan

genetika (Burgess, 2009).

prosedur invansif minimal yang memerlukan anastesi lokal, tapi ada kesempatan bagi jaringan parut permanen. Kedua adalah dengan Electrocautery, metode yang lebih tepat digunakan untuk mengobati syringoma. Diberikan zat Lidocain sebelum perawatan dilakukan kemudian jarum ke

sekelilingnya makna perilaku

dan

bagaimana

tersebut

mempengaruhi Penelitian

mereka.

dilakukan dalam setting yang alamiah bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi

variabel yang dibutuhkan.Maka, untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang suatu fenomena yang dialami subjek, peneliti memilih metode kualitatif (Dennzin & Lincoln, dalam

Electrocautery dalam

dimasukkan

syringomas

untuk

membakar tumor. Setelah itu, keropeng keropeng (scabs) kecil akan terbentuk di atas area

Basuki, 2006). Lebih lanjut Silverman

syringoma tersebut tetapi relatif cepat sembuh (Burgess, 2009).

(2000) mendeskripsikan bahwa metode kualitatif sesuai

digunakan pada masalahmasalah BAB III METODE PENELITIAN yang betujuan untuk kehidupan tingkah laku

mengeksplorasi seseorang atau

A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang

seseorang dalam kehidupannya seharihari, dengan menggunakan metode kualitatif juga diperoleh pemahaman tentang yang mendalam gejalagejala

digunakan dalam penulisan ini adalah Penelitian pendekatan kualitatif kualitatif. adalah

berbagai

penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam masalah bukan tentang manusia masalah dan sosial,

sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

B. Subjek Penelitian Sarantakos (dalam

mendeskripsikan

bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan

Poerwandari, 2001) mengatakan bahwa prosedur penentuan subjek

atau sumber data dalam penelitian kualitatif umumnya menampilkan karakteristik sebagai berikut, yaitu diarahkan tidak dalam jumlah sampel yang besar, melainkan pada kasuskasus tipikal sesuai kekhususan penelitian,dapat dalam hal masalah berubah jumlah baik

C. Tahap Tahap Penelitian Tahap pelaksanaan persiapan yang dan

dilakukan

dalam penelitian ini meliputi : 1. Tahap Persiapan Penelitian Pertama, peneliti membuat pedoman wawancara yang

disusun berdasarkan dari strategi yang relevan dengan masalah. Pedoman wawancara ini terdiri dari beberapa pertanyaan

maupun

karakteristik sampelnya, sesuai dengan konseptual konteks yang pemahaman berkembang

mendasar yang nantinya akan berkembang dalam wawancara. Pedoman wawancara yang telah di susun kemudian ditunjukkan

dalam penelitian, tidak diarahkan pada keterwakilan melainkan pada kecocokan konteks. Subjek akan ditelusuri Penelitan oleh yang peneliti

kepada penelitian

dosen untuk

pembimbing mendapatkan

adalah sebagai berikut: 1. Karakteristik Subjek Kriteria penelitian ini Subjek adalah dalam seorang

masukan dan koreksi isi pedoman wawancara. Kedua, peneliti

mempersiapkan semua alatalat yang wawancara dibutuhkan dan untuk observasi,

wanita yang menderita syringoma di wajahnya. 2. Jumlah Subjek Penelitian kualitatif cenderung dilakukan dengan jumlah sedikit karna penelitian ini berfokus pada kedalaman dan proses. Adapun pada penelitian ini, subjek yang akan diteliti berjumlah 1 (satu) orang.

termasuk diantaranya pedoman wawancara, pedoman observasi, video recording, dan alat tulis. Kemudian, peneliti akan

menghubungi subjek penelitian dan mengatur jadwal untuk

bertemu di waktu luang yang dia sediakan untuk wawancara.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian Tahap ini merupakan

lisan, dimana dua orang atau lebih berhadaphadapan secara fisik. Menurut wawancara dengan Moleong adalah maksud (2005), percakapan tertentu.

tahap yang paling penting dari penelitian, yaitu peneliti akan melakukan metode pengambilan data dengan wawancara. di

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu interviewer yang mengajukan pertanyaan dan

Wawancara

dilaksanakan

tempat dan waktu yang sudah ditentukan dan disetujui bersama, baik oleh subjek penelitian itu,

terwawancara interviewee yang memberikan pertanyaan menggunakkan wawancara dimana semi jawaban itu. atas Peneliti metode terstruktur, pewawancara

maupun

peneliti.

Setelah

peneliti memberikan pertanyaan yang terdapat di dalam pedoman wawancara dengan bahasa yang lugas dan mudah

menggunakkan daftar pertanyaan sebagai penuntun selama proses wawancara tetapi memberikan

dipahami.Peneliti berharap bahwa data yang telah diperoleh dari wawancara merupakan informasi yang dapat mendukung penelitian ini.

pertanyaan tersebut secara acak kepada subjek penelitian. 2. Observasi Menurut Narbuko & Achmadi (2003), observasi adalah teknik

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara a. Pengertian Wawancara Kartono (dalam Basuki, 2006) menjelaskan adalah bahwa suatu

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan

mencatat secara sistematik tentang gejala yang diselidiki.

E. Alat Bantu Pengumpul Data Dalam penelitian ini, alat bantu pengumpul data yang

wawancara

percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu, ini

merupakan proses tanya jawab

digunakan

sebagai

alat

bantu

untuk mencatat semua data atau informasi di dalam suatu

penelitian adalah: 1. Pedoman Wawancara Berupa lembaran kertas yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek. Pedoman wawancara mempermudah dibuat peneliti untuk dalam

penelitian baik ketika wawancara maupun observasi.

F. Keakuratan Penelitian Keakuratan data merupakan bagian penting yang terdiri dari konsep validitas dan reliabilitas. 1. Keabsahan (validitas). 2. Keajegan (reliabilitas)

menanyakan data dan informasi dari subjek. Pedoman ini sebagai acuan pertanyaan-pertanyaan

penelitian yang akan ditanyakan kepada subjek. 2. Alat Perekam Alat perekam berguna G. Teknik Analisa Data Teknik analisa data

merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian karena (Boyatzis dalam Poerwandari,

sebagai alat bantu pada saat wawancara, agar penulis dapat benar benar berkonsentrasi pada proses pengambilan data tanpa harus berhenti untuk mencatat jawaban jawaban dari

2001) mengatakan bahwa analisis penelitian kualitatif memerlukan kemampuan dan kompetensi

tertentu, kemampuan mengenal pola (pattern recognition), yaitu kemampuan melihat pola dalam informasi yang terkesan acak dan tidak beraturan. Poerwandari (2001)

responden. Dalam mengumpulkan data, alat perekam baru dapat digunakan setelah penulis

memperoleh ijin dari subjek untuk menggunakan alat tersebut pada saat proses wawancara

memberikan tahapan analisis data meliputi: 1. Organisasi data 2. Koding dan analisis 3. Analisis Tematik

berlangsung. 3. Alat Tulis Alat tulis yang digunakan adalah buku dan pulpen. Tujuan penggunaan alat tulis ini adalah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

pintar

memasak,

dan

pintar

berdagang. 5. Optimis

A. Orang dengan Citra Diri yang Positif 1. Percaya diri Subjek melihat dirinya dengan

Subjek

merasa

optimis

pengobatan

syringomanya. Jika suatu saat syringomanya timbul kembali di wajah, subjek tinggal pergi

sebagai individu yang santai dan tenang sebelum penyakit

berkonsultasi dengan dokter lagi. Hal ini terungkap dari jawaban subjek,

syringoma ada di wajahnya. 2. Ketegasan Setelah penyakit

syringoma timbul, subjek tetap merasa bahwa dirinya adalah individu yang santai dan tidak mau dipusingkan dengan pikiran pikirannya. 3. Kejujuran Subjek jujur terhadap

B.

Faktor

faktor

yang

berperan penting dalam Citra Diri seorang Penderita

Syringoma 1. Peran orang tua subjek Ketika subjek masih kecil penyakit syringomanya belum

keadaan yang dimilikinya. Subjek memiliki perasaan tidak enak dengan kehadiran penyakitnya. Walaupun begitu, subjek dapat menerima keadaannya tersebut. 4. Produktif Subjek adalah individu yang rajin dan pekerja keras. Hal ini selaras dengan pendapat dari orang orang dekat subjek yang mengatakan merupakan bahwa seseorang subjek yang

ada, penyakit tersebut muncul saat subjek sudah beranjak dewasa. Jadi, belum ada tanggapan dari orangtua. Sedangkan lingkungan sosial tempat subjek

menghabiskan aktivitasnya sehari hari, menanggapi kehadiran penyakit tersebut dengan respon yang biasa. 2. Peran lingkungan sekitar tempat subjek tinggal Orang orang terdekat subjek beranggapan bahwa subjek

kreatif, pintar mencari nafkah,

merupakan individu yang santai dan tidak pernah memusingkan permasalahan yang terjadi di

individu yang tidak ambil pusing, subjek memandang dirinya secara keseluruhan sebagai individu yang rajin juga pekerja keras, walau

dalam hidupnya. 3. Peran self talk yang

subjek syringoma,

memiliki subjek dengan

penyakit tidak keadaan penyakit

dilakukan subjek Subjek sering mengatakan hal hal yang positif kepada dirinya. 4. Penilaian subjek terhadap pengalaman Subjek merasa tidak

dikhawatirkan dirinya

setelah

syringoma itu ada. Disamping itu, kelebihan kelebihan yang

dimiliki subjek membantu subjek untuk berpikir lebih baik lagi mengenai merasa dirinya optimis dan subjek dengan

terlalu nyaman dengan kehadiran penyakitnya. Walau penyakit

syringoma tidak membuat subjek menjadi kurang percaya diri,

pengobatan syringomanya. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan (2008) oleh yaitu

namun subjek tetap merasa ada sesuatu yang kurang dengan

Mangkuprawira

adanya penyakit syringoma di wajahnya.

bahwa individu yang memiliki citra diri yang positif merasa dirinya berharga di mata orang

C. Pembahasan 1. Subjek Subjek memiliki ciri ciri Orang dengan Citra Diri yang Positif. Hal ini terungkap dari gambaran diri subjek yang Gambaran Citra Diri

lain.

Seperti

citra

tentang

kejujuran, ketegasan, wibawa, dan sikap adil. Citra diri yang positif ditandai dengan kepercayaan diri individu bahwa mereka memiliki lebih banyak kualitas positif bila dibandingkan dengan kualitas

negatif dari dirinya sendiri. Citra dirinya hidupnya. itu memicu antusias juga

merupakan individu yang optimis, rajin, pekerja keras, dan gigih. Subjek menilai dirinya sebagai

Faisal

(2010)

sependapat bahwa orang dengan

citra diri positif termotivasi untuk meraih prestasi yang tinggi, lebih bertanggung jawab, berani

mengalami

hal di

yang

tidak

menyenangkan

lingkungan

sosial karena penyakitnya, dan subjek memilih anaknya yang paling tua sebagai tempat

menghadapi resiko, lebih disiplin dengan rencana - rencananya, apalagi yang sudah dinyatakan kepada orang lain, lebih percaya diri, dan lebih produktif (Faisal, 2010).

bercerita ketika ia sedih juga subjek termotivasi dengan

dukungan dan semangat yang diberikan kepadanya. Uraian diatas juga sesuai

2.

Faktor Faktor yang

mengenai

subjek

berperan penting dalam Citra Diri Subjek Faktor faktor yang berperan penting dalam citra diri subjek adalah tetangga, tempat yaitu keluarga, lingkungan berjualan,

dengan pernyataan dari Holden (2005), yaitu citra diri terbentuk dari penilaian yang dibuat oleh diri sendiri maupun oleh orang orang lain. Citra diri dari informasi, terbentuk

maupun subjek

pengalaman,

umpan balik, dan tanggapan yang dibuat oleh individu itu sendiri. Perkataan yang positif terhadap diri sendiri, dukungan dari

menanggapi penyakitnya dengan baik dengan tidak merasa aneh atau risih dengan penyakit subjek, subjek merasa penyakitnya

keluarga maupun orang orang terdekat serta lingkungan sekitar, merupakan faktor faktor yang membangun sehingga berpikiran citra diri tenang subjek dan dalam

memang tidak berbahaya, namun lebih baik dihilangkan enak agar dilihat, apa

wajahnya subjek

lebih

menerima

dirinya

subjek

adanya setelah memiliki penyakit syringoma, subjek tidak terlalu nyaman penyakitnya wajahnya dengan karena tidak kehadiran ingin terdapat

positif

menanggapi penyakitnya tersebut.

kekurangan, subjek belum pernah

BAB V PENUTUP

gelisah atau kesal, sebaliknya subjek tetap optimis dan mencari pengobatan yang terbaik di tempat

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti maka dapat dijawab pertanyaan

lain. Hal ini juga didukung oleh jawaban significant other yang mengatakan bahwa subjek tidak mengkhawatirkan tentang

penyakitnya, memang ada sedikit merasa risih, tetapi subjek merasa penyakitnya dapat sembuh jika mendapatkan perawatan yang

penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimanakah citra diri pada penderita syringoma ? Berdasarkan hasil

benar. Subjek melihat citra diri itu sebagai gambaran mengenai diri sendiri, subjek menilai dirinya sebagai individu tidak ambil wawancara dengan subjek dan significant other yang telah

dilakukan oleh peneliti, maka gambaran citra diri pada penderita syringoma dikemukakan adalah sebagai dapat berikut,

pusing, dan subjek memandang dirinya secara keseluruhan

sebagai individu yang rajin juga pekerja keras, serta subjek

subjek memiliki citra diri yang positif, hal ini diketahui dari jawaban subjek yang memandang dirinya tetap sama walaupun

menjadi lebih percaya diri dan bahagia setelah dioperasi. 2. Faktor faktor apa saja

penyakit itu ada di wajahnya. Subjek berusaha untuk tidak dan

yang berperan penting dalam citra diri seorang penderita syringoma ? Berdasarkan hasil

merisaukan

penyakitnya

mencoba pengobatan yang terbaik yang bisa subjek dapatkan untuk kesembuhan syringomanya.

wawancara dengan subjek dan significant other, maka faktor faktor yang berperan penting

Walau setelah pengobatan yang pertama yang subjek dapatkan di Rs. Malaka, syringomanya timbul kembali, subjek tidak merasa

dalam citra diri seorang penderita syringoma adalah perkataan

perkataan positif yang dikatakan subjek kepada dirinya (self talk), pendapat lingkungan sekitar

yang positif di dalam dirinya sehingga kepada subjek dapat fokus dirinya

kelebihan

terhadap subjek setelah menderita syringoma, ini mencakup keluarga besar subjek seperti orang tua, suami, ataupun lingkungan anak adik anak, subjek, tempat kakak, juga subjek

dibandingkan kekurangannya dan tetap merasa percaya diri. b. Keluarga Subjek Keluarga diharapkan memberi untuk tetap subjek setia

berdagang dan berbisnis sehari harinya. Perkataan yang positif terhadap diri sendiri, dukungan dari keluarga maupun orang orang terdekat serta lingkungan sekitar, merupakan faktor faktor yang membangun citra diri subjek sehingga berpikiran subjek tenang dan dalam

dukungan

maupun

dorongan kepada subjek, baik di dalam proses perawatan ataupun jika penyakit syringoma itu timbul kembali. membangun Hal ini dapat dan

semangat

optimisme subjek. 2. Saran bagi masyarakat. Peneliti ingin berbagi

positif

menanggapi penyakitnya tersebut. B. Saran Berdasarkan hasil

saran kepada masyarakat sekitar yang mungkin memiliki saudara, tetangga, kerabat, ataupun teman dengan penyakit syringoma untuk memperlakukan individu seperti orang pada umumnya agar

penelitian yang dilakukan, maka peneliti mencoba memberikan

saran, yaitu sebagai berikut : 1. Saran untuk subjek dan

individu tersebut tidak merasa dibedakan dari orang di sekitarnya karna memiliki syringoma. keluarga. a. Subjek Subjek diharapkan untuk terus optimis akan pengobatan syringomanya, selalu melihat hal

3.

Saran

untuk

penelitian

selanjutnya. Bagi penelitian

Basuki, H. (2006). Penelitian kualitatif untuk Ilmu Ilmu Kemanusiaan dan Budaya. Jakarta: Universitas Gunadarma.

selanjutnya yang tertarik untuk meneliti terutama gambaran untuk citra diri Burgess, E. (2009). How to treat Syringoma.http://www.eho

penderita

syringoma, peneliti menyarankan agar lebih lagi menggali aspek aspek yang terdapat pada citra diri yang mungkin dapat belum disajikan secara oleh

w.com. 17 Maret 2010.

Covey, S. (2001). The 7 Habits of Highly Effective Teens.

lengkap

Jakarta: Binarupa Aksara.

peneliti di dalam penelitian ini serta meneliti subjek penelitian pasien penderita syringoma

dengan jenis kelamin laki laki sehingga akan lebih banyak lagi informasi informasi berguna yang dapat diperoleh untuk

Darmaputera, E. (2005). Menjadi pribadi yang dikehendaki Tuhan. Jakarta : Gunung Mulia.

penelitian selanjutnya.

penelitian

Dwikomentari, D. (2005). Manajemen solusi dan spiritual dalam Iman Islam Ihsan. Jakarta : Pustaka Zahra.

DAFTAR PUSTAKA

Elfiky, I. (2009). Terapi Berpikir


Atwater, E. & Duffy, K. G. (1999). Psychology for living : Adjustment, Growth, and Behavior today. USA: Prentice-Hall Books, Inc.

Positif. Jakarta : Penerbit Zaman.

Avram, M. R., Tsao, S., Tannous, Z., & Avram, M. (2007). Color atlas of cosmetic dermatology.New York : McGraw Hill.

Elsayed, M., & Assaf, M. (2009). Familial Eruptive Syringoma. Egyptian Dermatology Online Journal, 5 (1), 1 2.

Faisal, A. (2010). Menang melawan diri sendiri. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

Fathy, H., Aziz, A. M. A,, Elhanbly, S., El-Hawary, A. K., & Amin, M. M. (2005). Is Syringoma hormonally dependent?. J Egypt wom Dermatil Soc. 2 (1) 2 3.

Moleong, L. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Frankel, D. H. (2006). Field guide to clinical dermatology. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.

Narbuko, C. & Achmadi, A. (2003). Metodologi Penilitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Nopijaf.(2009). Sibling rivalry pada anak kembar yang berbeda jenis kelamin. Skripsi. (tidak diterbitkan). Depok : Universitas Gunadarma.

Goodheart, H. P. (2011). Goodhearts same-site differential diagnosis : A rapid method of diagnosing and treating common skin disorders. Philadelpiha : Lippincott Williams & Wilkins. Holden, R. (2005). Success Intelligence. Bandung : Penerbit Mizan.

Nugroho, G., & Intan, N. (2009). Who Is God?. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Grhatama.

Lama, D., & Cutler, H. C. (2004). Seni Hidup Bahagia. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kandani, H. (2010). The achiever : Pencapaian sukses anda berawal di sini. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

MacGregor, S. (2000). Piece of mind : Mengaktifkan kekuatan pikiran bawah sadar untuk mencapai tujuan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Katowitz, J. A. (2002). Pediatric Oculoplastic surgery. New York : Springer Verlag.

Mangkuprawira, S. (2008). Citra Diri 2. http://ronawajah.wordpress.com/2 008/04/21/citra-diri-2/. 12 Maret 2010.

Komsiah, S. (2009). Definisi Citra dan Kompetensi PR. http://pksm.mercubuana.ac.id /new/learning. 16 April 2010.

Leo,
Medical Dictionary.(1999). Syringoma. http://medterms.com/.17

E.

(2006).

Kesembuhan

Emosional. Jakarta: Metanoia Publishing.

Maret

2010.

Lieberman, D. J. (2005). Agar siapa saja mau melakukan apa saja

untuk anda. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.

Silverman, D. (2000). Doing qualitative research.A practical handbook. London: Sage Publication.

Maxwell, J. C. (2007). Winning with people. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suprajitno, A. (2009). Transformation code The best in you. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Sutoyo, A. (2000). Kiat sukses Prof. Hembing. Jakarta: Prestasi Insan Indonesia.

Megasari, A. (2008). Tumor Kulit Jinak. http://arniamegasari.blogspot.com

/. 16 April 2010.

Pearce, E. (1995). Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Wiles, M. R, Williams, J., & Ahmad, K. A. (2011) Essentials of dermatology for chiropractros. MA : Jones and Bartlett Publishers. Wikipedia.(2010). Syringoma. 12 http//:en.wikipedia.org. Maret 2010.

Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengetahuan dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Rizkiana, U. (2008). Penerimaan diri terhadap penyakit pada penderita kanker darah.Penelitian Ilmiah. (tidak diterbitkan). Depok: Universitas Gunadarma.

Scrivner, J. (2004). Cantik, sehat, dan bugar dengan program detox. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Shields, J. A., & Shields, C. L. (2008).Eyelid, Conjunctival, and Orbital tumors : An atlas and textbook. Philadelphia : Lipincott Williams & Wilkins.