Anda di halaman 1dari 34

ANTIDIABETIK ORAL GOLONGAN SULFONILUREA Terdapat 2 Generasi : Generasi I Generasi II : Tolbutamid, Tolazamid, Asetoheksimid dan Klorpropamid : Gliburid (Glibenklamid),

Glipizid, Gliklazid, Glimepirid

(Potensi Hipoglikemik lebih besar)

Mekanisme Kerja
Rangsangan Melalui interaksi dengan ATPSensitive K channel pada membran sel $ambat keluarn#a ion K melalui saluran Menimbulka n depolarisasi membran

Buka kanal Ca

Sekresi nsulin

Rangsangan granula #ang berisi insulin

on Ca!" masuk ke sel

FARMAKOKINETIK ntuk men!apai kadar optimal deplasma, "ul#onil e#ekti# diminum %& menit sebelum makan rea dengan T$ pendek maka lebih

'alam Plasma ( )& * )) + terikat protein plasma (terutama : Albumin) ikatan ini paling ke!il untuk Klorpropamid dan ikatan paling besar untuk Gleburid

SULFONIL UREA GENERASI I ASETOHEKSAMID T$ Asetoheksamid : Pendek tapi obat ini dimetabolisasi dihati sehingga metabolitn,a (-. Hidroksi Heksamid )mempun,ai T$ lebih pan/ang, ,aitu ( 0.1 /am sama dengan T $ Tolbutamid dan Tolazamid2 'osis terapi : &,21.&,1 gr3hari dalam satu atau dua dosis "ebaikn,a sediaan diberikan pada dosis terbagi dan -&+ dari metabolitn,a diekskresi melalui empedi dan keluar bersama tin/a KLOPROPAMID 'alam darah terikat albumin 4empun,ai T $ pan/ang, ,aitu 20.05 6am 7#ek obat masih terlihat beberapa hari setelah obat dihentikan 4etabolisme di Hepar tidak lengkap dan lambat untuk menghasilkan akti8itas biologik dan 2&+ ekskresi utuh di urin 9 Ke!epatan ekskresi klorpropamid : Hipogilikemik 'osis pemeliharan rata * rata adalah 21& mg3hari diberikan dengan dosis tunggal pada pagi hari ;eaksi hipoglikemia ,ang lama lebih sering ter/adi daripada dengan tolbutamid terutama pada penderita tua klorpropamid harus dimonitor se!ara spesial2 'osis < 1&& mg3hari dapat meningkatkan resiko ikterus Penderita dengan predisposisi genetik dan mendapat klorpropamid bisa mengalami hiperemic flush bila minum alkohol

TOLBUTAMID 'iabsorbsi dengan baik tapi !epat dioksidasi di hati

T $ : 0.= 6am karena itu Tolbutamid merupakan sul#onilurea ,ang paling aman digunakan pada penderita diabetes tua 'alam darah )-.)>+ Tolbutamid terikat protein plasma 'i Hepar Tolbutamid diubah men/adi Karboksitolbutamid 'i ekskresi melalui Gin/al Paling baik diberikan dalam dosis terbagi (misaln,a 1&& mg sebelum setiap kali makan dan pada ?aktu mau tidur) 6arang ter/adi reaksi toksik akut, /arang ter/adi timbul kemerahan dikulut dan /arang ter/adi hipoglikemia ,ang lama

TOLAZAMID "ebanding dengan klopropamid dalam potensi tetapi mempun,ai masa ker/a ,ang lebih singkat serupa dengan asetoheksamid Tolazamid diabsorbsi lebih lambat dibanding sul#onilurea lain dan 7#ek pada glukosa darah belum n,ata untuk beberapa /am setelah obat diberikan T $ : = 6am 'i Hepar Tolazamid diubah Hidroksimetiltolazamid dan sen,a?a lain men/adi P.Karboksitolazamid, 0.

6ika dibutuhkan < 1&& mg3hari harus dibagi dan diberikan 2@3hari dan dosis ,ang lebih besar dari -&&& mg3hari tidak lebih memperbaiki tingkat pengendalian gula darah

SULFONILUREA GENERASI II Potensi Hipoglikemik -&& @ lebih besar dari generasi I 4asa Paruh lebih pendek : ( %.1 6am 7#ek Hipoglikemik ter/adi -2.20 6am

GLIPIZID Absorbsi Glipizid lengkap 4empun,ai T$ % * 0 6am 'alam darah )5+ terikat protein plasma potensi -&&@ lebih kuat dari tolbutamid

7#ek hipoglikemik ma@imal (mirip "ul#onil rea lain) dan untuk mendapatkan e#ek maksimumn,a oabt ini harus diberikan %& menit sebelum makan pagi karena absorbsi ,ang !epat akan diperlambat bila obat ini diberikan bersama makanan 4etabolisme dihepar men/adi 4etabolit tidak akti# ( -&+ diekskresi melalui gin/al dalam keadaan utuh 'osis a?al : 1 mg3hari dengan kenaikan sampai -1 mg3hari ,ang diberikan dengan dosis tunggal2 Aila dibutuhkan dosis per hari ,ang lebih tinggi dosis harus dibagi dan diberikan sebelum makan2 'osis maksimum ,ang dian/urkan : %& mg3hari Karena T $ lebih pendek glipizid men,ebabkan hipoglikemik ,ang serius dari gliburid

GLIBURID 4empun,ai potensi 2&&@ lebih kuat dari Tolbutamid 4empun,ai T$ 0 /am 4elakukan metabolisme dihepar men/adi produk dengan akti8itas hipoglikemik ,ang sangat rendah Pemberian dosis tunggal han,a 21+ metabolitn,a dieksresi melalui urin sisan,a melalui empedu 'osis a?al : 2,1 mg3hari atau kurang dan dosis pemeliharaan rata * rata 1.-& mg3hari diberikan dengan dosis tunggal pada pagi hari ,ang e#ek biologikn,a /elas menetap 20 /am2 Gliburid mempun,ai sedikit e#ek samping, ,aitu hipoglikemik2

EFEK SAMPING Insiden e#ek samping generasi pertama 0+ kurang dari generasi kedua 7#ek samping ,ang paling sering ter/adi adalah hipoglikemik sampai koma2 Hal ini lebih sering ter/adi pada lansia dengan gangguan gin/al dan hepar terutama ,ang mengunakan sediaan dengan masa ker/a pan/ang2 Hipoglikemik pada lansia disebabkan oleh mekanisme kompensasi menurun dan asupan makanan ,ang !enderung menurun dan hipoglikemik ,ang ter/adi tidak mudah dikenali karena mun!ul perlahan tanpa tanda aku (akibat sudah tidak adan,a re#leks simpatis) sehingga dapat menimbulkan dis#ungsi otak ,ang dapat men,ebabkan koma2 7#ek samping /ug8a dapat ter/adi pada pasien dengan dosis ,ang tidak tepat atau mempun,ai #ungsi gin/al dan hepar ,ang terganggu 7#ek samping lain :

-2 4ual 22 4untah dosis %2 'iare %& Ge/ala hematologi leukopeni, agranulositosis '& Gangguan ""P 8ertigo, bingung, dan ataksia >2 Ge/ala hipotiroid =2 Ikterus obstrukti# 52 Gangguan 4ata INDIKASI Indikasi berdasarkan usia pasien ?aktu pen,akit diabetes melitus mulai timbul Indikasi selalu harus mempertimbangkan terlebih dahulu untuk mengatasi hiperglikemia dengan !ara mengatur diet atau menurunkan berat badan "ul#onil urea tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada pasien diabetes melitus /u8enil, pasien ,ang kebutuhan insulin tidak stabil, diabetes melitus berat dan diabetes melitus dengan kehamilan dan keadaan ga?at Bbat.obat golongan "ul#onil rea tersebut harus berhati hati pemakaiann,a pada : -2 '4 dengan gangguan #ungsi hepar dan gin/al 22 Insu#isiensi endokrin (adrenal, hipo#isis,dll) %2 Keadaan gizi buruk 02 Alkoholisme akut 12 Pasien ,ang mendapat diuretik Tiazid gangguan saluran !erna dapat 9 dengan meningkatkan dosis , menelan obat bersama makanan atau membagi dalam beberapa

INTERAKSI Bbat ,ang dapat lebih meningkatkan hipoglikemi saat pemberian sul#onilurea : -2 22 %2 02 Insulin Alkohol Ten#ormin "ul#onamid )2 'ikumarol -&2 Kloram#enikol --2 Penghambat 4AB -22 Guanitidin

12 >2 =2 52 -

"ali!,la dosis besar Cenilbutazol oksi#enbutazon probenezid

-%2 Anabolik steroid -02 Cen8luramin -12 Klo#ibrat

propanolol dan adrenoseptor D bloker dapat menghambat reaksi ta!hi!ardi, berkeringat , tremor pada hipoglikemia ,ang disebabkan oleh berbagai hal termasuk oleh obat antidiabetik oral ,ang pada akhirn,a men,ebabkan hipoglikemia ,ang lebih hebat tanpa diketahui sul#onul urea /enis klorpropamid dapat menurunkan toleransi terhadap alkohol sehingga menimbulkan kemerahan (muka,leher)

DOSIS SULFONILUREA Asetoheksamid (generik, ',melor) : Bral : Tablet 21&, 1&& mg Klorpropamid (generik, 'iabinese) : Bral : Tablet -&&, 21& mg Glipizid (Glu!otrol, Glu!otrol EF) : Bral : Tablet 1, -& mg G Tablet extended release 1, -& mg Gliburid ('iabeta, 4i!ronase, Gl,nase PresTab) : Bral : Tablet -,21G 2,1G 1 mg G tablet HPresTabI -,1 G %G 0,1 G > mg Tolazamid (generik, Tolinase) : Bral : Tablet -&&, 21&, 1&& mg Tolbutamid (generik, Brinase) : Bral : Tablet 21&, 1&& mg

GOLONGAN MEGLITINID MEGLITINID ;epaglitid dan aleglitinid 4ekanisme ker/a sama seperti sul#onil urea merangsang insulin dengan menutup kanal K ,ang ATP independent di sel D pankreas2

FARMAKOKINETIK Pemberian oral diabsorpsi dengan !epat dan kadar pun!ak di!apai dalam ?aktu satu /am T$ : - /am harus diberikan beberapa kali sehari , sebelum makan 4etabolisme utama dihepar namun ( -&+ dimetabolisme di gin/al dan metabolitn,a tidak akti# Pada pasien dengan gangguan #ungsi gin/al atau hepar harus diberikan hati.hati

EFEK SAMPING : Hipoglikemi, Gangguan saluran !erna, dan ;eaksi alergi

GOLONGAN BIGUANID Ada % /enis A'B dari golongan biguanid: #en#ormin (telah ditarik dr peredara krn sering men,ebabkan asidosis laktat), bu#ormin dan met#ormin (sering digunakan)2 4ekanisme ker/a: Aiguanid bukan obat hipoglikemik tetapi antihiperglikemik, tdk men,ebabkan rangsangan sekresi insulin, dan umumn,a tdk men,ebabkan hipoglikemia2 4et#ormin menurunkan produksi glukosa di hepar (akibat penurunan glukoneogenesis) dan meningkatkan sensiti8itas /aringan otot dan adipose terhadap insulin2 7#ek ini ter/adi krn adan,a akti8asi kinase di sel (AMP- activated protein kinase)2 Aiguanid tdk merangsang ataupun menghambat perubahan glukosa men/adi lemak2 4et#ormin oral akan mengalami absorpsi di intestin, dalam darah tidak terikat protein plasma, eksresi melalui urin dalam keadaan utuh2 4asa paruhn,a sekitar 2 /am2 Jara ker/a met#ormin dengan menekan na#su makan (e#ek anoreksia) dan menurunkan kolesterol (F'F) dan trigliserida2 'osis a?al 2@1&& mg2 mumn,a dosis pemeliharaan (maintenan!e dose) %@1&& mg, dosis maksimal 2,1 gram2 Bbat diminum pada ?aktu makan2 Pasien ,g tdk memberikan

respon dgn sul#on,lurea dpt diatasi dgn met#ormin atau diberikan kombinasi dgn isulin atau sul#on,lurea2 'osis met#ormin -.% gram sehari dibagi dalam 2 atau % kali pemberian2 7#ek samping: 2&+ pasien mengalami mual, muntah, diare serta ke!ap logam (metali! taste), tp dgn menurunkan dosis maka keluhan segera hilang2 Pada pasien ,g mutlak bergantung pd insulin eksogen, kadang.kadang biguanid menimbulkan ketosis ,g tdk disertai dgn hiperglikemia2 Pada pasien dgn gangguan #ungsi gin/al3s,stem kardio8askular, pemberian biguanid dpt menimbulkan peningkatan kadar asam laktat dlm darah sehinga dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dlm !airan tubuh2 Indikasi: "ediaan biguanid tidak dapat menggantikan #ungsi insulin eksogen dan digunakan pada terapi diabetes de?asa2 Kontraindikasi: Aiguanid tidak boleh diberikan pada kehamilan, pasien pen,akit hepar berat, pen,akit gin/al dengan uremia dan pen,akit /antung kongesti# dan pen,akit paru dengan hipoksia kronik2 Pada pasien ,g akan diberi zat kontras IK atau ,g akan dioperasi, pemberian obat ini sebaikn,a dihentikan dahulu2 "etelah lebih dr 05 /am, biguanid br boleh diberikan dgn !atatan #ungsi gin/al harus tetap normal2 Hal ini utk men!egah terbentukn,a laktat ,g berlebihan dan dpt berakhir #atal akibat asidosis laktat2 GOLONGAN TIAZOLIDINEDION 4ekanisme ker/a dan e#ek metaboli!: Insulin merangsang pembentukan L translokasi GF T (glucose transporter) ke membran sel di organ peri#er2 Ini ter/adi krn insulin merangsang Peroxisome proliferatorsactivated reseptor- (PPA;M ) di inti sel dan mengakti8asi insulin-responsive genes, gen ,g berperan pd metaboliseme karbohidrat dan lemak2 PPA;M terdapat di target insulin ,akni /aringan adipose, hepar, pan!reas2 Aagian lain dr kelompok reseptor ini, retinoic x receptor (;E;) merupakan heterodimer partner PPA;, PPA;M akti# bila membentuk kompleks PPA;M.;E; ,g akan terikat pd responsive DNA elements dan merangsang transkripsi gen, membentuk GF T baru2 Aila ter/adi resistensi insulin, maka rangsangan insulin tdk akan men,ebabkan akti8asi PPA;M, tdk ter/adi kompleks PPA;M.;E; dan tdk ter/adi pembentukan GF T baru2 Tiazolidinedion merupakan agonist potent dan selekti# PPA;M mengakti#kan PPA;M membentuk kompleks PPA;M.;E; terbentuklah GF T baru2 'i /aringan adipose PPA;M mengurangi keluarn,a asam lemak menu/u ke otot dpt mengurangi resistensi insulin2 Pendapat lain, akti8asi hormon adiposit, dan adipokin, ,aitu adiponektin2 "en,a?a ini meningkatkan sensiti8itas insulin melalui peningkatan A4P kinase ,ang merangsang

transport glukosa ke sel dan meningkatkan oksidasi asam lemak2 6d, agar obat ini dpt ber/alan hrs tersedia insulin2 Glitazion menurunkan produksi glukosa hepar, menurunkan asam lemak bebas di plasma dan remodeling /aringan adipose2 Glitazon digunakan utk '4 tipe 2 ,g tdk memberi respons dgn diet L latihan #isik, sebagai monoterapi atau ditambahnakn pd mereka ,g tdk memberi respon pd obat hipoglikemik lain (sul#on,lurea, met#ormin) atau insulin2 Pioglitazon dan rosiglitazon dpt menurunkan HbA-! (-.-,1+) dan berke!enderungan meningkatkan H'F, e#ek pd trigliserid sedang dan F'F ber8ariasi2 Pada pemberian oral absorpsi tdk dipengaruhi makanan, berlangsung (2 /am2 4etabolisme di hepar, oleh sitokrom P.01& rosiglitazon dimetabolisme oleh isozim 2J5, sedangkan pioglitazon oleh 2J5 + %A02 Penggunaan rosiglitazon 0mg 2@ sehari bersama ni#edipin atau kontrasepsi oral (etinil estradiol N noretindron) ,g /g dimetabolisme isozim %A0 tdk menun/ukkan e#ek klininis negati#2 7ksresi melalui gin/al2 Kontraindikasi: Gangguan #ungsi hepar (AFT <2,1@nilai normal)2 'osis: 'osis a?al rosiglitazon 0mg, bila dlm %.0 mimggu kontrol glisemia blm adekuat, dosis ditingkatkan 5mg3hari2 'osis pioglitazon dosis a?al -1.%& mg bila kontrol glisemia blm adekuat, dosis dpt ditingkatkan sampai 01mg2 7#ek klinis maksimal ter!apai setelah penggunan >.-2 minggu2 7#ek samping: Peningkatan berat badan, edema, menambah 8olume plasma dan memperburuk gagal /antung kongesti#2 7dema sering ter/adi pd penggunaann,a bersama insulin2 Ke!uali pen,akit hepar, tdk dian/urkan pd gagal /antung kelas % dan 0 (menurut OPHA)

GOLONGAN PENGHAMBAT ENZIM -GLIKOSIDASE 4ekanisme ker/a: Bbat golongan penghambat enzim Q.glikosidase dpt memperlambat absorpsi polisakarida, dekstrin dan disakarida di intestin2 'engan menghambat ker/a enzim Q. glikosidase di brush border intestin, dapat men!egah peningkatan glukosa plasma pd org normal dan pasien '42

Karena ker/an,a tdk mempengaruhi sekresi insulin maka tdk akan men,ebabkan e#ek samping hipoglikemia2 Akarbose dpt digunakan sbg monoterapi pd '4 usia lan/ut atau '4 ,g glukosa postprandial sangat tinggi2 Bbat golongan ini diberikan pd ?aktu mulai makan2 Akarbose merupakan oligosakarida ,g berasal dr mikroba, dan miglitol suatu deri8at desoksi no/irimisin, se!ara kompetiti# /g menghambat glukoamilase dan sukrase, tetapi e#ekn,a pd Q.amilase pan!reas lemah2 Indikasi: . . ntuk mengobati diabetes tipe 2 (non.insulin dependent) A!arbose sangat berman#aat bagi pasien '4 ,g !enderung meningkat kadar gula darahn,a segera setelah makan (hiperglikemia postprandial)2 Pasien ,g diterapi dgn insulin umumn,a akan menurun penggunaan insulinn,a /ika dikombinasi dgn a!arbose2 Bbat.obat Q.glikosidase dpt diberikan sbg obat tunggal atau dlm bentuk kombinasi dgn obat diabetes lainn,a spt golongan sul#on,lurea, met#ormin atau insulin2

Kontraindikasi: . . . . . . hipersensiti#itas terhadap a!arbose ketoasidosis diabetik obstruksi usus partial3keseluruhan radang3luka pada kolon ?asir pen,akit usus kronis lainn,a atau pen,akit.pen,akit lain ,g akan bertambah parah /ika ter/adi pembentukan gas berlebihan di saluran pen!ernaan

7#ek samping: Aersi#at dose-dependent, malabsorbsi, #latulen (sering #latus), diare, dan abdominal bloating2 tk mengurangi e#ek samping sebaikn,a dosis dititrasi, mulai dosis a?al 21mg pd saat mulai makan utk selama 0.5 minggu, kemudian se!ara bertahap ditingkatkan setiap 0.5 minggu sampa dosis maksimal =1 mg setiap tepat sebelum makan2 'osis ,g lbh ke!il dpt diberikan dengan makanan ke!il3sna!k2 Akarbose paling e#ekti# bila diberikan bersama makanan ,ang berserat, mengandung polisakarida, dengan sedikit kandungan glukosa dan sukrosa2 Aila akarbose diberikan bersama insulin, atau dgn golongan sul#on,lurea, dan menimbulkan hipoglikemia, pemberian glukosa akan lebih baik daripada pemberian su!rose, polisakarida atau maltosa2

ANTI HIPERTENSI ! Di"re#ik a. Mekanisme Kerja Aerbagai tiazid (misaln,a hidroklorotiazid, bendro#lumetiazid) dan diureti! ,ang se/enisn,a (misaln,a klortalidon, indapamid) mempun,ai mekanisme ker/a ,ang sama, tetapi han,a masa ker/an,a ,ang berbeda2 Aerdasarkan ker/an,a sebagai diureti!, tiazid men,ebabkan ekskresi natrium, klorida dan air, sehingga mengurangi 8olume plasma dan !airan ekstrasel2 Tekanan darah turun akibat berkurangn,a !urha /antung, sedangkan resistensi peri#er tidak berubah pada a?al terapi2 Pada pemberian kronik, 8olume plasma kembali tetapi masih kira.kira 1+ di ba?ah nilai sebelum pengobatan2 Jurah /antung kembali mendekati normal2 Tekanan darah tetap turun karena sekarang resistensi peri#er menurun2 Kasodilatasi primer ,ang ter/adi kemudian ini tampakn,a bukan e#ek langsung tiazid tetapi diduga karena adan,a pen,esuaian pembuluh darah peri#er terhadap pengurangan 8olume plasma ,ang terus menerus2 Kemungkinan lain adalah berkurangn,a 8olume !airan interstisial berakibat berkurangn,a kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahn,a da,a lentur (!omplian!e) 8as!ular2 7#ek antihipertensi tiazid berlangsung lebih lama dan ter/adi pada dosis ,ang /auh lebih rendah daripada e#ek diuretikn,a2 7#ek hipotensi# diureti! baru terlihat setelah 2.% hari dan men!apai maksimal setelah 2.0 minggu2 Karena itu,

peningkatan dosis tiazid harus dilakukan dengan inter8al tidak kurang dari 0 minggu2

b. Indikasi & Kontraindikasi Tiazid merupakan salah satu obat utama dalam terapi antihipertensi pada penderita dengan #ungsi gin/al ,ang normal2 Bbat ini terutama e#ekti# untuk penderita hipertensi dengan kadar renin ,ang rendah, misaln,a keban,akan penderita ,ang lebih tua2 Tiazid digunakan sebagai obat tunggal pada penderita hipertensi ringan sampai sedang atau dalam kombinasi dengan antihipertensi lain pada penderita ,ang tidak terkontrol dengan diureti! sendiri (biasan,a hipertensi berat)2 Tiazid menurunkan tekanan darah berdiri dan berbaring, /arang menimbulkan hipotensi postural, ditoleransi penderita dengan baik, hargan,a relati8e murah, dapat diberikan sekali sehari, dan e#ek hipotensi#n,a bertahan pada penggunaan /angka pan/ang2

c. Efek Samping Tiazid kehilangan e#ekti#itasn,a sebagai diureti! maupun antihipertensi bila la/u #iltrasi glomerulus berkurang dengan 1&+ atau lebih2 digunakan diureti! kuat2 7#ek hipotensi# diureti! diantagonisasi oleh antiin#lamasi non steroid (AIO") melalui penghambatan sintesis prostaglandin di gin/al ,ang memegang peran penting dalam pengaturan aliran darah gin/al danmetabolisme air2 AIO" men,ebabkan retensi natrium dan air, dan /uga hiperkalemi2 ntuk kasus demikian

d. Interaksi Obat Tiazid seringkali dikombinasi dengan antihipertensi lain karena G

Tiazid mempotensiasi e#ek hipotensi# obat lain ,ang mempun,ai mekanisme ker/a ,ang berbeda sehingga menguranggi dosis obat tersebut dan dengan demikian mengurangi /umlah dan keparahan e#ek sampingn,a2

Tiazid men!egah ter/adin,a retensi !airan oleh anti hipertensi lainn,a sehingga e#ek hipotensi# obat.obat tersebut dapat bertahan2

$! Pen%&am'a# A(ren)rese*#)r Be#a + , B-).ker/ a. Mekanisme Kerja Pada terapi /angka pan/ang, D Alo!ker menurunkan tekanan darah berdiri dan berbaring sama kuat, sehingga tidak menimbulkan hipotensi ortostatik2 7#ek hipotensi# ini diperkirakan melalui berbagai mekanisme berikut : i2 Pengurangan !urah /antung dan kemudian 8asodilatasi peri#er sebagai pen,esuaian sirkulasi terhadap pengurangan !urah /antung ,ang kronikG ii2 7#ek pada reseptor adrenergi! di ""P2 4ekanisme ini tampakn,a tidak berperan karena D Alo!ker ,ang mudah masuk ke dalam otak tidak lebih e#ekti# disbanding ,ang tidakG iii2 Penghambatan sekresi renin akibat akti8asi adrenoreseptor D- di gin/al, dan sebagian sekresi renin akibat diet rendah garam2 Penurunan tekanan darah oleh D Alo!ker ,ang diberikan per oral berlangsung lambat2 7#ek ini mulai terlihat dalam 20 /am sampai - minggu setelah terapi dimulai, dan tidak diperoleh penurunan tekanan darah lebih lan/ut setelah 2 minggu bila dosisn,a tetap2

b. Indikasi & Kontraindikasi D Alo!ker diberikan sebagai obat tahap - pada penderita hipertensi ringan sampai sedang dengan pen,akit /antung koroner (terutama setelah in#ark miokard akut) atau dengan aritmia supra8entrikular maupun 8entri!ular tanpa kelainan konduksi, pada penderita muda dengan sirkulasi hiperkinetik, dan pada penderita

,ang memerlukan antidepresi trisiklik atau antipsikotik (karena e#ek antihipertensi D Alo!ker tidak dihambat oleh obat.obat tersebut2) D Alo!ker lebih e#ekti# pada penderita ,ang lebih muda dan kurang e#ekti# pada penderita ,ang lebih tua2

c. Efek Samping Terapi hipertensi dengan D Alo!ker pada penderita dengan gagal gin/al kronik telah dilaporkan men,ebabkan #ungsi gin/al memburuk2 7#ek ini mungkin disebabkan oleh pengurangan aliran darah gin/al dan la/u #iltrasi glomerulus akibat pengurangan !urah /antung dan penurunan T' oleh obat2 Penurunan #iltrasi glomerulus /uga ter/adi pada penderita hipertensi dengan #ungsi gin/al normal pada terapi kronik dengan D Alo!ker, tetapi se!ara klinik tidak penting2 Penghentian D Alo!ker se!ara mendadak pada penderita hipertensi berat ,ang mendapat D Alo!ker dosis besar dapat menimbulkan ge/ala.ge/ala ,ang menun/ukkan akiti8itas simpatis ,ang berlebihan, tetapi hal ini /arang sekali ter/adi2

d. Interaksi Obat Penggunaan D Alo!ker dalam kombinasi, terutama dengan diureti!2 7#ek blo!kade adrenoreseptor D , antiangina dan anihipertensi dari D Alo!ker berlangsung lebih lama daripada bertahann,a kadar plasma2 Hal ini mungkin disebabkan oleh ikatan D Alo!ker pada /aringan2 Karena itu, kadar plasma D Alo!ker tidak berhubungan dengan e#ek antihipertensin,a, dan tidak dapat digunakan sebagai pedoman terapi2

7#ekti8itas berbagai D Alo!ker sebagai antihipertensi tidak berbeda satu sama lain bila diberikan dalam dosis ,ang ekuipoten2 memberikan perbedaan dalam e#ekti8itas sebagai Ada atau tidakn,a antihipertensi, tetapi kardioselekti8itas, I"A, 4"A maupun kemampuan obat masuk otak tidak

memberikan perbedaan dalam pro#il e#ek samping ,ang ditimbulkan dan menentukan pilihan D Alo!ker mana ,ang paling tepat bagi masing.masing penderita2

0! Pen%&am'a# En1im K)n2ersi An%i)#ensin + A3E In&i'i#)r / a. Mekanisme Kerja Ada 2 obat penghambat enzim kon8ersi angiontensin (AJ7 inhibitor) oral ,ang telah beredar, ,akni !aptopril dan enalapril2 Perebedaan utama terletak pada 2 hal, ,akni G i2 Adan,a gugus sul#idril pada !aptopril ,ang dihubungkan dengan beberapa e#ek samping (;A"H, Gangguan penge!ap) ,ang lebih sering ditemukan pada penggunaan !aptopril ii2 7nalapril ker/an,a pan/ang sehingga dapat diberikan sekali sehari (!aptopril 2.% kali sehari2 Penghambat AJ7 ( kaptopril dan enalapril) mengurangi pembentukan A.II sehinga ter/adi 8asodilatasi dan penurunan sekresi aldosteronG ,ang terakhir ini men,ebabkan ter/adin,a ekskresi natrium dan air, serta retensi kalium2 Akibatn,a penurunan T' pada penderita hipertensi essensial maupun hipertensi reno8askular2 Kadar plasma A.II dan aldosteron menurun, sedangkan kadar plasma A.I dan akti8itas renin plasma (P;A) meningkat karena mekanisme kompensasi2 "ekresi aldosteron ,ang dipengaruhi oleh #a!tor.#artor lain disamping s,stem renin.angiotensin, mungkin kembali ke nilai a?al pada terapi /angka pan/ang2 Karena e#ek 8asokonstriksi A.II paling kuat antara lain pada pembuluh darah gin/al maka berkurangn,a pembentukan A.II oleh penghambat AJ7 menimbulkan 8asodilatasi renal ,ang kuat sehingga ter/adi peningkatan aliran darah gin/al2 Penurunan T' oleh AJ7 inhibitor disertai dengan penurunan resistensi peri#er, tetapi tidak disertai dengan re#lek takhikardi2 Penghambat AJ7 /uga

mengurangi tonus 8ena2 Pada pemberian akut, tetapi tidak pada pemberian kronik, besarn,a penurunan T' oleh AJ7 Inhibitor berbanding lurus dengan P;A a?al2 Tampakn,a ker/a golongan obat ini tidak han,a melalui s,stem ;AA2 7#ek hipotensi# AJ7 inhibitor ter/adi perlahan.lahanG diperlukan ?aktu beberapa minggu untuk men!apai e#ek maksimal2 Bleh karena itu, bila diperlukan peningkatan dosis sebaikn,a dilakukan setelah -.2 minggu2

b. Indikasi & Kontraindikasi 'alam dosis rendah, penghambat AJ7 berguna untuk pengobatan hipertensi ringan sampai sedang, terutama bila diberikan bersama diureti! tiazid2 Hipertensi berat ,ang re#rakter seringkali dapat dikontrol dengan penghambat AJ7 dosis besar ,ang diberikan bersama diureti! obat lain, misaln,a D Alo!ker, mungkin dibutuhkan pada beberapa penderita2 Penghambat AJ7 lebih e#ekti# terhadap penderita ,ang lebih muda, bila digunakan sendiri2 Bbat.obat ini terpilih untuk penderita hipertensi dengan gagal /antung kongesti# ,ang /uga merupakan indikasi penghambat AJ72 Penghambat AJ7 oral dapat digunakan untuk urgensi hipertensi ,ang tidak memerlukan penurunan T' dengan segera2 Preparat IK (enalaprilat) digunakan pada kedaruratan hipertensi2

c. Efek Samping Aeberapa e#ek samping kaptopril (;A"H, Gangguan Penge!ap) mirip dengan e#ek samping penisilamin dan diperkirakan akibat adan,a gugus sul#idril pada keduan,a2 ;eaksi dermatologis menghilang bila obat dihentikan dan beberapa rash hilang meskipun obat diteruskan2 Gangguan penge!ap ter/adi pada kira.kira =+ penderita ,ang diberi kaptoprilG gangguan ini bersi#at re8ersible, tetapi perlu dihentikan bila ter/adi anoreksia dan penurunan Aerat badan2 ;eaksi saluran !erna lainn,a, mual, muntah, n,eri lambung, diare, reakti8asi ulkus peptikum2 "akit kepala, insomnia, pusing, dan batuk kadang /uga ter/adi pada pemberian AJ7 inhibitor2

'osis pertama AJ7 inhibitor dapat menimbulkan hipotensi simptomatik2 Peningkatan A O dan kreatinin serum ,ang re8ersible dapat ter/adi pada penderita dengan deplesi !airan atau mereka dengan pen,akit gin/al2 Proteinuria ter/adi kurang dari 2+ penderita ,ang mendapat kaptopril selama % bulan atau lebihG sebagian besar memiliki pen,akit gin/al sebelumn,a2 AJ7 inhibitor /uga dapat men,ebabkan hiperkalemia bila diberikan bersama diureti!2 Oeutropenia /uga ter/adi pada penderita dengan ri?a,at pen,akit gin/al2 Ikterus kolestatik /arang ter/adi dan tampakn,a merupakan suatu reaksi idiosinkarsi2 Penghambat AJ7 tidak boleh diberikan selama kehamilan karena dapat men,ebabkan terhambatn,a pertumbuhan #etus dan hipotensi neonatal2

d. Interaksi Obat 'iuretik atau diet rendah garam merangsang sekresi renin dan mengakti#kan s,stem ;AA sehingga meningkatkan e#ek hipotensi# penghambat AJ72 Pada penggunaan /angka pan/ang, tidak ter/adi toleransi terhadap e#ek hipotensi# golongan obat ini2 Penghentian obat *obat ini se!ara mendadak tidak menimbulkan Cenomena ;ebound2 Penghambat AJ7 e#ekti# untuk hipertensi ,ang ringan, sedang, maupun berat, bahkan untuk sebagian hipertensi berat ,ang re#rakter terhadap kombinasi % obat ,ang terdiri dari diureti!, D Alo!ker, dan hidralazin2 'alam resimen terapi bertahap, penghambat AJ7 merupakan obat tahap 2 sampai 02 Kombinasi dengan diureti! memberikan e#ek antihipertensi ,ang aditi# (kira.kira 51+ T' * n,a terkontrol dengan kombinasi ini), sedangkan e#ek hipokalemi dan diureti! di!egah atau dikurangi2 Kombinasi dengan D Alo!ker memberikan e#ek ,ang kurang dari aditi#2 Kombinasi dengan 8asodilator, termasuk prazozine dan ni#edipine memberikan e#ek ,ang baik2 Tetapi pemberian bersama penghambat adrenergi! lainn,a, ,ang menghambat respon adrenergi! Q dan D ( misaln,a metildopa, klonodin, labetalol, prazozin N D Alo!ker), sebaikn,a dihindarkan karena dapat menimbulkan hipotensi ,ang berat dan berkepan/angan2

Pemberian Kaptopril bersama simetidin dapat menimbulkan gangguan neurologi!2 7#eke hipotensi# kaptopril diantagonisasi oleh indometasin dan aspirin2 4! Pen%&am'a# Rese*#)r An%i)#ensin +An%i)#ensin-Rese*#)r B-).ker5 ARB/ a. Cara kerja dan Interaksi obat : ;eseptor AngII terdiri dari dua kelompok ,aitu reseptor AT- dan AT22 ;eseptor AT- terdapaterutama di otot polos pembuluh darah dan di otot /antung2 "elain itu terdapat /uga di gin/al, otak dan kelen/ar adrenal2 ;eseptor ATmemperantarai semua e#ek #isiologis AngII terutama ,ang berperan dalam homeostasis kardio8askular2 ;eseptor AT2 terdapat di medula adrenal dan mungkin /uga di ""P, tapi sampai sekarang #ungsin,a belum /elas2 Fosartan merupakan prototipe obat golongan A;A ,ang beker/a selekti# pada reseptor AT-2 Pemberian obat ini akan menghambat semua e#ek AngII, seperti : 8asokonstriksi, sekresi aldosteron, rangsangan sara# simpatis, e#ek sentral AngII (sekresi 8asopresin, rangsangan haus), stimulasi /angtung, e#ek renal serta e#ek /angka pan/ang berupa hipertro#i otot polos pembuluh darah dan miokard2

b.

Indikasi : A;A sangat e#ekti# menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan kadar renin ,ang tinggi seperti hipertensi reno8asklular dan hipertensi genetik, tapi kurang e#ekti# pada hipertensi dengan akti8itas renin ,ang rendah2 Pada pasien hipo8olemia, dosis A;A perlu diturunkan2 Pemberian A;A menurunkan tekanan darah tanpa mempengaruhi #rekuensi den,ut /antung2 Penghentian mendadak tidak menimbulkan hipertensi reboud2 Pemberian /angka pan/ang tidak mempengaruhi lipid dan glukosa darah2 Fosartan menun/ukkan e#ek urikosurik ,ang !ukup n,ata, sedangkan 8alsartan tidak mempengaruhi asam urat darah2

c.

Farmakokinetik :

Fosartan diabsorpsi dengan baik melalui saluran !erna dengan bioa8aibilitas sekitar %%+2 Absorpsin,a tidak dipengaruhi oleh adan,a makanan di lambung2 Raktu paruh eliminasi (T $ A ) kurang lebih -.2 /am, tapi obat ini !ukup diberikan -32@sehari, karena kira.kira -1+ Fosartan dalam tubuh diubah men/adi metabolit (1.!arbo@,li! a!id) dengan potensi -&.0&@ Fosartan dan massa paruh ,ang /auh lebih pan/ang (T-32A : >.) /am)2 Fosartan dan metabolitn,a tidak dapat menembus sa?ar darah otak2 "ebaigian besar obat dieksresi melalui #aeses sehingga tidak diperlukan pen,esuaian dosis pada gangguan #ungsi gin/al termasuk pasian hemodialisis dan pada usia lan/ut2 Tetapi dosis harus disesuaikan pada dosis hepar2

d.

Efek Samping : A;A menimbulkan e#ek ,ang mirip dengan pemberian AJ7.Inhibitor2 Tapi karena tidak mempengaruhi metabolisme bradikinin, maka obat ini dilaporkan tidak memiliki e#ek samping batuk kering dan angioedema seperti ,ang sering ter/adi dengan AJ7.Inhibitor2

6! An#a%)nis Ka-si"m

a.

Cara Kerja Dan Interaksi Obat : Antagonis Kalsium menghambat in#luks kalsium pada sel otot polos pembuluh darah dan miokard2 'i pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol, 8ena kurang dipengaruhi2 Golongan dihidropiridin ker/a pendek (ni#edipin) men,ebabkan penurunan resistensi peri#er ,ang diikuti oleh re#lek takikardia dan 8asokonstriksi2 Golongan diltiazem dan 8erapamil tidak menimbulkan takikardia karena e#ek kronotropik negati# langsung pada /antung2 Aila re#leks takikardia kurang baik, seperti pada orangtua, maka pemberian antagonis kalsium dapat menimbulkan hipotensi ,ang berlebihan2

b.

Indikasi Dan Kontraindikasi : Antagonis Kalsium terbukti sangat e#ekti# pada hipertensi dengan kadar renin ,ang rendah seperti pada usia lan/ut2 Kombinasi dengan AJ7.Inhibitor, metildopa atau Aetta Aloker, sebalikn,a dipilih antagonis ,ang bersi#at 8askuloselekti# (dihidropiridin)2 Kombinasi dengan diuretik tidak /elas meningkatkan e#ek anti hipertensi Antagonis Kalsium2 Oi#edipine oral sangat berman#aat untuk mengatasi hipertensi darurat2 'osis a?al -& mg akan menurunkan tekanan darah dalam ?aktu -& menit dan dengan e#ek maksimal setelah %&.0& menit2 maksimal2 ntuk memper!epat absorpsi, obat sebaikn,a dikun,ah, lalu ditelan2 Pemberian sublingual tidak memper!epat pen!apaian e#ek

c.

Efek Samping : Oi#edipin ker/a singkat paling sering men,ebabkan hipotensi dan dapat men,ebabkan iskemia miokard atau serebral2 ;e#leks takikardia dan palpitasi mempermudah ter/adin,a serangan angina pada pasien dengan P6K2 Amlodipin dan ni#edipin lepas lambat dengan mula ker/a ,ang lambat menimbulkan e#ek samping ,ang lebih /arang dan lebih ringan2 "akit kepala, muka merah ter/adi karena 8asodilatasi arteri meningeal dan di daerah muka2 7dema peri#er terutama ter/adi oleh dihidropiridin, dan ,ang paling sering adalah ni#edipin2 7dema ter/adi akibat dilatasi arteriol ,ang melebihi dilatasi 8ena, sehingga meningkatkan tekanan hidrostatik ,ang mendorong !airan ke luar ke ruang intersisial tanpa adan,a retensi !airan dan garam2

TU7UAN TERAPI TINEA8 MENGATASI ETIOLOGI MENGATASI GATAL ANTI HISTAMIN

ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN A! 3ARA KER7A FARMAKO DINAMIK

+AH /

Pembuluh darah : AH- menghambat e#ek histamine pada pembuluh darah, menghambat peninggian permeabilitas kapiler dan edema

Btot polos dan bronkus: AH- menghambat e#ek histamin pada berma!am.ma!am otot polos, seperti otot polos usus2

bronkus dan

;eaksi ana#ilaksis dan alergi: AH- menghambat reaksi hipersensiti8itas ,ang diserati pelepasan histamine endogen berlebihan

Kelen/ar eksokrin: Tidak menghambat sekresi HJl2 Oamun menghambat sekresi sali8a dan sekresi kelen/ar eksokrin lain akibat histamine2

""P: o 'osis terapi kantuk, berkurangn,a ke?aspadaan, reaksi lambat .Jontoh: di#enhidramin (gol etanolamin) Anti histamine generasi II biasan,a tidak men,ebakan kantuk , karna tidak menembus AAA S< Anti Histamin Oon sedati8e .!ontoh: te#enadin, astemizol, loratadin, akri8astin, setirizin2 o Fain.lain: insomnia, gelisah, eksitasi

Anestetik lokal Aeberapa AH- bersi#at anestetik lo!al seperti prometazin, pirilamin2 Oamun butuh kadar tinggi untuk menimbulkan e#ek tersebut2

Antikolinergik

Aan,ak AH- bersi#at mirip atropine, tapi tidak memadai untuk dosis terapi 7#ek antikolinergik: mulut kering, sukar miksi, impotensi2

TAA7F IOT7O"ITA" 7C7K A7A7;APA AOTIHI"TA4IO GBFBOGAO Anti histamin 2 2 2 % 2 0 2 1 2 > 2 7tanolamin 7tilendiamin Alkilamin Piperazin Cenotiazin Antihistamin Oonsedati# N sd NN N sd NN N sd NNN N sd NN NNN . NN N NNN .sdN NN sd NNN . . NNN NNNN . N NNN N N . . "edati# 7C7K Antikolinergik Antiemetik 7C7K "A4PIOG GIT

NN sd NN N sd NN N NN sd NN N sd NNN N N sd NNN NNN

NN sd NN .sd N N

K7T7;AOGAO: sd S sampai dengan . S Tidak ada N sd NNNNSmenggambarkan tinggin,a intensitas e#ek se!ara relati#

FARMAKO KINETIK Parenteral3oral Bral : e#ek timbul -1.2& menit , maksimal -.2 /am

Fama ker/a: o AH- Generasi I dosis tunggal : 0.> /am o AH2 Generasi II masa ker/a lebih pan/ang

Jontoh: 'i#enhidramin Bral kadar ma@ dalam darah 2 /am, dan menetap untuk 2 /am berikutn,a dieliminasi dengan ?aktu paruh 0 /am2

47TAABFI"47 : hati, bias /uga paru dan gin/al 7K;7"I : urin

TABEL PENGGOLONNGAN AH GOLONGAN AH 9 3ONTOHN:A AH GENERASI 7TAOBFA4IO Karbinoksamin 'i#enhidramin 'imenhidrinat (garam di#enhidramin) 1& mg 0.> /am NNN 0.5 mg 21.1& mg %.0 /am 0.> /am NNN NNN "edasi ringan sampai sedang "edasi sickness "edasi sickness kuat, anti-motion kuat, anti-motion DOSIS DE;ASA MASA KER7A AKTI<ITAS KOLINERGIK KETERANGAN

7TIF7O7'IA4I O Pirilamin Tripelenamin 21.1& mg 0.> /am N "edasi sedang

PIP7;ATIO

Hidroksizin "iklizin 4eklizin

21.-&& mg 21.1& mg

>.20 /am U 0.> /am .

"edasi kuat "edasi ringan, , anti-motion sickness

21.1& mg

-2.20 /am

"edasi ringan, , anti-motion sickness

AFKIFA4IO klor#eniramin brom#eniramin 0.5 mg 0.> /am N 0.5 mg 0.> /am N "edasi obat #lu "edasi ringan ringan, komponen

'7;IKAT C7OBTIATIO prometazin -&. 21 mg 0.> /am NNN "edasi kuat, antiemetik

FAIO.FAIO "iproheptadin 4ebhidrolin napadisilat 1& .-&& mg 0 /am N 0mg > /am N "edasi sedang, /uga

antiserotonin

AH GENERASI II astemizol #ekso#enadin -& mg >& mg V 20 /am . -2.20 /am Fain.lain Foratadin "etirizin -& mg 1. -& mg 20 /am -2.20 /am . 4asa ker/a lebih lama . 4ula ker/a lambat ;isiko aritmia lebih rendah

B! INDIKASI Alergi tipe eksudati# akut rtikaria akut

Gatal.gatal 'ematitis atopik, dermatitis kontak, gigitan serangga 4engatasi asma bron!hial ringan sebagi pro#ilaksis Aersin ;inore Gatal pada mata, hidung, tenggorokan 4en!egah dan mengobati mabuk per/alanan (di#enhidraamin, prometazin, siklizin, meklizin) 4ual muntah 4engurangi rigiditas dan termor pada pasien paralisis agitans (Parkinson)

3! KONTRAINDIKASI "opir atau peker/a ,ang memerlukan ke?aspadaan tinggi, karena AH- bersi#at sedati8e (kantuk)2 Pasien pen,akit hati

D! EFEK SAMPING "edasi Terkait e#ek sentral: 8ertigo, tinnitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia,euphoria, gelisah, insomnia, tremor2

Oa#su makan berkurang, mual, muntah, keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare

4ulut kering, palpitasi, hipotensi, disuria, sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan2

Alergi, pada pemberian oral, tetapi lebih sering pada penggunaan lokal

E! INTERAKSI OBAT AHT7C7OA'IO3 A"T74ITBF BAAT FAIO K7TBKBOATBF3 IT;AKBOATBF3 AOTIAIBTIK 4AK;BFI'7 (7;IT;B4I"IO) GBF 7C7K Perpan/angan inter8al WT, 4en!etuskan aritmia 8entrikel ter/adin,a

OBAT 7AMUR

OBAT ORAL ! GRISEOFUL<IN Griseo#ul8in adalah antibiotik anti /amur ,ang dihasilkan oleh se/umlah spesies Peni!illium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral ,ang diperuntukkan bagi pengobatan pen,akit dermatoph,tosis2 a. Mekanisme Kerja Griseo#ul8in adalah kelompok obat #ungistatis ,ang mengikat protein.potein mikrotubular dan berperan untuk menghambat mitosis sel /amur2 "elain itu, griseo#ul8in /uga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat2

b. Farmakokinetik Griseo#ul8in kurang baik pen,erapann,a pada saluran !erna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air2 Pen,erapan lebih mudah bila griseo#ul8in diberikan bersama makanan berlemak 'osis oral &21 han,a akan menghasilkan kadar pun!ak dalam plasma kira.kira Xg3ml setelah 0 /am2 Bbat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utaman,a adalah >.metilgriseo#ul8in2

Raktu paruh obat ini kira.kira 20 /am, 1&+ dari dosis oral ,ang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 1 hari2

c. Efek samping

Feukopenia dan granulositopenia Y menghilang bila terapi dilan/utkan2 "akit kepala Ykeluhan utama pada kira.kira -1+ penderita ,ang biasan,a hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilan/utkan2 Artralgia, neuritis peri#er, demam, pandangan mengabur, insomnia, berkurangn,a ke!akapan, pusing dan sinkop, pada saluran !erna dapat ter/adi rasa kering mulut, mual, muntah, diare dan #latulensi2

Pada kulit dapat ter/adi urtikaria, reaksi #otosensiti8itas, eritema multi#orm, 8esikula dan erupsi men,erupai morbili2

d. Indikasi 7#ekti# untuk in#eksi /amur di kulit, rambut, dan kuku ,ang disebabkan oleh /amur 4i!rosporum, Tri!oph,ton, dan 7pidermoph,ton2 e. Sediaan dan dosis

Griseo#ul8in tersedia dalam bentuk tablet berisi -21 dan 1&& mg dan suspesi mengandung -21 mg3ml2 Pada anak griseo#ul8in diberikan -& mg3kgAA3hari2 ntuk de?asa 1&&.-&&& mg3hari dalam dosis tunggal2

Hasil memuaskan akan ter!apai bila dosis ,ang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap > /am2

f. Kontraindikasi Griseo#ul8in bersi#at kontraindikasi pada pasien penderita pen,akit li8er karena obat ini men,ebabkan kerusakan #ungsi hati2 $! IMIDAZOL DAN TRIAZOL $! ! MIKONAZOL 4ikonazol merupakan turunan imidazol sintetik ,ang relati# stabil, mempun,ai spektrum anti /amur ,ang lebar baik terhadap /amur sistemik maupun /amur dermato#it2 a. Mekanisme Kerja 4ikonazol menghambat sintesis ergosterol ,ang men,ebabkan permeabilitas membran sel /amur meningkat2 b. Farmakokinetik
'a,a absorbsi 4i!onazole 4i!onazole

melalui pengobatan oral kurang baik22

sangat terikat oleh protein di dalam serum2 Konsentrasi di dalam

J"C tidak begitu ban,ak, tetapi mampu melakukan penetrasi ,ang baik ke dalam peritoneal dan !airan persendian2
Kurang

dari -+ dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi

,ang tidak berubah, namun 0&+ dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran dengan komposisi ,ang tidak berubah pula2
4i!onazole

dimetabolisme oleh li8er dan metabolitn,a diekskresi di dalam

usus dan urin2 Tidak satupun dari metabolit ,ang dihasilkan bersi#at akti# c. Indikasi 'iindikasikan untuk dermato#itosis, tinea 8ersikolor, dan kandidiasis mukokutan2 d. Efek samping Aerupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi2

e. Sediaan dan dosis Bbat ini tersedia dalam bentuk krem 2+ dan bedak tabur ,ang digunakan 2 kali sehari selama 2.0 minggu2 Krem 2 + untuk penggunaan intra8aginal diberikan sekali sehari pada malam hari untuk mendapatkan retensi selama = hari2 Gel 2+ tersedia pula untuk kandidiasis oral2

$!$! KLOTRIMAZOL a. Mekanisme Kerja 4emiliki e#ek anti /amur dan anti bakteri dengan mekanisme ker/a ,ang mirip dengan mikonazol

b. Indikasi "e!ara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis, kruris dan korporis ,ang disebabkan oleh T. rubrum T. mentagroph!tes ". floccosum, dan M. canis dan untuk tinea 8ersikolor2 In#eksi kulit dan 8ul8o8aginitis ,ang disebabkan oleh #. albicans.

c. Sediaan dan dosis Farutan dengan kadar -+ untuk dioleskan dua kali sehari Krim 8aginal -+ atau tablet 8aginal -&&mg digunakan sekali sehari pada malam hari selama = hari atau tablet 8aginal 1&&mg dosis tunggal

d. Efek samping

Pemakaian topikal dapat ter/adi rassa terbakar, eritema, edema, gatal dan urtikaria

0! NISTATIN 4erupakan suatu antibioti! polien ,ang dihasilkan oleh $treptom!ces noursei. Aerupa bubuk ?arna kuning kemerahan bersi#at higroskopis, berbau khas, sukar larut dalam kloro#orm dan eter2 Farutann,a mudah terurai dalam air atau plasma2 Oistatin lebih toksik sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik2 Oistatin tidak diserap melalui saluran !erna, kulit maupun 8agina2 a. Mekanisme kerja Oistatin han,a akan diikat oleh /amur atau ragi ,ang sensiti8e Akti8itas anti /amur tergantung dari adan,a ikatan dengan sterol pada membran sel /amur atau ragi terutama sekali ergosterol Akibatn,a terbentukn,a ikatan antara sterol dengan antibioti! ini akan ter/adi perubahan permeabilitas membran sel sehingga sel akan kehilangan berbagai molekul ke!il b. Indikasi In#eksi kandida di kulit, selaput lender dan saluran !erna, paronikia, 8aginitis dan kandidiasis oral dan saluran !erna !ukup diobati se!ara topikal c. Sediaan dan dosis 'osis nistatin din,atakan dalam unit, tiap - mg mengandung 2&& unit Tersedia dalam bentuk krim, bubuk, salep, suspense, dan obat tetes ,ang mengandung -&&2&&& unit nistatin per gram atau per ml Tablet per oral 21&2&&& dan 1&&2&&& unit, tablet 8agina mengandung -&&2&&& unit nistatin

Kandidiasis mulut dan esophagus pada de?asa: 1&&2&&&.-2&&&2&&& unit, % atau 0 kali sehari2 Bbat tidak langsung ditelan tetapi ditahan dulu di dalam rongga mulut

Pemakaian pada kulit disarankan 2.% kali sehari Pemakaian tablet 8agina -.2 kali sehari selama -0 hari

d. Efek samping OBAT TOPIKAL ! ASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingan 2:(biasan,a >+ dan %+) dikenal salep Rhit#ield2 Pemakaian per oral dapat ter/adi mual, muntah dan diare ringan

a. Mekanisme kerja Asam benzoate memberikan e#ek #ungistatik sedangkan asam salisilat memberikan e#ek keratolitik2 Karena asam benzoate han,a bersi#at #ungistatik maka pen,embuhan baru ter!apai setelah lapisan tanduk ,ang menderita in#eksi terkelupas seluruhn,a, sehingga pemakaian obat ini membutuhkan ?aktu beberapa minggu hingga bulan2

b. Indikasi ntuk tinea pedis dan tinea kapitis

c. Sediaan dan dosis "alep

d. Efek samping Iritasi pada tempat pemakaian $! ASAM UNDESILENAT 4erupakan !airan kuning dengan bau khas ,ang ta/am2 a. Mekanisme kerja 'osis biasa menimbulkan e#ek #ungistatik tetapi dalam dosis tinggi dan dalam ?aktu ,ang lama memberikan e#ek #ungisidal2 "eng dalam salep !ampuran maupun bedak dan aerosol berperan untuk menekan luasn,a peradangan2 b. Indikasi Akti# terhadap "pidermoph!ton Trichoph!ton dan Microsporum. ntuk tinea pedis2

c. Sediaan dan dosis "alep !ampuran mengandung 1+ undesilenat dan 2&+ seng undesilenat2 Aentuk bedak dan aerosol mengandung 2+ undesilenat dengan 2&+ seng undesilenat2 d. Efek samping Pemakaian lebih dari -+ di mukosa dapat menimbulkan iritasi2 0! Ha-)*r)%in Anti/amur sintetik berbentuk Kristal putih kekuningan, sukar larut dalam air tetapi larut dalam al!ohol2 a. Mekanisme kerja Haloprogin bersi#at #ungisidal dan sedikit sekali diserap melalui kulit, dalam tubuh akan terurai men/adi trikloro#enol2

b. Indikasi "pidermoph!ton Trichoph!ton Microsporum dan Malasse%ia &urfur tinea 8ersikolor c. Sediaan dan dosis Krim dan larutan dengan kadar -+ d. Efek samping Iritasi lo!al, rasa terbakar, 8esikel, meluasn,a maserasi2 4! SIKLOPIROKS OLAMIN Anti/amur topikal berspektrum luas a. Indikasi 'ermato#itosis, kandidiasis, dan tinea 8ersikolor b. Sediaan dan dosis Krim -+ ,ang dioleskan pada lesi 2 kali sehari c. Efek samping ;eaksi iritati# 6! TERBINAFIN 'eri8at alilamin sintetik dengan struktur mirip na#titin a. Indikasi 'ermato#itosis, onikomikosis, tinea kruris dan tinea korporis '! Se(iaan (an ()sis Krim -+ dan gel -+ 'iberikan -.2 kali sehari selama -.2 minggu