Anda di halaman 1dari 18

Tugas Individu

SEJARAH PERADABAN ISLAM


Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia

Oleh: FITRIANI 7 0300111023

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala inayah dan kenikmatan yang senantiasa dicurahkan-Nya pada penulis berupa kesehatan, kekuatan, serta kesempatan sehingga makalah ini dapat selesai dengan semestinya. Tidak lupa penulis kirimkan shalawat dan salam beriringan dengan ucapan terima kasih yang tiada terhingga kepada Baginda Rasulullah SAW karena atas segala pengorbanan yang telah dilakukannya beserta para sahabat, sehingga kini kita mampu mengkaji alam ini lebih tinggi dari gunung tertinggi, lebih dalam dari lautan terdalam, serta lebih jauh dari batas pandangan mata. Adapun tulisan ilmiah ini berisikan materi tentang Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia yang bertujuan sebagai bahan bacaan, semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Dalam makalah ini, penulis menyadari masih terdapat

kekurangan dalam penulisannya. Oleh karena itu, mohon kiranya kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembimbing dan pembaca guna untuk kesempurnaan pada pembuatan makalah penulis selanjutnya.

Makassar, November 2013

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penulisan BAB II PEMBAHASAN A. Proses Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia B. Kemajuan Kerajaan Safawi di Persia C. Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

i ii iii 1 1 2 2 3 3 9 13 15 15 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejarah Islam sekarang telah berjalan lebih dari empat belas abad lamanya. Sebagaimana halnya sejarah setiap umat, sejarah Islam pun mengalami pasang surut. Pada periode tertentu Islam mengalami pertumbuhan dan perkembangan, pada periode selanjutnya Islam mengalami kemajuan dan kejayaan dan pada periode lain Islam mengalami kemunduran bahkan kehancuran. Satu di antara beberapa sejarah peradaban Islam yang cukup menarik untuk bahan kajian ilmiah, yaitu masa

pertengahan khususnya pada abad ke-17, karena pada abad tersebut terdapat tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Utsmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India, setelah sekian lama Islam mengalami kemunduran. Menurut Harun Nasution, ada tiga kerajaan besar yang muncul di permukaan dalam kurun waktu 1500-1800 M. Tiga kerajaan yang dimaksud adalah kerajaan Utsmani di Turki, kerajaan Syafawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Di masa kemajuan ketiga kerajaan besar ini mempunyai kejayaan masing-masing, terutama dalam bentuk literatur dan arsitek. Masjid-masjid dan gedung-gedung indah yang didirikan di zaman ini masih terlihat di Istambul, Tibriz dan Isfahan serta kota-kota lain di Iran dan Delhi. Kemajuan umat Islam di zaman ini lebih banyak merupakan warisan kemajuan di masa periode klasik. Perhatian pada ilmu pengetahuan masih kurang. Tentu saja bila dibanding kemajuan yang dicapai pada Dinasti Abbasiyah, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Namun menarik untuk di kaji karena kemajuan pada

masa ini terwujud setelah dunia Islam mengalami kemunduran beberapa abad lamanya
[1]

.1 Oleh karena itulah, penulis akan membahas salah satu dari ketiga kerajaan

tersebut yakni Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan akan sejarah peradaban islam sekaligus untuk memenuhi tugas matakuliah Sejarah Peradaban Islam. B. Rumusan Masalah Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Bagaimanakah proses terbentuknya kerajaan Safawi di Persia ? 2. Bagaimana kemajuan kerajaan Safawi di Persia ? 3. Bagaimana kemunduran kerajaan Safawi di Persia ? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui proses terbentuknya kerajaan Safawi di Persia. 2. Untuk mengetahui kemajuan kerajaan Safawi di Persiai. 3. Untuk mengetahui bagaimana kemunduran kerajaan Safawi di Persia.

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 166.

BAB II PEMBAHASAN

A. Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia 1. Proses Terbentuknya Kerajaan Safawi di Persia Kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, Sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat safawiyah, yang berasal dari nama pendirinya, Safi Al-Din dan nama Safawi terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik[2]. 2 Safi al Din Al Ardabily adalah keturunan dari Imam Syiah yang

ketujuh Musa Al-Khazim. Oleh karena itu dia masih keturunan Rasulullah dari garis puterinya Siti fatimah. Kerajaan Safawi secara resmi berdiri di Persia pada 1501 M/907, tatkala Syah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja atau syah di Tabriz, demikian pendapat CE Bosworth dan menjadikan Syiah Itsna

Asyariah sebagai ideologi negara. Namun event sejarah yang penting ini tidaklah berdiri sendiri. Peristiwa itu berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam rentang waktu yang cukup panjang yakni kurang lebih dua abad
[3]

2 3

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 138. Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 167.

Sejak Safi Al Din mulai memimpin tarekat safawiyah sampai kepada Syah Ismail memproklamirkanberdirinya kerajaan safawi pada safawi mengalami dua fase dalam perjuangannya: a. Pada masa 1301-1447 M (700-850 H), gerakan safawi masih murni gerakan keagamaan (kultural) dengan tarekat safawiyah sebagai sarana. Pengikutnya menyebar dari Persia, Syiria dan Anatolia. b. Pada masa 1447-1501 M tarekat safawi berubah (struktural), dikarenakan dengan ambisi pemimpinnya politik pada Junaid diri menjadi gerakan politik Perubahan terjadi Junaid seorang tahun 1501, tarekat

bin Ali.

Junaid.

Karena

pemimpin tarekat, maka pengikutnya pun dijadikan pasukan yang diberi nama Qizilbas (surban merah yang berumbai dua belas sebagai simbol Syiah Imamah Dua Belas). Tapi usaha Junaid masih mengalami kegagalan dalam meraih

ambisinya karena selalu gagal dalam menaklukkan beberapa daerah seperti Ardabil dan Chircasia, bahkan dalam tahun 1460 M mati terbunuh.

Kemudian digantikan anaknya yang bernama Haidar, tapi belum berhasil juga. Sebelum meninggal, Haidar menunjuk adiknya yang paling kecil

bernama Ismail. Setelah berhasil

menaklukkan kota Tabriz, Ismail kenudian

memproklamirkan berdirinya kerajaan Safawi, dengan Syiah Itsna asyariah sebagai ideologi negara pada tahun 1501 M [4]. 3 Berikut ini dalah urutan penguasa kerajaan Safawi : a. Isma'il I (1501-1524 M) b. Tahmasp I (1524-1576 M)
4

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 172-173.

c. Isma'il II (1576-1577 M) d. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M) e. Abbas I (1587-1628 M) f. Safi Mirza (1628-1642 M) g. Abbas II (1642-1667 M) h. Sulaiman (1667-1694 M) i. Husein I (1694-1722 M) j. Tahmasp II (1722-1732 M) k. Abbas III (1732-1736 M). 2. Perubahan dari Sistem Sosial-Organik ke Sistem Religio-Politik Sejak Shafi al-Din memulai memimpin ribath dan mendirikan tarekat Shafawiyah pada tahun 1303 M sampai kepada Syah Ismail memproklamirkan berdirinya kerajaan Shafawi pada 1501 M, telah banyak pengalaman keluarga Shafawi dalam perjuangan menegakkan cita-cita selama dua abad itu. Paling tidak, ada dua tahap perjuangan yang dilalui mereka. Pertama, sebagai gerakan keagamaan (kultural) dan kedua, sebagai gerakan politik (struktural). Pada masa 1301-1447 M (700-850 H) gerakan Shafawi masih murni gerakan keagamaan (kultural) dengan tarekat Shafawiyah sebagai sarananya. Selama masa ini Shafawi memiliki pengikut yang besar, tidak hanya di Persia tetapi juga sampai ke Syiria dan Anatolia. Mayoritas pengikutnya adalah suku-suku Turki yang masih semi nomad yang dikenal dengan sebutan Turkman yaitu diantaranya suku Ustajlu, Rumlu, Shamlu, Dulgadir, Takkalu, Ashfar, dan Qojar [5]. 4
5

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 171.

Gerakan Shafawiyah pada fase peretama ini tidak mencampurkan masalah politik sehingga ia berjalan dengan aman dan lancar, baik pada masa Ikhwan maupaun pada masa penjarahan Timur Lenk. Pada masa itu kehidupan tarekat sufi dapat tumbuh subur dan mendapat simpati masyarakat, karena masyarakat sudah banyak yang bersikap apatis menyikapi konstelasi politik yang suram itu. Masyarakat berharap hanya dengan kehidupan sufisme mereka mendapat kekuatan mental dan menjalin persaudaraan antar muslim [6]. P.M. Holt, yang dikutip Ajid Thohir (2004:170), ia berpendapat bahwa selama fase pertama gerakan Shafawi memilki dua warna. Pertama, bernuansa sunni. Yaitu pada masa pimpinan Shafiudin Ishak (1303-1344) dan anaknyaSh adrudin Musa (1344-1399) kedua, berubah menjadi Ali anak Shadruddin (1399-1427). Syiah pada masa pimpinan Khawaja

Perubahan tersebut tampaknya wajar karena

disamping alasan yang sudah disebutkan, juga kemungkinan karena bertambahnya pengikut Shafawiyah di kalangan Syiah sehingga kepemimpinan menyesuaikan diri dengan aliran mayoritas [7]. Pada masa (1447-1501), gerakan Shafawi memasuki tahap atau fase kedua, yaitu sebagai gerakan politik. Pemimpin Shafawi waktu itu adalah Junaid bin Ali

mengubah gerakan politik revolusioner dengan tarekat Shafawiyah sebagai sarananya. Konsekuensinya Shafawi mulai terlibat dalam konflik politik

dengan kekuatan politik lain yang ada di Persia saat itu. Pada saat itu ada dua kerajaan Turki yang saat itu berkuasa yaitu Kara Koyunlu atau Black Sheep yang

6 7

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 171. Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 170.

berkuasa di bagian timur dan Ak Koyunlu atau white sheep yang berkuasa di bagian barat. Yang pertama beraliran Sunni sementara yang kedua beraliran Syiah. Disebabkan kegiatan politiknya, Junaid, pemimpin Shafawi meninggalkan

Ardabil karena mendapat tekanan dari kerajaan Kara Koyunlu yang berkuasa di daerah itu. Ia juga meminta suaka politik kepada raja Ak Koyunlu yang sekaligus meminta bantuan untuk bersama-sama menghadapi Kara Koyunlu. Perubahan

Shafawi dari gerakan keagamaan berubah menjadi gerakan politik cukup menarik karena sebagai tarekat sufi yang lebih bersifat ukhrawi kemudian menjadi gerakan duniawi. Faktor utama penyebab adanya perubahan tersebut adalah ada pada

ajaran tarekat itu sendiri, yaitu hubungan para pemimpin tarekat dengan para pengikutnya. Anggota tarekat harus tunduk secara mutlak kepada

pemimpin mursyid dan khalifah itu. Hal ini bisa dijadikan modal awal untuk membangun suatu pemerintahan yang dibangun dengan sikap fanatik dan fanatis untuk mendukung memuluskan tegaknya pemerintahan [8]. 5 3. Peran Kerajaan Safawi bagi Peradaban Islam Peran kesejarahan Safawi begitu besar. Hal ini dapat dilihat dari sisi kemajuan dan kejayaanya. Kendati demikian, masa kemajuan dinasti Shafawi tidak langsung terwujud pada saat dinasti itu berdiri di bawah Ismail, raja pertama. Kejayaan Safawi yang gemilang baru dicapai pada masa

pemerintahan Syaikh Abbas yang agung raja kelima. Walaupun begitu, Peran Ismail sebagai pendiri Safawi sangat besar sebagai peletak pondasi bagi kemajuan Safawi di kemudian hari. Di samping telah memberikan corak yang khas bagi Safawi

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 172.

dengan menetapkan Syiah sebagai agama Negara, Syaikh Ismail juga telah memberikan dua karya besar bagi negaranya, yaitu perluasan wilayah dan penyusunan struktur pemerintahan yang unik pada masanya. Selama sepuluh tahun pertama pemerintahannya, Ismail berhasil memperluas wilayah pemerintahan Shafawi sampai mencakup seluruh wilayah Persia dan sebelah timur Fertile Creschen. Mungkin karena kesuksesan besar itu, ia oleh para pengikutnya terutama Qizilbas sebagai pendukungnya, dianggap sebagai seorang raja yang memiliki unsur keilahian. Bahkan ia pun menganggap dirinya sebagai manifestasi Tuhan. Perlahanlahan mitos keilahian Syaikh Ismail itu goyah. Dalam pertempuran di Kalderan melawan pasukan Turki Ustmani, ia mengalami kekalahan besar. Beberapa daerahnya termasuk Tabriz jatuh ke tangan Turki Utsmani. Ia terpaksa menandatangani perjanjian dengan Utsmani [9]. 6 B. Kemajuan Kerajaan Safawi di Persia Perkembangan dan kemajuan kerajaan safawi tidak serta merta dapat diraih ketika Syah Ismail I memimpin (1501-1524 M), tapi kejayaan kerajaan Safawi baru terwujud pada masa pemerintahan Syaikh Abbas yang Agung (1587-1628 M) raja yang kelima. Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi meliputi beberapa bidang, antara lain: 1. Kemajuan di bidang Politik Kerajaan Safawi dan Turki Utsmani sebelum abad ke-17 sudah saling bermusuhan dan Safawi banyak mengalami kekalahan, namun setelah Abbas I naik tahta kerajaan Safawi dalam merebut wilayah kekuasaan Turki Utsmani banyak mengalami kemenangan. Permusuhan antara dua Kerajaan aliran agama yang
9

Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 172.

berbeda ini tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan seranganserangannya ke wilayah Kerajaan Turki Utsmani pada tahun 1602 M. Disaat itu Turki Utsmani berada di bawah Sultan Muhammad III. Pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwan, dan Baghdad. Sedangkan Nakh Chivan,

Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahun 1605-1606 M. Selanjutnya pada tahun 1622 M., Pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmus dan mengubah pelabuhan Gumurun menjadi pelabuhan bandar Abbas [10]. Jadi dapat disimpulkan bahwa keadaan politik kerajaan Safawi mulai bangkit kembali setelah Abbas I naik tahta dari tahun 1587-1629 dan dia menata administrasi negara dengan cara yang lebih baik. Langkah-langkah yang ditempuh Abbas I dalam rangka memulihkan politik Kerajaan Safawi adalah: a. Mengadakan pembenahan administrasi dengan cara pengaturan dan pengontrolan dari pusat. b. Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qiziblash atas Kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri atas budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak Raja Tamh I c. Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani. d. Berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pada khotbah Jumat
[11]

.7

Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Secara politik dia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu

10 11

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 143. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 142.

stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain di masa raja-raja sebelumnya, dengan reformasi politiknya [12]. 2. Kemajuan di bidang keagamaan Pada masa Abbas, kebijakan keagamaan tidak lagi seperti masa khafilahkhafilah sebelumnya yang senantiasa memaksakan agar Syiah menjadi agama negara, tetapi ia menanamkan sikap toleransi. Menurut Hamka, terhadap politik keagamaan beliau Abbas tanamkam paham toleransi atau lapang dada yang amat besar. Paham Syiah tidak lagi menjadi paksaan, bahkan orang Sunni dapat hidup bebas mengerjakan ibadahnya, Bukan hanya itu saja, pendeta-pendeta Nasrani diperbolehkan mengembangkan ajaran agama dengan leluasa sebab sudah banyak bangsa Armenia yang telah menjadi penduduk setia di kota Isfahan [13].8 3. Kemajuan di Bidang Ekonomi Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, terlebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumurun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan

dikuasainya bandar ini, salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang bisa diperebutkan oleh Belanda, kerajaan Safawi [14]. Di samping sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah bulan sabit subur ( fortile crescent) [15]. Inggris, dan Prancis sepenuhnya menjadi milik

12 13

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 142. Hamka. Sejarah Umat Islam III. 1981, hlm 70. 14,15 Badri Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 144.

4. Kemajuan di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Seni Dalam sejarah Islam, bangsa Persia terkenal sebagai bangsa yang

berperadaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pada masa Kerajaan Syafawi, khususnya ketika Abbas I berkuasa, tradisi keilmuan terus berkembang. Berkembangnya ilmu pengetahuan masa Kerajaan Syafawi tidak lepas dari suatu doktrin mendasar bahwa kaum Syiah tidak boleh taqlid dan pintu ijtihad selamanya terbuka.

Kaum Syiah tidak seperti kaum Sunni yang mengatakan bahwa ijtihad telah terhenti dan orang mesti taqlid saja. Kaum Syiah tetap berpendirian bahwasanya mujtahid tidak terputus selamanya [16]. 9 Pada masa ini muncullah beberapa filosof antara lain; lmuwan yang melestarikan pemikiran-pemikiran Aristoteles, Al-Farabi adalah Mir Damad alias Muhammad Bagir Damad (1631 M ) dengan menulis buku filsafat dalam dua bahasa yaitu Arab dan persia, diantaranya yang terkenal qabasat dan taqdisat. Selain itu ada filosof yang terkenal yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, yang selalu hadir di majlis istana, begitu juga dengan Syah Abbas I yang sangat mendukung kegiatan tersebut [17]. Adapun di bidang seni, kemajuan dalam bidang seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini. Sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan

16 17

Hamka. Sejarah Umat Islam III. 1981, hlm 70. Ajib Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. 2004, hlm 177.

kebun wisata yang tertata apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat sejumlah 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Unsur lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, permadani dan benda seni lainnya. Serta ada peninggalan masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan masjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M [18]. 10( C. Kemunduran Kerajaan Safawi di Persia Seiring dengan perjalanan waktu, kerajaan Safawi, lama kelamaan mengalami masa- masa kemunduran, yang disebabkan antara lain: 1. Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani. 2. Berdirinya kerajaan Safawi yang bermadzhab Syi'ah merupakan ancaman bagi kerajaan Utsmani, sehingga tidak pernah ada perdamaian antara dua kerajaan besar ini. 3. Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan

Safawi. Raja Sulaiman yang pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun tidak pernah sekalipun ssmenyempatkan diri

menangani pemerintahan, begitu pula dengan sultan Husein. 4. Pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi seperti semangat Qizilbash. Hal ini

dikarenakan mereka tidak memiliki ketahanan mental karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
18

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010, hlm 145.

5. Sering terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana [19]. 11 Krisis abad 18 mengantarkan kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern. Hampir diseluruh wilayah muslim, periode pramodern yang berakhir dengan Intervensi, penaklukan bangsa Eropa, dan dengan pembentukan beberapa rezim kolonial, maka dalam halini kons olidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa telah

didahului dengan kehancuran Inperium Safawiyah dan dengan liberalisasi ulama. Demikianlah, Rezim safawiyah telah meninggalkan warisan kepada Iran modern berupa tradisi Persia perihal sistem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang dibangun berdasarkan kekuatan uymaq atau unsur unsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan syiah yang kohesif, monolitik dan mandiri [20].

19 20

Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. 2010 ,hlm 158-159. Ira M. Lupidus. Sejarah Sosial Ummat Islam. 1999, hlm 467.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Kerajaan Safawi adalah kerajaan yang berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, Sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama tarekat safawiyah, yang berasal dari nama pendirinya, Safi Al-Din dan nama Safawi terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik, pada masa kepemimpinan Junaid, tarekat Shafawiyah bergeser menjadi gerakan politik. Tarekat Shafawiyah berubah menjadi dinasti Shafawi sejak tahun 1501 dipimpin oleh raja Ismail. Kedua,

Kemajuan yang dicapai dinasti Shafawi ada beberapa bidang yaitu: bidang politik, ekonomi, fisik dan tata kota, dan kemajuan bidang filsafat dan sains. Ketiga, kemunduran dinasti Shafawi, dimulai ketika dipimpin oleh raja Sulaiman dan Husain. B. Saran Adapun saran penulis terhadap pembaca, yaitu agar senantiasa mempelajari sejara-sejarah umat terdahulu yang telah menorehkan berbagai kebaikan bagi kemaslahatan umat masa kini, salah satunya adalah mempelajari sejarah terbentuknya kerajaan Safawi di Persia. Dengan demikian, maka kita akan lebih memahami dan menghargai Islam sebagai agama yang penuh perjuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam III. Jakarta: Bulan Bintang. Lupidus , Ira M. 1999. Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Thohir, Ajib. 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.