Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PENENTUAN ISI KURIKULUM PTK

Oleh

HARRIASENTA / 55456 MUHAMMAD AHYA ANSYARI YUSLI / 18658 REFDINAL MARCOS / 55455

PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013

PENENTUAN ISI KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN A.PENDAHULUAN Transisi antara proses perencanaan kurikulum ditingkat mikro yang lebih sempit cakupannya dan dimensi permasalahannya tidak semata-mata berarti perpindahan lembaga pengambil keputusan dan pergeseran dari masalah nasional kemasalah lokal di masingmasing sekolah. Untuk dapat menjabarkan misi dan tujuan umum yang sudah ditetapkan sebagai hasil analisis makro ke dalam wujud operasional kurikulum sekolah, haruslah dipahami terlebih dahulu konsep dan strategi penentuan isi kurikulum sekolah. Konsep dan strategi ini sudah semestinya merupakan penjabaran dari orientasi atau penekanan utama dari kurikulum pendidikan teknologi kejuruan, yaitu relevansi baik terhadap konteks pendidikan maupun konteks lapangan kerja. Relevansi kurikulum tehadap konteks pendidikan berkaitan dengan persoalanpersoalan yang menyangkut dukungan masyarakat kependidikan, ketersediaan tenaga guru dan jajaran kependidikan yang lain untuk mendukung implementasi kurikulum, kualitas masukan calon siswa dan aspirasi pendidikannya, dan juga hal-hal yang menyangkut administrasi akademik pelaksanaan kurikulum tersebut. Relevansi kurikulum terhadap konteks lapangan kerja menyangkut persoalanpersoalan yang berkaitan dengan daya dukung masyarakat dunia kerja baik dalam hal ketersediaan bantuan fisik maupun nonfisik, kemungkinan pengumpulan sumber informasi untuk masukan perencanaan dan penyempurnaan kurikulum, serta kesediaan masyarakat dunia usaha dan industri untuk membantu sebagai anggota dewan penasehat kurikulum (advisory committee). Kedua aspek diatas tidak jarang menimbulkan adanya tekanan-tekanan yang mempengaruhi proses penentuan isi kurikulum dan penjabarannya kedalam pelaksanaan operasional.belum lagi depertimbangkan masalah kebutuhan individu anak didik yang untuk berbagai jenjang pendidikan akan sangat berbeda. Terlepas dari faktor-faktor tersebut diatas, strategi penentuan isi kurikulum sangat menentukan sejauh mana kurikulum yang akan dihasilkan nantinya mampu menjawab permasalahan yang melingkupi mekanisme

pengembangan sumber daya manusia sekaligus mekanisme penyediaan tenaga kerja dengan memadai. Dalam uraian berikut akan dibahas beberapa strategi yang banyak dimanfaatkan oleh para perencana kurikulum untuk mengidentifikasi isi kurikulum.akan dibahas berturut-turut : 1) Pendekatan filosofis 2) Pendekatan instropektif 3) Pendekatan DACUM 4) Pendekatan fungsional 5) Analisis tugas (task anaysis) Tidak ada satupun pendekatan yang mampu secara sempurna memenuhi kebutuhan dan tujuan perencanaan kurikulum pendidikan teknologi kejuruan. Dengan membahas berbagai strategi tersebut diharapkan akan dipergunakan suatu pendekatan khusus yang lebih merupakan sintesis dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing pendekatan. Dengan kata lain, apa yang diuraikan dibawah bukanlah semacam pedoman selangkah demi selangkah, namun merupakan suatu komparasi strategi yang satu dengan yang lain dengan harapan dapat diketahui kelemahan dan kelemahan masing-masing. Ini akan berguna untuk bahan pertimbangan dalam proses perencanaan yang sebenarnya dilakukan di masing-masing lembaga pendidikan teknologi dan kejuruan.

B.ISI (PEMBAHASAN) 1. PENDEKATAN FILOSOFIS Dalam sejarah penentuan isi kurikulum,pemikiran para ahli filsafah pernah menjadi faktor dominan dalam penentuan isi kurikulum pendidikan .bahkan di masyarakat yang belum menemukan strategi yang lebih sistematis dan obyektif, pendapat yang bukan ahli filsafatpun dapat mendominasi penentuan isi kurikulum.ini jelas nampak pada kurikulum yang dijabarkan dari filsafat seseorang, mislanya seorang pejabat atau orang terkemuka dalam masyarakat, yang mempunyai keyakinan akan apa yang baik dan apa yang buruk apa yang patut dilestarikan dan apa yang harus ditinggalkan,apa yang penting untuk masa depan dan apa yang kurang penting, yang kesemuanya lalu dijabarkan menjadi isi kurikulum yang mengisi program pendidikan di sekolah. Tidak jarang filsafat perorangan

yang terpandang di mata msyarakat akan menjadi satu-satunya sumber inspirasi untuk menentukan misi sistem pendidikan dan perencanaan isi kurikulumnya. Secara praktis dapat dikatakan bahwa filosofi adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang kemudian mendasari segenap sikap dan perbuatannya. Ini membawa implikasi bahwa antara seseorang dengan orang lain banyak terdapat kemungkinan perbedaan filosofi, karena tumbuhnya filosofi itu merupakan proses kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. Dengan demikian perencanaan isi kurikulum dengan berdasarkan filosofi ini salah satu kelemahannya adalah sulitnya menemukan konsensus atau kesepakatan antara para ahli atau para perencana kurikulum tentang pemikiran-pemikiran mereka yang berkenaan dengan apa yang seharusnya diajarkan disekolah kejuruan? Dalam literatur banyak sekali dijumpai pernyataan-pernyataan filosofi yang

berkenaan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan dan dari pernyataan-pernyataan tersebut kemudian dapat dijadikan petunjuk menentukan isi kurikulum sekolah. Sebagai contoh sederhana,apabila diyakini bahwa pendidikan kejuruan harus menekankan penyesuaian anak didik dengan jenis pekerjaan yang ada dilapangan kerja, maka isi kurikulumnya bisa diramalkan akan sangat didominasi oleh penumbuhan kemampuankemampuan transisional seperti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, bagaimana mengatasi problem mobilitas pekerjaan, dan kemampuan berhubungan dengan sesama orang (human relations skill). Di lain pihak , apabila pendidikan kejuruan diyakini sebagai pendidikan yang menyiapkan anak didik untuk dapat memasuki beberapa lapangan kerja sejenis (occupational clusters), maka dapat diharapkan isi kurikulumnya akan banyak mencakup aspek-aspek kemampuan dasar teknik yang relatif umum dan dapat digeneralisasikan kebeberapa lapangan pekerjaan yang sejenis. Kemampuan seperti itu dapat diperoleh lewat mata pelajaran seperti Matematika,Sains,komunikasi dan dasar-dasar keteknikan, yang hampir pasti diperlukan di semua jenis pekerjaan. Di lain pihak proporsi kemampuan khusus atau spesialisasi tidak akan begitu menonol, kerena penonjolan bidang spesialisasi akan dianggap bertentangan dengan pemikiran filosofi yang dianut. Contoh lain yang senada adalah adanya keyakinan filosofis bahwa pendidikan kejuruan pada dasarnya adalah bukan pendidikan terminal tetapi salah satu mata rantai saja

dari serangkaian upaya pendidikan yang bersifat Developmental. Ini akan membawa konsekuensi langsung dalam menentukan mata pelajaran yang menjadi isi kurikulumnya. Akan kontradiktif misalnya jika filosofi ini kemudian dijabarkan menjadi kurikulum yang isinya tidak memungkinkan sama sekali bagi lulusan sekolah kejuruan untuk melanjutkan belajar ke tingkat yang lebih tinggi. Sifat Developmental yang terkandung dalam rumusan filosofis diatas menghendaki adanya komponen kurikulum yang membekali anak didik bukan saja untuk melanjutkan ketingkat lebih tinggi,tetapi bahkan lebih luas lagi kemampuan yang menjamin terus tumbuhnya aspirasi, kemauan untuk terus belajar dan kemampuan untuk dapat terus belajar baik melalui jalur pendidikan formal maupun memanfaatkan jalur pendidikan yang lain diluar sekolah formal, seperti misalnya konsep belajar sambil bekerja. Dengan adanya beberapa contoh di atas nampak suatu gambaran bahwa penentuan isi kurikulum berlandaskan pemikiran filosofis ini selain mengandung konotasi subyektif atau kurang obyektif,juga sering mengalami kesulitan teknis dalam mengidentifikasikan perangkat pemikiran filosofis yang komprehensif dan merupakan konsensus paling tidak diantara mereka yang terlibat dalam pendidikan teknologi dan kejuruan itu sendiri. Sifat konfrehensif dituntut jika diinginkan kurikulum yang merupaka suatu kebulatan integral, tidak terpotong-potong sehingga membuka kemungkinan kontradiksi antara maksud dan tujuan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Kesepuluh butir landasan konseptual yang dikemukakan di bab sebelumnya dapat dipandang sebagai pemikiranpemikiran dasar atau keyakinan-keyakinan yang tumbuh dari analisi konteks dunia pendidikan dan dunia kerja yang kemudian berkembang menjadi filosofi. Dari sini diharapkan dapat dijabarkan isi kurikulum yang nantinya dapat dikembalikan kepada sumber analisis yang menghasilkan pemikiran pemikiran dasar tersebut. Sifat konsensus diperlukan dan tidak kalah pentingnya karena suatu usaha besar untuk meningkatkan efektifitas dan mengembangkan pola peran serta pendidikan kejuruan di era pembangunan ini hanya mungkin dapat terlaksana jika ada keyakinan yang diyakini oleh orang-orang yang terliabat di dalam sistem (sharet beliefs). Ini akan dapat memberikan landasan yang kokoh untuk implementasi, keseragaman kerangka berpikir yang menunjang arah dan orientasi pengembangan,serta kesamaan pandangan dalam menentukan apakah tujuan yang dicanangkan bersama sudah dapat dicapai.

2. PENDEKATAN INTROSPEKTIF Agak berbeda dengan pendekatan filosofis yang diuraikan di atas, pendekatan introspektif masih juga mendasarkan penentuan isi kurikulum pada pemikiran perorangan atau kelompok, tetapi difokuskan pada pemikiran dan perasaan dari mereka yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi kejuruan, seperti misalnya para guru dan administrator yang sehari-harinya bekerja di lingkungan sekolah kejuruan .mereka ini secara individual maupun secara berkelompok merenungkan kembali apa yang sebaiknya mereka anggap baik untuk dimasukkan sebagai isi kurikulum sekolah, dengan mempertimbangkan pengalaman dan informasi yang langsung dapat mereka kumpulkan dan diolah sesuai dengan konteks dimana mereka bekerja. Biasanya pemikiran ini dimulai dengan mempelajari apa yang selama ini sudah berjalan, mungkin dengan dibumbui data komparatif dengan program yang serupa ditempat lain dalam suatu negara maupun dibandingkan dengan negara lain, meskipun hanya lewat literatur. Dengan sendirinya katalog sekolah, buku laporan tahunan atau sumber informasi lain melalui jurnal atau makalah termasuk dalam kajian komparatif ini untuk memperluas wawasan sebelum para guru dan administrator tersebut sampai pada langkah pengambilan keputusan tentang isi kurikulum mereka. Kecenderungan untuk bekerja dalam kelompok dan kemudian secara bersama memikirkan masalah ini timbul dari kenyataan praktis bahwa beberapa orang guru lebih berpengalaman dan mempunyai latar belakang pekerjaan yang lebih banyak dari pada sebagian yang lain, sehingga keragaman masukan ini akan memperkaya bahan pertimbangan bersama. lagi pula dengan adanya diskusi kelompok yang melibatkan beberapa orang akan dapat terhindar adanya pandangan subyektif atau bias. Meskipun cara pendekatan ini sudah lebih baik dari pendekatan filosofis dalam arti lebih dekat dengan situasi persekolahan yang akan digarap, namun karena yang terlibat dalam proses tersebut terbatas dari kalangan dalam, biasanya tidak dapat dijamin bahwa isi kurikulum yang dihasilkan akan dapat valid dalam arti memenuhi apa yang dibutuhkan oleh calon pemakai. Ini akan terasa apabila para guru dan administrator tersebut kebetulan kurang mengikuti apa yang terjadi di luar dinding sekolah., sehingga tidak atau kurang dapat menyesuaikan dengan perkembangan dunia luar. Apa yang mereka anggap sudah baik selama ini, karena tidak pernah dikaji relevansinya secara langsung dengan kebutuhan dunia luar, Dengan sendirinya tidak menjamin hasil yang diharapkan.

Hal ini kembali mengingatkan pentingnya guru dan administrator pendidikan teknologi dan kejuruan mengembangkan sikap atau kebiasaan belajar langsung dengan mengunjungi lokasi-lokasi industri secara periodik, sebagai bagian dari pemeliharaan atau pemantapan tingkat profesionalisasi mereka sebagai guru. Hanya dengan demikian pemikiran, sikap dan pengetahuan mereka tentang dunia kerja dapat kemudian ditransfer menjadi prilaku mengajar dan kompetensi lain yang menunjang,termasuk partisipasi aktif mereka dalam memikirkan masalah kurikulum. Untuk menghindari kelemahan ini dapat ditempuh jalan melibatkan personalia dari industri atau dunia usaha dalam dewan penasehat kurikulum (curriculum advisory committe). Ini secara praktis akan mendekatkan hubungan antara sekolah dan dunia kerja melalui kontak perorangan berupa hubungan dekat antar pribadi, dan sekaligus memberi lebih banyak peluang untuk mendiskusikan masalah isi kurikulum dengan para pemakai tenaga kelulusan pendidikan teknologi dan kejuruan . kemacetan yang sering timbul pada advisory committee ini lebih banyak disebabkan karena hubungan pribadi yang kurang harmonis antar para anggotanya, yang seharusnya dapat dihindari demi kepentingan yang lebih besar.

3. PENDEKATAN DACUM Variasi lain dari pendekatan instropektif adalah apa yang dikembangkan oleh para ahli kurikulum di Canada dalam penentuan isi kurikulum ,yaitu yang disebut DACUM (Developing A Curriculum). Proyek pengembangannya berawal dari usaha bersama antara Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi dengan General Learning Corporation di Canada, tetapi kemudian diseminasinya dilaksanakan di banyak lembaga kejuruan. Menggunakan gagasan yang persis sama dengan pendekatan introspektif di atas, para ahli yang diminta untuk memikirkan isi kurikulum ini didatangkan khusus dari para pengusaha atau pekerja dari industri dan dunia usaha dengan tanpa melibatkan personil sekolah sama sekali. Ini didasarkan pada asumsi bahwa dalam proses penentuan isi kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yang diharapkan mempunyai relevansi yang tinggi dengan kebutuhan lapangan kerja, biasanya guru dan instruktur yang sehari-hari terlibat dalam mengajar saja kurang dapat memberi konstribusi yang positif. Keunikan lain dari proses identifikasi isi kurikulum dengan pendekatan DACUM ini ialah urutan dan intensitas partisipasi peserta yang harus ditargetkan sedemikian rupa sehingga yang dihasilkan selama proses tersebut bukan terbatas hanya pada inventarisasi skill atau pengetahuan spesifik yang akan menjadi kerangka isi kurikulum, tetapi juga sampai pada tingkat kemahiran atau kompetensi sesuai dengan apa yang diperlukan dalam situasi kerja

yang nyata. Ini adalah kelebihan dari cara pendekatan yang seluruhnya melibatkan pihak pengusaha dari industri dan dunia kerja. Urutan prosesnya secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Orientasi bagi anggota komisi atau peserta tentang program yang akan direncanakan kurikulumnya dan apa yang diharapkan dari mereka. 2. Mengkaji / mereview deskripsi pekerjaan dan tugas atau tanggung jawab pekerjaan tersebut dalam situasi tempat kerja yang riel. 3. Mengidentifikasi kategorisasi kompetensi umum dalam bidang kerja yang dimaksud, yang biasanya merupakan ranah kompetensi yang nanti akan dapat dijabarkan lebih lanjut ke dalam kompetensi-kompetensi yang lebih spesifik. 4. Mengidentifikasi seperangkat kompetensi khusus dalam tiap kategori kompetensi umum, baik itu berujud skill, pengetahuan atau keterampilan tertentu. 5. Mengorganisir kompetensi-kompetensi tersebut dalam urutan atau struktur yang memungkinkannya untuk dijabarkan menjadi urutan belajar yang sesuai dengan prinsip dan psikologi belajar. 6. Menentukan tingkat kecakapan atau level of competence untuk masing-masing kompetensi sebagai sebagai acuan proses penilaian hasil belajar anak didik. Keenam langkah atau urutan proses tersebut selalu dilakukan dengan memaparkannya secara keseluruhan sehingga dapat dilihat oleh semua peserta dalam suatu ruangan yang diatur khusus. Dengan demikian dapat dimungkinkan pertukaran gagasan dan pendapat sebanyak mungkin untuk menghindari juga terjadinya saling tumpang tindih antara satu kompetensi dengan yang lain. Keuntungan dari proses perencanaan isi kurikulum pendidikan teknologi kejuruan menggunakan pendekatan DACUM ini adalah : 1) Biaya pengembangan yang relatif murah, apalagi kalau dari pihak industri dan dunia usaha yang tersedia meminjamkan ahlinya dengan Cuma-Cuma sebagai akibat baiknya hubungan yang sudah terjalin sebelumnya. 2) Waktu yang relatif singkat dengan hasil yang langsung bisa dipakai, karena biasanya sikap kerja efisien dan konsentrasi yang tinggi yang dimiliki oleh orang-orang dari industri dan dunia usaha tersebut terbawa pada waktu mereka bekerja sebagai anggota komisi DACUM.

3) Peluang untuk menghasilkan kurikulum yang tinggi relevansinya dengan kebutuhan dunia kerja karena minimalnya intervensi dari kalangan akademik.

Namum yang menjadi tantangan berikutnya adalah kemampuan para guru dan administrator untuk menerapkan apa yang sudah diidentifikasikan tersebut dan

menjabarkannya menjadi kegiatan instruksional yang dapat dilaksanakan dalam konteks kependidikan yang mempunyai iklum dan peraturan-peraturan tersendiri. Ini memerlukan tidak saja keberanian mental tetapi juga kejelian untuk memanfaatkan segenap peluang yang ada agar hasil sumbangan para ahli diluar kalangan tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan,karena pihak yang membantu tentu tidak akan bersedia membantu lagi jika hasil jerih payah mereka sekedar menjadi dokumen tertulis yang tidak dapat diimplementasikan. Dalam halaman berikutnya diutarakan suatu contoh hasil perangkat kompetensi yang dihasilkan dari proses DACUM, meskipun karena keterbatasan ruang tidak dapat dicantumkan semua. Setiap kompetensi yang merupakan blok-blok dalam profile DACUM tersebut adlah kompetensi yang harus dikuasai anak didik lengkap dengan keterangan tentang level atau tingkat penguasaan dan yang nantinya harus dijabarkan oleh para guru dan instruktur menjadi kegiatan atau pengalaman belajar yang secara efektif dapat membantu anak didik menguasai kompetensi yang dimaksud. GAMBAR FORMAT PROFIL DACUM

A
B C D E

A1 B1 C1

A2 B2 C2

A3 B3 C3

A4 B4 C4

A5 B5 C5

A6

C6

D1 A1

D2 E2

D3 E3

D4 E4

D5 E5

D6 E6

D7 E7

D8 E8

D9 E9 E10

4. PENDEKATAN FUNGSIONAL Kedua pendekatan yang dijelaskan diatas boleh dikatakan cenderung ke penentuan isi kurikulum secara subyektif,dimana subyektivitas para penyusun kurikulum itu dapat dikatakan lebih menonjol dari pada faktor-faktor lainnya. Dalam pendekatan fungsional yang akan diuraikan ini maka yang akan terjadi adalah sebaliknya, yaitu penentuan isi kurikulum dilakukan dengan cara yang lebih obyektif.pendekatan ini didasari oleh asumsi bahwa anak didik yang belajar melalui pendidikan teknologi dan kejuruan harus mempelajari fungsifungsi apa yang harus ada untuk menjamin kelangsungan kerja suatu industri atau dunia usaha tertentu, dan kemudian dijabarkan menjadi penampilan-penampilan (performance) yang terkait dengan fungsi atau tugas tertentu untuk dijadikan masukan bagi perencanan kurikulum. Sebagai contoh identifikasi fungsi yang berkaitan dengan bidang kerja pertanian atau peternakan mungkin akan menghasilkan inventarisasi fungsi-fungsi seperti : Menjual hasil produksi langsung di pasaran bebas Mengenal tanda-tanda dini gangguan kesehatan binatang ternak Merencanakan sistem pemberian makanan binatang ternak yang efisien Memenuhi syarat kesehatan serta kebersihan lingkungan Mengelola kebun pembibitan sayur mayur tropis Hal-hal seperti tersebut diatas adalah fungsi-fungsi pekerjaan diindustri pertanian atau peternakan yang memiliki jangkauan luas, tidak terbatas pada skill-skill yang spesifik. Dari langkah identifikasi ini kemudian dapat dirinci lagi menjadi daftar kegiatan-kegiatan dalam setiap fungsi, untuk kemudian dikaitkan dengan kompetensi atau keterampilan yang harus dimiliki oleh orang yang akan mengerjakan kegiatan-kegiatan tersebut.kompetensi ini dirumuskan baik dalam bentuk pengetahuan, pemahaman dan kemampuan dengan tingkat yang bervariasi. Selanjutnya kompetensi-kompetensi atau kemampuan pemahaman atau yang lain ini dekelompokkan menurut klasifikasi tertentu yang nanti akan membantu para guru dan instruktur dalam menyusun pengalaman belajar atau kombinasi kegiatan belajar yang akan membantu anak didik memperoleh kompetensi-kompetensi tersebut. Inilah yang kemudia harus dikembalikan ke komisi yang terdiri dari wakil-wakil pihak industri,pihak sekolah dan pihak-pihak lain yang terkait untuk peninjauan menyeluruh verivikasi lanjut tentang ketepatan dan kelayakannya.

Meskipun pendekatan ini secara sekilas nampaknya menenpatkan sekolah atau dunia pendidikan pada ujung ketergantungan pada dunia usaha industri dan penentuan isi kurikulum sangat diorientasikan ke lapangan yang ada, namun sebenarnya dengan hanya mengidentifikasi fungsi-fungsi umum tidaklah tepat jika dikatakan sekolah hanyalah menjadi kepanjangan tangan industri. Disini ada kemungkinan bahwa kompetensi umum untuk beberapa cabang pekerjaan yang termasuk dalam kelompok sejenis justru akan menjamin keluasan pilihan bagi anak didik yang telah menyelesaikan program pendidikannya. Salah satu kelemahan pokok adalah lamanya waktu pelaksanaan dan konsekuensi biaya yang tinggi yang diakibatkan oleh proses yang panjang itu. 5. PENDEKATAN ANALISIS TUGAS (TASK ANALYSIS) Diantara sekian banyak cara atau pendekatan yang digunakan untuk menentukan isi kurikulum,mungkin pendekatan analisis tugas (task analysis) adalah yang paling banyak diterapkan untuk pendidikan teknologi dan kejuruan di negara yang sudah maju. Dengan pedoman dari hasil penelitian dan buku panduan yang dikembangkan selama beberapa tahunterakhir,sudah dapat dilakukan kajian secara sistematis tentang aspek-aspek perilaku dari persyaratan kerja tertentu yang dijabarkan langsung dari deskripsi pekerjaan dan deskripsi tugas. Konsorsium pendidikan kejuruan di Amerika Serikat misalnya, yang beranggotakan beberapa negara bagian sudah banyak mengembangkan kurikulum program studi kejuruan yang didasarkan dari analisis tugas ini. Sebelum melangkah lebih jauh ke proses penentuan isi kurikulum dengan pendekatan analisis tugas,terlebih dahulu perlu dipertegas perbedaan istilah yang sering dipakai dibanyak literatur yang kemungkinan besar menimbulkan kerancuan penafsiran dikalangan masyarakat. Kerancuan ini sering timbul dari penterjemahan yang kurang tepat,tetapi juga tidak jarang timbul karena pemakaian istilah yang memang sulit dipisahkan satu sama lain, terutama dalam praktek kehidupan sehari-hari. Untuk keperluan analisis tugas ini akan di bedakan antara istilah pekerjaan (job), kewajiban, (duties),tugas (task), kegiatan (activity),pengoperasian (operations) dan langkahlangkah (step), dari yang paling umum atau yang paling utuh ke bagian yang terkecil, istilah di atas dapat digambarkan seperti bagan dibawah ini:

Pekerjaan

Kewajiban (duty 1)

Kewajiban (duty 2)

Kewajiban (duty 3)

Kewajiban (duty 4)

Tugas 1

Tugas 2

Tugas 3

Tugas 4

Tugas 5

Kegiatan 1 Kegiatan 2 Kegiatan 3

Operasi A
Operasi B Step (a)

Step (b)
Operasi C Operasi D

Step (c) Step (d)


Step (e)

Gambar Hirarki Analisis Pekerjaan Untuk Analisis Tugas

Dalam praktek yang sesungguhnya kerancuan timbul karena ada pekerjaan yang sangat kompleks yang terdiri dari hirarki lengkap seperti yang tertera pada gambar diatas, tetapi ada pula pekerjaan yang mungkin hanya terdiri dari beberapa langkah kerja yang tergabung dalam satu kegiatan. Karena semuanya diterjemahkan menjadi pekerjaan, maka tidak heran jika kerancuan penafsiran sering terjadi. Untuk menghindari hal itu hendaklah diingat bahwa perangkap istilah yang membingungkan itu bukanlah prinsip yang utama dalam melakukan analisis tugas, namun yang terpenting adalah menggunakan diagram dalam gambar diatas untuk menganalisis suatu pekerjaan, kalau suatu tugas tertentu dapat mewakili dengan representatif suatu kewajiban (duty) tertentu, maka hendaknya dapat dimengerti kalau dalam kasusu tersebut kewajiban dan tugas menjadi satu pengertian dan istilahnya dipakai atau dipertukarkan satu sama lain. Begitu juga halnya jika suatu kegiatan hanya terdiri dari satu macam pengoperasian dan itupun hanya melakukan suatu langkah tertentu,misalnya memijit tombol komputer tertentu, maka didalam kasus ini antara kegiatan,operasi dan langkah pengertiannya menjadi satu dan istilahnya dapat dipertukarkan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan analisis tugas adalah bahwa analisi dilakukan terhadap pekerja yang sudah benar-benar menduduki jabatan atau pekerjaan di tempat kerja (job incumbent). Jadi tidak ada istilah analisis tugas dengan pengandaian teoritik tentang fungsi atau tugas kewajiban yang dirumuskan secara imajiner, meskipun ini suatu hal yang mungkin dilakukan , sebagaimana pada pendekatan yang diuraikan pertama dan kedua. Dengan menganalisis pekerja yang benar-benar masih bertugas ditempat kerja dapat dijamin bahwa apa yang dijaring adalah data obyektif yang terandalkan tentang apa, siapa,bagaimana,dan mengapa suatu pekerjaan dilaksanakan. Hal ketiga yang mempengaruhi keberhasilan pendekatan analisis tugas ini tetapi sangat sulit dipenuhi adalah sisitimatika dan ketelitian atau kecermatan dalam inventarisasi data dan pengolahannya nanti. Mungkin inilah sebab yang paling utama mengapa pendekatan ini tidak banyak dipakai di negara yang belum maju,disamping juga karena makan waktu yang sangat lama dan biaya penelitian serta pengembangan yang relatif mahal. Sistimatika atau urutan kerja akan menentukan logika penjabaran selanjutnya menjadi satuan-satuan kegiatan belajar yang harus diselenggarakan disekolah. Ketelitian dan kecermatan sangat penting karena biasanya analisis tugas melibatkan pekerjaan banyak orang dengan jumlah data yang sangat banyak, sehingga hampir merupakan proyek atau pekerjaan raksasa dengan

rincian yang sampai ke bagian-bagian terkecil dari suatu pekerjaan tertentu yang sedang di analisis. Dalam melakukan analisis tugas, perlu diperhatikan pula langkah-langkah atau urutan prosesnya, yang menurut Finch dan Crunkilton (1979) mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Melakukan kajian literatur dan informasi yang relevan 2. Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan 3. Memilih sampel atau contoh pekerja sebagai sumber data 4. Melaksanakan survei atau penelitian dilapangan 5. Menganalisis hasil survei untuk dijabarkan menjadi kurikulum dan kegiatan belajar disekolah Karena langsung berkaitan dengan perencanaan kurikulum di tingkat mikro,langkah keempat dan kelima akan diuraikan lebih lanjut. Pelaksanaan Survei Analisis Tugas Aspek pertama yang dikerjakan dalam pelaksanaan analisis tugas adalah mengidentifikasi dari sekian banyak jabatan dalam suatu lapangan kerja tertentu, mana saja atau pekerjaan jenis apa saja yang akan dipilih untuk dikembangkan pendidikan dan latihannya dengan menggunakan analisis tugas ini. Pertimbangan untuk ini adalah bahwa jangka waktu proses dan pengembangan dan pertumbuhan kesempatan kerja harus berada dalam satu titik seimbang, jangan sampai nantinya setelah hasil analisis selesai dijabarkan menjadi kurikulum ternyata kesempatan kerja sudah jauh menurun atau sudah tidak ada sama sekali. Disamping itu juga ada pertimbangan lainnya seperti kelancaran penempatan lulusan. Daerah penempatan (lokal,regional dan nasional ), biaya investasi permulaan dan biaya penyelenggaraan selanjutnya. Kalau semua faktor diatas sudah dinilai positif atau mempunyai kelayakan, maka barulah analisis tugas untuk jabatan atau pekerjaan tersebut dilaksanakan. Hal ini semua untuk menjaga agar usaha da dana yang sudah diinvestasikan untuk mengembangkan kurikulum memakai pendekatan analisis tugas ini dapat memberikan hasil balikan yang menguntungkan dan berjangka panjang. Untuk melakukan hal ini dapat dipakai instrumen Matriks Analisis Penentuan Prioritas Pengembangan (MAPPP), yang isinya menilai masing-masing pekerjaan atau jabatan yang dipertimbangkan tersebut diatas berdasarkan faktor-faktor yang terkait untuk kemudian menyusun skala prioritas dari yang paling layak dikembangkan sampai ke yang tidak begitu mendesak untuk digarap.

Tabel INSTRUMEN MATRIKS ANALISIS PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN Jenis jabatan / Kebut lapanga n Pk k Prospek penempata n Biaya Biaya Sko r tota l 1. Sekretaris 2. Kapster Salon 3. Pemrogram 4. Analisis kimia 5. Operator komputer 6. Teknisi berat 7. Teknisi mesin ind. 8. Teknisi listrik 9. Operator diesel 10. Asiten apoteker 4 4 5 3 2 18 5 4 4 4 5 3 20 3,5 5 4 5 4 4 22 3 5 5 4 4 5 23 2 alat 4 3 3 3 4 17 6,5 5 5 3 3 4 20 3,5 4 5 4 3 2 2 3 3 4 3 17 16 6.5 7 5 3 5 4 4 3 5 2 4 3 24 15 1 8 rangkin g

pekerjaan

investas implementa i si

Keterangan : PKK = pertumbuhan kesempatan kerja Skor berkisar antara 5 = sangat layak dikembangkan 1= sangat tidak layak dikembangkan Kelayakan masing-masing faktor ada kriteria tersendiri

Dalam matriks yang dipaparkan ditabel,diatas nampak bahwa jabatan sekretaris, oprator komputer, teknisi listrik dan teknisi mesin industri menduduki urutan prioritas atau ranking yang tinggi diantara jabtab-jabatan yang lain yang disurvei. Ini kemudian dapat dipakai sebagai indikator untuk menentukan jabatan atau pekerjaan mana yang harus dikembangkan lebih lanjut analisis tugasnya sehingga dapat disusun kurikulum pendidikan atau latihanny. Angka-angka sekor untuk masing=masing faktor berkisar antara 1 sampai 5 sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk masing-masing faktor,yang pada intinya menunjukan makin tinggi sektor pada suatu faktor akan makin tinggi pula kelayakan pengembangan program ditinjau dari faktor tersebut. Nilai untuk masing-masing faktor kemudian dijumlahkan dan dijadikan dasar menentukan urutan prioritas. Untuk setipa pekerjaan atau jabatan yang diputuskan untuk dikembangkan, kemudian dilakukan langkah lebih lanjut berupa inventarisasi tugas (task inventory), yang kemudian kepada para responden yang disurvei dimintakan untuk memberikan data tentang frekuensi mereka mengerjakan tugas-tugas tersebut dan seberapa penting tugas-tugas tersebut masingmasing dalam keseluruhan kerangka pekerjaan yang mereka lakukan, sebgaimana pada instrumen dibawah. Disini sengaja tentang kewajiban (duty) tidak diinventarisasikan, sebab itu hanya merupakan pengelolaan atau kumpulan beberapa tugas saja yang tidak mempunyai hierarki fungsional dalam kaitannya dengan penyusunan pengalaman belajar. Stelah dihitung merata nilai untuk aspek frekuensi dan kepentingannya,dapatlah kemudian disusun lagi urutan atau rangking tugas-tugas tersebut mulai dari urutan tertinggi sampai terendah. Data ini nantinya akan sangat bermanfaat dalam mempertimbangkan jenis pengetahuan,keterampilan atau pemahaman yang harus diajarkan sebagai isi kurikulum di sekolah atau program latihan. Sangatlah tidak efisien mengajarkan anak didik melakukan suatu tugas apabila dalam kenyataan ditempat kerja tugas tersebut hanya dilakukan oleh beberapa orang, atau jarang dilakukan,atau tidak dianggap terlalu penting dalam keseluruhan tugas kerja seorang pekerja tertentu.

Tabel INSTRUMEN INVENTARISASI TUGAS (TASK INVENTORY) SAMPLE n = 65 PENGATUR RAWAT GIGI No Rincian tugas Frekunsi dilakukan 0 1. 2. 3. 4. 5. 6. Membersihkan / sterilisasi alat Menyimpan dan membungkus alat Menyiapkan sterilisasi kimia Menyiapkan alat bedah Mensucihamakan ruangan operasi Mencampur oksida seng untuk base dan gigi palsu sementara 7. Mencampur amalgam untuk pekerjaan distorsi 8. Mencampur silikat untuk pekerjaan destorsi 9. Menambal gigi dengan bahan tambal sementara 10. Mengelola kartu pasien 7 10 9 39 20 18 7 20 12 10 8 30 21 8 12 34 6 7 8 44 8 1 6 45 3 1 2 59 4 1 6 54 3 4 0 2 0 1 1 3 4 4 6 2 1 2 3 6 9 8 4 8 3 56 51 52 49 59 55 Urgensi dilaksanakan 0 5 6 3 5 0 3 1 0 0 1 4 2 1 2 6 5 4 10 7 7 3 54 54 57 46 56 54

Keterangan :FREKUENSI 0 = tidak pernah mengerjaka 1 = jarang mengarjakan 2 = sering mengerjakan 3 = selalu mengerjakan

URGENSI 0 = sama sekali tidak penting 1 = sedikit penting 2 = penting 3 = sangat penting

Dari sektor frekuensi masing masing pilih jawaban kemudian dihitung Indeksi frekuensi dan indeks urgensi untuk mencari urutan tugas.

Keterangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah tingkat dan jenis skill dalam masing-masing tugas, karena ada yang sifatnya keterampilan teknis dan ada pula yang sifatnya manipulatif, sebgaimana dibedakan oleh Milton Larson (1972). Ahli pendidikan kejuruan ini membedakan kebutuhan skill untuk mengerjakan suatu tugas menjadi skill manipulative dan skill teknis, yang masing-masing kemudian dibedakan lebih lanjut menjadi empat tingkatan seperti dalam contoh Instrumen Analisis Kegiatan dan Tingkat keterampilan (AKTK) dibawah. Dalam menganalisa kegiatan dan tingkat keterampilan ini kecuali data yang diperolah dari wawancara dengan para pekerja juga akan sangat baik sekali kalau dilengkapi dengan observasi langsung ke lapangan, karena ada data tentang tingkat keterampilan yang akan sangat tidak valid apabila hanya menggantungkan dari satu sumber saja. Tabel INSTRUMEN ANALISIS KEGIATAN DAN TINGKAT KETERAMPILAN (AKTK) MEKANIK OTOMOTIF No Unit pekerjaan (operation) Tingkat manipulative a. Pemasangan kepala silinder 1 2 Membongkar gasket Menyekor dudukan klep 3 Memperbaiki klep 4 Mendiagnosis kerusakan 1 mekanik klep 5 Menyetel saat 1 2 3 4 1 2 3 4 2 3 4 1 2 3 4 mekanik 1 2 3 4 1 2 3 4 klep 1 dan 1 2 2 3 3 4 4 1 1 2 2 3 3 4 4 skill Tingkat skill teknis keterangan

pembukaan/penutupan

b. Bongkar

pasang

Blok Silinder

Menyetel ring,torak dan 1 pentorak

Dst,

Keterangan : Manipulative : 1. Perlu kecepatan, sedikit keterampilan 2. Kecepatan sedang,keterampilan sedang 3. Kecepatan sedang , keterampilan tinggi 4. Kecepatan tinggi dan keterampilan tinggi semua diperlukan Teknisi : 1. Dapat mengerjakan dengan instruksi lisan 2. Dapat mengerjakan dibawah bimbingan dengan bantuan chart dan manual tertulis 3. Dapat mengerjakan sendiri dengan chart/manual 4. Mampu mendiagnosis dan memperbaiki kerusakan sendiri Dengan menggunakan alat-alat atau instrumen survei tersebut di atas, maka akan diperoleh gambaran keseluruhan maupun rincian informasi tentang suatu pekerjaan atau jabatan tertentu sampai pada kegiatan dan keterampilan untuk melaksanakannya. Dari sinilah kemudian para perencana kurikulum mengorganisir bahan atau informasi tersebut untuk menyusun isi kurikulum pendidikan teknologi kejuruan. Sudah tentu untuk mengolah semua informasi tersebut tidaklah mudah, karena masing-masing mempunyai bobot sendiri- sendiri dan harus dipertimbangkan dalam kaitannya antara yang satu dengan yang lain. Penjabaran Hasil Survei menjadi Kurikulum Dari hasil survei analisis tugas yang diutarakan di atas, kemudian harus diorganisir dan diolah sehingga menjadi bahan acuan dalam penyusunan isi kurikulum. Hal ini dilaksanakan dengan melakukan analisis zone (zone analysis) dan analisis isi (content analysis). Yang pertama melukiskan gambaran menyeluruh isi kurikulum berdasakan kelompok mata pelajaran yang dibagi menjadi kelompok spesialisasi, kelompok penunjang dan kelompok dasar, masing-masing dengan proporsi yang harus dipikirkan masak-masak.

Yang kedua menyangkut penjabaran rincian hasil analisis tugas menjadi materi belajar atau unit belajar yang nantinya dilanjutkan dengan desain kegiatan instruksional dan pengadaan materi instruksionalnya, baik yang berupa lembar informasi,lembar kerja,lembar tugas, dan lembar pengamatan. Ini semua akan diuraikan dalam bab selanjutnya tentang analisis instruksional (mikro).

C. PENUTUP Dari kelima pendekatan untuk menentukan isi kurikulum yang sudah diuraikan diatas dapat dikatakan dengan tegas mana yang paling baik,karena banyak faktor yang terkait dengan kelayakan pemakaian masing-masing pendekatan. Ditinjau dari segi falsafah pendidikan teknologi dan kejuruan, cara kelima (task analysis) mungkin yang paling mendekati idealisme tentang kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Tetapi ditinjau dari peranan pendidikan teknologi dan kejuruan sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia,ada pertimbangan tertentu yang menyebabkan pendektan yang terlalu didikte oleh kebutuhan industri ini tidak begitu populer di negara yang sedang berkembang disamping faktor biaya prosesnya dan juga struktur industrinya yang belum mapan untuk dapat disurvei secara sistematis. Dengan kata lain masing-masing pendekatan mempunyai segi untung rugi dan kelemahan serta kelebihan. Menjadi kewajiban bagi perencana kurikulum untuk dapat mencari sendiri paradigma pendidikan kejuruan yang paling sesuai dengan konteks masyarakat dan kemudian mencari pendekatan yang khusus dikembangkan untuk mengisi paradigma tersebut dengan pelaksanaan operasional. Ini dapat dicapai dengan penggabungan segi-segi kelebihan dari semua macam pendekatan tersebut diatas, atau dengan mengembangkan suatu pendekatan yang sama sekali baru sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi yang ada.

D REFERENSI 1. Barlow, Mervin (1974),the philosophy for Quality Vocational Education Programs, Washington,D.C.: The American Vocational Associations, Inc. 2. Beane, J.A; To epfer, C.F. and Alessi, S.J.(1986), Curriculum Planning and Development. Sydney : Allyn and Bacon, Inc. 3. Buku Petunjuk Pendidikan Menengah Kejuruan (1983), Jakarta : Depdikbud. 4. Indonesia Education and Human Recources sector Review (1986), Jakarta : Ministry of Education and culture. 5. UNESCO (1982), Curriculum Development in Thechnical and Vocational Education :Amethodology Guide. Paris : UNESCO.