Anda di halaman 1dari 20

SISTEM REPRODUKSI

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Memasuki perkembangan era industrialisasi yang bersifat global seperti sekarang ini, persaingan industri untuk memperebutkan pasar baik pasar tingkat regional, nasional maupun internasional, dilakukan oleh setiap perusahaan secara kompetitif. Industrialisasi tidak terlepas dari sumber daya manusia, yang dimana setiap manusia diharapkan dapat menjadi sumber daya siap pakai dan mampu membantu tercapainya tujuan perusahaan dalam bidang yang dibutuhkan. Serta perkembangan industri dengan proses produksi, sistem kerja, peralatan kerja dan bahan (kimia) yang digunakan dapat menyebabkan risiko bahaya, dan menganggu kesehatan tenaga kerja. Sesuai dengan kemampuan, teknologi dan sarana yang dimiliki faktor bahaya di lingkungan kerja dapat ditekan serendah mungkin (nol). Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta prosesprosesnya. Oleh karena itu, kesehatan reproduksi berarti orang dapat mempunyai kehidupan seks yang memuaskan dan aman, dan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk menentukan apakah mereka ingin melakukannya. Termasuk terakhir ini adalah hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan mempunyai akses terhadap cara-cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau, pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan dan melahirkan anak, serta memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat. Sejalan dengan itu pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan suatu kumpulan metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan reproduksi melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi. Ini mencakup kesehatan seksual, yang bertujuan meningkatkan status kehidupan dan hubungan-hubungan perorangan, dan bukan semata-mata konseling dan perawatan yang bertalian dengan reproduksi dan penyakit yang ditularkan melalaui hubungan seks. Beberapa wanita karena pekerjaannya yang mengggunakan bahan kimia, akan mengalami kesulitan mempunyai anak. Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi: a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan

227

SISTEM REPRODUKSI

seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil) b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb) c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb) d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb).(2) Sistem reproduksi wanita dipengaruhi oleh aspek-aspek dan prosesproses yang terkait pada setiap tahap dalam lingkungan hidup. Masa kanakkanak, remaja pra-nikah, reprodukstif baik menikah maupun lajang, dan menopause akan dilalui oleh setiap perempuan, dan pada masa-masa tersebut akan terjadi perubahan dalam sistem reproduksi. Pada saat yang bersamaan dimungkinkan adanya faktor-faktor non klinis yang menyertai perubahan itu, seperti faktor sosial, faktor budaya dan faktor politik yang berkaitan denag kebijakan pemerintah. Berperannya berbagai faktor dalam kesehatan reproduksi ini selanjutnya memberikan pemahaman akan keterlibatan subjek atau pelaku, diluar kelompok perempuan itu sendiri. Salah satu subjek terdekat dan langsung berkaitan dengan masalah reproduksi perempuan adalah kelompok laki-laki. Laki-laki dalam hal ini berperan penting sesuai dengan statusnya terhadap perempuan, baik sebagai suami, saudara, ayah, teman, atasan maupun critical person dalam penentuan kebijakan. 1.2 Tujuan 1. Memberikan penjelasan tentang sistem reproduksi pada manusia dan fungsi-fungsinya. 2. Memberikan gambaran mengenai jenis-jenis penyebab penyakit akibat kerja pada sistem reproduksi. 3. Mahasiswa mampu menganalisa dan mengantisisasi sampai dapat mengontrol masalah yang dapat timbul akibat PAK pada sistem reproduksi.

228

SISTEM REPRODUKSI

1.3 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud sistem reproduksi pada manusia dan fungsifungsinya? 2. Apa penyebab yang terjadi pada penyakit pada sistem reproduksi akibat kerja? 3. Apa faktor yang menjadi penyebab penyakit pada sistem reproduksi akibat kerja? 4. Bagaimana cara mengantisisasi sampai dapat mengontrol masalah yang dapat timbul akibat PAK pada sistem reproduksi? 1.4 Manfaat Manfaat dalam penulisan Makalah ini sebagai berikut : 1. Mahasiswa dapat mengerti tentang pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. 2. Mahasiswa dapat mengetahui bahaya yang ditimbulkan pada sistem reproduksi akibat kerja. 3. Mahasiswa dapat mengetahui faktor penyebab bahaya bahan-bahan kimia yang mengancam sistem reproduksi. 4. Mahasiswa dapat mengetahui cara mengantisipasi atau meminimalisir bahaya yang ditimbulkan akibat paparan bahan kimia terhadap sistem reproduksi.

229

SISTEM REPRODUKSI

BAB II TEORI

2.1

Teori Reproduksi merupakan proses menghasilkan individu baru dari organisme sebelumnya.Organisme bereproduksi melalui 2 Cara, Repoduksi aseksual (vegetatif) adalah terbentuknya individu baru tanpa melakukan peleburan sel kelamin. Reproduksi seksual (generatif). Umumnya melibatkan persatuan sel kelamin dari individu yang berbeda jenis kelaminnya.

2.1.1. Alat-alat Reproduksi pada Laki-Laki Alat reproduksi pada laki-laki terdiri dari sepasang testis, saluran-saluran kelamin, kelenjar-kelenjar tambahan dan penis. Testis merupakan kelenjar kelamin yang berfungsi sebagiai penghasil sperma dan hormon testosteron. Testis terletak di dalam suatu kantong yang disebut skrotum. Saluran kelamin terdiri atas vasa eferentia. epididimis. dan vas deferens.

Gambar 2.1 Sistem Reproduksi Laki-laki a. Vasa eferentia merupakan bagian yang berfungsi menampung sperma untuk salurankan ke epididimis berjumlah antara 10-20 buah. b. Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok dengan panjang antara 5-6 meter. Di saluran ini cairan sperma diabsorpsi sehingga menjadi agak pekat. Saluran ini berfungsi menyimpan sperma untuk sementara (minimal selama tiga minggu). c. Vas deferens merupakan saluran lurus dengan panjang sekitar 40cm. Saluran ini berfungsi untuk menghubungkan epididimis dengan uretra pada penis. Di bagianujung saluran ini terdapat saluran ejakulasi.

230

SISTEM REPRODUKSI

Gambar 2.2 Sistem Reproduksi Laki-laki Kelenjar tambahan meliputi tambahan vesika seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowperi. a. Vesika seminalis merupakan kantong semen (mani) yang dindingnya menyekresi cairan lendir yang banyak mengandung fruktosa, sedikit asam askorbat, dan asam amino. Bahan-bahan kimia tersebut berfungsi memberi makan dan melindungi sperma sebelum membuahi ovum. Semen adalah cairan yang terdiri atas sperma dan cairan yang dihasilkan oleh berbagai kelenjar tambahan. b. Kelenjar frostat merupakan kelenjar berbentuk bulat yang mengelilingi bagian pangkal saluran uretra. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bersifat basadan berwarna putih susu . Cairan tersebut untuk menetralkan sifat asam pada vasa eferentia dan cairan yang ada di dalam vagina sehingga sprema dapat bergerak aktif. c. Kelenjar cowperi (bulbouretralis), yaiitu kelenjar berukuran sebesar butir kacang yang terletak di bagian proksimal (pangkal) ur etra. Kelenjar ini menghasilkan cairan mukosa yang berfungsi sebagai pelicin. Sistem reproduksi pada laki-laki berhubungan erat dengan sistem ekskresi (pengeluaran), khususnya sistem urinaria. Uretra merupakan saluran yang berfungsi untuk mengeluarkan urinre sekaligus sperma. Testis memproduksi jutaan setiap hari, sejak masa pubertas sampaiseorang lakilaki meninggal dunia. Jika tidak dikeluarkan, sel-sel sperma akan mati dan diserap kembali.

231

SISTEM REPRODUKSI

2.1.2. Alat-alat Reproduksi pada Perempuan

Gambar 2.3 Sistem Reproduksi Perempuan Alat reproduksi pada perempuan terdiri atas sepasang reproduksi ovarium (indung telur) yang terletak di rongga perut, saluran telur (oviduk/tuba fallopi), uterus (rahim), vagina dan organ kelamin bagian luar. Ovarium merupakan kelenjar kelamin perempuan yang berfungsi untuk memproduksi ovum dan menyekresi hormon estrogen dan progesteron. Saluran telur berfungsi untuk menyalurkan ovum ke arah rahim dengan gerakan peristaltik dan dibantu oleh gerakan silia yang terdapat di dindingnya. Panjang saluran ini sekitar 12 cm dan ujungnya berbentuk corong. Uterus (rahim) berfungsi sebagai tempat berkembangnya embrio, dinding uterustebal, panjang sekitar 7,5cm, dan lebar sekitar 5cm. Selama kehamilan uterusmampu mengembang sampai 500 kali. Vagina merupakan saluran yang terletak di bawah uterus sebagai tempat bagi penis pada saat kopulasi dan sebagai jalan bayi pada proses persalinan. Organ kelamin luar meliputi bagian-bagian sebagai berikut, - Klitoria (kelentit), merupakan struktur yang homolog dengan penis. - Vulva, terdiri atas labium mayor (bibir besar) dan labium minor (bibir kecil). - Lubang saluran kencing, merupakan saluran terluar uretra . Lubang vagina, merupakan lubang vaginamerupakan ujung terluar vagina. - Fundus, yaitu bagian lipat paha

a. b.

c.

d.

e.

232

SISTEM REPRODUKSI

2.1.3. Proses Pembuahan Atau Fertilisasi Pembuahan adalah proses peleburan antara satu sel sperma dan satu sel ovum yang sudah matang. Sebelum terjadi proses pembuahan, terjadi beberapa proses sebgai berikut. Ovum yang telah masuk akan keluar dari ovarium. Proses tersebut dinamakan ovulasi.

Gambar 2.4 Proses Ovulasi

Gambar 2.5 Proses Pembuahan Ovum yang telah masak tersebut akan masuk ke saluran Fallopii. Jutaan sperma harus berjalan dari vagina menuju uterus dan masuk ke saluran Fallopii. Dalam perjalanan itu, kebanyakan

233

SISTEM REPRODUKSI

sperma dihancurkan oleh mukus (lendir) asa m di dalam uterus dan saluran Fallopii. Di antara beberapa sel sperma yang bertahan hidup, hanya satu yang masuk menembus membran ovum. Setelah terjadi pembuahan, membran ovum segera mengeras untuk mencegah sel sperma lain masuk. Proses pembuahan ini terjadi di bagian saluran Fallopii yang paling lebar. Hasil pembuahan adalah zigot. Kemudian mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut: a . Zigot membelah menjadi 2 sel, 4 sel dan seterusnya. b . Dalam waktu bersamaan lapisan dinding dalam uterus menjadi tebal seperti spons, penuh dengan pembuluh darah, dan siap menerima zigot. c . Karena kontraksi otot dan gerak silia dinding saluran fallopi, zigot menuju uterus dan menempel di dinding uterus untuk tumbuh dan berkembang. d . Terbentuk plasenta dan tali pusat yang merupakan penghubung antara embrio dan jaringan ibunya. Fungsi plasenta dan tali pusat adalah mengalirkan oksigen dan zat-zat makanan dari ibu ke embrio, serta menglirkan sisa-sisa metabolisme dariembrio ke peredana darah ibunya.

Gambar 2.6 Pertumbuhan Zigot

234

SISTEM REPRODUKSI

e . Embrio dikelilingi cairan amnion yang berfungsi melindungi embrio dari bahaya benturan yang mungkin terjadi f . Embrio berusaha dalam empat minggu sudah menunjukkan adanya pertumbuhan mata, tangan dan kaki. g. Setelah berusia emam minggu, embrio sudah berukuran 1,5 cm. Otak, mata, telinga, dan jantung sudah berkembang. Tangan dan kaki, serta jari-jarinya mulaiterbentuk. h. Setelah berusia delapan minggu, embrio sudah tampak sebagai manusia dengan organ-organ tubuh lengkap. Kaki, tangan, serta jarijari telah berkembang. Mulai tahap ini sampai lahir, embrio disebut fetus (janin). i. Setelah mencapai usia kehamilan kira -kira sembilan bulan sepuluh hari, bayi siap dilahirkan. Jika ovum yang sudah masak dibuahi oleh sperma, jaringan penyusun dinding rahim yang telah menebal dan mengandung banyak pembuluh darah akan rusak dan luruh/runtuh. Bersama-sama dengan ovum yang tidak dibuahi, jaringan tersebut dikeluarkan dari tubuh lewat vagina dalam proses yang disebut menstruasi (haid) 2.2 PAK (Penyakit Akibat Kerja) Keselamatan dan kesehatan kerja baik sekarang maupun di masa datang merupakan sarana menciptakan situasi kerja yang aman, nyaman dan sehat, ramah lingkungan, sehingga dapat mendorong efisiensi dan produktivitas yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan semua pihak, baik bagi penguasa maupun pekerja. Dengan demikian pemantauan dan pelaksanaan norma-norma kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja merupakan usaha meningkatkan kesejahteraan pekerja, keamanan aset produksi dan menjaga kelangsungan bekerja dan berusaha dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Ratusan juta tenaga kerjadi seluruh dunia saat bekerja pada kondisi yang tidak nyaman dan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Menurut International Labor Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit atau yang disebabkan oleh pekerjaan. Sekitar 300.000 ribu kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya kematian karena penyakit akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu : kanker 34%, kecelakaan 25%, penyakit saluran pernapasan 21%, penyakit kardiovasculer 15%, dan lain-lain 5%. Dari data tersebut, bahwa penyebab utama kematian adalah kanker, sedangkan kelompok penyebab lain adalah pneumoconiosis penyakit neurologis dan penyakit ginjal. Selain penyakit yang mengenai hubungan yang menyebabkan kematian, masalah kesehatan

235

SISTEM REPRODUKSI

lain terutama adalah ketulian, gangguan musculoskletal, dan gangguan reproduksi. Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta proses-prosesnya Beberapa wanita karena pekerjaannya yang mengggunakan bahan kimia, akan mengalami kesulitan mempunyai anak. Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi: a. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil) b. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb) c. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb) d. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual, dsb) Pengaruh dari semua faktor diatas dapat dikurangi dengan strategi intervensi yang tepat guna, terfokus pada penerapan hak reproduksi wanita dan pria dengan dukungan disemua tingkat administrasi, sehingga dapat diintegrasikan kedalam berbagai program kesehatan, pendidikan, sosial dam pelayanan non kesehatan lainyang terkait dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan. Pengaruh bahan kimia terhadap kesehatan pekerja. Ini merupakan salah satu batasan yang dibuat oleh Divisi Kesehatan dan Keselamatan kerja negara bagian California, yang dapat dibandingkan dengan hasil monitor kesehatan industri yang dilakukan oleh perusahaan. Unit yang digunakan adalah parts of chemical per million part of air (ppm) yakni bagian dari zat kimia per sejuta bagian udara, atau milligram of chemical per cubic meter of air (mg/m3) milligram dari zat kimia per kubik meter udara. Beberapa penyebab gangguan reproduksi Beberapa wanita karena pekerjaannya yang mengggunakan bahan kimia, akan mengalami kesulitan mempunyai anak. Beberapa orang lelaki lainnya akan mengalami penurunan kualitas sperma karena jok tempat duduk di mobilnya panas. Ada juga beberapa eksekutif yang mengalami gairah seksual serta beberapa wanita karier yang mengalami frigiditas. Secara

236

SISTEM REPRODUKSI

relatif masih sedikit yang diketahui mengenal kemungkinan efek lingkungan pekerjaan terhadap infertilitas pria. Lingkungan yang sangat panas dapat menekan spermatogenesis. Pemaparan kronis pada logam berat, seperti timah, kadmium dan air raksa atau bahan-bahan lain seperti pestisida, herbisida, karbon disulfat dapat juga mengurangi fertilitas (klinik andrologi). Beberapa gangguan reproduksi yang berhubungan dengan pekerjaan yaitu: a. Pranikah b. Kerusakan sperma Penyebab : dioxin, anesthetic gates. c. Mandul Penyebab: timah hitam, cadmium, chlodecone, dibromochlopropane. d. Nikah (gravid) e. Abortus Penyebab : kerja berat, cytotoxic drug. f. Premature Penyebab: ionizing radiation g. Lahir cacat Penyebab : menthyl mercuri, ionizing radiasi Timbal sebagai salah satu unsur polutan udara, mutlak dikurangi penggunaannya. Beberapa produk bensin tanpa timbal sudah diperkenalkan mulai tahun 1985, yaitu Super TT. Super TT adalah bahan bakar dengan bilangan oktan (RON) sebesar 98. Jenis lain yaitu Petro 2T yang dirancang khusus untuk sepeda motor, adalah bensin tanpa timbal yang dikeluarkan oleh PT Sigma Rancang Perdana. Di awal tahun 1998, produk bensin tanpa timbal yang lain adalah BB2L (Bensin Biru 2 Langkah) dengan harga yang lebih murah daripada premium. Jika membandingkan terhadap bilangan oktan, Super TT mempunyai RON 98, premium 88 dan premix 94. Artinya produk tanpa timbalpun mampu memperpanjang oktan melebihi bensin yang masih mengandalkan unsur timbal. Bensin premium sendiri masih mengandung TEL 0,3 gr/lt dan premix 0,45 gr/lt. Kerugian yang ditimbulkan dari kasus pencemaran udara, lebih terasa jika ditinjau dari aspek kesehatan. Dari setiap unsur dalam komponen polutan udara berpeluang merugikan bagi kesehatan setiap organisme. Timbal (Pb) sebagai salah satu komponen polutan udara mempunyai efek toksik yang luas pada manusia dan hewan dengan mengganggu fungsi ginjal, saluran pencernaan, dan sistem saraf pada remaja, menurunkan fertilitas, menurunkan jumlah spermatozoa, dan meningkatkan spermatozoa abnormal dan aborsi spontan. Selain juga menurunkan Intellegent Quotient (IQ) pada

237

SISTEM REPRODUKSI

anakanak , menurunkan kemampuan berkonsentrasi, gangguan pernapasan, kanker paruparu dan alergi. Dalam laporan Bank Dunia 1992, diketahui bahwa pencemaran udara akibat timbal, menimbulkan 350 kasus penyakit jantung koroner, 62.000 kasus hipertensi dan menurunkankan IQ hingga 300.000 point. Juga Pb menurunkan kemampuan darah untuk mengikat oksigen.Berikut adalah berbagai macam toksikan yang menyerang sistem reproduksi manusia berdasarkan jenis kelamin dan jenis toksikan. 2.2.1. Toksinkan Toksikan Reproduksi Pada Pria adalah Steroid. Naturan dan Androgen sintesis, estrogen, dan progestin adalah Agen Antineoplastik. Alkaloid berupa vinca alkaloids, MMS,EMS, busulfan, etilenimis (TEM, TEPA), hydrazine, bleomycin adalah Obat yang menyerang sistem syaraf. Clonidine, metildopa, bretylium, reserpine merupakan logam. Alumunium, Arsenic, Boron, Cadmium, dan Cobalt. Sedangkan toksikan pada sistem reproduksi wanita adalah Steroid. Natural dan sintesis androgen, estrogen dan progestin merupakan agen Antineoplastik. Halothane, enflurane, methoxyflurane adalah melelui logam. Arsenic, Timbal, Litium, metil merkuri. Tabel Kategori Bahaya untuk Toksisitas Reproduksi Kategori Kriteria Diketahui atau dianggap sebagai toksik terhadap reproduktif Kategori ini termasuk bahan yang diketahui memiliki efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau efek terhadap perkembangan manusia atau apabila terdapat bukti dari studi Kategori 1 terhadap hewan yang memungkinkan diperkuat dengan informasi lain, untuk memberi dugaan kuat bahwa bahan tersebut memiliki kapasitas untuk mempengaruhi reproduksi manusia. Untuk tujuan regulasi suatu bahan dapat dibedakan lebih jauh berdasarkan apakah kejadian untuk klasifikasi terutama dari data manusia (kategori 1A) atau dari data hewan (kategori 1B). Diketahui sebagai bahan yang toksis terhadap reproduksi manusia. Kategori 1A Penempatan bahan kimia dalam kategori ini umumnya berdasarkan adanya bukti pada manusia Kategori 1B Penempatan bahan pada kategori ini sebagian besar didasarkan pada kejadian dari percobaan terhadap hewan. Data dari studi pada hewan sebaiknya memberikan bukti yang jelas mengenai toksisitas

238

SISTEM REPRODUKSI

reproduksi secara spesifik dengan tidak adanya efek toksik lain, efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder dari efek toksik lain. Bagaimanapun bila ada informasi mekanisme yang meningkatkan keraguan mengenai keterkaitan efek pada manusia, klasifikasi pada kategori 2 bisa jadi lebih tepat. Kategori ini termasuk bahan yang pada beberapa kejadian pada manusia atau hewan percobaan, mungkin diperkuat dengan informasi lain mengenai efek yang tidak diinginkan terhadap kemampuan atau kapasitas reproduksi atau pada perkembangan, dengan tidak adanya efek toksik lain, atau bila terjadi bersamaan dengan efek toksik lain efek yang tidak diinginkan terhadap reproduksi ini dipertimbangkan sebagai konsekuensi sekunder non spesifik dari efek toksik lain dan dimana kejadian cukup memungkinkan untuk menempatkan bahan di kategori 1. untuk singkatnya, kekurangan pada studi dapat membuat kualitas bukti kurang meyakinkan dan dalam kategori 2 ini klasifikasinya lebih tepat. Kategori tambahan Kategori 1A Kategori 1B Kategori 2 untuk Efek pada/ melalui menyusui Tidak ada simbol Bahaya Bahaya Awas Tidak ada kata sinyal

Kategori 2

Dapat merusak Dapat merusak Diduga merusak Dapat membahayakan bayi fertilitas atau fertilitas atau janin fertilitas atau janin yang menyusu janin

239

SISTEM REPRODUKSI

Efek toksik pada sistem reproduksi Sistem reproduksi pria dapat dipengaruhi lewat mekanisme yang berbeda. Karenanya, banyak zat kimia mengganggu spermatogenesis dan menyebabkan atrofi testis. Zat kimia ini antara lain adalah zat pewarna makanan (misalnya Oil Yellow AB dan Oil Yellow OB) (Allmark., 1955)., pestida (mislanya DBCP), logam (misalnya tombal dan kadmium), dan pelarut organik. Berbagai jenis zat kimia lain dapat mempengaruhi testis, misalnya hormon steroid, zat alkilator, dan heksaklorofen (Dixon, 1986). Selain berkurangnya hitung sperma akibat efek buruk pada spermatogenesis, suatu toksikan dapat membuat spermatozoa cacat, tidak aktif, atau bahkan mati. Contohnya, Metil metan Sulfonat (MMS) dan busulfan menyebabkan mutasi letal, tetapi MMS mempengaruhi spermatid dan spermatozoa sementara busulfan mempengaruhi sel prepermiogenik. Zat alkilator ini tampaknya menyerang DNA sel-sel ini yang memiliki mekanisme perbaikan berbeda (Lee, 1983). Sewaktu disimpan dalam epididimis, spermatozoa dapat juga dipengaruhi toksikan. Contohnya, zat antifertilisitas pria -klorohidrin menghambat kapasitas fertilisasi spermatozoa. Gosipol, zat lain yang sacara ekstensif dicoba di Cina, mungkin bekerja melalui mekanisme yang serupa (Dixon, 1986). Testis diatur secara hormonal oleh sumbu hipotalamus-pituitari : FSH dibutuhkan dalam inisiasi spermatogenesis melalui produksi ABP dalam sel sertoli, sementara LH bekerja pada sel Leydig untuk mensintesis testoteron. Suatu toksikan dapat mempengaruhi proses reproduksi lewat kelenjar-kelenjar endokrin ini. Contohnya adalah DBCP (dibromokloropropoan), suatu fumigan yang digunakan dalam pertanian. Para pekerja yang terkena fumigan ini dapat mengalami azoopernia dan oligospermia, serta kadar LH dan FSH serum yang tinggi ( Miller dkk., 1987). Selain itu, ada laporan yang menyatakan bahwa penghambat kanal kalsium SDZ 200-110 dapat menginduksi tumor sel-Leydig pada tikus melalui peningkatan kadar gonadotropin dalam serum (Roberts dkk., 1989) Selain itu, fungsi reproduksi berada di bawah pengaruh susunan saraf autonom. Karena itu, obat hipotensif Iosulazin, yang berkerja mengosongkan nor-epinefrin dan menyebabakan kemandulan reversibel pada tikus jantan, mungkin melalui berubahnya perilaku seksual dan gangguan ejakulasi ( Mesfin dkk., 1989). Guanetidin, obat hipotensif lain, dapat menyebabakan kemandulan dengan menyebabkan gangguan pemancaran mani (Palmer, 1976). Berbagai jenis toksikan dapat mempengaruhi sistem reproduksi wanita (Dixon ,1986). Oosit dapat dirusak oleh obat-obatan misalnya Nitrogen Mustard dan Viblastin serta Hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) misalnya 3-metilkolantren dan benzo[a]piren. Sebelum pubertas oosit lebih resisten terhadap efek toksik bahan kimia, mungkin karena oosit ini dalam

240

SISTEM REPRODUKSI

keadaan dorman. Fungsi reproduksi lain juga dapat dipengaruhi. Holoperidol mencegah implantasi. DDT dan nikotin dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan konsepsi sehingga menurunkan berat janin (Fabro, 1978). Spironolakton dapat mengganggu ovulasi dan implantasi telur yang telah dibuahi; obat ini juga dapat menghambat perkembangan organ seks pada keturunannya (Nagi dan Virgo, 1982). PAH banyak ditemukan di lingkungan, termasuk asap rokok. Terdapat suatu korelasi antara banyaknya rokok yang diisap dan permulaan menopause; menopause merupakan indikasi habisnya oosit (Miller dkk., 1987) Berikut adalah pengelompokkan efek dan toksikan reproduksi berdasarkan jenis kelaminnya. 1. Efek pada pekerja perempuan yang mungkin timbul pada pekerja perempuan cukup bervariasi, seperti: a. Gangguan Menstruasi: benzena, kloropen,merkurianorganik, PCB, stirena, Toluena. b. Aborsi atau infertil: gas anestesi, timbal, benzena, TCP, sitotoksik,etilnoksida, formaldehid. c. BBLR: karbonmonoksida, formaldehid, PCB,toluena, dan vinil klorida. d. Bayi lahir prematur: timbal,stres dan panas. e. Kematian ibu: Berilium dan Benzena f. Keganasan: DES atau virus Hepatitis B 2. Efek pada pekerja laki-laki a. Libido dan impoten : kloropen, mangan (Mn), timbal anorganik dan organik, metil anorganik, toluena disodianat dan vinil klorida b. Tertis/Infertil: Kloropen, kepone, timbal organik atau organik dan dibromo kloropropan, c. Spermatotoksitas: karbaril, Cs2, sitotoksik, panas, radiasi, timbal. 2.2.2. Farmakokinetik Sepanjang siklus reproduksi, toksikan dapat mengganggu berbagai kejadian dan proses dalam sistem reprodukresi. Toksikan bekerja langsung pada sistem reproduksi, konsepsi, atau secara tidak langsung lewat organ endokrin tertentu. Sebelum zat dapat bekerja secara langsung, zat itu harus mencapai organ sasaran dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Konsentrasi ini dapat lebih tinggi atau lebih rendah konsentrasinya dalam darah. Contohnya DDT, konsentrasinya lebih tinggi 80 kali dalam ovarium daripada dalam plasma. Beberapa zat lain juga terbukti dalam menembus Oosit, saluran telur, cairan uterus, dan blastosis. (Fabro, 1987).

241

SISTEM REPRODUKSI

Berbeda dengan ovaium, testis dilindungi oleh sawar darah testis (blood testis barrier) (Lee dan Dixon, 1978). Sawar darah testis merupakan suatu kompleks sistem multisel yang terdiri atas sel mioid dan membran yang mengelililngi tubulus seminiferus dan sel Sertoli yang terjalin rapat dalam tubulus. Tetapi, sawar ini tidak seefektif sistem sawar darah otak. Laju penetrasi zat kimia ke dalam testis ditentukan oleh bobot molekulnya, koefisien partisinya, dan ciri-ciri ion. Testis mengandung sistem enzim yang dapat mengaktifkan dan mendetoksikasi. Dua sistem ini masing-masing mampu meningkatkan dan menurunkan toksisitas bahan kimia. Selain itu, ada suatu sistem perbaikan DNA yang efisien dalam sel spermatogenik pra-meiosis, tetapi tidak ada dalam spermatid maupun sprematozoa. Karena itu, mutasi dapat diinduksi oleh zat-zat elektrofilik. 2.2.3. Pengendalian Berdasarkan Hierarki Pengendalian Bahaya di atas, maka dapat disusun contoh langkah pengendalian bahaya sebagai berikut: 1. Eliminasi : Hindari pemakaian pestida untuk bahan-bahan makanan 2. Substitusi: Mengganti pestisida/bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan reproduksi dengan bahan yang lebih aman 3. Minimasi: Mengurangi pemakaian pestisida untuk bahan-bahan makanan. 4. Pengendalian engineering: Menciptakan mesin yang aman untuk kesehatan reproduksi pada proses di pabrik 5. Pengendalian administratif: Menciptakan undang-undang mengenai batas aman pemakaian bahan yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi 6. Alat Pelindung diri: Memakai masker agar toksikan tidak terhirup dan memakai sarung tangan ketika bekerja terhadap bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 23 Tahun 1992). Definisi ini sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial, ditambahkan lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syarat baru, yaitu: sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis maupun sosial. Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.

242

SISTEM REPRODUKSI

Diseluruh dunia jumlah wanita yang bekerja makin meningkat dan sekarang sudah mencapai 42% dari jumlah tenaga kerja. Meskipun sebagian mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan kerja, pelayanan tersebut pada umumnya belum memenuhi kebutuhan khusus tenaga kerja wanita. Pada umumnya ada salah persepsi, bahwa selain masalah reproduksi, wanita karier mempunyai risiko yang sama untuk mendapat penyakit akibat kerja dan juga mendapat perlindungan yang sama terhadapnya. (Patricia A. Last, ILO Encyclopaedia)

243

SISTEM REPRODUKSI

BAB III STUDY KASUS 3.1 Studi kasus Studi kasus tentang dampak pestisida pada perempuan, penelitian yang dilakukan oleh PAN Indonesia terhadap petani perempuan di desa Bukit dan desa Sampun, Berastagi Sumatera Utara, mengenai tingkat keracunan pestisida berdasarkan Indikator kelaziman aktivitas enzim Acetylcholinesterase (Ache) dalam plasma darah, ditemukan bahwa tingkat pencemaran yang terjadi pada petani perempuan tersebut sudah melampau batas yang ditetapkan oleh WHO (tidak kurang dari 70 % dari aktivitas normal). Upaya penanganan atau Pengendalian: Berdasarkan Hierarki Pengendalian Bahaya di atas, maka dapat disusun contoh langkah pengendalian bahaya sebagai berikut: 1. Eliminasi Hindari pemakaian pestida untuk bahan-bahan makanan 2. Substitusi Mengganti pestisida atau bahan-bahan kimia berbahaya bagi kesehatan reproduksi dengan bahan yang lebih aman 3. Minimasi Mengurangi pemakaian pestisida untuk bahan-bahan makanan. 4. Pengendalian engineering Menciptakan mesin yang aman untuk kesehatan reproduksi pada proses di pabrik 5. Pengendalian administratif Menciptakan undang-undang mengenai batas aman pemakaian bahan yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi 6. Alat Pelindung diri Memakai masker agar toksikan tidak terhirup dan memakai sarung tangan ketika bekerja terhadap bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

3.2

244

SISTEM REPRODUKSI

BAB IV KESIMPULAN

2.2. Kesimpulan Dari studi kasus tentang dampak pestisida pada perempuan, penelitian yang dilakukan oleh PAN Indonesia terhadap petani perempuan di desa Bukit dan desa Sampun, Berastagi Sumatera Utara, mengenai tingkat keracunan pestisida berdasarkan Indikator kelaziman aktivitas enzim Acetylcholinesterase (Ache) dalam plasma darah. Petani atau tenagan kerja berhak mendapatkan perlindungan yang sesuai dengan dasar hukum Undang-Undang No.1/1970 tentang Keselamatan Kerja, terutama untuk PP No. 7/1973 Pestisida. Karena dapat menyebabkan efek pada pekerja perempuan adanya mutasi gen, dan keracunan serta menurunkan tingkat kecerdasan. Efek yang lebih parah akibat penggunaan pestisida yang berlebih bagi pekerja pada hamil, dapat mengakibatkan: 1. Gangguan Menstruasi 2. Aborsi atau infertil 3. Bayi lahir prematur Untuk mengantisipasi atau menimimal lisirnya dengan cara: 1. Hindari pemakaian pestida untuk bahan-bahan makanan 2. Mengganti pestisida atau bahan-bahan kimia berbahaya bagi kesehatan reproduksi dengan bahan yang lebih aman 3. Mengurangi pemakaian pestisida untuk bahan-bahan makanan. 4. Memakai masker agar toksikan tidak terhirup dan memakai sarung tangan ketika bekerja terhadap bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

4.2.Saran 1. Petani dalam melakukan pekerjaannya sebaiknya menggunakan alat dan bahan-bahan kimia yang aman. 2. Perlu adanya upaya meningkatkan kebiasaan pemakaian masker standar dalam melakukan aktifitas kerja agar mengurangi bahan kimia yang terhirup. 3. Mengurangi paparan dengan mengurangi instensitas bersentuhan atau menggunakan pestisida dalam bahan makanan.

245

SISTEM REPRODUKSI

DAFTAR PUSTAKA

http://2.bp.blogspot.com/_MpuirfadFfA/SZbFbx3q2CI/AAAAAAAAAC8/JwAX AWswzxA/S600/anatomi_repro_wanita%5B1%5D.jpg (diakses Juni 23, 2012). http://okleqs.wordpress.com/2010/05/04/klasifikasi-dan-pelabelan-bahan-kimiaversi-ghs-bahaya-kesehatan/ (diakses Juni 23, 2012). http://intanriani.files.wordpress.com/2009/03/anatomi-reproduksi-mnusia.jpg (diakses Juni 23, 2012).

246