Anda di halaman 1dari 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1.

Soil-transmitted Helminths Soil-transmitted helminths merupakan kelompok parasit cacing nematoda yang menyebabkan infeksi pada manusia akibat tertelan telur atau melalui kontak dengan larva yang berkembang dengan cepat pada tanah yang hangat dan basah di negara-negara subtropis dan tropis di berbagai belahan dunia. Bentuk dewasa soiltransmitted helminths dapat hidup selama bertahun-tahun di saluran percernaan manusia. Lebih dari dua milyar penduduk dunia terinfeksi oleh paling sedikit satu spesies cacing tersebut, terutama yang disebabkan oleh A. lumbricoides, T. trichiura dan cacing tambang (WHO, 2005; WHO, 2006). Soil-transmitted helminths merupakan salah satu penyebab utama kemunduran pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual yang berdampak terhadap pendidikan, ekonomi dan kesehatan masyarakat yang sering terabaikan. Kurangnya perhatian para tenaga kesehatan dan masyarakat dunia terhadap kondisi ini disebabkan (Chan, 1997; WHO, 2006): 1. Kebanyakan penduduk yang terinfeksi oleh Soil-transmited helmiths berasal dari negara-negara miskin. 2. Infeksi parasit ini menyebabkan gangguan kesehatan kronis dengan

manifestasi klinis yang tidak nyata. 3. Pengukuran efek yang timbul akibat infeksi soil-transmitted

helminths terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendidikan sulit dilakukan.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1. Infeksi soil-transmitted helminths pada manusia Cacing penyebab utama di Penyakit Perkiraan populasi seluruh dunia yang terinfeksi (juta) Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Necator americanus dan Ancylostoma duodenale Strongyloides strecoralis Enterobius vermicularis Infeksi cacing gelang Infeksi cacing cambuk Infeksi cacing tambang Infeksi cacing benang (threadworm) Infeksi cacing kremi (Sumber : Bethony dkk , 2006) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa infeksi soil-transmitted helminths memiliki dampak yang sangat besar terhadap tingkat kehadiran dan prestasi 807-1221 604-795 576-740 30-100 4-28% anak

sekolah serta produktivitas ekonomi dimasa mendatang (Miguel and Kremer, 2003). World Health Assembly berusaha mengantisipasi hal tersebut dengan membuat sebuah resolusi bagi negara-negara anggota dalam upaya mengontrol angka kesakitan akibat infeksi soil tramitted helminths melalui pemberian obat antelmintik dalam skala besar kepada anak usia sekolah dasar di negara-negara miskin ( Horton, 2003). II.1.1. Ascariasis Askariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh A.

lumbricoides (cacing gelang) yang hidup di usus halus manusia dan penularannya melalui tanah. Cacing ini merupakan parasit yang kosmopolit yaitu tersebar di

Universitas Sumatera Utara

seluruh dunia, frekuensi terbesar berada di negara tropis yang lembab, dengan angka prevalensi kadangkala mencapai di atas 50%. Angka prevalensi dan intensitas infeksi biasanya paling tinggi pada anak usia 5-15 tahun (Ditjen PP&PL Dep.Kes. RI, 2005; Bethony dkk, 2006).

Gambar 2. Siklus hidup Ascaris lumbricoides. 1)Cacing dewasa, 2) telur infertil dan telur fertil, 5) larva yang telah menetas, 7) larva matur (Sumber : http://www.dpd.cdc.gov/dpdx) Siklus hidup cacing ini membutuhkan waktu empat hingga delapan minggu untuk menjadi dewasa. Manusia dapat terinfeksi cacing ini karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi telur cacing yang telah berkembang (telur berembrio). Telur yang telah berkembang tadi menetas menjadi larva di

Universitas Sumatera Utara

usus halus. Selanjutnya larva bergerak menembus pembuluh darah dan limfe usus mengikuti aliran darah ke hati atau ductus thoracicus menuju ke jantung. Kemudian larva dipompa ke paru. Larva di paru mencapai alveoli dan tinggal disitu selama 10 hari untuk berkembang lebih lanjut. Bila larva telah berukuran 1,5 mm, ia mulai bermigrasi ke saluran nafas, ke epiglotis dan kemudian esofagus, lambung akhirnya kembali ke usus halus dan menjadi dewasa. Umur yang normal dari cacing dewasa adalah 12 bulan; paling lama bisa lebih dari 20 bulan, cacing betina dapat memproduksi lebih dari 200.000 telur sehari. Dalam kondisi yang memungkinkan telur dapat tetap bertahan hidup di tanah selama 17 bulan sampai beberapa tahun (Beaver dkk, 1984; Markell dkk, 1999; Strikland, G.T. dkk , 2000). Infeksi ringan cacing ini biasanya ditandai dengan sedikit gejala atau tanpa gejala sama sekali. Kelainan patologi yang terjadi, disebabkan oleh dua stadium sebagai berikut (Beaver dkk, 1984; Markell dkk, 1999; Strikland, G.T. dkk, 2000): 1. Kelainan oleh larva, yaitu berupa efek larva yang bermigrasi di paru (manifestasi respiratorik). Gejala yang timbul berupa demam, dyspneu, batuk, malaise bahkan pneumonia. Gejala ini terjadi 4-16 hari setelah infeksi. Cyanosis dan tachycardia dapat ditemukan pada tahap akhir infeksi. Semua gejala ini dinamakan Ascaris pneumonia atau Syndroma loffler. Kelainan ini akan menghilang dalam waktu 1 bulan. 2. Kelainan oleh cacing dewasa, berupa efek mekanis yang jika jumlahnya cukup banyak, akan terbentuk bolus dan menyebabkan obstruksi parsial atau

Universitas Sumatera Utara

total. Migrasi yang menyimpang dapat menyebabkan berbagai efek patologi, tergantung kepada tempat akhir migrasinya. Infeksi Ascaris lumbricoides dapat menyebabkan gangguan absorbsi beberapa zat gizi; seperti

karbohidrat dan protein, dan cacing ini dapat memetabolisme vitamin A, sehingga menyebabkan kekurangan gizi, defisiensi vitamin A dan anemia ringan II.1.2. Trichuriasis Trichuriasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh T. trichiura (cacing cambuk) yang hidup di usus besar manusia khususnya caecum yang penularannya melalui tanah. Cacing ini tersebar di seluruh dunia, prevalensinya paling tinggi berada di daerah panas dan lembab seperti di negara tropis dan juga di daerahdaerah dengan sanitasi yang buruk, cacing ini jarang dijumpai di daerah yang gersang, sangat panas atau sangat dingin. Cacing ini merupakan penyebab infeksi cacing kedua terbanyak pada manusia di daerah tropis (; Beaver dkk, 1984; Markell dkk, 1999). Siklus hidup cacing ini langsung dan menjadi dewasa pada satu inang.

Cacing dewasa masuk ke mukosa caecum dan colon proximal manusia dan dapat hidup di saluran pencernaan selama bertahun-tahun. Cacing betina diperkirakan memproduksi lebih dari 1000 telur perhari. Telur yang keluar melalui tinja menjadi infektif dalam waktu 10-14 hari (lebih kurang tiga minggu) di tanah yang hangat dan lembab. Manusia mendapat infeksi karena menelan telur infektif dari tanah yang mengkontaminasi tangan, makanan, dan sayuran segar. Selanjutnya

Universitas Sumatera Utara

larva cacing tumbuh dan berkembang menjadi dewasa dalam waktu 1-3 bulan setelah infeksi. Telur ditemukan dalam tinja setelah 70-90 hari sejak terinfeksi (Beaver dkk, 1984; Strikland, G.T. dkk, 2000).

Gambar 3. Siklus hidup Trichuris trichiura. (Sumber : http://www.dpd.cdc.gov/dpdx) Infeksi ringan pada manusia biasanya tanpa gejala. Kelainan patologi disebabkan oleh cacing dewasa. Bila jumlah cacing cukup banyak dapat menyebabkan colitis dan apendisitis akibat blokade lumen appendics. Infeksi

Universitas Sumatera Utara

yang berat menyebabkan nyeri perut, tenesmus, diare berisi darah dan lendir (disentri), anemia, prolapsus rektum, dan hipoproteinemia. Pada anak, cacing ini dapat menyebabkan jari tabuh (clubbing fingers) akibat anemia dan gangguan pertumbuhan (Tanaka dkk, 1980; Beaver dkk, 1984; Strikland, G.T. dkk, 2000). II.1.3. Infeksi cacing tambang Infeksi cacing tambang pada manusia disebabkan oleh infeksi parasit cacing nematoda N. americanus dan Ancylostoma duodenale yang penularannya melalui kontak dengan tanah yang terkontaminasi. Cacing ini merupakan penyebab infeksi kronis yang paling sering, dengan jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan mencapai seperempat dari populasi penduduk dunia di negara tropis dan subtropis. Jumlah penderita infeksi cacing tambang paling banyak dijumpai di Asia, kemudian diikuti negara-negara subSahara Afrika. N. americanus merupakan cacing tambang yang paling banyak dijumpai di berbagai belahan dunia,

sedangkan A. duodenale penyebarannya secara geografis sangat terbatas (Tanaka dkk, 1980; Beaver dkk, 1984; Strikland, G.T. dkk, 2000;). Cacing dewasa hidup dan melekat pada mukosa jejunum dan bagian atas ileum. Cacing betina N. americanus dapat memproduksi 10.000 telur sehari dan A. duodenale memproduksi 20.000 telur sehari. Dalam kondisi yang memungkinkan; tanah berpasir yang hangat dan lembab, telur di tanah tumbuh dan berkembang menjadi embrio dalam 24-48 jam pada suhu 23 sampai 30 C. Penularan terjadi karena penetrasi larva filariform melalui kulit atau pada

Universitas Sumatera Utara

Ancylostoma duodenale lebih sering tertular karena tertelan larva filariform dari pada penetrasi larva tersebut melalui kulit. Selanjutnya cacing ini tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa, kawin dan mulai bertelur empat sampai tujuh minggu setelah terinfeksi. Larva filariform A. duodenale yang tertelan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa tanpa migrasi paru. Cacing dewasa dapat hidup selama satu tahun (Tanaka dkk, 1980; Beaver dkk, 1984; Strikland, G.T. dkk, 2000).

Gambar 4. Siklus hidup Necator americanus dan Ancylostona duodenale (Sumber : Strikland, G.T. dkk, 2000 ) Infeksi ringan cacing ini biasanya ditandai dengan sedikit gejala atau tanpa gejala sama sekali. Pada infeksi yang berat, kelainan patologi yang terjadi, disebabkan oleh tiga fase sebagai berikut (Tanaka dkk, 1980; Beaver dkk, 1984): 1. Fase cutaneus, yaitu cutaneus larva migrans, berupa efek larva yang

Universitas Sumatera Utara

menembus kulit. Larva ini menyebabkan dermatitis yang disebut Ground itch. Timbul rasa nyeri dan gatal pada tempat penetrasi. 2. Fase pulmonary, berupa efek yang disebabkan oleh migrasi larva dari pembuluh darah kapiler ke alveolus. Larva ini menyebabkan batuk kering, asma yang disertai dengan wheezing dan demam. 3. Fase intestinal, berupa efek yang disebabkan oleh perlekatan cacing dewasa pada mukosa usus halus dan pengisapan darah. Cacing ini dapat mengiritasi usus halus menyebabkan mual, muntah, nyeri perut, diare, dan feses yang berdarah dan berlendir. Anemia defisiensi besi dijumpai pada infeksi cacing tambang kronis akibat kehilangan darah melalui usus akibat dihisap oleh cacing tersebut di mukosa usus. Jumlah darah yang hilang per hari per satu ekor cacing adalah 0,03 mL pada infeksi Necator americanus dan 0,15 mL pada infeksi Ancylostoma duodenale. Jumlah darah yang hilang setiap harinya adalah 2 mL/1000 telur/gram tinja pada infeksi Necator americanus dan 5 mL/1000 telur/gram tinja pada infeksi Ancylostoma duodenale, sehingga kadar hemoglobin dapat turun mencapai level 5 gr/dl atau lebih rendah. Pada anak, infeksi cacing ini dapat menganggu pertumbuhan fisik dan mental.

II.2. Pemberantasan Kecacingan Strategi pemberantasan kecacingan di masyarakat tergantung bagaimana satu siklus hidup parasit, akan

Intervensi yang dilakukan pada salah

Universitas Sumatera Utara

mempengaruhi transmisi parasit tersebut. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa prevalensi infeksi soil-transmitted helminths

berhubungan dengan higiene dan sanitasi serta sikap masyarakat. Penggunaan obat-obat antelmintik saat ini tidak hanya terbatas pada pengobatan infeksi soiltransmitted helminths yang simptomatis saja, tetapi juga dipakai dalam skala besar guna mengurangi angka morbiditas pada masyarakat di daerah endemis. Banyak sekali bukti yang menunjukkankan bahwa infeksi kronis soil-transmitted

helminths dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, status gizi yang buruk dan daya kognitif yang rendah pada anak (Bundy dkk, 2002). II.2.1. Higiene dan sanitasi Penelitian yang dilakukan oleh Ismid, dkk (1988) dan Margono, dkk (1991) mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara infeksi soil-transmitted helminths (infeksi A. lumbricoides) pada anak dan kebersihan pribadi serta sanitasi lingkungan. Soeripto (1986) pada penelitiannya membuktikan bahwa pembinaan air bersih, jamban keluarga dan kesehatan lingkungan, sesudah pengobatan cacing secara massal pada penduduk dapat mengurangi penularan dan menurunkan prevalensi infeksi soil-transmitted helminths di pedesaan, terutama pada anak usia kurang dari 10 tahun. Kebersihan lingkungan dipengaruhi oleh besarnya kontaminasi tanah yang terjadi. Kontaminasi tanah dengan telur cacing merupakan indikator keberhasilan program kebersihan di masyarakat (Schulz dan kroeger, 1992). Menurut Olorcain

Universitas Sumatera Utara

dan Holland (2000) untuk jangka panjang, perbaikan higiene dan sanitasi merupakan cara yang tepat untuk mengurangi infeksi soil-transmitted helminths. II.2.2. Pengobatan Pengobatan secara berkala dengan obat antelmintik golongan

benzimidazol pada anak usia sekolah dasar dapat mengurangi dan menjaga cacing-cacing tersebut berada pada kondisi yang tidak dapat menimbulkan penyakit (Bundy dkk, 2002). Keuntungan pemberantasan kecacingan secara berkala pada kelompok anak usia sekolah meliputi : a. b. c. d. Meningkatkan cadangan besi. Meningkatkan pertumbuhan dan kondisi fisik. Meningkatkan daya kognitif dan tingkat kehadiran sekolah. Mengurangi kemungkinan terkena infeksi sekunder.

Pada anak-anak yang lebih muda, beberapa penelitian menunjukkan keuntungan berdasarkan indikator nutrisi seperti mengurangi jumlah anak yang kurus, malnutrisi, perawakan yang pendek dan meningkatkan selera makan (Stephensons dkk, 1989; Stephensons dkk, 1993; Stoltzfus dkk, 1997) . Berbagai jenis obat cacing telah dikenal seperti golongan piperazin,

levamisol, pirantel pamoat, oxantel-pirantel pamoat, mebendazol dan yang terakhir ini adalah albendazol. Pada prinsipnya obat cacing yang baik adalah obat yang dapat bekerja terhadap berbagai stadium cacing (yaitu telur, larva, dan dewasa), mempunyai efikasi yang baik untuk semua jenis nematoda usus dan efek samping minimal.

Universitas Sumatera Utara

Levamisol hidrokhlorit Levamisol hidrokhlorit merupakan isomer dari tetramisol. Obat ini

digunakan pada pengobatan infeksi nematoda usus. Dosis tinggi levamisol efektif mengobati ascariasis (90%) dan sedikit berperan dalam melawan infeksi cacing tambang. Obat ini bekerja dengan meningkatkan frekuensi aksi potensial dan menghambat transmisi neuromuskular cacing, sehingga cacing berkontraksi diikuti dengan paralisis tonik, kemudian mati (Csaky & Barnes, 1984; Girdwood, 1984; Sukarban dan Santoso, 2001). .

Gambar 5. Struktur kimia levamisol hidrokhlorit (Sumber : Csaky & Barnes, 1984) Pada pemberian oral, levamisol diserap dengan cepat dan sempurna. Kadar puncak tercapai dalam waktu 1-2 jam sesudah pemberian dosis tunggal. Dalam waktu 24 jam, 60% obat dieksresikan bersama urin sebagai metabolit. Dosis rendah levamisol hanya menyebabkan efek samping ringan pada saluran cerna dan SSP. Pemakaian untuk waktu yang lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi (rash), neutropenia, dan Flu-like syndrome. Tetapi pemakaian dosis tunggal secara oral 3 mg/kgbb cukup aman dan

Universitas Sumatera Utara

jarang menimbulkan efek samping (Csaky & Barnes, 1984; Girdwood, 1984; Sukarban dan Santoso, 2001) Levamisol tersedia sebagai tablet 25, 40, dan 50 mg yang dapat diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgbb. Pada ascariasis, penderita yang berat badannya lebih dari 40 kg diberikan dosis tunggal 50-150 mg, anak dengan berat badan 10-19 kg diberikan dosis tunggal 50 mg dan 100 mg bagi anak yang mempunyai berat badan 20-39 kg (Sukarban dan Santoso, 2001; Tjay dan Rahardja, 2002). Mebendazol Hal yang berbeda dengan obat cacing sebelumnya, mebendazol

dikatakan dapat bekerja pada semua stadium nematoda usus (Abadi, 1985; Pasaribu, 1989; Chan,1992). Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat efikasi mebendazol ini seperti Abadi (1985) pada pemberian mebendazol 500 mg dosis tunggal mendapat Angka Penyembuhan 93,4%, 77,6%, dan 91,1% untuk A.lumbricoides, T.trichiura, dan cacing tambang. Adapun pada penelitian yang dilakukan oleh Albanico, dkk (2003), mendapatkan Angka Penyembuhan terhadap Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang dengan pemberian mebendazol 500 mg dosis tunggal masing-masing 96,5%, 23%, dan 7,6%. Mebendazol banyak digunakan sebagai monoterapi untuk pengobatan massal terhadap penyakit kecacingan dan juga pada infeksi campuran dua atau lebih cacing. Obat ini bekerja sebagai vermicid, larvicid dan juga ovicid. Walaupun mebendazol merupakan derivat dari kelompok yang sama dengan senyawa seperti

Universitas Sumatera Utara

tiabendazol, mekanisme kerja dan farmakologi keduanya sedikit berbeda. Mebendazol menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing. Obat ini juga menghambat sintesis mikrotubulus nematoda yang mengakibatkan gangguan pada mitosis dan pengambilan glukosa secara irreversibel sehingga terjadi pengosongan glikogen pada cacing, dan kemudian cacing akan mati secara perlahan-lahan. Mebendazol juga menimbulkan sterilitas pada telur cacing T.trichiura, cacing tambang dan A. lumbricoides sehingga telur ini gagal berkembang menjadi larva. Tetapi larva yang sudah matang tidak dapat dipengaruhi oleh mebendazol (Pasaribu, 1989; Goldsmith, 1998; Sukarban dan Santoso, 2001). Mebendazol merupakan antelmintik broadspektrum yang sangat efektif terhadap cacing gelang, kremi, cambuk dan tambang. Nama kimianya ialah N-(5-benzoil-2-benzimidazolil) karbamat dengan rumus kimia sebagai berikut:

Gambar 6. Struktur kimia mebendazol (Sumber : Csaky & Barnes, 1984) Penyerapan mebendazol dari usus setelah pemberian secara oral kurang dari 10%. Obat yang diabsorbsi 90% berikatan dengan protein. Bioavailabilitas sistemik yang rendah dari mebendazol merupakan dampak dari absorbsinya yang buruk dan mengalami first pass hepatic metabolism yang cepat. Dieksresi

Universitas Sumatera Utara

terutama lewat urin dalam bentuk utuh dan metabolit dekarboksilasi dalam tempo 48 jam. Mebendazol merupakan bentuk obat yang lebih aktif dibandingkan dengan metabolitnya. Absorbsi ditingkatkan bila obat diberikan bersama makanan berlemak (Goodman, L.S. & Gilman, A , 1996; Goldsmith, 1998; Sukarban dan Santoso, 2001). Mebendazol merupakan obat yang aman, efek samping berupa

gangguan saluran cerna seperti sakit perut dan diare jarang terjadi. Efek samping mebendazol dosis tinggi berupa reaksi alergi, alopecia, neutropenia reversible, agranulocytosis, dan hypospermia jarang dijumpai. Obat ini tidak dianjurkan digunakan pada ibu hamil karena memiliki sifat teratogenik yang potensial dan bagi anak usia dibawah dua tahun. Pemberian obat ini pada pasien yang

mempunyai riwayat alergi sebelumnya tidak dianjurkan (Goodman, L.S. & Gilman, A, 1996; Tjay dan Rahardja, 2002). Mebendazol biasanya diminum secara oral, dosisnya sama pada dewasa dan anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Pada pengobatan ascariasis, trichuriasis dan infeksi cacing tambang, 100 mg obat diminum pada pagi dan malam hari selama 3 hari berturut-turut atau dengan dosis tunggal 500 mg dan tidak memerlukan pencahar. Apabila belum sembuh, dosis ini dapat diulang 3 minggu kemudian (Goodman, L.S. & Gilman, A, 1996; Sukarban dan Santoso, 2001; WHO, 2003). II.2.3. Resistensi obat pada nematoda Beberapa tahun belakangan ini, terdapat laporan penelitian yang menunjukkan kegagalan pengobatan infeksi nematoda pada manusia. Pada penelitian yang

Universitas Sumatera Utara

dilakukan oleh De Clerecq dkk (1997) melaporkan telah terjadinya kegagalan mebendazol dalam mengobati infeksi cacing tambang di bagian selatan Mali. Adapun pada penelitian yang dilakukan oleh Reynoldson dkk (1997) mendapati efikasi yang sangat rendah dari pirantel pamoat dalam mengobati infeksi cacing tambang (Ancylostoma duodenale) di daerah Kimberley, Australia Barat laut. Kedua peneliti tersebut menganggap penyebab penurunan sensitifitas obat dari cacing tambang mungkin sebagai suatu perubahan genetik dalam kerentanan dari strain lokal cacing tambang (seperti, bukan akibat seleksi dari tekanan obat) atau faktor host (seperti diet lokal) yang dapat merubah farmakodinamik obat. Walaupun interpretasi dan implikasi dari penelitian tersebut masih diperdebatkan, namun penemuan tersebut telah mendorong peningkatan kewaspadaan akan potensi permasalahan resistensi antelmintik (RA) pada pengobatan dan pengendalian infeksi cacing pada manusia. Pada saat sekarang, RA merupakan permasalahan penyakit yang paling penting pada industri peternakan domba di Australia, Afrika Selatan dan kemungkinan di Amerika Selatan (Waller dkk, 1995;Waller dkk, 1996; Van Wyk dkk, 1997). Tiga puluh tahun yang lalu, banyak ilmuwan menganggap bahwa fenomena resistensi obat pada cacing-cacing yang menginfeksi hewan di peternakan tidak penting. Sehingga akhirnya prevalensi RA yang tinggi di atas 50% sekarang dilaporkan di semua bagian dunia untuk cacing gastrointestinal pada domba, kambing dan kuda yang terdapat di industri peternakan (Geerts dan Gryseels, 2000).

Universitas Sumatera Utara

Resistensi antelmintik didefinisikan sebagai penurunan sensitivitas suatu populasi parasit terhadap kerja suatu obat yang diturunkan.(Conder dan Campbell, 1995). Menurut Cerami dan Warren (1994) cacing lebih lambat mengembangkan resistensi obat dibandingkan dengan agen infeksi lainnya karena cacing

berkembang biak lebih lambat. Namun demikian sikap berhati-hati dalam mengobati infeksi cacing pada manusia merupakan tindakan yang bijak. RA boleh jadi belum merupakan permasalah medis, tetapi sedikitnya laporan RA sejauh ini boleh jadi hanya menggambarkan ujung dari sebuah gunung es. Hal ini

kemungkinan disebabkan oleh dua hal yaitu: a) Kegagalan pengobatan secara individu sering tidak terdeteksi, ketika sebagian besar infeksi cacing hanya menyebabkan penyakit subklinis. b) Sekali RA muncul, itu akan sangat cepat menjadi problem utama baik di klinis maupun pada pengobatan preventif (Geerts dan Gryseels, 2000) Obat-obat utama yang digunakan saat ini dalam mengobati nematoda yang menginfeksi manusia adalah mebendazol, albendazol, pirantel pamoat dan levamisol untuk nematoda intestinal. Obat-obat tersebut tersedia secara luas di sebagian besar sistem pelayanan kesehatan sebagai pengobatan kuratif dari kasuskasus klinis selama bertahun-tahun. Disamping itu, saat ini antelmintik juga digunakan sebagai pengobatan preventif pada masyarakat dengan resiko tinggi penularan (seperti anak usia sekolah dan wanita hamil) yang diberikan secara berkala (Bundy dan De Silva, 1998; Albanico dkk, 1999). Permasalahan yang dianggap sebagai resistensi obat pada cacing tambang

Universitas Sumatera Utara

pertama kali dicatat bahwa penyembuhan sempurna infeksi cacing tambang (dan kebanyakan infeksi cacing lainnya) biasanya tidak dicapai dengan beberapa obat. Berdasarkan pada dosis dan tehnik pemeriksaan tinja yang dilakukan, didapatkan angka penyembuhan yang sama rendah yaitu 61% (400 mg) dan 67% (800 mg) untuk albendazol, 0% (dosis tunggal) dan 23% (pengulangan dosis) untuk levamisol, 30% (dosis tunggal) dan 37% ( pengulangan dosis) untuk pirantel pamoat dan 19% (dosis tunggal) dan 45% (pengulangan dosis) untuk mebendazol telah dilaporkan (De Silva dkk, 1997; Krepel dkk, 1993). Paling sedikit ada beberapa populasi cacing tambang memperlihatkan sedikit toleransi alamiah terhadap paling sedikit satu jenis obat yang digunakan saat ini. Perbedaan kerentanan dua spesies Ancylostoma duodenale dan Necator americanus terhadap antelmintik telah dibuktikan. Kemungkinan pengembangan resistensi terhadap mebendazol pada cacing tambang yang menginfeksi manusia (penelitian di Mali) sama sekali tidak mengherankan, semenjak benzimidazol diketahui relatif menjadi selektor yang baik resistensi antelmintik. Pada cacingcacing yang menginfeksi ternak, resistensi benzimidazol telah muncul dengan cepat dan tersebar dengan mudah (Conder dan Campbell, 1995; Ross, 1997). Hipotesis resistensi obat di Australia diilhami oleh kecurigaan secara klinis resistensi di sebuah area dimana pirantel pamoat telah digunakan pada masyarakat untuk jangka waktu yang lama. Faktor-faktor yang berperan terhadap perkembangan resistensi antelmintik Sebagaimana yang dikemukakan di atas, RA pada peternakan sekarang

Universitas Sumatera Utara

merupakan sebuah fakta. Beberapa faktor yang berperan terhadap terjadinya resistensi obat telah diidentifikasi dan diteliti. Faktor-faktor yang berperan terhadap perkembangan resistensi obat antelmintik yaitu: a) Frekuensi pengobatan yang tinggi. Pada penelitian Barton (1983) dan Martin dkk (1984) menunjukkan bahwa frekuensi pengobatan yang tinggi menseleksi resistensi lebih kuat dibandingkan dengan frekuensi pengobatan yang kurang. Dari penelitian tersebut juga terdapat bukti kuat bahwa resistensi obat berkembang lebih cepat pada daerah dimana hewan-hewan diberikan antelmintik secara reguler. Resistensi obat dapat juga terjadi pada frekuensi pengobatan lebih rendah, khususnya ketika obat yang sama diberikan selama bertahun-tahun. Beberapa peneliti telah melaporkan perkembangan resistensi obat terjadi ketika hanya dua atau tiga kali pengobatan diberikan per tahun (Geerts dkk, 1990; Burger dan Bauer, 1994). b) Regimen obat tunggal. Seringkali obat tunggal, yang biasanya sangat efektif pada tahun-tahun pertama pengobatan, digunakan secara terusmenerus sampai obat tersebut menjadi kurang efektif. Pada penelitian yang dilakukan oleh Geerts dkk (1987) mendapatkan bahwa penggunaan levamisol dalam waktu yang lama pada ternak juga telah memicu perkembangan resistensi, walaupun frekuensi pemberian pengobatan pertahunnya rendah. c) Dosis yang tidak adekuat. Dosis yang tidak adekuat diduga sebagai faktor penting perkembangan resistensi obat, karena dosis dibawah dosis terapi

Universitas Sumatera Utara

memungkinkan cacing resisten heterozigot tetap bertahan hidup (Smith, 1990). Beberapa penelitian laboratorium telah menunjukkan bahwa dosis yang tidak adekuat terbukti berperan terhadap seleksi resistensi atau strainstrain yang toleran (Hoekstra dkk, 1997). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahwa bioavailabilitas benzimidazol dan levamisol lebih rendah pada kambing dibandingkan pada domba dan oleh karena itu kambing harus diobati dengan dosis satu setengah atau dua kali lebih tinggi dari dosis yang diberikan kepada domba (Hennessy, 1994). Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun kambing dan domba telah diberikan dosis antelmintik yang sama. Fakta bahwa RA lebih sering terjadi dan tersebar luas pada kambing merupakan konsekuensi langsung dari dosis yang tidak adekuat ( Smith dkk, 1999).

Universitas Sumatera Utara