Anda di halaman 1dari 11

1

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA


Perspektif Filsafat Mulla Shadra Sampai sekarang tidak pernah selesai di bicarakan masalah HUBUNGAN ilmu dan agama, baik dalam ranah ontologis, epistemologis maupun aksiologis. Penemuan Copernicus (1473-1543) yang kemudian diperkuat oleh Galileo Galilei (1564-1642) tentang struktur alam semesta yang heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) berhadapan dengan gereja yang geosentris (bumi sebagai pusat tata surya), telah melahirkan ketegangan antara ilmu dan agama Sangat mengejutkan ketika Max Muller memberikan kuliah umum thn 1870 mempromosikan apa yang ia sebut ilmu agama (science of religion). Satu kombinasi yang pada saat itu dianggap aneh karena pasca Origin of Species-nya Darwin, kebenaran ilmu dan agama semakin tidak dapat dipertemukan. Yang satu meyakini bahwa alam semesta terjadi karena diciptakan langsung oleh Tuhan (kreasionisme) dan yang lain menganggap alam semesta terjadi semata mata merupakan proses alamiah yang sangat panjang. . Di Indonesia, dikotomi ilmu dan agama ini dapat dilihat pada dua corak pendidikan, penddikan ala IAIN yang menekankan pada pendidikan agama dan ala perguruan tinggi umum yang lebih mengembangkan keilmuan sekuler, idealitas hubungan keduanya digambarkan oleh Damardjati Supadjar dengan istilah keterpaduan masjid dan kampus. Dewasa ini, persoalan hubungan ilmu dan agama lebih mengemuka dalam ranah etis. Teknologi sebagai anak kandung ilmu dianggap telah menghasilkan dampak negatif bagi kelestarian alam semesta, baik berupa pencemaran lingkungan, bencana alam maupun pada kerusakan moralitas manusia. Belum lagi ketika bidang kedokteran menemukan teknologi cloning dan berbagai rekayasa genetika yang hendak diterapkan pada manusia. Tulisan ini berusaha menjawab hubungan ilmu dan agama melalui pendekatan filosofis, karena menurut pendapat penulis, filsafatlah yang secara netral dan proporsional dapat menjembatani sekaligus mempertemukan dua domain ini. Tulisan ini akan memjawab dua pertanyaan pokok: 1) bagaimana konsep hubungan ilmu dan agama ini dibicarakan secara akademik, dan 2) bagaimana hakikat integrasi ilmu dan agama baik dalam ranah ontologis, epistemologis, dan aksilogis. Dalam mengeksplorasi hubungan ilmu dan agama ini, penulis menggunakan pandangan-pandangan seorang pemikir Islam kelahiran Persia, yaitu Mulla Shadra (1572-1641), sebagai suatu perspektif. Hussein Nasr menilai bahwa Mulla Shadra secara cemerlang telah menghidupkan kembali filsafat Islam setelah dianggap mati. Refleksi awal tentang pemikiran Mulla Shadra dapat dikemukakan bahwa ia menempatkan ilmu dan agama tidak dalam posisi konflik, keduanya mempunyai tolak ukur kebenaran sendiri tetapi kebenaran yang diperoleh tidaklah saling bertentangan. Kebenaran ilmu dan agama dianalogikan sebagaimana sinar yang satu yang menyinari suatu ruangan yang memiliki jendela dengan beragam warna. Setiap jendela akan memancarkan warna yang bermacam-macam sesuai dengan warna kacanya. Demikianlah ia menggambarkan bahwa kebenaran berasal dari Yang Satu, dan tampak muncul beragam kebenaran tergantung sejauh mana manusia mampu menangkap kebenaran itu. Kebenaran yang ditangkap ilmuwan hanyalah sebagian yang mampu ditangkap dari kebenaran Tuhan, demikian pula kebenaran yang ditangkap oleh agamawan. Dengan demikian, kebenaran yang ditangkap ilmuwan dan agamawan bersifat komplementer, saling melengkapi. Mulla Shadra adalah tokoh yang hidup sezaman dengan Galileo Galilei. Artinya ketika di Barat sedang terjadi kebuntuan pemahaman tentang ilmu dan agama, Mulla Shadra telah mempunyai konsep yang cemerlang untuk menjawab kebuntuan itu. Pemikiran Mulla Shadra, sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, secara cerdas dan jernih menempatkan kedudukan ilmu dan agama pada posisi yang harmonis. Agama bukan penghambat perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam. Hubungan Ilmu Dan Agama Pengertian ilmu Ilmu merupakan istilah yang memiliki beragam makna. Menurut The Liang Gie ilmu dapat dibedakan menurut cakupannya. Pertama, ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Adapun dalam arti yang kedua ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari satu pokok soal tertentu misalnya antropologi, geografi, sosiologi

2
Pengertian Agama Dalam Musyawarah Antar Agama di Jakarta, 30 November 1967, terkait dengan agama, H.M. Rasjidi mengatakan bahwa agama adalah hal yang disebut sebagai problem of ultimate concern, oleh karenanya tidak mudah untuk didefinisikan . Agama secara etimologis berasal dari bahasa Arab aqoma yang berarti menegakkan.Sementara kebanyakan ahli mengatakan bahwa kata agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu a (tidak) dan gama (berantakan), sehingga agama berarti tidak berantakan. Namun ada pula yang mengartikan a adalah cara dan gama berarti jalan. Agama berarti cara-cara berjalan untuk sampai kepada keridhaan Tuhan. Dalam Filsafat Perennial, agama memiliki dimensi eksoterik (bentuk) dan esoterik (substansi). Secara eksoterik di dunia ini dikenal banyak agama, namun diantara keragaman agama tersebut setiap agama memiliki substansi yang menjadi titik temu bagi keragaman tersebut. Agama yang dimaksud dalam tulisan ini secara eksoterik adalah Islam, namun secara esoterik tentu Islam memiliki nilai-nilai universal yang juga ada setiap agama. Ragam Hubungan Antara Ilmu dan Agama Dalam wacana pemikiran Islam banyak kalangan memandang tidak ada persoalan antara ilmu dan agama. Pengakuan adanya kebenaran ayat kauniyah (ayat yang ada dalam alam semesta) dan ayat qauliyah (ayat-ayat dalam kitab suci) telah dipandang cukup untuk menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara ilmu dan agama dalam Islam, karena secara ontologis kedua ayat tersebut berasal dari Yang Satu. Ilmu dan agama meskipun dianggap tidak ada persoalan, namun sejarah mencatat keduanya mengalami pendikotomian, terutama ketika Al-Ghazali memisahkan antara ilmu agama sebagai ilmu wajib dan ilmu-ilmu umum sebagai ilmu sunnah. Di Indonesia, selama bertahun-tahun dikotomi tersebut terlihat pada pemilahan bidang kajian, yaitu kajian keagamaan yang dikembangkan di perguruan tinggi agama seperti IAIN (Institut Agama Islam Negeri) atau STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), adapun keilmuan umum di kembangkan di Perguruan Tinggi Umum. Ian Barbour berusaha memetakan hubungan ilmu dan agama dalam empat tipologi yaitu konflik, independensi, dialog dan integrasi. John F Haught juga melakukan hal yang sama dengan menggunakan istilah yang berbeda yaitu konflik, kontras, kontak dan konfirmasi. 1. Konflik Hubungan ini ditandai dengan adanya dua pandangan yang saling berlawanan antara ilmu dan agama dalam melihat satu persoalan. Keduanya sama-sama memiliki argumentasi yang tidak hanya berbeda tapi saling bertentangan bahkan menafikan satu dengan yang lain. Ian Barbour, seorang fisikawan sekaligus teolog, mencatat bahwa momentum kuat munculnya konflik antara ilmu dan agama terjadi pada masa abad pertengahan, manakala otoritas gereja menjatuhkan hukuman kepada Galileo Galilei pada tahun 1633 Independensi. Pandangan idependensi menempatkan ilmu dan agama tidak dalam posisi konflik. Kebenaran ilmu dan agama sama-sama absah selama berada pada batas ruang lingkup penyelidikan masing-masing. Ilmu dan agama tidak perlu saling mencampuri satu dengan yang lain karena memiliki cara pemahaman akan realitas yang benar-benar terlepas satu sama lain, sehingga tidak ada artinya mempertentangkan keduanya. Menurut pandangan ini upaya peleburan merupakan upaya yang tidak memuaskan untuk menghindari konflik. Kalangan Kristen Konservatif berusaha meleburkan ilmu dan agama dengan mengatakan bahwa Kitab Suci memberikan informasi ilmiah yang paling dapat di percaya tentang awal mula alam semesta dan kehidupan yang kehidupan yang tidak mengandung kesalahan. Mereka menolak teori evolusi Darwin, dan membangun konsep baru tentang penciptaan yang dinamakan ilmu penciptaan (creation science) berdasarkan atas penafsiran harfiah terhadap kisah-kisah Biblikal. Karl Barth berpandangan bahwa ilmu dan agama memiliki metode dan pokok persoalan yang berbeda. Ilmu di bangun berdasarkan pengamatan dan penalaran manusia, sedangkan teologi berdasarkan wahyu Tuhan. Oleh karenanya ilmu dan agama harus berjalan sendiri-sendiri tanpa ada campur tangan satu dengan yang lain. Barbour menambahkan bahwa selain metode dan pokok persoalan, bahasa dan fungsinya juga berbeda. Bahasa ilmiah berfungsi menjawab bagaimana, yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan mencari jalan keluar atas fenomena riil kemanusiaan, sedangkan bahasa agama berfungsi untuk menjawab mengapa. Demikian halnya dengan ilmu dan agama, tidak ada yang dapat diperbandingkan satu dengan yang lain dan keduanya tidak dapat ditempatkan pada posisi bersaing atau konflik . Ilmu dan agama mempunyai bahasa sendiri karena menjalani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia, agama berurusan dengan fakta objektif, agama rentan dengan perubahan karena sifatnya yang deduktif, sedangkan ilmu setiap saat bisa berubah karena sifatnya yang lebih induktif. Ilmu dan agama adalah 2.

3
dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan jarak aman satu sa ma lain. Ilmu dan agama berada pada posisi sejajar dan tidak saling mengintervensi satu dengan yang lain. 3.Dialog.Pendekatan dialog memandang bahwa ilmu dan agama tidak dapat disekat dengan kotak-kotak yang sama sekali terpisah, meskipun pendekatan ini menyadari bahwa keduanya berbeda secara logis, linguistik, maupun normative.Pendekatan dialog ini dapat membangun hubungan yang mutualis. Dengan belajar dari ilmu, agama dapat membangun kesadaran kritis dan lebih terbuka sehingga tidak terlalu over sensitive terhadap hal-hal yang baru. Agama dapat membantu memahami batas-batas rasio, yaitu pada wilayah adikodrati atau supranatural ketika ilmu tidak mampu menyentuhnya. Dialog dapat terjadi manakala ilmu dan agama menyentuh persoalan diluar wilayahnya sendiri. 4.Integrasi Ada dua makna dalam tipologi ini. Pertama, bahwa integrasi mengandung makna implisit reintegrasi, yaitu menyatukan kembali ilmu dan agama setelah keduanya terpisah. Kedua, integrasi mengandung makna unity, yaitu bahwa ilmu dan agama merupakan kesatuan primordial. Makna yang pertama populer di Barat karena kenyataan sejarah menunjukan keterpisahan itu. Adapun makna kedua lebih banyak berkembang di dunia Islam karena secara ontologis di yakini bahwa kebenaran ilmu dan agama adalah satu, perbedaannya pada ruang lingkup pembahasan, yang satu pengkajian dimulai dari pembacaan Al-Quran, yang satu dimulai dari pembacaan alam. Kebenaran keduanya saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Beberapa Tipe Integrasi Ilmu dan Agama. Ada beragam konsep tentang integrasi. Dalam konteks Kristen kontemporer Ian Barbour mengajukan konsep yang dikena sebagai integrasi teologis. Konsep ini berusaha mencari implikasi telogis atas berbagai teori ilmiah mutakhir, kemudian satu teologi baru dibangun dengan memperhatikan juga teologi tradisional sebagai salah satu sumbernya. Pandangan konseptual teologi dapat berubah atas nama belajar dari ilmu. Pandangan teology of nature Barbur mendapat kritik dari Huston Smith dan Seyyd Hosein Nasr karena apabila teologi dapat setiap saat bisa berubah karena berinteraksi (belajar dari ilmu), akan menimbulkan kesan bahwa teologi berada di bawah ilmu. Tokoh Kristen yang lain adalah John F. Haugat. Ia menggunakan istilah konfirmasi sebagai bentuk dari integrasi yang dimaksudkan, sebagai upaya mengakarkan ilmu beserta asumsi metafisisnya pada pandanga dasar agama tentang realitas. Apabila agama berisi keyakinan apriori, misalnya tentang Tuhan, surga dan neraka, dalam ilmu pun sebenarnya juga mengandung keyakinan apriori, misalnya alam semesta merupakan totalitas benda-benda yang tertata secara rasional. Integrasi yang ingin di bangun oleh Haugat tidak hendak meleburkan ilmu dan agama, serta tidak hanya bertujuan untuk menghindari konflik, tetapi menempatkan agama sebagai pendukung seluruh upaya kegiatan ilmiah. Integrasi Holistik Ilmu dan Agama prespektif Mulla Shadra. Apakah hubungan ilmu dan agama berada pada posisi konflik, independensi, dialog atau integrasi masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Di tengah kebimbangan untuk memahami pada posisi mana sesungguhnya ilmu dan agama berada, Mulla Shadra mempunyai pandangan filosofis, terutama dalam bidang ontologi an epistemologi yang menunjukan karakter yang kuat pada tipe integrasi meskipun secara eksplisit ia tidak pernah membahas secara langsung hubungan antara imu dan agama. Beberapa prinsip penting yang mendasari integrasi tersebut adalah: 1. Tauhid (Keesaan Allah) Keesaan Allah adalah prinsip yang paling mendasar dalam Islam konsep ini berimplikasi pada kesatuan ciptaan yakni keterhubungan bagian-bagian alam, dan selanjutnya berimplikasi pula pada kesatuan pengetahuan. Tapi bukan saja menjadi kerangka keimanan yang menjadi dasar keyakinan umat Islam kepada Allah, namun juga merupakan kerangka pemikiran yang membangun integritas kebenaran. Pandanga tauhid ini didasarkan atas beberapa firman Allah dalam Al-Quran. Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia.(Q.S. 2:163). Apakah ada keragu-raguan tentang Allah, pencipta langit dan bumi (Q.S. 14:10). Pandangan uniter dalam keilmuan diyakini oleh ilmuwan muslim sejak masa lampau. Mereka tidak mengutamakan satu bidang ilmu atas yang lain, namun satu ilmu selalu terkait dengan bidang ilmu yang lain .Keyakinan pada realitas adikodrati dan keterbatasan pengetahuan manusia.Al-Quran menyebutkan pembedaan dua alam yaitu alam tak tampak dan alam tampak. Dengan kemampuan yang dimilikinya manusia dapat mengembangkan penyelidikan pada alam tampak, sedangkan terhadap alam yang tak tampak harus melalui bimbingan wahyu agar tidak mengalami pemahaman yang salah. ..

4
2. Keyakinan pada alam yang memiliki tujuan Dalam pandangan Al-Quran, Allah menciptakan segala sesuatu dalam satu ukuran tertentu dan menetapkan baginya suatu tujuan. Dan tidak Kami ciptakan langit dan bumi, dan apapun yang ada diantara keduanya untuk kesia-siaan. (Q.S. 38: 27). Pandangan Al-Quran tentang tujuan alam berjalan seiring dengn konsep kehidupan akhirat. Perjalanan dunia akan berakhir dan digantikan dengan kehidupan akhirat. Apakah kalian mengira bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S. 23: 115 ). Pemahama Islam ini sekaligus menepis pandangan kaum naturalis bahwa alam terjadi secara kebetulan, yaitu melalui proses alamiah berdasarkan hukum alam yang ada dalam dirinya. Oleh karena kebetulan, tentu alam tidak memiliki tujuan kecuali hanya berjalan sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Komitmen pada nilai-nilai moral Komitmen moral adalah salah satu dari risalah kenabian. Sebagaimana dalam satu hadist dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw, diutus untuk menyempurnakan ahlak manusia. Hal ini juga diperkuat dalam Al-Quran: Dialah yang mengutus seorang dari kalangan orang-orang yang buta huruf untuk membacakan ayat-ayat-Nya dan menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan kebijaksanaan, meski sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. 62: 2). Islam menganjurkan umatnya untuk menjalankan agama secara kaffah (sempurna). Diantara komponen kesempurnaan itu adalah bahwa umat Islam harus mengembangkan ilmu yang tidak hanya untuk ilmu tetapi ilmu yang mempunyai perhatian pada alam dan kemanusiaan, oleh karenanya ilmu harus dilandasi oleh nilai-nilai moral. 4. Integrasi Ontologis Ilmu dan Agama Ontologi adalah salah satu cabang filsafat yang membincang masalah yang ada, baik bersifat fisik maupun non fisik. Ontologi lebih banyak berbicara tentang hakikat yang ada, sehingga seringkali disamakan dengan metafisika, yaitu ilmu yang membicarakan tentang realitas, kualitas, kesempurnaan, yang ada, yang oleh Aristoteles disebut sebagai Filsafat Pertama. .Pandangan ontologi Mulla Shadra dapat diketahui dari filsafatnya tentang wujud.Konsep wujud (mafhum wujud) digambarkan seperti pemahaman atas pernyataan ada seekor kuda atau kuda itu ada. Setiap orang dengan segera akan memahami pernyataan tersebut tanpa melalui refleksi yang mendalam karena terjadi secara natural dan spontan. Sesorang tidak perlu belajar untuk dapat memahami pernyataan tersebut. Akan tetapi tidaklah mudah untuk memahami realitas wujud (hakikat wujud) karena sedemikian jelasnya konsep ini.

3.

Konsep wujud Mulla Shadra terdiri atas tiga prinsip yang mendasar, yaitu: Wahdah Al-Wujud, Taskik AlWujud dan Asalah Al-Wujud. 1. Wahdah al-Wujud (Kesatuan Wujud) Pandangan wahdah Al-wujud ini diadopsi Mulla Shadra dari konsep mistisisme yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Secara umum dalam pembahasan tentang wahdah al-wujud terdapat empat tipologi hubungan antara wujud dan maujud dilihat dalam ketunggalan dan kejamakanya, yaitu 1) Ketunggalan wujud dan maujud, 2) Kejamakan wujud dan maujud, 3) Ketunggalan wujud dan kejamakan maujud, 4) Kejamakan wujud dan ketunggalan maujud. Diantara keempat tipologi ini Mulla Shadra dapat dikategorikan berada pada tipe pertama dan ketiga.Mulla Shadra melihat bahwa realitas wujud meskipun satu, ia memiliki intensitas yang membentang dari Wujud Wajib (wajid al-wujud) yang sifat wujudnya adalah niscaya (necessary), ke maujud lain yang bersifat mungkin (mumkin al-wujud). Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun pada waktu yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. Tasykik al-Wujud (Gradasi Wujud) Tasykik mengandung arti menjadi lebih atau kurang. Dari pengertian ini, keadaan berbagai hal yang mengandung ciri-ciri lebih dulu atau lebih kemudian, lebih sempurna atau tidak lebih sempurna, lebih kuat atau lebih lemah. Prinsip ini menyatakan bahwa meskipun wujud merupakan suatu realitas tunggal yang pada dasarnya adalah sama dan serupa pada seluruh yang ada, karena seluruh yang ada adalah penampakanpenampakan diri dari realitas tunggal terebut, namun ia juga menjadi prinsip pembeda. Mulla Shadra mengakui prinsip ketunggalan wujud, namun dalam wujud yang tunggal tersebut sesungguhnya memiliki gradasi atau tingkatan. . Mulla Shadra juga mengembangkan prinsip iluminasi dari Syuhrawardi tetapi memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Salah satu sumbangsih Mulla Shadra yang sangat berharga dalam bidang ontologi adalah konsepnya

2.

5
tentang gerak substansial (Al-Harakah Al-Jauhariyah). Konsep ini menyatakan bahwa: Satu, tingkat-tingkat wujud tidaklah tetap dan statis tetapi terus bergerak mencapai bentuk-bentuk wujud yang lebih tinggi secara terusmenerus. Kedua, wujud dapat diterapkan pada seluruh tangga evolusi. Ketiga, gerak alam semesta yang tidak dapat dibalik (satu arah) berakhir pada manusia sempurna yang menjadi anggota alam ketuhanan dan bersatu dengan sifat-sifatnya. Keempat, masing-masing tangga wujud yang lebih tinggi meliputi dan melampaui semua tangga yang lebih rendah. Dengan kata lain, realitas sederhana adalah segala sesuatu, yakni semakin tinggi realitas, semakin sederhana dan semakin meliputi. Kelima, semakin tinggi tingkat wujudnya semakin sedikit esensinya. 3. Asalah al-Wujud (Kehakikian Wujud) Mulla Shadra berpandangan bahwa setiap wujud kontingen/mungkin (mumkin al-wujud) terdiri atas dua pola perwujudan, yaitu eksistensi (wujud) dan kuiditas (mahiyah). Diantara dua pola ini yang benar-benar riil adalah wujud, sedangkan mahiyah tidak lebih daripada penampakan (itibar) belaka. Pandangan Shadra ini bertolak belakang dengan pandangan gurunya, Mir Damad, demikian juga Syuhrawardi yang memahami mahiyah sebagai realitas yang mendasar (asalah al-mahiyah). Salah satu contoh digambarkan oleh Syaifan Nur terkait dengan masalah wujud dan mahiyah ini, yaitu saat melihat manusia (sebagai wujud kongkritnya), maka ada dua pernyataan yang muncul, yaitu pertama, dia adalah seorang manusia. Kedua, ia Ada. Pernyataan pertama adalah mahiyah, menunjukkan perbedaannya dengan sesuatu yang ada lainnya. Pernyataan kedua adalah wujud, yang menunjukkan sesuatu yang aktual, nyata dan sama dengan seluruh ada yang lain Bagaimana menjawab pertanyaan tentang mengapa terjadi konflik antara ilmu dan agama. Pertanyaan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pemahaman struktur ontologis realitas Mulla Shadra tersebut, bahwa antara ilmuwan dan agamawan memiliki cara pandang ontologis yang berbeda. Pandangan ontologis demikian diharapkan dapat menumbuhkan sikap etis bagi ilmuwan maupun agamawan untuk rendah hati dalam menyikapi kebenaran, yaitu bahwa kebenaran yang saya pahami hanyalah satu potong puzzle dari gambar keseluruhan alam semesta. Penjelasan ini menegaskan bahwa wujud ilmu dan agama dalam dirinya sendiri tidak mengalami konflik jika ada konflik sesungguhnya bukan konflik antara ilmu dan agama, tetapi konflik pemahaman ilmuwan dan agamawan. Dapat ditegaskan disini bahwa status ontologis antara ilmu dan agama adalah integratif-interdependentif, yaitu tidak ada agama tanpa ilmu dan tidak ada ilmu tanpa agama. Integrasi Epistemologis Ilmu dan Agama Setiap pandangan epistemologi pasti disadari oleh suatu pemahaman ontologi tertentu. Seseorang yang meyakini bahwa hakikat segala sesuatu adalah materi, maka bangunan epistemologinya pun akan bercorak materialisme. Pemahaman ini akan mengarahkan setiap penyelidikannya pada apa yang dianggapnya sebagai kenyataan hakiki, yaitu materi. Pemahaman ini dapat dilihat misalnya pada empirisme, rasionalisme dan positivisme Demikian pula bagi seseorang yang secara ontologis meyakini bahwa kenyataan hakiki adalah yang non-materi, mereka juga akan mengarahkan penyelidikannya pada yang non materi. Pandangan epistemologi Mulla Shadra melampaui pandangan Empirisme, Rasionalisme maupun Kritisisme yang lahir dan berkembang di Barat. Mulla Shadra juga melampaui para pemikir Islam lainnya karena keberhasilannya memadukan empat aliran besar pemikiran Islam, yaitu filsafat peripatetik (masysyai) Islam dari Ibnu Sina, Iluminasionis (teosofi Isyraqi) dari Syuhrawardi, ajaran tasawuf dari Ibnu Arab, dan teologi Islam (kalam). Agar lebih utuh memahami epistemologi Mulla Shadra maka perlu dijelaskan tiga hal pokok yang menjadi kerangka bagi bangunan epistemologinya yaitu: 1) Ilmu Hudhuri, 2) Konsep tentang persepsi, dan 3) kesatuan antar yang mengetahui dan yang diketahui. 1. Ilmu Hudhuri Mulla Shadra sebagaimana para pemikir Islam yang lain membagi pengetahuan menjadi dua. Pertama, pengetahuan berdasarkan korespondensi atau representasi, disebut juga pengetahuan capaian (al-ilm al Hushuli); dan kedua, pengetahuan presenial (al-ilm al-hudhuri). Epistemilogi Barat modern hanya mengenal pengetahuan Hushuli, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui kerja indra dan akal, sebagai kerja yang murni dilakukan manusia. Mereka tidak mengakui pengetahuan presensial (hudhuri) sebagai pengetahuan yang secara intuitif didapatkan langsung dari pemilik kebenaran. Pemahaman Shadra tentang Ilmu Hudhuri ini didasarkan atas ayat Quran yaitu: Dan dia mengajarkan kepada adam nama-nama seluruhnya. (Q.S.2:31)Bagi Shadra pengetahuan adalah wujud, yakni status wujud dan status pengetahuan adalah sama.

6
2. Persepsi Dalam terminologi Barat istilah persepsi hanya merujuk pada fisik saja, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui indra. Akan tetapi bagi Shadra, sensasi bukan hanya meliputi fisik namun juga nonfisik. Persepsi adalah sebutan bagi perbuatan yang dilakukan oleh jiwa untuk mengetahui apapun objek yang diketahuinya, baik fisik maupun nonfisik. Ia membagi persepsi meliputi empat tingkat, yaitu persepsi indra (al-hiss), imajinal (al-khayal), intuisi indra (wahm), inteleksi (taaqqul). Namun karena persepsi imajinal dan intuisi indra merupakan perantara antara persepsi indra dan inteleksi, Shadra meringkasnya menjadi tiga yaitu persepsi indra, imajinal dan inteleksi. 3. Kesatuan yang mengetahui dan yang diketahui Mulla Shadra menyatakan bahwa yang ditangkap oleh indra bukanlah sifat benda materialnya, namun kualitas khusus yang bersifat kejiwaan dalam benda tersebut. Indra sesungguhnya adalah kekuatan jiwa, dengan demikian antara yang mempersepsi dan yang dipersepsi berada dalam satu modus keberadaan. Konsep inilah yang dikenal sebagai kesatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui. Tuhan adalah cahaya ilmu sehingga jika menginginkan curahan ilmu manusia harus mendekat pada sumber cahaya tersebut. Konsep inilah yang menjadi dasar epistemologis bahwa ilmu tidak dapat lepas dari agama, karena untuk mendapatkan ilmu sesorang harus meningkatkan kualitas kedekatannya kepada Tuhan. Pandangan ontologis yang integratif-interdependentif antara ilmu dan agama secara epistemologis akan menghasilkan konsep hubungan ilmu dan agama yang integratif-komplementer. Dalam pandangan Shadra, sumber ilmu tidak hanya rasio dan indra, namun juga intuisi dan wahyu. Keempat sumber ilmu tersebut saling melengkapi satu sama lain. Integrasi Aksiologis Ilmu dan Agama Aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas masalah nilai sehingga aksiologi diartikan sebagai filsafat nilai. Beberapa persoalan yang dibahas antara lain adalah: apa sesungguhnya nilai itu, apakah nilai bersifat objektif atau subjektif, apakah fakta mendahului nilai atau nilai mendahului fakta. Nilai secara sederhana dapat diartikan sebagai kualitas. Kualitas ini dapat melekat pada sesuatu (pengemban nilai) . Artinya nilai-nilai (kebenaran, kebaikan, keindahan dan keilahian) secara simultan terkait satu sama lain dijadikan pertimbangan untuk menentukan kualitas nilai. Berbicara tentang ilmu tidak hanya berbicara masalah nilai kebenaran (logis) saja, namnun juga nilai-nilai yang lain. Dengan kata lain, yang benar harus juga yang baik, yang indah dan yang ilahiah. Pandangan bahwa ilmu harus bebas nilai disatu sisi telah mengakselerasi secara cepat perkembangan ilmu namun disisi yang lain telah menghasilkan dampak negatif yang sangat besar. Berbagai problem keilmuan terutama aplikasinya dalam bentuk teknologi telah menghasilkan beragam krisis kemanusiaan dan lingkungan, oleh karena diabaikannya berbagai nilai diluar nilai kebenaran. Ilmu dan agama bukan sesuatu yang terpisah dan bukan sesuatu yang satu berada diatas yang lain. Pandangan bahwa agama lebih tinggi dari ilmu adalah pengaruh dari konsep tentang dikotomi ilmu dan agama. Ilmu dianggap sebagai ciptaan manusia yang memiliki kebenaran relatif yang oleh karenanya memiliki posisi lebih rendah dibandingkan agama sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki kebenaran absolut. Kesempurnaan ilmu Tuhan dapat dilihat dari ciptaan-Nya di alam ini, yaitu tidak ada satupun ciptaan yang sia-sia, segala sesuatu bermanfaat dan mendukung kelestarin alam ini dan bersifat non-residu... Akan tetapi manusia selalu berusaha memperbaiki kelemahan teorinya dari kesalahan yang mereka perbuat. Kesalahan manusia ketika membaca ilmu Tuhan di alam ini, sesungguhnya merupakan bagian dari proses pencarian kebenaran dan bukan pula karena ada kesalahan ilmu Tuhan tetapi karena ke-belum-mampu-an manusia menemukan kebenaran ilmu Tuhan yang sesungguhnya. Jelaslah kiranya bahwa konsep integrasi ilmu dan agama sesungguhnya berpusat pada Tuhan (tauhid) karena dariNya semua berasal dan kepada-Nya semua kembali, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (segala sesuatu berasal dari Allah dan kepada-Nya semua akan kembali). Integrasi holistik ilmu dan agama hendaknya menjadi dasar bagi perkembangannya seluruh keilmuan yang ada. Hubungan ilmu dan agama masih independen, berjalan sendiri sendiri, hanya berada dalam wadah yang sama. Integrasi ilmu dan agama memerlukan landasan filosofis, yang didalamnya terdiri atas tiga pilar besar yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi, sehingga agama tidak hanya menjadi landasan etis namun lebih luas menjadi landasan filosofis bagi perkembangan ilmu. Dengan demikian outcome yang dihasilkan dari institusi yang mengintegrasikan ilmu dan agama adalah bukan hanya ilmuwan muslim namun ilmuwan Islam. Ilmuwan muslim yang dimaksud adalah ilmuwan yang beragama Islam, yaitu seseorang yang menguasai ilmu dan kuat imannya, sedangkan ilmuwan Islam

7
adalah, ilmuwan yang tidak hanya kuat imannya, namun yang dapat menjadikan Islam sebagai paradigma bagi perkembangan ilmu. Kesimpulan Artikel ini membahas dua permasalahan pokok yaitu: 1) Bagaimana hubungan ilmu dan agama dalam wacana akademik. 2) Bagaimana hakikat integrasi ilmu dan agama dalam perspektif pemikiran Mulla Shadra baik dalam ranah ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. Kesimpuan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: 1. Dalam wacana akademik secara umum, hubungan ilmu dan agama dapat dibedakan dalam empat tipologi yaitu konflik, independensi, dialog dan integrasi. Dalam tipologi koflik digambarkan bahwa ilmu dan agama sebagai dua entitas yang tidak dapat dipertemukan bahkan saling berlawanan. Kebenaran ilmu menegasikan kebenaran agama, demikian pula sebaliknya. Dalam tipologi independensi, digambarkan bahwa ilmu dan agama meskipun tidak dapat dipertemukan namun keduanya tidak saling berlawanan. Tipologi ini dipandang sebagai tipilogi yang cukup aman, karena masing-masing menghormati otoritas kebenaran masing-masing sehingga tidak terjadi konflik. Namun bagi ilmuwan yang religius tipe ini membingungkan dan menimbulkan keputusasaan, karena pada saat yang sama dia harus menerima dua kebenaran yang berbeda / berlawanan, yaitu kebenaran ilmiah yang dipahami oleh akal dan kebenaran agama yang dipahami oleh iman. Dalam tipologi dialog digambarkan bahwa ilmu dan agama memiliki bahasa metode dan ukuran kebenaran yang masing-masing berbeda. Meskipun keduanya berbeda, namun tidak saling berlawanan bahkan saling mengisi dan menjelaskan satu sama lain. Adapun dalam tipologi integrasi dijelaskan bahwa ilmu dan agama merupakan dua hal yang pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling mendukung keberadaan satu sama lain. Menurut penulis, tipologi integrasi merupakan tipologi hubungan ilmu dan agama yang paling ideal. 2. Tipologi integrasi juga memiliki beberapa model. Yaitu; pertama, integrasi teologis yang dikemukakan oleh Ian Barbour. Model ini menempatkan perkembangan pemahaman teologi sejalan dengan perkembangan ilmu. Perkembangan teologi sebagaimana ilmu dapat direkonstruksi secara terus-menerus, bahkan atas nama belajar dari ilmu, dengan tetap memperhatikan ajaran dasarnya, pemahaman teologi dapat berubah. Kedua, agama sebagai konfirmasi ilmu yang dikemukan oleh John F Haught. Model ini memposisikan agama sebagai konfirmasi terhadap perkembangan ilmu, tentu ilmu yang tidak merusak. Bentuk dari integrasi yang dimaksudkan sebagi upaya mengakarkan ilmu beserta asumsi metafisisnya pada pandangan dasar agama tentang realitas. Ketiga, integrasi pengetahuan yang dikemukan oleh Oliver L. Reiser. Integrasi yang hendak dibangun dalam humanisme kosmis ini berpijak pada konsep dasar manusia sebagai masyarakat global penghuni planet bumi. Dengan kesadaran kosmis yang dimiliki manusia akan mampu mentransendensikan keragaman ilmu maupun agama. Keempat, Islamisasi ilmu yang dikemukan oleh Naquib al-Attas dan Islamil Razi al-Faruqi. Islamisasi ilmu dimaksudkan sebagai upaya dewesternisasi ilmu yang telah menyusup dalam seluruh aspek keilmuan. Ilmu harus dibersihkan dari noda sekularisme, dengan meletakkan kembali otoritas wahyu dan intuisi. Kelima, pengilmuwan Islam yang dikemukan oleh Kuntowijoyo. Model ini membalik konsep Islamisasi ilmu yang merupakan gerakan dari konteks ke teks menjadi tiga bagian. a. Secara ontologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-interdependentif, artinya eksistensi (keberadaan) ilmu dan agama saling bergantung satu sama lain. Tidak ada ilmu tanpa agama dan tidak ada agama tanpa ilmu. Ilmu dan agama secara primordial berasal dari dan merupakan bagian dari Tuhan, oleh karena Al-Ilm adalah salah satu dari nama Tuhan, sehingga wujud (eksistensi) ilmu dan agama adalah identik dan menyatu dalam wujud Tuhan. b. Secara epistemologis, hubungan ilmu dan agama bersifat intagratif-komplementer, artinya seluruh metode yang diterapkan dalam ilmu dan agama saling melengkapi satu sama lain. Dalam pencarian kebenaran ilmu tidak hanya menerima sumber dari kebenaran dari empiris dan rasio saja, namun juga menerima sumber kebenaran dari intuisi dan wahyu. Kebenaran ilmiah juga tidak hanya melalui usaha manusia/capaian (acquired knowlwdge), namun juga melalui pembersihan diri dan pendekatan diri kepada Tuhan sehingga ilmu itu hadir dalam diri manusia (knowledge by presence). Oleh karena ilmu memiliki makna yang spiritual, artinya, pencapaian ketinggian ilmu berkorelasi dengan kedekatannya kepada Tuhan. Ilmu bukan hanya sarana untuk mencapai kebenaran (k kecil) namun juga mencapai Kebenaran (K besar). c. Secara aksiologi, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-kualifikatif, artinya seluruh nilai (kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keilahian) saling mengkualifikasi satu dengan yang lain. Nilai kebenaran, yang sering kali menjadi tolak ukur utama ilmu, merupakan kebenaran yang baik, yang indah dan yang ilahiah sekaligus.

8
Justifikasi ilmu tidak hanya benar-salah (nilai kebenaran) saja, namun juga termasuk didalamnya baik-buruk (nilai kebaikan), indah-jelek (nilai keindahan) dan sacral-profan/halal-haram (nilai keilahian). Ilmu tidak bebas nilai, ilmu tidak hanya untuk ilmu tetapi ilmu harus disinari oleh-terutama-nilai tertinggi, yaitu nilai keilahian (ketuhanan). Implikasi atas saling mengkualifkasinya keseluruhan nilai dalam ilmu akan mengarahkan perkembangan ilmu menjadi ilmu yang bermoral. Dengan demikian, kesimpulan akhir dari integrasi ilmu dan agama dalam perspektif filsafat Mulla Shadra adalah bahwa integrasi ilmu dan agama adalah integrasi yang interdependentif-komplementer-kualifikatif, yaitu integrasi yang dibangun merupakan kristalisasi dari landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis atas ilmu.

UNISBA

SINOPSIS FILSAFAT ILMU


Integrasi Ilmu dan Agama Perspektif Filsafat Mulla Sandra

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Dosen: Prof. Dr. H. Dey Ravena, SH.MH

Oleh: N a m a : Melati . N PM : 20040013082

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2013

10

SINOPSIS FILSAFAT ILMU


Integrasi Ilmu dan Agama Perspektif Filsafat Mulla Sandra

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Dosen: Prof. Dr. H. Dey Ravena, SH.MH

Oleh: N a m a : Melati . N PM : 20040013082

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG 2013

11

Anda mungkin juga menyukai