Anda di halaman 1dari 19

Tinjauan Pustaka

HEAT STROKE

Oleh: Putu Lidia Noviyanthi (0602005128)

Pembimbing: dr. Ketut Sinardja, Sp.An, KIC

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FK UNUD/RS SANGLAH 2010

BAB 1 PENDAHULUAN Hipertermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh seseorang tinggi disebabkan karena kegagalan termoregulasi dalam tubuh. Hipertermia terjadi ketika tubuh memproduksi atau menyerap lebih banyak panas dan tidak mampu melepaskan panas tersebut. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia adalah kedaruratan medis dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.1 Penyebab paling umum dari hipertermia adalah heat stroke. Heat stoke adalah kondisi yang mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai 400C atau lebih dan disfungsi sistem saraf yang menghasilkan delirium, kejang, atau koma.2,3 Meskipun pengobatan yang adekuat untuk heat stroke adalah menurunkan suhu tubuh secara agresif, heat stoke sering menjadi fatal, dan orang-orang yang dapat bertahan hidup menderita kerusakan neurologis yang permanen. Heat stroke

dapat disebabkan karena kenaikan suhu lingkungan, atau aktivitas yang dapat meningkatkan suhu tubuh.3 Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, di Amerika Serikat dari tahun 1979-2003 8.015 kematian disebabkan paparan panas yang berlebihan, atau rata-rata sekitar 334 kematian per tahun. Kematian pada heat stroke lebih sering terjadi selama musim panas dengan gelombang panas yang berkepanjangan. Sebagai contoh, selama gelombang panas tahun 1980 (tahun rekor panas), 1700 kematian dihubungkan dengan panas, dibandingkan dengan hanya 148 kematian disebabkan panas tahun sebelumnya. Orang tua diatas umur 65 tahun tercatat setidaknya 44% kasus. Insiden tersebut bervariasi dari 17,6 sampai 26,5 kasus per 100.000 populasi. Insiden heat stroke di Arab Saudi bervariasi sesuai dengan musim, dimana terjadi 22 hingga 250 kasus per 100.000 populasi. Angka kematian kasar yang dihubungkan dengan heat stroke di Arab Saudi diperkirakan sebesar 50%.3 Morbiditas dan mortalitas dari heat stroke terkait dengan durasi elevasi suhu. Jika terapi tertunda, tingkat kematian dapat mencapai 80%, namun dengan diagnosa dini dan pendinginan langsung, tingkat kematian dapat dikurangi sampai 10%. Kematian tertinggi di kalangan penduduk usia lanjut, pasien dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya, yang terbatas pada tempat tidur, dan mereka yang terisolasi secara sosial. Angka kematian heat stroke tahunan 3 kali lebih tinggi pada orang kulit hitam daripada kulit putih. Hal ini juga 2 kali lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Bayi, anak-anak, dan orang tua memiliki insiden yang lebih tinggi mengalami heat stroke daripada remaja dan orang dewasa yang sehat.4 Melihat perasalahan tersebut penulis merasa tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang heat stroke sehingga kita sebagai dokter umum nantinya dapat melakukan pencegahan dan pengobatan pada seseorang yang mengalami heat stroke sehingga morbiditas dan mortalitas dapat dicegah.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Terdapat beberapa penyakit yang berhubungan dengan panas. Terdapat beberapa bentuk yaitu heat syncope, heat cramp, heat exhaustion dan heat stroke, yang terakhir merupakan yang paling berat.5 Heat syncope adalah pingsan karena vasodilatasi perifer sekunder dengan suhu lingkungan yang tinggi.5 Heat cramp mengacu pada kram otot yang terjadi selama latihan di cuaca panas, yang berhubungan dengan defisiensi garam dan biasanya tidak berat. Namun, ada kasus yang dilaporkan seorang pemuda dengan pasca-latihan otot mengalami kram yang kemudian memenuhi kriteria laboratorium diagnostik untuk kerentanan terhadap hyperthermia ganas.5 Heat exhaustion terjadi ketika individu mengalami dehidrasi dan lemah. Mual dan muntah pun sering terjadi. Berkeringat berlebihan menyebabkan hilangnya sebagian besar air atau garam. Deplesi garam pada heat exhaustion biasanya terjadi ketika seseorang tidak dapat menyesuaikan diri pada iklim saat latihan dan hanya mengganti kehilangan air saja. Deplesi air pada heat exhaustion biasanya terlihat pada seseorang yang tidak mendapat asupan air yang memadai saat terpapar panas yang ekstrim. Apapun mekanismenya, seseorang bisa jatuh pada keadaan kolaps karena dehidrasi, deplesi garam dan hipovolemia. Heat exhaustion biasanya ditandai dengan keringat berlebihan, kelelahan, haus, kram otot biasanya pada perut,tangan atau kaki.2,5,6 Heat stroke adalah kondisi yang mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai 400C atau lebih dan disfungsi sistem saraf yang menghasilkan delirium, kejang, atau koma.2,3,4,5 Heat stroke terjadi ketika suhu inti tubuh naik terhadap kegagalan sistem thermoregulasi. Suhu inti yang dimaksud adalah suhu rektal lebih dari 40,6C.5 Heat stroke dapat dibagi menjadi exertional heat stroke (EHS) dan nonexertional (klasik) heat stroke (NEHS). Exertional heat stroke, umumnya terjadi pada orang muda, orang yang sehat (misalnya, atlet, pemadam kebakaran, personil

militer) yang terlibat dalam aktivitas fisik yang berat untuk jangka waktu lama dalam lingkungan yang panas. Non-exertional (klasik) heat stroke (NEHS) lebih sering mempengaruhi orang tua, orang-orang yang memiliki penyakit kronis, dan orang-orang yang sangat muda. Klasik NEHS terjadi selama gelombang panas lingkungan dan lebih umum pada daerah yang belum mengalami gelombang panas dalam bertahun-tahun. Kedua jenis heat stroke berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi, terutama jika terapi tertunda.3,4,5,6 2.2. Tanda dan gejala Heat exhaustion muncul jika seseorang tidak memperdulikan gejala dari heat cramp yang muncul. Heat exhaustion sering memperlihatkan gejala seperti flu termasuk sakit kepala, pusing, kepala terasa ringan, mual, muntah, malaise, kram otot, dan kulit dingin dan terasa lembab (Tabel 1). Suhu biasanya normal, tetapi dapat meningkat biasanya kurang dari 41C (106F). Tanda dan gejala klinis dehidrasi hampir selalu hadir dalam bentuk takikardia, hipotensi, dan diaphoresis.2,6 Heat stroke harus dipertimbangkan pada setiap orang yang mengalami hipertermia dan perubahan status mental. Titik kunci dalam membedakan heat stroke dari heat exhaustion adalah pada heat stroke terdapat disfungsi sistem saraf pusat tapi tidak dalam heat exhaustion. Gejala klasik yang muncul pada disfungsi sistem saraf pusat adalah kebingungan, delirium, ataksia, kejang, dan koma. Otak kecil paling sensitif terhadap panas, dan ataksia dapat menjadi tanda awal terjadinya kerusakan pada otak kecil.6 Exertional heat stroke (EHS) ditandai dengan hipertermia, diaphoresis, dan perubahan sensorium. Sejumlah gejala (misalnya, kram perut dan otot, mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing, dyspnea, kelemahan) biasanya mendahului heat stroke Sinkop dan hilangnya kesadaran juga harus tetap diobservasi sebelum didiagnosis sebagai EHS. Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena EHS misalnya infeksi virus sebelumnya, dehidrasi, kelelahan, kegemukan, kurang tidur, kebugaran fisik yang buruk, dan kurangnya aklimatisasi. Meskipun kurangnya aklimatisasi merupakan faktor risiko untuk heat stroke, EHS juga dapat terjadi pada orang yang mampu menyesuaikan diri namun melakukan

latihan yang cukup intens. EHS juga dapat terjadi karena meningkatnya aktivitas

motorik karena penggunaan narkoba, seperti kokain dan amfetamin, dan sebagai komplikasi status epileptikus.4 Nonexertional heat stroke (NEHS) ditandai dengan hipertermia, anhidrosis, dan perubahan sensorium. Gejala SSP, mulai dari delusi, perilaku irasional, halusinasi, dan koma. Gejala SSP lainnya termasuk kejang, kelainan saraf kranial, disfungsi cerebellar, dan opisthotonos. Pasien dengan NEHS awalnya mungkin menunjukkan keadaan hiperdinamik peredaran darah, tetapi, pada kasus yang berat, dapat terjadi keadaan yang hipodinamik.4 Heat Exhaustion Gejala Flulike: sakit kepala, mual, sama muntah, kram, pusing Gejala SSP Tidak ada Ada,
koma

Heat Stroke

termasuk
ataksia,

kebingungan, kejang, dan

delirium,

Temperatur Keringat

Khas < 410C, biasanya normal Ada

Khas > 410C Mungkin tidak ada

Tabel 1. Heat exhaustion vs Heat stroke6 Tanda-tanda Vital


o o o

Suhu: Biasanya, suhu tubuh pasien dapat melebihi 41C Pulse: Takikardia umumnya pulse melebihi 130 denyut per menit Tekanan darah: pasien bisa saja memiliki tekanan darah normal, dengan tekanan nadi yang luas, namun, umumnya pada pasien mengalami hipotensi disebabkan sejumlah faktor, termasuk vasodilatasi pembuluh kutaneus, penyatuan darah dalam sistem vena, dan dehidrasi. Hipotensi juga bisa disebabkan oleh kerusakan otot jantung dan kolapsnya sistem kardiovaskular.4

Sistem saraf pusat


o

Gejala disfungsi SSP bisa berkisar dari lekas marah hingga jatuh pada keadaan koma. Koma juga bisa disebabkan oleh kelainan elektrolit, hipoglikemia, ensefalopati hepatik, ensefalopati uremic,

dan kelainan struktural akut, seperti perdarahan intraserebral akibat trauma atau gangguan koagulasi.
o

Pasien dapat mengalami delirium, bingung, delusi, kejang, halusinasi, ataksia, tremor, dysarthria, kelainan saraf kranial dan tonik dan distonik kontraksi otot-otot.

Pasien

juga

mungkin

menunjukkan

decerebrate

posture,

decorticate posture, dan lemas.


o

Edema serebral dan herniasi juga mungkin terjadi selama perjalanan heat stroke.4

Mata
o

Pemeriksaan mata dapat menemukan episode nistagmus dan oculogyric karena cedera cerebellar. Pupil mungkin bisa melebar, tepat, atau normal.4

Jantung o Stres panas menyebabkan beban yang luar biasa pada jantung. Pasien dengan disfungsi miokard tidak dapat panas untuk waktu yang lama.
o

mentolerir stres

Pasien umumnya menunjukkan keadaan hiperdinamik, dengan takikardia, resistensi pembuluh darah sistemik yang rendah, dan indeks jantung tinggi.

Keadaan hipodinamik, dengan resistensi vaskuler sistemik yang tinggi dan indeks jantung rendah, dapat terjadi pada pasien dengan penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya dan volume intravaskuler yang rendah. Keadaan hipodinamik dapat

menyebabkan kolaps kardiovaskular.


o

Tekanan vena sentral pada umumnya berada dalam jangkauan referensi atau ditinggikan.

High-output cardiac failure and low-output cardiac failure dapat terjadi.4

Paru
o

Pasien dengan heat stroke umumnya mengalami takipnea dan hiperventilasi yang sering disebabkan oleh stimulasi SSP langsung, asidosis, atau hipoksia.

Hipoksia dan sianosis mungkin terjadi karena beberapa proses, termasuk atelektasis, infark paru, pneumonia aspirasi, dan edema paru.4

Perdarahan gastrointestinal sering terjadi pada pasien dengan heat stroke.4 Hepar
o

Pasien umumnya menunjukkan injury hepar, termasuk penyakit kuning dan enzim hati yang tinggi.

Jarang, terjadi kegagalan hepatik fulminan, disertai dengan ensefalopati, hipoglikemia, dan koagulasi intravascular (DIC) dan pendarahan.4

Muskuloskeletal
o

Umumnya terjadi nyeri otot dan kram; rabdomiolisis adalah komplikasi umum dari EHS. Otot-otot pasien mungkin mengalami rigiditas dan lemas.4

Ginjal
o

Gagal ginjal akut (ARF) adalah komplikasi umum heat stroke dan mungkin karena hipovolemia, curah jantung rendah, dan

myoglobinuria (karena rabdomiolisis).


o

Pasien mungkin menunjukkan oligOuria dan perubahan warna urin.4

2.3 Etiologi 2.3.1

Peningkatan produksi panas

Meningkatnya metabolisme
o o o o o o

Infeksi Sepsis Encephalitis Obat perangsang Thyroid storm Drug withdrawal

Peningkatan aktivitas otot


o o

Latihan Kejang

o o o o o

Tetanus Strychnine poisoning Sympathomimetics Drug withdrawal Thyroid storm

Latihan fisik moderate, kejang, dan menggigil dapat melipatgandakan produksi panas dan menyebabkan peningkatan suhu secara general dan diatasi dengan perlindungan diri dan menyelesaikan dengan penghentian kegiatan tersebut.

Latihan yang keras dan satatu epileptikus dapat meningkatkan produksi panas 10 kali lipat dan, ketika terganggu, merusak mekanisme panas dalam tubuh menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang berbahaya.

Obat stimulan, termasuk kokain dan amfetamin, dapat menghasilkan panas yang berlebihan dengan meningkatkan metabolisme dan kegiatan motorik melalui efek stimulasi dopamin, serotonin, dan norepinephrine.

Perkembangan heat stroke pada orang intoksikasi dengan stimulan adalah multifaktorial dan bisa melibatkan suatu interaksi yang rumit antara dopamin dan serotonin di hipotalamus dan batang otak.

Agen neuroleptik juga dapat meningkatkan suhu tubuh dengan meningkatkan aktivitas otot, tapi, kadang-kadang, agen ini dapat menyebabkan neuroleptic malignant syndrome (NMS). NMS adalah reaksi aneh ditandai dengan hipertermia, perubahan status mental, kekakuan otot, dan ketidakstabilan otonom akibat kontraksi berlebihan dari otot.

Obat-obatan tertentu, seperti inhalasi anestesi volatile dan succinylcholine, dapat menyebabkan hipertermia ganas. Berbeda dengan heat stroke, hipertermia ganas diyakini disebabkan oleh penurunan kemampuan retikulum sarcoplasmic untuk mempertahankan kalsium, yang mengakibatkan kontraksi otot yang berkepanjangan.4

2.3.2 Penurunan pelepasan panas

Menurunnya keringat
o o

Dermatologic diseases Obat-obatan

Luka bakar

Berkurangnya respon SSP


o o o o o

Usia lanjut Balita dan bayi Alkohol Barbiturat Obat penenang lainnya

Berkurangnya cadangan kardiovaskular


o o o o o

Orang tua Beta-blockers Calcium channel blockers Diuretik Obat kardiovaskular Terganggunya respon kardiovaskular terhadap panas, dapat mengganggu pelepasan panas.

Obat-obatan
o o o

Antikolinergik Neuroleptik Antihistamin

Faktor eksogen
o o

Suhu ambien yang tinggi Kelembaban ambien tinggi4

2.3.3 Berkurangnya kemampuan untuk aklimasi


Anak-anak dan balita Orang tua Penggunaan diuretik Hipokalemia4

2.3.4 Penurunan tingkah laku yang tanggap Bayi, pasien yang terbaring di tempat tidur, dan pasien yang sakit kronis beresiko heat stroke karena mereka tidak dapat mengendalikan lingkungan mereka dan asupan air.4

10

2.4 Pathogenesis Untuk memahami pathogenesis dari heat stroke, respon sistemik dan selular untuk heat stress harus dipahami. Respon ini meliputi termoregulasi (dengan aklimasi), respon fase akut, dan respon yang melibatkan produksi heat shock protein. Kegagalan termoregulasi, respon fase akut yang berlebihan dan perubahan respon heat shock protein memiliki kontribusi perubahan heat stress menjadi heat stroke.3 2.4.1 Kegagalan termoregulasi Panas tubuh diperoleh dari lingkungan dan diproduksi oleh metabolisme tubuh. Kelebihan panas dalam tubuh akan dikeluarkan untuk mempertahankan suhu tubuh 370C, proses tersebut disebut dengan termoregulasi. Kenaikan suhu darah kurang dari 1C akan mengaktifkan reseptor panas di perifer dan hipotalamus memberikan sinyal pada pusat hipotalamus,termoregulasi dan respon eferen dari pusat ini meningkatkan pengiriman darah panas ke permukaan tubuh. Aktifnya vasodilatasi kutan simpatik kemudian meningkat aliran darah dalam kulit hingga 8 liter per menit. Dengan peningkatan suhu dalam darah akan menginisiasikan keluarnya keringat. Keringat akan menguap dan menyebabkan permukaan tubuh menjadi dingin. Terbentuknya Gradien termal oleh evaporasi keringat sangat penting untuk transfer panas dari tubuh ke lingkungan. Peningkatan suhu juga menyebabkan takikardia, meningkatkan cardiac output, dan meningkatkan ventilasi menit. Kegagalan dalam meningkatkan cardiac output (karena kehilangan garam dan air, Penyakit cardiovaskular, obat dan lain sebagainya) meyebabkan terganggunya toleransi tubuh terhadap panas sehingga pelepasan panas terganggu dan jatuh pada keadaan heat stroke.3 2.4.2 Kegagalan aklimasi Kegagalan proses penyesuaian diri secara fisik dan psikis terhadap lingkungan menyebabkan terganggunya pelepasan panas sehingga menyebabkan terjadinya heat stroke. Penurunan kemampuan aklimasi biasanya terjadi pada anak-anak, dewasa muda, orang tua, konsumsi diuretik dan hipokalemia.3

11

2.4.3 Respon fase akut yang berlebihan Respon fase akut untuk heat stress adalah reaksi kordinasi yang melibatkan sel-sel endotel, leukosit, dan sel epitel yang melindungi terhadap cedera jaringan dan untuk perbaikan jaringan. Latihan yang berat dapat menginduksi mediator inflamasi lokal dan sistemik. Ketidakseimbangan mediator inflamasi dan anti inflamasi dapat menyebabkan kerusakan sel.3 2.4.4 Perubahan respon heat shock protein Hampir semua sel memberikan respon terhadap pemanasan mendadak dengan memproduksi heat-shock protein atau stress protein. Ekspresi heat-shock protein dikontrol pada tingkat transkripsi gen.3 Penghambatan sintesis heat-shock protein baik pada tingkat gentranskripsi atau dikirimkan melalui antibodi spesifik yang menyebabkan sel menjadi sangat sensitif terhadap stress panas walaupun dengan kadar yang kecil.3 2.5 Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis heat stroke yang pertama dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti darah lengkap, test fungsi ginjal, elektrolit, profil koagulasi.serum creatinin kinase dan ECG. 2.6 Diagnosis banding Diagnosis banding dari heat stroke dimana terjadi kenaikan suhu tubuh dan perubahan status neurologi seperti heat exhaustion, anticholinergic poisoning, pheochromocytoma, neuroleptic malignant syndrome, tiroid storm, infeksi (meningoensefalitis) dan kerusakan sistem saraf pusat.4 2.7 Komplikasi Komplikasi paling serius dari heat stroke adalah kegagalan multi organ yang meliputi ensefalopati, rabdomiolisis, gagal ginjal akut, gagal nafas akut, kerusakan miokard, kerusakan sel hepar, iskemia usus, kerusakan pankreas, dan perdarahan, (disseminated intravascular coagulation atau DIC) dengan

thrombositopenia. 2.8 Penatalaksanaan Prinsip dari penatalaksanaan heat stroke adalah melakukan pendinginan tubuh dengan cara mempercepat transfer panas dari kulit ke lingkungan tanpa menekan aliran darah ke kulit. Hal ini di lakukan dengan cara memperbesar

12

temperatur gradien antara kulit dan lingkungan (konduksi) atau dengan memperbesar gradien tekanan penguapan air antara kulit dan lingkungan (evaporasi) dan juga meningkatkan laju aliran udara ke kulit (konveksi).3 Penatalaksanaan pasien dengan heat stroke dapat di bagi menjadi : 2.8.1 Penatalaksanaan di luar rumah sakit

Korban harus di pindahkan ke tempat yang lebih sejuk dan seluruh pakaiannya di tangagalkan. Penurunan suhu tubuh harus di lakukan dengan menggunakan apapun yang tersedia (misalnya pasien dapat di percikan air dan tingkatkan penguapan dengan membuka jendela dan pintu atau dengan menggunakan kipas angin). Lakukan juga resusitasi (ABC), bila memungkinkan, oksigen harus diberikan dan pemasangan infus intravena menggunakan cairan kristaloid juga dilakukan. Apabila tersedia kantong es, letakkan pada leher ,ketiak dan selangkangan.Pemijatan pada kulit juga dilakukan untuk mencegah terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah kulit akibat pendinginan yang agresif. Bawa segera ke rumah sakit karena ini merupakan keadaan darurat.3,5 2.8.2 Penatalaksanaan di rumah sakit Pendinginan terhadap pasien harus dilakukan secara agresif ketika diagnosis sudah ditegakan. Monitor suhu pada kulit dan rectal, central venous pressure, dan elektrolit. Terdapat beberapa metode pendinginan untuk menurunkan suhu tubuh pasien. Metode yang paling efektif dalam menurunkan suhu tubuh pasien secara tepat adalah kombinasi antara pengeluaran panas secara evaporasi dan konveksi yaitu dengan menggunakan body cooling units atau metode sederhana serupa dengan menjaga kulit pasien tetap lembab dengan memercikan air hangat ke tubuh pasien dan membuat tubuh pasien terpapar aliran udarayang baik (bisa digunakan kipas angin) Apabila metode tersebut gagal untuk menurunkan suhu inti tubuh dibawah 400C dalam 30 menit, maka harus dilakukan metode yang lain, yaitu iced-peritoneal lavage ( memasukkan 2 L larutan saline 0,9 % yang didinginkan ke dalam rongga peritoneal dan kemudian dikeluarkan setelah 30 menit).3,5

13

1.

ABC. Periksa jalan napas dan pernapasan. Pemeriksaan permasalahan jalan napas dan pernapasan sebagai hal yang mendesak. Carilah bukti shock / hypovolaemia dan resusitasi dengan kristaloid / koloid atau keduanya. Menilai tingkat kesadaran

2. 3. 4. 5.

Periksa suhu rektal dan lakukan metode pendinginan yang tersedia Lakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan diagnosis alternatif Lakukan tes laboratorium (Tabel 4) Waspada terhadap komplikasi (komplikasi metabolik dan bukti kegagalan organ) Tabel 2. Ringkasan initial management heat stroke5

Pemantauan terus menerus suhu inti tubuh (dubur atau timpani) Nadi, tekanan darah dan respirasi Urin output (memasukkan kateter jika perlu) saturasi oksigen arteri oleh pulsa oksimetri Dua belas lead elektrokardiogram dan pantau secara berkelanjutan Glasgow Coma Scale Tabel 3. Monitoring minimal untuk kasus heat stroke yang berat5

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Full blood count and blood film Serum elektrolit, urea, kreatinin dan glukosa darah Serum kalsium dan fosfat Serum osmolaritas Tes fungsi hati, termasuk enzim Enzim otot, terutama creatine kinase Gas darah arteri Clotting screen urin untuk protein, gips, mioglobin dan osmolaritas Tabel 4. Pemeriksaan lab untuk heat stroke5

14

Saat ini belum ditemukan agen farmakologis yang dianggap mampu mempercepat penurunan panas pada pasien dengan heat stroke. Meskipun penggunaan natrium dantrolene telah dipertimbangkan, namun agen ini tidak efektif untuk menurunkan panas pada heat stroke. Peran agen antipiretik pada heat stroke belum dapat dievaluasi, meskipun ditemuan keterlibatan sitokin pirogen dalam mekanisme heat stress. Pemberian aspirin kontraindikasi pada pasien heat stroke karena mempengaruhi platelet dan mekanisme pembekuan darah.3 2.9 Pencegahan Untuk mencegah kedua jenis heat stroke, seseorang harus dapat menyesuaikan diri sendiri terhadap cuaca panas, dianjurkan juga untuk memilih waktu beraktivitas diluar ruangan pada cuaca yang tidak terlalu panas, mengurangi tingkat aktivitas fisik, meminum banyak air selama melakukan aktivitas yang banyak mengeluarkan keringat, mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan menghabiskan lebih banyak waktu di tempat yang memiliki fasilitas penyejuk ruangan. Anak-anak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan dalam cuaca panas, terutama di dalam mobil.3 2.10 Prognosis Morbiditas dan mortalitas dari heat stroke terkait dengan durasi elevasi suhu. Jika terapi tertunda, tingkat kematian dapat mencapai 80%, namun dengan diagnosa dini dan pendinginan langsung, tingkat kematian dapat dikurangi sampai 10%. Selain faktor cooling time terdapat beberapa faktor lain yang berperan dalam prognosis pasien dengan heat stroke: umur, derajat keparahan, defisit neurologi, konsentrasi enzim liver dan otot, dan adanya asidosis laktat. Terdapat beberapa indikator prognosis buruk selama episode akut yaitu

Awal pengukuran temperatur lebih tinggi dari 41 C atau suhu yang lebih tinggi dari 108 C atau suhu yang bertahan di atas 102 F walau tindakan agresif pendingin

Durasi koma lebih dari 2 jam Edema paru yang berat Hipotensi tertunda atau berkepanjangan Asidosis laktat pada pasien dengan klasik heat stroke

15

ARF dan hiperkalemia Tingkat Aminotransferase lebih besar dari 1000 IU / L selama 24 jam pertama.

Sekitar 20% dari korban mengalami kerusakan residu otak, tanpa intervensi. Pada beberapa pasien, insufisiensi ginjal tetap. Suhu mungkin labil selama berminggu-minggu.7

16

BAB 3 RINGKASAN

Heat stroke adalah kondisi yang mengancam jiwa dimana suhu tubuh mencapai 400C atau lebih dan disfungsi sistem saraf yang menghasilkan delirium, kejang, atau koma. Heat stroke terjadi ketika suhu inti tubuh naik terhadap kegagalan sistem thermoregulasi. Suhu inti yang dimaksud adalah suhu rektal lebih dari 40,6C. Heat stroke dapat dibagi menjadi exertional heat stroke (EHS) dan nonexertional (klasik) heat stroke (NEHS). Exertional heat stroke, umumnya terjadi pada orang muda, orang yang sehat (misalnya, atlet, pemadam kebakaran, personil militer) yang terlibat dalam aktivitas fisik yang berat untuk jangka waktu lama dalam lingkungan yang panas. Non-exertional (klasik) heat stroke (NEHS) lebih sering mempengaruhi orang tua, orang-orang yang memiliki penyakit kronis, dan orang-orang yang sangat muda. Heat stroke disebabkan oleh peningkatan produksi panas, penurunan pelepasan panas, berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri dan penurunan tingkah laku yang tanggap terhadap lingkungan. Kegagalan termoregulasi, respon fase akut yang berlebihan dan perubahan respon heat shock memiliki kontribusi perubahan heat stress menjadi heat stroke. Komplikasi paling serius dari heat stroke adalah kegagalan multi organ yang meliputi ensefalopati, rabdomiolisis, gagal ginjal akut, gagal nafas akut, kerusakan miokard, kerusakan sel hepar, iskemia usus, kerusakan pankreas, dan perdarahan, (disseminated intravascular coagulation atau DIC) dengan

thrombositopenia. Prinsip dari penatalaksanaan heat stroke adalah melakukan pendinginan tubuh dengan cara mempercepat transfer panas dari kulit ke lingkungan tanpa menekan aliran darah ke kulit.hal ini di lakukan dengan cara memperbesar temperatur gradien antara kulit dan lingkungan (konduksi) atau dengan memperbesar gradien tekanan penguapan air antara kulit dan lingkungan (evaporasi) dan juga meningkatkan laju aliran udara ke kulit (konveksi).

17

Morbiditas dan mortalitas dari heat stroke terkait dengan durasi elevasi suhu. Jika terapi tertunda, tingkat kematian dapat mencapai 80%, namun dengan diagnosa dini dan pendinginan langsung, tingkat kematian dapat dikurangi sampai 10%.

18

DAFTAR PUSTAKA 1. Wikipedia. Hyperthermia. Avaliable


th

at:

http://en.wikipedia.org/wiki/Hyperthermia. Accessed: August 20 2010 2. Valentine, maria. Heat Stroke: Panas yang meregang nyawa. Avaliable at: http://www.tanyadokteranda.com/penyakit/2010/08/heat-stroke-panas-yangmerenggang-nyawa. Accesseed at August 20th 2010 3. Bouchama A dan Knochel JP. Heat Stroke. The New England Journal of Medicine. 2002; Vol.346,No.2 4. Helman, Robert S. Heat stroke, Medscape Guest Commentary. Avaliable at: http://emedicine.medscape.com/article/166320-overview. Accessed: August 20th 2010 5. Grogan H dan Hopkins PM. Heat Stroke: Implication for Critical Care and Anesthesia. British Journal of Anesthesia. 2002; 88: 700-7 6. Waters, TA. Heat illness: Tips for recognition and Treatment. Cleveland Clinic Journal of Medicine, 2001; Vol.68. No 8 7. Knochel P. Heat stroke, Merck Manual Online Library. Avaliable at: http://www.merck.com/mmpe/sec21/ch318/ch318d.html. 29th 2010 8. Glazer JL. Management of Heat Stroke and Heat Exhaustion. American Family Physician, 2005; Vol.71. No.11 Accessed: August

19