Anda di halaman 1dari 61

MICROSCOPIC STRUCTURE AND HISTOPHYSIOLOGY OF RESPIRATORY SYSTEM

YAN EFFENDI HASJIM, DAHK

SRIWIJAYA UNIVERSITY, FACULTY OF MEDICINE DEPARTEMENT OF HISTOLOGY 2013

SISTEM RESPIRASI
FUNGSI: MELAYANI KEBUTUHAN O2 DAN MENARIK CO2 DARI SELS TUBUH

4 TAHAP RESPIRASI 1. BERNAPAS /VENTILASI (SALURAN NAPAS) MENGALIRKAN UDARA KEDALAM DAN KELUAR PARU-PARU

2.
3.

RESPIRASI EKSTERNAL (ALVEOLI PARU) PERTUKARAN O2 UDARA RESPIRASI DENGAN CO2 DARAH
TRANSPORTASI GAS (SIRKULASI DARAH) TRRANSPORT O2 & CO2 KE DAN DARI SEL-DALAM SIRKULASI

4.

RESPIRASI INTERNAL (SEL) PERTUKARAN O2 DAN CO2 SELS

1. breathing or ventilation pars CONDUCTING 2. external respiration pars RESPIRATION

RESPIRASI

KONDUKSI

SISTEM RESPIRASI
1. PARS KONDUKSI
= MENGALIRKAN

1. 2. 3. 4. 5. 6.

HIDUNG PHARYNX LARYNX TRACHEA BRONCHUS BRONCHIOLUS TERMINALIS

2.

PARS RESPIRASI

= PERTUKARAN GAS UDARA RESPIRASI DARAH

1. 2. 3. 4.

BRONCHILUS RESPIRATORIUS DUKTUS ALVEOLUS SACCUS ALVELOLUS ALVEOLUS

PARS KONDUKSI

1. CAVUM NASALIS
1. 2. 3. 4. KELEMBAPAN (humidifying) KEHANGATAN (warming) BEBAS KOTORNA/MIKROBAKTERI (cleansing) PENCIUMAN (smell sensation) >> plexus capiller darah >> plexus vena besar >> vasa lymphatik

Concha Concha Concha Palate


CAVUM ORALIS

Nares
Olfactory Region

STRUCTURE

Anterior (vestibule, nares): SKIN: RAMBUT KASAR


Posterior : EPITHEL RESPIRATORIUS EPITHEL CUBOID/CULLOMNER NONSILIA Dorsal : EPITHELIUM OLFACTORIUS

1. EPITHELIUM (4-type)

2. LAMINA PROPRIA

BANYAK VASCULAR COCHLEA & ANTERIOR SEPTUM NASI (AREA KIESELBACH)


GLD. SUBMUKOSA SEL MUKOUS + SEROUS PENUH ELEMEN LIMPHOID (NODUS LYMPHATIKUS, SEL MASTOSIT, SEL PLASMOSIT). IgA, IgE, IgG (PLASMOSIT)

REGIO OLFACTORIA EPITHELIUM OLFACTORIUS


RESEPTOR SENSASI PENCIUMAN ATAP CAVUM NASI, SUPERIOR SEPTUM NASI, SUPERIOR CONCHA NASALIS

EPITHEL OLFACTORIUS LAMINA PROPRIA (glandula Bowman's + plexus vascular >> ).

CAVUM NASALIS

Glands = LEMBAB
Blood vessels = HANGAT

Olfactory epithelium = PENCIUMAN

EPITHELIUM PSEUDOKOMPLEX
1. SEL OLFACTORIUS NEURON BIPOLAR DENDRIT : SILIA OlFACTORIA (6-8) : NONMOTIL, RADIAL //PERMUKAAN AXON LAMINA BASALIS PLAT CRIBRIFORMIS ETHMOIDALES OTAK

2. SEL PENYOKONG COLLUMNAR, PIGMEN yellowish-brown WARNA EPITH OLF

Richly vascularized, >> plexus capillaries. >> plexus veins, Kieselbach area Gld. Submucosa (mucous + serous cells) Elemen Lymphoid >> Gland. Bowman tubuloalveolar bercabang Sekret encer terus melarutkan odoran

3. SEL BASAL STEM CELLS REGENERASI EPITH. OLFAC

4. SEL GOBLET

SENSASI PENCIUMAN
OLfactory glands (Bowman)
Odorant Binding Protein (OBP)

Volatile soluble in mucus

Odorant Molcule

ODORANT-OBP KOMPLEX

Receptore on the surface ciliaum

Fluid layer

CLINICAL CORRELATION
ANOSMIA
HILANG/KURANGNYA SENSASI PENCIUMAN
INFEKSI AKUT ISPA; KHRONIK, CACAT KONGENITAL, TUMOR, TRAUMA, POLIP HIDUNG, OBSTRUKSI HIDUNG KHRONIS

RHINITIS (NASAL DISCHARGE)


HAY FEVER, RHINITIS VASOMOTOR, CORYZA AKUT, MANIFESTASI CAMPAK, SYPHILIS, TBC

OBSTRUKSI HIDUNG
AKUT, BIASANYA INFEKSI VIRUS,
CKHONIK, RAKSI ALLERGI, SEPTUM DEVIASI

CLINICAL CORRELATION
EPISTAXIS/ PERDARAHAN HIDUNG TRAUMA, INFEKSI VIRUE, TYPHID, MALARIA, DHF NONINFEKSI: DIATHESES PERDARAHAN, POLYCYTEMIA VERA, SINUSITIS AKUT, TUMOR, >> AREA KIESSELBACHS (ANTEROINFERIOR SEPTUM NASI) ANASTOMOSA ARTERI YG MENSUPLAI MUCOSA NASAL

2. PHARYNX & LARYNX

Palate Oral cavity

Nasopharynx (pseudostratified ciliated, col.)

Oropharynx, esophagus & epiglottis (top side) (stratified squam., wet type)

Epiglottis (underside), larynx trachea (pseudostratified ciliated, col.)

3. TRACHEA
SALURAN, 12 cm / 2 cm,. CINCIN CARTILAGO HYALIN BENTUK C (10-12) SEPATU KUDA INTER-PERICHONDRIUM, JARINGAN IKAT FIBROELASTIK FLEKSIBEL TERBUKA DI POSTERIOR, DIHUBUNGKAN OTOT POLOS (MUSKULUS TRACHEALIS) CONTRAKSI LUMEN

MUCOSA EPITHEL RESPIRATORIUS LAMINA PROPRIA JARINGAN IKAT LONGGAR: GLD MUCOUS, ELEMENT LIMPHOID SUBMUCOSA. JARINGAN IKAT FIBROELASTIK IRREGULAR, PADAT GLD MUCOUS & GLD SEROMUCOUS (DUKTUS PENDEK LANGSUNG BERMUARA KE PERMUKAAN). ELEMEN LYMPHOID BANYAK VASA DARAH & VASA LYMPHATIKUS ADVENTITIA HYALIN C-RING (HC)

EPITHEL RESPIRATORIUS
Pseudocomplex :
Semua kontak dengan lamina basalis , tidak semua mencapai permukaan
mucinogen, (aqueous environment mucin)

1. Sel Goblet 30%

2. Sel Columnar Bersilia 30%.


3. Sel Basal 30%. 4. Sel Brush 3%. 5. Sel Serous 3% 6. Sel DNES, Sel Kulchitsky 3-4% stem cells
microvilli (nerve endings) Sensory cilia and microvilli mendorong mucus ke nasopharynx

Monitoring kadar O2-CO2 di lumen.

apical granules (serous fluid)

DNES cells / Small-Granule Cells / Kulchitsky cells, (3% -4%).


PROSESSUA PANJANG SILINDER MENJOROK KEDALAM LUMEN (MONITOR

KADARA O2 & CO2 LUMEN)


SYNAPSIS DENGAN AKHIRAN SYARAF SENSORIS PULMONARY

NEUROEPHITELIAL BODIES.
GRANUL (amines, peptides, acetylcholine, and ADENOSINE TRIPHOSPHATE KEADAAN HIPOKSIA

RUANG JARINGAN IKAT LAMINA (PARACRINE HORMON) EFEK

LOKAL REGULASI PERFUSI


VASKULAR (HORMON) EFEK GENERALIS SYARAF EFFERENT

REGULATOR RESPIRASI DI MEDULA OBLONGATA

EPITHEL RESPIRATORIUUS
PSEUDOKOMPLEK COLLUMNAR BERSILIA 6 TIPE SEL ; GOBLET, COLLUMNAR BERSILIA, BASAL(90%), BRUSH, SEROUS, DNES (DIFFUSE NEUROENDOCRINE SYSTEM).

goblet cells (gc), ciliated cells (c), basal cells (bc), small granule mucous cells (smg).

HISTOPHYSIOLOGI GELOMBANG SILIA KONTINYU SEKRESI GLD. SEROUS SEKRESI LAPISAN PENUTUP MUKOUS ALIRAN LAPISAN MUKOUS KE ARAH PHARYNX DITELAN BERSAMA SALIVA TERPAPAR ROKOK/IRITAS KHRONIK SEL GOBLET BERTAMBAH GLD SUBMUCOSA MEMBESAR KOMPOSISI HASIL SEKRESI JUGA BERUBAH BATUK KHRONIS EPITHEL SKUAMOUS KOMPLEK DI AREA TERBATAS TRACHEA & BRONCHUS METAPLASIA MENJADI SKUAMOUS, LEBIH TAHAN TERHADAP IRRITASI

TRACHEA
Mucous phase

Watery (sol) phase from serous glands Duct of serous gland Ciliated Cell Goblet cell

HUBUNGAN KLINIK
TERPAPAR KHRONIS IRRITAN (ROKOK, POLUTAN) REVERSIBLE METAPLASIA PERTAMBAHAN JUMLAH GOBLET RELATIF TERHADAP SEL BERSILIA

BERKURANGANYA SEL BERSILIA KECEPATAN PENGELUARAN MUKUS MELAMBAT TERSUMBAT

MEMBESARNYA GLD SEROMUCOUS ( GLD LAMINA PROPRIA + SUBMUKOSA SEKRESI BERLEBIH >>

BEBERAPA BULAN SESUDAH POLUTAN HILANG RATIO SEL KEMBALI NORMAL (1:1) DAN GLD SEROMUCOUS KEMBALI KE UKURAN SEMULA

HUBUNGAN KLINIK
KONTROL PERNAPASAN FUNGSI UTAMA PARU; PERTUKARAN GAS O2 & CO2 UDARA RESPIRASI DARAH VENA DI ALVEOLUS KONTROL VENTILASI: PERUBAHAN TEKANAN CO2 ARTERIAL (pCO2) PERUBAHAN Ph CAIRAN EKSTRASEL CHEMORECEPTOR MEDULLARIS BOSS PENGATUR RHYTME PERNAPASANA HYPOXEMIA ARTERIAL CHEMORESEPTOR CAROTID BODIES MENINGKATKAN VENTILASI

MEKANISME RESPIRASI
PARU & DINDING DADA

PARU ELASTIS, TENDENSI KOLAPS (BILA TIDAK ADA TEGANGAN YANG MENGEMBANGKAN SURFACTAN)
DINDING DADA JUGA ELASTIS, TENDENSI KEMBALI EKSPIRASI (PASIF). KONTRAKSI AKTIF OTOT RESPIRASI MENURUNKAN TEKANAN INTRATHORAK (JUGA ALVEOLI) DIBAWAH ATMOSFIR INSPIRASI (AKTIF) OTOT DIAPHRAGMA (OTOT RESPIRASI MAYOR, TURUN 1 - 10 CM SAAT BERNAPAS OTOT INTERCOSTALIS, SCALENS, STERNOCLEIDOMASTOIDS

EKSPIRASI PASIF SELAMA PERNAPASAN DIAM, TAPI OTOT ABDOMEN DAN INTERCOSTA BISA MEMAINKAN PERAN AKTIF

4. BRONCHUS - BRONCHIOLUS

1.

BRONCHUS PRIMER (BRONCHUS EKSTRAPULMONAL)


BRONCHUS SEKUNDER & BRONCHUS TERSIER (BRONCHUS INTRAPULMONAL) BRONCHIOLUS BRONCHIOLUS TERMINALIS BRONCHIOLUS RESPIRATORIUS

2.

3. 4. 5.

BRONCHUS - BRONCHIOLUS
STRUKTUR 1. Progressif berkurang: ukuran, jumlah kartilago Jumlah glandula Jumlah sel goblet Tinggi sel epithel Progressf bertambah : Otot polos & jaringan elastik (sesuai dengan penebalan dinding)

2.

BRONCHUS - BRONCHIOLUS

1. EPITHELIUM
BRONCHUS = TRACHEA BRONCHUS BRONCHIOLUS TERMINAL, PERUBAHAN BESAR GRADUAL: EPITHEL LINGGI GRADUAL MERENDAH SEPANJANG TRAKTUS BRONCHIOLUS CUBOID BERSILIA BRONCHIOLUS TERMINALIS CUBOID RENDAH GOBLET & GLANDULA JUMLAH BERKURANG HANYA SEBELUM BRONCHIOLUS TERMINALIS

2. LAMINA PROPRIA
MENIPIS (PARS KONDUKSI DIAMETER MENGECIL) JARINGAN IKAT LONGGAR, BANYAK SERABUT ELASTIK & RETIKULAR NORMAL TERDAPAT LYMPHOSIT, MASTOSIT, KADANGKALA EOSINOPHIL

3. CARTILAGO BRONCHUS PRIMER LEMPENGAN IRREGULAR BRONCHUS SKUNDER PULAU-PULAU CARTILAGO BRONCHIOLUS HILANG SEMPURNA 4.OTOT POLOS BRONCHUS BESAR LAPISAN KONTINYU BAGIAN DISTAL KURANG DAN LEBIH LONGGAR BRONCHIOLUS TERMINALIS SANGAT BERLIMPAH, KOMPONEN DINDING

BRONCHIOLUS, MUKOSA BERLIPAT LONGITUDINAL BRONCHIOLUS CARTILAGO (-), PROPORSIONAL BERTAMBAH OTOT DAN JARINGAN ELASTIS
ASTHMA BRONCHIALE

BRONCHUS - BRONCHIOLUS
Epithelium Ciliated pseudostrat. columnar Goblet Cells Abundant Glands Present Cartilage C-rings Plates

Few Scattered None

Ciliated simple columnar

None

None

SEL CLARA

COLLUMNAR DENGAN APEX BULAT MIKROVILLI DI PERMUKAAN

PROSESSUS PENDEK MASUK KE RUANG INTERSELULAR


APICAL SITOPLASMA : GRANULAR SEKRESI PADAT KECIL DISTRIBUSI : DARI BRONCHUS PRIMER SAMPAI BRONCHIOLUS TERMINALIS 50% SELL DI BRONCHIOLUS TERMINALS FUNGSI BELUM JELAS HILANGNYA GOBLET, BERJUBELNYA SEL CLARA DI BRONCHIOLUS in bronchioles by reflect a need for a nosticky proteinaceous lining layer toMEMASTIKAN POTENSI TUBE HALUS < 0,4mm DIAMETER

EPI SM

GLD

BRONCHUS
COLLUMNAR BERSILIA PSEUDOKOMPLEK (EPI) + GOBLET LAMINA PROPRIA, SM, GLD, HC.
HC

EPI

SM

BRONCHIOLUS
BEDA : 1) GLD (-) & CARTILAGO (-) 2) EPITHEL SIMPLEK BERSILIA (RENDAH) 3) GOBLET SEDIKIT

HUBUNGAN KLINIK
LAPISAN OTOT POLOS BRONCHIOLUS DIKONTROL SISTEM SYARAF PARASYMPHATIS KEADAAN NORMAL, OTOT POLOS KONTRAKSI PADA AKHIR EKSPIRASI, RELAKS SELAMA INSPIRASI KSPIRASIPENDERITA ASTHMA , KONTRAKSI MEMANJANG SELAMA EKSPIRASI SULIT MENGELUARKAN UDARA DARI PARU STEROID & 2-AGONIS RELAKS OTOT POLOS BRONCHIOLUS (MERINGANKAN SERANGAN ASTHMA).

4. BRONCHIOLUS TERMINALIS
LEBIH KECIL PALING UJUNG PARS KONDUKSI < 0.5 mm DIAMETER SUPLAI UDARA KE ACINUS PARU

EPITHELIUM SEL CLARA + SEL KUBOID BEBERAPA DGN SILIS

RESUME
1.Trachea:
Respiratory epithelium, mucus glds Submucosa, mucous & seromucous glands Adventitia. C-rings hyaline, gld

3. Bronchiole
1) Cartilage (-) & glands (-) 2) simpler (lower) ciliated 3) Diminishing goblet cells.

2. Bronchus
pseudostratified ciliated columnar (EPI) + goblet Lam. propria, SM, GLD, HC.

4. Terminal Bronchioles
Clara cells, cuboidal cells, some with cilia.

RESPIRATORY PORTION

1. 2. 3. 4.

respiratory bronchioles, alveolar ducts, alveolar sacs, alveoli.

1. BRONCHIOLUS RESIRATOSIUS
STRUKTUR = BRONCHIOLUS TERMINALIS, + DINDING ADA ALVEOLI BERAKIR KE DUKTUS ALVEOLUS
V

A
CUB SM

ADA ALVEOLI (A) CUBOID SIMPLEK (CUB), DIPUTUS OLEH ALVEOLI (A) DGN EPITHEL SQUAMOUS (PANAH). VASA BERISI DARAH (V) DALAM DINDING OTOT POLOS SPIRAL (SM) KONTINYUS MEMBENTUK DINDING

2. DUKTUS ALVEOLARIS
SEPTUM, DILAPISI SEDIKIT EPITHEL BRONCHIOLUS
SAC AD

DALAM SEPTUM SPIRAL OTOT POLOS


DINDING; SAC PULMOLARIS & ALVEOLUS

RB
AD

3. SACUS ALVEOLARIS
TIPIS, SEMUA DINDING ALVEOLUS OTOT POLOS (-), HANYA ELASTIN & COLLAGEN

BRONCHIOLUS RESPIRATORIUS (RB) cuboidal simplek + alveolus DUKTUS ALVEOLARIS (AD) dinding sacus alveolaris + alveolus (A).
Otot polos kontinyu Berujung ke sacus alveolaris (SAC)

SACUS ALVEOLARIS: semua dinding alveolus, otot polos (-)

4. ALVEOLUS

SSTRUKTUR POKOK & UNIT FUNGSIONAL SISTEM RESPIRASI KECIL (0.002mm3), JUMLAH TOTAL 300 JUTA, PARU SEPERTI BUSA. LUAS TOTAL PERMUKAAN SEMUA ALVEOLI 140 m2 (UKURAN LAPANGAN TENIS SINGEL), AREA PERTUKARAN GAS

A, A respiratory bronchiole, alveolar sac, alveolar pore, and alveoli. B, Interalveolar septum. C, Carbon dioxide uptake from body tissues by erythrocytes and plasma. D, Carbon dioxide release by erythrocytes and plasma in the lung. (Compare A with the alveolar duct shown in Fig. 15-10.)

II CAP

ALVEOLUS
SEL TYPE I, SQUAMOUS SIMPLEK (I), EFFISIENT PERTUKARAN GAS SEL TYPE II CUBOID (II) PRODUKSI SURFACTAN, BESAR PUCAT CAPILLER ALVEALAR BERLIMPAH, (CAP). MACROPHAGE (M).

Interalveolar septum
JARINGAN IKAT ANTARA DUA APITHEL PERMUKAAN (Interstitium of lung)
PADAT BY JARINGAN KAPILLER (PORSI UTAMA)

Sel Septal, fibroblast, mastocyt, few lymphocytes, wandering leukocytes, histiocytes, kadang sel otot polos
alveolar pores (pores of Kohn) collateral respiration epithel Type I & II

electron micrograph of the interalveolar septum in a monkey. alveoli (a), erythrocytes (e) within capillaries (c), and alveolar macrophages (m). Filopodia (arrows) and alveolar pores (asterisks) are evident.

ALVEOLUS Septum:

capillary

macrophage

Type II

Reticular & elastic fibers

Type I

ALVEOLAR lveolar Macrophages (Dust Cells)


MACROPHAGE ALVEOLUS (M) BERISI DEBRIS. DIPERMUKAAN, DALAM DINDING ALVEOLUS, DALAM VASA LYMPHATIK

ALVEOLUS

RBCs

SEL SEPTAL
SEL YANG BANYAK DI SEPTUM PROSESSUS PANJANG BERCABANG, GAP JUNCTION DGN SEL SEPTAL TETANGGA DROPLET LIPID & FILAMENT ACTIN KONTRAKSI MENGECILKAN ALVEOLUS

SEPERTI FIBROBLAST FUNGSI UTAMA SINTESE GLIKOGEN III, ELASTIN, PROTEOGLIKANS MATRIX EKSTRASEL SEPTUM

SEL PNEUMOCYT TYPE I (type I alveolar cells, squamous alveolar cells).

RENDAH SEPERTI MESOTHELIUM HANYA 10% POPULASI, TAPI MENEMPATI 95% LUAS PERMUKAAN ALVEOLI MEMBENTUK PORES ALVEOLAR PERMUKAAN DILAPISI SURFACTANT LATERAL SALING TERIKAT DENGAN JUNCTION MENCEGAH CAIRAN EKSTRASEL JANGAN MEREMBES KEDALAM LUMEN

SEL PNEUMOCYTE TYPE II


(great alveolar cells, septal cells, and type II alveolar cells)

12% POPULASI, HANYA MENEMPATI 5% LUAS PERMUKAAN ALVEOLI CUBOID, TERSEBAR DIANTARA TYPE I PENDEK, APIKAL ADA MIKROVILLI (em) KHAS CYTOSOMES DISEKRESIKAN KE PERMUKAAN ALVEOLUS, KONTRIBUSI SURFACTANT PULMONAL YANG MEMBUNGKUS SEL ALVEOLAR DAN MENURUNKAN TEGANGAN PERMUKAAN

SURFACTAN PULMONAL
DISINTHESE RER PNEUMOXCYTE II KOMPOSISI
UTAMANYA 2 PHOSPHOIPID, dipalmitoyl phosphatidylcholine & phosphatidylglycerol;

NETRAL LIPID, 4 PROTEIN UNIK, surfactant apoproteins SP-A, SP-B, SP-C, SP-D.

DIMODIFIKASI DI APP GOLGI, DIRELEASE KE VESICLE SEKRESI DISEBUT composite bodies, the immediate precursors of lamellar bodies.

HUBUNGAN KLINIK SAAT LAHIR PARU BERKEMBANG KETIKA PERTAMA BERNAPAS, ADANYA SURFACTAN PULMONAL MEMUNGKINKAN ALVEOLI TETAP PATENT At birth, the infant's lungs expand upon the first intake of breath, and the presence of pulmonary surfactant permits the alveoli to remain patent.

INFAN IMMATURE (LAHIR SEBELUM USIA GESTASI 7 BULAN) TIDAK CUKUP PRODUK/UNADEKUAT SURFACTAN POTENSI FATAL respiratory distress of the newborn.
THERAPI: KOMBINASI SURFACTAN SINTETIK + GLUKOCORTICOID MENGRANGI TEGANGAN PERMUKAAN (GLUCOCORTICOID STIMULUS PNEUMOCYTE II PRODUKSI SURFACTANT)

ALVEOLAR MACROPHAGE
LANGSUNG EKSPOSE KE BAKTERI ATAU KOTORAN YANG MASUK Phagocyte bacteria : SUBSTAN SI ACID PHOSPHATESE, GLUCURONIDASE, LYSOZYM LEBIH TINGGI DARI MACROPHAGE LAINNYA Sigaretes smokers, SITOPLASMA PENUH DENGAN RESIDU TAK DICERNA heart disease, EDEMA PULMONUM, BERISI BANYAK VACUOLA MENGANDUNG HEMOSIDERIN (extravasated erythrocytes and degedration of hemoglobin)

SEL MIGRASI BEBAS KE PERMUKAAN ALVEOLUS TRANSFORMATION DARI SEL SEL EPITHEL TERLEPAS, (BUKAN DARI SYSTEM PHAGOSIT MONONUKLEAR UMUM) DARI STEM CELLS DI SUMSUM TULANG , TRANPORT KE SIRKULASI SEPERTI MONOSIT MASUK INTERSTITIALIS PARU BERUBAH MENJADI MACROPHAGE MIGRASI KE DALAM LUMEN ALVEOLI

RESPIRATORY DISEASES

1. Emphysema
2. Asthma 3. Respiratory distress syndrome (Hyaline membrane disease)

EMPHYSEMA PULMONUM

DESTRUKSI SERAT ELASTIN


DINDING ALVEOLI BERUBAH PELEBARAN HEBAT RUANG UDARA DISTAL KE BRONCHIOLUS TERMINALIS PERTUKARAN GAS TIDAK EFISIEN PHASE AWAL PATOLOGI PULMONAL, BOCOR CAIRAN DARI KAPILLER, EDEMA INTERSTITIAL DAN AKUMULASI CAIRAN DALAM ALVEOLI

FAKTOR LINGKUNGAN (cigarete smoking and air polution).

KADAR ALPHA-AMTITRYPSIN DARAH KURANG PENGHAMBAT BERBAGAI PROTEASE TERMASUK ELASTASE

EMPHYSEMA Smoking

Increased elastase from neutrophils

Elastic damage in alveolar wall

Wall destruction & alveolar enlargement

Emphysema

Respiratory bronchiole

Alveolus

Destruction of alveolar walls & overinflation

ASMA

ASMA BRONCHIALE contraction along exspiration.


parasympathetic fibers (cholinergic) KONTRAKSI OTOT POLOS BRONCHIOLUS BRONCHOCONTRACTION Sympathetic fibers (-adrenergic) RELAKSASI OTOTT BRONCHIOLUS es BRONCHODILATION (BERSAMAAN VASOCONTRIKSI VASA PULMONAL) "paradoxical response" Steroids and 2-agonists DILATASI OTOT POLOS BRONCHIOLUS .

ASTHMA
Antigen-stimulated release of histamine & other mediators

Opening of tight junctions in epithelium

Antigen enters lamina propria & stimulates additional mediators from mast cells and eosinophils Stimulate nerves Stimulate vascular permeability & edema
Stimulate smooth muscle Stimulate mucus production

Respiratory distress syndrome (Hyaline membrane disease)

INFAN PREMATUR PROSES BELUM SEMPURNA DEFISIENSI PRODUKSI SURFACTAN

PEMBERIAN SURFACTAN EXOGEN PENINGKATAN DRAMATIS OKSIGENASI DARAH


JUMLAH SURFAKTAN DALAM CAIRAN AMNION DIUKUR MENILAI TINGKAT MATURITAS PARU FETUS

PLEURA

CAVUM THORAX DILAPISIS PLEURA : MEMBRANA SEROUS (EPITHEL SQUAMOUS SIMPLEX + JARINGAN IKAT SUBSEROUS). PLEURA VISCERALIS : MENUTUPI DAN MELEKAT KE PARU PLEURA PARIETALIS : MELEKAT KE DINDING CAVUM THORAX. CAVUM PLEURA : RUANG ANATARA PLEURA VARIETAL & VISCERAL

BERISI SEDIKIT CAIRAN SEROUS (serous membranes) TDK ADA GESEKAN AKIBAT GERAKAN SELAMA BERNAPAS.

STRUKTUR
LAPISAN TIPIS JARIGAN IKAT BERISI FIBROBLST, COLLAGEN, BEBERAPA LAPISAN DARI ELASTIK BANYAK CAPILLER & LYMPHATIC SEDIRIT SYARAF DI PLEURA PARIETALIS, CABANG NERVUS PHRENICUS & INTERCOSTALIS PLEURA VISCERAL DIINERVASI CABANG NERVUS VAGUS & NERVUS SYMPHATIK YANG MENGINERVASI BRONCHUS

The End
See U the next time Have a Success Future....

Yan effendi hasjim