Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Pengukuran tegangan tinggi berbeda dengan pengukuran tegangan rendah, sehingga


perlu penjelasan khusus mengenai pengukuran ini. Ada tiga jenis tegangan tinggi yang akan
diukur dalam pengujian tegangan tinggi, yaitu tegangan tinggi bolak-balik, tegangan tinggi
searah, dan tegangan tinggi impuls. Pengujian tegangan tinggi pada umumnya diperlukan
untuk mengetahui apakah peralatan tegangan tinggi yang diuji masih memenuhi standar
kualitas dan kebutuhan yang dispesifikasikan pada peralatan tersebut.

Lingkup studi teknik tegangan tinggi mencakup semua masalah seperti studi tentang
korona, teknik isolasi, tegangan lebih pada sistem tenaga listrik, proteksi tegangan lebih, dan
lain-lain. Dengan begitu banyaknya masalah yang mencakup tegangan tinggi, maka
dibutuhkanlah pengujian tegangan tinggi dengan maksud sebagai berikut:

1. Untuk meneliti sifat-sifat listrik dielektrik yang baru ditemukan, sebagai usaha dalam
menemukan bahan isolasi yang lebih murah.

2. Untuk verifikasi hasil rancangan isolasi baru, yaitu hasil rancangan yang telah dikurangi
volume isolasinya.

3. Untuk memeriksa kualitas peralatan sebelum terpasang, hal ini dilakukan untuk
menghindarkan kerugian bagi pemakai peralatan.

4. Untuk memeriksa kualitas peralatan setelah beroperasi dalam rangka mengurangi kerugian
semasa pemeliharaan.

Perlunya pengujian tegangan tinggi seperti diuraikan di atas menuntut adanya cabang
studi tegangan tinggi yang membahas khusus pengujian tegangan tinggi. Studi ini akan
mempelajari cara kerja dan karakteristik peralatan-peralatan uji tegangan tinggi dan prosedur
pengujian yang telah distandarisasi. Adapun peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk
pengujian tegangan tinggi adalah:

1. Pembangkit tegangan tinggi yang terdiri atas: pembangkit tegangan tinggi ac, pembangkit
tegangan tinggi dc, dan pembangkit tegangan tinggi impuls.

2. Alat ukur tegangan tinggi yang terdiri atas alat ukur tegangan tinggi dc, alat ukur tegangan
tinggi ac, dan alat ukur tegangan tinggi impuls.

3. Alat pengukur sifat listrik dielektrik, antara lain alat ukur rugi-rugi dielektrik, alat ukur
tahanan isolasi, alat ukur konduktivitas, dan alat ukur peluahan parsial.

BAB 1
Tegangan Tinggi AC

Dalam laboratorium diperlukan tegangan tinggi bolak-balik untuk percobaan dan
pengujian dengan arus bolak-balik serta untuk membangkitkan tegangan tinggi searah dan
pulsa. Trafo uji yang biasa digunakan untuk keperluan tersebut memiliki daya yang lebih
rendah serta perbandingan belitan yang jauh lebih besar daripada trafo daya. Arus primer
biasanya disulang dengan ototrafo sedangkan untuk kasus khusus disulang dengan
pembangkit sinkron.

Hampir semua pengujian dan percobaan dengan tegangan tinggi bolak-balik
mensyaratkan nilai tegangan yang teliti. Hal tersebut umumnya hanya akan terpenuhi jika
pengukuran dilakukan pada sisi tegangan tinggi; untuk itu telah disusun berbagai cara dalam
mengukur tegangan tinggi bolak-balik. Bentuk V(t) untuk tegangan tinggi bolak-balik sering
menyimpang dari bentuk sinus. Dalam teknik tegangan tinggi, nilai puncak V dan nilai
efektif Vef memiliki arti yang sangat penting :



Vrms =

(t) dt


Untuk pengujian tegangan tinggi besaran

didefinisikan sebagai tegangan uji.


Di sini diandaikan bahwa penyimpangan bentuk tegangan tinggi dari bentuk sinus masih
dalam batas yang diijinkan. Untuk sinusoidal murni

= Vrms


A. PROSES PEMBANGKITAN TEGANGAN TINGGI AC
Bentuk tegangan tinggi yang dibangkitkan dapat berupa: Tegangan AC, DC (konstan)
atau Impuls. Tegangan AC dan DC digunakan untuk transmisi daya listrik, juga dipakai
untuk tujuan pengujian. Sedangkan tegangan tinggi Impuls dibutuhkan untuk investigasi
renspons isolasi pada system transmisi (termasuk peralatan) terhadap gangguan transien
akibat Surja hubung dan surja petir.
Pembangkitan tegangan tinggi AC dapat dilakukan dengan menggunakan Generator
sinkron (motor-driven synchronous generator), namun kebanyakan menggunakan trafo uji
satu phasa yang disupply oleh tegangan distribusi (110 V atau 240 V, 50/60 Hz). Untuk
keperluan pengujian tegangan tinggi, dituntut tegangan yang naik secara perlahan-lahan
(smooth and gradually). Untuk itu tegangan input distribusi yang merupakan fixed mains
Voltage terhubung dengan variable-voltage transformer yang berfungsi sebagai pengatur
tegangan pada sisi primer trafo uji tegangan tinggi
1. Single step up Transformers
Rangkaian listrik dasar dari pada pembangkitan tegangan tinggi (test-set) untuk menghasilkan
tegangan tinggi AC frekwensi daya hingga 200 kV diperlihatkan pada gambar 1.

Tegangan input (main supply) sebelum disupply ke kumparan primer trafo uji, terlebih
dahulu melalui variable transformer (yaitu: variable voltage toroidal auto-transformer,
variac), rating dari Test-set commercial berupa tegangan out put dalam kV dan daya dalam
kVA. Adapun konstruksi dari test-set dibagi kedalam 2 katagori, yaitu:
(1). Portable unit, dengan tegangan out put hingga 50 kV dan rating daya 1-2 kVA
(2). Large fixed unit, dapat beroperasi hingga 200 kV, rating daya output nya besar
dan ditentukan oleh factor-faktor fisik dan berat, yang dapat mecapai 100 kVA
Jika terjadi flash over, atau breakdown internal pada obyek uji, maka sudah barang
tentu transformer sebagaimana gambar 1. akan mengalami kondisi over load dan short circuit.
Konsekwensinya, isolasi dari trafo uji harus didesign tahan terhadap tegangan tinggi surja
yang menyebabkan kegagalan pada obyek uji.
2. Kaskade Transformer
Hubungan kaskade trafo uji umumnya dipakai untuk mendapat tegangan yang lebih
tinggi yang melebihi beberapa ratus kV. Pada gambar 2. Diperlihatkan kaskade 2 buah
transformer dengan spesifikasi tegangan 240V/200kV. Tangki dan inti pada Transformer T
1

ditanahkan, main voltage berasal dari variable-voltage transformer, Ujung terminal sekunder
T
1
(d
1
) juga ditanahkan, sedangkan terminal outputnya yang berasal dari c
1
dan e
1

dihubungkan ke primer T
2
(a
2
b
2
). Dari bentuk kaskade 2 buah trafo, maka akan dihasilkan
tegangan output sebesar 400 kV terhadap tanah (c
2
d
1
).


3. Kontrol tegangan pada trafo uji
Semua bentuk pengujian, merekomendasikan agar tegangan uji yang diberikan
bergerak naik secara gradual dan smooth dari nilai 0 hingga pada level tegangan uji. Keadaan
ini dapat dilakukan dalam beberapa cara. Yaitu: menggunakan slider resistance control
sebagaimana yang diperlihatkan pada gambar 4.3, menggunakan tapped transformer
sebagaimana terlihat pada gambar 4.4, menggunakan induction regulator sebagaimana
terlihat pada gambar 4.5.
Untuk trafo uji yang kecil dengan output daya dibawah 5 kVA, control resistance mempunyai
keuntungan, selain murah, mudah, distorsi bentuk gelombang tegangannya pun kecil.
Sedangkan untuk unit dengan kVA yang besar, Large size dan cost of resistance bersama-
sama dengan rugi-rugi daya merupakan hal yang tidak menguntungkan.
Gambar 4.4. Menggambarkan metode control output tegangan tinggi yang akurat.
Primer dari trafo uji dihubungkan dengan tap-tap yang yang tedapat pada sisi sekunder trafo
regulasi. Untuk menghindari surja pada output tegangan tinggi berkenaan dengan terbukanya
sisi sekunder pada trafo regulasi akibat perpindahan tap, digunakan two contact brushes,
brushes berhubungan dengan adjacent studs dan buffer resistance, atau reactance coil,
Keadaan yang demikian ini mencegah terjadinya short circuit pada bagian kumparan
transformer. Keuntungan dari metode ini, selain efisiensinya tinggi, distorsi bentuk
gelombangnya kecil, namun regulasinya tidak smooth kecuali jika menggunakan jumlah tap
yang banyak. Untuk trafo uji pada heavy duty, regulator induksi dapat digunakan untuk
mengontrol input tegangan pada trafo uji, sebagaimana diperlihatkan pada gambar 5.




4. Rangkaian resonansi seri
Rumus-rumus bagi impedansi yang mengandung L atau C menunjukkan, bahwa
modulus maupun sudut fasa suatu impedansi merupakan fungsi dari frekwensi sudut e .
Misalnya untuk impedansi rangkaian seri R dan L, terlihat bahwa impedansi (Modulus)
makin besar dengan bertambahnya frekwensi, sedangkan fasanya makin mendekati 90
o
.
Olehkarena itu rangkaian semacam ini makin sukar melalukan arus dengan frekwensi yang
tinggi.
Sebaliknya impedansi rangkaian seri R dan C, terlihat bahwa impedansi (Modulus)
makin kecil dengan bertambahnya frekwensi dan sudut fasanya semakin mendekati -90
o
.
Dengan demikian rangkaian semacam ini makin mudah melalukan arus dengan frekwensi
yang tinggi .
Untuk itu rangkaian yang mengandung R, L dan C, dapat diharapkan impedansinya
tidak naik terus atau turun terus bila e dinaikkan seperti pada kedua contoh diatas,
melainkan menurut fungsi e yang mungkin mengandung sejumlah maxima dan minima.


Dari gambar 2.24. dapat dibentuk persamaannya sebagai berikut:
)
R
C
1
L
( tg arc
)
C
1
L ( R Z
)
C
1
L ( j R L j R Z
2 2
C j
1
e
e
=
e
e + =
e
e + = + e + =
e

Dari persamaan diatas, terlihat bahwa baik frekwensi-frekwensi yang sangat tinggi maupun
rendah, Z menjadi sangat besar. Namun demikian bila
C
1
L
e
e = 0, maka = 0 dan Z = R.
Keadaan ini merupakan harga minimum bagi Z. Sedangkan harga frekwensi sudut untuk
keadaan ini adalah:
LC 2
1
f
LC
1
f 2
LC
1
C
1
L
t
= = t
= e
e
= e

Keadaan ini disebut sebagai keadaan resonansi, yaitu keadaan dimana diperoleh arus yang
maximum (karena Z minimum), dan frekwensi bergantung pada nilai L atau C. Bila
C
1
L
e
< e maka negative, dan rangkaian bersifat kapasitif. Sebaliknya bila
C
1
L
e
> e
maka positif, dan rangkaian bersifat induktif.

5. Rangkaian resonansi seri pada pembangkitan tegangan tinggi
Gambar dibawah adalah diagram sederhana dari rangkaian resonansi seri. Objek uji berupa
kabel yang dapat direpresentasikan sebagai sebuah kapasitansi dan terhubung seri dengan
moving coil reactor yang direpresentasikan sebagai induktansi, yang dapat diubah-ubah
untuk mengimbangi impedansi beban kapasitif pada frekwensi daya. Rangkaian resonansi
seri yang terbentuk akan membangkitkan tegangan tinggi ketika dieksitasi oleh regulator
tegangan dari main supply.

Atau dalam bentuk rangkaian eqivalen, digambarkan sebagai berikut:

Dari gambar 6.12.a, dan 6.12.b. dapat dilihat bahwa rangkaiannya membentuk resonansi seri
pada freqwensi daya e, Jika (L1+L2)=1/ eC, maka arus pada obyek uji menjadi sangat
besar dan hanya dibatasi oleh resistansi rangkaian. Bentuk gelombang tegangan pada obyek
uji merupakan sinusoidal murni. Adapun besar tegangan yang melalui capasitasi C pada
obyek uji dirumuskan sbb:
CR
V
X
R
V
) X X ( J R
jVX
V
C
C L
C
C
e
= =
+

=
Faktor X
C
/R=1/ e CR merupakan factor Q pada rangkaian dan memberikan kenaikan
tegangan pada object uji pada kondisi resonansi. Olehkarena itu tegangan input yang
dibutuhkan untuk exitasi diturunkan sebesar factor 1/Q dan output kVA juga diturunkan
sebesar factor 1/Q. Faktor daya rangkaian pada sisi sekunder adalah satu.
Prinsip yang ada pada resonansi seri dipakai untuk pengujian tegangan yang sangat
tinggi dan pada keadaan yang membutuhkan output arus yang besar seperti pada pengujian
kabel, pengukuran dielectric loss, pengukuran partial discharge.


B. PENGUKURAN TEGANGAN TINGGI AC
Pengukuran tegangan tinggi AC menggunakan metode konvensional seperti: series
impedance voltmeters, potential divider, potensial transformer, atau electrostatic voltmeters.
Akan tetapi designnya berbeda dibanding meter-meter tegangan rendah, misalnya pada
design isolasinya. Jika hanya dibutuhkan pengkuran nilai puncak, maka peek voltmeters dan
sphere gap dapat digunakan.
Pengukuran AC frekwensi tinggi , semuanya menggunakan potential dividers dengan
cathode ray ascillograph untuk merekam bentuk gelombang tegtangan. Sphere gaps
digunakan jika nilai yang dibutuhkan hanya nilai tegangan puncak dan juga untuk keperluan
kalibrasi.
1. Series Impedance Voltmeter
Untuk pengukuran frekwensi daya, series impedance dapat berupa resistansi murni
atau reaktansi. Jika resistansi menyebabkan rugi-rugi daya, biasanya capasitor dijadikan
sebagai series reactance. Dan residual inductance pada resistansi mengalami kenaikan pada
impedansi yang berbeda dari resistansinya. memberikan Selain itu pula untuk resistansi yang
tinggi, variasi resistansi terhadap temperature merupakan masalah. Reaktansi yang tinggi
untuk tegangan tinggi memiliki stray capacitance dan karenanya resistansi mempunyai
rangkaian eqivalen seperti pada gambar 7.1. Untuk setiap frekwensir e dari tegangan AC,
impedansi dari resistansi R adalah:

CR j ) LC 1 (
L j R
Z
2
e + e
e +
= (1)

Jika eL dan eC kecil dibandingkan R, maka:









(

|
.
|

\
|
e
e
+ = CR
R
L
j 1 R Z (2)
Dan total sudut phasanya adalah:

|
.
|

\
|
e
e
= | CR
R
L
tan (3)
Kondisi ini dapat dibuat 0 dan tidak bergantung pada frekwensi, jika:
L/C = R
2
(4)
2. Series Capacitance Voltmeter
Series capacitor digunakan sebagai pengganti resistor untuk pengukuran tegangan
tinggi AC. Diaagram skematik ditunjukkan pada gambar 7.10. Arus I
c
yang melalui meter
adalah:
CV j I
c
e = (5)
Dimana: C = Kapasitansi dari series capacitor
e= Frekwensi sudut, dan
V = Tegangan AC yang diterapkan
Jika tegangan AC mengandung harmonic, maka akan terjadi perubhan pada series
impedance. Nilai tegangan rms V dengan harmonic diberikan oleh persamaan:

2
n
2
3
2
2
2
1
V ... V V V V + + + + = (6)
V
1
,V
2
,Vn mempresentasikan nilai fundamental rms, harmonic ke 2 dank e n


Arus berkenaan dengan harmonisasi ini adalah:

n n
2 2
1 1
CV n I
,.... CV 2 I
CV I
e =
e =
e =

(7)
Olehkarenanya, resultante arus rms adalah:

2 / 1 2
n
2 2
2
2
1
) V n ... V 4 V ( C I + + + e = (8)
Dengan 10% harmonic kelima, maka arusnya adalah 11.2% lebih tinggi, dan karenanya
errornya 11.2% pada pengukuran tegangan. Metode ini tidak direkomendasi jika tegangan ac
bukan gelombang sinusoidal murni.

3. Capasitance Potential Dividers and Capacitance Voltage Transformers
Error berkenaan dengan tegangan harmonic dapat dieliminasi dengan mengunakan
Capacitive Voltage dividers dengan Volmeter elektrostatis atau meter impedansi tinggi. Jika
meter dihubungkan melalui long cable, maka kapasitansinya harus dimasukkan dalam
perhitungan. Biasanya, kapasitor yang digunakan sebagai C berupa tekanan udara atau gas
standar (gambar 7.11), dan C
2
merupakan kapasitor besar (mica, paper, atau capasitor dengan
rugi-rugi yang kecil). C
1
merupakan kapasitor 3 terminal dan dihubungkan dengan C
2
melalui
shielded cable, dan C
2
completely shielded yang berada dalam box untuk menghindari stray
capacitance. Tegangan yang diterapkan dirumuskan dengan:

|
|
.
|

\
| + +
=
1
3 2 1
2 1
C
C C C
V V (9)
Dimana Cm adalah kapasitansi meter , V2 merupakan pembacaan meter









Adapun ihtisar dari pengukuran bolak balik dapat dilihat pada tabel dibawah ini;






C. PERBEDAAN TEGANGAN AC, DC, IMPULS

A. TEGANGAN AC

B. TEGANGAN DC


C. TEGANGAN IMPULS








Lampiran







Peralatan Pengukuran Tegangan AC









Control BOX











Alat Ukur Voltmeter Elektrostatik