Anda di halaman 1dari 2

Penghasil hormon Pada awal kebuntingan, korpus luteum pada ovarium merupakan penghasil progesteron dimana prgesteron berfungsi

sebagai pemelihara kebuntingan. Korpus luteum yang berada pada masa kebuntingan adalah korpus luteum graviditatum. peran korpus luteum sebagai penghasil progesteron pada usia kebuntingan tertentu akan digantikan oleh plasenta,pada domba yaitu sampai 50 hari kebuntingan dan pada sapi sampai dengan 207 hari kebuntingan. Plasenta mengambil alih fungsi korpus luteum dan mulai memproduksi progesteron pada semua ternak mamalia. Khusus pada ibu hamil plasenta menghasilkan hormon lain. sekitar 10 hari pasca fertilisasi di dalam urin terdapat hormon hCG. Hormon tersebut memiliki sifat dan daya kerja seperti LH. Pada kuda bunting seitar 40-70 hari kebuntingan dihasilkan hormon PMSG, hormon tersebut memiliki potensi seperti LH dan FSH dengan perbandingan FSH: LH 2:1 Anabolisme Selama Kebuntingan Kebutuhan pakan atau nutrisi selama periode kebuntingan diprioritaskan untuk fetus dibandngkan untuk induk. Nutrisi yang berimbang sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan fetus. Pemberikan pakan untuk induk terdiri dari dua komponen berdasarkan kebutuhan, yaitu untuk hidup pokok dan untuk pertumbuhan dan perkembangan fetus. Kekurangan pakaninduk secara fisiologis akan meyebabkan induk ternak tersebut membongkar persediaan makanan dalam tubuhnya, yaitu tenunan. Proses pembongkaran tenunan terjadi secara berturut turut dengan urutan sebagai berikut : 1. Tenunan lemak, lemak subkutan dan lain-lain akan dibongkar sehingga induk menjadi kurus. 2. Tenunan otot atau muskulatur, yang akan berakibat induk akan mengalami myotrophi. 3. Tenunan tulang, yang akan menyebabkan induk akan mengalami dekalsifikasi. 4. Tenunan syaraf, berakibat induk akan mengalami neuro-degenerasi. Penanganan Ternak Bunting Pada saat diketahui seekor atau sekelompok ternak bunting, sebaiknya segera ternak tersebut ditempatkan pada kandang yang mendukung perkembangan fetus untuk menghindari

terjadinya abortus. Langkah-langkah yang harus dilakukan terhadap ternak bunting adalah sebagai berikut : 1. Ternak bunting dipisahkan dari pejantan. 2. Pelihara ternak bunting dengan hati-hati. Hindari penggunaan feed additive atau obat yang dapat mengganggu pertumbuhan fetus. Lakukan vaksinasi. Siapkan tindakan pembedahan/operasi. Sediakan tempat exercise/jalan-jalan.

3. Penghentian pemerahan (kering kandang) Pada sapi : kering kandang dilakukan minimal dua bulan sebelum melahirkan. Kegunaan kering kandang adalah agar kelenjar ambing memulai involusi dan acini secretoris ambing dipersiapkan untuk berfungsi kembali. Selama periode kering kandang betina bunting dipersiapkan memperbaiki metabolisme untuk pertumbuhan fetus. 4. Pemberian pakan yang berimbang Pakan yang diberikan untuk induk digunakan untuk hidup pokok dan perkembangan fetus. Sebaiknya harus dihindari pakan yang dapat menyebabkan tympani (pada sapi dan domba), meteorismus (pada sapi dan domba), dan coeclic (pada kuda). Pakan yang diberikan harus cukup imbangan kalsium dan fospor. Hal tersebut disebabkan pada akhir kebuntingan kelenjar para thyroid mensekresi parathormon (PTH) yang merangsang pertumbuhan kelenjar ambing sehingga sekresi kalsium dalam air susu menyebabkan kadar kalsium dalam darah rendah sehingga menyebabkan ternak induk mengalami hipokalsemi dan timbul gejala penyakit paresis puerpuralis (milk fever). Gejala yang timbul adalah ternak berbaring dengan posisi pada satu sisi, kepala dan leher melipat ke lateral, pernafasan atau respirasi frekuen, lumpuh tidak dapat berdiri. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung magnesium. Daerah dengan tanah miskin kandungan Mg akan menyebabkan kandungan Mg pada hijauan rendah sehingga menimbulkan gejala penyakit Grass Tetani. Gejalanya adalah ternak kejangkejang (tonis/klonis), kejadian ini biasanya endemik dan sporadis.