Anda di halaman 1dari 24

BUSSINESS PLAN RPH SAPI

Oleh:

Disusun oleh: Kelompok 10 Dyno Aryadinta Mahmud Eka Fitriani Fahmi Ahmad Sayuti Fajar Maulana Fani Firman P. Putra Farid Rachman Fadila Fuad Pranata Wardana Habi Aprianto

(0910550034) (0910550036) (0910550164) (0910550166) (0910550168) (0910550169) (0910553023) (0910550179)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

BAB I PENDAHULUAN
Sejarah

Informasi Perusahaan
Nama Perusahaan Alamat Perusahaan Alamat Kantor Pemilik Perusahaan Penanggung Jawab : RPH ANTAH BERANTAH SENTOSA : Jl. Semangka Melon No. 123, Malang : Jl. Ahmad Yani No. 45, Malang : Dyno Aryadinta Mahmud : : Dyno Aryadinta Mahmud, S.Pt, M.Sc : Eka Fitriani, S.Pt, S.E : Drh. Fajar Maulana, MS, Ir. Habi Aprianto, MS : Fahmi Ahmad Sayuti, S.pt, S. E, Fuad Pranata, S.pt, S. E : Fani Firman, S.pt, S.sos, Farid Rachman, S.pt, S. sos

General Manager Manajer Keuangan Manajer Produksi Manajer Pemasaran Manajer Personalia

Informasi Tentang Bisnis yang Dijalankan : Bergerak di bidang pemotongan/ penyembelihan hewan ternak Motto Perusahaan : Kualitas pemotongan yang bersih, higenis dan masyarakat dapat mengkonsumsi daging yang aman, sehat, utuh, dan halal adalah prioritas kami.

RANGKUMAN EKSEKUTIF

Suatu industri daging dan pengolahannya merupakan salah satu cabang industri pemenuhan sumber makanan bagi manusia baik itu yang berupa daging mentah maupun yang telah diolah. Dalam proses pemenuhannya saling terkait dengan suatu teknik dimana proses daging tersebut didapat kemudian diolah. Teknik yang dimaksud yakni teknik pemotongan dari ternak, dimana teknik pemotongan merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah daging yang dihasilkan baik seperti tujuannya yaitu untuk menghasilkan daging yang ASUH. Sebagai suatu usaha peternakan, RPH berfungsi sebagai tempat pemotongan ternak untuk dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, RPH melindungi konsumen terhadap kehalalan ternak yang dipotong, kesehatan daging, dan menjaga kualitas daging yang dihasilkan. Dalam proses pemotongan/ penyembelihan hewan, banyak hal yang harus diperhatikan, antara lain kesehatan ternak dan tempat pemotongan yang layak. Hal ini penting sekali diperhatikan, tidak saja pemotongan dilakukan menurut syariat Islam, tetapi juga harus dipertimbangkan segi kehewanannya (animal welfare). Jadi tidak asal menyembelih. Untuk siap diedarkan pada konsumen, banyak hal yang perlu dicermati. Dalam usaha ini terdapat beberapa penanggungjawab, yang telah diberikan kepercayaan untuk melaksanakn tugas personal sesuai bidang masing-masing, rinciannya adalah sebagai berikut: General manager : Dyno Aryadinta Mahmud, S.Pt, M. Sc

Peran dari general manager disini adalah untuk memberikan wewenang dan pengesahan terhadap apa saja yang berhubungan dengan usahanya, baik dari pihak internal, maupun dengan pihak eksternal. Manajer Keuangan : Eka Fitriani, S.Pt, S.E

Peran dari manajer keuangan adalah untuk mengatur sumber dana untuk menjalankan usaha, serta pemasukan maupun pengeluaran yang terjadi dalam usaha tersebut. Disamping itu bagian keuangan juga mengatur peminjaman uang untuk modal usaha, yang digunakan untuk menjalankan usaha.

Manajer Produksi

: Drh. Fajar Maulana, MS, Ir. Habi Aprianto, MS

Peran dari manajer produksi adalah mengatur tentang jalannya usaha, khususnya yang berhubungan dengan pemilihan sapi yang akan disembelih/ dipotong, dalam hal ini meliputi berat badan, jenis sapi, kualitas daging, penanganan sapi setelah disembelih, pemeriksaan kesehatan sebelum disembelih, kesejahteraan sapi dan lain-lain Manajer Pemasaran : Fahmi Ahmad Sayuti, S.pt, S. E, Fuad Pranata, S.pt, S. E

Peran dari manajer pemasaran adalah untuk mencari dan menganalisis pasar yang cocok untuk memasarkan produk yang dihasilkan, serta mengembangkan strategi-strategi usaha yang sesuai sehingga produk yang dipasarkan dapat diterima di masyarakat berbagai kalangan. Manajer Personalia : Fani Firman, S.pt, S.sos, Farid Rachman, S.pt, S. sos

Peran dari manajer personalia adalah untuk meninjau kinerja pegawai, penerimaan pegawai serta sebagai penimbang dalam kenaikan gaji maupun kenaikan jabatan. Dengan kata lain manajer personalia bertugas sebagai penghubung antara pegawai dengan pimpinan perusahaan. Proses hasil dari usaha ini adalah untuk memberikan jaminan keamanan, kualitas dan mutu daging yang dihasilkan, termasuk kehalalan, dalam rangka memberikan perlindungan terhadap konsumen, serta turut menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.

BAB III

VISI DAN MISI


Visi dari perusahaan ini adalah untuk meningkatkan pelayanan masyarakat melalui pelayanan maksimal yang berorientasi kepada kepuasan masyarakat dalam penyediaan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal). Misi dari perusahaan ini adalah sebagai berikut: Meningkatkan kinerja dan Sumber Daya Manusia (SDM), agar dapat memberikan pelayanan maksimal dalam penyediaan daging yang higenis bagi masyarakat Menjaga kelestarian lingkungan terhadap pencemaran limbah Membuka lapangan pekerjaan dan menjamin kesejahteraan karayawan Segmen industri yang dituju untuk menjalankan usaha ini adalah dengan penerapan product safety ditujukan untuk memberikan jaminan keamanan dan mutu daging yang dihasilkan, termasuk kehalalan, dalam rangka memberikan perlindungan terhadap konsumen, serta turut menjaga kesehatan manusia dan lingkungan. Selain itu, usaha ini juga memberikan pengawasan dan pengendalian penyakit hewan dan zoonosis. Dan kami berani menjamin bahwa kami selalu berkomitmen dan jujur dalam penyembelihan/ pemotongan sapi , serta mengutamakan kepuasan konsumen, kami juga siap untuk mengganti rugi jika nanti ada kekeliruan dalam proses pnyembelihan/ pemotongan sapi, dengan menggantinya dengan hasil yang lebih baik.

BAB IV

ANALISIS INDUSTRI
Disadari bahwa penyediaan daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) sudah merupakan tuntutan kebutuhan masyarakat. Sementara kondisi sarana prasarana dan proses produksi daging di Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di Indonesia mayoritas dalam kondisi kurang layak dalam pemenuhan persyaratan teknis untuk menghasilkan daging yang ASUH. Prespektif masa depan usaha ini juga cukup baik, disamping segi keuntungan dalam bidang perindustrian juga ikut membantu meningkatkan mutu daging yang Aman, Sehat, Utuh, Halal untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Dalam segi persaingan dalam usaha RPH ini mengacu pada kualitas pemenuhan pemotongan/ penyembelihan hewan ternak khususnya sapi, penanganan sebelum dan sapi disembelih, sarana prasarana yang ada. Di Indonesia sendiri mayoritas RPH yang ada kurang memenuhi dalam persyaratan untuk menghasilkan kualitas daging yang aman, sehat, utuh dan halal untuk dikonsumsi sehingga persaingan masih minim karena RPH yang ada belum memenuhi standar yang ditetapkan dan industri ini memungkinkan perusahaan besar yang terbentuk bisa menguasai pasar. Dalam segi segmentasi pasar, permintaan akan pemotongan hewan ternak khususnya sapi akan meningkat dalam setiap tahunnya. Ini dikarenakan banyaknya masyarakat memilih cara praktis untuk mengkonsumsi daging tanpa adanya kerumitan seperti menyembelih, menguliti, mengeluarkan organ dalam ternak dll. Untuk itu perusahaan yang akan kami kembangkan ini, tidak hanya menerima penyembelihan dalam skala besar saja, kami juga akan menerima penyembelihan ternak dalam skala kecil seperti halnya pedagang daging di pasar. Akan tetapi yang menjadi target kami adalah penyembelihan dalam skala besar seperti perusahaan makanan, restoran, hotel dll Untuk kedepannya kualitas penyembelihan yang kami hasilkan akan diakui di Indonesia karena kami mementingkan hasil yang teliti dalam penyembelihan dan akan menjadi RPH yang bisa disejajarkan dengan RPH di luar negeri yang lebih canggih.

BAB V

DESKRIPSI USAHA
Deskripsi usaha yang mencakup produk yang dihasilkan : 1. Produk RPH Antah Berantah Sentosa menyediakan pelayanan dalam pemotongan ternak. Namun juga melayani penjualan daging sapi, kulit dan limbah dari pemotongan ternak sapi lainnya. Harga produk sewaktu-sewaktu bisa berubah karena pasar, namun RPH memberikan harga dasar eceran terendah untuk penjualan daging. 2. Jasa pelayanan RPH Antah Berantah Sentosa memberikan pelayanan di bidang pemotongan ternak khususnya kepada para jagal, juga kepada masyarakat umum (potongan hajad) dan sebagai tempat belajar bagi siswa/ mahasiswa yang ingin mempelajari cara pemotongan maupun kegiatan yang ada di RPH Antah Berantah Sentosa. Adapun pelayanan yang tersedia di RPH Antah Berantah Sentosa adalah sebagai berikut : 1. Pelayanan pemotongan ternak. 2. Pelayanan pada mahasiswa dan pelajar.

Persyaratan pelayanan baik administrasi maupun teknis yaitu : a. Pelayanan Pemotongan Ternak. Syaratnya : - Ternak yang akan dipotong harus sudah diperiksa kesehatannya (ante morten). - Sebelum pemotongan harus membayar Biaya potong ternak terlebih dahulu. b. Pelayanan mahasiswa dan pelajar untuk Praktek Kerja Lapang dan Praktikum Syaratnya : - Membuat surat dari sekolah/ fakultas ditujukan kepada RPH Antah Berantah Sentosa. - Harus ijin pada Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat

Biaya atau tarif pelayanan pada RPH Antah Berantah Sentosa 1. Biaya pemotongan ternak sapi Rp. 30.000,00/ekor 2. Biaya pemotongan ternak sapi diluar jam pemotongan atau terpaksa

Rp.40.000,00/ekor

3. Biaya penitipan ternak sapi Rp. 5.000,00/petak per hari 4. Mahasiswa / pelajar, PKL dan praktikum tidak dipungut biaya.

Tata cara pembayaran Biaya/ tarip tersebut diatas berdasarkan Peraturan Walikota Malang Nomor 19 Tahun 2006 tanggal 1 Agustus 2006. Cara pembayaran dilakukan sebelum pemotongan hewan pada kasir RPH Antah Berantah Sentosa

Waktu penyelesaian pelayanan : Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong 5 menit Pemotongan hewan 10 s/d 20 menit Pemeriksaan setelah hewan dipotong 5 menit Waktu pelayanan pemotongan hewan disediakan mulai pk. 23.00 s/d pk. 06.00 WIB (selama 7 jam) Waktu penyelesaian pelayanan untuk pelajar dan mahasiswa dapat dilayani sesuai dengan kebutuhan dan permintaan : Jadi bisa : 1 6 hari untuk praktikum 1 2 minggu untuk koasistensi 1 3 bulan untuk PKL 1 6 bulan untuk skripsi 3. Personalia - Dokter hewan yang bertanggung jawab untuk kelayakan daging yang dikonsumsi - Petugas pemeriksa daging (Keurmester) - Petugas yang menyediakan peralatan / sarana pemotongan hewan - Modin / pemotong hewan secara muslim - Petugas sanitasi / pembersih Rumah Pemotongan Hewan - Petugas penyelesaian pemotongan hewan

4. Peralatan Kantor Sarana dan prasarana yang disediakan untuk petugas pelayanan yaitu : - Ruangan khusus / loket pengaduan - Alat tulis kantor dan peralatan yang terkait dengan kegiatan di RPH Antah Berantah Sentosa.

- Kendaraan sebagai sarana transportasi dan alat angkut - Alat komunikasi / telepon - Pakaian kerja dan sepatu lapangan

5. Latar Belakang Pengusaha Pengusaha daging / jagal harus mengajukan izin untuk memotong hewan ke Dinas Pertanian bidang Peternakan, setelah itu RPH Antah Berantah Sentosa melayani dalam hal penyediaan fasilitas pemotongan hewan.

BAB VI

RENCANA PRODUKSI
Rencana produksi yang mencakup : 1. Pemilihan lokasi Berdasarkan standar yang ada (Maberry,1972) untuk bangunan berstruktur masih dapat dibangun pada lahan dengan kemiringan maksimal 30 persen. Dalam mengukur kemampuan lahan berkenaan dengan rencana pembangunan sarana RPH, unsur topografi adalah faktor penting, sebab kondisinya menunjukkan kestabilan lereng, bentuk morfologi daratan, menentukan arah drainase dan sebagai indikator daerah rawan erosi. Aspek geologi merupakan salah satu faktor penentu lainnya dalam mengukur kemampuan fisik lahan untuk mendukung bangunan di atasnya, berdasarkan kriteria kondisi geologi yang berlaku umum. Permukaan debit air tanah di lokasi RPH sebaiknya adalah 1 hingga 3 liter/detik dengan kedalaman kurang lebih 100 meter dan memiliki kualitas cukup baik (tidak terasa dan tidak berbau). Berdasarkan hal tersebut, maka dari ketersediaan air tanah untuk keperluan perasional RPH tidak terdapat hambatan. Vegetasi yang tumbuh di lokasi RPH, dimaksudkan dalam kaitannya dengan upaya pengendalian erosi dan peredam bau yang berasal dari lokasi RPH. Lebih lanjut, keberadaan vegetasi juga berguna sebagai makanan bagi ternak sapi apabila RPH dipadukan dengan areal penggemukan ternak. Jenis tanaman yang diharapkan dapat mendukung lingkungan di lokasi RPH adalah tanaman penutup yang dapat mencegah terlepasnya agregat tanah dan tanaman keras untuk mencegah terjadinya longsor serta berfungsi juga sebagai barrier pencemaran udara dari RPH ke lingkungan sekitarnya. Jenis vegetasi tertentu juga berfungi sebagai buffer zone kegiatan RPH adalah jenis tanaman perdu dan pembatas, termasuk tanaman keras, semak belukar dan kebun campuran. Aspek lingkungan hidup sangat diperlukan pula untuk dianalisis kelayakannya, dalam hal ini mengacu pada analisis AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL perlu dilakukan dengan alasan antara lain : 1). UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 2). Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 555/kpts/TN/240/1986 tentang Syaratsyarat RPH dan Usaha Pemotongan Hewan 3). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner.

Berdasarkan ketiga ketentuan hukum tersebut dan tipe RPH yang akan dikembangkan, maka pendirian RPH Antah Berantah Sentosa mengikuti AMDAL. Hal ini bertujuan agar untuk memperhatikan kualitas lingkungan dan tidak hanya mengkalkulasi keuntungan ekonomis proyek saja tetapi mengabaikan dampak samping yang ditimbulkan kepada semua sumber daya. Lokasi RPH Antah Berantah Sentosa berjarak 4 km dari rumah penduduk. Hal ini dilakukan agar pencemaran harus ditekan/dikurangi agar limbah yang dihasilkan berada pada baku mutu yang telah ditetapkan.

Persyaratan Teknis Lokasi RPH RPH yang akan dibangun tergolong dalam RPH tipe A. Adapun persyaratanpersyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut : (1). Jaraknya kurang lebih 2 3 km dari pemukiman penduduk (2). Mudah dicapai kendaraan untuk pengangkutan hewan, daging,produksi lain dan orang. (3). Tersedia sumber/pasokan air segar yang memadai dengan tekanan cukup tinggi, 200 galon/hari/ekor sapi dewasa, air harus dapat diminum (potable) dan memenuhi standar baku internasional untuk air minum WHO 1977 (untuk air berkaporit tidak mengandung bakteri coliform atau E-coli dalam 100 ml). (4). Tersedia fasilitas pengolahan/penimbunan/pembuangan limbah padat seperti isi perut, kulit, tulang dan darah serta limbah cair. (5). Tersedia fasilitas listrik untuk penerangan, alat penggerak dan alat pendingin. (6). Lokasi RPH harus tidak membahayakan kesehatan atau keselamatan masyarakat, tidak mengganggu ketenangan atau menumbuhkan kebisingan lokal. (7). Pagar atau dinding tembok keliling harus kuat, tidak mudah rusak oleh ternak/sapi (stock proof).

Secara umum kondisi RPH yang direncanakan adalah sebagai berikut: (1). Memiliki kapasitas sekitar 20.000 ekor sapi/tahun atau 1.650 ekor sapi/bulan; atau sekitar 85 ekor sapi/hari. (2). Areal lahan bangunan RPH yang dibutuhkan seluas tiga hektar. (3). Waktu tempuh untuk transportasi daging segar maksimum pada radius tiga jam pengangkutan. (4). Sistem pemanfaatan RPH, para jagal dapat langsung mengoperasikan RPH atau dengan sistem sewa dengan memanfaatkan tenaga/petugas yang ada di RPH.

Rencana tata letak Bangunan induk RPH harus mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai RPH yaitu SNI 01-6159-1999 yang sesuai dengan standar internasional dan meliputi : (1). Bangunan Utama terdiri atas, Rumah Pemotongan (slaughter house) Kandang Penampungan Sementara (lairage) Karantina (quarantine) Tempat Penurunan Sapi (cattle ramp) Ruang Pembakaran (incenerator) Rumah Diesel (power house) Pengolaha Limbah Cair (waste water treatment) Perkantoran (office) Laboratorium (laboratory) Gang-gang disekitar RPH (gangway) (2). Bangunan Pendukung terdiri atas, Gudang (workshop) Garasi (garage) Pos Jaga (guard house) Perumahan (housing) Kantin (canteen) Ruang Istirahat (rest room) Tempat Ibadah (prayer place) (3). Infrastruktur terdiri atas, Jalan-jalan dan Areal Parkir (roads and parking) Tower Tempat Air (water plant) Pagar/Tembok Pembatas (yard fencing)

2. Proses produksi 3. Keadaan gedung

Persyaratan Bangunan RPH (1). Bangunan harus berventilasi cukup, tahan terhadap serangga lalat dan binatang kecil serangga pengganggu seperti rayap, semut dan lain-lain.

(2). Lantai beton atau bahan lain kedap air, tidak licin, tahan arus dan karat (untuk logam) dengan kemiringan lantai satu inchi (2,5 cm) untuk drainase. (3). Permukaan dinding bagian dalam ruang RPH harus dilapisi bahan licin/halus dan keras, kedap air (1,8 mm), mudah dibersihkan dan 17 berwarna terang. Semua sudut dan pojok antara lantai, tembok yang satu dengan lainnya harus membulat. (4). Permukaan langit-langit (plafon) dilapisi bahan kedap air, tahan debu, mudah dicuci, tinggi minimal 30 cm di atas peralatan permanen dan dari lantai kurang lebih lima meter. (5). Penerangan, minimal 20 fc (foot candle) untuk ruang pemotongan dan 50 fc untuk ruang pemeriksaan daging. Jendela cukup besar untuk penyinaran dan ventilasi memadai, berbingkai metal dan tahan karat, jika terbuat dari kaca ambang jendela bagian dalam harus miring. (6). Panggung (platform), tangga, bangunan miring untuk peluncur (chute), meja dan semua peralatan terbuat dari logam tahan karat (stainless steel). (7). Semua bagian luar pintu keluar masuk harus dilapisi dengan bahan yang halus, bahan tahan karat (stainless steel), dan kedap air bukan dari kayu. (8). Rel untuk menggantung karkas harus berjarak satu meter dari dinding terdekat. (9). Semua ruangan tempat penanganan karkas, daging dan produk hewan, tempat cuci harus dilengkapi dengan sabun dan tissue. Strerilisasi pisau dan gergaji harus ditentukan pada posisi yang tepat. Air panas (suhu minimal 82 C), untuk sterilisasi harus selalu tersedia selama jam kerja. (10). Tidak boleh ada pintu dari fasilitas toilet (wc) yang menghadap atau membuka ke dalam ruang pemotongan atau ke tempat penanganan karkas atau daging. (11). Tempat pemisahan sapi (stunning box) harus dibuat dari bahan yang mudah disterilisasi, jika terbuat dari logam maka bahannya harus tahan karat. (12). Terdapat areal terpisah untuk penyembelihan (bleeding), pengerjaan karkas (carcass dressing), pembersihan hasil ikutan karkas (offals), dan penempatannya. (13). Terdapat ruang afkiran (condemen meat) dengan luas proporsional dengan jumlah karkas yang diproses/dihasilkan (turn over) tiap hari. (14). Kapasitas ruang pendingin (chilling room) untuk pelayuan (ageing) sesuai dengan besarnya pasokan daging selama tiga hari sebagai tambahan untuk cold storage. (15). Persyaratan ruang pendinginan karkas dan daging : Suhu ruangan untuk pendinginan awal karkas segar adalah 1C - 2C. Suhu ruang chilling carcass 1C - 5C

Suhu ruang pembekuan daging (blast freezer) - 25C (24 jam). (16). Ruangan untuk penanganan dan penyimpanan kulit baru yang masih berbulu (hide) dan kulit yang sudah bersih/tanpa bulu (skin) harus jauh 18 dari ruang pemotongan utama dan ruang pendingin/penyimpanan daging. Bagian dalam kulit yang disimpan ditaburi garam. (17). Ruangan penanganan jeroan (isi perut), darah, hasil sampingan karkas (offalls) harus terpisah dari ruang pemotongan utama. (18). Diperlukan sebuah ruangan isolasi tersendiri untuk pemotongan darurat akibat kecelakaan.

4. Mesin dan perlengkapan Peralatan untuk pelaksanaan proses pemotongan hewan antara lain : - Ring untuk tempat mengikat hewan - Wandlier / katrol - Roda gantung dan jangkar - Gerobak jerohan - Bantalan sapi - Meja daging - Bak air panas - Meja galar - meja jepit

5. Sumber bahan baku Sumber ternak sapi berasal dari daerah sekitar Malang

BAB VII RENCANA PEMASARAN

Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Beranbtah Sentosa ini setiap harinya memotong sapi sebanyak 50 ekor/hari dan pada hari-hari tertentu, seperti Idul Fitri dapat mencapai 200 ekor/hari. Pemasaran daging dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Dari hasil ini dapat dilihat segmen pasar atau target konsumen berada pada daerah malang dan daerah sekitar malang. Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Beranbtah Sentosa segmentasi target pemasaran didaerah malang raya, terutama ke pasar tradisional, pabrik pengolahan daging(naget, sosis,kornet), penjual bakso, dan pasar tradisional maupun pasar modern. Pemasran di pasar modern daging dibuat grade dikelompokan dan dibungkus rapi diberi lebel, sedangkan pemasaran di pasar tradisional daging diambil oleh penjual/ jagal, daging dalam kondisi segar dan dalam bentuk potongan besar. Promosi daging Untuk memperluas pemasaran dan pengenalan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Berantah Sentosa, dilakukan dengan dengan membuat website tentang tujuan, sarana prasarana, serta pengolahan dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah

Berantah Sentosa. Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Berantah Sentosa juga bekerjasama dengan universitas peternakan seluruh malang untuk melakukan kegiatan studi banding guna berbagi pengetahuan. Pemasaran dikalangan masyarakat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Beranbtah Sentosa bekerja sama dengan kelompok ibu PKK dengan mengadakan demo memasak dengan bahan utama daging sapi, serta mengadakan perlombaan mengolah daging sapi menjadi makanan yang bergizi dan disukai. Kendaraan Pengangkut Daging Dalam proses pemasaran daging tersebut diperlukan suatu kendaraan pengangkut daging. Pada Rumah Pemotongan Hewan (RPH) UD.Antah Berantah Sentosa ini kendaraan pengangkut daging terpisah dengan kendaraan pengangkut ternak, sehingga daging yang akan dipasarkan bersih dari mikroba. Kendaraan pengangkut daging pada RPH ini adalah mobil boks yang tertutup agar daging yang akan dipasarkan terjaga kebersihannya.

BAB VIII PERENCANAAN ORGANISASI

Kepemilikan usaha ini adalah kepemilikan tunggal, yang mana membawahi beberapa manajer, di antaranya adalah manajer keuangan, manajer produksi, manajer pemasaran dan manajer personalia.

GENERAL MANAGER

Manajer Keuangan

Manajer Produksi

Manajer Pemasaran

Manajer Personalia

Dalam usaha ini terdapat beberapa penanggungjawab, yang telah diberikan kepercayaan untuk melaksanakn tugas personal sesuai bidang masing-masing, rinciannya adalah sebagai berikut: Peran dari general manager disini adalah untuk memberikan wewenang dan pengesahan terhadap apa saja yang berhubungan dengan usahanya, baik dari pihak internal, maupun dengan pihak eksternal. Peran dari manajer keuangan adalah untuk mengatur sumber dana untuk menjalankan usaha, serta pemasukan maupun pengeluaran yang terjadi dalam usaha tersebut. Disamping itu bagian keuangan juga mengatur peminjaman uang untuk modal usaha, yang digunakan untuk menjalankan usaha. Peran dari manajer produksi adalah mengatur tentang jalannya usaha, khususnya yang berhubungan dengan pemilihan sapi yang akan disembelih/ dipotong, dalam hal ini meliputi berat badan, jenis sapi, kualitas daging, penanganan sapi setelah disembelih, pemeriksaan kesehatan sebelum disembelih, kesejahteraan sapi dan lain-lain Peran dari manajer pemasaran adalah untuk mencari dan menganalisis pasar yang cocok untuk memasarkan produk yang dihasilkan, serta mengembangkan strategi-strategi usaha yang sesuai sehingga produk yang dipasarkan dapat diterima di masyarakat berbagai kalangan. Peran dari manajer personalia adalah untuk meninjau kinerja pegawai, penerimaan pegawai serta sebagai penimbang dalam kenaikan gaji maupun kenaikan jabatan. Dengan

kata lain manajer personalia bertugas sebagai penghubung antara pegawai dengan pimpinan perusahaan. Perusahaan ini bekerjasama dengan peternakan sapi, baik peternakan dalam skala besar maupun kecil di berbagai lokasi juga bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan agar selalu memantau dan mengawasi dari penyembelihan ternak sapi tersebut.

BAB IX RESIKO

RPH Antah Berantah Sentosa yang berlokasi di Kab. Malang ini memiliki suatu kelamahan dan ancaman yang sama seperti RPH pada lainnya, oleh karena itu RPH Antah Berantah Sentosa memerlukan analisis SWOT sebagai acuan perusahaan kami untuk meminimalisirkan segala resiko yang akan dihadapi : 1. Kekuatan (Stength) Antah Berantah Sentosa ingin memiliki kekuatan dan izin dari badan hukum dibawah Dinas Perhubungan dan Perdagangan Kabupaten Malang JAWA TIMUR sehingga RPH Antah Berantah Sentosa akan memiliki kekuatan dibawah badan hukum negara, oleh karena itu segala aktifitas atau kegiatan usaha RPH Antah Berantah Sentosa yang berlokasi di Kab. Malang berada dibawah pengawasan badan pemerintah kabupaten setempat. 2. Kelemahan (Weakness) RPH Antah Berantah Sentosa yang berlokasi di Kab. Malang sedemikian rupa berusaha untuk meminimalisirkan segala kelemahan yang ada pada usaha yang akan kami dirikan, kelemahan yang selama ini dilihat dari RPH yang biasa dijadikan sebagai kelemahan adalah kontrol kesehatan hewan atau ternak yang masuk ke RPH, oleh karena itu RPH Antah Berantah Sentosa yang berlokasi yang akan kami dirikan ini berusaha meminimalisirkan kelemahan tersebut agar kualitas karkas yang akan dihasilkan sehingga masyarakat mendapatkankan produk yang berkualitas dan aman dari kontaminasi dari food born disease. 3. Kesempatan (Opportunity) RPH Antah Berantah Sentosa yang akan didirikan sangat memanfaatkan segala kesempatan yang ada disekitar lokasi yang akan kami dirikan sebagai usaha, kesempatan tersebut adalah sebagai upaya peningkatan kualitas daging dikabupaten malang yang disebabkan oleh cara pemotongan didaerah tersebut yang belum memenuhi prosedur akibat pemotongan para peternak yang tidak melalui RPH.

4. Ancaman

Ancaman yang kami prediksi dalam pendirian RPH adalah penentangan dari pihak masyarakat, dan isu-isu persaingan dari RPH yang sudah ada sehingga hal tersebut harus diprediksi dari awal pendirian. Dari pemaparan analisis SWOT dan kemungkinan segala resiko dan kelemahan yang kemungkinan akan muncul pada saat pendirian usaha hal tersebut harus dijadikan sebagai bahan evaluasi tim kami untuk menjadikan usaha Antah Berantah Sentosa yang berlokasi sebagai usaha yang meliki kekuatan dalam menghadapi segala ancaman yang mungkin akan terjadi. Dalam seluruh proses kegiatan produksi di RPH Antah Berantah Sentosa akan menggunakan teknologi yang mendukung segala kegiatan seperti mesin pendingin, Alat pengontrol suhu pada setiap ruangan, alat timbangan digital untuk ternak. Alat-alat tersebut dipakai untuk memudahkan segala proses produksi pada rencana usaha kami agar berjalan dengan lancar.

BAB X

PERENCANAAN KEUANGAN
Biaya Inventasi 1. Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan sewa lahannya. 2. Jumlah sapi yang bisa ditampung 50 ekor ( rata rata 50 ekor disembelih per hari) 500 kg x 30.000 x 50 = Rp. .750.000.000

3. Pembelian dan konstruksi Kandang tampung + Kandang Karantina = Rp. 100.000.000

4. Pembuatan konstruksi ruang ( kantor+kamar mandi+ laboratorium klinis+gedung aula+pos penjaga) 5. Pembuatan ruang ( = Rp. 500.000.000 karkas+jerohan&kulit serta

penyembelihan+pemisahan

darah+pelayuan+pemotongan daging+transaksi penjualannya) = Rp. 1.000.000.000 6. Peralatan konstruksi ruang (dalam) 7. Tenaga kerja ( 5 jagal dan 10 karyawan) 8. Biaya air dan listrik = Rp. = Rp. = Rp. 500.000.000 30.000.000/bulan. 6.000.000/bulan.

9. Biaya pakan sapi (pemberian minum adlibitum) = Rp. 5.000.000/bulan.

10. Penyusutan konstruksi bangunan (luar dalam) 20%/tahun 11. Penyusutan peralatan 5%/tahun.

Biaya Investasi

1. Pembelian Kandang 2. Pembuatan konstruksi ruang 3. Peralatan konstruksi ruang (dalam) 4. Pembuatan ruang (proses sapi olahan)

= Rp. = Rp. = Rp.

100.000.000 500.000.000 500.000.000

= Rp. 1.000.000.000 + = Rp. 2.100.000.000

Biaya Variabel

1. Jumlah sapi yang bisa ditampung 50 ekor = Rp. 750.000.000/hari 2. Biaya air dan listrik = Rp. 6.000.000/bulan. + = Rp. 273.820.000.000

Biaya Tetap Tenaga kerja ( 5 jagal dan 10 karyawan) =Rp. 360.000.000/tahun. 320.000.000/tahun. 25.000.000/tahun. + Total modal tetap Total Biaya Produksi Total Biaya Variabel Total modal tetap Jumlah = Rp. 273.820.000.000 = Rp. 685.000.000,Rp. 685.000.000,-

1. Penyusutan bangunan (luar dalam) 20%/tahun = Rp. 2. Penyusutan Peralatan = Rp.

= Rp.274.505.000.000,-

B. Cash Flow

1. Bobot karkas Rp 55.000 x 50 x 365 x (500 kg x 55 %) karkas = Rp. 276.031.250.000 2. Jerohan dan darah 50 x 10.000 x 365 3. Kulit 50 x 100.000 x 365 = Rp. = Rp. = Rp. 182.500.000 1.825.000.000 5.000.000

4. Limbah feses dan urine Total

= Rp. 278.043.750.000

C. Kriteria Investasi

KEUNTUNGAN Rp. 278.043.750.000 - Rp.274.505.000.000 = Rp. 3.538.750.000/tahun B / C RATIO Rp. 278.043.750.000 : Rp. Rp. 3.538.750.000 = 78,6 Artinya dalam satu tahun produksi dari setiap modal Rp.700 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatann 786 BEP = Total biaya : berat sapi total = Rp.274.505.000.000 Rp. 50.000 = Rp. 5.490.100

Konstruksi lokasi kandang yang disarankan.

10 8 7

13 6 9 5

4 2 3

12 2 11 1

Keterangan : 1. Pintu masuk 2. Gudang konsentrat 3. Gudang hijauan 4. Mesin chopper 5. Kandang sapi potong 6. Kandang sapi perah

7. Kandang kambing 8. Kandang kerbau 9. Kandang unggas 10. Kandang kuda 11. Kolam penampungan kotoran 12. Mesin pompa air

13. Kolam ikan : saluran irigasi dan kotoran dari kandang : jalur pemindahan air

PERBAILI LAGI 69 CARA MENDAPATKAN BAHAN BAKU. LOGO PERUSAHAAN SEGERA DI BUATKAN..