Anda di halaman 1dari 11

MIKROBIOLOGI

Sterilisasi dan Pembuatan Media

Oleh RISKI AMELIA NIM 12222092

DOSEN PENGAMPU FITRATUL AINI, M.Si.

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN FATAH PALEMBANG FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU KEGURUAN PRODI TADRIS BIOLOGI 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk menelaah mikroorganisme di laboratorium, kita harus dapat menumbuhkan mereka. Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melaui substrat yang disebut media. Untuk melakukan hal ini haruslah mengerti jenis-jenis nutrient yang diisyaratkan oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyedikan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Hampir semua tindakan yang dilakukan dalam diagnose mikrobiologis, sterilisasi sangat diutamakan baik alat-alat yang siap pakai maupun medianya. Suatu alat atau bahan dikatakan steril apabila alat atau bahan tersebut bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetative maupun spora. Oleh karena itu, bagi seorang pemula di bidang mikrobiologi sangat perlu mengenal teknik sterilisasi karena merupakan dasar-dasar kerja dalam laboratorium

mikrobiologi. Steril merupakan syarat mutlak keberhasilan kerja dalam mikrobiologi. Dalam melakukan sterilisasi diperlukan teknik-teknik agar sterilisasi dapat dilakukan secara sempurna, dalam arti tidak ada mikroorganisme lain yang mengkontaminasi media. Sterilisasi adalah propses untuk menjadikan alat-alat terbebas dari segala bentuk kehidupan.

1.2 Tujuan Praktikum Mengetahui cara pembuatan media dan membedakan berbagai media pertumbuhan mikroba. Mengetahui cara dan macam-macam sterilisasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air sadah sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat (Hadioetomo, 1993). Alat yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus disterilisasi terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang teradapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Hadioetomo, 1993). Sterilisasi dalam mikrobiologi bebarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat (in situ) oleh panas (kalor), gas-gas seperti formaldehyde, etilenoksida atau betapriolakton oleh bermacam-macam larutan kimia, oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi (Irianto, 2006) Sterilisasi dilakukan terhadap bahan dan alat sehingga terbebas dari kontaminasi mikroorganisme lain. Sterilisasi perlu dilakukan karena kontaminasi mikroba lain akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan sebagai berikut :

1. Kontaminan meningkatkan persaingan di dalam mengkonsumsi substrat sehingga akan mengurangi perolehan. 2. Kontaminan dapat menghambat turbiditas sehingga dapat mengacaukan pengukuran terhadap jumlah sel setiap saat. 3. Kontaminan dapat menghambat proses metabolism sel sehingga akan mengurangi perolehan (Volk & Wheeler, 1993). Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagi macam ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika. Bahan agar yang utama adalah galaktan (komplek karbohidrat yang diekstrak dari alga genus Gelidium). Agar akan larut atau cair pada suhu hampir 100oC dan akan cair apabila kurang lebih 43oC (Hadioetomo, 1993). Sterilisasi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu (Irianto, 2006): 1. 2. 3. Sterilisasi pemanaasan basah dengan menggunakan uap atau air panas Sterilisasi kering dalam tanur Pembakaran total (incineration) Berdasarkan pada ketiga cara tersebut, sterilisasi dapat dibagi dalam (Irianto, 2006) : 1. Sterilisasi Kering Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Pemijaran Pemijaran diterapkan pada ose ujung-ujung pinset dan sudip (spatula) logam b. Jilatan api (Flaming) Jilatan api diterapkan terhadap scalpel, jarum, mulut tabung biakan, kaca objek and kaca penutup. Benda-benda ini dijilatkan pada api bunsen tanpa membiarkannya memijar.

c. Tanur uap panas (Hot-Air Oven) Sebagian besar sterilisasi kering dilakukan dengan alat ini. Biasanya digunakan suhu 160-165oC selama 1 jam. Cara ini baik dilakukan terhadap alat-alat kering terbuat dari kaca, sepeti tabung reaksi, pinggan petri, labu, pipet, pinset, scalpel, gunting, kapas hapus tenggorok, alat suntik dari kaca. Juga diterapkan terhadap bahan=-bahan kering dalam tempat-tempat tertutup, bahan serbuk (talk, dermatol), lemak, minyak. 2. Sterilisasi Basah Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. a. Penggodogan dalam Air Cara ini hanya cukup untuk mematikan mikroorganisme yang tidak berspora. Memang ada spora yang tidak tahan penggodogan, tetapi endospora dari family Bacillacea ada yang tahan penggodogan selama 1-3 jam. b. Uap mengalir Uap mengalir mengalir bebas digunakan dalam tempat yang tidak tertutup rapat yang dapat menahan uap itu tanpa tekanan. Air mendidih dan uap bebas tidak pernah mencapai suhu lebih dari 100oC (121oF). uap bebas ini kadang-kadang digunakan untuk melakukan sterilisasi bertingkat atau tyndalisasi. c. Uap dalam tekanan Pensterilan dengan uap dalam tekanan dilakukan dalam autoklaf. Dalam autoklaf ini uap berada dalam keadaan jenuh dan peningkatan tekanan mengakibatakan suhu yang tercapai menjadi lebih tinggi, yaitu di bawah tekanan 15 ib (2 atmosfer). pH merupakan faktor yang sangat mempengaruhi suatu keberhasilan dalam pembuatan medium sehingga kondisi pH yang terlalu basa atau terlalu asam tidak cocok untuk dijadikan medium mikroba karena mikroba tidak dapat hidup pada kondisi tersebut. Medium didiamkan atau disimpan selama 2 x 24 jam untuk menyakinkan bahwa medium masih steril, karena selain pH sebagai penentu

tumbuhnya

mikroba,

alat

dan

medium

yang

steril

juga

menentukan

(Dwidjoseputro, 1994). Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa (Suriawati, 2005) : a. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas, dipergunakan alat bejana/ruang panas (oven dengan temperatur 170OC 180oC dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas). b. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin). c. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah mikroba).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Rabu, Tanggal 20 November 2013, Pukul 09.00-11.00 WIB di Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. Timbangan analitik 2. Gelas ukur 3. Erlenmeyer 4. Tabung reaksi 5. Kaca pengaduk 6. Autoklaf 7. Kapas 8. Alumunium foil 9. Kompor gas/listrik. 3.2.2 Bahan 1. Aquades 2. Alkohol 3. Kentang 250 gr 4. Dektrosa/gula 5. Agar-agar 3.3 Cara Kerja 3.3.1 Sterilisasi 1. Siapkan alat yang ingin disterilkan seperti cawan petri, pipet ukur, tabung reaksi dan pinset.

2. Bungkus alat-alat tersebut dengan kertas, untuk tabung reaksi tutuplah mulut tabungnya dengan kapas sampai padat, setelah itu dibaluti dengan kertas sampai rapat. 3. Alat-alat yang sudah dibungkus dimasukkan ke dalam autoklaf yang telah di isi dengan aquades. 4. Tutup kembali autoklaf dengan rapat dan tunggu hingga suhu mencapai 121oC. 5. Setelah suhu mencapai 121oC, tunggu sampai 15 menit, lalu matikan autoklaf tersebut. 6. Selanjutnya buka lubang uap yang ada pada autoklaf tersebut. Lalu ambil alat-alat yang telah dimasukkan ke dalam autoklaf tersebut dan pindahnkan ke oven.

3.3.2 Pembuatan Media 1. 2. 3. 4. Siapkan alat dan bahan Potong kentang rebus yang telah disiapkan sebanyak 200 gr. Isi beaker glass dengan 500 ml aquades, letakkan di atas hot plate. Masukkan kentang rebus yang telah dipotong ke dalam beaker glass yang telah diisi 500 ml aquades. 5. 6. Hidupkan hot plate dengan suhu 260oC. Aduk campuran kentang dan aquades hingga mendidih dan air campuran tersebut menjadi keruh kekuningan. 7. Letakkan kembali air yang telah diambil sari patinya tersebut di atas hot plate. 8. Lalu masukkan agar 15 gr dan gula 10 gr. Kemudian aduk hingga menjadi larutan yang homogeny. Dan masukkan kedalam Erlenmeyer. 9. Biarkan karutan tersebut menjadi dingin dan padat.

10. Selanjutnya tutup Erlenmeyer dengan kapas dan dibalut dengan kain kasa. 11. Masukkan ke dalam autoklaf untuk disterilkan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Sterilisasi

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dasil hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa untuk mensterilisasikan alat-alat laboratorium dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang bernama autoklaf dan mengetahui cara pembuatan media dan membedakan berbagai pertumbuhan mikroba.

5.2 Saran Pada praktikum sterilisasi dan pembuatan media ini diharapkan mahasiswa agar dapat berhati-hati dalam menggunakan alat yang akan menjadi alat dalam praktikum yang akan dilaksanakan, karena terdapat beberapa alat yang berbahan dari kaca dan menggunakan listrik.

DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi. Bandung : Yrama Widya