Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Nyeri merupakan problem yang sering terjdi pada orang yang selalu melakiukan aktivitas, contohnya pada pekerja industri, pekerja yang melakukan gerakan tubuh,seperti tangan, kaki, dan yang lainnya secara berulang tanpa istirahat, serta penyakit yang timbul akibat proses penuaan atau degeneras. Nyeri sangat mengganggu aktivitas seseorang yang melibatkan gerakan tersebut, sehingga mengalami hambatan dalam melakukan pekerjaan seharihari. Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara otomatis neri (nosireceptor). Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nyeri tidak memandang usia ataupun jenis kelamin, jadi siapa saja pun pasti bisa terkena serangan nyeri. Setiap individu pasti pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan kesehatan. Walaupun merupakan salah satu dari gejala yang paling sering

terjadi di bidang medis, nyeri merupakan salah satu yang paling sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri merasa menderita dan mencari upaya untuk menghilangkannya. Perawat meggunakan berbagai intervensi untuk dapat menghilangkan nyeri tersebut dan mengembalikan kenyamanan pasien. Perawat tidak dapat melihat dan merasakan nyeri yang dialami oleh pasien karena nyeri bersifat subjektif. Tidak ada dua individu yang mengalami nyeri yang sama dan tidak ada kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon yang identik pada seseorang. Sangat sulit untuk mengukur rasa nyeri,karena derajat nyeri yang dialami seseorang tidak hanya bergantung pada stimulus dan persepsinya, tetapi juga pada interpretasi yang bersangkutan. Nyeri merupakan suatu

kondisi yang lebih dari pada sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan individual. Selain itu nyeri juga bersifat tidak menyenangkan, sesuatu kekuatan yang mendominasi,dan bersifat tidak berkesudahan. Stimulus nyeri dapat bersifat fisik dan/atau mental, dan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang. Nyeri melelahkan dan menuntut energi seseorang sehingga dapat mengganggu hubungan personal dan mempengaruhi makna kehidupan. Nyeri tidak dapat diukur secara objektif, seperti menggunakan sinar-X atau pemeriksaan darah. Walaupun tipe nyeri tertentu menimbulkan gejala yang dapat diprediksi,sering kali perawat mengkaji nyeri dari kata-kata, prilaku ataupun respons yang diberikan oleh pasien. hanya pasien yang tahu apakah terdapat nyeri dan seperti

apa nyeri tersebut. Seiring dengan peningkatan usia harapan hidup, lebih banyak orang mengalami penyakit kronik degan nyeri yang merupakan gejala umum. B. Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah: a. Untuk mengetahui tentang Nyeri b. Untuk mengetahui pengobatan nyeri C. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut: a. Apa yang dimaksud dengan nyeri? b. Bagaimana cara pencegahan nyeri?

BAB II ISI A. Defenisi Nyeri merupakan Perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat.yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain, mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan perubahan hidup seseorang. Nyeri merupakan tanda dan gejala penting yang dapat menunjukkan telah terjadinya gangguan fisiologikal. Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari pada sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan individual. Selain itu nyeri juga bersifat tidak menyenangkan, sesuatu kekuatan yang mendominasi,dan bersifat tidak berkesudahan. Stimulus nyeri dapat bersifat fisik dan/ataumental, dan kerusakan dapat terjadi pada jaringan aktual atau pada fungsi egoseseorang. Nyeri melelahkan dan menuntut energi seseorang sehingga dapat mengganggu hubungan personal dan mempengaruhi makna kehidupan. Nyeri tidak dapat diukur secara objektif, seperti menggunakan sinar-X atau pemeriksaan darah. Walaupun tipe nyeri tertentu menimbulkan gejala yang dapat diprediksi,sering kali perawat mengkaji nyeri dari kata-kata, prilaku ataupun respons yang diberikan oleh pasien. Hanya pasien yang tahu apakah terdapat nyeri dan seperti apa nyeri tersebut. Untuk membantu seorang pasien dalam upaya menghilangkan nyeri maka perawat harus yakin dahulu bahwa nyeri itu memang ada. Nyeri merupakan mekanisme fisiologis yang bertujuan untuk melindungi diri.

Apabila seseorang merasakan nyeri , maka prilakunya akan berubah.Misalnya, seseorang yang kakinya terkilir pasti akan menghindari aktivitas mengangkat barang yang memberikan beban penuh pada kakinya untuk mencegah cedera lebih lanjut.

B. Mekanisme Nyeri Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan jaringan dalam saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan disusun saraf pusat. Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri dapat berupa rangsangan mekanik, suhu (panas atau dingin) dan agen kimiawi yang dilepaskan karena trauma/inflamasi. Fenomena nyeri timbul karena adanya kemampuan system saraf untuk mengubah berbagai stimuli mekanik, kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke system saraf pusat. Berdasarkan patofisiologinya nyeri terbagi dalam: 1. Nyeri nosiseptif atau nyeri inflamasi, yaitu nyeri yang timbul akibat adanya stimulus mekanis terhadap nosiseptor. 2. Nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang timbul akibat disfungsi primer pada system saraf ( neliola, et at, 2000 ).

3. Nyeri idiopatik, nyeri di mana kelainan patologik tidak dapat ditemukan.

C. Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri 1) Usia Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan. 2) Jenis kelamin Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri). 3) Kultur Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri. 4) Makna nyeri Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

5) Perhatian Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri. 6) Ansietas Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas. 7) Pengalaman masa lalu Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

D. Presentase Klinis Sebuah sejarah yang komprehensif dan pemeriksaan fisik yang diperlukan untuk mengevaluasi penyakit yang mendasari dan faktor mungkin. Penjelasan dasar rasa sakit dapat diperoleh dengan menilai karakteristik pqrst (paliatif dan faktor provokatif, kualitas, radiasi, tingkat keparahan, dan faktor temporal). Perhatian harus diberikan pada faktor mental yang dapat menurunkan ambang nyeri (kecemasan, dapression, kelelahan, marah, takut).

Perilaku, kognitif, sosial, dan budaya, faktor juga dapat affent pengalaman nyeri. Nyeri nociceptive sering akut, lokal, baik dijelaskan, dan lega dengan analgesik konvensional. Nyeri somatik asually hadir sebagai berdenyut dan baik-lokal ketidaknyamanan, namun nyeri viseral dapat merasa seolah-olah itu datang dari struktur lain (disebut) atau hadir sebagai baik local Nyeri neuropatik sering kronis, tidak baik dijelaskan, dan tidak mudah diobati dengan analgasics konvensional. Umumnya hadir dengan nyeri digambarkan sebagai pasien terbakar, kesemutan, shock-seperti, atau menembak, respon nyeri berlebihan terhadap rangsangan biasanya berbahaya (hiperalgesia), atau tanggapan menyakitkan untuk normal rangsangan non oxious (allodynia). Pengobatan nyeri tidak efektif dapat menyebabkan hipoksia, hiperkapnia, hipertensi, aktivitas jantung yang berlebihan, dan kesulitan amotional. Nyeri kronis dapat dibagi menjadi empat subtipe; (1) nyeri yang berlangsung di luar waktu normal untuk penyembuhan cedera akut, (2) rasa sakit yang terkait dengan penyakit kronis, (3) nyeri tanpa penyebab organik yang dapat diidentifikasi, dan (4) sakit di volving baik rasa sakit kronis dan akut berhubungan dengan kanker.

Pasien dengan

nyeri

kronis

dapat

mengembangkan masalah

psikologis, ketergantungan dan toleransi terhadap analgesik, tidur troble, dan kepekaan terhadap perubahan lingkungan yang mengintensifkan rasa sakit. Daerah sendi yang sering diserang nyeri antara lain :

1. Tangan. Pada daerah bagian belakang dan bagian sebelah dalam dari tulangtulang jari tangan, sering ditemukan adanya benjolan kecil dari bagian tulang yang terkena (osteofit). 2. Lutut Nyeri selalu bersifat lokal dan bisa didapati pengecilan (atrofi) karena pergerakan menjadi berkurang dalam waktu yang cukup lama.Bisa terjadi kehilangan tulang rawan yang tidak seimbang di daerah lutut yang menyebabkan sendi menjadi tidak beres lagi. 3. Pinggul Nyeri datang secara perlahan-lahan dan rasa nyerinya juga bertingkat. Sering bersifat lokal pada daerah pinggul atau bagian dalam paha. Kadang-kadang rasa nyeri bisa juga didapatkan pada daerah bokong, pangkal paha yang bahkan bisa sampai ke daerah lutut. Rasa nyeri juga akan timbul kalau daerah sendi yang terlibat digerakkan 4. Kaki Rasa nyeri akan timbul pada daerah sendi pangkal jari kaki, terutama kalau memakai sepatu yang ujungnya sempit. Rasa nyeri selalu dirasakan

pada waktu bangun pagi hari, bila telapak kaki dipijakkan ketika hendak berdiri. 5. Leher dan punggung. Rasa nyeri disini terjadi karena adanya kelainan pada daerah bagian tulang rawan tulang belakang, terutama di daerah bagian pinggang. Rasa nyeri bersifat setempat/lokal, disertai rasa kaku akibat tekanan. Rasa sakit juga bisa didapati pada bagian ujung dari tulang belakang atau pada daerah bagian leher. Rematoidartritis merupakan penyakit yang sistemik, terkadang berkembang secara progresip, mengenai jaringan lunak dan selalu bersifat menahun. Banyak teori dan hipotesis tentang penyakit yang satu ini, tetapi sampai sekarang penyebabnya belum diketahui secara pasti. Ada yang menyebutkan bahwa penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan yang kurang baik, oleh virus dan juga berkaitan dengan masalah kejiwaan, misalnya stres. Penyakit ini selalu menyerang mereka yang berusia diantara 30-40 tahun dan lebih banyak menyerang kaum wanita daripada kaum pria. Disamping didapatkan gangguan pada daerah sendi tertentu, penderita juga mengalami penurunan berat badan, perasaan lemah dan lesu, kadang-kadang disertai pula dengan demam. Bila berlangsung cukup lama, biasanya penderita menjadi kurus. Karena penyakit ini bersifat menyeluruh/sistemik, maka seluruh organ/alat tubuh juga bisa terserang, mulai dari mata, paruparu, jantung, ginjal, kulit, jaringan ikat dan lain sebagainya. Adanya butir-

10

butir kecil atau nodul di organ-organ tubuh tadi bisa didapatkan, dengan segala akibat yang mungkin ditimbulkannya. Untuk menegakkan diagnosa reumatoidartritis ini, juga dipakai pedoman dari ARA, yang menggambarkan tentang gejala-gejala yang bisa didapatkan pada penderita, antara lain: Adanya rasa kaku pada pagi hari, dari mulai bangun tidur sampai sekurangkurangnya 2 jam, bahkan bisa sampai pukul 11.00 siang menjelang tengah hari. Pembengkakan dari jaringan lunak daerah sendi yang terlibat, tetapi bukan pembesaran tulangnya. Pembengkakan sekurang- kurangnya bisa berlangsung selama 6 minggu. Nyeri bila daerah sendi yang terkena digerakkan, sekuarngkurangnya pada satu daerah sendi. Nyeri pada pergerakan sendi, diikuti pula dengan sekurang-kurangnya pada daerah sendi yang lainnya. Rasa nyeri datang serentak dan simetris, pada daerah tertentu. Adanya benjolanbenjolan kecil pada daerah kulit yang terlibat. Kelihatan adanya pengapuran pada daerah sendi yang terlibat. Rheumatoid factor (RF)-test pada pemeriksaan laboratorium, positip. Bila didapatkan tujuh dari 11 kriteria itu, sudah merupakan tanda rematoidartritis yang klasik, kalau hanya ada lima kriteria yang didapatkan disebut sebagai rematoidartritis yang defenitip, tetapi kalau hanya tiga kriteria dari 11 kriteria ini didapatkan, barulah bisa disebutkan sebagai kemungkinan menderita rematoidartritis. Pada penderita rematoidartritis ini, rasa sakit dan pembengkakan biasanya dimulai pada sendi-sendi yang kecil (misalnya jari-jari tangan),

11

disertai adanya pembengkakan yang khas pada daerah pergelangan tangan bagian belakang/dorsal. Bila tanda-tanda seperti ini diketemukan, apalagi kalau sifatnya simetris, perlu dipikirkan tentang adanya rematoidartritis ini. Jenis rematik Gout ini, menempati urutan ketiga terbanyak dari berbagai penyakit sendi, sesudah artritis dan rematoidartritis.Penyakit yang termasuk golongan kelainan metabolik ini, lebih banyak dialami kaum pria dibandingkan dengan kaum wanita (90-95 persen pria). Sering didapati pada usia pertengahan pada kaum pria, sedangkan kaum wanita mengalaminya pada waktu usia mereka mendekati masa menopause. Suatu hal yang paling menonjol pada Gout ini, adalah meningginya kadar asam urat dalam darah. Makanya orang - orang awam menyebut penyakit Gout tersebut sebagai penyakit "asam urat". Asam urat ini sebenarnya tidak menimbulkan apa-apa pada sendi, tetapi yang

menyebabkan terjadinya rasa sakit, oleh karena adanya pengendapan dari kristal natrium urat, pada daerah sendi tersebut. Pengendapan dari kristalkristal ini dipengaruhi oleh faktor suhu dan tekanan. Karena itulah sering terbentuk tofus (tofi=jamak) berupa benjolan-benjolan kecil, yang keras tetapi tidak sakit kalau ditekan, pada daerah daun telinga, siku, lutut, bagian belakang telapak kaki, bagian tumit, pangkal sendi ibu jari dan sebagainya. Serangan rasa sakit yang sangat hebat pada penderita Gout ini, sering terjadi pada malam hari menjelang pagi, dimana sebelumnya penderita sama sekali tidak mempunyai keluhan dan dalam keadaan segar bugar.

12

Daerah paling khas yang sering mendapat serangan, adalah pangkal ibu jari kaki bagian dalam.Bagian ini membengkak, berwarna merah dan nyeri sekali walaupun hanya disentuh saja. Karenanya penderita tidak mungkin memakai sepatu. Rasa nyeri tersebut bisa berlangsung beberapa hari sampai satu minggu, lalu menghilang dengan sendirinya. Daerah lain yang juga selalu mengalami serangan adalah daerah lutut. Untuk menegakkan diagnosa Gout ini, akan didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah (normalnya di bawah 6 mg persen), yang terkadang disertai dengan bertambahnya jumlah lekosit dalam darah. Laju endap darah sedikit meninggi dan kadar asam urat dalam air seni juga didapatkan meninggi.

E. Jenis-jenis obat analgesik pereda nyeri Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika /Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obatobat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak

13

mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik). Nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan berkaitan dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya rasa nyeri merupakan suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan pada tubuh umumnya dan jaringan khususnya. Meskipun terbilang ampuh, jenis obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai Untuk mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak menerima rangsang nyeri. Terdapat perbedaan mencolok antara analgetika dengan anastetika umum yaitu meskipun sama-sama berfungsi sebagai zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri namun, analgetika bekerja tanpa menghilangkan kesadaraan. Nyeri sendiri terjadi akibat rangsangan mekanis, kimiawi, atau fisis yang memicu pelepasan mediator nyeri. Intensitas rangsangan terendah saat seseorang merasakan nyeri dinamakan ambang nyeri (Tjay, 2002). Analgetika yang bekerja perifer atau kecil memiliki kerja antipiretik dan juga komponen kerja antiflogistika dengan pengecualian turunan asetilanilida (Anonim, 2005). Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer (parasetamol, asetosal, mefenamat atau aminofenazon).

14

1. Analgesik opioid/ analgesik narkotika, analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama di gunakan untuk meredakan rasa nyeri. Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan analgesik yang ideal masih tetap di teruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi. Ada 3 golongan obat ini yaitu : a. Obat yang berasal dari opium-morfin b. Senyawa semisintetik morfin c. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin 2. Analgesik lainnya, seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibu profen, asam mefenamat, neprolsen dan banyak lagi. Biasanya obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu : a. Analgetik (menghilangkan rasa nyeri) b. Antipiretik (menurunkan demam) c. Anti-inflamasi (mengurangi proses peradangan) Sebagai analgesik misalnya untuk mengurangi rasa nyeri yaitu: I. Paracetamol Paracetamol yang di jual dengan berbagai nama dagang, beberapa di antaranya adalah sanmol, pamol, fasidol, panadol, itramol dan lain-lain.

15

Perlu di ingat bila gejala hanya demam, tidak di benarkan menggunakan paracetamol yang di campur dengan bahan aktif lainnya, misalnya pilek, batuk dan sebagainya. Tambahan bahan itu selain tidak ada gunanya, juga menjadikan obat lebih mahal, belum lagi jika menimbulkan efek samping. Sebagai analgesik, paracetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menbimbulkan nefropati analgesik. II. Neuralgin Meringankan rasa nyeri pada sakit kepala, sakit kepala migrain, nyeri otot, sakit gigi dan nyeri haid. III. Ibuprofen Ibu profen bersifat analgesik dengan daya anti inflamasiyang tidak terlalu kuat. Efek samping analgesiknya sama dengan aspirin. IV. Asam Mefenamat Obat ini dikenal masyarakat sebagai ponstan dan dipiron, kedua obat ini tidak di benarkan di beloi di toko obat atau apotek tanpa resep dari dokter. Asam mefenamat di gunakan sebgai analgesik pada nyeri, asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat anti koagulan harus di perhatikan. V. Tramadol Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin, tramadol di gunakan untuk sakit yang menegah hingga parah.

16

VI. Fentanyl Fentany termasuk golongan obat analgesik narkotioka, analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang rasa nyeri. Fentanyl bekerja di dalam sistem saraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit.

17

BAB III PEMBAHASAN Nyeri merupakan problem yang dialami oleh semua kalangan, khususnya mulai dari yang berusia beranjak dewasa sapai orangtua sekalipun. Nyeri biasanya terjadi pada saat kita sudah melakukan aktivitas masing masing. Selain melakukan aktivitas nyeri bisa terjadi karena keadaan fisiologis, contohnya pada saat hait, yang dialami oleh wanita Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer. Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nyeri merupakan tanda peringatan bahwa telah terjadikerusakan jaringan, yang harus menjadi pertimbangan utama keperawatan saatmengkaji nyeri. Nyeri mengarah pada ketidakmampuan. Seiring dengan peningkatan usiaharapan hidup, lebih banyak orang mengalami penyakit kronik degan nyeri yangmerupakan gejala umum.

18

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Nyeri merupakan Perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat.yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain, mencakup pola fikir, aktifitas seseorang secara langsung, dan perubahan hidup seseorang Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat Analgetika jenis Analgetik Narkotik) B. Saran Setelah mengetahui jenis-jenis obat analgetik diharapkan masyarakat dapat mempertimbangkan dosis, kegunaan,dan efek yang dapat ditimbulkan dalam mengkonsumsi obat anti nyeri dan demam

19