Anda di halaman 1dari 9

Love from De Grote Postweg

I. Identitas buku - Penerbit - Pengarang - Halaman - ISBN : Nav Aksara : Noerhidajat : 336 hal : 978-602-96098-0-6

II.

Sinopsis Renee van Fokkerhuise, seorang gadis Indo-Belanda sangat memimpikan tinggal di negeri nan indah Indonesia. Ia ingin menikmati keindahan pulau-pulau Indonesia seperti yang diceritakan Opanya, ia pun pergi ke Indonesia. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan sosok lakilaki yang ia kagumi, pada pandangan pertama ia jatuh hati. Ia merasa seperti kakeknya yang menyukai wanita pribumi, tak beda jauh dengan dirinya, ia juga menyukai pemuda Indonesia serta keindahan alamnya. Di saat cintanya hampir terwujud, kondisi kakeknya memaksa Renee untuk kembali ke Belanda. Setelah bertahun-tahun didera penyakit, pada akhirnya kakeknya menutup mata sebelum mengunjungi negeri yang selalu dipujanya. Sebelum detak jantungnya berhenti, ia berwasiat kepada Renee agar abu jenazahnya ditaburkan di aliran sungai Cikapundung, jalan Asia-Afrika, Bandung. Sejalan manatnya kakeknya, Renee kembali ke Bandung. Ia ingin merajut kembali cintanya kepada pemuda pujaan hatinya, Dika. Namun saat ia kembali ke negeri hangat itu, keadaan telah berubah. Ternyata Dika sudah menjalin hubungan dengan sahabat dekatnya sendiri, Serenada yakni seorang gadis pemain biola. Kisah yang begitu apik. Namun akankah kebahagiaan akan menyelimuti mereka? Intrinsik novel a. Tema Menurut pendapat Saad (1967:185), tema adalah persoalan pokok yang menjadi pikiran pengarang, di dalamnya terbayang pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Menurut Mursal Esten (1990), tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi persoalan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita yang paling banyak menimbulkan konflik.

III.

Temanya adalah Keindahan mimpi yang dibalut dalam persahabatan dan cinta b. Latar Latar memberikan pijakan cerita dan kesan realistis kepada pembaca untuk menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguhsungguh ada dan terjadi (Nurgiyantoro, 1995) Menurut pendapat Aminuddin (1987:67), yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis Latar tempat Bandung o Sepanjang jalan Braga itu, atmosfer Bandung tempo doeloe terpancar kuat dari rona wajah para penikmat hidangan di sebuah cafe. (146) o Ia dan Dika akan mengunjungi sebuah desa pegunungan nan asri, di Jawa Barat bagian timur. (269) o Ciakar sebuah desa asri yang terletak di haribaan Gunung Sawal, terasa teduh sore itu. (269) o Air sungai itu sekarang sudah berwarna keruh oleh lumpur. Cokelat kehitaman karena limbah, tidak bening dan bersih seperti dahulu. (281) o Sudah hampir satu jam ia berada di tempat itu, di depan sebuah monumen Bandung o.oo kilometer. (282) o Sekarang, kalau kau benar-benar peduli, pergilah ke De Grote Postweg, Bandung o.oo km! Ia sedang menaburkan abu jenazah kakeknya di sungai Cikapundung! (286) Belanda o Pagi itu, sekumpulan orang bersuka ria berselancar es diatas air sungai Het Spaare yang membeku. Pepohonan willow yang tumbuh di tanggul sungai hanya menyisakan cabang dan ranting yang telanjang, menjulur-julur menyebar dari batang utama. (21) o Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri kanal Amsterdam. (23) o Suhu di kota Haarlem merayap naik, setelah sebelumnya anjlok di bawah titik beku. (140)

Latar waktu Sore : o Gumpalan awan-awan putih berarak menantang terik matahari di langit biru 269 Malam : o Dari langit yang menghitam pekat, kilatan halilintar susul menyusul. Lampu-lampu penerang jalan baru saja menyala menyertai langit yang kelam 282 Pagi hari : o Pagi itu, sekumpulan orang bersuka ria berselancar es diatas air sungai Het Spaare yang membeku. (21) Latar suasana Mencekam : o Badannya menumbuk tanah Dari ketinggian tujuh meter. Tak tampak adanya gerakan dari tubuh yang terkapar itu. Wajahnya menelungkup. Orang-orang masih menduga-duga akan nasibnya. (184) o Tak salah lagi, korban yang tergeletak di atas aspal tergenang air itu adalah Renee! Nafasnya tercekat saat melihat kening Renee yang tergeletak berlumur darah. Badan Dika bergeming. Tak ada yang bisa dirasakannya lagi selain penyesalan yang dalam. (293) Haru o Tenggorokannya tersumbat rasa haru yang mencekik. Air mata kebahagiaan berlinang di kedua pipinya. 322

c. Tokoh Panuti Sudjiman (1966:25), Tokoh merupakan bagian atau unsur dari suatu kebutuhan artistik yaitu karya sastra yang harus selalu menunjang kebutuhan artistic. Stanto(1965:17),Yang dimaksud dengan tokoh utama ialah tokoh yang aktif pada setiap peristiwa, sedangkan tokoh utama dalam peristiwa tertentu . o Renee van Fokkerhuise o Serenada o Dika o Epul Saepul o Gerhard o Sarkhadut

d. Penokohan Penokohan adalah karakter atau watak tokoh dalam cerita, ada peran antagonis, protagonis, tertagonis, atapun melankolis. Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. - Renee van Fokkerhuise Keras Kepala o Tidak! Indonesia adalah negeriku, rumahku. (10) o Ik berhak menikmati keindahan negeri itu, kehangatan dan keramahtamahan penghuninya. (12) o Mamie, Ik berhak mencari kebahagiaanku sendiri. (114) o Setelah menunaikan amanat Opa, Ik tidak akan kembali ke sini. Ik sudah terlanjur jatuh cinta kepada negeri itu. (141) - Serenada Rela berkorban o Ia tak punya hati menghempaskan impian dan perjuangan sahabat karibnya sendiri. Ia tak tega meremukredamkan perasaan sahabatnya, seandainya ia menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Ia tak ingin membuat perasaan Renee terluka. (190) o Renee adalah sahabat yang aku sayangi. Tak pernah sekalipun ia menyakiti hatiku. Apakah aku tega untuk menyakiti hatinya? (285) o Bagaimana bisa kita bahagia saling mencintai seandainya kita berpijak pada kepedihan sahabat yang mendalam? (285) o Lebih baik aku yang menderita daripada membiarkan sahabatku terluka. (286) - Dika Bijaksana o Coba sekarang kalian tenang dulu, itu baru permasalahan, bukan solusi. Yang kita butuhkan sekarang adalah pemecahan. (177) o Tidak ada yang bisa kita lakukan, Renee, kecuali pulang. Kesembuhan Opamu lebih berharga (117) o Penyesalan itu sama saja dengan hidup di masa silam. Menyesal hanya akan menghabiskan energi dan semangat. (227) o Sudahlah semuanya sudah terjadi. Tak ada gunanya menyesali kejadian yang telah berlalu. (227)

Epul Saepul Ceroboh o Ia berdiri membungkuk keluar dari kendaraan tersebut. Jdak suara kepala beradu dengan palang pintu kendaraan. Epul menahan sakit. (34) o Tubuh jangkung Epul menabrak bumper belakang sebuah angkot yang berhenti tiba-tiba di depannya. Ia tersungkur. Kopernya terguling. Bukunya terpelanting. (35) Lugu o Ia tak tahu apa yang harus dilakukan agar tubuhnya bisa masuk ke kendaraan itu. (118) o Saya tidak tahu bagaimana cara membuka pintu mobil itu. Tangannya menggoyang-goyangkan pegangan pintu (119) Jujur o Beberapa hari kemudian, meskipun dalam kondisi badan yang sakit, Epul memaksakan diri untuk mengunjungi alamat pemilik dompet yang ia temukan tempo hari 259 Gerhard Sering salah tafsir o Inilah penyakit Gerhard yang lain. Selain menyukai gaya hidup militerisme, ia juga sering salah tafsir atas perkataan orang lain. Ia merasa tersanjung, menyangka Renee sedang memuji dirinya (89) Setia kawan o Kita harus mencari jalan tengah, bagaimana agar semua tim kita sampai ke puncak. (177) Sarkadhut o Inyong hargai solidaritas kamus obat. Tapi apa yang dikatakan Victoria dan Ridha ada benarnya juga. Biarlah, meskipun Inyong sebhenarnya ingin sekali mencium saljhu tropis, permisi. (178)

e. Sudut pandang Cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya disebut sudut pandang, atau biasa diistilahkan dengan point of view (Aminuddin, 1987:90). Pendapat tersebut dipertegas oleh Atar Semi (1988:51) yang menyebutkan istilah sudut pandang, atau point of view dengan istilah pusat pengisahan, yakni posisi dan penobatan diri pengarang dalam

ceritanya, atau darimana pengarang melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu. Sudut pandang orang pertama Dari halaman 1-8 Aku terbangun dari tidur gelisahku. Sudut pandang orang ketiga Dari halaman 9-335 Di dalam sebuah rumah, seorang gadis, Renee van Fokkerhuise, berdiri di balik kaca jendela ruang tengah. Seutas syal katun terlingkar di lehernya. Matanya memandang jauh ke arah timur. f. Alur Menurut Stanton (1965:14) plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. (Aminuddin, 1987:83),Plot adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita Alur yang digunakan yakni alur maju Pada novel ini menceritakan dari awal yakni menceritakan Renee seorang gadis Indo-Belanda yang ingin tinggal di Indonesia sampai pada akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya di Indonesia. Di dalam sebuah rumah, seorang gadis, Renee van Fokkerhuise, berdiri di balik kaca jendela ruang tengah. Seutas syal katun terlingkar di lehernya. Matanya memandang jauh ke arah timur. Di tepi telaga, terduduk sunyi seorang gadis di atas kursi kayu. Pandangannya lepas ke tengah telaga, pada sepasang manusia di atas perahu kayu. Bibirnya tersenyum menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Air bening menggenang di pelupuk mata, membuatnya berkaca-kaca. Saat kabut menyingsing, gadis itu pun menghilang, terbang bersama dinginnya senja. g. Konflik Konflik mengacu pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh(-tokoh) cerita, yang jika tokoh(-tokoh) itu mempunyai kebebasan untuk

memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald, 1972:27). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Dalam kehidupan nyata konflik merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Konflik pada novel tersebut adalah : Di saat cinta Renee hampir terwujud, kondisi kakeknya memaksa dia untuk kembali ke Belanda. Namun pada akhirnya ia pun kembali ke Indonesia. Ia ingin merajut kembali cintanya kepada pemuda pujaan hatinya, Dika. Namun saat ia kembali ke negeri hangat itu, keadaan telah berubah. Ternyata Dika sudah menjalin hubungan dengan sahabat dekatnya sendiri, Serenada yakni seorang gadis pemain biola. Saat serenada mengetahui sahabatnya itu menyukai laki-laki pujaan hatinya ia pun bimbang, harus memilih antara persahabatan atau cinta, namun pada akhirnya ia rela menderita hanya untuk kebahagiaan sahabat yang sangat disayanginya itu. h. Amanat Amanat yang terdapat dalam karya sastra tertuang secara implisit. Secara implisit yaitu jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Sudjiman (1986:35) Harimurti Kridalaksana (183) amanat merupakan keseluruhan makna konsep, makna wacana, isi konsep, makna wacana, dan perasaan yang hendak disampaikan untuk dimengerti dan diterima orang lain yang digagas atau ditujunya. Amanat secara eksplisit yaitu jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu. Jangan hanya terpaku pada penyesalan namun majulah untuk meraih masa depan yang cemerlang, kemaren adalah masa lalu dan masa lalu itulah yang akan menjadi saksi bisu perjalanan hidup seseorang i. Gaya bahasa Menurut Akhmad Saliman (1996 : 68) bahasa yang digunakan sengaja dipilih pengarang dengan titik berat fungsinya sebagai sarana komunikasi.

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa sedemikian rupa, sehingga kesan dan efek terhadap pembaca atau pendengar dapat dicapai semaksimal dan seintensif mungkin. Alusio o Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau Antitesis o Kecantikan dan ketampanan sejati seseorang itu terletak pada karakternya Di dalam cerita ini menggunakan bahasa Belanda dan Jawa. Adapun bahasa Belanda itu adalah : o Mijn, excuse, dame (mohon maaf, nona) o Indonesia is paradijs der aardsche schoonen (indinesia adalah surga permai di atas dunia) o Dark u well (terima kasih) o Graag gedaan (terima kasih kembali) Adapun bahasa Jawa (Bandung) o Tamba teu teuing wae etamah (daripada tidak melakukan apa-apa) o Make jaeng jual mahal sagala (pakai jual mahal segala) o Jaman kiwari (zaman sekarang) o Yo wis nek ora ngandhel (ya sudah kalau tidak percaya) o Weleh-weleh, iki indah tenan (wah..wahini indah sekali)

Tugas Praktik Bahasa Indonesia Love from De Grote Postweg

Anis Piari Sri Suhariyati XII IPA 4