Anda di halaman 1dari 13

TUGAS

PRAKTIK BAHASA INDONESIA


MENENTUKAN UNSUR-UNSUR INSTRINSIK
KARYA SASTRA (NOVEL)

TUAH
Satu Kesalahan Meraih Sepuluh Kebaikan

Oleh :
DIANA MARYATIK
NO. UJIAN: 06-001-099-6
KELAS: XII IPA.4

IDENTITAS BUKU

A. Judul
Novel kedua dari trilogi umang
TUAH
Satu Kesalahan Meraih Sepuluh Kebaikan
B. Pengarang
Feri Irawan. AM
C. Penerbit
Pustaka EL- SYARIF
D. Tempat terbit
Pustaka El-Sarif
Jl. Mayor no. 16 jakarta selatan
Jl. Raya pekayon pondok gede- bekasi selatan
Telp. 021-92642980, 08151627210
Website: www. el syariif.co.cc
E-mail: el.syariif@gmail.com, el_syariif@yahoo.co.id
E. Tahun Terbit

Tahun 2010
F. Jumlah Halaman
300 halaman dan ukurannya 21 x 14.

SINOPSIS
Tuah
satu kesalahan meraih sepuluh kebaikan

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak muda yang menuntut ilmu ke
Negeri Qatar. Dia dibiyayai kulyah oleh seorang Syech yang bernama Syech
Ibrahim. Pada suatu malam seorang pengemis hampir ditabrak mobil sedan, dan
Firman menolongnya kemudian pengemis itu mengatakan kita akan bertemu di
dalam wujud yang berbeda.
Ketika Firman mengikuti kulyah yang dibawakan oleh Syech Yusuf yang
membahas tentang ruh. Firman berpendapat bahwa ruh itu bisa dikeluarkan dalam
kondisi yang sadar namun, Syech Yusuf tidak percaya. Sepulang Firman dari
kampus dia merasa bersalah dan takut untuk pulang ke rumah Syech Ibrahim.
Di suatu malam dia mendengar seorang wanita menjerit minta tolong dan
di saat itu ada seorang wanita yang ingin dibunuh oleh 3 orang bertubuh kekar.

Firman berniat membantu wanita itu namun, dia tidak mampu karena dia tidak
mempunyai tenaga untuk melawan. Namun ketika itu juga terdengar suara syair
yang membuat 3 pembunuh itu lari ketakutan.
Wanita yang ditolong oleh Firman sangat berterimakasih kemudian
memperkenalkan dirinya yang bernama Najma Laila. Dan keesokan harinya
Firman memberanikan diri untuk pulang ke rumah Syech Ibrahim.
Firmsn diajak ke rumah Syech Yusuf oleh Syech Ibrahim, di sana
terjadilah sebuah konflik antara Syech Ibrahin dengan Syech Yusuf tentang ruh
yang diucapkan Firman waktu di kampus kemarin. Dengan kejadian itu Firman
merasa bersalah dan Firman diminta Syech Ibrahim untuk meninggalkan
rumahnya. Di saat Firman sendirian di negeri Qatar dan bingung harus ke mana,
datanglah Najma yang membantunya.
Saat pergi kulyah Firman dipanggil oleh Faruq dan mengajaknya ke
kampus karena ada mahasiswi yang kesurupan dan yang bisa mengobatinya
adalah Firman dengan menggunakan ilmu bayangan atau melepas ruh. Dengan hal
itu semua mencibir Firman, mereka mengira Firman yang melakukan kejahatan
itu. Saat Firman pulang, Firman ditabrak dan mengalami pendarahan di
kepalanya. Saat itulah Firman bertemu dengan Syech Bakur di alam ruh, dan di
sanalah dia diajarkan ilmu 7 qiraah. Saat dia sadar Najma kembali datang
membantunya.
Setelah itu Firman pergi umrah dan diapun bertemu dengan kekasihnya
dari Indonesia Ning Hesti. Namun saat melakukan tawaf Ning Hesti terinjak dan
meninggal, karena kejadian itu tunangan Ning Hesti yang bernama Shidieq
membayar polisi Mesir untuk menangkap dan menyiksa Firman. Namun lagi-lagi
Najma datang membantu Firman.
Suatu malam Firman dikagetkan dengan kedatangan Najma yang terburuburu. Najma mengajak Firman pergi dari Negeri Qatar karena mereka ingin
dibunuh oleh pembunuh bayaran yang bernama Zaki. Untungnya mereka dibantu
oleh sahabat Najma yang bernama Coury, akhirnya merekapun selamat.

Najma dan Firman pergi ke perbatasan Palestina dan tinggal di rumah


Syarif Hadek pamannya Najma. Dan merekapun menikah atas kemauan mereka
dan pamannya. Setahun kemudian Najma meninggal bersama anaknya di dalam
kandungan karena tertembak oleh tentara Israel. Pada saat itu Firman sedang pergi
memanggil bidan untuk proses kelahiran anaknya. Dan setelah pemakaman
istrinya selesai Firman kembali ke Qatar ke rumah Syech Ibrahim. Dan di sana
firman tinggal beberapa hari untuk menyelesaikan kulyahnya, kemudian Firman
kembali ke Indonesia.
Sesampai di Indonesia Firman menemui sahabatnya yang bernama
Muzako. Alangkah kagetnya Firman ketika Muzako memberitahu bahwa Ning
Hesti masih hidup tetapi dalam keadaan buta. Pada suatu malam Firman
melakukan zikir di taman mini bersama dengan jamaah untuk memohon supaya
masalah yang terjadi di Negeri Indonesia cepat selesai. Pada saat itulah Firman
dihantam oleh cahaya sebesar drum, itulah awal dari keterlibatan Firman dalam
menyetabilkan negara Indonesia.
Ketika itu Firman menaiki sebuah truk dan terjatuh ke jurang, saat itulah
Firman tidak sadarkan diri dan tiba-tiba Firman berada di sebuah ruangan yang
serba putih. Saat dia sadar dia berada di sebuah gunung dan bertemu dengan
seorang petani yang menyuruhnya untuk menenangkan dirinya di sebuah goa.
Ketika Firman membalikkan badan orang itu sudah menghilang. Di dalam goa
Firman memfokuskan fikirannya dan dia merasa jasadnya menjadi empat dan lima
dengan yang aslinya. Ahirnya dia menemukan ketenangan bathin setelah
mengalami banyak masalah dalam kehidupannya.

UNSUR INSTRINSIK
1. Tema

- Menurut Stanton (1965:4),Tema merupakan ide sentral atau pokok


dalam karya.

- Menurut Holmon (1981:443),Tema merupakan gagasan sentral yang


mencakup

permasalahan dalam cerita, yaitu suatu yang akan

diungkapkan untuk memberikan arah dan tujuan cerita karya sastra.


Supranatural
a. Pada halaman (53)
Tiba-tiba ada yang akan keluar dari dalam tubuhku. Keras dan
menyentak-nyentak.
Dan...badanku telah mencacah menjadi dua bagian dengan wujud
serupa. Tanpa menunggu waktu. Aku bergerak cepat, seakan melayang
menuju Rahma Mona Karim.
b. Pada halaman (250)

Lewat tengah malam, semua mata terbelala menyaksikan angkasa.


Cahaya besar mengkilat seukuran drum aspal berputar-putar dan
berkeliling. Aksi cahaya besar itu membuat takut hati jamaah zikir.
Ucapan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan solawat membahana dari
mulut-mulut mereka. Tiba-tiba saja benda itu menukik tajam,
menyerupai rudal yang dikendalikan remot elektrik jarak jauh.
Namun, diiringi suara desingan angin kencang. Cahaya itu
menghantam tubuhku. Diriku tidak merasakan sakit atau kaget. Saat
itu, tiba-tiba badanku menjadi sejuk, sangat nyaman serta kenikmatan
tiada tara.
c. Pada halaman (262)
Apa boleh buat, aku harus melakukannya. Masih dengan mata tertutup
dan tangan terikat, aku membaringkan tubuhku. Aku mulai
berkonsentrasi merapal mantra pelepas sukmaku.
d. Pada halaman (294)
Dalam semedi, aku merasa didunia lain. Diriku seaan memecah
menjadi empat, dan lima dengan ragaku. Ajaib! Batinku. Seumur-umur
aku baru kali ini melihat wujudku yang lain. Selama ini yang ku kenal,
hanyalah sukmaku, juga persis dengan jasadku.
2. Alur
- Menurut Virgil Scoh( 1966 : 2),Plot adalah prinsip yang isensial dalam
cerita.
- Menurut Morjorie Boulton( 1975 : 45),Plot adalah pengorganisasian
dalam novel atau penentu struktur novel
Alur maju

Alasannya karena dalam novel ini menceritakan tentang kehidupan tokoh


Aku sejak datang ke negeri Qatar sampai kembali lagi kenegri Indonesia.
3. Latar
a. Menurut Nadjid (2003:25) latar ialah penempatan waktu dan
tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi.
b. Menurut pendapat Aminuddin (1987:67), yang dimaksud
dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi
baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki
fungsi fisikal dan fungsi psikologis

- Latar tempat : halaman 1 (berbagai upaya telah aku lakukan agar diriku
betah di negri orang Qatar. Aku selalu merindukan negeriku
Indonesia)
- Latar waktu:
a. sore hari, terdapat pada halaman 1 (aku mulai beringsut saat
matahari menampakkan remang redup seakan terbenam ke dalam
lautan pantai Marwa untuk menyambut sang malam )
b. malam hari, terdapat pada halaman 186 (malam itu, aku sholat
istikhoroh, hajad dan sholat sunah lainnya.)
c. pagi hari, terdapat pada halaman 201 (pada jam 2 pagi syech
Ibrahim belum tidur, saat itu firman menunggu beliau selesai berzikir.)
-

Latar suasana:
a. Menyedihkan, terdapat pada halaman 179 (aku tidak pernah
berhenti menangis sepanjang proses pemakaman istriku. Derai air
mataku tumpah jatuh ke pasir di atas pusara. Najma, istriku. Pergilah
dengan tenang, sayang! Allahu maaki. Jannah waindakiamin.)

b. Bahagia atau menyenangkan, terdapat pada halaman 171 (satu bulan


berlalu. Saat-saat yang aku nantikan tinggal menghitung jam. Tak
terbayangkan betapa senang dan girang perasaanku menyambut
kedatangan buah hatiku yang akan lahir.)

c. Tokoh dan Penokohan


-

Panuti Sudjiman (1966:25), Tokoh merupakan bagian atau

unsur dari suatu kebutuhan artistik yaitu karya sastra yang harus
selalu menunjang kebutuhan artistic.
-

Stanto(1965:17),Yang dimaksud dengan tokoh utama ialah

tokoh yang aktif pada setiap peristiwa, sedangkan tokoh utama


dalam peristiwa tertentu .

a. Tokoh
1.) Firman(tokoh Aku)
2.) Syech Ibrahim(guru)
3.) Syech Yusuf(dosen)
4.) Faruq(teman kulyah)
5.) Najma Laila(kekasih ke-3 sekaligus istri Firman)
6.) Syech Baqur(seorang wali)
7.) Mona(teman kulyah)
8.) Zaki(pembunuh bayaran)
9.) Ning Hesti(kekasih ke-2 Firman)
10.)

Shidieq(tunangan Ning Hesti)

11.)

Coury(sahabat Nahma)

12.)

Syarif Hadek(paman Najma)

13.)

Mozako(sahabat Firman)

b. Penokohan
1.) Penyabar, terdapat pada halaman 179 : ketika istrinya meninggal,
Dia senantiasa untuk mengikhlaskan kepergian istrinya, ketika
istrinya ditemba oleh tentara Israel pada saat akan melahirkan.
2.) Penyayang, terdapat pada halaman 54 : ketika Firman
mendapatkan suatu masalah dari Syech Yusuf, Syech Ibrahim
senantiasanya untuk memberikan suatu masukan supaya Firman
selesai dalam masalah tersebut.
3.) Tidak baik/jahat terdapat pada halaman 18 : Nakjis! Engkau tak
ubahnya seperti Yahudi itu! Laannallahualaika! Seru Syech
Yusuf penuh dengan hawa kebencian kepada Syech Ibrahim.
4.) Penurut : setiap perkataan Syech Yusuf dia ikuti.
5.) Baik dan penyayang : sering membantu Firman dalam setiap
kesulitan maupun masalah yang dihadapi oleh Firman. Dan selalu
menemani Firman dalam semua kondisi.
6.) Baik : Dia selalu mengajarkan Firman ilmu-ilmu kebaikan dan
ilmu 7 qiraah di alam supranatural firman.
7.) Baik : sering membantu Firman dalam memperjuangkan status
kulyahnya atau kemahasiswaanya di Qatar.
8.) Jahat : Dia mengejar dan ingin membunuh Firman dan Najma
sampai ke perbatasan Palestina.

9.) Baik dan setia : dia selalu menunggu Firman kembali ke Indonesia,
meskipun dikabarkan bahwa Firman sudah meninggal di Palestina.
Namun Ning Hesti tetap percaya bahwa Firman masih hidup dan
setia menunggunya untuk kembali.
10.)

Jahat : karena dia membayar polisi Mesir untuk menangkap

dan menyiksa Firman tanpa alasan hukum yang jelas.


11.)

Baik : dia membantu Firman dan Najma saat melarikan diri

dari kejaran Zaki yang ingin membunuh mereka.


12.)

Baik : dia yang memberikan tempat tinggal Firman dan

Najma, sekaligus bertindak sebagai pemimpin mujahidin.


13.)

Baik : dia selalu membantu Firman untuk menjaga Ning

Hesti dan Firman saat mempunyai masalah di Indonesia.

d. Sudut pandang

- Atar Semi (1988:51) yang menyebutkan istilah sudut pandang, atau


point of view dengan istilah pusat pengisahan, yakni posisi dan
penobatan diri pengarang dalam ceritanya, atau darimana pengarang
melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu

- Cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang


dipaparkannya disebut sudut pandang, atau biasa diistilahkan dengan
point of view (Aminuddin, 1987:90).

Orang pertama : karena dalam cerita di novel ini menggunakan aku atau
saya. buktinya :

- Aku selalu merindukan negeriku, Indonesia.

- Aku gemetar. Aku membayangkan wajah Syech Yusuf seperti api


yang sedang membara.

- Seminggu telah berlalu. Aku masih menjadi buah bibir. Orang sakti
dari Indonesia.
e. Gaya bahasa

- Bahasa dalam prosa fiksi memilki peran ganda, bahasa tidak hanya
berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang, namun juga sebagai
penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang
dalam memberdayakan bahasa prosa fiksi (novel) ialah dengan
menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan
sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Itulah sebabnya,
terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas
(Najid, 2003: 27).

- Dalam karya sastra, istilah gaya mengandung pengertian cara seorang


pengarang dalam menyampikan gagasannya dengan menggunakan
media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan
makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi
pembaca (Aminuddin, 2009: 72).
Bahasanya sebagian tidak dimengerti karena menggunakan istilah dan
bahasa Arab.
f. Amanat
a.

Secara implisit yaitu jika jalan keluar atau ajaran moral itu
disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita
berakhir,Sudjiman (1986:35).

b. eksplisit yaitu jika pengarang pada tengah atau akhir cerita


menyampaikan seruan,saran, peringatan, nasihat, anjuran,

larangan dan sebagainya,berkenan dengan gagasan yang


mendasari cerita itu.

- Jadilah orang yang penyabar seperti Firman meskipun, Firman


mendapatkan cobaan terus menerus.

- Seringlah membantu orang, karena suatu saat kita akan membutuhkan


bantuan orang lain.

- Kesetiaan dan kesabaran harus saling beriringan seperti Ning Hesti


yang selalu setia menunggu kekasihnya yaitu Firman. Dan selalu sabar
meskipun orang-orang mengatakan bahwa kekasihnya yaitu Firman
sudah meninggal dunia di Qatar.