Anda di halaman 1dari 12

Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Berbagai Zaman

Rd Achmad Faizal P S
Mahasiswa Jurusan Teknik Geodesi FT-UGM () Jln. Grafika No. 2 Yogyakarta, Telp. +062-274-520226, Email: geodesi@ugm.ac.id

Abstract Natural resources are important in human life. Every human need natural resources to meet their needs and achieve the prosperity, which is why since the beginning of civilization, human has tried to manage and exploit natural resources. In this journal, i tried to explain how natural resources were processed and used since ancient times to the present day. Purpose of this paper is to investigate the development of natural resources over time, and to know how natural resources impact on social life and environment by some events in history. In order to get accurate result of this research, then I compiled methods in the making of this journal, the method I use is technical documentation where I gather some many source and article related such as wikipedia, world history, and others. From this research, we can see that humans continue to manage the natural resources and its methods was developed as the advances in science and technology. So that natural resources can be more efficiently processed following the amount of a growing human population that increases the total demand for natural resource. And how the natural resource management impact on the environment around. Keywords: sumber daya alam, Pendahuluan Pengelolaan sumber daya alam adalah suatu disiplin dalam mengelola sumber daya alam seperti tanah, air, tanah, tumbuhan dan hewan,dengan tujuan bagaimana pengelolaan sumber daya alam mempengaruhi kualitas hidup untuk generasi sekarang dan generasi mendatang. Sumber daya alam (SDA) adalah segala sesuatu yang muncul secara alami di bumi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya meliputi komponen biotik seperti hewan, tumbuhan dan abiotik seperti air, angin, tanah, minyak dan lain-lain. Karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan manusia, maka sejak zaman dahulu manusia sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari, menggunakan, mengelolah sumber daya peradaban manusia, zaman, metode pengelolaan.

alam yang ada. Dimulai sejak zaman Batu (Lithikum) sekitar 200.000 tahun yang lalu dimana manusia homo sapiens sudah menggunakan batu sebagai alat atau pesawat sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memotong, mengukir, dan membuat tempat berlindung (kebutuhan papan). Batu juga digunakan untuk berburu hewan dimana ini merupakan awal dari pemanfaatan sumber daya hewan yang kemudian hewan tersebut diolah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang. Kemudian pemanfaatan sumber daya alam semakin berkembang semenjak manusia menemukan bibit tanaman dimana ini menjadi awal transisi dari masyarakat pemburu dan pengumpul bahan makanan menjadi masyarakat bertani (agricultural). Bentuk pertama dari pertanian disebut protofarming yang memiliki arti penting dalam perkembangan pemanfaatan sumber daya

Gambar 1. Eksploitasi SDA dari zaman ke zaman Sumber: Wikipedia

alam. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, metode-metode yang digunakan untuk mengelola sumber daya alam dan pengetahuan manusia akan jenis-jenis sumber daya alam yang ada dan bagaimana cara memanfaatkannya pun terus berkembang. Seperti apakah cara pengelolaan SDA dari zaman ke zaman? Bagai manakah perkembangannya? Apakah kesejahteraan umat manusia dapat terus terwujud seiring dengan berjalannya waktu? Saya akan memaparkannya pada jurnal ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan yang merujuk dari berbagai sumber sejarah dan informasi pengelolaan sumber daya alam yang ada. Metodologi Perumusan Masalah Studi Pustaka Memilih Pendekatan Menentukan Sumber Pengumpulan Data Analisis Data Isi dan Pembahasan Menarik Kesimpulan
Gambar 2. Tahapan Metodologi Penelitian

baru, era pertengahan, dan era moderen serta mencoba untuk mengindentifikasi sumber daya alam apa saja yang dimanfaatkan sejak zaman itu dan bagaimana pengelolaanya serta memantau perkembanganya. Saya memilih metode pendekatan secara dokumentasi, yaitu dengan mencari data berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dan artikel online terkait. Saya juga menggunakan sumber sumber yang saya gunakan ketika melakukan studi pustaka. Maka, pengumpulan data saya lakukan guna mendapatkan refrensi dan sumber sumber yang akurat untuk dianalisis dan ditarik kesimpulan. Beberapa sumber yang saya gunakan diantaranya adalah artikel artikel dari situs online seperti wikipedia, world history, dan lain lain. Informasi sumber daya alam yang saya kumpulkan meliputi SDA biotik seperti tumbuhan, hewan yang diolah dengan cara pertanian, perkebunan, dan peternakan, serta SDA abiotik seperti air, angin, hasil tambang berikut cara mengelolanya. Dari informasi informasi yang saya dapat, saya mencoba mengindentifikasi dan meneliti, kapan SDA tersebut mulai digunakan, dan dimanfaatkan, maka informasi informasi itu saya hubungkan dengan acuan waktu yang didapat dengan mengumpulkan informasi sejarah manusia dan bagaimana manusia melakukan interaksi terhadap lingkungan sosial dan alam sekitar. Sesuai dengan perumusan masalah dimana saya membagi zaman menjadi empat zaman, maka saya menguji apakah SDA yang saya kumpulkan sudah digunakan di suatu era, jika tidak maka saya hubungkan dengan era berikutnya, begitupun seterusnya. Sampling saya ambil bedasarkan trend pengelolaan dan pemanfaatan SDA yang paling populer di masa itu, atau metode pengelolaan SDA yang menjadi ciri khas zaman tersebut. Saya juga mencoba memantau perkembangan pengelolaan dan pemanfaatan SDA yang sudah dikenal suatu era, dan memaparkannya kembali di era berikutnya, sehingga pengelolaan SDA dari waktu ke waktu dapat terlihat perkembangannya. Setelah analisis data, saya mulai melakukan pembahasan dari data yang telah teranalisis, dan menarik kesimpulan meliputi perkembangan pengelolaan SDA dan dampaknya yang kemudian saya paparkan pada jurnal ini

Pada penulisan jurnal ini, saya melakukan cara dan metode penelitian (metodologi) dengan tahapan tahapan seperti gambar 2 diatas. Pertama, saya merumuskan masalah apa yang akan saya ambil, spesifikasi dari pemanfaatan sumber daya alam serta pengelolaannya di berbagai zaman merupakan masalah yang saya angkat dalam jurnal ini. Disini saya bertujuan untuk mencari tahu bagaimana manusia mengelola dan memanfaatkan SDA sejak peradaban pertama muncul. Maka saya melakukan studi pustaka guna menambah wawasan saya mengenai judul yang saya ambil sehingga pelaksanaan penelitian dapat dilakukan secara sistematis dan mendapatkan hasil yang maksimal. Studi pustaka saya lakukan dengan mencari berbagai refrensi atau informasi terkait pengelolaan SDA. Hasil dari perumusan masalah dan studi pustaka, saya mencoba membagi zaman kehidupan manusia menjadi 4 zaman, yaitu era prasejarah, era peradaban

Gambar 3. diagram alir analisis data

Hasil dan Pembahasan Sesuai dengan metode yang sudah saya jelaskan pada bagian metodologi, saya membagi zaman kehidupan manusia menjadi 4 zaman, yaitu era prasejarah, era peradaban baru, era pertengahan, dan era moderen. Berikut hasil dari penelitian saya mengenai pemanfaatan sumber daya alam di keempat zaman tersebut. Era prasejarah (Prehistory era, 2.5 million BP- 3000 BC) Era ini dibagi menjadi 2 zaman yaitu zaman batu, dan zaman logam. Zaman batu dimulai sejak 2.5 juta tahun sebelum masehi dimana pada masa itu manusia purba (homo erectus) sudah mulai memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk memenuhi kebutuhan, namun cara yang digunakan masih sangat manual, para pakar arkeolog menyimpulkan bahwa pada masa itu, bukti-bukti adanya pesawat sederhana belum ditemukan. Manusia purba masih berbuburu hanya dengan menggunakan kemampuan fisik yang mereka gunakan. Saya masih belum bisa mengatakan bahwa ini merupakan awal dari pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia sampai manusia (homo sapien) diperkirakan muncul dimuka bumi sekitar 125.000 tahun yang lalu. Akal yang digunaka manusia lebih cerdas dibandingkan manusia purba.

Gambar 5. Pemanfaatan sumber daya hewan Sumber: Sweetwater Historical Museum

Gambar 4. Perburuan di zaman prasejarah Sumber: Sweetwater Historical Museum

mengeksploitasi SDA biotik lainya seperti penggunaan hewan serigala untuk berburu yang kelak berevolusi menjadi anjing. Perkembangan peralatan yang berbahan dasar batu terus berkembang sejak zaman batu tengah (Mesolithic) dimana manusia sudah mengenal teknik mengasah benda menjadi lebih tajam sehingga memudahkan manusia untuk menangkap buruannya. Jenis batu yang sering digunakan untuk mengasah pada waktu itu adalah batu obsidian. Di masa itu, manusia mulai mengetahui cara membuat api dari batu. Seiring berjalannya waktu, manusia mulai mengetahui bahwa kayu yang berasal dari pepohonan adalah benda yang mudah terbakar sehingga pepohonan mulai ditebang dan kayunya digunakan sebagai bahan bakar. Pada masa batu baru (Neolithic), 8000-7000 tahun sebelum masehi, batu- batu yang ada mulai diasah menjadi bentuk yang lebih bagus seiring berkembangnya insting seni manusia. Bentuk yang dibentuk menyerupai perabotan-perabotan rumah tangga seperti panci, piring dan lain-lain. Di era ini lah pemanfaatan SDA untuk kebutuhan seni dan perabotan rumah tangga lahir. Persenjataan yang biasanya digunakan untuk berburu pun mulai berkembang menjadi bentuk yang lebih efesien untuk melakukan perburuan seperti ditemukannya, busur, panah, tombak, pisau. Pada masa ini pula manusia mulai berpikir untuk menggunakan kulit hewan sebagai kebutuhan sandang. Peradaban kuno Mesopotamia mulai muncul di lembah Eufrat dan Trigis utara mesopotamia(sekarang irak) dimana terbentuknya kumpulan-kumpulan populasi manusia menjadi masyarakat yang lebih berbudaya. Tentunya perkembangan teknologi menjadi lebih pesat pada masa ini. Dimulai dengan awal manusia mengenal logam, mengetahui cara menambang logam, melebur logam, dan membuatnya menjadi berbagai bentuk yang biasanya disesuaikan untuk keperluan rumah tangga, pesawat sederhana, dan persenjataan. Zaman dimana manusia mulai mengenal logam disebut zaman logam yang terjadi sekitar 3000 tahun sebelum

Homo sapiens memulai pemanfaatan SDA biotik dengan menggunakan SDA abiotik yang ada yaitu dengan membuat peralatan dari batu yang memulai awal dari zaman batu tua (paleolithic). SDA yang di eksploitasi meliputi hewan dan tumbuhan mentah yang kelak digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Air juga merupakan sumber daya alam yang sudah dikenal pada manusia di zaman ini. Air berguna untuk diminum dimana ini merupakan unsur yang paling dibutuhkan oleh tubuh manusia. Cara pemanfaatan sumber daya alam pada era ini terus berkembang seiringnya waktu ditandai dengan penggunaan hewan tidak sebagai bahan konsumsi melainkan untuk

masehi. Zaman logam merupakan asal mula ditemukannya teknik eksploitasi SDA menambang. Logam-logam yang sudah ditemukan sejak zaman itu diantaranya adalah tembanga, perunggu, dan besi. Setelah itu, domestikasi hewan-hewan seperti anjing, domba, kambing, ungas berkembang sejak zaman neolithic sekitar tahun 9000 sebelum masehi, dapat disimpulkan pada masa ini, peternakan (farming) sudah dikenal oleh manusia.

Gambar 6. Peralatan dari batu Sumber: Wikipedia

Hasil dari perternakan biasanya digunakan untuk kebutuhan pangan dan papan seperti wol dari bulu domba, daging hewan ternak, susu, kulit dan lain-lain. Selain dari itu, hewan ternak juga digunakan untuk mengelola SDA lainya seperti penggunaan sapi untuk membajak sawah, penggunaan kuda dan unta untuk alat transportasi dan anjing untuk berburu. Karena manusia memiliki naluri untuk ekspansi wilayah pengelolaan sumber daya alam, maka pada masa ini pula manusia mulai berpikir untuk menyerang wilayah sekumpulan manusia lainnya dimana tujuannya adalah mendapatkan sumber kebutuhan SDA yang lebih luas, maka banyak SDA pada masa ini sudah digunakan untuk kebutuhan perang seperti logam untuk membuat baju besi, pedang, tombak, anak panah dan lain-lain. Kuda juga mulai digunakan untuk kebutuhan perang. Dimasa ini pula, manusia mulai mengenal bibit tanaman yang dapat digunakan untuk menumbuhkan tanaman pangan seperti gandum, kentang, dan lain-lain sehingga tebentuknya sistem pertanian yang disebut sebagai awal zaman pertanian (Agriculture). Di Mesopotamia sekitar tahun 8000-7000 SM, hasil gandum biasanya diolah menjadi bubur, sup, dan roti. Pemanfaatan sumber daya alam dengan cara bertani, berkebun, dan bercocok tanam berkembang sangat pesat di berbagai belahan bumi. di wilayah selatan Peru dan barat laut Bolivia (8000-5000SM) merupakan awal berkembangnya budi daya kentang dimana di daerah dengan ketinggian 10.000 kaki tersebut, umbi terkena udara malam yang dingin dan berubah menjadi kentang. Tidak hanya di Mesopotamia dan Amerika selatan, pakar arkeolog menemukan adanya tanda-tanda penggunaan lahan untuk bertani

berdasarkan ukiran-ukiran relief yang menunjukan simbol dan peta lahan di berbagai tempat awal munculnya kumpulan masyarakat di wilayah lembah sungai seperti lembah sungai Nil dan Niger mesir (6000SM), lembah sungai Indus di anak benua India (6000-3000SM), dan lembah sungai Yangtze dan desa Ban Po di Cina(6000SM). Di daerah Mesir kuno (4000SM) dan dan Yunani kuno (3000 SM), budidaya buah-buahan dan sayur-sayuran seperti Anggur dan Zaitun telah banyak dikenal oleh Masyarakat pada waktu itu. Banyak daerah dengan budaya bertani berkembang pesat di wilayah lembah sungai, hal ini disebabkan karena biasanya kondisi tanah di wilayah lembah sungai memiliki kadar air yang sesuai untuk pertanian. Itu menunjukan bahwa sumber daya air berperan penting pada kehidupan manusia, tidak hanya sebagai kebutuhan biologis manusia, tetapi air dapat menunjang eksploitasi, pemanfaatan, dan pengelolaan sumber daya alam lainya. Hal ini membuat banyak peradaban awalnya muncul di wilayah lembah sungai, pesisir dan wilayah dekat perairan lainya. Biasanya peradaban yang muncul di wilayah perarairan mayoritas penduduknya ber matapencaharian sebagai nelayan dan mengekspolitasi sumber daya alam yang ada dilaut seperti ikan, udang dan sebagainya. Cara yang digunakan untuk menangkap ikannya pun masih sangat konvensional.

Gambar 7. Peta wilayah Mesopotamia Sumber: iStockPhoto

Era Peradaban Baru BC- 400AD)

(Neo Civilization Era, 3000

Di awal era ini, sekumpulan manusia yang membentuk koloni yang menetap di suatu wilayah sehingga lahirnya peradaban peradaban baru. Peradaban peradaban baru ini biasanya muncul di wilayah yang kaya akan sumber daya alam, dikarenakan manusia bisa lebih mudah memenuhi kebutuhan pokok mereka dengan mengeksploitasi

SDA disekitar mereka tinggal. Beberapa diantaranya adalah penduduk Mesopotamia, Mesir kuno, Yunani kuno, penduduk Harrappan, dinasti xiang, shang, dan zou. Di tahun 3000 SM, manusia membangun peradaban dengan menggunakan sumber daya alam yang ada. Berbeda dengan era prasejarah dimana sumber daya alam banyak digunakan untuk kebutuhan pangan, pada era peradaban, penggunaan sumber daya alam lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan primer lainya. Pada era ini, ilmu pengtahuan yang berpengaruh pada pemanfaatan SDA berkembang sangat pesat.

SDA air bermanfaat untuk pengelolaan sumber daya alam lainya menjadi perkebunan, dan teknologi semi-akuatik tanaman pertanian sebagai cikal bakal dari sistem pengairan. Beberapa diantaranya adalah Taman Gantung Babilonia (Hangung Garden of Babylon) di dataran Libanon pada tahun 800-700 SM, taman-taman yang ada di Yunani, Chinampa di Xochimilco sekarang (Mexico) dan masih banyak lagi.

Gambar 9. Taman Gantung Babilonia sebagai situs hidrokultural Sumber: World History

Gambar 8. Ilustrasi Pertanian Di Mesir Kuno Sumber: Wikipedia

Bersumber dari para pemikir, filusuf, ilmuan seperti Pitagoras, Ariototeles, Thales, Plato dan lain-lain. Umumnya, pada era ini sumber daya alam digunakan untuk membuat bangunan, diawali dengan bangunan stonehenge yang dibangun sekitar tahun 3000-2000 di Inggris. Kemudian, sekitar tahun 3000-2000SM, peradaban Mesopotamia dan mesir kuno mulai menggunakan sumber daya alam yang ada untuk membuat bangunan, sepeti Great Pyramid of the ruler Khufu dan Great Sphinx di mesir yang dibangun pada tahun 2700-2500 SM. Pembangunan piramid ini merupakan pemanfaatan sumber daya alam terbasar pertama di dunia. Pembangunan lainya di era ini adalah, The Parthenon yang dibangun pada 447-438 SM di Yunani kuno, Jalur Appian pada tahun 312SM di Roma, Tembok Cina (Great Wall) pada masa kekaisaran Shih Huang Ti pada tahun 220 SM dan Stupa yang dibangun di Sri Lanka seperti Jatavanaramaya dan irigasi luas di Anuradaphura. Menurut sumber sejarah, banyak situs-situs Hydroculture kuno yang dibangun di era ini yang menjadi contoh dari pemanfaatan sumber daya alam secara besar-besaran terutama bagaimana pengelolaan

Sumber daya alam yang digunakan untuk membangun meliputi pasir, batu, kayu, keramik, logam-logam seperti perunggu, tembaga dan lain-lain yang dipadukan dengan metode-metode pengelolaan sumber daya alam seperti pertanian, perkebunan, pertambangan dan sebagainya. Beberapa bangunan dibikin untuk kebutuhan ekonomi, politik, tempat tinggal, pemujaan, dan pertahanan perang. Pada era ini pula pemanfaatan SDA sudah digunakan untuk membangun saluran air, pelabuhan, jembatan, bendungan dan jalan. Pengelolaan sumber daya alam mineral yang didapat dengan cara menambang juga berkembang pesat di era ini. Mesir kuno mulai melakukan eksploitasi mineral dengan cara menambang pertama kalinya di Maadi, mineral yang dihasilkan adalah perunggu. Pada awalnya, orang mesir menggunakan batu malahit hijau cerah untuk pembentukan ornamen dan tembikar. Kemudian, sekitar tahun 2613-2494 SM, Mesir melakukan ekspedisi ke daerah Wadi Maghara dalam rangka mengamankan mineral dan sumber daya lainya yang tidak tersedia di Mesir. Terbukti dari ditemukannya kawasan pertambangan di Wadi, Hamamat, Taura, Aswan dan berbagai situs lainya di Nubian, semenanjung Sinai, dan Timba. Emas sudah mulai ditemukan dan dilakukan penambangannya di daerah Nubia dan merupakan salah satu yang terbesar di zaman itu. Metode pengaturan api telah berkembang di zaman mesir kuno untuk melebur emas. Yunani dan Romawi kuno juga sudah mengenal pertambangan sejak era ini. Di Yunani, tambang

perak Larium dibangun di kota Athena. Romawi mengembangkan, pertambangan emas di Walles. Romawi kuno menjadi salah satu pelopor pengembangan metode penambangan skala besar seperti penggunaan air dengan volume besar yang disalurkan melalui saluran air untuk menghilang kotoran akibat overburden dan batu.

Di era ini, pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan sandang juga mengalami evolusi yang signifikan dibandingkan zaman prasejarah. Di era ini, bahan dasar sutra dan katun sudah dikenal di kalangan manusia. Peradaban sungai Indus di India sudah mengenal dan membuat pakaian dengan menggunakan bahan dasar katun sejak 3000 SM. Sejak tahun 3000 SM, serat protein yang berasal dari larva ulat sutra sudah mulai dikembangkan di Cina, tepatnya pada masa kekaisaran Lei-Tsu, Penyebaran dan perdangangan sutra ini dikenal dengan istilah Slik Road (jalur sutra), yaitu jalur atau rute perdagangan interlinking seluruh daratan Afro-Eurasian yang menghubungkan timur, selatan, dan barat asia dengan wilayah mediterania dan eropa, serta bagian utara dan timur afrika, jalur perdagangan sutra ini dimulai pada masa dinasti Han tepatnya dari tahun 206 SM sampai 220 M. Perkembangan pemanfaatan sumber daya alam di era Neo Civilization merupakan awal munculnya ilmuilmu pengetahuan seperti Geodesi, teknik sipil, teknik pertambangan, pertanian, arsitektur, geologi, matematika murni, dan lain-lain yang berpengaruh besar pada perkembangan teknologi pengelolaan SDA dimasa sekarang.

Era Pertengahan (Medieval Era, 400AD-1500AD) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpengaruh pada pemanfaatan sumber daya alam yang ada di bumi terus meningkat sejak awal abad ke-4, tepatnya diawal era pertengahan. Di era ini,

Gambar 10. Peta Pertambangan di Walles (Romawi Kuno) Sumber: Wikipedia

Di Spanyol, telah dilakukan metode yang serupa untuk mengeksploitasi mineral emas aluvial besar di tahun 25 sesudah masehi. Situs terbesar ini berada di Las Medulas. Situs situs tambang yang digunakan oleh peradaban romawi kuno ini sekarang diawetkan di museum Inggris dan Museum Nasional Wales. Penambangan minyak juga sudah ditemukan sejak zaman ini, menurut Herodotus dan Diodorus Siculus, aspal telah digunakan untuk membangun dinding dan menara Babilonia ini membuktikan bahwa sejak 2000 tahun yang lalu, sumber daya alam minyak sudah ditemukan dan dimanfaatkan. Berdasarkan sumber informasi dari para pakar arkeolog, sumur- sumur minyak yang pertama dibangun yaitu di Ardericca dekat Babilonia, dan di Zacynthus. Sumur minyak terbanyak pada masa itu ditemukan di sepanjang anak sungai Efrat. Persia kuno sudah menggunakan minyak bumi untuk berbagai kebutuhan dasar masyarakatnya. Minyak minyak itu diperoleh dengan cara yang sangat konvensional seperti pada tahu 347 Masehi, di Cina, minyak diperoleh dengan dibor menggunakan sumur bambu.

Gambar 11. Ilustrasi pertanian dan peternakan di era pertengahan Sumber: Tres Riches Heures

umat manusia lebih beradab dan berbudaya, pemikiran pemikiran sosial dan politik demi mengayomi kesejahteraan rakyat sudah dipraktekan di berbagai wilayah kerajaan yang tersebar di seluruh dunia. Seperti di wilayah eropa, para petani harus mengumpulkan hasil tani mereka di satu tempat yaitu granary (lumbung padi). Suatu kerajaan juga biasanya memiliki aliansi atau persekutuan dengan tujuan agar sumber daya alam di kedua kerajaan dapat saling terpenuhi, mengingat SDA di suatu wilayah biasanya terbatas, hasil pertanian dari suatu kerajaan harus di ekspor ke kerajaan sekutu begitu pula dengan timbal baliknya, sehingga sistem perdagangan dan nilai mata uang mulai diperhitung kan di masa ini. Di Roma sistem pembagian lahan agraria sudah diterapkan dimana ukuran lahan pertanian, peternakan, atau perkebunan dibagi menjadi tiga kategori, lahan kecil (18-88 iugera), menegah (80-500 iugera), dan besar (>500 iugera) satu iugera sama dengan 0,65 hektar persegi. Metode metode bertani yang digunakan mulai mengalami perubahan yang signifikan selama abad pertengahan di eropa, seperti penggunaan alat sabit dan bajak (dikembangkan dari era- era sebelumnya), sistem tiga bidang rotasi tanaman, majak moldboard, dan bajak roda. Di era ini pula, manusia mulai mengenal pupuk penggunaan kotoran hewan yang dapat menyuburkan tanaman yang disebut pupuk kandang, sehingga hasil pertanian pun semakin meningkat. Ilmu medis terus berkembang di era ini, tentunya dunia pengobatan tidak bisa lepas dari tanaman tanaman herbal yang merupakan sumber daya alam biotik, maka budidaya dan pemanfaatan beberapa tumbuhan seperti madu, jahe, dan rempah rempah lainnya terus ditingkatkan. Rempah rempah tidak hanya digunakan untuk obat- obatan, di masa itu juga dimanfaatkan sebagai pengawet makanan. Di awal abad ke 11, rempah rempah tidak lagi digunakan untuk pengawet makanan karena di abad itu, bangsa eropa sudah mengembangkan metode pengawetan makanan dengan cara penggaraman dan pengasapan, namun minat bangsa eropa untuk terus memanfaatkan SDA berupa rempah rempah masih belum hilang.

Rempah rempah merupakan suatu kebutuhan yang sering digunakan oleh kaum bangsawan, dikarenakan harganya yang sangat mahal dan sumbernya yang sangat langka seperti kayu manis, cengkeh, jinten kunyit, pala, dan lada hitam. Hal ini membuat penggunaan rempah rempah menjadi trend dimana rempah rempah menjadi simbol status. Semakin kaya seseorang di era itu, maka makanan pestanya semakin mahal karena rempah rempah semakin banyak. Dalam sebuah catatan banquet abad pertengahan, dicatat bahan makanan yang sering dibutuhkan untuk pesta dengan 40 orang tamu meliputi 1 pon bubuk colombine, pon bubuk kayumanis, 2 pon gula, 1 ons safron, pon cengkeh, 1/8 pon merica, 1/8 pon lengkuas, 1/8 pon pala. 1/8 pon daun bay. Jatuhnya Konstantinopel di tangan Turki Usmania pada tahun 1453 membuat pasokan rempah rempah ke wilayah Eropa terputus, hal ini merupakan penyebab utama ekspansi mereka ke wilayah wilayah yang di yakini sebagai sumber rempah rempah. Selain Indonesia (Asia Tenggara), eropa melakukan ekspansi ke wilayah Amerika yang mereka sebut sebagai New World yang diyakini kaya akan sumber daya alam, terutama rempah rempah.

Gambar 13. Pengeolahan besi di abad pertengahan Sumber: World History

Gambar 12. Penjamuan rempah rempah oleh kaum bangsawan Sumber: medivaltimes

Salah satu perkambengan pengelolaan SDA yang paling penting di abad pertengahan adalah eksperimen dan perkembangan dalam produksi besi. Sebagai mana dicatat oleh Bert Hall dalam esainya, besi adalah salah satu logam yang paling sulit untuk dipahami dalam sejarah, terutama dalam sejarah abad pertengahan. Di Eropa pada tahun 900, ada perubahan signifikan dalam produksi besi. Tungku tanah reduksi telah di kembangkan yang mempermudah pengolahan biji besi menjadi besi. Besi ini kemudian bisa ditempa oleh pandai besi menjadi berbagai peralatan seperti bajak, sekop, garpu rumput, dan sepatu untuk kuda. Sekitar abad ke-14, permintaan untuk senjata, armor (baju perang), sanggurdi, dan tapal kuda sangat meningkatkan

permintaan untuk besi. Selain itu, pertambangan bijih besi untuk membuat produk produk pertanian dan manufaktur di zaman pertengahan ini mengikuti peningkatan pertambangan logam lainnya termasuk perak, timah, tembaga, emas dan antrasi. Selama awal Zaman abad Pertengahan menengah, sistem pertambangan mengikuti pola manor berbasis pertanian. Sebagian bijih menjadi lebih sulit untuk ditambang dari tanah, tambang menjadi lebih dalam. Hal ini menyebabkan penggunaan teknologi baru dalam industri pertambangan. Salah satu aplikasi yang paling penting abad ke-15 adalah kincir air untuk memompa keluar poros tambang. Sebuah buku klasik pertambangan, De re metallica (diterbitkan 1556), menunjukkan berbagai pompa, rantai ember, dan perangkat treadmill sudah digunakan untuk pertambangan. Dalam kasus apapun, pada tahun 1500, produksi besi untuk Eropa mencapai 60.000 ton. Selain itu, logam banyak diperoleh melalui tambang terbuka, bijih yang diambil dari kedalaman dangkal lebih sering diterapkan dibandingkan penggalian poros tambang yang mendalam. Peningkatan pemanfaatan SDA berupa logam dengan cara menambang di era itu menjadi lebih murah dan pada saat yang sama, jumlah permintaan alat yang tersedia meningkat, khususnya di bidang pertanian. Era Moderen (Modern Era, >1500AD) Jumlah dari populasi manusia di bumi semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu, tentunya berbanding lurus dengan jumlah SDA yang dieksplorasi dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini menuntut manusia untuk terus berpikir akan perkembangan pengelolaan SDA agar lebih efesien namun tetap mempertahankan kualitas dan kuantitas hasil pengolahan SDA. Di zaman ini, pengelolaan SDA cenderung mengarah pada pemerataan SDA dimana SDA tertentu tidak hanya bisa dinikmati di satu wilayah saja, tapi belahan bumi lain juga dapat memanfaatkannya. Sebagai contoh di bidang pertanian, Di bidang pertanian, pertanian di awal era modern terkait erat dengan proses eksplorasi Eropa dan kolonisasi. Setelah tahun 1500 pola pertanian dunia yang dikocok dalam pertukaran luas tanaman dan hewan yang dikenal sebagai Bursa Columbus (Columbian Exchange). Sebagai contoh, tomat menjadi favorit di masakan Eropa, dan jagung dan kentang diadopsi secara luas. Tanaman lain yang ditransplantasikan termasuk nanas, kakao, dan tembakau. Di tempat lain, gandum cepat turun ke tanah belahan barat dan menjadi makanan pokok bahkan untuk wilayah Utara, Tengah dan Amerika Selatan. Pertanian merupakan elemen kunci dalam perdagangan budak Atlantik, perdagangan segitiga, dan perluasan oleh kekuatan Eropa ke Amerika. Dalam ekonomi perkebunan berkembang, perkebunan besar memproduksi tanaman termasuk

gula, kapas, dan nila, yang sangat tergantung pada tenaga kerja budak. Revolusi Industri merupakan hal terpenting yang mempengaruhi pertanian di era ini.

Gambar 14. Mesin Uap dimasa Revolusi Industri Sumber: Wikipedia

Revolusi industri berdampak pada peningkatan pesat mekanisasi pertanian di akhir abad 19 dan abad ke-20, terutama dalam bentuk traktor dimana tugas pertanian bisa dilakukan dengan kecepatan dan pada skala yang sebelumnya mustahil. Kemajuan ilmu teknologi dan metode metode pengelolaan SDA akibat revolusi industri telah menyebabkan efisiensi memungkinkan pertanian dan peternakan modern di Amerika Serikat, Argentina, Israel, Jerman dan negara-negara lain yang perlu volume output produk berkualitas tinggi per unit lahan. Pengembangan kereta api, jaringan jalan raya, meningkatnya penggunaan pengiriman kontainer, dan mesin pendingin di negara maju juga telah berperan penting untuk pertumbuhan pertanian bermesin, yang memungkinkan untuk pengiriman jarak jauh yang lebih ekonomis dari produk. Revolusi Industri tidak hanya berpengaruh pada perubahan besar pengelolaan SDA di bidang pertanian, pada pengelolaan SDA lainya seperti pertambangan yang merujuk pada perkembangan manufaktur yang ada. Revolusi industri pertamakalinya muncul di Inggris tahun 1750, faktor faktor penyebabnya masih berhubungan dengan pengelolaan SDA seperti pada waktu itu Inggris kaya akan bahan tambang seperti batu bara, biji besi, timah, kaolin sehungga butuh metode manufaktur yang lebih canggih untuk mengolahnya. Di bidang industri tekstil dimana wol menjadi bahan dasar, penemuan-penemuan seperti alat alat pemintal dan mesin tenun meningkatkan jumlah produksi sandang dalam waktu yang relatif singkat. Selain dari itu, penemuan mesin uap juga menjadi tongak awal dari berkembangnya revolusi industri dalam mengelolah SDA secara mekanis, penemuan penemuan itu di patenkan sehingga mendorong kegiatan penelitian seperti berdirinya lembaga ilmiah Royal Society fo Improving Natural Knowledge yang

menujang perkembangan pengelolaan SDA. Beberapa penemuan yang terkait oleh Revolusi Industri adalah penggunaan batu bara untuk melelehkan besi oleh Abraham Darby (1750), penemuan mesin uap oleh James Watt (1764) dan lain lain.

proses untuk menyaring minyak tanah dari minyak bumi diciptakan oleh James Young di Skotlandia dan kilang pertama dibangun oleh Ignacy Lukasiewicz. Semenjak ditemukannya lampu pijar untuk penerangan, Permintaan untuk minyak bumi sebagai bahan bakar. penerangan di Amerika Utara dan di seluruh dunia dengan cepat tumbuh.

Gambar 15. Penggunaan traktor dalam pertanian Sumber: Wikipedia

Selain Revolusi Industri, Revolusi Hijau. Revolusi Hijau juga berpengaruh terhadap perkembangan SDA untuk kebutuhan pangan. Revolusi Hijau adalah sebutan tidak resmi yang dipakai untuk menggambarkan perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian yang dimulai pada tahun 1950-an hingga 1980-an di banyak negara berkembang, terutama di Asia. Hasil yang nyata adalah tercapainya swasembada (kecukupan penyediaan) sejumlah bahan pangan di beberapa negara yang sebelumnya selalu kekurangan persediaan pangan (pokok), seperti India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Thailand, serta Indonesia. Semenjak pupuk kimia dan pestisida ditemukan sejak abad ke-19, industri pertanian meningkat secara signifikan di awal abad 20. Aplikasi lain dari penelitian ilmiah sejak tahun 1950 di bidang pertanian meliputi manipulasi gen, Hydroponik, dan pengembangan biofuel ekonomis seperti Ethanol. Meskipun praktek pertanian intensif dirintis dan diperpanjang dalam sejarah yang menyebabkan output meningkat, mereka juga telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian, terutama di daerah debu mangkuk dari Amerika Serikat setelah Perang Dunia I. Seiring dengan peningkatan populasi global, pertanian terus menggantikan ekosistem alam dengan tanaman monokultur. Sejak 1970-an, banyak digunakan praktik pertanian intensif yang menyebabkan meningkatnya minat dalam bidang-bidang seperti pertanian organik, permaculture, tanaman pusaka dan keanekaragaman hayati, pertumbuhan gerakan Slow Food, dan diskusi sedang berlangsung di sekitar potensi pertanian berkelanjutan. Pengelolaan SDA minyak juga mengalami perkembangan yang signifikan. Pada tahun 1840-an,

Gambar 16.

Minyak derek di Okemah, Oklahoma Sumber: Wikipedia

Penemuan alat transportasi oleh Daimler (1887) dan pesawat terbang oleh Wright bersaudara (1903) berikut perkembangan industrinya juga menyebabkan tingkat permintaan akan minyak bertambah yang kemudian diolah menjadi bahan bakar seperti bensin, solar dan lain lain. Akses ke minyak dan masih merupakan faktor utama dalam konflik militer beberapa abad kedua puluh, termasuk Perang Dunia II, di mana fasilitas minyak adalah aset strategis utama. Dimasa sekarang, sekitar 90 persen dari kebutuhan bahan bakar kendaraan yang dipenuhi oleh minyak. Nilai dari Petroleum sebagai sumber energi portabel padat powering sebagian besar kendaraan dan sebagai dasar bahan kimia industri banyak menjadikannya salah satu komoditas dunia yang paling penting. Negara-negara penghasil minyak terbesar adalah Arab Saudi, Rusia, dan Amerika Serikat, selain dari itu, masih sama seperti era peradaban, penghasil minyak terbesar adalah negara negara yang terletak di Timur Tengah, seperti Saudi Arabia, UEA, Irak, Qatar dan Kuwait. Pada era ini, manusia mulai sadar bahwa Sumber Daya Alam yang mereka eksploitasi selama ini jumlahnya terbatas, dan juga akibat eksploitasi dalam skala besar, pemanfaatan SDA malah berdampak

pada rusaknya lingkungan sekitar. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, manusia pun menyadari akan adanya Energi Terbarukan. Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber daya alam seperti sinar matahari, angin, hujan, pasang surut, gelombang, dan panas bumi, yang terbarukan (secara alami dapat terisi ulang) atau sumber daya alam yang jumlahnya tidak terbatas.

terlalu mahal untuk membangun peternakan surya sampai tahun 1980. Sumber daya alam selain energi surya yang termasuk dalam kategori energi terbarukan adalah tenaga angin, tenaga hidro, biomassa, biofuel, energi laut (daya gelombang), dan geotermal (panas bumi) yang menjadi trend di zaman sekarang dan masih terus dilakukan perkembangan sampai sekarang. Kesimpulan dan Saran Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam terus mengalami perkembangan dari zaman ke zaman, seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa sejak awal muculnya peradaban manusia, sumber daya alam yang ada sudah di eksploitasi guna memenuhi kebutuhan kebutuhan manusia. Dapat kita lihat perubahan perubahan pada metode pengelolaan sumber daya alam yang terus berkembang dari zaman ke zaman, dari metode yang konvensional menjadi otomatis, dari yang memakan banyak waktu dan tenaga menjadi yang lebih efesien, menunjukan betapa pintarnya manusia dalam menciptakan solusi untuk memenuhi kebutuhannya. Manusia seolah telah berhasil membangun peradaban yang maju dan sejahtera. Namun, manusia masih luput akan mewujudkan kesejahteraan secara menyeluruh dan tidak merusak keseimbangan alam, keyakinan bahwa manusia dapat terus beraktivtas untuk memenuhi segala kebutuhan hidup dengan mengonsumsi sumber daya alam yang ada tanpa konsekuensi adalah salah. Kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya ditambah lagi dengan jumlah populasi manusia yang terus meningkat bertolak belakang dengan jumlah sumber daya alam yang ada, dari zaman ke zaman manusia mengembangkan metode metode yang digunakan untuk mengeksploitasi, mengelola, dan memanfaatkan SDA yang mengarah pada penggunaan SDA pada skala besar. Hal ini tentunya akan berdampak negatif pada lingkungan sekitar. Eksploitasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkembang terus menerus dari zaman ke zaman malah menyebabkan rusaknya lingkungan sekitar. Tujuan pengelolaan SDA agar kesejahteraan manusia dapet terwujud malah terjadi sebaliknya.

Gambar 17. Pemanfaatan energi surya (solar sun) sebagai sumber daya energi terbarukan Sumber: Visual Dictionary Online

Sebelum pengembangan batubara di pertengahan abad ke 19, seluruh energi yang digunakan adalah terbarukan, dengan sumurber utama adalah tenaga manusia, tenaga hewan dalam bentuk lembu, keledai, dan kuda, tenaga air untuk tenaga pabrik, angin untuk menggiling biji-bijian, dan kayu bakar. Pada tahun 1873, kekhawatiran kehabisan batubara memicu munculnya eksperimen dengan menggunakan energi matahari Pengembangan mesin surya berlanjut sampai pecahnya Perang Dunia I. Dalam artikel dari lembaga Scientific American, "di masa depan yang jauh, bahan bakar alami [tenaga surya] akan tetap sebagai satu-satunya alat keberadaan umat manusia". Pada 1970-an lingkungan mendorong pengembangan energi alternatif baik sebagai pengganti penipisan minyak, serta untuk melarikan diri dari ketergantungan pada minyak, dan turbin angin pertama kali muncul. Surya selalu digunakan untuk pemanasan dan pendinginan, tapi panel surya

Gambar 18. Peta polusi udara di bumi akibat eksploitasi SDA berlebihan Sumber: Nasa.gov

Merupakan suatu tugas yang sangat sulit jika manusia ingin mensejahterakan seluruh umat manusia di bumi dengan pemerataan sumber daya alam yang adil. Sumber daya alam yang dikelola untuk menunjang pendapatan sumber daya alam lainya memang perlu ditingkatkan namun tidak harus merusak lingkungan dan merugikan umat manusia. Saya berpendapat bahwa kesejahteraan sesungguhnya tidak merusak kesejahteraan lainnya. Maka peranan dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan disini, dimulai dari pemanfaatan SDA yang tidak berlebihan, upaya upaya pelestarian, dan tentunya pendidikan guna menghasilkan generasi penerus yang mampu mengelola sumber daya alam yang merujuk pada kelestarian alam dan lingkungan. Serta para kaum intelektual yang terus melakukan penelitian dari ilmu pengetahuan yang ada untuk melestarikan alam dan sumber daya nya didukung kebijakan para pemimpin dunia. Semoga pengalaman pengalaman dan ilmu pengetahuan akan pengelolaan sumber daya alam dari zaman terdahulu bisa menjadi pembelajaran dan inspirasi buat pengelolaan sumber daya alam di masa yang akan datang dimana kesalahan dimasa lalu seharusnya tidak terulang dimasa depan. Sehingga kesejahteraan umat manusia di era berikutnya dapat terus terpenuhi secara menyeluruh di seluruh permukaan bumi.

Ucapan terima kasih Ucapan terimakasih saya ucapkan pada bapak Djurdjani, Ir, MSP, M.eng, Ph.D selaku ketua jurusan Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada. Juga kepada dosen pengampu mata kuliah Pengelolaan Sumber Daya Alam, bapak Heri Sutanta, ST, Msc, karena dedikasinya dalam memberi ilmu ilmu akan pentingnya sumber daya alam dan lingkungan dalam kehidupan sehari hari, serta tugas jurnal ilmiah yang beliau berikan sehingga menginspirasi saya untuk mempelajari pengelolaan sumber daya alam dan perkembangannya dari zaman ke zaman dan membuat saya menjadi lebih mengerti tentang metode - metode pengelolaan SDA dan sejarah manusia mulai mengelolanya. Terima kasih juga kepada Google, Wikipedia, World History dan situs situs online lainya yang mensajikan artikel artikel yang kelak saya gunakan sebagai sumber untuk menulis jurnal ini.

Daftar Pustaka Koeller, David W., 1996, World History Chronology : SettledAgriculturalSocieties, http://www.thenagain.info/webchron/world/World.h tml (diakses tgl. 5 Oktober 2012). Meyers, Katy M., Bioarhaeological view of TransitionAgriculture, http://bonesdontlie.wordpress.com/2012/10/23/bioa rchaeological-view-of-transition-to-agriculture-in-u sa/ (diakses tgl 5 Oktober 2012). Tullis, Edwin., Prehistoric People, Indians Cleveland,World,1959, http://www.sweetwatermuseum.org/E_PrehPeople. htm (diakses tgl 5 Oktober 2012). Hartman, Rachel., The Medieval Agricultural Year, StrangeHorizons,2001, http://www.strangehorizons.com/2001/20010212/ag riculture.shtml (diakses tgl 6 Oktober 2012). Anonim 2008, Mining at Ancient Egypt, http://www.reshafim.org.il/ad/egypt/timelines/topic s/mining.htm (diakses tgl 6 Oktober 2012). Anonim 2005, Spices in the Middle Age, http://www.middle-ages.org.uk/spices-in-the-middl e-ages.htm (diakses tgl 6 Oktober 2012). Gill, N.S., Civilization began in sumer: Sumers NaturalResources,http://ancienthistory.about.com/ od/southasia/a/Sumer.htm (diakses tgl 5 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Agricultural, last update 25 Oktober 2012, (dakses tgl. 6 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Petroleum, last update 18 Oktober 2012, (diakses tgl. 6 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Industrial Revolution, last update 21 Oktober 2012, (diakses tgl. 13Oktober 2012).

Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Natural Resource, last update 23 Oktober 2012, (diakses tgl. 5 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Renewable resource, last update 26 Oktober 2012, (diakses tgl. 13 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Mining, last update 24 Oktober 2012, (diakses tgl. 6 Oktober 2012). Wikipedia Foundation, Inc, 2012, Farming History, last update 26 Oktober 2012, (diakses tgl. 6 Oktober 2012).