Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Umum Setiap menit terdapat sekitar 4-6 orang meninggal di dunia karena

serangan jantung. Dan sangat disayangkan bila seseorang tiba tiba meninggal, yang tadinya kelihatan segar bugar, dengan kata lain jantungnya yang sehat untuk tiba tiba tidak berdenyut lagi. Dari semua kejadian serangan jantung, 80% serangan jantung terjadi di rumah, sehingga setiap orang seharusnya dapat melakukan resusitasi jantung paru !"#$ atau cardiopulmonary resuscitation %#!$. &enurut American Heart Association tindakan resusitasi jantung paru mempunyai hubungan erat dengan rantai kehidupan (chain of survival), karena bagi penderita yang terkena serangan jantung, dengan diberikan !"# segera maka akan mempunyai kesempatan yang amat besar untuk dapat hidup kembali. !"# merupakan suatu prosedur tindakan penyelamatan ji'a yang meningkatkan kemungkinan hidup setelah henti jantung. &eskipun pendekatan optimal dalam !"# dapat ber(ariasi, tergantung dari penolong, penderita, dan sumber yang tersedia, namun tantangan yang mun)ul tetap, yaitu bagaimana untuk men)apai !"# yang dini dan e*ekti*. +leh karena itu, pengenalan yang dini terhadap henti jantung dan tindakan segera oleh penolong terus menjadi prioritas untuk AHA Guidelines for CPR and ECC 2010. ,ahun lalu American Heart Association -.-$, dalam urnal Circulation yang /010. !ekomendasi /010 #edoman mengkon*irmasi keamanan dan e*ekti(itas dari banyak pendekatan, mengakui ketidake*ekti*an orang lain, dan memperkenalkan pera'atan baru berbasis e(aluasi bukti intensi* dan konsensus para ahli. 2ehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bah'a diterbitkan / 0o(ember /010, mempublikasikan #edoman Cardiopulmonary Resucitation %#!$ dan #era'atan Darurat 2ardio(askular

pedoman sebelumnya tidak aman atau tidak e*ekti*, melainkan untuk menyempurnakan rekomendasi terdahulu. 1.2. Ruang Lingkup !e*erat ini mengangkat topik !esusitasi "antung #aru, yang berdasarkan !American Heart Association (AHA) Guidelines for CPR and ECC 2010" 1.3. Tujuan ,ujuan penulisan re*erat ini adalah untuk mengetahui tentang de*inisi, indikasi, tahapan resusitasi dan perbedaan "Guideline CPR 2010! dengan "Guideline CPR 200#!

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Definisi !esusitasi atau reanimasi mengandung arti hara*iah menghidupkan kembali, dimaksudkan usaha usaha yang dapat dilakukan untuk men)egah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. !esusitasi "antung #aru !"#$ atau Cardio Pulmonary Resucitation (CPR) adalah prosedur kega'at daruratan medis yang diajukan untuk serangan jantung pada henti na*as. !esusitasi "antung #aru adalah kombinasi antara bantuan perna*asan dan kompresi jantung yang dilakukan pada korban serangan jantung. 2.2. In ikasi R!P !"# diindikasikan untuk setiap orang yang tidak sadar, yang tidak berna*as atau hanya tergagap ($aspin$), sebagaimana yang sering terjadi pada henti jantung -. .enti napas .enti napas primer respiratory arrest$ dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, kera)unan obat, tenggelam, inhalasi asap 3 uap 3 gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tersengat listrik, tersambar petir, serangan in*ark jantung, radang epiglottis, ter)ekik suffocation$, trauma dan lain-lainnya. #ada a'al henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian +/ ke otak dan organ (ital lainnya masih )ukup sampai beberapa menit. 2alau henti napas mendapat pertolongan segera maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung. 4ntuk orang a'am, jika tidak ada gerakan dada dan na*as tidak normal $aspin$$, segera lakukan !esusitasi "antung #aru.

6. .enti jantung .enti jantung primer ialah ketidaksanggupan )urah jantung untuk memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ (ital lainnya se)ara mendadak dan dapat kembali normal jika dilakukan tindakan yang tepat. Sebaliknya akan menyebabkan kematian atau kerusakan otak jika tindakan yang dilakukan tidak tepat. .enti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu tidak termasuk dalam henti jantung. .enti jantung terjadi bisa karena penyebab kardial dari jantung$ atau penyebab ekstrakardial dari luar jantung$. 7ang termasuk penyebab kardial yaitu gangguan sara* dan konduksi impuls aritmia$, penurunan kontraktilitas otot jantung decomensatio cordis, syok kardiogenik$, aliran darah koroner terhenti, aliran darah koroner yang kurang oksigen, trauma pada jantung atau pada sternum, dan sumbatan koroner. 7ang termasuk penyebab ekstrakardial yaitu hipoksia berat, hipo(olemia berat, hiperkalemia, aliran listrik. 6ila seseorang mengalami henti jantung, maka aliran koroner terhenti, miokard akan menjadi hipoksia, dan -,# habis. -'alnya akan terjadi irama (entrikel takikardi atau (entrikel *ibrilasi, namun setelah -,# habis akan menjadi asistol. Setelah henti jantung, kontraktilitas otot jantung menurun. Selama periode hipoper*usi, miokard mungkin rusak.

2.3. RESUSITASI !ANTUN" PARU !esusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang ditunjukkan dalam Chain of %urvival, yang meliputi 8 #engenalan segera terhadap henti jantung dan akti(asi dari emer$ency response system !"# yang a'al dengan menekankan pada kompresi dada De*ibrilasi yang )epat Advanced life support yang e*ekti* #era'atan post&cardiac arrest yang terintegrasi

Sistem kega'atdaruratan yang se)ara e*ekti* menerapkan rangkaian tersebut diatas dapat meningkatkan rata-rata kelangsungan hidup pada penderita henti jantung sebesar 90%. #ada sebagian besar sistem kega'atdaruratan, meskipun demikian, rata-rata kelangsungan hidupnya rendah, yang mengindikasikan bah'a terdapat kesempatan untuk meningkatkan rata-rata kelangsungan hidup dengan pemeriksaan setiap mata rantai se)ara )ermat dan memperkuat mata rantai yang lemah. &ata rantai yang satu tergantung dengan mata rantai yang lainnya, dan kesuksesan dari setiap mata rantai tergantung dari kee*ekti*an mata rantai sebelumnya. #enolong dapat mempunyai berbagai ma)am pelatihan, pengalaman, dan kemampuan. Status penderita henti jantung dan responnya terhadap !"# juga ber(ariasi. ,antangannya adalah bagaimana untuk men)apai !"# yang sedini see*ekti* dan mungkin untuk penderita henti jantung. !"# se)ara tradisional telah menggabungkan kompresi dan na*as buatan dengan tujuan untuk mengoptimalkan sirkulasi dan oksigenasi. 2arakteristik penolong dan penderita dapat mempengaruhi aplikasi yang optimal dari komponen !"#. Semua orang dapat menjadi penolong untuk penderita henti jantung. 2ompresi dada merupakan dasar dari !"#. Semua penolong, tanpa melihat telah mendapat pelatihan atau tidak, harus memberikan kompresi dada pada setiap penderita henti jantung. 2arena sangat penting, kompresi dada harus menjadi tindakan a'al pada !"# untuk setiap penderita pada semua usia. #enolong yang telah terlatih harus berkoordinasi dalam melakukan kompresi dada bersamaan dengan (entilasi, sebagai suatu tim.

Sebagian besar henti jantung pada de'asa terjadi se)ara tiba-tiba, sebagai akibat dari kelainan jantung, sehingga sirkulasi yang dihasilkan dari kompresi dada menjadi sangat penting. 6erla'anan dengan hal itu, henti jantung pada anakanak seringkali karena as*iksia, dimana membutuhkan baik (entilasi maupun kompresi dada untuk hasil yang optimal. Dengan demikian na*as buatan pada henti jantung menjadi lebih penting untuk anak-anak daripada untuk de'asa. 2.#. BASIC LIFE SUPPORT -lgoritma Adult 'asic (ife %upport yang se)ara luas dikenal adalah suatu konsep kerangka untuk semua tingkatan penolong pada setiap kondisi. -spek dasar dalam 6:S meliputi pengenalan (recognition) se)ara )epat henti jantung yang tiba-tiba dan akti(asi emer$ency response system (activation), resusitasi jantung paru yang dini (resuscitation), dan de*ibrilasi yang )epat (defibri ation) dengan Automated E)ternal *efi+rillator (AE*), #engenalan dan respon yang dini terhadap serangan jantung dan stroke juga termasuk bagian dari 6:S. a. Pengena$an %en&i jan&ung se'a(a 'epa& an ak&i)asi e!ergenc" res#onse s"ste! 2etika menjumpai seorang penderita yang mengalami henti jantung se)ara tiba-tiba, penolong yang seorang diri harus pertama kali mengenali bah'a penderita telah mengalami henti jantung, berdasarkan pada tidak adanya atau berkurangnya respon na*as.

Setelah memastikan bah'a lokasi sekitar aman, penolong harus memeriksa respon penderita dengan )ara menepuk pundak penderita dan memanggil penderita. Setelah itu baik penolong yang terlatih maupun yang tidak terlatih harus segera mengakti*kan emer$ency response system dengan menghubungi nomor darurat yang tersedia$. Setelah mengakti*kan emer$ency response system semua penolong harus segera memulai !"#. *. Penge'ekan na i 6eberapa studi telah menunjukkan bah'a baik penolong yang tidak terlatih maupun penolong yang terlatih mengalami kesulitan dalam menge)ek nadi. #enolong yang terlatih dapat juga membutuhkan 'aktu yang lama untuk menge)ek nadi. #enolong harus memeriksa nadi dalam 'aktu kurang dari 10 detik. Dilakukan dengan menilai denyut arteri besar arteri karotis, arteri *emoralis$ dan harus segera melakukan kompresi dada jika tidak menemukannya. 6agi penolong yang tidak terlatih, pijat jantung dimulai jika pasien tidak responsi* dan napas tidak normal, tanpa meraba adanya denyut karotis atau tidak.

'. Resusi&asi !an&ung Pa(u +ang ini -ompresi *ada 2ompresi dada terdiri dari pemberian tekanan yang ritmis dan bertenaga pada setengah ba'ah sternum. 2ompresi ini akan men)iptakan aliran darah dengan )ara meningkatkan tekanan intrathorakal dan se)ara langsung menekan jantung. .al ini menimbulkan aliran darah dan oksigen menuju miokardium dan otak. 2ompresi dada yang e*ekti* penting untuk menyediakan aliran darah selama !"#. 2arena alasan ini semua penderita henti jantung harus mendapatkan kompresi dada. 4ntuk memperoleh kompresi dada yang e*ekti*, tekan se)ara kuat dan )epat (push hard and push fast), 2e)epatan kompresi harus men)apai paling sedikit 100 <3menit dengan kedalaman kompresi paling sedikit / in)hi 9 )m$. #enolong harus memberi kesempatan agar daya rekoil paru dapat terjadi sempurna setiap kali sehabis kompresi, untuk memberi kesempatan jantung mengisi kembali se)ara penuh sebelum kompresi berikutnya. #enolong seharusnya men)oba untuk mengurangi *rekuensi dan durasi gangguan yang terjadi selama kompresi untuk memaksimalkan jumlah kompresi yang diberikan tiap menit.

2ompresi dada pada anak dipakai satu tangan, sedangkan untuk bayi hanya dipakai ujung jari telunjuk dan tengah. =entrikel bayi dan anak ke)il terletak lebih tinggi dalam rongga dada, jadi tekanan harus dilakukan di bagian tengah tulang dada. #ada bayi kedalaman kompresi adalah 1,9 in)hi.

Penyelamatan pernafasan #erubahan yang terjadi pada AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 adalah pada rekomendasi untuk memulai kompresi sebelum (entilasi. &eskipun tidak ada pembuktian pada manusia maupun he'an bah'a memulai !"# dengan 50 kompresi daripada memulai dengan / (entilasi yang menunjukkan hasil yang lebih baik, namun jelas bah'a aliran darah tergantung dari kompresi dada. +leh sebab itu, penundaan dan interupsi dari kompresi dada harus diminimalkan selama seluruh proses resusitasi. Selain itu, kompresi dada dapat dimulai sesegera mungkin, sedangkan memposisikan kepala, mengambil penutup untuk pertolongan na*as dari mulut-ke mulut, dan mengambil alat +a$&mas. memakan banyak 'aktu. &emulai !"# dengan 50 kompresi daripada / (entilasi menghasilkan penundaan yang lebih singkat.

>

6egitu kompresi dada telah dimulai, seorang penolong yang terlatih harus memberikan na*as buatan dengan )ara dari mulut ke mulut atau melalui +a$&mas. untuk memberikan oksigenasi dan (entilasi, sebagai berikut8 &emberikan setiap na*as buatan selama satu detik 6erikan (olume tidal yang )ukup untuk menghasilkan pengembangan dada yang terlihat (visi+le chest rise) &elakukan rasio kompresi dan (entilasi sebanyak 508/ 2etika jalan na*as buatan misalnya endotracheal tu+e, )ombitu, atau laryn$eal mas. air/ay ?:&-@$ telah dipasang selama !"# dengan dua orang penyelamat, berikan na*as setiap 6-8 detik tanpa menyesuaikan na*as dengan kompresi. 2ompresi dada tidak boleh berhenti untuk memberikan (entilasi. . Defi*(i$asi ini engan AED Setelah mengakti*kan emer$ency response system0 penolong yang seorang diri harus men)ari -AD Automated E)ternal *efi+rilation$ bila -AD dekat dan mudah didapatkan$ dan kemudian kembali ke penderita untuk memasang dan menggunakan -AD. #enolong lalu memberikan %#! berkualitas tinggi.

10

6ila terdapat dua atau lebih penolong, seorang penolong harus segera memberikan kompresi dada sedangkan penolong kedua mengakti*kan emer$ency response system dan mengambil -AD atau de*ibrillator manual pada kebanyakan rumah sakit$. -AD harus digunakan se)epat mungkin dan kedua penyelamat harus memberikan !"# dengan kompresi dada dan (entilasi.

,ahapan de*ibrilasi 8 0yalakan -AD Bkuti petunjuk :anjutkan kompresi dada segera setelah syok gangguan$ meminimalkan

11

1/

2.,.

PANDUAN R!P 2-12ompresi dada e*ekti* yang dilakukan se)ara dini merupakan aspek yang

1. Menekankan pa a R!P +ang *e(kua$i&as se'a(a &e(us mene(us penting dalam resusitasi henti jantung. !"# meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup penderita dengan memberikan sirkulasi pada jantung dan paru. #enolong harus melakukan kompresi dada untuk semua penderita henti jantung, tanpa melihat tingkatan ketrampilan, karaktrikstik penderita, atau sumber daya yang tersedia. AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 mengutamakan kebutuhan !"# yang berkualitas tinggi, hal ini men)akup8 2e)epatan kompresi paling sedikit 100 <3menit Ckurang lebihC 100 <3menit$ 2edalaman kompresi paling sedikit / in)hi 9 )m$ pada de'asa dan paling sedikit sepertiga dari diameter anteroposterior dada pada penderita anak-anak dan bayi sekitar 1,9 in)hi ?4)m@ pada bayi dan / in)hi ?9)m@ pada anak-anak$ 6atas antara 1,9 hingga / in)hi tidak lagi digunakan pada de'asa, dan kedalaman mutlak pada bayi dan anak-anak lebih dalam daripada (ersi sebelumnya dari AHA Guidelines for CPR and ECC &emberi kesempatan daya rekoil dada (chest recoil) yang lengkap setiap kali selesai kompresi &eminimalisasi gangguan pada kompresi dada &enghindari (entilasi yang berlebihan perubahan dari

,idak ada perubahan dalam rekomendasi untuk rasio kompresi-(entilasi yaitu sebanyak 508/ untuk de'asa, anak-anak, dan bayi tidak termasuk bayi yang baru lahir$. AHA Guidelines for CPR and ECC 2010 meneruskan rekomendasi untuk memberikan na*as buatan sekitar 1 detik. 6egitu jalan na*as telah dibebaskan, kompresi dada dapat dilakukan se)ara terus menerus dengan ke)epatan paling sedikit 100 <3menit$ dan tidak lagi diselingi dengan (entilasi. 0a*as buatan kemudian dapat diberikan sekitar 1 kali na*as setiap 6 sampai 8 detik sekitar 8-10 na*as per detik$. =entilasi yang berlebihan harus dihindari.

15

2. Pe(u*a%an a(i A.B./ menja i /.A.B #erubahan yang utama pada 6:S, urutan dari Air/ay&'reathin$& Circulation berubah menjadi Compression&Air/ay&'reathin$. .al ini untuk menghindari penghambatan pada pemberian kompresi dada yang )epat dan e*ekti*. &engamankan jalan na*as sebagai prioritas utama merupakan sesuatu yang memakan 'aktu dan mungkin tidak berhasil 100%, terutama oleh penolong yang seorang diri. &ayoritas besar henti jantung terjadi pada de'asa dan penyebab paling umum adalah 1entricular 2i+rilation atau pulseless 1entricular 3achycardia. #ada penderita tersebut, elemen paling penting dari 'asic (ife %upport adalah kompresi dada dan de*ibrilasi yang segera. #ada rangkaian --6-%, kompresi dada seringkali tertunda ketika penolong membuka jalan na*as untuk memberikan na*as buatan, men)ari alat pembatas (+arrier devices), atau mengumpulkan peralatan (entilasi. Setelah memulai emer$ency response system hal berikutnya yang penting yaitu untuk segera memulai kompresi dada. .anya !"# pada bayi yang merupakan perke)ualian dari protokol ini, dimana urutan yang lama tidak berubah. .al ini berarti tidak ada lagi loo.0 listen0 feel, sehingga komponen ini dihilangkan dari panduan. Dengan merubah urutan menjadi %---6 kompresi dada akan dimulai sesegera mungkin dan (entilasi hanya tertunda sebentar yaitu hingga siklus pertama dari 50 kompresi dada terpenuhi, atau sekitar 18 detik$. Sebagian besar penderita yang mengalami henti jantung diluar rumah sakit tidak mendapatkan pertolongan !"# oleh orang-orang disekitarnya. ,erdapat banyak alasan untuk hal tersebut, namun salah satu hambatan yang dapat timbul yaitu urutan --6-%, yang dimulai dengan prosedur yang paling sulit, yaitu membuka jalan na*as dan memberikan na*as buatan. &emulai pertolongan dengan kompresi dada dapat mendorong lebih banyak penolong untuk memulai !"#.

14

3. Ra&a.(a&a k0mp(esi Sebaiknya dilakukan kira kira minimal 100 kali3 menit. "umlah kompresi dada yang dilakukan per menit selama !"# sangat penting untuk menentukan kembalinya sirkulasi spontan return of spontaneous circulation ?!+S%@$ dan *ungsi neurologis yang baik. "umlah yang tepat untuk memberikan kompresi dada per menit ditetapkan oleh ke)epatan kompresi dada dan jumlah serta lamanya gangguan dalam melakukan kompresi misalnya, untuk membuka jalan na*as, memberikan na*as buatan, dan melakukan analisis -AD ? Automated Electrical *efi+rilator@$. #ada sebagian besar studi, kompresi yang lebih banyak dihubungkan dengan tingginya rata-rata kelangsungan hidup, dan kompresi yang lebih sedikit dihubungkan dengan rata-rata kelangsungan hidup yang lebih rendah. 2esepakatan mengenai kompresi dada yang adekuat membutuhkan penekanan tidak hanya pada ke)epatan kompresi yang adekuat, tapi juga pada meminimalkan gangguan pada komponen penting dari %#! tersebut. 2ompresi yang inadekuat atau gangguan yang sering atau keduanya$ akan mengurangi jumlah total kompresi yang diberikan per menit. #. 1e a$aman k0mp(esi 4ntuk de'asa kedalaman kompresi telah diubah dari jarak 1D - / in)h menjadi minimal / in)h 9 )m$. 2ompresi yang e*ekti* menekan dengan kuat dan )epat$ menghasilkan aliran darah dan oksigen dan memberikan energi pada jantung dan otak. 2ompresi menghasilkan aliran darah terutama dengan meningkatkan tekanan intrathorakal dan se)ara langsung menekan jantung. 2ompresi menghasilkan aliran darah, oksigen dan energi yang penting untuk dialirkan ke jantung dan otak.

19

,. R!P Dengan Tangan Saja ($ands On " CPR) Se)ara teknis terdapat perubahan dari petunjuk !"# /009, namun -.mengesahkan tehnik ini pada tahun /008. 4ntuk penolong yang belum terlatih diharapkan melakukan !"# pada korban de'asa yang pingsan didepan mereka. Hands 4nly CPR hanya dengan kompresi$ lebih mudah untuk dilakukan oleh penolong yang belum terlatih dan lebih mudah dituntun oleh penolong yang ahli melalui telepon. 2ompresi tanpa (entilasi (Hands 4nly CPR) memberikan hasil yang sama jika dibandingkan kompresi dengan menggunakan (entilasi.

16

2. I en&ifikasi pe(nafasan ag0na$ 0$e% pengan&a( (%is#atc&er Identification of Agona 'as#s) .al ini sangat penting bah'a penolong seharusnya dilatih dengan baik untuk mengidenti*ikasi antara perna*asan normal dengan perna*asan agonal, selama proses !"#. #enolong diajarkan untuk memulai !"# jika korban tidak berna*as atau sulit berna*as. #enyedia layanan kesehatan seharusnya diajarkan untuk memulai !"# jika korban tidak berna*as atau perna*asan yang tidak normal. #enge)ekan ke)epatan perna*asan seharusnya dilakukan sebelum akti(asi emer$ency response system. 3. Penekanan k(ik0i #enekanan krikoid adalah suatu teknik dimana dilakukan pemberian tekanan pada kartilago krikoid penderita untuk menekan trakea kearah posterior dan menekan esophagus ke (ertebra ser(ikal. #enekanan krikoid dapat menghambat in*lasi lambung dan mengurangi resiko regurgitasi dan aspirasi selama (entilasi dengan +a$&mas. namun hal ini juga dapat menghambat (entilasi. Saat ini penggunaan rutin penekanan krikoid tidak lagi direkomendasikan. #enelitian menunjukkan bah'a penekanan krikoid dapat menghambat kemajuan air/ay dan aspirasi dapat terjadi meskipun dengan aplikasi yang tepat. Ditambah lagi, tindakan ini sulit dilakukan dengan tepat bahkan oleh penolong yang terlatih. #enekanan krikoid masih dapat digunakan dalam beberapa keadaan tertentu misalnya dalam usaha melihat pita suara selama intubasi trakea$. 4. Ak&i)asi E!ergenc" Res#onse S"ste!. -kti(asi emer$ency response system seharusnya dilakukan setelah penilaian respon penderita dan perna*asan, namun seharusnya tidak ditunda. &enurut panduan tahun /009, akti(asi segera dari sistem kega'atdaruratan dilakukan setelah korban yang tidak merespon. "ika penyedia pelayanan kesehatan tidak merasakan nadi selama 10 detik, !"# harus segera dimulai dan menggunakan de*ibrilator elektrik jika tersedia.

1;

5. Tim Resusi&asi Dibutuhkan suatu tim agar resusitasi berjalan dengan baik dan e*ekti*. &isalnya 8 satu penolong mengakti*kan respon sistem kega'atdaruratan sedangkan penolong kedua melakukan kompresi dada, penolong ketiga membantu (entilasi atau memakaikan +a$ mas. untuk membantu perna*asan dan penolong ke-empat mempersiapkan dan de*ibrilator.

Ta*e$ pe(*an ingan asa( BLS pa a e6asa7 anak.anak an *a+i 8&e(masuk R!P pa a ne0na&us9.

2eterangan 8

18

-AD, automated e<ternal de*ibrillatorE -#, anterior-posteriorE %#!, )ardiopulmonary resus)itationE .%#, health)are pro(ider. Ftermasuk neonatus dengan kasus henti jantung yang biasanya disebabkan oleh as*iksia.

2.2. 1EPUTUSAN UNTU1 MEN"A1HIRI UPA:A RESUSITASI Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut ini 8 telah timbul kembali sirkulasi dan (entilasi spontan yang e*ekti*E ada orang lain yang mengambil alih tanggung ja'abE penolong terlalu )apek sehingga tidak sanggup meneruskan resusitasiE pasien dinyatakan matiE setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bah'a pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dipastikan bah'a *ungsi serebral tidak akan pulih, yaitu sesudah 50 menit 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa !"#+. #asien dinyatakan mati bila telah terbukti terjadi kematian batang otak, *ungsi spontan perna*asan dan jantung telah berhenti se)ara pasti3irreversi+le, #etunjuk terjadinya kematian otak adalah pasien tidak sadar, tidak ada perna*asan spontan dan re*lek muntah, serta terdapat dilatasi pupil yang menetap selama 19-50 menit atau lebih, ke)uali pada pasien hipotermik, diba'ah e*ek barbiturat, atau dalam anestesi umum. Sedangkan mati jantung ditandai oleh tidak adanya akti(itas listrik jantung asistol$ selama paling sedikit 50 menit 'alaupun dilakukan upaya !"#+ dan terapi obat yang optimal. ,anda kematian jantung adalah titik akhir yang lebih baik untuk membuat keputusan mengakhiri upaya resusitasi. 2.3. 10mp$ikasi #enyulit yang dapat terjadi akibat !"# adalah edema paru, *raktur iga, dilatasi lambung, *raktur sternum, (omitus oro*aring, (omitus trakea, darah masuk ke dalam perikard, salah penempatan pipa endotrakeal, ruptur hati, aspirasi, ruptur lambung atau kontusio miokardial.

BAB III
1>

1ESIMPULAN
!esusitasi "antung #aru !"#$ atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) merupakan prosedur kega'atdaruratan medis yang ditujukan untuk serangan jantung dan pada henti napas. !"# merupakan salah satu bagian yang penting dalam chain of survival. !esusitasi yang berhasil setelah terjadinya henti jantung membutuhkan gabungan dari tindakan yang terkoordinasi yang meliputi pengenalan segera henti jantung dan akti(asi emer$ency response system0 !"# a'al dengan menekankan pada kompresi dada, de*ibrilasi yang )epat, advanced life support yang e*ekti*, pera'atan post&cardiac arrest yang terintegrasi. Dalam perkembangannya, American Heart Association telah membuat beberapa perubahan dalam panduan !"#, yang terdapat dalam American Heart Association (AHA) Guidelines for CPR and ECC 2010, 6eberapa hal diantaranya yaitu dengan merubah urutan --6-% menjadi %---6. Dengan merubah urutan tersebut maka !"# menjadi lebih mudah dilakukan oleh penolong yang tidak terlatih, karena membebaskan jalan na*as dan memberikan na*as buatan membutuhkan teknik dan pengalaman, serta menghabiskan banyak 'aktu. #anduan !"# yang terbaru ini juga menekankan pada pemberian !"# yang berkualitas tinggi, dengan ke)epatan kompresi paling sedikit 100 <3menit dan kedalamannya paling sedikit / in)hi 9)m$ pada de'asa dan anak-anak, serta 1,9 in)hi 4)m$ pada bayi. -.- juga menyarankan pemberian !"# hanya dengan tangan (hands only CPR) atau !"# tanpa (entilasi dengan maksud untuk memudahkan penolong yang tidak terlatih dalam menyelamatkan penderita henti jantung. !"# ini dilakukan sampai sirkulasi dan (entilasi spontan yang e*ekti* telah timbul kembali atau sampai ada orang lain yang mengambil alih tanggung ja'ab atau penolong terlalu )apai. Dengan adanya panduan !"# tahun /010 yang lebih ringkas ini diharapkan dapat mema)u penolong a'am yang tidak terlatih untuk menyelamatkan penderita yang mengalami henti jantung, sehingga rata-rata kelangsungan hidup penderita yang mengalami henti jantung dapat meningkat.

/0

BAB I; PENUTUP

Demikian telah dibahas tentang !"# dan &anagement,, sekiranya apa yang telah kami bahas dalam re*erat ini dapat berman*aat bagi teman-teman seja'at yang memba)anya agar dapat lebih memahami tentang !"# dan &anagementnya.

/1

DA<TAR PUSTA1A
1. Garitsky -. &orley #./009 -meri)an .eart -sso)iation Huidelines *or %ardiopulmonary !esus)itation and Amergen)y %ardio(as)ular %are. Aditorial 8 ,he e(iden)e e(aluation pro)ess *or the /009 Bnternational %onsensus on %ardiopulmonary !esus)itation and Amergen)y %ardio(as)ular %are S)ien)e 'ith ,reatment !e)ommendations. Circulation, /009E 11/8 BBB1/8-BBB-150 /. Bnternational :iaison %ommittee on !esus)itation /009 Bnternational %onsensus on %ardiopulmonary !esus)itation and Amergen)y %ardio)as)ular %are S)ien)e 'ith ,reatment !e)ommendations. Circulation, /009E 11/8 BBB1-BBB-156. 5. http8 '''.kesad.mil.id3)ontent3perubahan-paradigma-resusitasi-jantung-paru%A/%80%>0-ab)-)ab%A/%80%>0 4. Iield, "ohn &..aJinski, &ary Iran. Sayre, &i)hael !. et al. /010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emer$ency Cardiovascular Care, /010. Diakses dari http833)ir).ahajournal.org.)gi3)ontent3*ull31//318KsupplK53S640 9. -ndrey. Resusitasi antun$ Paru pada -e$a/atan -ardiovas.uler, /008. Diakses dari http833yumiJone.'ordpress.)om3/0083113/;3resusitasi-jantungparu-pada-kega'atan-kardio(askuler3 6. Cardiopulmonary Resuscitation, /00>. Diakses dari http833en.'ikipedia.org3'iki3%ardipulmonaryKresus)itation ;. :atie*, Said -.Suryadi, 2artini -. Da)hlan, & !us'an. Petun5u. Pra.tis Anestesiolo$i, Adisi kedua. "akarta 8 6agian -nestesiologi dan ,erapi Bntensi* I2 4B./00>. 8. &organ, H Ad'ard, "r, &D. &ikhail, &aged S, &D. &urray, &i)hael ", &D,#hD. et. al. Clinical Anesthesiolo$y, 5rd edition 4S- 8 ,he &)Hra'-.ill %ompanies,Bn)./00/. >. -lena :ira, &D. /011. %ardio #ulmonary !usus)itation. http833emedi)ine.meds)ape.)om3arti)le31544081

//