Anda di halaman 1dari 7

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Pertambangan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan penyelidikan bahan galian sampai dengan pemasaran bahan galian. Secara umum tahapan kegiatan pertambangan terdiri dari penyelidikan umum (prospeksi), eksplorasi, penambangan, pengolahan, pengangkutan, dan pemasaran. Industri pertambangan mengandung potensi dan faktor bahaya dengan risiko tinggi. Hal ini dapat mengancam dan menimbulksn kerusakan harta benda maupun korban cidera bahkan kematian. Perkembangan industri yang semakin pesat dengan menggunakan peralatan-peralatan yang modern dan canggih memberikan dampak risiko dengan kecelakaan dan kerugian yang lebih besar. Setiap proses produksi, peralatan/mesin dan tempat ker a yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk, selalu mengandung potensi bahaya tertentu yang bila tidak mendapat perhatian khusus akan dapat menimbulkan kecelakaan ker a. Potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan ker a dapat berasal dari berbagai kegiatan atau aktifitas dalam pelaksanaan operasi atau uga berasal dari luar proses ker a. Sumber-sumber bahaya perlu dikendalikan untuk mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat ker a. !ntuk mengendalikan sumber-sumber bahaya, maka sumber-sumber bahaya tersebut harus ditemukan dengan melakukan identifikasi sumber bahaya potensial yang ada di tempat ker a. Setelah sumber bahaya teridentifikasi, maka dilakukan penilaian tingkat risiko sumber bahaya terhadap tenaga ker a. "ari kegiatan tersebut maka diusahakan untuk suatu pengendalian sampai tingkat yang aman untuk tenaga ker a terhadap keselamatan dan kesehatan ker a serta lingkungan. "alam operasi penambangan melibatkan berbagai proses pendukung. Proses peledakan (blasting) merupakan proses pendukung yang penting akan tetapi mempunyai potensi bahaya yang sangat besar. #ktifitas tersebut dapat mengancam keselamatan dan kesehatan tenaga ker a, unit ker a maupun masyarakat sekitar area operasi penambangan. Peker aan peledakan adalah peker aan yang penuh bahaya. $leh karena itu, harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan hati %hati, agar tidak ter adi kegagalan atau bahkan kecelakaan. !ntuk itu operator yang

melakukan peker aan peledakan harus mengerti benar tentang cara ker a, sifat dan fungsi dari peralatan yang digunakan. &arena persiapan peledakan yang kurang baik akan menghasilkan bisa menyebabkan hasil yang tidak sempurna serta mengandung resiko bahaya terhadap keselamatan peker a maupun peralatan . "alam hal ini pemilihan metode peledakan, pemilihan serta penggunaan peralatan dan perlengkapan uga berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. 'er adinya kecelakaan ker a tentu sa a men adikan masalah yang besar bagi kelangsungan suatu usaha. &erugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban i(a yang tidak sedikit umlahnya. &ehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satusatunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Deskripsi Proses Blasting Blasting merupakan kegiatan meledakan tanah Over Burden ($)) dengan bahan peledak dan rangkaian ledak tertentu. Hal ini dilakukan karena proses Ripping tidak mampu menghancurkan lapisan tanah $) yang terlalu keras. 'u uan dilakukan blasting adalah untuk menghancurkan lapisan $) agar lebih mudah untuk dimuat dan dipindakahkan. a. Inspeksi Hasil Pengeboran *ubang bor yang akan digunakan untuk (adah memasukkan bahan peledak harus diperiksa terlebih dahulu oleh Drill & Blasting Foreman. Hal ini dilakukan agar dapat dilaksanakan dengan mekimal. Inspeksi hasil pengeboran meliputi arak lubang, kedalaman lubang, dan umlah lubang yang dibutuhkan. b. Pemasangan +ambu Peringatan Blasting Sebelum rangkaian kegiatan blasting dilakukan, rambu peringatan harus dipasang. Hal ini dimaksudkan agar tidak ter adi koraban maupun kerusakan properti. #dapun pemasangan rambu peringatan yang dilakukan antara lain sebgai berkut. ,. Pemasangan rambu dan safety line +ambu dan safety line harus dipasang di sekitar area peledakan. Pemasangan ini dimaksudkan untuk memblokade area blasting unit ker a lain yang ada di sekitar area tidak masuk ke dalam area blasting. -. Pemasangan bendera dan papan informasi blasting "i alan masuk tambang dipasang bendera dan papan informasi blasting. Papan ini berisi pengumuman hari, tanggal dan am peledakan. Papan ini dilengkapi tiang bendera untuk pemasangan bendera merah pada hari/tanggal diadakan kegiatan peledakan. .arna merah pada bendera yang dipasang menandakan bah(a kegiatan peledakan merupakan keadaan darurat yang harus diperhatikan.

/. Pemasangan bendera pemblokiran )endera pemblokiran dipasang pada radius tertentu dari area peledakan. )endera yang dipasang ada dua, yaitu bendera (arna kuning dan bendera (arna hi au. Pada radius /00 meter dari area peledakan dipasang bendera kuning. 1arak /00 meter ini merupakan arak aman bagi unit alat berat yang die2akuasi men auhi area peledakan. Pada radius 300 meter dipasang bendera hi au. 1arak 300 meter ini merupakan arak aman bagi man power. c. Pembongkaran Ammonium Nitrate &ebutuhan bahan peledak disesuaikan dengan kebutuhan untuk pengisian lubang ledak di area blasting. Ammonium nitrate diangkat dan diangkut menu u #45$ Mixer untuk dilakukan pencampuran dengan Fuel Oil. Pencampuran ini bertu uan agar lebih efektif dan efisien. d. Mixing dengan menggunakan #45$ mixer )ahan peledak yang diguanakan adalah berupa Ammonium Nitrate Fuel Oil (#45$). )ahan ini merupakan perpaduan antara Ammonium Nitrate dan Fuel Oil dengan perbandingan 6789. )ahan Ammonium Nitrate dan Fuel Oil disimpan dalam gudang bahan peledak dalam keadaan terpisah untuk mencegah ter adinyaedakan/kebakaran ika ter adi locatan litrik/percikan api. e. Pengangkutan bahan peledak ke tambang Setelah #45$ tercampur dengan sempurna, petugas memasukkan #45$ dalam karung agar mempermudah pengangkutan ke area blasting. "an untuk pengamanan, truck #45$ diberi tanda bendera merah pertanda emergency. f. Pengisian bahan peledak +angkaian primer yang terdiri dari detonator dan kabel perangkainya dimasukkan ke pertengahan lubang. Pengisian #45$ dilakukan perlahan dan dekat dengan mulut lubang untuk menghindari bahan tertumpah dan terhambur oleh angin. 1ika pengisian dan perangkaian telah selesai dilaksanakan maka lubang ditutup dengan tanah serbuk hasil pengeboran hingga lubang tertutup sampai rata permukaan untuk memperkuat pengekangan energi bahan peledak di dalam lubang. g. Perangkaian bahan peledak

Detonating cord dihubungkan antar lubang sepan ang baris/row (disesuaikan dengan kondisi dan lokasi). "iantara baris dengan baris dihubungkan delay connector. Penarikan kabel dilakukan bila sudah diyakinkan bah(a alur kabel tersebut tidak akan dilintasi alat berat kemudian u ung yang satu dihubungkan ddengan u ung yang lain diperiksa tahanannya dengan menggunakan O mmeter pada tiap-tiap rol. Pemasagan detonator listrik hanya dilakukan pada saat manusia dan unit telah dipastikan die2akuasi ke daerah yang aman. h. Pengosongan dan pemblokiran area Sebelum peledakan dilaksanakan harus dilakukan e2akuasi terhadap unit dan manusia hingga berada pada arak/radius yang aman. Pada saat mulai e2akuasi maka penggunaan c annel radio harus dikosongkan dari pengguna yang tidak berkepentingan dengan peledakan . Pemblokiran terhadap radius aman peledakan dilakukan untuk mencegah agar tidak ada orang/unit yang tidak mendapat informasi peledakan masuk ke dalam area peledakan. i. Penempatan s elter :ksekusi peledakan dilakukan di dalam s elter dengan posisi s elter di luar radius /00 meter. Penggunaan s elter sebagai pelindung blaster saat eksekusi peledakan tidak boleh diganti dengan unit/ dump truc!/mobil sarana atau bentuk lain yang tidak mengikuti standar keselamatan ker a. . Pelaksanaan peledakan Peledakan dapat dilakukan ika semua persyaratan persiapan peledakan telah dipenuhi sesuai dengan c ec!list inspeksi yang tersedia. Setelah diyakinkan terhadap para blastguard bah(a lokasi sudah aman maka "upervisor Drill & Blast memberikan informasi/komando untuk membunyikan sirine / kali pertanda peledakan siap untuk dilaksanakan. k. Pemeriksaan lokasi dan hasil peledakan *ima belas menit setelah peledakan terlaksana, maka blaster harus melakukan pemeriksaan lokasi peledakan terhadap kemungkinan ter adinya gagal ledak (misfire). *okasi peledakan harus diperiksa dengan hati-hati dengan memberikan perhatian khusus terhadap hasil ledakan pada setiap lubang ledak. Sebelum ada informasi ;#lear; dari blaster, semua aktifitas dan alur masuk menu u lokasi peledakan tetap diblokir. Setelah pemeriksaan lokasi dan hasil peledakan dilakukan, Drill & Blast "upervisor membunyikan sirine pan ang (satu kali selama satu

menit) menandakan baha lokasi peledakan dinyatakan aman dan setiap blastguard dapat membuka alur blokir dan seluruh aktifitas tambang dapat dimulai kembali. l. Pengembalian bahan peledak Sisa bahan peledak yang tidak digunakan harus dikembalikan ke dalam gudang bahan peledak. Drill & Blast "upervisor dan pen aga gudang bahan peledak mengisi formulir pengembalian bahan peledak, membuat dan menandatangani berita acara pengembalian bahan peledak.

2.2. Manajemen Risiko <ana emen risiko adalah suatu budaya, proses, dan struktur dalam mengelola suatu risiko secara efektif dan terencana dalam suatu sistem mana emen yang baik.<ana emen risiko erat hubungannya dengan mana emen &eselamatan dan &esehatan &er a (&/). &eberadaan risiko dalam kegiatan proses produksi pendorong perlunya upaya keselamatan untuk mengendalikan semua risiko yang ada. <ana emen risiko terdiri dari / bagian yaitu $a%ard &dentification (Identifikasi )ahaya), Ris! Assesment (Penilaian +isiko), dan Determining #ontrol (Penetapan Pengendalian) atau sering disebut HI+#"=. Pelaksanaan HI+#"= dalam proses mana emen risiko mengacu pada tindakan pengedalian risiko. "alam melakukan pengendalian, hal yang harus dilakukan adalah memulai dari tindakan terbesar. 1ika tidak dapat dilakukan maka dengan menurunkan tingkat pengendaliannya ke tingkat yang lebih rendah atau mudah.

2. . Hierarki Pengen!alian "Hirarchy of Control# Pengendalian risiko dapat mengikuti pendekatan hierarki pengendalian ($irarc y of #ontrol). Hierarki pengendalian risiko adalah suatu urutanurutan dalam pencegahan dan pengendalian risiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa tingkatan secara berurutan. Hierarki pengendalian terdiri dari beberapa metode yaitu sebagai berikut. ,. :liminasi :liminasi merupakan memodifikasi atau menghilangkan metode, bahan ataupun proses untuk menghilangkan bahaya secara keseluruhan.

:fektifitas dari eliminasi ini adalah ,00>, artinya dapat menghilangkan bahaya sampai pada titik nol. -. Substisusi Substitusi merupakan penggantian material, bahan, proses yang mempunyai nilai risiko yang tinggi dengan yang mempunyai nilai risiko lebih kecil. /. +ekayasa teknik +ekayasa teknik yaitu suatu pengendalian bahaya secara teknik yang bisa diterapkan untuk mengurangi paparan bahaya yang ada. *angkah yang dilakukan dalam tahap ini misalnya dengan memberikan peredam kebisingan pada mesin, dipergunakan room control, dan penggunaan 2entilasi hisap. 7. #dministrasi Pengendalian administratif dengan mengurangi atau menghilangkan kandungan bahaya dengan memenuhi prosedur atau instruksi. Pengendalian tersebut diantarana adalah mengurangi pemaparan terhadap kandungan bahaya dengan pergiliran atau perputaran ker a ('ob rotation), sistem i in ker a, atau hanya dengan menggunakan tanda bahaya. Pengendalian administratif tergantung pada perilaku manusia untuk mencapai keberhasilan. 3. #lat Pelindung "iri (#P") #lat pelindung diri dikenakan oleh peker a sebagai oelindung terhadap bahaya. "engan memberikan alat pengaman ini dapat mengurangi keparahan risiko yang timbul. &eberhasilan pengendalian ini tergantung dari alat pelindung diri yang dikenakan itu sendiri, artinya alat yang digunakan harulah sesuai dan dipilih dengan benar sesuai dengan potensi bahaya dan enis peker aan yang ada. "alam melakukan pengendalian risiko kecelakaan ini, maka dapat ditentukan enis pengendalian tersebut dengan mempertimbangkan tingkat paling atas dari hierarki pengendalian. 1ika tingkat atas tidak dapat dipenuhi maka melakukan upaya tingak pengendalian selan utnya, demikian seterusnya sehingga pengendalian risiko kecelakaan dilakukan berdasarkan hierarki pengendalian. #kan tetapi dapat uga dilakukan upaya-upaya gabungan dari pengendalian tersebut untuk mencapai tingkat pengendalian risiko yang diinginkan.