Anda di halaman 1dari 7

Ikan Grass Carp (Ctenopharyngodon idella)

A. Klasifikasi Ikan Grass Carp Menurut Syaputra (2012), ikan koan atau grass carp di klasifikasikan sebagai berikut : Filum Subfilum Class Subclass Ordo Subordo Famili Subfamily Genus Spesies : Chordata : Vertebrata (Crania) : Osteichthyes : Teleostei : Cypriniformes :Cyprinoidea : Cyprinidae : Cyprininae : Ctenopharyngodon : Ctenopharyngodon idella

Nama Asing : Grasscarp Nama Lokal : Ikan Koan

Gambar 1. Ikan Grasscarp (Stenopharyngodon idella)

Ikan ini berasal dari sungai-sungai besar di China, Siberia, Manchuria dan berhasil diintroduksi ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand dan juga ke negara lain seperti Taiwan, Jepang, Amerika Serikat, Eropa Timur, Belanda dan Jerman (Cross, 1968 in Resmikasari, 2008).

B. Morfologi dan Anatomi Ikan Grass Carp Ikan ini mempunyai bentuk tubuh yang agak memanjang dan ramping dengan perut yang besar, mulut berbentuk sub terminal mengarah ke bentuk terminal, kepala lebar dengan moncong bulat pendek dan gigi paringeal dalam deretan ganda dengan bentuk seperti sisir.

Sirip dorsal dan anal pendek serta tidak memiliki duri dengan tipe sisik sikloid, tanpa tulang belakang. Usus berdiferensiasi menjadi esofagus pendek, katup pylorik dan rektum. Hati terletak di permukaan dorsal usus dan lobusnya selalu memanjang pada rongga tubuh. Hati dan pankreas dihubungkan oleh beberapa saluran keci l dengan saluran empedu yang memasuki bagian posterior usus hingga ke katup pylorik. Kantung empedu terletak diantara hati dengan usus dan kelenjar adrenal terletak pada ginjal pronephros. Pada ikan yang panjang totalnya mencapai 58 mm (berumur 50- 60 hari) gonadnya berdiferensiasi dan terletak di rongga peritoneum (Berry, 1970 in Resmikasari, 2008). Ikan koan atau grasscarp merupakan famili dari ikan mas maupun ikan karper dan ada juga menyebut ikan ini ikan cina. Bentuk tubuh ikan koan memenjang agak pipih, ukuran kepala relatif besar dan memanjang dari rahang bawah menandakan sifat makannya di dasar perairan. Sisik berukuran sedang dengan warna kelabu gelap di bagian pungungnya sedangkan di bagian perut berwarna putih. Jumlah sisik di bagian gurat sisi (linea lateralis) berjumlah 42 buah. Sebagai ikan herbivora usus ikan ini memiliki panjang dua kali dari panjang tubuhnya. Pada habitat aslinya ikan koan memiliki panjang 2 meter dengan berat 2039 kg (Khaeruman dan Amri, 2011). Ikan koan memiliki panjang tubuh empat kali dari tinggi badannya. Bentuk badan seperti torpedo (stream line). Tubuh ikan koan tertutup sisik sikloid berukuran sedang, warna sisik yang menutupi bagian punggung berwarna kelabu hijau sedangkan bagian bawah atau perutnya berwarna putih. Mulut dapat disembulkan dan tidak m emiliki sungut, mulut ikan koan tidak memiliki gigi yang besar namun mampu mencabik dan memotong daun yang cukup keras. Pada kerongkongan terdapat catok dan dua pasang tulang derbentuk sabit bergerigi yang berhadap-hadapan. Diantara catok dan sabit yang bergerigi terdapat tulang.

C. Habitat Habitat dari Ikan Koan secara umum adalah di perairan tawar. Banyak ditemukan pada perairan bebas seperti sungai, danau, maupun rawa. Ikan Koan merupakan salah satu spesies yang bergerak cepat dalam perairan dan merupakan salah satu jenis ikan yang paling rentan apabila hidup pada keadaan oksigen yang rendah (Anonim, 2011). Habitat utama ikan koan ialah sungai-sungai besar di Tiongkok. Ikan ini dikenal sebagai ikan liar penghuni lapisan permukaan perairan tawar, terutama di sungai-sungai berarus kuat dan danau yang kaya akan vegetasi air. Ikan koan hidup dan berkembang biak di wilayah yang beriklim sedang sampai pada suhu 13oC. Pada wilayah beriklim panas ikan koan dapat hidup sampai

suhu 36 oC. ikan koan juga dapat hidup pada perairan sedikit payau dengan salinitas 7 ppt (Kordi, 2009).

D. Makanan dan Kebiasan Makan lkan koan (Ctenopharyngoaon idella), kebanyakan masih dipelihara secara

tradisional dengan pemberian pakan nabati berupa daun segar, tetapi pakan dalam keadaan segar memiliki kadar protein yang rendah sehingga perlu penambahan pakan lain yang memiliki kadar protein yang tinggi (Shiau, 1997 in Hariadi, 2005). Aktivitas makan ikan koan dimulai pada umur 3-4 hari setelah menetas, pada umur ini larva ikan koan memakan protozoa dan rotifera. Setelah 2 minggu menetas ukuran larva mencapai 12-17 mm dan mulai memakan makanan yang lebih besar diantaranya larva insekta dan pada umur 3 minggu ikan koan mulai memakan tumbuhan, diantaranya alga dan makrofita, dan secara nyata terjadi pada 1-1,5 bulan setelah penetasan. Ikan yang termasuk herbivora ini mempunyai usus yang pendek yaitu 2-3 kali panjang badannya, sehingga 50 % dari bahan makanan yang dicerna akan keluar dalam keadaan tidak tercerna secara sempurna (Nikolsky, 1963 in Resmikasari, 2008).

E. Pertumbuhan Grass carp betina lebih cepat tumbuh dibandingkan ikan jantan. Kemampuan grass carp mengkonsumsi tumbuhan air tergantung pada ukuran tumbuhan air dan ikan, umur, kepadatan, serta lokasi tumbuhan air dalam kolom air (Sutton dan Vandier, 1989 Wahyuni, 2001). Rendahnya daya cerna terhadap rumput-rumputan akibat mekanisme pencernaan yang lemah dari saluran pencernaan ikan koan. Tetapi ikan koan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mengabsorbsi protein larut air dari dinding sel rumput yang pecah. Dari informasi ini, laju pertumbuhan ikan koan dapat ditingkatkan dengan pemberian nutrien yang seimbang dalam bentuk pelet dibandingkan dengan rumput-rumputan dan daun yang digunakan dalam pakan seperti biasanya (Law, 1986 in Puspita, 1990). in

F. Pembenihan 1. Pemeliharaan Induk Induk-induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 0,2 s/d 0,3 kg/m2. Selain diberi pakan tumbuhan air atau rumput-rumputan juga diberi pakan buatan berupa pellet sebanyak 1% dari berat total populasi dengan berat frekuensi pemberian sebanyak 2 kali

per hari. Induk ikan grass carp dapat dipijahkan setelah berumur 1 tahun dengan berat 2 2,5 kg. Tanda Induk matang gonad adalah: a. Betina Perut mulai bagian dada sampai ke arah pengeluaran menbesar, bila ditekan terasa lembek, lubang kelamin agak kemerahan dan agak menyembul keluar serta gerakan relatif lamban. b. Jantan Dibandingkan dengan betina bentuk badan relatif lebih langsing, sirip dada bagian atas kasar dan bila perut diurut kearah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih (sperma). 2. Pemberokan
Pemberokan induk ikan grass carp dilakukan di bak selama semalam. Pemberokan bertujuan untuk membuang sisa pakan dalam tubuh dan mengurangi kandungan lemak. Karena itu, selama pemberokan tidak diberi pakan tambahan.

3. Pemijahan Pemijahan dimulai dengan pemeliharaan induk di dalam kolam pemeliharaan berukuran 100-500 m2, tergantung ketersediaan luas lahan. Kedalaman air kolam pembenihan sekitar 1 meter. Padat tebar induk maksimal 0,5 kg/m2. Ukuran induk yang dipijahkan baik jantan maupun betina memiliki berat tubuh minimum 1 kg. Selama pemeliharaan induk diberi pakan berupa pelet sebanyak 3% dari total berat badan perhari. Pemberian pakan buatan ini dilakukan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore hari), dan dihentikan sehari sebelum dilakukan penyuntikan. Pemijahan ikan grass garp dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: a. Induced Breeding Pemijahan secara Induced breeding yaitu dengan menyuntikan hormon perangsang yang berasal dari kelenjar hipofisa ikan donor atau menggunakan hormon LHRH-a atau ovaprim. Induk betina disuntik 2 kali dengan selang waktu 4 sampai dengan 6 jam, apabila menggunakan kelenjar hipofisa 2 dosis tetapi apabila menggunakan ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg. Penyuntikan pertama 1/3 bagian dan penyuntikan kedua 2/3 bagian. Induk jantan disuntik cukup sekali, menggunakan kelenjar hipofisa 1 dosis, bila menggunakan ovaprim 0,15 ml/kg dan dilakukan bersamaan dengan penyuntikan kedua pada induk betina.

Kedua induk ikan setelah disuntik dimasukan ke dalam bak pemijahan yang dilengkapi dengan hapa, setelah 6 jam dari penyuntikan pertama induk betina diperiksa kesiapan ovulasinya setiap 1 jam sekali, dengan cara diurut secara perlahan. Ikan yang akan memijah biasanya ditandai dengan saling kejar, perut besar dan lunak, keluar cairan kuning dari lubang kelamin. Setelah tanda-tanda tersebut, induk jantan dan betina diangkat untuk dilakukan stripping (pengurutan) yaitu dengan mengurut bagian perut ke arah lubang kelamin. Telurnya ditampung dalam wadah/baki plastik dan pada saat bersamaan induk jantan di-stripping dan spermanya ditampung dalam wadah yang lain kemudian diencerkan dengan cairan fisiologis (NaCl 0,9 %) atau cairan Sodium Klorida. Sperma yang telah diencerkan dituangkan kedalam wadah telur secara perlahan-lahan serta diaduk dengan menggunakan bulu ayam. Tambahkan air bersih dan diaduk secara merata sehingga pembuahan berlangsung dengan baik. Untuk mencuci telur dari darah dan kotoran serta sisa sperma, tambahkan lagi air bersih kemudian airnya dibuang, lakukan beberapa kali sampai bersih, setelah bersih telur dipindahkan kedalam wadah yang lebih besar dan berisi air serta diberi aerasi, biarkan selama kurang lebih 1 jam sampai mengembang secara maksimal. b. Induced Spawning Pemijahan secara Induced spawning perlakuannya sama seperti pemijahan Induced breeding, hanya setelah induk jantan dan betina disuntik, dimasukan ke dalam bak pemijahan. Perbandingan jumlah induk jantan dan betina di dalam hapa adalah 2 : 1 (2 induk jantan dan 1 induk betina). Pemijahan akan berlangsung dengan sendirinya di dalam bak, 6-8 jam setelah penyuntikan. Setelah memijah maka induk jantan dan betina dikeluarkan dari bak pemijahan dan telur yang sudah dibuahi akan jatuh di dasar bak kemudian telur ditampung dalam wadah yang berisi air serta diaerasi dan dibiarkan sampai mengembang secara maksimal. Telur ini akan menetas dalam waktu 48 jam kemudian. 4. Penetasan Telur Penetasan dilakukan di dalam hapa corong berdiameter 40 cm dan tinggi 40 cm dengan mengalirkan air dari bawah untuk memutar air yang berisi telur agar tidak menumpuk. Padat penebaran telur 10.000 butir/corong. Telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam pada suhu 29C. Selain di dalam hapa corong penetasan dapat juga dilakukan di dalam akuarium (40 x 60 x 40) cm yang dilengkapi dengan aerasi. Padat tebar telur 5.000 butir/akuarium pada suhu 26 s/d 29C, telur akan menetas dalam waktu 20-24 jam.

5. Pemeliharaan Larva Setelah menetas larva di pelihara dalam corong yang sama, namun sebelumnya telur-telur yang tidak menetas di buang dahulu. Lama pemeliharaan dalam corong 4 hari. Apabila telur ditetaskan dalam akuarium, setelah menetas larva bisa dipelihara di akuarium yang sama namun sebelumnya telur yang tidak menetas dan bagian air di buang dahulu dan diisi air yang baru. Larva yang sudah berumur 4 hari bisa langsung di tebar di kolam pendederan, atau di beri pakan alami berupa nauplii Artemia, Brachionus atau Moina. Pemeliharaan larva dalam akuarium selama 10 hari, air harus di ganti setiap hari sebanyak 2/3 bagian. 6. Pendederan Pendederan dilakukan setelah larva berumur empat hari (menjelang kuning telurnya habis). Pendederan dilakukan dengan terlebih dahulu mempersiapkan kolam pendederan berukuran 100-500 m2 yang telah dikeringkan, diperbaiki pematangnya, dan dipasang saringan di pintu pemasukan. Setelah diperbaiki, kolam dipupuk dengan 500 gram/m2 pupuk kandang (kotoran ayam kering). Kemudian, kolam diisi air sedalam 40 cm dan dibiarkan sampai pakan alami berupa plankton mulai tumbuh, ditandai dengan air kolam berwarna kehijauan. Penebaran larva dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah dan relatif stabil. Jika persediaan pakan alami diyakini kurang, bisa diberi pakan tambahan berupa hancuran pelet atau dedak halus dengan dosis 3% dari berat tubuh per hari. Pemberian pakan ini dilakukan 3 kali sehari. Setelah dipelihara selama 45 hari, larva akan menjadi gelondongan (fingerling) dan siap dipindahkan ke kolam pembesaran. G. Kualitas Air Temperatur merupakan salah satu faktor lingkungan yang berperan menentukan frekuensi pemberian pakan. Temperatur yang sesuai untuk pemeliharaan ikan koan berkisar antara 13-30C, dengan suhu optimum antara 22 - 28C dan pada perairan alami, ikan dapat hidup pada kisaran pH 5 8,5. Ikan loan mampu bertahan hidup pada perairan dengan kondisi pH antara 5 9 (Ling, 1965 in Puspita, 1990). H. Penyakit Penyakit yang sering menyerang benih Grass Carp adalah parasit yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Glosatella, Scypidia, Chillodonella, yang biasanya menyerang bagian permukaan tubuh dan insang. Cara mengatasinya dengan pemberian formalin 25 ppm.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Budidaya Ikan Air Tawar. http// perikanan. umm.ac.id/ id/ umm-news-2833budidaya-ikan-html. [1 Oktober 2012]. Anonim. 2011. Habitat ikan Koan. www.scribd.com/doc. 73747214/ 4/ habitat-ikan-koan. [1 Oktober 2012]. Khaeruman dan Amri, K. 2011. Usaha Budidaya Ikan Air Tawar. Pustaka. Jakarta. Kordi, K., M. Gufran. 2009. Budidaya Perairan Buku Kedua .Bandung. Puspita, F, M. 1990. Pengaruh Frekuensi Pakan Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Koan (Ctenopnaryngoaon idella). Jurusan Budidaya Perairan IPB. Bogor. Resmikasari, Y. 2008. Tingkat Kemampuan Ikan Koan (Ctenopharyngodon idella Val.) Memakan Gulma Eceng Gondok (Eichhornia crassipes). Jurusan Budidaya Perairan IPB. Bogor. Wahyuni, W. 2001. Pertumbuhan Ikan Koan (Ctenopharyngodon idella) Pada Karamba Jaring Apung Di Waduk Cirata, Jawa Barat. Jurusan Budidaya Perairan IPB. Bogor. Suyanto, R, S. 2009. Nila. Penebar Swadaya. Jakarta. Syaputra. 2012. Klasifkasi Ikan Grass Carp. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Website : www.bbpbat.net.