Anda di halaman 1dari 54

BAB I PRINSIP DAN DASAR AGAMA

1.1. Falsafah Agama. Negara mengakui keberadaan agama-agama di Indonesia. Hal ini terdapat dalam falsafah dan dasar Negara kita yakni Pancasila khususnya dalam sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama yang diakui itu memiliki berbagai aspek yakni: a. Agama sebagai symbol, identitas/having religion. b. Secara formal agama sebagai suatu tindaka/praktek iman umat beriman dalam kehidupan yang mencerminkan sikap dan perilaku bagi pemeluknya. Untuk itu hendaklah kita memahami terlebih dahulu apa arti beragama dan beriman yang sebenarnya. Manakala kita berbicara tentang agama, tentu muncul pertanyaan-pertanyaan; apa yang menyebabkan manusia beragama? Untuk apa orang beragama? Apa agama dapat menjawab semua persoalan hidup manusia?

1.2. Mengapa Manusia Beragama?


Meski berbeda dalam agama dan bentuk serta cara menganutnya, secara, umum dapat dikatakan bahwa ada 6 faktor utama yang mendorong manusia untuk beragama. a. Mendapatkan keamanan b. Mencari perlindungan dalam hidup c. Menemukan penjelasan atas dunia dan hidup serta segala yang terkandung di dalamnya d. Memperoleh pembenaran atas praktekpraktek hidup yang ada e. Meneguhkan tata nilai yang sudah mengakar dalam masyarakat f. Menemukan kerinduan hidup

1.2.1.

Mendapatkan Keamanan

Hidup di dunia ini sungguh sangat menarik, tetapi tidak selalu aman. Alam tidak selalu ramah, baik, dan simpatik pada manusia. Berbagai penyakit dapat menyerang manusia. Musim selalu berubah di luar kebiasaan, kekeringan kadang berkepanjangan melebihi Batas, curah hujan berlebihan yang menimbulkan banjir. Di darat, di laut dan udara banyak saja persoalan yang menimpa hidup manusia serta perbuatan manusia itu sendiri yang mengakibatkan penderitaan atas dirinya sendiri. Berhadapan dengan segala kesusahan, penderitaan malapetaka, musibah alam dan dunia itu, manusia ada di pihak yang lemah. Dalam situasi seperti itulah manusia berpaling kepada agama. Manusia pergi menghadap kepada Tuhan, sang pemberi dan pemelihara kehidupan. Di tengah-tengah hidup yang tak selalu aman dan tak bebas dari ancaman itu, manusia mohon kepada Tuhan perlindungan dan dijauhkan dari segala marah bahaya serta malapetaka akibat bencana alam, penderitaan karena berbagai penyakit dan perbuatan jahat manusia.

Berdampingan dengan kemungkinan adanya bencana alam, penderitaan karena berbagai penyakit dan malapetaka karena kejahatan manusia, hidup manusia juga penuh ketidakpastian. Manusia mencoba mengandalkan kekuatan alam dan kekuatan manusial lain, tapi itupun tidak membuat manusia merasa yakin dan aman. Manusia, mengalami ketidaktentuan dan ketidakpastian. Manusia tidak menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh diandalkan. Dalam situasi seperti itu manusia lari ke agama. Karna di sana diyakini Tuhan Sang Penyelenggara, yang dapat diandalkan. Di tengah kehidupan yang tak pasti itu, manusia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, sebagai sumber kepastian dan pegangan..

1.2.2. Menemukan Penjelasan Manusia lahir dan hadir di dunia tanpa ditanya dan dikonsultasi terlebih dahulu. Sementara menjalani hidup ini, manusia dipenuhi berbagai pertanyaan yang menuntut jawaban dan penjelasan. Dia mempertanyakan hidupnya. Dari mana asalnya? Untuk apa hidup? Mengapa mati dan sesudah kematian ada apa? Dia ingin tahu tentang alam semesta. Apakah alam semesta itu? Berapa lama akan berlangsung? Sesudah alam semesta berakhir, apa yang akan muncul? Dia ingin dapat tahu tentang Tuhan sendiriri. Siapa yang memberi, menguasai dan mengatur hidup? Bila ada yang mengusai dan mengatur, mengapa ada kesusahan, penderitaan, bencana dan kematian di dunia?

Pertanyaan-pertanyaan fundamental itu menuntut jawaban. Tetapi baik ilmu pengetahuan, ahli, pakar, atau orang tua tak mampu memberi penjelasan yang memuaskan. bahkan dari jawaban-jawaban yang diberikan, muncul pertanyaan baru yang malah makin mengaburkan pertanyaan. Berkaitan dengan pertanyaanpertanyaan fundamental tersebut, Agama sebagai yang bergerak dibidang misteri kehidupan mengakui dan meyakini Tuhan sebagai asal dan tujuan hidup. Maka manusia mengacu kepada agama untuk mencari kejelasan atas makna hidup dan alam raya yang dihuninya.

1.2.3. Memperoleh Pembenaran Praktik Kehidupan Dalam masyarakat terdapat berbagai praktik hidup yang baik dan berguna. Ada yang lingkupnya personal, seperti "rajin bekerja". Ada yang menyangkut hubungan antarmanusia "tolong menolong". Semua praktik hidup itu berarti dan diperlukan. Segala praktik hidup baik dan berguna itu pada dirinya sendiri sudah memiliki daya tarik dan dorong agar orang melaksanakannya. Tetapi agar orang lebih giat lagi melaksakannya ditambahkan dengan motivasi agama. Misalnya "Bekerja rajn merupakan ibadah". Gotong royong bukan saja berguna untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi juga ikut berkarya bersama Tuhan untuk menyempurnakan ciptaanNya. Ikut serta dalam pembangunan merupakan bagian integral dalam hidup beriman.

1.2.4. Meneguhkan Tata Nilai Dalam masyarakat terdapat berbagai nilai-nilai kehidupan etika dan moral. Nilai-nilai itu berhubungan dengan kehidupan pribadi, sesama, dan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu dilestarikan, dikembangkan, dilaksanakan, diwujudkan dan dihayati. Sebetulnya segala nilai dari dirinya sendiri sudah memiliki kekuasaan untuk menarik dan mendorong orang untuk mempertahankan, memiliki, menghayati dan mengembangkannya. Namun agar lebih terdorong "memeluk" nilai itu, manusia membutuhkan motivasi lain termasuk motivasi keagamaan. Nilai jahat dilarang agama dan nilai kebaikan diperintahkan untuk dilaksanakan. Berkat agama, manusia mendapat kekuatan, dorongan dan pemantapan dalam pelaksanaan nilai kehidupan. Dengan motivasi keagamaan, nilai jahat terasa lebih kuat dayanya untuk ditolak dan dihindari, dan nilai baik terasa lebih kuat untuk dipeluk dan dilaksanakan.

1.2.5. Memuaskan Kerinduan Manusia tidak pernah puas. Manusia selalu mau dipenuhi. Manusia selalu ingin lebih. Dambaan untuk dipenuhi dan menjadi lebih tidak terbatas pada pancaindera, seks dan daya mentalnya, tetapi juga pada jiwanya yang paling dalam. Sebagai makhluk rohani, manusia ingin mencapai nilai rohani yang paling sublimen, paling luhur dan mulia. Manusia tidak puas dan tak merasa cukup dengan nilai manusiawi seperti kebaikan, kejujuran, keadilan, cinta kasih. Dia ingin juga nilai rohani dan adikodrati yang mampu memuaskan hasratnya yang paling dalam. Dengan singkat manusia tidak akan merasa puas dan tenang, sebelum menemukan harta rohani dan adikodrati yaitu Tuhan sendiri.

Tuhan, diusahakan untuk disembah, dimuliakan dan diagungkan dalam agama. Dengan beragama manusia hendak menggapai Tuhan sendiri. Maka orang masuk agama dan menjadi penganut agama karena hendak memperoleh pemuasan hasratnya yang paling dalam: Menemukan Tuhan sendiri. Oleh karena itu meski segala kebutuhan jasmani, inderawi, duniawi dan mental terpenuhi, kebutuhan manusia akan agama, akan Tuhan tak pernah lenyap Agama adalah hubungan manusia dengan sesuatu kekuasaan suci yang lebih tinggi daripada dia,kepada siapapun manusia merasa tergantung, takut atau taqwa karena, sifatNya yang dasyat (tremendum); tetapi sekaligus manusia juga merasa tertarik kepadaNya karena sifat-sifat yang mempesona (fascinosum), lalu mencari jalan dan mengadakan usaha untuk mendekatiNya.

Agama merupakan system kepercayaan kepada yang Ilahi dan tanggapan manusia kepadaNya, termasuk Kitab Suci, Ritus, Kultus, Moralitas hukum para penganutnya. Agama juga dapat diartikan sebagai sebuah system doktrin (Dogma & Hukum, Struktur, Organisasi), perilaku etis (terhadap Allah dan manusia) dan Tata cara pemujaan. Jadi yang terpenting dalam agama adalah kepatuhan pada system doktrin, struktur, organisasi, perilaku etis dan tata cara pemujaan, seperti yang telah digariskan oleh pendiri agama. Agama menunjukkan bentukbentuk kongkret lahiriah yang mengungkapkan hubungan manusia dengan Allah. Agama juga harus dilihat sebagai sikap dasar/pilihan dasar (Optio Fundamental) yang seharusnya kepada Allah Pencipta dan Penebus. Sikap dasar atau pilihan dasar itu adalah: Iman

Iman adalah tanggapan nyata seluruh pribadi manusia terhadap panggilan Allah dan kepatuhan penuh kepada kehendakNya, bukan kepercayaan akan dogma, ketaatan pada hukum, atau kerajinan dalam ibadat. Iman merupakan sikap batin tidak kelihatan secara langsung, yang nampak adalah pengungkapan sikap tersebut. Iman dan agama tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berhubungan erat satu sama lain. Iman adalah jiwa agama, sedangkan Agama adalah "badan" iman.Sebagai jiwa agama, iman berfungsi sebagai motor untuk menggerakan agama. Sebaliknya sebagai badan iman, agama berfungsi sebagai sarana untuk mengutipkan iman. Tanpa iman, agama hanya menjadi "Formalisme" belaka. Sementara tanpa agama, iman hanya menjadi "Spiritualisme" belaka. Dalam hidup seha-hari, iman dan agama harus berjalan berdampingan, agar bermanfaat bagi manusia. Karena tanpa iman, agama manjadi seperti tubuh tanpa roh =(mayat). Sebaliknya tanpa agama, iman menjadi bagaikan roh tanpa tubuh =(hantu).

Jika ditanya, mana lebih penting; iman atau agama? Maka jawabannya adalah iman. Sebab kalau orang sungguh beriman, ia juga akan beragama dengan baik. Semakin dalam iman seseorang, semakin sempurna pula penghayatan agamanya. Sebaliknya, semakin dangkal iman seseorang, semakin kacau penghayatan agamanya. Oleh karena itu, supaya orang dapat menghayati agamanya secara benar, ia harus memperdalam imannya terlebih dahulu. Tanpa kedalaman iman, mustahil orang dapat beragama dengan baik.

1.3. Fungsi & makna Agama bagi Kehidupan.


Agama menawarkan kemungkinan untuk menemukan hidup yang penuh arti, bahkan untuk merasa diri diperkuat oleh Allah sendiri untuk menghadapi gejolak jaman yang tak menentu dan semakin kompleks, penuh tantangan dan perjuangan. a. Agama sebagai ungkapan lahiriah dari sikap batin harus berfungsi sebagai sarana dan bantuan untuk mencari makna hidup dengan menentukan sikap dihadapan Allah dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari. b. Agama mau membantu agar manusia dapat semakin peka dan tepat dalam memilih dan menentukan sikap terhadap Allah dan sesama. Solidaritas terhadap sesamanya. c. Agama sebagai pedoman hidup.Dengan ini dapat membawa orang kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Mencintai dan mengasihi Tuhan dan sesamanya. d. Agama juga dapat membawa orang kepada kebahagiaan kekal. Dengan beragama orang memperoleh keselamatan. Hidup bahagia disurga, berdasar iman dan agama yang dianutnya.

1.4. Prinsip-prinsip Kehidupan Hidup amat berharga. Oleh karena itu, manusia selalu berusaha mempertahankan hidupnya. Kalau ia sakit atau terancam nyawanya, ia akan selalu mencoba melindungi dan mepertahankan hidupnya dengan obat, dengan perawatan, dan kalau perlu dengan senjata. Masyarakat kita sangat menjunjung tinggi kehidupan. Oleh karena itu mereka berusaha mengamankan, menjaga hidupnya dengan relasi yang selaras dengan sesama, dengan lingkungan, dan dengan dunia adikodrati (Allah) Kitab Suci mengatakan, "Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Apa yang dapat diberikan sebagai ganti nyawanya? (Injil Markus, 8:37). Tidak ada. Kekayaan seluruh dunia tidak sebanding dengan hidup. Orang akan memberikan segala yang dipunyainya sebagai ganti nyawanya (Ayub 2:4), tetapi ia tidak akan berhasil mempertahankan nyawanya. Walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah terdapat dalam kekayaannya (Lukas 12:15). Hidup memang misteri. Hidup itu ada, tetapi sekaligus tidak ada didalam tangan kita. "Apa yang ada itu jauh dan dalam, sangat dalam; siapa dapat menemukannya ? (Pengkotbah : 7:24).

Hidup mendapat makna dalam penghayatan sehari-hari. Hidup, mempunyai arti bagi orang yang menghayati hidupnya sendiri. Makna hidup tidak tergantung pada keuntungan atau keberhasilan. Bahkan dalam penderitaan pun hidup mempunyai makna/arti. Pertanyaan yang sama akan muncul bila manusia hanya mencari sukses atau mengidentikkan dirinya dengan proyek hidup dan cita-cita tertentu. Bagi orang seperti itu kegagalan untuk meraih cita-cita yang diinginkan berarti kehilangan makna hidup. Pada hal di pihak lain, cinta dan kesetiaan seorang ibu bagi anaknya tetap mempunyai makna, juga bila anaknya itu tidak mencapai umur dewasa atau tidak berkembang sebagaimana diharapkan.

Ada 4 orientasi pola kehidupan manusia yakni a. Tuhan. Membuka diri terhadap yang Transenden, Allah Pencipta. b. Masyarakat. Membangun solidaritas dengan sesama c. Dunia material. Mengolah dan memelihara dunia, benda, alam semesta. d. Diri sendiri. Membangun diri sendiri. 1.5. Sumber ajaran Kehidupan. a.Kitab Suci / Alkitab b.Tradisi Suci

BAB II AJARAN AGAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN

2.1.Keluarga Sejahtera (pra nikah) Dalam Kitab Kejadian (1:28), Tuhan menghendaki bahwa manusia hidup turun temurun semakin berkembang dan bertambah banyak. "Beranak cucu dan bertambah banyaklah dan penuhilah bumi ini dengan keturunan, tetapi sekaligus Tuhan memerintahkan untuk menaklukan bumi ini. Bumi dan Isinya termasuk manusia perlu diatur, dan ditata supaya menjadi tempat yang layak untuk didiami. Keluarga atau rumah tangga adalah bagian dari penghuni bumi ini yang perlu ditata dan diatur, agar menjadi tempat yang layak untuk didiami. Untuk mencapai kebahagiaan itu, maka perlu diperhatikan beberapa hal:

1. Jumlah Anggota Keluarga. Keanggotaan di dalam keluarga sebaiknya jangan terlalu dititikberatkan pada jumlah, tetapi juga kualitas/mutu. Keluarga yang terlalu besar dan kecilpun mempunyai keuntungan dan kerugian, ada problematika dan kondisi yang berbeda-beda. Menyangkut persiapan nikah maka perlu dicermati dan diperhatikan halhal sebagai berikut : - Kemampuan ekonomi keluarga. - Kondisi fisik dan mental dari calon suami-isteri. - Relasi antara anggota keluarga. - Keadaan lingkungan. 2. Pendidikan anggota keluarga. -Pendidikan dalam keluarga. -Pendidikan di sekolah.

3. Kesehatan dalam keluarga. - Makanan yang sehat, bergizi dan bervitamin. - Pakaian yang bersih dan sesuai dengan ukuran badan. - Perumahan yang memenuhi persyaratan kesehatan. - Lingkungan yang bersih dan sehat. -Usaha-usaha pencegahan gangguan penyakit, dsbnya.
4. Ekonomi keluarga. - Pendapatan keluarga - Pengeluaran keluarga.

2.2. Arti Perkawinan ( Pernikahan) Pandangan Agama Katolik: Perkawinan sebagai suatu sakramen, suatu peristiwa di mana Allah bertemu dengan suami isteri. Kitab Suci menegaskan dalam (Mateus:19; 5-6) : Dan firmanNya; sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Perkawinan adalah persekutuan hidup antara pria dan wanita atas dasar ikatan cinta kasih yang total dengan persetujuan bebas dari keduanya yang tidak dapat ditarik kembali, dengan tujuan kelangsungan bangsa, Perkembangan pribadi dan kesejahteraan keluarga. Jadi Keuarga itu harus didasarkan pada Kasih Kristus dan mencontoh keluarga kudus Nasereth 2.3, Hakekat perkawinan Pada hakekatnya perkawinan adalah: Persekutuan yang khas antara pria dan wanita, dimana mereka hidup saling mengisi dan menyempurnakan, sehingga mereka dapat menjadi manusia yang penuh sebagai ibu dan bapak, dan dengan demikian mencapai kebahagiaan.

2.4. Tujuan perkawinan Tujuan perkawinan adalah membantu satu sama lain dan membiarkan diri dibantu oleh patner dalam pendalaman hidup manuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Supaya, pria dan wanita saling menjadikan diri mereka baik dan sempurna.

2.5.Sifat perkawinan a. Tidak dapat diceraikan (Mat 9:6), kecuali kematian. b. Monogami: hanya satu suami dan satu isteri.
2.6. Tuntutan hukum untuk syahnya suatu perkawinan. Menurut Undang-undang RI no.1/1974 adalah suatu perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan dan dicatat menurut peraturan yang berlaku.

BAB III AJARAN HUKUM GEREJA TENTANG PERKAWINAN Perkawinan menjadi sah kalau calon suami isteri itu memberikan persetujuan mereka untuk hidup bersama sebagai suami isteri dihadapan seorang imam dan dua saksi. Disamping ada beberapa syarat supaya perkawinan itu sah adalah: a. Persetujuan itu diberikan secara bebas dan ikhlas. b. Pasangan sudah berumur 16 thn (pria) dan wanita 14 thn. c. Pasangan itu tidak menderita impotensi. d. Salah satu dari pasangan itu atau kedua-duanya tidak terikat oleh perkawinan dengan orang lain atau tahbisan dan kaul public dan kekal. e. Pasangan itu tidak mempunyai hubungan darah lurus ataupun menyamping sampai dengan tingkat ke empat. f. Pasangan itu tidak mempunyai hubungan secara garis lurus. g.Pasangan itu tidak terlibat pembunuhan suami atau isteri lamanya untuk perkawinan itu.

3.1. Hak dan kewajiban Keluarga 3.1.1. Kewajiban seorang Bapak/suami a. sebagai kepala keluarga: menafkahi secukupnya untuk keluarga. b. Sebagai patner isteri : membahagiakan pasangannya c. Sebagai kekasih: bisa memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani (cinta dan kemesraan). d. Sebagai pendidik. 3.1.2. Kewajiban seorang ibu/isteri a.sebagai hati dari suatu keluarga (penuh cinta, keramahan, kegembiraan) b. sebagai patner suami. c. sebagai pendidik d. sebagai kekasih:memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani suaminya. 3.1.3. Kewajiban anak-anak Terhadap Orang Tua a. Taat dan loyal kepada orang tua b. Membantu orang tua

3.2. Pembinaan iman dalam keluarga. Keluarga beriman adalah keluarga, yang selalu peka membaca kehadiran, kehendak dan firman Allah dalam kehidupan keluarga yang kongkrit, sehingga perlahanlahan keluarga itu akhinya menerima Tuhan sebagai yang paling utama dalam keluarga mereka. Bentuk-bentuk pembinaan iman dalam keluarga: a Berdoa. b Membaca Kitab Suci. c Merayakan sakramen-sakramen. d Mengikuti kegiatan pembinaan iman : rekoleksi, retret, pendalaman iman, kursus. e Menunjukkan sikap kebersamaan dan keterlibatan dalam lingkungan/komunitas

3.3. Tuntutan pada pasien ibu hamil, melahirkan, bayi baru lahir, pasien sekarat dan kematian Tuhan menciptakan manusia baru. Wanita yang telah terikat dalam perkawinan, hamil dan melahirkan, merupakan suatu panggilan dari Sang Pencipta, karena sejak dunia dijadikan, kepada manusialah, khususnya kaum wanita diberi peranan untuk menciptakan manusia baru tersebut. Hal ini jelas ditegaskan dalam Kitab Suci : "Allah memberkati mereka (manusia pria dan wanita), lalu Allah berfirman : "Beranak cuculah dan berkembang biaklah, penuhilah bumi dan taklukanlah itu". (Kej.1 :28)

3.4. Perlindungan terhadap Wanita Hamil. Wanita yang sedang hamil perlu mendapat perlindunagn, supaya manusia baru yang dikandung itu bisa tetap hidup dengan layak. Dalam Kitab Suci dirumuskan dalam suatu perintah: "Apabila, ada orang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang perempuan yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah didenda sebanyak yang dikenakan oleh suami perempuan itu kepadanya, dan ia harus membayarkan menurut putusan hakim". (Kel.21:22) Dengan lebih tegas Kitab Suci mengatakan bahwa, kandungan itu mendatangkan berkat bagi anak yang dilahirkannya,-" oleh Allah yang Maha Kuasa, yang memberkati engkau dengan berkat dari langit diatas, dengan berkat samudra raya yang letaknya, dibawah dengan berkat buah dada dan kandungan". (Kej.49:25)

Anak yang dikandung adalah titipan Allah.Ibu hamil yang tidak memperhatikan kesehatannya berarti ia tidak mencintai dirinya sendiri serta tidak mencintai bayi yang dikandung dalam rahimnya. Anak yang dikandungnya adalah buah kasih Allah yang dititipkan kepada manusia melalui ayah-ibunya."Aku telah membentuk engkau sejak dari kandunganmu". (Yes.44:22;49:1) Bahkan dalam Kitab Suci ditegaskan ketekunan dalam iman ibu melahirkan anak akan menjadi kunci keselamatan. Tetapi perempuan akan diselamatkan kerana, melahirkan anak asal bertekun dalam iman dengan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan (1Tim 2 15)

3.5. Tuntutan bagi pasien yang sakit sekarat dan mati. Seorang yang sehat lebih menarik dari pada seorang yang sakit.Orang sakit hidupnya tidak berdaya. Keadaan sehat dan sakit senantiasa berkaitan dengan keadaan jasmani dan rohani seseorang, sebab keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika yang satu terganggu, maka yang lain pun ikut terpengaruh dan terganggu juga.

Rohani/psikhe sakit Jasmani

Psikhiater/psikolog

Dokter/Para Medis

Diagnosa - Pengobatan

3.5.1. Sakit Perubahan pola hidup. Pasien mengalami berdaya.

ketergantungan/tidak

3.5.2. Pasien sekarat Menurut Elisabeth dalam bukunya yang berjudul on Death and Dying, ada lima tahap proses menuju kematian yakni: Menyangkal marah tawar menawar depresi menerima. Pasien dalam kondisi sekarat membutuhkan pengertian, pedampingan dan dukungan. Bagi yang beragama katolik perlu diperhatikan hal-hal sbb: a Pelayanan medis seperti biasa. b Menanyakan kepada pasien/anggota keluarga; apakah sudah menghubungi pengurus gereja terdekat (Ketua lingkungan/Komunitas Basis) dan Pastor Paroki untuk mendapatkan pelayanan sakramen pengurapan orang sakit (minyak suci). c Memberi tahu para Medis lain yang beragama Katolik bahwa ada pasien katolik sekarat, agar menghubungi Pastor untuk pelayanan sakramen dan doa.

3.5.3. Sakramen pengurapan orang sakit diberikan kepada: a. Pasien yang beragama katolik. b. Pasien yang sakit parah, sekarat, mau operasi berat. c. Boleh diterima lebih dari satu kali. d. Hanya Pastor yang memberikan kepada pasien yang sekarat. 3.5.4. Kematian Menurut keyakinan Agama Katolik kematian bukan akhir dari hidup, bukan akhir dari segalagalanya. Akan tetapi kematian merupakan awal dari kehidupan baru, kehidupan yang abadi disurga. Hidup hanyalah diubah bukan dibinasakan/dilenyapkan.

3.6. Makanan dan Minuman, termasuk ASI Pola makanan dan minuman untuk Ibu hamil sama saja dengan orang biasa. Hanya ditambah makan yang bergizi agar bayi yang dikandungnya juga memperoleh makanan yang sama untuk perkembangan dan pertumbuhan fisik dan jiwa yang normal dan optimal. Pemberian makanan dan ASI bagi sang bayi merupakan ungkapan kasih dan cinta seorang Ibu kepada anaknya. Sang bayi adalah segala-galanya bagi ibu. Bertitik tolak dari itu maka semua tindakan dan perbuatan dalam keluarga demi kesejahteraan, termasuk didalamnya juga memberikan ASI kepada anaknya. Semua dilaksanakan sebagai ungkapan kasih Tuhan kepada umat manusia. ASI melambangkan kehidupan Allah yang dilimpahkan dan dicurahkan kepada umat manusia. " Jadi sama seperti bayi yang baru lahir yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan".(1Petrus,2:2)

BAB IV KONSEP, FALSAFAH DAN PRINSIP AGAMA 4.1. Pengamatan: a. Agama sebagai simbol/identitas/having religion. b. Secara formal beragama tetapi praktek kehidupan mencerminkan sikap dan perilaku orang tidak beragama (korupsi, kekerasan) c. Motivasi beragama, rendah (melulu pada materi, karier saja). 4.2. Pengertian Agama: Agama-agama merupakan sistem kepercayaan kepada yang Ilahi dan tanggapan manusia kepadaNya, termasuk kitab suci, ritus, kultis, moralitas hukum para penganutnya. Agama harus dilihat sebagai sikap dasar/ pilihan dasar (optio fundamental) kepada Allah Pencipta dan Penebus. Sikap dasar/pilihan dasar adalah iman. Iman menyatakan diri dalam pengakuan akan kebenaran iman/syahadat dan mengungkapkan diri dalam sikap yang mencintai Allah dan mencintai sesama.

4.3. Agama dan kesehatan: Hidup manusia adalah anugerah/pemberian Allah. sebagai nilai dasariah. Hidup sehat secara jasmani maupun adalah tanggung jawab orang beriman, karena dalam penciptaan oleh Allah dikatakan bahwa pada hakekatnya manusia adalah baik. hidup harus dijaga dan dipelihara.

Hidup rohani kisah hidup

4.3.1. Tuntutan Bagi Pasien yang Sakit, Sekarat dan Mati Seseorang yang sehat lebih menarik dari pada seseorang yang sakit. Orang yang sakit hidupnya tidak berdaya. Keadaan sehat dan sakit senantiasa berkaitan dengan keadaan jasmani dan rohani seseorang sebab keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika yang satu terganggu maka yang lainpun ikut terganggu.

Rohani/psikhe Sakit Jasmani Diagnosa - Pengobatan 4.3.2. Sakit Sakit adalah perubahan pola hidup Pasien mengalami ketergantungan/tak berdaya.

Psikiater/psikolog Dokter/Paramedis

4.3.3.Pasien sekarat: Elisabeth Kulber Ross dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying, ada lima tahap/proses menuju kematian: (menyangkal, marah, depresi, tawar-menawar, menerima). Pasien dalam kondisi sekarat membutuhkan pengertian, pendampingan, dukungan. Tuntutan bagi pasien sekarat yang beragama katolik: a. Pelayanan medis seperti biasa. b. Menanyakan kepada pasien/anggota keluarga, pasien apakah sudah menghubungi ketua lingkungan/pastor paroki untuk mendapatkan pelayanan Sakramen pengurapan orang sakit (minyak suci).

c. Memberitahu tenaga medis lain yang beragama katolik bahwa ada pasien katolik dalam keadaan sekarat/kritis. d. Bilamana rumah sakit/puskesmas jauh dari pastoran/gereje paroki, diminta kepada anggota keluarga pasien lapor kepada ketua umat agar mendapat pelayanan doa. Catatan : Ketika anggota keluarga, pasien lapor kepada ketua lingkungan/pastor paroki, pastor paroki akan membenkan pelayanan/kunjungan rohani: doa, komuni, sakramen pengurapan orang sakit. Sakramen pengurapan orang sakit diberikan kepada: a. Pasien beriman katolik b. Pasien yang sakit parah, sekarat, mau operasi berat c. Boleh diterima lebih dari sekali. Alamat pastoran: Gereja Katolik Jl. Tjilik Riwut no. 5 Palangka Raya, Telepon 3221624

4.3.4. Pasien Mati Bilamana sejak pasien mengalami sekarat sudah dilaporkan kepada pastor/ketua umat, maka perkembangan pasien akan diperhatikan oleh Gereja lewat seksi pelayanan orang sakit dan seksi duka. Pasien yang sekarat kemudian mati tindakan keperawatannya seperti biasa. Anggota keluarga pasien akan mengurusnya: membawa pulang jenasah dan Gereja akan memberikan pelayanan rohani. Kematian bukan akhir dari segalanya. Hidup hanyalah diubah, bukan dibinasakan. 4.4. Keluarga Berencana Gereja Katolik secara prinsip membenarkan mendukung gerakan KB. Argumentasinya: a. Keterbatasan sumber daya, alam b. Keterbatasan ekonomi keluarga, c. Keterbatasan kondisi perempuan

dan

4.4.1. Kesetiaan kasih dan kesejahteraan anak Fungsi seksual dipercayakan Allah kepada manusia, tetapi dengan tanggung jawab kepada pencipta. Dengan kata lain manusia menciptakan keluarga secara bertanggung jawab. Tanggung jawab keluarga itu menyangkut hal antara lain: a. Menentukan kapan sebaiknya wanita hamil, yaitu antara usia, 20 tahun dan sebelum usia, 35 tahun. b. Menentukan jarak antara kelahiran yang pertama, dan kelahiran yang berikut. c. Menentukan jumlah anak yang akan dilahirkan. Kelahiran yang terlalu banyak jumlahnya atau terlalu dekat jarak waktunya, merupakan penyebab utama, kira-kira sepertiga dari seluruh kematian bayi. Dalam mempertimbangkan semua kepentingan itu, dapat timbul konflik dalam keragaman mengungkapkan kemesraan kasih dalam perkawinan dan tanggung jawab untuk tidak menambah jumlah anak. Banyak orang mencari jalan keluar dengan memakai alat atau obat kontrasepsi (pencegah kehamilan) masih diperlukan pemikiran dan pengarahan.

4.4.2. Dokumen Gereja Humanae Vitae Ensiklik Paus Paulus VI, "Humanae Vitae" dari tahun 1968, mengajarkan bahwa setiap tindakan perkawinan (maksudnya terutama sanggama) harus terbuka untuk penurunan hidup. Berpangkal dari situ ditolaklah sterilisasi dan semua alat dan obat yang mencegah kehamilan. Diusulkan dan dianjurkan cara "Keluarga Berencana Alamiah'. Banyak warga umat Katolik mengalami konflik batin dengan metode ini. Maka dalam penjelasan pastoral tahun 1972, Majelis Agung Wali Gereja Indonesia memberi nasehat kepada suami isteri yang bingung karena merasa di satu pihak harus mengatur jumlah kelahiran, tetapi di lain pihak tidak dapat melaksanakannya dengan cara pantang mutlak atau pantang berkala. Dalam keadaan demikian, mereka bertindak secara bertanggung jawab dan karena itu tidak perlu merasa berdosa, apabila mereka menggunakan cara lain (dari cara yang oleh Humanae Vitae disebut halal), asal cara itu tidak merendahkan martabat isteri atau suami, tidak berlawanan dengan hidup manusiawi (misalnya pengguguran dan pengguguran tetap) dan dapat dipertanggung jawabkan secara medis.

Paus dan para uskup sedunia masih menambahkan pernyataan lain. Para ahli moral pun memberi banyak keterangan dan nasehat. Semua bicara mengenai hormat terhadap hidup dan mengenai kesetiaan suami istri, terutama dalam kesatuan mereka yang paling intim, hendaknya dijaga jangan sampai terjadi saling manipulasi. Dalam Gereja Katolik semua pernyataan dan penjelasan itu belum berhasil membentuk satu keyakinan bersama mengenai cara dan saran mengatur kelahiran secara jelas.

BAB V KONSEP, FALSAFAH, PENGERTIAN DAN PRINSIP AGAMA a.


b. Setiap agama memiliki kekhasan masing-masing untuk menghantar umatnya menuju ke Tuhan. Agama Katolik 1. Tradisi : tradisi tidak hanya berupa ajaran, melainkan jugs kehidupan umat sendiri yang meneruskan diri dari satu angkatan kepada angkatan lain. 2. Kitab Suci : firman Allah yang ditulis oleh manusia ke dalam bahasa manusia atas terang Roh Kudus 3. Ibadat bukan hanya soal perayaan tetapi juga karya bakti (karya karitatif) yang menyangkut pokok kehidupan manusia. Ibadat merupakan perayaan bersama. Cintakasih kepada sesama 1. Sermua agama mengajarkan cinta kasih kepada Allah dan menyatakankannya dalam ibadah dan ibadat (upacara keagamaan) 2. Dalam agama katolik cintakasih terhadap sesama memiliki ciri yang khas, kasih terhadap sesama merupakan pengejawantahan kasih terhadap Allah

c.

5.1. Hidup dan Pandangan Hidup

5.1.1. Siapa aku / manusia ? Manusia, mempunyai unsur jiwa (Roh) dan unsur badan yang tak dapat dipisah dari yang satu dengan yang lainnya. Maksudnya seluruh bidang kehidupan manusia baik yang fisikmaterial, menyangkut segi jasmani atau badan manusia: makan minum, kesehatan, kenyamanan dan kesejahteraan pada umumnya, dan seluruh bidang ekonomi, pekerjaan, jaminan hidup dan lingkungan sosial.
5.1.2. Unsur jiwa/roh Jiwa meliputi sesuatu yang khas manusiawi: memilikii hati dan budi, yang menjamin dan mengusahakan kebebasan manusia, pendidikan, kebudayaan, hidup bersama, baik dalam keluarga, maupun masyarakat. Roh mencakup bidang iman dan kepercayaan. Roh merupakan tempat pertemuan manusia dengan Allah.

5.2. HIDUP Hidup artinya sesuatu yang berkembang, bergerak dan adanya relasi antara pencipta dengan ciptaan. Makna, Hidup a. Makna hidup tidak dapat ditemukan dalam masa depan, hidup akan bermakna apabila manusia mulai sangsi atas kemampuan dirinya. b. Makna hidup tidak bergantung pada keuntungan atau keberhasilan, hidup menjadi bermakna justru dalam penderitaan. c. Hidup menjadi bermakna apabila manusia mengenali tugas pokoknya 1. Membuka diri terhadap yang transenden 2. Membangun solidaritas dengan sesama 3. Mengolah dan memelihara dunia 4. Membangun diri sendiri d. Hidup menjadi bermakna apabila manusia lebih memperhatikan dirinya sebagai mahluk sosial bahwa manusia menginginkan: hidup bersama. 1. Perkembangan 2. Makna dan nilai-nilai 3. Peranan

5.3. SAKIT 5.3.1. Pengertian sakit a. Teganggunya keadaan yang baik b. Suatu keadaan yang memampukan kemampuan/kuasa berbuat sesuatu melampaui kodrat alam. 5.3.2. Pandangan tentang sakit a. Sakit merupakan kutukan b. Sakit merupakan cobaan dari Allah c. Sakit merupakan dosa d. Sakit merupakan karma. 5.3.3. Pengertian Sehat a. Keadaan baik segenap organ tubuh serta bagian-bagiannya b. Sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada badan c. Sembuh dari sakit d. Baik dan dalam keadaan normal 5.3.4. Pandangan Gereja terhadap sakit dan sehat 5.3.4.1. Sakit a. Merupakan suatu keadaan dimana manusia mengalami hubungan yang tidak baik. b. Suatu situasi dimana manusia mengalami relasi yang tidak serasi dengan Allah dan sesamanya.

5.3.4.2. Sehat a. Manusia sebagai citra Allah - memenuhi kepuasan - prokreasi anak-anak b Empat segi yang harus diperhatikan dalam hubungan seksual: - Pengakuan: aku mengenal, menginginkan, dan menghargai - Identitas seksual membuat wanita sungguh wanita demikian sebaliknya. - Rekonsiliasi: pengampunan - pertobatan Beranak cuculah merupakan buah cintakasih dan diberkati secara berlimpah oleh Allah. c. Mengasuh dan mendidik anak-anak - manusia dipanggil untuk hidup dalam kebenaran dan kasih - manusia menemukan kepenuhan melalui pemberian din

Kesimpulan: Keluarga pada dasarnya bersifat menciptakan kehidupan.

6. Keluarga Berencana

Untuk hidup dan bertumbuh dengan baik, suatu lembaga apapun namanya membutuhkan perencanaan. Tanpa perencanaan lembaga itu akan hancur berantakan, demikian pula keluarga sebagai suatu lembaga. Oleh karena itu Keluarga Berencana merupakan keluarga yang direncanakan dengan penuh tanggung jawab. Pelaksanaan KB sungguh-sungguh suatu tuntutan moral masa kini yang sangat urgen untuk diperhatikan oleh semua pihak yang bertanggung jawab, baik dalam kependudukan secara luas, maupun dalam inti sel masyarakat yaitu keluarga. Hanya dengan menjalankan KB khusunys pengaturan kelahiran sesuai dengan aspirasi masyarakat akan tercipta suatu hidup yng makmu dan bahagia. Namun KB tidak lepas dari masalah moral oleh karena itu dalam melaksanakan KB kita hendaknya berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral yaitu Moral Katolik

6.1. Pandangan Gereja Katolik terhadap KB


Gereja mempunyai tanggung jawab untuk mendukung dan melaksana KB pada masa kini. KB bukan saja menjamin kesehatan keluarga tetapi juga kesejahteraan masyarakat dan umat manusia. Gereja Indonesia melalui para uskupnya menegaskan: Bukan hanya pemerintah yang menyelesaikan persoalan ini. Gereja merasa terlibat dan ikut bertanggung jawab untuk mengusahakan pemecahan. Jika KB pada prinsipnya adalah suatu keluarga yang direncanakan dan diwujudkan dengan penuh tanggung jawab gereja mendukung. 6.1.1. Alasan-alasan mengapa KB sangat penting 6.1.1.1. Demi kesejahteraan keluarga Alasan pertama mengapa KB harus dipromosikan ialah kesejahteraan keluarga sebagai sel terkecil dari masyarakat. a. Dengan KB kesehatan ibu dapat dapat dijamin: kesehaatan disini dimengerti secara fisik dan psikis, setiap persalinan dan kehamilan memerlukan tenaga ibu, kehamilan dan prsalinan yang terus menerus dapat menguras daya jasmani dan rohani ibu, khusus jika gizi ibu kurang diperhatikan. b. Dengan KB relasi suami istri bisa semakin diperkaya, kalau kehamilan dan kelahiran dapat terjadi terus menerus , tugas suami istri seolah-olah hanya terpaut pada urusan pengadaan dan pendidikan anak. Waktu untuk membangun keintiman dan kasih sayang diantaranya menjadi terbatas. c. Dengan KB taraf hidup yang lebih pantas dapat dibangun. Kalau anak banyak, pengeluaran juga banyak dan apalagi kalau pengeluarannya sering secara

d. Dengan KB pendidikan anak dapat lebih dijamin. Smua orang tua yang mencintai anak-anaknya pasti ingin memberikan pendidikan yang sesuai dengan masa modern ini supaya nasib anak-anaknya lebih baik dari pada nasib mereka sendiri. 6.1.1.2. Kepentingan masyarakat dan umat manusia KB bukan saja bisa menjamin kesejahteraan keluarga tetapi juga kesejahteraan masyarakat dan umat manusia. Pelakasanaan KB merupakan salah satu sarana yang paling penting untuk mengantar sutu bangsa dari keterbelakangan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Kemajuan berbagai bidang akan sia-sia kalau ledakan penduduk tidak hambat, ledakan penduduk membawa banyak problem seperti: lapangan pekerjaan, perumahan, makanan, kesehatan dll. 6.1.2. Bertanggung jawab Semua orang dewasa, kawin atau tidak kawin bertanggung jawab dalam mensukseskan KB. Berikut beberapa kelompok orang yang sangat bertanggung jawab dalam mensukseskan KB a. Para suami istri (pasutri): pasangan suami istrilah yang berpotensi untuk mengadakan anak. b. Pemerintah: pemerintah dalam batas kewenangannya mempunyai kewajiaban mengenai masalah kependudukan di negaranya c. Pimpinan agama: Para pemimpin agama bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai luhur Ilahi serta memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada para penganutnya khususnya para pasutri untuk melaksanakan KB yang wajar.

Metode-metode KB yang dinjurkan oleh Gereja: a. Metode kalender b. Metode pengukuran suhu basal(metode temperatur) c. Metode ovulasi billing d. Metode simtotermal (gabungan)

Sedangkan dalam kaitannya dengan alat-alat kontrasepsi, gereja tidak melarang dan tidak menganjurkan a. Tidak melarang: penggunaan alat kontrasepsi merupakan perencanaan suami-istri. b. Tidak menganjurkan: penggunaan alat kontrasepsi merupakan penggagalan suatu kehidupan. Ajaran Gereja pada umumnya hanya mengakui metode KB alamiah, namun Gereja Indonesia melalui uskup-uskupnya mengatakan bahwa dalam keadaan terjepit, para suami-istri dapat menggunakan metode lain, asalkan memenuhi persyaratan yaitu: a. Tidak merendahkan martabat suami atau istri. Misalkan suami dipaksa untuk menggunakan salah satu metode. b. Tidak berlawanan dengan hidup manusia. Jadi metode-metode yang bersifat abortif jelas ditolak. c. Dapat bertanggung jawab secara medis, tidak membawa efek samping yang menyebabkan

7. ABORSI 7.1. Pengertian Aborsi / abortus merupakan gugurnya buah kandungan yang dapat terjadi tanpa disengaja (dengan sendirinya) atau diusahakan dengan sengaja (abortus provokatus). Abortus provokatus sama dengan pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah. 7.2. Sebab-sebab terjadinya kasus aborsi (abortus provokatus) 7.2.1. Sex pranikah Perlunya penanaman tentang sikap sex yang wajar: a. Pengetahuan dan pengertian tentang sex yang benar : umur dan pendidikan b. Menguasai diri dari perbuatan sex yang tidak semestinya terhadap diri sendiri. c. Menguasai diri dari perbuatan sex yang tidak semestinya terhadap orang lain. d. Saling menghormati dan menghargai (pergaulan muda-mudi) 7.2.2. Pornografi 7.2.3. Pernikahan dini 7.2.4. Sosial ekonomi 7.2.5. Konflik hidup: pemerkosaan

7.3. Pandangan tentang aborsi 7.3.1. Kesehatan Dalam ilmu kesehatan, medis harus melaksanakan dua etika: etika medis dan bio etika. Yang dimaksudkan dengan etika medis adalah pelayan kesehatan memiliki kewajiban untuk membantu memberikan kesembuhan. Sedangkan bio etika adalah pelayan kesehatan berkewajiban membantu pasien untuk memberi hidup. Berdasarkan hal tersebut maka dilihat dari segi kesehatan aborsi itu tidak dilarang. 7.3.2. Agama Menurut Gereja Katolik aborsi merupakan perbuatan jahat yang durhaka, karena perbuatan aborsi merupakan pembunuhan, oleh sebab itu Gereja Katolik menolak segala macam bentuk aborsi.

7.3.2.1.Latar belakang: a. Pada abad pertama dan kedua Gereja melarang aborsi untuk membela hidup anak-anak dalam kandungan, walaupun masyarakat Romawi menerima aborsi. b.Konsili Vatikan II Menyebut aborsi merupakan tindakan kejahatan yang durhaka, selanjutnya konsili mengatakan bahwa buah hati merupakan pelayanan mulia melestarikan hidup umat manusia c. Dokumen Gaudium et Spes art. 51: Kehidupan saat pembuahan dilindungi dengan cermat.

perlu

d. Enseklik Paus Paulus VI Humane Vitae Aborsi bertentangan dengan pemeliharaan dan kelanjutan hidup umat manusia.

e. Enseklik Paus Yohanes Paulus II Veritatis Splendor: segala macam bentuk aborsi dilarang. f. Kitab Hukum Kanonik: Setiap orang yang terlibat aktif dalam proses pengguguran dikenakan hukuman ekskomunikasi. 7.3.2.2. Alasan gereja melarang a. Allah adalah Tuhan kehidupan b. Bayi dalam rahim merupakan pelayanan mulia melestarikan hidup manusia. c. Panggilan mulia untuk memelihara dan meneruskan hidup d. Manusia dalam kandungan memiliki martabat yang sama seperti manusia yang sudah lahir. e. Menghormati kehidupan