Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PERTANIAN

DESA KECAMATAN KABUPATEN

: SEMIN : NGUNTORONADI : WONOGIRI

Disusun Oleh: Aprilia K. Armida Bella S. Ayudya Kartika S. Titis Risni Siti Mardhikasari (H0712027) (H0712034) (H0712037) (H0712175) (H0710106)

LABORATORIUM EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bermata pencaharian di sektor pertanian. Tetapi, sekarang lapangan pekerjaan di sektor pertanian seakan-akan berkurang atau terbatas secara relatif berarti jumlah tenaga kerja lebih banyak dari sumber daya alam dan faktor produksi lainnya. Pentingnya sektor pertanian juga dapat dilihat dari besarnya nilai ekspor yang berasal dari pertanian. Pada daerah-daerah di pedesaan, usahatani pada umumnya diusahakan dengan tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan kehidupan (subsistensi) petani dan keluarganya. Secara ekonomis dapat dikatakan bahwa hasilnya sebagian besar untuk memenuhi konsumsi keluarga, dan faktor-faktor produksi atau modal yang digunakannya sebagian besar berasal dari usahatani sendiri. Tetapi sekarang ini karena semakin meningkatnya

kebutuhan hidup para petani, maka mereka tidak haya menggantungkan nasib di sektor pertanian saja. Para petani sekarang banyak yang bekerja di luar sektor pertanian sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan mereka. Pada umumnya konsumsi dari masyarakat pedesaan baik dalam hal pangan maupun non pangan tidak sebesar konsumsi penduduk kota. Di pedesaan ini banyak yang bisa dipelajari oleh mahasiswa, sebagai contohnya adalah sifat gotong royong yang masih melekat pada jiwa masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, praktikum Ekonomi Pertanian ini diadakan. Lokasi yang dipilih adalah Desa Cokroyasan, Kecamatan Ngombol , Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah dengan pertimbangan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Dari kegiatan praktikum ini mahasiswa diharapkan memperoleh

informasi mengenai keadaan sosial ekonomi di pedesaan, sehingga dapat memberikan kontribusinya bagi pembangunan Indonesia khususnya di sektor pertanian agar lebih maju dan berkembang di masa mendatang. B. Perumusan Masalah Desa Semin merupakan salah satu desa di Kecamatan

Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Desa ini memiliki lahan pertanian yang cukup luas, akan tetapi letaknya dekat dari pusat kota. Sehingga untuk mencapai lokasi tersebut cukup mudah ditempuh. Dari gambaran tersebut, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. 2. Bagaimana karakteristik desa serta rumah tangga di Desa Semin? Bagaimana karakteristik rumah tangga petani di Desa Semin Kecamatan Nguntoronadi? 3. Berapa besar penerimaan, konsumsi, pendapatan, dan tabungan rumah tangga di Desa Semin ? C. Tujuan Praktikum Ekonomi Pertanian Tujuan Praktikum Ekonomi Pertanian adalah : a. Melatih mahasiswa untuk dapat mengenal kehidupan rumah tangga petani di Desa Semin dan mengetahui secara nyata tentang karakteristik rumah tangga petani di desa tersebut. b. Melatih mahasiswa untuk dapat menganalisis secara ekonomi mengenai pendapatan rumah tangga petani baik dari usaha tani maupun dari luar usaha tani. c. Melatih mahasiswa untuk dapat menganalisis besar penerimaan, konsumsi, pendapatan, dan tabungan rumah tangga di Desa Semin. D. Kegunaan Praktikum Ekonomi Pertanian Kegunaan praktikum Ekonomi Pertanian adalah : a. Bagi pemerintah Kabupaten Wonogiri ,sebagai sumbangan pemikiran dari mahasiswa mengenai kondisi pedesaan dengan rumah tangga yang ada di dalamnya. b. Bagi fakultas, sebagai kelengkapan dalam penerapan kurikulum pendidikan pertanian.

c. Bagi mahasiswa, sebagai persyaratan dalam menempuh mata kuliah Ekonomi Pertanian Semester II.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Karakteristik Pedesaan Desa adalah istilah pengertian yang beraneka ragam. Pembagian

administratif negara kita atas wilayah provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa sering menimbulkan kekaburan dalam pengertian masyarakat desa. Pengertian desa dari sudut pandang sosiologi di Jawa berbeda sekali dengan apa yang disebut dengan nama yang sama di Bali, Ambon atau Sulawesi. Besarnya, susunan dan hubungan sosialnya berbeda-beda, walaupun terdapat beberapa ciri yang sama seperti keakraban, tolong-menolong dan keterkaitan pada tempat pemukiman yang sama (Luthfifatah 2008). Karakteristik pedesaan hingga saat ini masih sangat lekat dengan kondisi rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan pemukiman. Kondisi tersebut sulit diperbaiki karena fokus pembangunan yang kurang berorientasi pada pedesaan sehingga dorongan untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan

kesejahteraan sosial masih sangat lemah. Sementara kita tahu bahwa sebagian besar penduduk Indonesia (63,41%) hidup di pedesaan (BPS 2006) dan jumlah ini akan terus meningkat dengan bertambahnya penduduk Indonesia dan semakin sempitnya lahan di perkotaan (Anonima 2007). Pendidikan petani umumnya masih rendah. Namun tingkat pendidikan yang rendah tidak berpengaruh dalam partisipasi pada sebuah proyek dan sebaliknya pendidikan yang tinggi tidak menjamin mereka berpartisipasi pada tingkat yang lebih tinggi. Besarnya luas lahan garapan akan mendorong petani dalam kegiatan yang ditujukan usahatani. Jumlah anggota keluarga yang besar tidak mendorong peserta untuk berpartisipasi lebih aktif. Hal ini dikarenakan anggota keluarga lainnya bekerja di sektor yang lain (Effendi 2003). Arah pertumbuhan penduduk terutama ditentukan oleh interaksi antara dua kekuatan alamiah, yaitu kecenderungan pertambahan penduduk sebagai akibat dari daya tarik antara dua jenis kelamin dan pengendalian secara positif oleh kematian dan kemandulan akibat kelaparan, wabah dan tindak kejahatan. Pada

tingkat perkembangan ilmu dan teknologi yang lamban, sarana-sarana produksi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup suatu negara, hampir seluruhnya ditentukan oleh sumber-sumber alamnya. Kemajuan ilmu dan teknologi tidak memberikan keuntungan-keuntungan yang segera dapat dinikmati oleh suatu gelombang penduduk tertentu dan menggiatkan kembali kekuatan-kekuatan yang menyebabkan kesengsaraan umat manusia. Ilmu dan teknologi harus diperhatikan karena dapat mengakibatkan perubahan struktur sosial, perubahan budaya dan institusi ekonomi (Fawcett 2002). Kesepakatan mengakibatkan adanya harapan kebersamaan bahwa

penduduk yang bertambah dengan cepat akan mempersulit keadaan terutama dalam pembahasan pencapaian stabilitas baik nasional maupun internasional. Tambahan penduduk akan memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan dan kesempatan memperoleh pendidikan. Kelestarian sumber alam pun secara langsung atau tidak terancam dengan pertambahan penduduk yang cepat. Struktur umur pendidikan yang dipunyai oleh negara-negara berkembang membawa konsekuensi yang penting pula, lebih banyak penduduk muda dan anak-anak berarti lebih banyak biaya ekonomi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup (Munir 2001). B. Pertanian dan Produktivitas Usahatani Petani merupakan kelompok masyarakat yang penting. Usaha tani kecil yang mengolah lahan terbatas tersebut menggunakan semua atu sebagian besar tenaga keluarganya sendiri dalam kesatuan usaha ekonomi yang mandiri. Usaha tani ini merupakan bentuk usaha paling banyak dan memasok sebagian besar hasil produksi pertanian. Dalam semua negara sedang berkembang yang berorientasi pada ekonomi pasar, para petani merupakan kelompok pekerja yang terpenting. Usaha menekan resiko ekonomi sekecil mungkin lebih didahulukan daripada keinginan mendapatkan keuntungan, dan akhirnya tindakan ini akan membatasi keinginan untuk mendapat keuntungan. Usaha pertanian besar, apakah itu milik swasta, pemerintah atau koperasi, hanya dibeberapa sistem pengelolaan tanah tropik bukan pertanian

lebih unggul daripada usaha tani dalam hal produksi, produktivitas tenaga kerja dan efisiensi. (Ulrich Planck 1993). Petani memanfaatkan berbagai sumber untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang mereka perlukan untuk mengelola usaha tani mereka dengan baik, diantaranya adalah: 1. Petani-petani lain 2. Organisasi penyuluhan milik pemerintah 3. Perusahaan swasta yang menjual input, menawarkan kredit, dan membeli hasil pertanian. 4. Agen pemerintah yang lain, lembaga pemasaran dan politisi 5. Organisasi petani dan organisasi swasta beserta stafnya 6. Jurnal usaha tani, radio, televise dan media massa lainya 7. Konsultan swasta, pengacara dan dokter hewan (Ban 1999) Faktor faktor yang mempengaruhi usaha tani: 1. Faktor alam ; tanah, air, suhu, sinar matahari, udara, pembagian kerja sehari hari dan alam, iklim mikro, penyesuaian usaha di indonesia dengan alam . 2. Tenaga kerja 3. Modal 4. Modal tanah 5. Modal usaha; modal perbaikan tanah, modal gedung-gedung, modal ternak (inventaris hidup), modal alatalat kerja (inventaris mati), bibit padi dan bibit tanaman lain, tanaman lapangan, tanaman tetap, persediaan di gudang, pupuk, jenisjenis modal lainnya, modal uang, pembentukan modal. (Soetrisno 1984) C. Pendapatan Penduduk Pedesaan Diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dari pemegang kekuasaan terhadap aspek non-ekonomi seperti kondisi sosial budaya masyarakat pedesaan termasuk di dalamnya para petani, sebab aspek sosial budaya ini berkaitan erat dengan aspek perekonomian di pedesaan (Lubis 1990).

Pembangunan pertanian dan peternakan yang dapat meacu tumbuhnya kesempatan kerja non-farm. Dengan tumbuhnya kegiatan non-farm

diharapkan dapat lebih membberi kegairahan kehidupan ekonomi di wilayah pedesaan dan dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarganya (Effendi 1990). Masyarakat pedesaan di Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat petani, dan di dalamnya termasuk mereka yang berkecimpung di bidang peternakan. Walaupun tel;ah teradi pergeseran-pergeseran dalam sektor pekeraan, basis utamanya masih di dominasi oleh kegiatan pertanian (Setyawan 2002). Sikap yang semakin melekat pada masyarakat pedesaan seperti para petani peternak yang banyak berdiam di pedesaan, menurut Ellis merupakan hambatan budaya yang dapat menyebabkan terjadinya kemiskinan sosial. Dalam hal ini kemiskinan sosial merupakan suatu konsep dari ketiadaan akse masyarakat terhadap berbagai jaringan sosial dan struktur yang mendukung untuk meraih kesempatan-kesempatan guna meningkatkan produktivitasnya (Effendi 1993). D. Konsumsi, Tabungan dan Investasi Usahatani kecil pada umumnya masih bersifat subsisten walaupun sudah sangat sulit mencari usahatani yang murni subsisten. Sebagian keperluan konsumsi keluarga petani dipenuhi atau dihasilkan dari usaha taninya sendiri. Karena itu, banyak petani yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Pentingnya program pendidikan untuk pedesaan sebagai salah satu faktor pelancar pembangunan pertanian (At Mosher, 1966). Selain itu, karena rendahnya tingkat pendidikan para petani di desa maka rendah pula tingkat konsumsi yang memperhatikan nilai gizi di dalamnya. Maka dari itu, banyak dari keluarga petani yang tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Pendapatan utama petani pedesaan bersumber dari sektor pertanian dan non pertanian. Sumber dari sektor pertanian terdiri dari usahatani sawah/tegal, usahatani kebun dan pekarangan, serta usaha ternak. Sedangkan dari sektor non

pertanian terdiri dari usaha non pertanian contohnya dagang, industri, dan lainlain (Rusastra 1998) Dalam perekonomian rumah tangga pertanian, tabungan mempunyai peran cukup strategis sehingga preferensi menabung menjadi bagian dari perilaku mereka. Tabungan sering digunakan sebagai peredam instabilitas

pengeluaran, terutama di masa paceklik. Peran tabungan yang lain adalah sebagai cadangan modal untuk membiayai usahatani. Pada konteks ketahanan pangan, peran sebagai stabilisator konsumsi menunjukkan penggunaan tabungan menjadi salah satu pilihan strategi dalam menghadapi ancaman rawan pangan (Hardono 2003). Investasi diartikan sebagai penanaman uang atau di suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memproleh keuntungan (KBBI 2009). Investasi adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang guna mendapatkan aset pada masa mendatang yang tentu saja dengan jumlah yang lebih besar ( Sharpe et all 1993). Investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumbersumber untuk dipakai mengadakan barang. Dari modal tersebut akan dihasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang (Fitz Gerald 1978).

III. METODOLOGI

A. Penentuan Sampel 1. Sampel Desa Penentuan sampel desa praktikum menggunakan metode purposive sampling. Seperti yang disampaikan oleh Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (1999), purposive sampling adalah penentuan sampel yang dilakukan secara sengaja dan dipilih berdasarkan pertimbangan-

pertimbangan tertentu dan pertimbangan yang diambil berdasarkan tujuan penelitian. Dengan demikian, pada praktikum kali ini kemudian dipilih satu desa dari sejumlah kecamatan dengan berbagai pertimbangan tertentu. Pada praktikum kali ini dipilih Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. 2. Sampel Responden Penentuan responden dan pengambilan data dilakukan dengan cara eluster sampling. Mardikanto (2001) menyatakan bahwa eluster sampling adalah pengambilan data dari semua unit populasi sebagai sumber data atau informasi, karena semakin besar jumlah anggota yang dijadikan sumber, kesalahan yang terjadi akan semakin kecil. Oleh karena itu, pengambilan data dilakukan dengan mewancarai seluruh kepala rumah tangga atau istri yang ada di wilayah terpilih. Kemudian hasil wawancara ditulis dalam lembar kuosioner yang telah disiapkan. Dan praktikum kali ini, populasi yang diwawancarai adalah warga Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. B. Data yang Dikumpulkan 1. Data Primer Data primer merupakan data yang di peroleh dari responden secara langsung, yaitu dengan wawancara, dan hasil wawancara ditulis dalam quesioner yang telah disiapkan. Dalam hal ini data primer meliputi identitas keluarga responden, usahatani responden, produksi dan biaya

usaha tani, total pendapatan responden, kebutuhan konsumsi, serta tabungan dari para responden. 2. Data Sekunder Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari suatu instansi (pemerintah desa), yaitu dengan melakukan pencatatan, yang meliputi keadaan alam, kependudukan, keadaan pertanian, sarana dan prasarana sosial ekonomi yang ada di Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah. C. Metode Analisis Data 1. Analisis Tabulasi Silang Tabulasi silang merupakan perluasan dari analisis distribusi relatif dengan menyajikan hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya. 2. Analisis Persentase Analisis Persentase adalah data dibagi dalam beberapa kelompok yang dinyatakan atau diukur dalam prosentase. Dengan cara ini dapat diketahui kelompok mana yang paling banyak jumlahnya atau sebaliknya. 3. Angka RataRata Angka ratarata adalah merupakan angka untuk mengetahui taksiran secara kasar untuk melihat gambaran dalam garis besar dari suatu karakteristik yang ada. 4. Analisis Usaha Tani Analisis usaha tani dilakukan dengan menghitung pendapatan usaha tani dengan mengurangi penerimaan usaha tani dengan biaya usaha tani.

DAFTAR PUSTAKA Daniel, Moehar. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Pustaka LP3ES. Bintang. 2009. Pengertian Investasi Adalah. www.blogbintang.com. Diakses Tanggal Rinton. 2009. Definisi Tabungan. www.rinton.wordpress.com. Diakses Tanggal Sultan. 2009. Sejarah Ekonomi Pedesaan. www.sultanblack.blogspot.com. Diakses Tanggal