Anda di halaman 1dari 44

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum

Air

adalah

kebutuhan

dasar

untuk

kehidupan

manusia,

terutama

untuk

digunakan sebagai air minum, memasak makanan, mencuci, mandi dan kakus.

Ketersediaan sistem penyediaan air bersih merupakan bagian yang

selayaknya

diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik di perkotaan maupun

pedesaan. Hingga saat ini penyediaan oleh pemerintah menghadapi keterbatasan,

baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya.

Pelayanan air bersih di perkotaan di Indonesia sampai tahun 2000 baru

mencapai 39% atau 33 juta penduduk, dan di pedesaan baru menjangkau 8% atau 9

juta penduduk, sehingga keseluruhan baru mencapai 47% atau 42 juta penduduk

Indonesia. Keadaan ini berarti menggambarkan bahwa pelayanan air bersih belum

dirasakan merata dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat. Sebagian besar

masyarakat masih menggunakan air sungai, danau, sumber-sumber air, atau hanya

mengandalkan air hujan.

Untuk di daerah perkotaan, pada umumnya sumber air bakunya dari sungai,

yang makin hari tercemar oleh ulah masyarakat sendiri dengan membuang sampah

sembarangan dan juga dari banyak barang bekas rumah tangga, pabrik dan lainnya.

Selain itu juga dihadapkan kepada perubahan lingkungan yang dilakukan oleh

manusia, di antaranya rawa, kolam, danau dan sungai yang diurug, serta penggunaan

daerah resapan air untuk bangunan dan juga banyak kawasan tadah hujan berupa

hutan terganggu.

Universitas Sumatera Utara

Dengan keadaan yang demikian kemudian dihadapkan kepada kebutuhan air

bersih yang meningkat karena penggunaan dan pertumbuhan penduduk, perlu ada

upaya yang menyeluruh. Air bersih secara umum diartikan sebagai air yang layak

untuk dijadikan air baku bagi air minum. Dengan kelayakan ini terkandung pula

pengertian layak untuk mandi, cuci dan kakus.

Sebagai air yang layak untuk diminum, tidak diartikan bahwa air bersih itu

dapat diminum langsung, artinya masih perlu dimasak atau direbus hingga mendidih.

Sebagai air yang layak dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan hal tersebut di

atas, diperlukan upaya penyediaan air bersih. Penyediaan air bersih hendaknya

memperhatikan sumber, kualitas dan kuantitasnya. Sumber air bersih merupakan

pemasok air bersih, oleh karena itu perlu dan harus diupayakan menjaga keberadaan

dan

keberlanjutannya.

Sedangkan

kualitas

merupakan

hal

yang

penting

bagi

kesehatan dan kuantitas penting bagi pencukupan jumlah pasokan air bersih.

2.2 Definisi Air Bersih

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan

menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih

adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum. Adapun

persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi

kualitas fisik, kimia, biologi, dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak

menimbulkan efek samping.

Universitas Sumatera Utara

2.3 Persyaratan Dalam Penyediaan Air Bersih

2.3.1 Persyaratan Kualitas

Persyaratan

kualitas

menggambarkan

mutu

dari

air

baku

air

bersih.

persyaratan kualitas air bersih adalah sebagai berikut :

1. Persyaratan fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa.

Selain itu juga suhu air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang

lebih 25 0 C, dan apabila terjadi perbedaan maka batas yang diperbolehkan

adalah 25 0 C ± 30 0 C.

2. Persyaratan kimiawi

Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah

yang melampaui batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah : pH,

total solid, zat organik, CO 2 agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe),

mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), chlorida (Cl), nitrit, flourida (F),

serta logam.

3. Persyaratan bakteriologis

Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik yang

mengganggu kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai dengan tidak

adanya bakteri E. coli atau fecal coli dalam air.

4. Persyaratan radioaktifitas

Persyaratan radioaktifitas mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh

mengandung

zat

yang

menghasilkan

bahan-bahan

yang

mengandung

radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan gamma.

Universitas Sumatera Utara

2.3.2

Persyaratan Kuantitas (Debit)

Persyaratan

kuantitas

dalam

penyediaan

air

bersih

adalah

ditinjau

dari

banyaknya air baku yang tersedia. Artinya air baku tersebut dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan sesuai dengan kebutuhan daerah dan jumlah penduduk yang

akan dilayani. Persyaratan kuantitas juga dapat ditinjau dari standar debit air bersih

yang dialirkan ke konsumen sesuai dengan jumlah kebutuhan air bersih. Kebutuhan

air bersih masyarakat

bervariasi, tergantung pada

letak geografis, kebudayaan,

tingkat ekonomi, dan skala perkotaan tempat tinggalnya.

2.3.3 Persyaratan Kontinuitas

Air baku untuk air bersih harus dapat diambil terus menerus dengan fluktuasi

debit yang relatif tetap, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan.

Kontinuitas juga dapat diartikan bahwa air bersih harus tersedia 24 jam per hari, atau

setiap saat diperlukan, kebutuhan air tersedia. Akan tetapi kondisi ideal tersebut

hampir tidak dapat dipenuhi pada setiap wilayah di Indonesia, sehingga untuk

menentukan

tingkat

kontinuitas

pemakaian

air

dapat

dilakukan

dengan

cara

pendekatan aktifitas konsumen terhadap prioritas pemakaian air. Prioritas pemakaian

air yaitu minimal selama 12 jam per hari, yaitu pada jam-jam aktifitas kehidupan,

yaitu pada pukul 06.00 – 18.00.

Kontinuitas aliran sangat penting ditinjau dari dua aspek. Pertama adalah

kebutuhan konsumen. Sebagian besar konsumen memerlukan air untuk kehidupan

dan pekerjaannya, dalam jumlah yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan pada

Universitas Sumatera Utara

waktu yang tidak ditentukan. Karena itu, diperlukan reservoir pelayanan dan fasilitas

energi yang siap setiap saat.

Sistem jaringan pemipaan didesain untuk membawa suatu kecepatan aliran

tertentu. Kecepatan dalam pipa tidak boleh melebihi 0,6–1,2 m/dt. Ukuran pipa harus

tidak melebihi dimensi yang diperlukan dan juga tekanan dalam sistem harus

tercukupi. Dengan analisis jaringan pipa distribusi, dapat ditentukan dimensi atau

ukuran pipa yang diperlukan sesuai dengan tekanan minimum yang diperbolehkan

agar kuantitas aliran terpenuhi.

2.3.4 Persyaratan Tekanan Air

Konsumen memerlukan sambungan air dengan tekanan yang cukup, dalam arti

dapat dilayani dengan jumlah air yang diinginkan setiap saat. Untuk menjaga tekanan

akhir pipa di seluruh daerah layanan, pada titik awal distribusi diperlukan tekanan

yang

lebih

tinggi

untuk

mengatasi

kehilangan

tekanan

karena

gesekan,

yang

tergantung kecepatan aliran, jenis pipa, diameter pipa, dan jarak jalur pipa tersebut.

Dalam pendistribusian air, untuk dapat menjangkau seluruh area pelayanan dan

untuk memaksimalkan tingkat pelayanan maka hal wajib untuk diperhatikan adalah

sisa tekanan air. Sisa tekanan air tersebut paling rendah adalah 5 mka (meter kolom

air) atau 0,5 atm (satu atm = 10 m), dan paling tinggi adalah 22 mka (setara dengan

gedung 6 lantai).

Menurut standar dari DPU, air yang dialirkan ke konsumen melalui pipa

transmisi dan pipa distribusi, dirancang untuk dapat melayani konsumen hingga yang

terjauh, dengan tekanan air minimum sebesar 10 mka atau 1atm. Angka tekanan ini

harus dijaga, idealnya merata pada setiap pipa distribusi. Jika tekanan terlalu tinggi

Universitas Sumatera Utara

akan menyebabkan pecahnya pipa, serta merusak alat-alat plambing (kloset, urinoir,

faucet, lavatory, dll). Tekanan juga dijaga agar tidak terlalu rendah, karena jika

tekanan terlalu rendah maka akan menyebabkan terjadinya kontaminasi air selama

aliran dalam pipa distribusi.

2.4 Sumber Air

Sumber air baku bagi suatu penyediaan air bersih sangat penting, karena

selain kuantitas harus mencukupi juga dari segi kualitas akan berpengaruh terhadap

proses pengolahan. Disamping itu letak sumber air dapat mempengaruhi bentuk

jaringan transmisi, distribusi dan sebagainya.

Secara umum sumber air dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Air Hujan

Air hujan adalah uap air yang sudah mengalami kondensasi, kemudian jatuh ke

bumi berbentuk air. Air hujan juga merupakan sumber air baku untuk keperluan

rumah tangga, pertanian, dan lain-lain. Air hujan dapat diperoleh dengan cara

penampungan, air hujan dari atap rumah dialirkan ke tempat penampungan yang

kemudian dapat dipergunakan untuk keperluan rumah tangga.

2. Air permukaan

Air

permukaan adalah air

hujan

yang

mengalir

di permukaan

bumi.

Pada

umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya,

misalnya: oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, limbah industri kota dan

sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Air permukaan ada beberapa macam yaitu:

a) Air rawa/danau

Kebanyakan dari air rawa ini berwarna, hal ini disebabkan oleh

adanya zat-zat organis yang telah membusuk, misalnya: asam

humus yang dalam air menyebabkan warna kuning kecoklatan.

Dengan

adanya

pembusukan

kadar

zat

organis

tinggi,

maka

umumnya

kadar

Fe

dan

Mn

akan

tinggi

pula.

Jadi

untuk

pengambilan air sebaiknya pada kedalaman tertentu agar endapan-

endapan Fe dan Mn tidak terbawa, demikian juga dengan lumut

yang ada pada permukaan rawa.

b) Air sungai

Dalam penggunaannya sebagai air minum harus mengalami suatu

pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada

umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali.

3. Air tanah

Air tanah merupakan air hujan atau air permukaan yang meresap kedalam tanah

dan bergabung dalam pori-pori tanah yang terdapat pada lapisan tanah yang biasanya

disebut aquifer. Air tanah dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu:

Air Tanah Dangkal

Terjadi karena adanya daya proses peresapan air dari permukaan tanah.

Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga

air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-

garam yang terlarut).

Universitas Sumatera Utara

Air Tanah Dalam

Terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam

tidak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor

dan memasukkan pipa kedalamnya (biasanya antara 100-300 m) akan

didapatkan suatu lapisan air.

Mata Air

Adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah. Mata

air yang berasal dari air tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh musim

dan kualitas/kuantitasnya sama dengan keadaan air dalam.

2.5 Sistem Distribusi dan Sistem Pengaliran Air Bersih

2.5.1 Sistem Distribusi Air Bersih

Sistem distribusi adalah sistem yang langsung berhubungan dengan konsumen,

yang mempunyai fungsi pokok mendistribusikan air yang telah memenuhi syarat ke

seluruh

daerah

pelayanan.

Sistem

ini

meliputi

unsur

sistem

pemipaan

dan

perlengkapannya,

hidran kebakaran,

tekanan tersedia,

sistem pemompaan

(bila

diperlukan), dan reservoir distribusi.

Sistem distribusi air minum terdiri atas pemipaan, katup-katup, dan pompa

yang membawa air yang telah diolah dari instalasi pengolahan menuju pemukiman,

perkantoran dan industri yang mengkonsumsi air. Juga termasuk dalam sistem ini

adalah

fasilitas

penampung

air

yang

telah

diolah

(reservoir

distribusi),

yang

digunakan saat kebutuhan air lebih besar dari suplai instalasi, meter air untuk

menentukan banyak air yang digunakan, dan keran kebakaran.

Universitas Sumatera Utara

Dua

hal

penting

yang

harus

diperhatikan

pada

sistem

distribusi

adalah

tersedianya

jumlah

air

yang

cukup

dan

tekanan

yang

memenuhi

(kontinuitas

pelayanan),

serta

menjaga

keamanan

kualitas

air

yang

berasal

dari

instalasi

pengolahan. Tugas pokok sistem distribusi air bersih adalah menghantarkan air

bersih kepada para pelanggan yang akan dilayani, dengan tetap memperhatikan

faktor kualitas, kuantitas dan tekanan air sesuai dengan perencanaan awal. Faktor

yang didambakan oleh para pelanggan adalah ketersedian air setiap waktu. Suplai air

melalui pipa induk mempunyai dua macam sistem:

Continuous system

Dalam sistem ini air minum yang disuplai ke konsumen mengalir terus menerus

selama

24

jam.

Keuntungan

sistem

ini

adalah

konsumen

setiap

saat

dapat

memperoleh air bersih dari jaringan pipa distribusi di posisi pipa manapun. Sedang

kerugiannya pemakaian air akan cenderung akan lebih boros dan bila terjadi sedikit

kebocoran saja, maka jumlah air yang hilang akan sangat besar jumlahnya.

Intermitten system

Dalam sistem ini air bersih disuplai 2-4 jam pada pagi hari dan 2-4 jam pada

sore hari. Kerugiannya adalah pelanggan air tidak bisa setiap saat mendapatkan air

dan perlu menyediakan tempat penyimpanan air dan bila terjadi kebocoran maka air

untuk fire fighter (pemadam kebakaran) akan sulit didapat. Dimensi pipa yang

digunakan akan lebih besar karena kebutuhan air untuk 24 jam hanya disuplai dalam

beberapa jam saja. Sedang keuntungannya adalah pemborosan air dapat dihindari dan

juga sistem ini cocok untuk daerah dengan sumber air yang terbatas.

Universitas Sumatera Utara

2.5.2

Sistem Pengaliran Air Bersih

Air merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan makhluk hidup

umumnya dan manusia khususnya. Air sebagai pemenuh kebutuhan untuk berbagai

kebutuhan sehari-hari, diantaranya untuk keperluan aktifitas domestik, keperluan

industri, sosial, perkantoran dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Untuk menngalirkan air minum kepada konsumen dengan kuantitas, kualitas

dan tekanan yang cukup memerlukan sistem pemipaan yang baik, reservoir, pompa

dan dan peralatan yang lain. Di dalam sistem transmisi ada beberapa cara pengaliran

yang dapat dilakukan, antara lain :

Sistem saluran terbuka, sistem ini hanya memperhatikan ketinggian tanah dan

konstruksi saluran untuk dapat

mengalirkan air dengan kapasitas

besar

sehingga biaya pembuatan dan operasionalnya murah. Saluran yang terbuka

amat sensitif terhadap faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kualitas air

yang dialirkan.

Sistem saluran tertutup, sistem ini mampu membawa air dengan kapasitas

besar dan memungkinkan kehilangan air kecil bila dibandingkan dengan

debitnya.

Sistem pipa, pada sistem ini aliran tidak tergantung pada profil tanah.

Kualitas air tidak mudah dipengaruhi oleh faktor luar, selain itu operasi dan

pemeliharaannya mudah, walaupun biaya pembuatannya lebih mahal jika

dibandingkan dengan sistem terbuka dan sistem tertutup.

Universitas Sumatera Utara

2.6

Sistem dan Komposisi Sistem Penyediaan Air Minum

2.6.1 Sistem Penyediaan Air Minum

Dilihat dari sudut bentuk dan tekniknya, sistem penyediaan air minum dapat

dibedakan atas 2 macam sistem, yaitu :

a.

Penyediaan air minum untuk individual

Adalah sistem untuk penggunaan individual dan untuk pelayanan

terbatas.

b.

Penyediaan air minum komunitas atau perkantoran

Sistem pada metode ini ditujukan untuk suatu komunitas besar atau

kota. Sistem penyediaan yang digunakan pada tugas akhir ini adalah sistem

penyediaan air minum perkotaan.

2.6.2

Komposisi Sistem Penyediaan Air Minum

Menurut Linsey and Franzini (1985), unsur-unsur yang membentuk suatu

sistem penyediaan air yang modern meliputi :

1. Sumber-sumber penyediaan

2. Sarana-sarana penampungan

3. Sarana-saran penyaluran (ke pengolahan)

4. Sarana-sarana pengolahan

5. Sarana-sarana penyaluran (dari pengolahan) tampungan sementara

6. Sarana-sarana distribusi

Universitas Sumatera Utara

Sumber penyediaan air

Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan

Penampungan

Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan
Sumber penyediaan air Penampungan Penyaluran Pengolahan Penyaluran dan Pengolahan Distribusi Gambar 2.1 Kaitan Hubungan

Penyaluran

Pengolahan

Penyaluran dan

Pengolahan

Distribusi

Gambar 2.1 Kaitan Hubungan Antara Unsur-unsur Fungsional Dari Suatu Sistem Penyediaan Air Kota.

Tabel 2.1 Unsur-unsur Fungsional Dari Sistem Penyediaan Air Minum.

 

Masalah

utama

 

Unsur fungsional

dalam

perencanaan

Uraian

sarana

(utama / sekunder)

Sumber penyediaan

Jumlah / mutu

Sumber-sumber air permukaan bagi penyediaan, misalnya sungai, danau dan waduk atau sumber air tanah

Penampungan

Jumlah / mutu

Sarana-sarana yang dipergunakan untuk menampung air permukaan biasanya terletak pada atau dekat sumber penyediaan

Penyaluran

Jumlah / mutu

Sarana-sarana untuk menyalurkan air dari tampungan ke sarana pengolah

Universitas Sumatera Utara

Pengolahan

Jumlah / mutu

Sarana-sarana yang dipergunakan untuk memperbaiki atau merubah mutu air

Penyaluran & penampungan

Jumlah / mutu

Sarana-sarana untuk menyalurkan air yang sudah diolahke sarana penampungan sementara serta ke satu atau beberapa titik distribusi

Distribusi

Jumlah / mutu

Sarana-sarana yang dipergunakan untuk membagi air ke masing- masing pemakai yang terkait di dalam system

Sumber : Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini, 1985. Teknik Sumber Daya Air Jilid I . Erlangga. Jakarta.

2.7 Studi Kebutuhan Air Bersih

Untuk

sebuah

sistem

penyediaan

air

minum,

perlu

diketahui

besarnya

kebutuhan dan pemakaian air. Kebutuhan air dipengaruhi oleh besarnya populasi

penduduk, tingkat ekonomi dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, data mengenai

keadaan penduduk

daerah

yang

akan

dilayani

dibutuhkan untuk

memudahkan

permodelan evaluasi sistem distribusi air minum.

Kebutuhan air bersih berbeda antara kota yang satu dengan kota yang

lainnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan air bersih menurut

Linsey and Franzini (1986) adalah :

1. Iklim

Kebutuhan air untuk mandi, menyiram taman, pengaturan udara dan sebagainya

akan lebih besar pada iklim yang hangat dan kering daripada di iklim yang

lembab. Pada iklim yang sangat dingin, air mungkin diboroskan di keran-keran

untuk mencegah bekunya pipa-pipa.

Universitas Sumatera Utara

2.

Ciri-ciri Penduduk

Pemakaian air dipengaruhi oleh status ekonomi dari para langganan. Pemakaian

perkapita di daerah miskin jauh lebih rendah daripada di daerah-daerah kaya.

Di daerah-daerah tanpa pembuangan limbah, konsumsi dapat sangat rendah

hingga hanya sebesar 10 gpcd (40 liter / kapita per hari).

3. Masalah Lingkungan Hidup

Meningkatnya

perhatian

masyarakat

terhadap

berlebihannya

pemakaian

sumber-sumber daya telah menyebabkan berkembangnya alat-alat yang dapat

dipergunakan untuk mengurangi jumlah pemakaian air di daerah pemukiman.

4. Keberadaan Industri dan Perdagangan

Keberadaan

industri

dan

perdagangan

dapat

kebutuhan air per kapita dari suatu kota.

5. Iuran Air dan Meteran

mempengaruhi

banyaknya

Bila harga air mahal, orang akan lebih menahan diri dalam pemakaian air dan

industri mungkin mengembangkan persediaannya sendiri dengan biaya yang

lebih murah. Para langganan yang jatah air diukur dengan meteran akan

cenderung untuk memperbaiki kebocoran-kebocoran dan mempergunakan air

dengan jarang. Pemasangan meteran pada beberapa kelompok masyarakat telah

menurunkan pengguanaan air hingga sebanyak 40 persen.

6. Ukuran Kota

Penggunaan

air

per

kapita pada

kelompok

masyarakat

yang

mempunyai

jaringan limbah cenderung untuk lebih tinggi di kota-kota besar daripada di

kota kecil. Secara umum, perbedaan itu diakibatakan oleh lebih besarnya

pemakaian oleh industri,

lebih

banyaknya taman-taman,

lebih

banyaknya

Universitas Sumatera Utara

pemakaian

air

untuk

perdagangan

dan

barang

kali

juga

lebih

banyak

kehilangan dan pemborosan di kota-kota besar.

Untuk memproyeksi jumlah kebutuhan air bersih dapat dilakukan berdasarkan

perkiraan kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan ditambah perkiraan kehilangan

air. Adapun kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan pada umumnya dapat dibagi

dalam :

a. Kebutuhan domestik

- sambungan rumah

- sambungan kran umum

b. Kebutuhan non domestik

- Fasilitas sosial (Masjid, panti asuhan, rumah sakit dan sebagainya)

- Fasilitas perdagangan/industri

- Fasilitas perkantoran dan lain-lainnya

Sedangkan kehilangan air dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu :

a. Kehilangan air akibat faktor teknis, misalnya kebocoran dari pipa distribusi

b. Kehilangan air akibat faktor non teknis, antara lain sambungan tidak terdaftar.

kerusakan meteran air, untuk kebakaran dan lain-lainnya.

2.7.1 Kebutuhan Domestik

Menurut Kindler and Russel (1984), kebutuhan air untuk tempat tinggal

(kebutuhan domestik) meliputi semua kebutuhan air untuk keperluan penghuni.

Meliputi kebutuhan air untuk mempersiapkan makanan, toilet, mencuci pakaian,

Universitas Sumatera Utara

mandi

(rumah

ataupun

apartemen),

mencuci

kendaraan

dan

untuk

menyiram

pekarangan. Tingkat kebutuhan air bervariasi berdasarkan keadaan alam di area

pemukiman, banyaknya penghuni rumah, karakteristik penghuni serta ada atau

tidaknya penghitungan pemakaian air.

Sedangkan menurut Linsey and Franzini (1986), penggunaan rumah tangga

adalah

air

yang

dipergunakan

di

tempat-tempat

hunian

pribadi,

rumah-rumah

apartemen dan sebagainya untuk minum, mandi, penyiraman taman, saniter dan

tujuan-tujuan lainnya. Taman dan kebun-kebun yang luas mengakibatkan sangat

meningkatnya konsumsi pada masa-masa kering.

Penggunaan air kota dan jumlah-jumlah yang dipakai di Amerika Serikat

menurut Linsey and Franzini (1986), untuk keperluan rumah tangga berkisar antara

40-80 GPCD (gallon per kapita per hari) atau 150-300 LPCD (liter per kapita per

hari) dan umumnya berkisar antara 65 GPCD (gallon per kapita per hari) atau 250

LPCD (liter per kapita per hari), sedangkan menurut Kindler and Russel (1984),

penggunaan air rata-rata untuk rumah tangga adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 Penggunaan Air Rata-rata Untuk Rumah Tangga

Jenis Kegiatan

Kebutuhan Air (liter / orang / hari)

Dapur

45

Kamar mandi

60

Toilet

70

Mencuci pakaian

45

Lainnya (termasuk keperluan diluar rumah)

75

Total

295

Sumber : J. Kindler and C.S. Russel, 1984. Modeling Water Demands.Academic Press Inc. London, hal 153.

Universitas Sumatera Utara

2.7.2

Kebutuhan Non Domestik

Kebutuhan non domestik adalah kebutuhan air bersih selain untuk keperluan

rumah tangga dan sambungan kran umum, seperti penyediaan air bersih untuk

perkantoran, perdagangan serta fasilitas sosial seperti tempat-tempat ibadah, sekolah,

hotel, puskesmas, serta pelayanan jasa umum lainnya.

Tabel 2.3. Rata-rata Kebutuhan Air Per Orang Per Hari (Soufyan Moh. Noerbambang & Takeo Morimura, 2005)

     

Jangka waktu pemakaian air rata rata sehari (jam)

Perbanding

 

Pemakaian

an

luas

Jenis Gedung

air

rata

lantai

Keterangan

 

No.

rata

per

 

hari (liter)

efektif/total

(%)

 

Perumahan

       

1

mewah

250

8-10

42-45

Setiap penghuni

2

Rumah biasa

160-250

8-10

50-53

Setiap penghuni

3

Apartemen

200-250

8-10

45-50

Mewah: 250 liter Menengah : 180 ltr Sendiri : 120 ltr

4

Asrama

120

8

45-48

Sendiri

         

(setiap

tempat

tidur

pasien)

Pasien luar

:

500

5

Rumah sakit

1000

8-10

50-55

ltr

Staf/pegawai

:120

ltr Kelg.pasien : 160

ltr

6

SD

40

5

58

Guru : 100 liter

7

SLTP

50

6

58

Guru : 100 liter

 

SLTA

dan

     

Guru/Dosen:100

8

lebih tinggi

80

6

-

liter

Universitas Sumatera Utara

 

9 Rumah-toko

100-200

8

-

Penghuninya:

160

ltr

 

10 Gedung kantor

100

8

60-70

Setiap pegawai

 
 

Toko

serba

       

ada

11 departement

3

7

55-60

-

store

         

Per orang, setiap

12 Pabrik/industri

Buruh pria:

60,

wanita:

100

8

-

giliran (kalau kerja

8

lebih

dari

jam/hari)

         

Setiap penumpang

13 al

Stasiun/termin

3

15

-

(yang tiba maupun berangkat

 

14 Restoran

30

5

-

Untuk

penghuni

160

ltr

         

Untuk penghuni:

160

ltr,

pelayan: 100 ltr

 

15 Restoran

70% dari jumlahl

umum

15

7

-

tamu perlu 15 ltr/org untuk kakus, cuci tangan dsb.

         

Kalau digunakan siang dan malam, pemakaian air dihitung per

Gedung

16 pertunjukan

30

5

53-55

penonton, jam pemakaian air dalam tabel adalah untuk satu kali pertunjukan

 

Gedung

17 bioskop

10

7

-

-

         

Pedangan besar:

30

liter/tamu, 10

18 Toko pengecer

40

6

-

liter/staff atau, 5 liter per hari setiap m 2 luas lantai

 

19 Hotel/pengina

pan

     

Untuk setiap tamu,

250-300

10

-

untuk staf 120-150 liter; penginapan

Universitas Sumatera Utara

         

200 liter

 

Gedung

20 peribadatan

10

2

 

Didasarkan jumlah

-

jemaah per hari

         

Untuk

setiap

21 Perpustakaan

25

6

-

pembaca

yang

tinggal

 

22 Bar

30

6

-

Setiap tamu

 

23 Perkumpulan

social

30

-

-

Setiap tamu

 

24 Kelab malam

120-350

   

Setiap

tempat

-

-

duduk

 

Gedung

25 perkumpulan

150-200

-

-

Setiap tamu

 

26 Laboratorium

100-200

8

-

setiap staff

Sumber : Soufyan Moh. Noerbambang & Takeo Morimura, 2005

2.7.3 Kehilangan Air

Menurut Linsey and Franzini (1986),

kehilangan dan kebocoran air adalah

air yang bocor dari sistem yang bersangkutan, kesalahan meteran, sambungan-

sambungan yang tidak sah dan lain-lain hal yang tidak dihitung. Kategori kehilangan

dan pemborosan ini sering dihitung kira-kira sebesar 20 gpcd (75/kapita per hari),

tetapi jika konstruksinya tepat dan pemeliharaannya cermat, hal itu dapat diturunkan

hingga kurang dari 5 gpcd (20 liter/kapita per hari).

Universitas Sumatera Utara

2.7.4 Fluktuasi Kebutuhan Air

Kebutuhan air tidak selalu sama untuk setiap saat tetapi akan berfluktuasi.

Fluktuasi

yang

terjadi

tergantung

pada

suatu

aktivitas

penggunaan

air

dalam

keseharian oleh

masyarakat.

Pada

umumnya

kebutuhan

air

dibagi dalam tiga

kelompok :

1. Kebutuhan rerata

2. Kebutuhan harian maksimum

3. Kebutuhan pada jam puncak

Kebutuhan harian maksimum dan jam puncak sangat diperlukan dalam

perhitungan besarnya kebutuhan air baku, karena hal ini menyangkut kebutuhan pada

hari-hari

tertentu

dan

pada

jam

puncak

pelayanan.

Sehingga

penting

mempertimbangkan suatu nilai koefisien untuk keperluan tersebut. Kebutuhan air

harian maksimum dan jam puncak dihitung berdasarkan kebutuhan dasar dan nilai

kebocoran dengan pendekatan sebagai berikut :

1. Kebutuhan harian maksimum = 1,15 x kebutuhan air rata-rata

2. kebutuhan pada jam puncak = 1,56 x kebutuhan harian maksimum

(Sumber : PDAM kota Medan)

2.8 Konsep Dasar Aliran Fluida

Untuk aliran fluida dalam pipa khususnya untuk air terdapat kondisi yang

harus diperhatikan dan menjadi prinsip utama, kondisi fluida tersebut adalah fluida

merupakan fluida inkompresibel, fluida dalam keadaan steady dan seragam. Menurut

Larry, Wiley dan Sons (2004), dijelaskan bahwa :

Universitas Sumatera Utara

Q = V × A

(2.1)

di mana: Q adalah laju aliran (m 3 /s), A adalah luas penampang aliran (m 2 ), dan V

adalah kecepatan aliran (m/s).

Menurut

Larry

(2004),

untuk

aliran

steady

dan

seragam

seperti

yang

tergambar pada gambar 2.2 dalam pipa dengan diameter pipa konstan pada waktu

yang sama berlaku :

V × A

1

1

=V

2

× A

2

di mana: V 1 adalah kecepatan awal di dalam pipa (m/s), A 1 adalah luas penampang

saluran pada awal pipa (m 2 ), V 2 adalah kecepatan akhir di dalam pipa (m/s),

dan A 2 adalah luas penampang saluran pada akhir pipa (m 2 ).

adalah luas penampang saluran pada akhir pipa (m 2 ). Gambar 2.2 Aliran Steady dan Seragam

Gambar 2.2 Aliran Steady dan Seragam

Gambar 2.2 menjelaskan bahwa aliran yang terjadi pada suatu sistem adalah

seragam,

dimana

energi

pada

setiap

titik

adalah

sama,

besarnya

kecepatan

berbanding terbalik dengan luas penampang pipa. Semakin besar luas penampang

maka kecepatan akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya.

Universitas Sumatera Utara

2.9

Mekanisme Aliran Dalam Pipa

2.9.1 Pipa yang Dihubungkan Seri

Jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara seri maka semua pipa akan

dialiri oleh aliran yang sama. Total kerugian head pada seluruh sistem adalah jumlah

kerugian pada setiap pipa dan perlengkapan pipa yang menurut White (1986), dapat

dirumuskan sebagai berikut:

Q 0 = Q 1 = Q 2 = Q 3 = tetap

Q 0 = A 1 V 1 = A 2 V 2 = A 3 V 3

∑ h l = h l1 +

h l2 + h l3

(2.2)

(2.3)

(2.4)

di mana: Q 0 adalah debit awal pada pipa (m 3 /s), V 1 adalah kecepatan awal di dalam pipa (m/s), A 1 adalah luas penampang saluran pada awal pipa (m 2 ), V 2 adalah kecepatan akhir di dalam pipa (m/s), A 2 adalah luas penampang saluran pada akhir pipa (m 2 ), dan h l adalah headloss pada pipa (m).

pipa (m 2 ), dan h l adalah headloss pada pipa (m). Gambar 2.3 Pipa yang

Gambar 2.3 Pipa yang Dihubungkan Seri

Keterangan gambar 2.3:

H 1 = Tinggi muka air pada kolam A

H 2 = Tinggi muka air pada kolam B

Universitas Sumatera Utara

H = Perbedaan tinggi muka air kolam A dan B

H f = Headloss flow pada pipa

Persoalan

yang

menyangkut

pipa

seri

sering

dapat

diselesaikan

dengan

menggunakan pipa ekuivalen, yaitu dengan menggantikan pipa seri dengan diameter

yang berbeda-beda dengan satu pipa ekuivalen tunggal. Dalam hal ini, pipa tunggal

tersebut memiliki kerugian head yang sama dengan system yang akan digantikannya

untuk laju yang spesifik.

Pipa yang Dihubungkan Paralel
Pipa yang Dihubungkan Paralel

2.9.2

laju yang spesifik. Pipa yang Dihubungkan Paralel 2.9.2 = arah aliran Gambar 2.4 Pipa yang Dihubungkan

= arah aliran

Gambar 2.4 Pipa yang Dihubungkan Secara Parallel

Pada gambar 2.4, jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara paralel,

total laju aliran sama dengan jumlah laju aliran yang melalui setiap cabang dan rugi

head pada sebuah cabang sama dengan pada yang lain, dimana menurut White

(1986), dapat dirumuskan sebagai :

Universitas Sumatera Utara

Q

0

= Q

1

+ Q

2

+ Q

3

Q

0

= A V

1

1

+ A

2

V + A V

2

3

3

h = ∆h = ∆h = ∆h

1

2

3

(2.5)

(2.6)

(2.7)

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa persentase aliran yang melalui

setiap cabang adalah sama tanpa memperhitungkan kerugian head pada cabang

tersebut.

Rugi head pada setiap cabang boleh dianggap sepenuhnya terjadi akibat

gesekan atau akibat katup dan perlengkapan pipa, diekspresikan menurut panjang

pipa atau koefisien losses kali head kecepatan dalam pipa yang menurut White

(1986), dapat dirumuskan dalam persamaan 2.7 dan 2.8 berikut ini:

f

1

2 2 L  v  L  v 1 1 2 2 +Σ K
2
2
L
 v
L
 v
1
1
2
2
+Σ K 
=
 f
+Σ K 
L
1
2
L
2
d
2
g
d
2
g
1 
 
2 
Diperoleh hubungan kecepatan :
f L
1
1
+Σ kL
v
d
1
2
1
=
v 1 f L
2
2
+Σ kL
d
2
2

=

f

3

L

3

d

3

L 3

v

3

2

2 g

K

=

(2.8)

(2.9)

Universitas Sumatera Utara

2.10

Sistem Jaringan Pipa

Sistem jaringan pipa merupakan komponen utama dari sistem distribusi air

bersih/minum suatu perkotaan.

dari sistem distribusi air bersih/minum suatu perkotaan. Gambar 2.5 Contoh Suatu Sistem Jaringan Pipa Keterangan

Gambar 2.5 Contoh Suatu Sistem Jaringan Pipa

Keterangan gambar 2.5:

Q 1 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa 1 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa

Q 2 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa 2 = Debit aliran yang memasuki jaringan pipa

Q 3 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa 3 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa

Q 4 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa 4 = Debit aliran yang keluar dari jaringan pipa

Dewasa ini, sistem jaringan pipa air minum yang ada di kota-kota besar

kebanyakan dibangun sejak zaman Belanda. Hal demikian menimbulkan beberapa

kemungkinan terjadinya permasalahan-permasalahan seperti:

- kebocoran

- lebih sering terjadi kerusakan pipa atau komponen lainnya

- besarnya tinggi energi yang hilang

Universitas Sumatera Utara

- penurunan tingkat layanan penyediaan air bersih untuk konsumen

permasalahan-permasalahan

di

atas

diperparah

lagi

dengan

meningkatnya

sambungan-sambungan baru untuk daerah-daerah permukiman tanpa memperhatikan

kemampuan ketersediaan air dan kemampuan sistem jaringan air minum tersebut.

Jaringan

pipa

pengangkut

air

kompleks

dapat

dianalisis

dengan

cepat

menggunakan persamaan Hazen Williams atau rumus gesekan lainnya yang sesuai.

Perhitungan distribusi aliran pada suatu

jaringan

biasanya rumit

karena harus

memecahkan serangkaian persamaan hambatan yang tidak linear melalui prosedur

yang iteratif. Kesulitan lainnya adalah kenyataan bahwa kebanyakan jaringan, arah

aliran pipa tidak diketahui sehingga losses antara dua titik menjadi sukar untuk

ditentukan. Dalam perancangan sebuah jaringan, aliran dan tekanan diberbagai titik

menjadi

persyaratan

utama

untuk

menentukan

ukuran

pipa,

diselesaikan dengan cara berurutan dan iterasi.

sehingga

harus

Sebuah jaringan yang terdiri dari sejumlah pipa mungkin membentuk sebuah

loop, dimana pipa yang sama dipakai oleh dua loop yang berbeda, seperti terlihat

pada gambar 2.5. Ada dua syarat yang harus diperhatikan agar aliran dalam jaringan

tersebut setimbang, yaitu :

1. Aliran netto ke sebuah titik harus sama dengan nol. Ini berarti bahwa laju aliran

ke sebuah titik pertemuan harus dengan laju aliran dari titik pertemuan yang

sama.

2. Headlosses netto diseputar sebuah loop harus sama dengan nol. Jika sebuah

loop ditelusuri ke arah manapun, sambil mengamati perubahan akibat gesekan

Universitas Sumatera Utara

atau losses yang lain, kita harus mendapatkan aliran yang setimbang ketika

kembali ke kondisi semula (head dan tekanan) pada kondisi awal.

Prosedur untuk menentukan distribusi distribusi aliran dalam suatu jaringan

meliputi penentuan aliran pada setiap sehingga kontinuitas pada setiap pertemuan

terpenuhi (syarat 1). Selanjutnya Headlosses dari setiap loop dihitung dan jika tidak

sama dengan nol maka aliran yang telah ditetapkan harus dikoreksi kembali dengan

perkiraan dan metode iterasi yang disebut metode Hardy Cross.

2.11 Penggunaan Software ALEID X 2004.

2.11.1 Pengenalan Software ALEID X 2004.

ALEID X 2004 adalah salah satu software distribusi dari Belanda yang

digunakan untuk

komputer

yang

menganalisa jaringan sistem distribusi. Aleid adalah program

berbasis

windows

yang

merupakan

program

simulasi

dari

perkembangan waktu dari profil hidrolis dan perlakuan kualitas air bersih dalam

suatu jaringan pipa distribusi, yang didalamnya terdiri dari titik/node/junction pipa,

pompa, valve (asesoris) dan reservoir baik ground reservoar maupun reservoir

menara. Output yang dihasilkan dari program ALEID X 2004 ini antara lain debit

yang mengalir dalam pipa, tekanan air dari masing masing titik/node/junction yang

dapat dipakai sebagai analisa dalam menentukan operasi instalasi, pompa dan

reservoir serta besarnya konsentrasi unsur kimia yang terkandung dalam air bersih

yang didistribusikan dan dapat digunakan sebagai simulasi penentuan lokasi sumber

sebagai arah pengembangan.

Universitas Sumatera Utara

ALEID X 2004 didesain sebagai alat untuk mengetahui perkembangan dan

pergerakan air serta degradasi unsur kimia yang terkandung dalam air di pipa

distribusi air bersih, yang dapat digunakan untuk analisa berbagai macam sistem

distribusi, detail desain, model kalibrasi hidrolis. Analisa sisa khlor dan beberapa

unsur lainnya.

2.11.2 Langkah-Langkah Menggunakan ALEID X 2004.

Langkah-langkah untuk mulai bekerja menggunakan ALEID X 2004 adalah

sebagai berikut :

1. Gambarkan jaringan sistem distribusi yang akan dianalisa, atau import data

dasar dari jaringan yang tersimpan dalam text file.

2. Edit properties dari objek yang membentuk sistem.

file. 2. Edit properties dari objek yang membentuk sistem. Gambar 2.6 Memasukkan Data Umum Pada Node

Gambar 2.6 Memasukkan Data Umum Pada Node

Universitas Sumatera Utara

Pada gambar 2.6, data-data yang dimasukkan merupakan data-data umum

node, seperti nama node, nama node dimasukkan sesuai keinginan kita, untuk

mempermudah dalam mengingat nama node, penulis menggunakan notasi

N115 yang berarti node ke 115, setelah itu masukkan elevasi node, elevasi

node dihitung dari muka air laut dengan satuan meter, dan yang terakhir

masukkan koordinat node.

satuan meter, dan yang terakhir masukkan koordinat node. Gambar 2.7 Memasukkan Nilai Kebutuhan Air Pada Node

Gambar 2.7 Memasukkan Nilai Kebutuhan Air Pada Node

Gambar 2.7

menjelaskan bahwa setelah

data umum dimasukkan pilih

consumption untuk memasukkan kebutuhan air per node/jam.

3. Gambarkan sistem operasi.

4. Pilih dan atur analisis option.

5. Run analisis hidrolik.

6. Lihat hasil analisis.

Universitas Sumatera Utara

2.11.3 Model Jaringan ALEID

Komponen-komponen fisik

ALEID

memodelkan

sistem distibusi

air

sebagai kumpulan

garis

yang

menghubungkan node-node. Garis tersebut menggambarkan pipa, pompa dan katub

kontrol.

Node

menggambarkan

sambungan,

tangki,

dan

reservoir.

Gambar

mengilustrsikan bagaimana node-node dan garis dapat dihubungkan satu dengan

lainnya untuk membentuk jaringan, seperti terlihat pada gambar 2.8.

untuk membentuk jaringan, seperti terlihat pada gambar 2.8. Gambar 2.8 Hubungan Antar Komponen Fisik Dalam ALEID

Gambar 2.8 Hubungan Antar Komponen Fisik Dalam ALEID X 2004

Komponen-komponen fisik dalam pemodelan sistem distribusi air dengan ALEID antara lain :

1. Sambungan (junction)

Sambungan (junction) adalah titik pada jaringan dimana link-link bertemu

dan

dimana

air

memasuki

atau

meninggalkan

jaringan.

Input

dasar

yang

dibutuhkan bagi sambungan (junction) adalah:

Elevasi pada semua referensi (biasanya rata-rata muka air laut)

Kebutuhan air

Universitas Sumatera Utara

Kualitas air saat ini

Hasil komputasi buat sambungan (junction) pada seluruh periode waktu

simulasi adalah :

Head di atas permukaan tanah

Head di atas permukaan laut

Total kebutuhan air

Sambungan (junction) juga dapat :

Mengandung kebutuhan air (demand) yang bervariasi terhadap waktu

harga

Memiliki

kebutuhan negatif

yang

mengindikasikan air

memasuki

jaringan

Menjadi sumber kualitas air dimana terdapat kandungan yang memasuki

jaringan

Memiliki lubang pengeluaran (atau sprinkler) yang menjadikan laju aliran

bergantung kepada pressure.

Pada gambar 2.8 dapat dilihat tampilan dari input data pada software

ALEID X 2004.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.9 Properties Editor Untuk Input Data Pada Junction Pada gambar 2.9, data yang dimasukkan

Gambar 2.9 Properties Editor Untuk Input Data Pada Junction

Pada gambar 2.9, data yang dimasukkan berupa nama node, elevasi

2.

node

dalam satuan meter, dan koordinat node.

Reservoir

Reservoir adalah node yang menggambarkan sumber eksternal yang

terus menerus mengalir ke jaringan. Digunakan untuk menggambarkan seperti

danau, sungai, akuifer air tanah, dan koneksi dari sistem lain. Reservoir juga

dijadikan titik sumber kualitas air.

Input utama untuk reservoar adalah head hidrolis (sebanding dengan

elevasi permukaan air jika bukan reservoir bertekanan) dan inisial kualitas air

untuk

analisa kualitas air.

Karena

sebuah reservoir

adalah

sebagai

poin

pembatas dalam jaringan, tekanan dan kualitas airnya tidak dapat dipengaruhi

Universitas Sumatera Utara

oleh apa yang terjadi di dalam jaringan. Namun tekanan dapat dibuat bervariasi

terhadap waktu yang di tandai dengan pola.

dibuat bervariasi terhadap waktu yang di tandai dengan pola. Gambar 2.10 Input Data Umum Pada Reservoir

Gambar 2.10 Input Data Umum Pada Reservoir

Pada gambar 2.10 terlihat bahwa data yang dimasukkan berupa nama

reservoir, elevasi reservoir dihitung dari muka air laut (meter) dan koordinat

dari reservoir tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.11 Properties Editor Untuk Input Data Pada Reservoir Gambar 2.11 menjelaskan bahwa setelah data-data

Gambar 2.11 Properties Editor Untuk Input Data Pada Reservoir

Gambar 2.11 menjelaskan bahwa setelah data-data umum dimasukkan

maka

pilih reservoir, kemudian pilih fixed head untuk type reservoir dan

masukkan elevasi reservoir, dihitung dari muka air laut (meter).

3.

Pipes

Pipes atau pipa adalah link yang digunakan untuk mengalirkan air dari

suatu node ke node yang lainnya pada suatu sistem jaringan pemipaan. Aleid

akan mengasumsikan bahwa pipa akan selalu terisi penuh. Arah aliran adalah

dari titik yang memiliki head hidrolik lebih besar menuju titik yang lebih

kecil head hidroliknya. Input data utama yang perlu diisikan, adalah :

1) Start node, merupakan titik awal atau pangkal pipa.

2) End node, merupakan titik akhir pipa atau ujung pipa.

3) Length, merupakan panjang pipa dalam meter atau feet.

Universitas Sumatera Utara

4) Diameter, merupakan diameter atau garis tengah pipa. Satuan yang

digunakan adalah inchi atau milimeter.

5) Roughness, koefisien kekasaran pipa untuk menghitung head loss.

Input data lain yang dapat ditambahkan sebagai pelengkap adalah :

Data output dari junction pipa adalah :

1)

Pipe Name (nama pipa)

2)

Flow (debit aliran)

3)

Flow Direction (arah aliran)

4)

Length (panjang pipa)

5)

Velocity (kecepatan aliran)

6)

Local Loss Coefficient

7)

Hydraulic Grade Line

8)

Wall Roughness (kekasaran saluran)

Grade Line 8) Wall Roughness (kekasaran saluran) Gambar 2.12 Properties Editor Untuk Input Data Pada Pipa

Gambar 2.12 Properties Editor Untuk Input Data Pada Pipa

Universitas Sumatera Utara

Pada gambar 2.12 dapat dilihat bahwa data-data yang dimasukkan pada

pipa berupa nama pipa, panjang pipa (m), diameter pipa (mm), dan kekasaran

dinding pipa (mm). Kehilangan tekanan (headloss) akibat gesekan air dengan

dinding pipa dapat dihitung menggunakan persamaan Hazen Williams, Darcy

Weisbach, Chezzy atau Manning.

Formula

Hazen

Williams

banyak

digunakan

di

Amerika

Serikat.

Persamaan ini dapat diterapkan untuk air dengan aliran turbulen. Secara

teoritis, persamaan Darcy Weisbach adalah yang terbaik. Persamaan ini dapat

diterapkan untuk cairan lain, selain air. Persamaan Chezzy dan Manning

banyak digunakan untuk aliran pada saluran terbuka.

Koefisien resistensi dan nilai eksponensial flow untuk masing-masing

persamaan dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini :

Persamaan Chezzy-Manning

HL =

2

4,66 n LQ

2

D

533

(Pers 2.10)

di mana: HL adalah headloss (feet), Q adalah debit aliran (cfs), L adalah

panjang pipa (feet), D adalah diameter pipa (feet), dan n adalah

koefisien kekasaran Manning.

Persamaan Darcy-Weisbach

Menurut Kodoatie (2002), nilai H f adalah:

H

f

=

f

Lv

2

d

2

g

(Pers 2.11)

Universitas Sumatera Utara

di mana : H f adalah headloss (m), g adalah percepatan gravitasi (m 2 /s), L

adalah panjang pipa (m), d

adalah diameter pipa (m), v

adalah

kecepatan aliran (m/s), dan f adalah faktor gesekan (tanpa satuan)

Persamaan Hazen-Williams

HL =

4,727 LQ

1,852

C

1,852

D

4,871

(Pers 2.12)

di mana: HL adalah headloss (feet), Q adalah debit aliran (cfs), L adalah

panjang pipa (feet), D adalah diameter pipa (feet), dan C

adalah

koefisien kekasaran (faktor Hazen Williams).

Setiap

persamaan

memiliki

koefisien

kekasaran

masing-masing.

Koefisien kekasaran untuk berbagai jenis pipa berdasarkan umur materialnya

dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 2.4 Koefisien Kekasaran Untuk Berbagai Jenis Pipa

Material

Hazen-Williams

Darcy-Weisbach

Manning’s

C (unitless)

e (milifeet)

n (unitless)

Cast iron

130-140

0.85

0.012-0.015

Concrete or concrete lined

120-140

1.0-10

0.012-0.017

Galvanized iron

120

0.5

0.015-0.017

Plastic

140-150

0.005

0.011-0.015

Steel

140-150

0.15

0.015-0.017

Vitrified clay

110

 

0.013-0.015

Sumber : Manual User Software ALEID X 2004

Universitas Sumatera Utara

Minor Losses

Minor Head Losses, disebut juga local losses, atau dalam ALEID X

2004 sebagai loss coefficient, disebabkan oleh kehilangan tekanan pada pipa

karena perlengkapan pemipaan seperti belokan-belokan, valve dan berbagai

fitting lainnya. ALEID X 2004 akan menghitung minor losses dengan cara

menambahkan data koefisien minor losses pada pipa. Minor losses sebanding

dengan kecepatan air yang melewati pipa atau valve (V 2 /2g).

4.

Pumps

Pumps atau Pompa adalah link yang memberi tenaga ke fluida untuk

menaikkan head hidrolisnya. Input parameternya adalah node awal dan akhir,

dan kurva pompa (kombinasi dari head dan aliran dimana pompa harus

memproduksinya). Parameter output yang prinsip adalah aliran dan pencapaian

head.

Aliran

melalui

pompa

adalah

langsung

dan

ALEID

tidak

akan

membolehkan pompa untuk beroperasi diluar range dari kurva pompa.

pompa untuk beroperasi diluar range dari kurva pompa. Gambar 2.13 Input Data Umum Pada Pompa Universitas

Gambar 2.13 Input Data Umum Pada Pompa

Universitas Sumatera Utara

Pada gambar 2.13 diperlihatkan bahwa data-data umum pada pompa

yang

dimasukkan berupa nama pompa, titik awal dan akhir pompa, dan

nomor pompa.

nama pompa, titik awal dan akhir pompa, dan nomor pompa. Gambar 2.14 Properties Editor Untuk Input

Gambar 2.14 Properties Editor Untuk Input Data Pada Pompa

Pada gambar 2.14, setelah data-data umum pompa dimasukkan, maka

tentukan tinggi tekanan pompa (m) dan debit yang mengalir pada pompa

(m 3 /hr)

sehingga

membentuk

kurva

karakteristik

yang

menggambarkan

hubungan antara debit dan tinggi tekanan pada pompa.

Debit aliran pompa dan posisi serta bentuk dari pompa dapat diubah

pada kurva pompa, Seperti halnya pipa, pompa dapat diatur hidup dan mati

dalam

pengaturan waktu atau dalam kondisi yang pasti muncul dalam

jaringan. Operasional pompa dapat juga dijelaskan dengan menetapkannya

dalam pola waktu atau relatif terhadap pengaturan kecepatan. Aliran melalui

pompa adalah tidak langsung.

Universitas Sumatera Utara

Jika pengkondisian sistem membutuhkan lebih banyak head daripada

yang

dihasilkan

pompa,ALEID

mematikan

pompa.

Jika

kebutuhannya

melebihi maksimum aliran, ALEID mengekstarpolasi kurva pompa kepada

aliran yang dibutuhkan, jika tidak akan menghasilkan head negatif.

5.

Valves

Valve adalah link yang membatasi pressure atau flow pada nilai

tertentu dalam sebuah jaringan. Input yang penting dimasukkan adalah :

1)

Start dan End node, untuk menentukan orientasi arah aliran air dalam

pipa.

2)

Diameter valve

3)

Tipe valve

4)

Setting valve

Diameter valve 3) Tipe valve 4) Setting valve Gambar 2.15 Properties Editor Untuk Input Data Pada

Gambar 2.15 Properties Editor Untuk Input Data Pada Katup

Universitas Sumatera Utara

Pada gambar 2.15 diperlihatkan bahwa data-data yang dimasukkan

berupa nama valve, diameter valve (mm), panjang valve (m), kekasaran

dinding valve (mm) dan keterangan buka tutup valve. Input lainnya adalah

loss coefficient. Output link valve adalah flow rate, velocity, length, wall

roughness, hydraulic grade line, dan local loss coefficient.

Berbagai tipe link valve dalam ALEID X 2004 adalah :

1)

Pressure Reducing Valve (PRV)

2)

Pressure Sustaining Valve (PSV)

3)

Pressure Breaker Valve (PBV)

4)

Flow Control Valve (FCV)

5)

Throttle Control Valve (TCV)

6)

General Purpose Valve (GPV)

PSV dan PRV digunakan untuk membatasi pressure hingga nilai

tertentu dalam suatu jaringan pipa. ALEID mengatur PRV dan PSV pada tiga

kondisi

yang

berbeda,

yaitu

:

terbuka sebagian,

terbuka seluruhnya dan

tertutup. PBV menentukan pressure loss tertentu yang melalui valve. Aliran

yang melalui valve bisa dua arah. PBV dapat digunakan untuk simulasi

jaringan distribusi,

dimana

penurunan

yang

terjadi diketahui.

FCV

akan

membatasi flow yang lewat pada link. ALEID X 2004 akan memberikan

warning message apabila flow yang terjadi tidak dapat dipertahankan tanpa

menambah head pada valve.

TCV

mensimulasikan

valve

yang

tertutup

sebagian

dengan

menyesuaikan minor headloss pada valve. Hubungan antara derajat tutupan

valve dengan koefisien headloss yang terjadi dapat diperoleh dari produsen

Universitas Sumatera Utara

pembuat valve. GPV mewakili link dimana pola hubungan flow dengan

headloss yang terjadi tidak mengikuti formula standar. Biasa digunakan untuk

memodelkan turbin atau sumur draw down.

Shut off valve atau gate valve dan non-return valve atau check valve

bukan merupakan bagian dari link valve tersendiri, melainkan merupakan

property dari pipa. Untuk gate valve dapat diatur dengan menentukan loss

coefficient-nya.

Komponen-komponen non-fisik

ALEID

memiliki 3 objek

informasi yang

menggambarkan aspek

operasional dari sistem distribusi, yaitu : Pattern, Curve dan Control.

1)

Pattern

Pattern adalah gabungan dari beberapa pola faktor pengali yang dapat

berubah terhadap waktu. Demand tiap node, head reservoir dan jadwal operasi

pompa dapat memiliki time pattern yang diatur khusus untuk masing-masing

komponen fisik. Interval waktu pada pattern merupakan variabel utama yang

dapat diset pada time option dalam project. Misalnya, demand pada sebuah node

rata-rata 6 m 3 /hari, asumsikan interval time

pattern diset 1 jam, dan faktor

pengali untuk demand pada node sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.5 Penggunaan Pattern Demand Pada ALEID X 2004

Period

1

2

3 4

 

5

6

multiplier

0.5

0.8

1 1.2

 

0.9

0.7

Period

7

8

9

10

11 12

 

13

multiplier

0.8

0.7

0.6

1.2

1 0.9

 

0.8

Sumber : Manual User Software ALEID X 2004

2)

Curve

Curve

adalah

obyek

yang

mengandung

rangkaian

data

yang

menjelaskan tentang hubungan antara dua besaran. Dua atau lebih obyek dapat

digabungkan dalam sebuah kurva. Model ALEID dapat menyediakan tipe

kurva sebagai berikut:

 

1.

Pump Curve

2.

Flow Rate Curve

 

3.

Time Series Pipe Curve

4.

Time Series Node Curve

3)

Control

Control adalah pernyataan yang menggambarkan bagaimana kontrol

jaringan beroperasi sepanjang waktu. Kontrol men-spesifikasikan status link-

link tertentu sebagai fungsi dari waktu, level air pada tangki atau tekanan pada

point-point tertentu. Control juga mengatur penutupan dan pembukaan pompa

pada jam-jam tertentu.

Universitas Sumatera Utara

Model Simulasi Hidrolik

Model simulasi hidrolik ALEID akan menghitung head pada junction dan

flow dalam link pada level reservoir, tangki dan water demand yang telah ditentukan

selama periode waktu tertentu. Setiap waktunya level air dalam reservoir dan water

demand diperbaharui sesuai dengan adanya time patern. Head dan flow pada setiap

waktu merupakan hasil perhitungan dari persamaan aliran untuk setiap junction.

Proses ini dikenal sebagai “Hydraulic Balancing” jaringan menggunakan teknik

iterasi.

Universitas Sumatera Utara