Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

Intoksikasi Organofosfat

Pembimbing: dr. Zaenuri Syamsu, Sp.KF

Disusun oleh :

Novia Mantari Dera Fakhrunnisa Sylviana Kuswandi Maharani Raesa

(G1A212102) (G1A212103) (G1A212104) (G1A212105)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN SMF ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDICO LEGAL RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO 2013

LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT Intoksikasi Organofosfat

Diajukan untuk memenuhi syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di bagian Ilmu Kedokteran Forensik RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto

telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal: Agustus 2013

Disusun oleh : Novia Mantari Dera Fakhrunnisa Sylviana Kuswandi Maharani Raesa (G1A212102) (G1A212103) (G1A212104) (G1A212105)

Purwokerto,

Agustus 2013

Pembimbing,

dr. Zaenuri Syamsu, Sp.KF

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seiring dengan kemajuan di bidang pertanian, berbagai upaya diterapkan untuk meningkatkan hasil pertanian yang optimal. Dalam paket intensifikasi pertanian diterapkan berbagai teknologi, antara lain penggunan agrokimia (bahan kimia sintetik). Penggunaan agrokimia, diperkenalkan secara besar-besaran menggantikan kebiasan atau teknologi lama, baik dalam hal pengendalian hama maupun pemupukan tanaman. Agrokimia yang digunakan yaitu pestisida. Pestisida mencakup bahan-bahan racun yang digunakan untuk membunuh jasad hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang diusahakan manusia untuk kesejahteraan hidupnnya. Penggunaan bahan-bahan kimia pertanian dalam hal ini pestisida dapat membahayakan kehidupan manusia dan hewan dimana residu pestisida terakumulasi pada produk-produk pertanian dan perairan. Penyemprotan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada petani yang dapat dilakukan dengan jalan memeriksa aktifitas kholinesterase darah. Faktor yang berpengaruh dengan terjadinya keracunan pestisida adalah faktor dari dalam tubuh (internal) dan dari luar tubuh (eksternal). Faktor dari dalam tubuh antara lain umur, jenis kelamin, genetik, status gizi, kadar hemoglobin, tingkat pengetahuan dan status kesehatan. Sedangkan faktor dari luar tubuh mempunyai peranan yang besar. Faktor tersebut antara lain banyaknya jenis pestisida yang digunakan, jenis pestisida, dosis pestisida, frekuensi penyemprotan, masa kerja menjadi penyemprot, lama menyemprot, pemakaian alat pelindung diri, cara penanganan pestisida, kontak terakhir dengan pestisida, ketinggian tanaman, suhu lingkungan, waktu menyemprot dan tindakan terhadap arah angin.

Pestisida golongan sintetik yang banyak digunakan petani di Indonesia adalah golongan organofosfat. Dampak penggunaan pestisida sering ditemui keluhan antara lain muntah-muntah, ludah terasa lebih banyak, mencret, gejala ini dianggap oleh petani sebagai sakit biasa. Beberapa efek kronis akibat dari keracunan pestisida adalah berat badan menurun, anorexia, anemia, tremor, sakit kepala, pusing, gelisah, gangguan psikologis, sakit dada dan lekas marah. Pestisida organofosfat yang masuk ke dalam tubuh manusia mempengaruhi fungsi syaraf dengan jalan menghambat kerja enzim kholinesterase, suatu bahan kimia esensial dalam menghantarkan impuls sepanjang serabut syaraf. Golongan organofosfat mempengaruhi fungsi syaraf dengan jalan menghambat kerja enzim kholinesterase, suatu bahan kimia esensial dalam mengantarkan impuls sepanjang serabut syaraf. Pengukuran tingkat keracunan berdasarkan aktifitas enzim kholinesterase dalam darah dengan menggunakan metode Tintometer Kit, tingkat keracunan adalah sebagai berikut : 75% - 100 % kategori normal, 50% - 75% kategori keracunan ringan, 25% - 50 kategori keracunan sedang dan 0% - 25% kategori keracunan berat. Menurut laporan kegiatan pemeriksaan aktifitas kholinesterase darah petani Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005 dari 240 orang yang diperiksa menunjukkan bahwa keracunan pestisida 67,5% dengan rincian keracunan berat 2,5%, keracunan sedang 8,75%, keracunan ringan 55,26% dan normal 32,5%, jenis pestisida yang digunakan sebagian besar golongan

organophospat. Berdasarkan keadaan tersebut diatas, diperlukan upaya untuk mencegah dan mengendalikan faktor-faktor risiko terjadinya keracuan pada petani.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Organofosfat adalah nama umum ester dari asam fosfat.

Organofosfat adalah kelompok senyawa yang memiliki potensi dan bersifat toksik dalam menghambat cholinesterase yang mengakibatkan akumulasi asetilkolin pada reseptor muskarinik, nikotinik, SSP sehingga dapat menyebabkan kematian Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya. Contoh dari organofosfat termasuklah insektisida (malathion, parathion, diazinon, fenthion, dichlorvos, chlorpyrifos, ethion), dan antihelmintik (trichlorfon). Organofosfat bisa diabsorpsi melalui absorpsi kulit atau mukosa atau parenteral, per oral, inhalasi dan juga injeksi (Tina & Metka, 2011).

Gambar 2.1. Struktur umum organofosfat Gugus X pada struktur di atas disebut leaving group yang tergantikan saat organofosfat menfosforilasi asetilkholin serta gugus ini paling sensitif terhidrolisis. Sedangkan gugus R1 dan R2 umumnya adalah golongan alkoksi, misalnya OCH3 atau OC2H5. Organofosfat dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain, fosfat, fosforothioat, fosforamidat, fosfonat, dan sebagainya (Tina & Metka, 2011).

B. Faktor Resiko Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian keracunan pestisida adalah faktor dalam tubuh (internal) dan faktor dari luar tubuh (eksternal), faktor-faktor tersebut adalah 1. Faktor dalam tubuh (internal) antara lain :

a.

Umur Umur merupakan fenomena alam, semakin lama seseorang hidup maka usia pun akan bertambah. Seiring dengan pertambahan umur maka fungsi metabolisme tubuh juga menurun. Semakin tua umur maka rata-rata aktivitas kolinesterase darah semakin rendah, sehingga akan mempermudah terjadinya keracunan pestisida (Tina & Metka, 2011).

b.

Status gizi Buruknya keadaan gizi seseorang akan berakibat menurunnya daya tahan tubuh dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi. Kondisi gizi yang buruk, protein yang ada dalam tubuh sangat terbatas dan enzim kolinesterase terbentuk dari protein, sehingga pembentukan enzimkolinesterase akan terganggu. Dikatakan bahwa orang yang memiliki tingkat gizi baik cenderung memiliki kadar rata-rata kolinesterase lebih besar (Tina & Metka, 2011).

c.

Jenis kelamin Kadar kholin bebas dalam plasma darah laki-laki normal ratarata 4,4g/ml. Analisis dilakukan selama beberapa bulan

menunjukkan bahwa tiap-tiap individu mempertahankan kadarnya dalam plasma hingga relatif konstan dan kadar ini tidak meningkat setelah makan atau pemberian oral sejumlah besar kholin. Ini menunjukkan adanya mekanisme dalam tubuh untuk mempertahankan kholin dalam plasma pada kadar yang konstan. Jenis kelamin sangat mempengaruhi aktivitas enzim kolinesterase, jenis kelamin laki-laki lebih rendah dibandingkan jenis kelamin perempuan karena pada perempuan lebih banyak kandungan enzim kolinesterase, meskipun demikian tidak dianjurkan wanita menyemprot dengan menggunakan pestisida, karena pada saat kehamilan kadar rata-rata kolinesterase cenderung turun (Tina & Metka, 2011). d. Tingkat pendidikan Pendidikan formal yang diperoleh seseorang akan memberikan tambahan pengetahuan bagi individu tersebut, dengan tingkat

pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan tentang pestisida dan bahayanya juga lebih baik jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga dalam pengelolaan pestisida, tingkat pendidikan tinggi akan lebih baik (Tina & Metka, 2011).

2. Faktor di luar tubuh (eksternal) a. Dosis Semua jenis pestisida adalah racun, dosis semakin besar semakin mempermudah terjadinya keracunan pada petani pengguna pestisida. Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida, hal ini ditentukan dengan lama pajanan. Untuk dosis penyemprotan di lapangan khususnya golongan organofosfat, dosis yang dianjurkan 0,5 1,5 kg/ha (Kamanyire & Karalliedde, 2004). b. Lama kerja Semakin lama bekerja sebagai petani maka semakin sering kontak dengan pestisida sehingga risiko terjadinya keracunan pestisida semakin tinggi. Penurunan aktivitas kolinesterase dalam plasma darah karena keracunan pestisida akan berlangsung mulai seseorang terpapar hingga 2 minggu setelah melakukan penyemprotan (Kamanyire & Karalliedde, 2004). c. Tindakan penyemprotan pada arah angin Arah angin harus diperhatikan oleh penyemprot saat melakukan penyemprotan. Penyemprotan yang baik bila searah dengan arah angin dengan kecepatan tidak boleh melebihi 750 m per menit. Petani pada saat menyemprot melawan arah angin akan mempunyai resiko lebih besar dibanding dengan petani yang saat menyemprot searah dengan arah angin (Kamanyire & Karalliedde, 2004). d. Frekuensi penyemprotan Semakin sering melakukan penyemprotan, maka semakin tinggi pula resiko keracunannya. Penyemprotan sebaiknya dilakukan sesuai

dengan ketentuan. Waktu yang dibutuhkan untuk dapat kontak dengan pestisida maksimal 5 jam perhari (Kamanyire & Karalliedde, 2004). e. Jumlah jenis pestisida Jumlah jenis pestisida yang banyak yang digunakan dalam waktu penyemprotan akan menimbulkan efek keracunan lebih besar bila dibanding dengan penggunaan satu jenis pestisida karena daya racun atau konsentrasi pestisida akan semakin kuat sehingga memberikan efek samping yang semakin besar (Kamanyire & Karalliedde, 2004). f. Toksisitas Merupakan kesanggupan pestisida untuk membunuh sasarannya. Pestisida yang mempunyai daya bunuh tinggi dalam penggunaan dengan kadar yang rendah menimbulkan gangguan lebih sedikit bila dibandingkan dengan pestisida dengan daya bunuh rendah tetapi dengan kadar tinggi. Toksisitas pestisida dapat diketahui dari LD 50 oral dan dermal yaitu dosis yang diberikan dalam makanan hewanhewan percobaan yang menyebabkan 50% dari hewan-hewan tersebut mati. Klasifikasi Toksisitas senyawa pestisida pada tikus percobaan dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.1. Klasifikasi Toksisitas Pestisida pada Tikus

C. Patofisiologi 1. Organofosfat Organofosfat berasal dari H3PO4 (asam fosfat). Pestisida golongan organofosfat merupakan golongan insektisida yang cukup besar, menggantikan mempunyai sifat: a. Efektif terhadap serangga yang resisten terhadap kelompok chlorinated hydrocarbon yang

b. chorinatet hydrocarbon. c. Tidak menimbulkan kontaminasi terhadap lingkungan untuk

jangka waktu yang lama d. Kurang mempunyai efek yang lama terhadap non target organisme e. Lebih toksik terhadap hewan-hewan bertulang belakang,

jika dibandingkan dengan organoklorine. f. Mempunyai cara kerja menghambat fungsi enzym cholinesterase.

Lebih dari 50.000 komponen organofosfat telah disynthesis dan diuji untuk aktivitas insektisidanya. Tetapi yang telah digunakan tidak lebih dari 500 jenis saja dewasa ini. Semua produk organofosfat tersebut berefek toksik bila tertelan, dimana hal ini sama dengan tujuan penggunaannya untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida digunakan untuk keperluan medis misalnya fisostigmin, edroprium dan

neostigmin yang digunakan utuk aktivitas kholinomimetik (efek seperti asetyl kholin). Obat tersebut digunakan untuk pengobatan gangguan neuromuskuler seperti myastinea gravis. Fisostigmin juga digunakan untuk antidotum pengobatan toksisitas ingesti dari substansi

antikholinergik (mis: trisyklik anti depressant, atrophin dan sebagainya). Fisostigmin, ekotiopat iodide dan organophosphorus juga berefek langsung untuk mengobati glaucoma pada mata yaitu untuk mengurangi tekanan intraokuler pada bola mata. Organophosphat disintesis pertama di Jerman pada awal perang dunia ke II. Bahan tersebut digunakan untuk gas saraf sesuai dengan tujuannya sebagai insektisida. Pada awal synthesisnya diproduksi senyawa tetraethyl pyrophosphate (TEPP), parathion dan schordan yang sangat efektif sebagai insektisida, tetapi juga cukup toksik terhadap mamalia. Penelitian berkembang terus dan ditemukan komponen yang poten terhadap insekta tetapi kurang toksik terhadap orang (mis: malathion), tetapi masih sangat toksik terhadap insekta. Organophosphat adalah insektisida yang paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada orang. Termakan hanya dalam jumlah sedikit saja dapat menyebabkan kematian, tetapi diperlukan lebih dari beberapa miligram untuk dapat menyebabkan kematian pada orang dewasa. Organofosfat menghambat aksi pseudokholinesterase dalam plasma dan kholinesterase dalam sel darah merah dan pada sinapsisnya. Enzim tersebut secara normal menghidrolisis asetylcholin menjadi asetat dan kholin. Pada saat enzim dihambat, mengakibatkan jumlah asetylkholin meningkat dan berikatan dengan reseptor muskarinik dan nikotinik pada system saraf pusat dan perifer. Hal tersebut menyebabkan timbulnya gejala keracunan yang berpengaruh pada seluruh bagian tubuh. Penghambatan kerja enzim terjadi karena organophospat melakukan fosforilasi enzim tersebut dalam bentuk komponen yang stabil. Tabel 1. Nilai LD50 insektisida organofosfat

Seseorang yang keracunan pestisida organophospat akan mengalami gangguan fungsi dari saraf-saraf tertentu. Sebagai bagian vital dalam tubuh, susunan saraf dilindungi dari toksikan dalam darah oleh suatu mekanisme protektif yang unik, yaitu sawar darah otak dan sawar darah saraf. Meskipun demikian, susunan saraf masih sangat rentan terhadap berbagai toksikan. Hal ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa neuron mempunyai suatu laju metabolisme yang tinggi dengan sedikit kapasitas untuk metabolisme anaerobik. Selain itu, karena dapat dirangsang oleh listrik, neuron cenderung lebih mudah kehilangan integritas membran sel.

Panjangnya akson juga memungkinkan susunan saraf menjadi lebih rentan terhadap efek toksik, karena badan sel harus memasok

aksonnya secara struktur maupun secara metabolisme. Susunan saraf terdiri atas dua bagian utama, yaitu susunan saraf pusat (CNS) dan susunan saraf tepi (PNS). CNS terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang, dan PNS mencakup saraf tengkorakdan saraf spinal, yang berupa saraf sensorik dan motorik. Neuron saraf spinal sensorik terletak pada ganglia dalam radiks dorsal. PNS juga terdiri atas susunan saraf simpatis, yang muncul dari neuron sumsum tulang belakang di daerah thoraks dan lumbal, dan susunan saraf parasimpatis yang berasal dari serat saraf yang meninggalkan melalui saraf tengkorak dan radiks spinal sakral. Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap SSP

gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimilasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi.saraf pusat maupun perifer. Efek muskarinik, nikotinik dan saraf pusat pada toksisitas organofosfat. a. Muskarinik Salivasi, lacrimasi, urinasi dan diare (SLUD) Kejang perut Nausea dan vomitus Bradicardia

Miosis Berkeringat

b. Nikotinik Pegal-pegal, lemah Tremor Paralysis Dyspnea Tachicardia

c. Sistem saraf pusat Bingung, gelisah, insomnia, neurosis Sakit kepala Emosi tidak stabil Bicara terbata-bata Kelemahan umum Convulsi Depresi respirasi dan gangguan jantung Koma Gejala awal seperti SLUD terjadi pada keracunan

organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah

meningkat pada mata dan otot polos.

2. Mekanisme Kerja Pestisida Organofosfat Dalam Tubuh Pestisida golongan organofosfat dan karbamat adalah

persenyawaan yang tergolong antikholinesterase seperti physostigmin, prostigmin, diisopropyl fluoropphosphat dan karbamat. Dampak

pestisida terhadap kesehatan bervariasi, antara lain tergantung dari golongan, intensitas pemaparan, jalan masuk dan bentuk sediaan. Dalam tubuh manusia diproduksi asetikolin dan enzim kholinesterase. Enzim kholinesterase berfungsi memecah asetilkolin menjadi kolin dan asam asetat. Asetilkolin dikeluarkan oleh ujung-ujung syaraf ke ujung

syaraf berikutnya, kemudian diolah dalam Central nervous system

(CNS),

akhirnya

terjadi gerakan-gerakan

tertentu

yang

dikoordinasikan

oleh otak. Apabila tubuh terpapar secara berulang

pada jangka waktu yang lama, maka mekanisme kerja enzim kholinesterase terganggu, dengan akibat adanya ganguan pada sistem syaraf. Di seluruh sistem persyarafan (the nervous system), terdapat pusat-pusat pengalihan elektro kemikel yang dinamakan synapses, getaran-getaran impuls syaraf elektrokemis (electrochemical nerve impulse), dibawa menyeberangi kesenjangan antara sebuah syaraf (neuron) dan sebuah otot atau sari neuron ke neuron. Karena getaran syaraf (sinyal) mencapai suatu sypapse, sinyal itu merangang

pembebasan asetilkolin. Asetikholinesterase adalah suatu enzim, terdapat pada

banyak jaringan yang menghidrolisis asetilkholin menjadi kholin dan asam asetat. Sel darah merah dapat mensintesis asetilkholin dan bahwa kholin asetilase dan asetilkholinesterase keduanya terdapat dalam sel darah merah. Kholin asetilase juga ditemukan tidak hanya di dalam otak tetapi juga di dalam otot rangka, limpa dan jaringan plasenta. Adanya enzim ini dalam jaringan seperti plasenta atau eritrosit yang tidak mempunyai persyaratan menunjukkan fungsi yang lebih umum bagi asetilkholin dari pada funsi dalam syaraf saja. Pembentukan dan pemecahan asetilkholin dapat dihubungkan dengan permeabilitas sel. Perhatian lebih diarahkan pada sel darah merah, telah dicatat bahwa enzim kholin asetilase tidak aktif baik karena pengahambatan oleh obat-obatan maupun karena kekurangan subtrat, sel akan

kehilangan permeabilitas selektifnya dan mengalami hemolisis. Asetilkholin berperan sebagai jembatan penyeberangan bagi mengalirnya getaran syaraf. Melalui sistem syaraf inilah organ-organ di dalam tubuh menerima informasi untuk mempergiat atau

mengurangi efektifitas sel. Pada sistem syaraf, stimulas yang diterima dijalarkan melalui serabut-serabut syaraf (akson) dalam betuk impuls. Setelah impuls syaraf oleh asetikholin dipindahkan (diseberangkan)

melalui

serabut,

enzim

kholinesterase memecahkan asetilkholin

asetilkholin

dengan cara meghidrolisis

menjadi kholin dan sebuah

ion asetat, impuls syaraf kemudian berhenti. Reaksi-reaksi kimia ini terjadi sangat cepat. Ketika pestisida organofosfat memasuki tubuh manusia atau hewan, pestisida kholinesterase menempel pada enzim kholinesterase. Karena

tidak dapat memecahkan asetilkholin, impuls syaraf

mengalir terus (konstan) menyebabkan suatu twiching yang cepat dari otot-otot dan akhirnya mengarah kepada kelumpuhan. Pada saat otot-otot pada sistem pernafasan tidak berfungsi terjadilah kematian. Hadirnya pestisida golongan organofosfat akan menghambat terjadi aktifitas di dalam tubuh sehingga

enzim asetilkholinesterase,

akumulasi substrat (asetilkholin) pada sel efektor. Keadaan

tersebut diatas akan menyebabkan gangguan sistem syaraf yang berupa aktifitas kolinergik secara terus tidak dihidrolisis. Gangguan menerus akibat asetilkholin yang

ini selanjutnya akan dikenal sebagai

tanda-tanda atau gejala keracunan. Sintesis dan pemecahan hidrolitik asetilkholin dilukiskan sebagai berikut: Gambar. 2.4. Pembentukan dan pemecahan

asetilkholin Asetilkholin mudah dihidrolisis menjadi kholin dan asam asetat oleh kerja enzim asetilkholinesterase, ditemukan tidak hanya pada ujung syaraf tetapi juga dalam serabut syaraf, kerja asetilkholin

dalam tubuh diatur oleh efek penginaktifan asetilkholinesterase. Pemecahan asetilkholin adalah suatu reaksi eksenergik karena diperlukan energi untuk sintesisnya kembali. Asetat aktif (Asetil KoA) bertindak sebagai donor untuk asetilasi kholin. Enzim kholinesterase yang diaktifkan oleh ion- ion kalium dan magnesium mengatalisis transfer asetil dari asetil KoA ke kholin. Antikholinesterase,

pengambat asetilkholinesterase dengan akibat pemanjangan aktifitas parasimpatis dipengaruhi oleh fisostigmin (eserin), kerja ini adalah reversibel.

Neostigmin (prostigmin) adalah suatu alkaloid yang diduga berfungsi juga sebagai inhibitor kholinesterase dan dengan demikian memanjangkan kerja asetilkholin atau kerja parasimpatis. Ini telah dipakai dalam pengobatan myasthenia gravis, suatu kelemahan otot dengan atrofi yang kronik dan prodresif. Senyawa sintetik,

diisopropilflurofosfat

pada gambar berikut ini, juga menghambat

aktifitas esterase tetapi dengan cara ireversibel.

3. Efek Pestisida Pada Sistem Tubuh Bahan kimia dari kandungan pestisida dapat meracuni selsel tubuh atau mempengaruhi organ tertentu yang mungkin berkaitan dengan sifat bahan kimia atau berhubungan dengan tempat bahan kimia memasuki tubuh atau disebut juga organ sasaran. Efek racun bahan kimia atas organ-organ tertentu dan sistem tubuh: a. Paru-paru dan sistem pernafasan Efek jangka panjang terutama disebabkan iritasi (menyebabkan bronkhitis atau pneumonitis). Pada kejadian luka bakar, bahan kimia dalam paru-paru yang dapat menyebabkan udema pulmoner (paru-paru berisi air), dan dapat berakibat fatal. Sebagian bahan kimia dapat mensensitisasi atau menimbulkan reaksi alergik dalam saluran nafas yang selanjutnya dapat menimbulkan bunyi sewaktu menarik nafas, dan nafas pendek. Kondisi jangka panjang (kronis) akan terjadi penimbunan debu bahan kimia pada jaringan paru-paru

sehingga akan terjadi fibrosis atau pneumokoniosis. b. Hati Bahan kimia yang dapat mempengaruhi hati disebut hipotoksik. Kebanyakan bahan kimia menggalami metabolisme dalam hati dan oleh karenanya maka banyak bahan kimia yang berpotensi merusak sel-sel hati. Efek bahan kimia jangka pendek terhadap hati dapat menyebabkan inflamasi sel-sel (hepatitis kimia),

nekrosis (kematian sel), dan penyakit kuning. Sedangkan efek jangka panjang berupa sirosis hati dari kanker hati.

c. Ginjal dan saluran kencing Bahan kimia yang dapat merusak ginjal disebut nefrotoksin. Efek bahan kimia terhadap ginjal meliputi gagal ginjal sekonyongkonyong (gagal ginjal akut), gagal ginjal kronik dan kanker ginjal atau kanker kandung kemih. d. Sistem syaraf Bahan kimia yang dapat menyerang syaraf disebut neurotoksin. Pemaparan terhadap bahan kimia tertentu dapat memperlambat fungsi otak. Gejala-gejala yang diperoleh adalah mengantuk dari hilangnya kewaspadaan yang akhirnya diikuti oleh hilangnya

kesadaran karena bahan kimia tersebut menekan sistem syaraf pusat. Bahan kimia yang dapat meracuni sistem enzim yang menuju ke syaraf adalah pestisida. Akibat dari efek toksik pestisida ini dapat menimbulkan kejang otot dan paralisis (lurnpuh). Di samping itu ada bahan kimia lain yang dapat secara perlahan meracuni syaraf yang menuju tangan dan kaki serta

mengakibatkan mati rasa dan kelelahan. e. Darah dan sumsum tulang Sejumlah bahan kimia seperti arsin, benzen dapat merusak sel-sel darah merah yang menyebabkan anemia hemolitik. Bahan kimia lain dapat merusak sumsum tulang dan organ lain tempat pembuatan sel-sel darah atau dapat menimbulkan kanker darah. f. Jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) Sejumlah pelarut seperti trikloroetilena dan gas yang dapat menyebabkan gangguan fatal terhadap ritme jantung. Bahan karbon disulfida dapat menyebabkan

kimia lain seperti peningkatan

penyakit pembuluh darah yang dapat menimbulkan

serangan jantung. g. Kulit Banyak bahan kimia bersifat iritan yang dapat menyebabkan dermatitis atau dapat menyebabkan sensitisasi kulit dan alergi. Bahan kimia lain dapat menimbulkan jerawat, hilangnya pigmen

(vitiligo), mengakibatkan kepekaan terhadap sinar matahari atau kanker kulit. h. Sistem reproduksi Banyak bahan kimia bersifat teratogenik dan mutagenik terhadap sel kuman dalam percobaan. Disamping itu ada beberapa bahan kimia yang secara langsung dapat mempengaruhi ovarium dan testis yang mengakibatkan gangguan menstruasi dan fungsi seksual. i. Sistem yang lain Bahan kimia dapat pula menyerang sistem kekebalan, tulang, otot dan kelenjar tertentu seperti kelenjar tiroid. Petani yang terpapar pestisida akan mengakibatkan peningkatan fungsi hati sebagai salah satu tanda toksisitas, terjadinya kelainan hematologik, meningkatkan kadar SGOT dan SGPT dalam darah juga dapat meningkatkan kadar ureum dalam darah.

D. Tanda dan gejala Gejala keracunan organofosfat sangat bervariasi. Setiap gejala yang timbul sangat bergantung pada adanya stimulasi asetilkholin persisten atau depresi yang diikuti oleh stimulasi saraf pusat maupun perifer. Gejala awal seperti salivasi, lakrimasi, urinasi dan diare (SLUD) terjadi pada keracunan organofosfat secara akut karena terjadinya stimulasi reseptor muskarinik sehingga kandungan asetil kholin dalam darah meningkat pada mata dan otot polos (Waluyadi, 2007; Katz, 2012). Tabel 1. Efek Muskarinik, nikotinik dan saraf pusat pada toksisitas organofosfat (Waluyadi, 2007; Katz, 2012).

Efek Muskarinik

Gejala Salivasi, lakrimasi, urinasi dan diare Kejang perut Naussea dan vomitus Bradicardia Miosis

Berkeringat Nikotinik Pegal, lemah Tremor Paralysis Dipsnue Takikardi Sistem saraf pusat Bingung, gelisah, insomnia, neurosis Sakit kepala Emosi tidak stabil Bicara terbata-bata Kelemahan umum Konvulsi Depresi respirasi dan gangguan jantung Koma

Gejala keracunan organofosfat akan berkembang selama pemaparan atau 12 jam kontak. Pestisida yang masuk ke dalam tubuh akan mengalami perubahan secara hidrolisa di dalam hati dan jaringan-jaringan lain. Hasil dari perubahan/pembentukan ini mempunyai toksisitas rendah dan akan keluar melalui urine. Adapun gejala keracunan pestisida golongan organofosfat adalah (Waluyadi, 2007; Katz, 2012): 1. Gejala awal Gejala awal akan timbul mual/rasa penuh di perut, muntah, rasa lemas, sakit kepala dan gangguan penglihatan. 2. Gejala lanjutan Gejala lanjutan yang ditimbulkan adalah keluar ludah yang berlebihan, pengeluaran lendir dari hidung (terutama pada keracunan melalui hidung), kejang usus dan diare, keringat berlebihan, air mata yang berlebihan, kelemahan yang disertai sesak nafas, akhirnya kelumpuhan otot rangka. 3. Gejala sentral Gelaja sentral yan ditimbulkan adalah, sukar bicara, kebingungan, hilangnya reflek, kejang dan koma.

4. Kematian Apabila tidak segera di beri pertolongan berakibat kematian dikarenakan kelumpuhan otot pernafasan.

E. Penegakan Diagnosis Kriteria diagnosis pada keracunan adalah (Budiawan, 2008) : 1. Anamnesa kontak antara korban dengan racun. 2. Adanya tanda tanda serta gejala yang sesuai dengan tanda dan gejala dari keracunan racun yang diduga. 3. Dari sisa benda bukti harus dapat dibuktikan bahwa na benda bukti tersebut memang racun yang dimaksud. 4. Dari bedah mayat dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan yang sesuai dengan keracunan dari racun yang diduga serta dari bedah mayat tidak ditemukan adanya penyebab kematian lain. 5. Analisa kimia atau pemeriksaan toksikologik , harus dapat dibuktikan adanya racun serta metabolitnya dalam tubuh atau cairan tubuh korban , secara sistemik. Dalam menentukan jenis zat toksis yang menyebabkan keracunan, seringkali menjadi rumit karena adanya proses yang secara alamiah terjadi di tubuh manusia. Salah satu hal yang dapaat digunakan untuk mengindentifikasi adalah dengan pemeriksaan biomarker zat toksik. Biomarker dari suatu paparan zat toksik dapat berupa zat toksik itu sendiri, metabolit dari suatu bahan yang mengalami perubahan (metabolism) dalam tubuh (dalam darah, urin, udara, dan udara pernafasan) contohnya aktifitas asetilkolinesterase dalam darah untuk investigasi kasus keracunan organofosfat (Budiawan, 2008). Untuk pemeriksaan toksikologik insektisida perlu diambil darah, jaringan hati, limpa, paru-paru dan lemak badan. Penentuan kadar AchE dalam darah dan plasma dapat dilakukan dengan cara tintimeter (Edson) dan cara paper-strip (Acholest) (Budiyanto, 1997)

1. Cara Edson (Budiyanto, 1997). Cara ini dilakukan berdasarkan perubahan pH darah; AChE ACh kolin + asam asetat Ambil darah korban dan tambahkan indicator brom-timol-biru, diamkan beberapa saat maka akan terjadi perubahan warna. Bandingkan warna yang timbul dengan warna standar pada comparator disc (cakram pembanding), maka dapat ditentukan kadar AChE dalam darah. % aktifitas AChE darah 75% - 100% dari normal 50% - 75% dari normal 25% - 50% dari normal 0 % - 25 % dari normal Interpretasi tidak ada keracunan keracunan ringan Keracunan keracunan berat

2. Cara Acholest (Katz, 2012) Ambil serum darah korban dan teteskan pasa kertas Acholest bersamaan dengan control serum darah normal. Pada kertas Acholest sudah terdapat Ach dan indikator. Waktu perubahan warna pada kertas tersebut dicatat. Perubahan warna harus sama dengan perubahan warna pembanding (serum normal) yaitu warna kuning telur. Interpretasi: kurang dari 18 menit tidak ada keracunan, 20-35 menit keracunan ringan, 35-150 menit keracunan berat.

Penemuan Autopsi Untuk melakukan pemeriksaan pada korban yang sudah meninggal, perlu dilakukan pemeriksaan khusus. Hal ini disebabkan bahwa racun yang telah

masuk ke dalam tubuh korban tidak ada meninggalkan bukti yang konkrit di sekitar tempat kejadian. Adapun hal-hal yang dilakukan adalah berupa pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam tubuh korban, dan pemeriksaan toksikologi (Waluyadi, 2007).

Pemeriksaan Luar 1. Bau Membaui korban dengan kasus keracunan dapat memberikan petunjuk mengenai racun apa yang telah ditelan oleh korban. Pada kasus keracunan organofosfat mungkin akan tercium bau zat pelarut misalnya bau minyak tanah. Sumber bau yang menjadi petunjuk penyebab keracunan dapat berasal dari pakaian, lubang hidung, dan mulut serta rongga badan (Waluyadi, 2007). 2. Pakaian Pada pakaian dapat ditemukan bercak-bercak zat racun yang disebabkan tercecernya racun yang ditelan atau oleh karena muntahan.Penyebaran bercak perlu diperhatikan, karena dari penyebaran itu kadang-kadang dapat diperoleh petunjuk tentang intensi atau kemauan korban, yaitu apakah racun itu ditelan atas kemauannya sendiri atau dipaksa. Dalam hal korban dipegangi dan dicekoki racun secara paksa, maka bercak-bercak akan tersebar pada daerah yang luas. Selain itu pada pakaian mungkin melekat bau racun (Waluyadi, 2007). 3. Lebam mayat dan perubahan warna kulit Warna lebam mayat yang tampak pada pemeriksaan luar merupakan cerminan manifestasi warna darah yang tampak pada kulit.Warna lebam mayat yang tidak biasa dapat menjadi petunjuk dari zat racun yang tertelan atau ditelan. Pada kasus keracunan organofosfat tidak ditemukan lebam mayat yang khas. Begitu juga dengan perubahan warna kulit. Pada keracunan organofosfat tidak ditemukan tanda-tanda perubahan warna kulit yang khas (Waluyadi, 2007). 4. Pada kasus keracunan akut hanya ditemukan tanda-tanda asfiksia

Pemeriksaan dalam 1. Pada kasus keracunan organofosfat yang akut, pada pemeriksaan dalam dapat ditemukan edema paru-paru, dan perbendungan organ-organ tubuh, mukosa lambung mengalami inflamasi disertai perdarahan petekie (Waluyadi, 2007). 2. Pada kasus keracunan organofosfat yang dicobakan pada binatang dengan keracunan kronik dapat ditemukan nekrosis sentral dan degenerasi bengkak keruh pada hati ; vakuolisasi, girolisis dan retikulasi basofilik yang jelas pada

otak dan medula spinalis ; perlemakan pada miokardium ; degenerasi sel tubuli ginjal (Waluyadi, 2007). 3. Pada kasus keracunan organofosfat dapat ditemukan penurunan aktifitas enzim asetilkolinesterase dalam jaringan otak pada pemeriksaan laboratorium lanjutan (Waluyadi, 2007). Pemeriksaan Toksikologi Dari pemeriksaan pada kasus-kasus yang mati akibat racun umumnya tidak akan di jumpai kelainan-kelainan yang khas yang dapat dijadikan pegangan untuk menegakan diagnosa atau menentukan sebab kematian karena racun suatu zat. Jadi pemeriksaan toksikologi mutlak harus dilakukan untuk menentukan adanya racun pada setiap kasus keracunan atau yang diduga mati akibat racun. Ditemukannya jenis racun pada darah, feses, urin atau dalam organ tubuh merupakan bukti yang memastikan bahwa telah terjadi keracunan. Racun bisa ditemukan dalam lambung, usus halus, dan kadang-kadang pada hati, limpa dan ginjal. Pada keracunan organofosfat bahan pemeriksaan toksikologi dapat diambil dari : Darah, Jaringan hati, Jaringan otak, Limpa, Paru-paru, Lemak badan (Waluyadi, 2007).

F. Penatalaksanaan 1. Stabilisasi Pasien Pemeriksaan saluran nafas, pernafasan, dan sirkulasi merupakan evaluasi primer yang harus dilakukan serta diikuti evaluasi terhadap tanda dan symptom toksisitas kolinergik yang dialami pasien. Dukungan terhadap saluran pernafasan dan intubasi endotrakeal harus

dipertimbangkan bagi pasien yang mengalami perubahan status mental dan kelemahan neuromuskular sejak antidotum tidak memberikan efek. Pasien harus menerima pengobatan secara intravena dan monitoring jantung. Hipotensi yang terjadi harus diberikan normal salin secara intravena dan oksigen harus diberikan untuk mengatasi hipoksia. Terapi suportif ini harus diberikan secara paralel dengan pemberian antidotum (Katz et al., 2011).

2. Dekontaminasi Dekontaminasi harus segera dilakukan pada pasien yang mengalami keracunan. Baju pasien harus segera dilepas dan badan pasien harus segera dibersihkan dengan sabun. Proses pembersihan ini harus dilakukan pada ruangan yang mempunyai ventilasi yang baik untuk menghindari kontaminasi sekunder dari udara (Katz et al., 2011). Pelepasan pakaian dan dekontaminasi dermal mampu mengurangi toksikan yang terpapar secara inhalasi atau dermal, namun tidak bisa digunakan untuk dekontaminasi toksikan yang masuk dalam saluran pencernaan. Dekontaminasi pada saluran cerna harus dilakukan setelah kondisi pasien stabil. Dekontaminasi saluran cerna dapat melalui pengosongan orogastrik atau nasogastrik, jika toksikan diharapkan masih berada di lambung. Pengosongan lambung kurang efektif jika organofosfat dalam bentuk cairan karena absorbsinya yang cepat dan bagi pasien yang mengalami muntah (Katz et al., 2011). Arang aktif 1g/kg BB harus diberikan secara rutin untuk menyerap toksikan yang masih tersisa di saluran cerna. Arang aktif harus diberikan setelah pasien mengalami pengosongan lambung. Muntah yang dialami pasien perlu dikontrol untuk menghindari aspirasi arang aktif karena dapat berhubungan dengan pneumonitis dan gangguan paru kronik (Katz et al., 2011). 3. Pemberian Antidotum a. Agen Antimuskarinik Agen antimuskarinik seperti atropine, ipratopium, glikopirolat, dan skopolamin biasa digunakan mengobati efek muskarinik karena keracunan organofosfat. Salah satu yang sering digunakan adalah Atropin karena memiliki riwayat penggunaan paling luas. Atropin melawan tiga efek yang ditimbulkan karena keracunan organofosfat pada reseptor muskarinik, yaitu bradikardi, bronkospasme, dan bronkorea (Gunawan, 2000). Pada orang dewasa, dosis awalnya 1-2 mg iv yang digandakan setiap 2-3 menit sampai teratropinisasi. Untuk anak-anak dosis

awalnya 0,05mg/kg BB yang digandakan setiap 2-3 menit sampai teratropinisasi. Tidak ada kontraindikasi penanganan keracunan organofosfat dengan Atropin (Gunawan, 2000). b. Oxime Oxime adalah salah satu agen farmakologi yang biasa digunakan untuk melawan efek neuromuskular pada keracunan organofosfat. Terapi ini diperlukan karena Atropine tidak berpengaruh pada efek nikotinik yang ditimbulkan oleh organofosfat. Oxime dapat

mereaktivasi enzim kholinesterase dengan membuang fosforil organofosfat dari sisi aktif enzim (Gunawan, 2000). Pralidoxime adalah satu-satunya oxime yang tersedia. Pada regimen dosis tinggi (1 g iv load diikuti 1g/jam selam 48 jam), Pralidoxime dapat mengurangi penggunaan Atropine total dan mengurangi jumlah penggunaan ventilator (Gunawan, 2000). Efek samping yang dapat ditimbulkan karena pemakaian Pralidoxime meliputi dizziness, pandangan kabur, pusing, drowsiness, nausea, takikardi, peningkatan tekanan darah, hiperventilasi,

penurunan fungsi renal, dan nyeri pada tempat injeksi. Efek samping tersebut jarang terjadi dan tidak ada kontraindikasi pada penggunaan Pralidoxime sebagai antidotum keracunan organofosfat (Gunawan, 2000). c. Pemberian anti-kejang Dazepam diberikan pada pasien bagi mengurangkan cemas, gelisah (dosis: 5-10 mg IV) dan bisa juga digunakan untuk mengkontrol kejang (dosis: sehingga 10-20 mg IV) (Gunawan, 2000).

G. Komplikasi 1. Gagal nafas 2. Kejang 3. Pneumonia aspirasi 4. Kematian

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Katz, K.D., Sakamoto, K.M., Pinsky, M.R. 2011. Organophosphate Toxicity. Available on: http://emedicine.medscape.com/article/167726-overview. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2013.

Tina, E., Metka, F. 2011. Organophosphorous Pesticides-Mechanisms of Their Toxicity. Available on: http://www.intwchopen.com/books/pesticides-theimpacts-of-pesticides-exposure/organophosphorous-pesticidesmechanisms-of-their-toxicity. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2013.

Kamanyire,

R.,

Karalliedde,

L.

2004.

Organophosphate

Toxicity

and

Occupational Exposure. Occupational medicine. 54: 69-75

Gunawan, S.G. 2000. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. FK-UI: Jakarta. Hal 836.

Budiawan. 2008. Peran Toksikologi Forensik dalam Mengungkap Kasus Keracunan dan Pencemaran Lingkungan. Indonesian Journal of Legal and Forensik Sciences. Jakarta: 35-9. Budiyanto A, Widiatmo W, Sudiono S, Winardi T, Munim A Sidhi, Hertian S, et al. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Katz, KD. Organophosphates Toxicity. [online]. 2012 Jan 23. Available from URL: http://emedicine.medscape.com/article/167726-overview#showalll Waluyadi. Peranan Toksikologi dalam Pembuatan Visum et Repertum Terhadap Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan dengan Menggunakan Racun. [online]. 2007. Available from URL:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20996