Anda di halaman 1dari 18

5.7.

Uji Pemompaan Koefisien transmissivitas dan cadangan air merupakan parameter-parameter

yang digunakan untuk mengetahui tentang karakteristik akuifer pada daerah penelitian. Koefisien transmissivitas (T) suatu akuifer menurut Driscoll (1986) merupakan debit air yang mengalir melalui potongan vertikal akuifer berukuran lebar 1 m dan memanjang mengikuti tebal b formasi jenuh air secara penuh di bawah gradien hidrolika 1 (100%). Gambar di bawah mengilustrasikan konsep konduktivitas hidrolik dan transmissivitas.

Gambar 5.22. Ilustrasi koefisien konduktivitas hidrolik dan koefisien transmissivitas. Konduktivitas hidrolik dikalikan dengan ketebalan akuifer menghasilkan koefisien transmissivitas (Driscoll, 1986).

Koefisien transmissivitas menunjukkan seberapa besar jumlah air yang akan mengalir melalui formasi, sedangkan koefisien cadangan air menunjukkan seberapa besar jumlah air yang dapat diambil melalui pemompaan. Uji pemompaan yang dilaksanakan pada daerah penelitian dilakukan pada sumur WB 02 dan WB 09. Kedua sumur dipompa masing-masing selama 60 jam dan 48 jam secara menerus dan individual. Setelah uji pemompaan, maka pompa dimatikan dan dilakukan

88

pengukuran kambuhnya muka airtanah. Berikut penjelasan masing-masing pengukuran pada kedua sumur tersebut.

5.7.1. Sumur WB 02 Sumur WB 02 dilakukan uji pemompaan pada 14 Juli 2012 dengan kedalaman pemasangan pompa di 119 m dibawah muka tanah dan debit pemompaan tetap 5.00 l/s (18 m3/jam atau 432 m3/hari). Pengukuran debit pemompaan menggunakan alat flow meter. Pengukuran dilakukan pada sumur WB 02, yaitu berjarak 20 meter dari sumur monitor MB 02. Muka airtanah mula-mula (static water level) adalah 18.60 m dibawah muka tanah. Pengukuran data uji pemompaan dibedakan menjadi Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap selama 60 jam (Long Period Constant Rate Pumping Test) dan Uji Kambuh selama 16 jam (Recovery Test). Penjelasan masing-masing hasil uji sebagai berikut. a. Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap Berdasarkan hasil pengukuran muka airtanah pada uji menerus debit tetap selama 60 jam diperoleh pumping water level 49.55 m atau penurunan muka airtanah (drawdown) sebesar 30.95 m. Selama pemompaan berlangsung diambil sampel airtanahnya setiap interval 8 jam sesuai pumping test data sheet. Data pengukuran penurunan muka airtanah pada pumping test data sheet kemudian diplot ke dalam kertas semilog. Kertas semilog adalah kertas yang didesain dimana skala pertama berupa skala aritmatik sedangkan skala yang lain berupa skala logaritma. Oleh karena itu, hubungan garis lurus (straight-line) dapat ditunjukkan antara kedua variabel yang memiliki hubungan perubahan waktu.

89

Gambar 5.23. Grafik Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap selama 60 Jam pada Sumur WB 02.

90

Gambar 5.24. Grafik Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap selama 60 Jam pada Sumur MB 02.

91

Dari grafik tersebut diperoleh nilai s 4,69 m dan to 1 menit (6.944x10-4 hari) serta prediksi penurunan muka airtanah apabila pemompaan menerus dan akuifer dianggap konstan hingga 4000 menit yaitu sebesar 31 m atau pumping water level 49,85 m. Grafik drawdown-waktu menyediakan prediksi drawdown yang akan diperoleh apabila pemompaan debit tetap dilakukan secara menerus pada waktu tertentu. Perpanjangan garis lurus dalam grafik di atas hingga memotong nilai drawdown 31 m merupakan indikasi drawdown yang akan diperoleh di sumur WB 02 setelah 4000 menit pemompaan debit tetap 18 m3/jam secara menerus. Begitupula drawdown selanjutnya setelah 40000 menit pemompaan dapat diprediksi dengan cara nilai s ditambah dengan drawdown pada menit ke-4000. Perlu dicatat bahwa 40000 menit adalah 10 dikalikan 4000 atau satu siklus logaritma di atas 4000 menit. Dengan demikian, setelah 28 hari pemompaan debit tetap 18 m3/jam secara menerus, drawdown pada sumur WB 02 akan menjadi 31,00 + 4,69 = 35,69 m Dari nilai s dan to dapat dihitung nilai koefisien transmissivitas (T) menggunakan persamaan 2.1. dan koefisien daya simpan airtanah (S) menggunakan persamaan 2.2.

T=

= 16,856 m2/day

S=

= 6,58 x 10-5

K=

= 0.283 m/day

Untuk nilai koefisien transmissivitas (T) dan koefisien daya simpan airtanah (S) pada sumur MB 02 menggunakan persamaan 2.1. dan 2.2. sebagai berikut. Nilai konduktivitas hidrolik (K) didekati dengan menggunakan referensi dari berbagai macam batuan (Biro Reklamasi

92

USA, 1977 dalam Todd, 1980) dan tergolong ke dalam kategori menengah, yaitu berupa batupasir bersih.

T=

= 11,746 m2/day

S=

= 8,59 x 10-4

Berdasarkan hasil perhitungan pada WB 02 dan MB 02 di atas diperoleh nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 6,58x10-5 > 5x10-5 dan nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 8,59x10-4 > 5x10-5 maka termasuk jenis akuifer tertekan (Driscoll, 1986). Nilai konduktivitas hidrolik (K) didekati dengan menggunakan referensi dari berbagai macam batuan (Biro Reklamasi USA, 1977 dalam Todd, 1980) dan tergolong ke dalam kategori menengah, yaitu berupa batupasir bersih.

b. Uji Kambuh Uji kambuh dimulai tepat ketika uji pemompaan menerus debit tetap berhenti atau ketika pompa dimatikan. Pengukurannya dilakukan selama 16 jam. Uji kambuh dimulai pada posisi pumping water level 49,55 m dan berakhir pada level muka airtanah 25,20 m. Muka airtanah kambuh atau kenaikan muka airtanah (residual drawdown) sebesar 24,35 m. Data pengukuran kambuhnya muka airtanah kemudian dianalisis dalam bentuk grafik seperti di bawah. Sumbu horizontal merupakan rasio t/t sedangkan sumbu vertikal merupakan residual drawdown s. Untuk memperoleh nilai to dilakukan melalui penarikan garis penerusan ke arah atas hingga memotong drawdown ke-0. Nilai tersebut kemudian dimasukkan ke dalam persamaan Theis untuk menentukan harga koefisien daya simpan airtanah (S).

93

Gambar 5.25. Grafik Uji Kambuh selama 16 Jam pada Sumur WB 02.

94

Gambar 5.26. Grafik Uji Kambuh selama 16 Jam pada Sumur MB 02.

95

Dari grafik tersebut diperoleh nilai s 5,38 m dan to 1 menit (6.944x10-4 hari). Dari nilai s dan to tersebut dapat dihitung nilai koefisien transmissivitas (T) menggunakan persamaan 2.1. dan koefisien daya simpan airtanah (S) menggunakan persamaan 2.2.

T=

= 14,694 m2/day

S=

= 5,70x10-5

Untuk nilai koefisien transmissivitas (T) dan koefisien daya simpan airtanah (S) pada sumur MB 02 menggunakan persamaan 2.1. dan 2.2. sebagai berikut.

T=

= 10,814 m2/day

S=

= 1,82 x 10-4

Berdasarkan hasil perhitungan pada WB 02 dan MB 02 di atas diperoleh nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 5,70x10-5 > 5x10-5 dan nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 1,82x10-4 > 5x10-5 maka termasuk jenis akuifer tertekan (Driscoll, 1986). Nilai konduktivitas hidrolik (K) didekati dengan menggunakan referensi dari berbagai macam batuan (Biro Reklamasi USA, 1977 dalam Todd, 1980) dan tergolong ke dalam kategori menengah, yaitu berupa batupasir bersih.

96

5.7.2. Sumur WB 09 Sumur WB 09 dilakukan uji pemompaan pada 13 Januari 2012 dengan kedalaman pemasangan pompa di 75.75 meter dibawah top casing dan debit pemompaan tetap 488 m3/hari. Pengukuran debit pemompaan menggunakan alat flow meter. Pengukuran dilakukan pada sumur WB 09, yaitu berjarak 8 meter dari sumur monitor MB 09. Muka airtanah mula-mula adalah 7.71 m dibawah muka tanah. a. Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap Berdasarkan hasil pengukuran muka airtanah pada uji menerus debit tetap diperoleh pumping water level 24,80 m atau penurunan muka airtanah sebesar 17,09 m. Selama pemompaan berlangsung diambil conto airtanah setiap interval 8 jam sesuai pumping test data sheet. Data pengukuran penurunan muka airtanah pada pumping test data sheet kemudian diplot ke dalam kertas semilog sama halnya seperti pada Sumur WB 02. Dari grafik diperoleh nilai srata-rata 4,36 m dan to 1 menit (6.944x10-4 hari) serta prediksi penurunan muka airtanah apabila pemompaan menerus dan akuifer dianggap konstan hingga 3000 menit, yaitu sebesar 17,60 m atau pumping water level 24,95 m. Prediksi apabila pemompaan dilakukan menerus dengan debit tetap selama 30000 menit (21 hari), maka drawdown adalah 17,60 + 4,36 = 21,96 m.

97

Gambar 5.27. Grafik Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap selama 48 Jam pada Sumur WB 09.

98

Gambar 5.28. Grafik Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap selama 48 Jam pada Sumur MB 09.

99

Dari nilai s dan to dapat dihitung nilai koefisien transmissivitas (T) menggunakan persamaan 2.1. dan koefisien daya simpan airtanah (S) menggunakan persamaan 2.2.

T=

= 20,483 m2/day

S=

= 4,96 x 10-4

K=

= 0.829 m/day

Untuk nilai koefisien transmissivitas (T) dan koefisien daya simpan airtanah (S) pada sumur MB 09 menggunakan persamaan 2.1. dan 2.2. sebagai berikut.

T=

= 16,537 m2/day

S=

= 5,81 x 10-4

Berdasarkan hasil perhitungan pada WB 09 dan MB 09 di atas diperoleh nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 4,96x10-4 > 5x10-5 dan nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 0,005 > 5,81x10-4 > 5x10-5 maka termasuk jenis akuifer tertekan (Driscoll, 1986). Nilai konduktivitas hidrolik (K) didekati dengan menggunakan referensi dari berbagai macam batuan (Biro Reklamasi USA, 1977 dalam Todd, 1980) dan tergolong ke dalam kategori menengah, yaitu berupa batupasir bersih.

100

b. Uji Kambuh Uji kambuh dimulai tepat ketika uji pemompaan menerus debit tetap berhenti atau ketika pompa dimatikan. Pengukurannya dilakukan selama 6 jam. Uji kambuh dimulai pada posisi pumping water level 24,80 m dan berakhir pada level muka airtanah 11,32 m. Muka airtanah kambuh atau kenaikan muka airtanah (residual drawdown) sebesar 13,48 m. Data pengukuran kambuhnya muka airtanah kemudian dianalisis dalam bentuk grafik seperti di bawah.

101

Gambar 5.27. Grafik Uji Kambuh selama 6 Jam pada Sumur WB 09.

102

Gambar 5.28. Grafik Uji Kambuh selama 6 Jam pada Sumur MB 09.

103

Dari grafik tersebut diperoleh nilai s 3,5 m dan to 5 menit (0,006 hari). Dari nilai s dan to tersebut dapat dihitung nilai koefisien transmissivitas (T) menggunakan persamaan 2.1. dan koefisien daya simpan airtanah (S) menggunakan persamaan 2.2.

T=

= 25,515 m2/day

S=

= 5,38x10-4

Untuk nilai koefisien transmissivitas (T) dan koefisien daya simpan airtanah (S) pada sumur MB 02 menggunakan persamaan 2.1. dan 2.2. sebagai berikut.

T=

= 25,015 m2/day

S=

= 5,27x 10-4

Berdasarkan hasil perhitungan pada WB 09 dan MB 09 di atas diperoleh nilai daya simpan airtanah (S) 5,38x10-4 dan nilai koefisien daya simpan airtanah (S) 5,27x10-4 maka termasuk jenis akuifer tertekan (Driscoll, 1986). Nilai konduktivitas hidrolik (K) didekati dengan menggunakan referensi dari berbagai macam batuan (Biro Reklamasi USA, 1977 dalam Todd, 1980) dan tergolong ke dalam kategori menengah, yaitu berupa batupasir bersih.

104

5.7.3. Hasil Analisis Uji Pemompaan


Tabel 5.19. Hasil Anasilis Uji Pemompaan Menerus Debit Tetap dan Uji Kambuh.

Koefisien Daya Simpan Sumur Elevasi (mdpl) K (m/hari) Uji Menerus Theis Recovery Airtanah

Transmissivitas (m2/hari)

Uji Menerus

Uji Kambuh

WB 02

37

0.283

6,5 x 10-5

5,7 x 10-5

16,856

14,694

MB 02

36

8,59 x 10-4

1,827 x 10-4

11,746

10,814

WB 09

50

0.829

4,96 x 10-4

5,38 x 10-4

20,483

25,515

MB 09

50

5,81 x 10-4

5,27 x 10-4

16,537

25,015

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa nilai transmisivitas pada daerah penelitian antara 10.814 m2/hari sampai 25,515 m2/hari, nilai koefisien daya simpan airtanah antara 6,58x10-5 sampai 5,81x10-4 dan nilai Konduktivitas Hidrolik (K) antara 0.283 m/hari sampai 0.829 m/hari. Dengan demikian, nilai transmisivitas berbanding terbalik dengan strorativitas. Semakin besar suatu nilai transmisivitasnya, maka nilai storativitasnya semakin kecil, begitu juga sebaliknya. Apabila kita intepretasikan dari nilai storativitasnya, maka dapat dikatakan bahwa akuifer pada daerah penelitian termasuk dalam akuifer tertekan, sebab nilai storativitasnya berkisar antara 5.10-5 0.005. Sedangkan nilai transmisivitas erat kaitannya dengan banyaknya air yang dapat mengalir pada suatu akuifer.

105