Anda di halaman 1dari 23

TUGAS ILMU PENYAKIT DAN KESEHATAN TERNAK PENANGANAN TERNAK PADA IDUL ADHA

OLEH : Firdaus 1110612105 PARALEL 02

ILMU PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan Peaper ini yaitu sebagai tugas mata kuliah Ilmu Penyakit dan Kesehatan Ternak. Peaper ini disusun berdasarkan hasil pengamatan penyembelihan ternak kurban idul adha di musalllah uswatun hasanah cupak kab.solok. Tersusunnya peaper ini penulis ucapkan terima kasih kepada: 1. Ibuk Prof.drh.Hj.Endang P.R.N,M.S,PhD selaku dosen yang mengajar mata kuliah Ilmu Penyakit dan Kesehatan Ternak. 2. .Semua pihak yang ikut serta dalam membantu penulis dalam menyusun peaper ini sehingga dapat diselesaikan. Penulis menyadari bahwa peaper ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifat nya membangun serta bermanfaat dari berbagai pihak baik bagi pembaca dan bagi penulis sendiri.

Padang, 18 oktober 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (Al-Baqarah: 168) Daging yang Halal Proses penyembelihan menurut aturan yang berlaku dalam agama Islam. Daging yang Baik (Tayyib) Daging yang mempunyai mutu yang tinggi. Karakteristiknya adalah: bebas penyakit menular, tidak terkontaminasi mikrobia pathogen, tidak ada residu senyawa kimia yang membahayakan, komposisi gizi yang masih utuh, bersih. Dari pengamatan yang dilakukan bahwa prosesi pengolahan daging kurban jauh dari higienis. Sapi disembelih di tanah bercampur kotoran hewan dan kadang kala tanahnya basah. Pemisahan jeroan pun dilakukan di tempat yang sama. Daging sapi tersebut sudah bercampur dengan berbagai benda asing lainnya seperti isi perut, kotoran, tanah dan lain sebagainya. kotoran tersebut akan dengan mudah meresap ke dalam daging. Maka daging yang di potong pada perayaan idul Adha itu menjadi tidak tayyib (baik). B. Tujuan Pengamatan Tujuan pengamatan ini yaitu : 1. Untuk mengetahui pelaksanaan pemotongan hewan qurban yang dilakukan di Mushallah uswatun hasanah cupak kab.solok 2. Untuk mengatahui penyakit-penyakit yang umum terjadi dalam saluran pencernaan ternak tesebut. 3. Untuk mengetahui ternak yang baik untuk dikurbankan.

BAB II LANDASAN TEORI

A. TANDA-TANDA TERNAK YANG SEHAT Secara umum, tanda-tanda ternak yang sehat untuk kurban adalah sebagai berikut : 1. Matanya jernih dan tidak sayu Mata sapi harus jernih, terbuka penuh, pupil bereaksi cepat, tidak keluar air, tidak berwarna merah, dan selaput lendir bagian dalam berwarna merah terang. Jika ada sapi yang matanya sangat kotor dan keruh, maka menandakan bahwa hewan tersebut sedang sakit dan sebaiknya jangan Anda beli. 2. Bentuk tubuh standar Bentuk tubuh sapi harus standar. Sapi harus memiliki tulang punggung yang relatif rata, tanduknya seimbang, keempat kakinya simetris, dan postur tubuhnya ideal. Postur tubuh yang ideal, seperti kombinasi perut, kaki depan, dan belakang, kepala, dan leher seimbang 3. Kulitnya bersih Kulit sapi harus terlihat bersih. Pastikan hewan yang akan dikurbankan itu tak memiliki bisul atau penyakit kulit lainnya. Untuk memastikannya, Anda bisa mencubit kulitnya, lalu lihat apakah kulitnya kembali seperti semula atau tidak. Jika kulit kembali seperti semula, maka sapi dalam keadaan sehat. 4. Mulut dan hidung bersih Jika mulut sapi sangat basah dan banyak mengeluarkan air liur atau terdapat bintil-bintil merah, maka menandakan bahwa sapi sedang mengindap penyakit. Begitu juga dengan hidung, pastikan hidung sapi bersih dan tak mengeluarkan cairan. 5. Anus bersih Perhatikan juga anus atau dubur sapi. Bisa saja sapi yang dijual sedang diare. Untuk itu, pastikan dubur yang dimilikinya bersih dan tak ada tanda-tanda bahwa sapi sedang diare. 6. Aktif bergerak Saat didekati, pergerakan sapi aktif. Gerakannya lincah dan terlihat sangat kuat dan bersemangat. Selain itu, sapi juga memiliki nafsu makan yang baik. Itulah cara memilih sapi yang sehat untuk kurban. Jadi, jangan sampai Anda salah memilih hewan yang untuk dikurbankan. Bila perlu, pilih hewan kurban yang terdapat stiker sehatnya.

B. SYARAT-SYARAT HEWAN YANG LAYAK DIQURBANKAN Hewan yang layak untuk diqurbankan adalah berkelamin jantan, cukup umur, tidak cacat, dan tidak kurus. a. Cukup umur dapat dilihat dari kondisi gigi hewan
1.

Sapi dan kerbau berumur diatas 2 tahun ditandai dengan sudah tumbuhnya lebih dari sepasang gigi tetap

2.

Domba dan kambing berumur diatas 1 tahun ditandai dengan sudah tumbuhnya lebih dari sepasang gigi tetap.

b. Tidak cacat
1. 2. 3. 4.

Tanduk lengkap (sepasang) dan tidak dipotong Buah zakar lengkap (2 buah). Hewan tidak boleh dikebiri. Kulit mulus, tidak ada luka atau borok Tidak pincang.

c. Tidak kurus dan bergizi baik


1.

Sapi: melihat tulang rusuk dan otot di sekitar pantat. Pada hewan kurus, bayangan tulang rusuk terlihat jelas

2.

Domba: Tertutup bulu sehingga harus meraba daerah punggung. Jika teraba atau terasa sekali tulang punggung maka hewan tersebut kurus.

C,TANDA-TANDA HEWAN YANG TIDAK SEHAT Tanda-tanda hewan yang tidak sehat: mata sayu, tidak mau atau tidak nafsu makan, menyendiri atau memisahkan diri dari kelompoknya, berbaring saja, tidak aktif, dan memperlihatkan gejala sakit.

D. PENYAKIT YANG DAPAT MENYERANG HEWAN QURBAN Penyakit yang dapat menyerang hewan qurban diantaranya:

a. Penyakit individual (tidak menular)


1. 2. 3. 4. 5. 6.

Demam akibat kepanasan atau kehujanan Kembung perut akibat makan rumput muda/ basah Gangguan pencernaan (mencret) Peradangan pada mata Kaki patah akibat jatuh pada saat diturunkan dari kendaraan pengangkut Luka akibat terkena benda tajam.

b. Penyakit menular diantara hewan, misalnya Orf yang ditandai dengan lepuh-lepuh pada bibir c. Zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, misalnya anthrax (radang limpa), scabies (infeksi tungau pada kulit), dll.

E. IDENTIFIKASI TERNAK SIAP POTONG Penentuan harga pada saat jual beli ternak siap potong, umumnya didasarkan pada taksiran pada saat ternak masih hidup, meskipun di beberapa tempat terutama ternak besar, penentuan harga ditentukan oleh berat karkas yang dihasilkan oleh ternak yang bersangkutan. Bila harga ternak hidup ditentukan berdasarkan penaksiran, maka pembeli harus sudah bisa memperkirakan berapa banyak karkas yang akan didapat, berapa nilai dari hasil ikutan seperti kulit, jeroan dan sisa karkas lainnya.(Arganosa: 1975, 7). Penampilan ternak saat hidup mencerminkan produksi dan kualitas karkasnya. Ketepatan penaksir dalam menaksir nilai ternak tergantung pada pengetahuan penaksir dan kemampuan menterjemahkan keadaan dari ternak itu. Keadaan ternak yang perlu mendapat perhatian pada saat menaksir pro-duktivitas ternak adalah : 1. Umur dan berat. 2. Pengaruh kelamin. 3. Perdagingan. 4. Derajat kegemukan. 5. Persentase karkas 1.Umur dan Berat Umumnya daging yang berasal dari sapi tua akan lebih liat dibandingkan dengan daging yang berasal dari sapi muda. Hasil penelitianpun menunjukkan bahwa umur potong

sapi berkorelasi positif dengan keempukan daging yang dihasilkannya, artinya makin tua ternak sudah dapat dipastikan dagingnya akan lebih liat. Daging yang berasal dari sapi tua baunya lebih menyengat dibandingkan dengan daging yang berasal dari sapi muda. Namun pada kenyataannya, kuat lemahnya bau daging pada sapi tidak dipermasalahkan konsumen, lain halnya dengan daging domba dan daging kambing, karena ke dua ternak kecil ini bau dagingnya sangat unik dan lebih kuat dibandingkan dengan sapi (Paeco Agung: 1989, 2). Oleh karena itu konsumen daging domba atau kambing lebih menyukai daging yang berasal dari ternak muda.Ternak sapi tua yang gemuk akan menghasilkan daging yang berlemak oleh karena itu rasanya akan lebih gurih dan banyak disukai konsumen. Selain itu daging yang berlemak kandungan airnya lebih sedikit sehingga pada saat dimasak penyusutannya tidak terlalu besar.

2. Pengaruh Kelamin Sapi dara siap potong umumnya lebih murah dibandingkan dengan sapi jantan kebiri, hal ini disebabkan karena persentase karkas sapi dara akan lebih rendah dibandingkan dengan sapi jantan kebiri. Selain itu pada umur yang sama dengan kondisi pemeliharaan yang sama, sapi dara akan sedikit lebih gemuk dibandingkan dengan jantan sehingga akan lebih banyak lemak yang dibuang untuk menghasilkan daging tanpa lemak. Harga sapi jantan muda setiap kilogram hidup umumnya akan lebih murah dibandingkan dengan sapi jantan kebiri, hal ini disebabkkan kualitas daging dari sapi jantan lebih rendah dibandingkan dengan daging dari sapi jantan kebiri pada umur yang sama. Namun produksi dagingnya akan lebih tinggi baik dibandingkan dengan produksi sapi jantan kebiri atau sapi dara. 3 Perdagingan Tujuan akhir produksi ternak daging adalah menghasilkan karkas yang pro-porsi dan kualitas dagingnya prima, yaitu yang kandungan lemaknya disela sela urat daging termasuk "moderat", namun demikian tidak dapat dihindari adanya lemak yang berlebih diantara otot otot, dan keadaan seperti ini tidak disukai oleh konsumen. Pada karkas ada 3 komponen utama, yaitu : daging, lemak dan tulang. Bila pada suatu karkas kandungan dagingnya tinggi maka kandungan tulang dan atau kandungan lemaknya akan lebih rendah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara kandungan daging dengan tulang, namun hubungannya tidak begitu kuat. Artinya bila proporsi daging tinggi maka proporsi tulangnya akan lebih tinggi dan proporsi lemaknya akan relatif lebih kecil. (Setyawan Budiharta: 2009,19)

4.Derajat Kegemukan (Finish) Selama penggemukan dengan pemberian pakan yang baik, lemak akan dibentuk berturut-turut diluar bundel otot yaitu dibawah kulit dibagian luar karkas (lemak subkutan), dalam rongga perut, sekitar bundel-bundel otot dan juga pada serat serat otot. Sebagian besar lemak berada diluar bundel otot dan lemak ini akan dilepaskan pada saat prosessing. Lemak yang terbentuk diantara serat otot disebut "marbling" atau kepualaman dan lemak ini akan sangat berpengaruh terhadap kelezatan daging, kegurihan, bau rasa, penampilan dan keempukan. Kegurihan mungkin merupakan faktor yang sangat penting yang disumbangkan oleh adanya "marbling", selain itu penampilan daging jadi lebih menarik. (Lawrie: 1966, 25)

5.

Persentase Karkas

Persentase karkas tidak banyak berpengaruh terhadap kualitas karkas namun penting pada penampilan ternak sebelum dipotong. Pembeli ternak akan memperkirakan nilai karkas dari penampilan ternak sewaktu ternak tersebut masih hidup. Bila pembeli menaksir persentase karkas terlalu tinggi misalnya 1% saja, maka pada ternak yang beratnya 500 kg, pembeli tersebut akan kehilangan 5 kg daging.

F.PERLAKUAN PADA TERNAK SEBELUM DIPOTONG 1. Syarat Ternak yang akan dipotong dan Kebersihan Tempat. Syarat ternak yang akan dipotong (Arganosa, 1975:32) adalah kondisi ternak harus dalam keadaan sehat dan segar, untuk itu setelah ternak tiba dirumah potong perlu diistirahatkan terlebih dahulu sampai kondisi ternak kembali segar. Untuk hewan betina besar bertanduk, boleh dipotong dengan syarat : a. Tidak dipotong untuk diperjual belikan. b. Betina tersebut mendapat kecelakaan. c. Betina itu terkena penyakit yang bisa menimbulkan kematian. (misalnya penyakit kembung perut). d. Betina tersebut dapat membahayakan manusia. e. Menurut peraturan yang dibuat harus disembelih (umumnya dalam rangka memberantas penyakit). Bila ternak telah melakukan perjalanan yang panjang dan ternak terlihat lelah, segera setelah diturunkan dari truk atau alat angkut lainnya, ternak ternak ini digiring ketempat yang sudah tersedia air untuk minum dan dilakukan penyemprotan dengan air dingin, hal ini

bukan saja agar ternak menjadi bersih namun juga akan dapat mengurangi stress serta menekan adanya bilur-bilur darah pada bagian dibawah kulit (sub-cutan). Lama waktu istirahat dianjurkan selama 2 hari, meskipun kadang-kadang istirahat selama 2 hari ini belum mencukupi. Pada saat istirahat semua ternak harus diberi makan dan minum yang baik dan cukup meskipun beberapa ternak mungkin tidak mau makan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keadaan dari tempat penampungan ternak di Rumah Potong, yang kadang-kadang merupakan sumber kontaminasi bakteri pathogen (penyebab penyakit). Karena ada kemungkinan ternak yang pernah datang berasal dari suatu daerah, sedang ada dalam keadaan infeksi subklinis dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kualitas daging. Lantai tempat penampungan ternak harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibersihkan, karena jika diantara ternak yang sehat terdapat ternak yang menderita penyakit Salmonelosis, maka besar kemungkinan akan terjadi penularan yang cepat yang dapat menimbulkan resiko dimana dalam Rumah Potong Hewan itu timbul pencemaran. Kandang untuk peristirahatan ternak harus cukup luasnya serta menyenangkan bagi ternaknya dan lebih baik lagi bila kandang disekat sekat menjadi unit-unit yang lebih kecil, guna mencegah gerombolan yang terlalu banyak (Setyawan Budiharta: 2009,19). Jalan menuju ruang penyembelihan harus mudah dan apabila ternak yang akan dipotong itu adalah ternak besar yang dipelihara di padang penggembalaan maka pada sisi lorong harus dipagari dengan menggunakan tiang-tiang yang kuat. Pada saat ternak beristirahat pemeriksaan ante-mortem (sebelum ternak disembelih) sudah mulai dijalankan. Pemeriksaan ante-mortem ini sangat penting dilakukan karena merupakan salah satu proses pencegahan penyakit terhadap konsumen. Dalam hal ini "pemeriksa" harus memiliki pengetahuan mengenai kesehatan masyarakat dan juga cukup berpengalaman dalam menangani ternak ternak yang akan dipotong. Hal lain yang juga penting yaitu perlakuan terhadap ternak itu sendiri. Perlakuan yang kasar pada ternak sebelum dipotong akan menyebabkan memar pada daging sehingga akan menurunkan kualitas dari pada karkas. Oleh karena itu untuk mengurangi penurunan kualitas karkas, stres lingkungan harus dihindari dan ternak harus diperlakukan dengan baik. Pada umumnya petugas Rumah Potong yang sepanjang dan setiap waktu kerjanya berhubungan dengan ternak cenderung kasar dalam memperlakukan ternak yang akan dipotong.

2. Cara menditeksi ternak yang tidak sehat

Ternak yang sedang demam dapat diketahui pada saat ternak sedang beristirahat (Lawrie, 1966:1). Ternak tersebut akan terlihat lemah dan tidak bergairah dan kadang-kadang terlihat telinganya terkulai. Ternak babi yang terkena demam akan memisahkan diri dari kelompoknya dan rebahan di teempat yang basah meskipun udara lingkungan sedang dingin.

a. Ternak domba yang terkena penyakit "myasis" akan sering mengibasngibaskan ekornya atau menggisir dan juga bulu pada daerah pantat terdapat kotoran dan basah. b. Penyakit "Pneumonia" dan "Heat-Stroke" akan mudah diditeksi pada saat ternak beristirahat. Ternak yang terkena penyakit ini akan terlihat kembang kempis kesakitan dan pernafasan cepat. c. Penyakit "Peritonitis" yang akut juga akan bisa dilihat pada ternak bila sedang istirahat. Hal ini banyak terjadi pada babi. Babi yang terserang penyakit ini memperlihatkan perut yang sedikit gembung dan terlihat lemah dan loyo. d. Penyakit "Enteritis" juga bisa dilihat pada saat ternak istirahat. Ternak akan terlihat bungkuk karena pada abdomennya ada luka dan akan mencret bila buang kotoran. Memperhatikan ternak yang akan dipotong sangat penting dilakukan, karena bila ada tingkah laku yang tidak normal perlu dicurigai bahwa ternak tersebut ada kelainan. Disamping diperhatikan pada saat istirahat ternak pun harus diperhatikan pada saat berjalan. Usahakan ternak berjalan perlahan dan dilihat apa ada kelainan atau tidak.

Pengawasan sebaiknya dilakukan pada : 1. Sisi sebelah kiri. 2. Sisi sebelah kanan. 3. Bagian depan dan kepala. 4. Bagian belakang (kaki dan anus). Bila ada sedikit saja yang mencurigakan maka harus dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif. Untuk melihat kelainan kelainan ini membutuhkan pengalaman yang cukup.

3. Penimbangan pada Ternak Pada saat ternak akan dipotong, sebelum memasuki rumah potong, bila ada fasilitas penimbangan ternak, maka sebaiknya ternak ditimbang terlebih dahulu. Maksudnya untuk mengetahui berapa berat potong dari ternak tersebut dan berapa kira kira karkas yang akan dihasilkan. Rumah potong di Indonesia, umumnya tidak memiliki timbangan untuk ternak hidup, baik untuk ternak kecil maupun untuk ternak besar. Untuk ternak kecil kapasitas 100-

150 kg sudah memadai, namun untuk ternak besar sebaiknya yang berka-pasitas 750 kg. (Arganosa, 1975:12) Menimbang ternak kecil tidak terlalu sulit karena tenaganya masih bias diatasi oleh manusia. Pada ternak domba dan kambing cukup dengan menyatukan keempat kakinya dan diikat kemudian digantung pada kait timbangan gantung. Pada sapi karena tenaganya jauh lebih kuat, maka sebaiknya timbangannya dibuat seperti kerangkeng dengan lebar dan panjang lebih besar sedikit dari badan sapi. Pada saat ditimbang pintu kerangkeng sebaiknya tertutup karena dikhawatirkan sapi jadi lebih galak akibat suasana yang berbeda dari biasanya.

G. CARA PEMOTONGAN TERNAK Pada proses pemotongan ternak di Indonesia harus benar-benar memperhatikan hukumhukum agama Islam, karena ada kewajiban menjaga ketentraman batin masyarakat. Pada pelaksanaannya ada beberapa cara yang digunakan di Indonesia, yaitu :

1. Tanpa "Pemingsanan" Cara ini banyak dilakukan di Rumah rumah Potong Tradisional. Penyembelihan dengan cara ini ternak direbahkan secara paksa dengan menggunakkan tali temali yang diikatkan pada kaki kaki ternak yang dihubungkan dengan ring ring besi yang tertanam pada lantai Rumah Potong, dengan menarik tali tali ini ternak akan rebah. Pada penyembelihan dengan sistem ini diperlukan waktu kurang lebih 3 menit untuk mengikat dan merobohkan ternak. Pada saat ternak roboh akan menimbulkan rasa sakit karena ternak masih dalam keadaan sadar. 2. Dengan Pemingsanan Biasanya di lakukan Di Rumah Potong Hewan yang besar dan modern, sebelum ternak dipotong terlebih dahulu dilakukan "pemingsanan", maksudnya agar ternak tidak menderita dan aman bagi yang memotong. 3. Proses Pemingsanan Ada beberapa cara pemingsanan, yaitu : a. Pemingsanan dengan cara memukulkan palu yang terbuat dari kayu keras pada bagian atas dahi, sehingga ternak jatuh dan tidak sadar.

b. Pemingsanan dilakukan dengan menggunakan "senapan" yang mempunyai "pen". Pen ini akan menembus tempurung kepala ternak dan mengenai otak, sehingga ternak pingsan dan roboh. c. Pemingsanan dilakukan dengan menggunakan sengatan listrik. Ada 2metoda pemingsanan yang digunakan bila menggunakan sengatanlistrik. 4. Cara Pemotongan Pemotongan dilakukan pada ternak dalam keadaan posisi rebah, kepalanya diarahkan ke arah kiblat dan dengan menyebut nama Allah, ternak tersebut dipotong dengan menggunakan pisau yang tajam.Pemotongan dilakukan pada leher bagian bawah, sehingga tenggorokan, vena yugularis dan arteri carotis terpotong. Menurut Ressang (1962) hewan yang dipotong baru dianggap mati bila pergerakan pergerakan anggota tubuhnya dan lain lain bagian berhenti. Oleh karena itu setelah ternak tidak bergerak lagi leher dipotong dan kepala dipisahkan dari badan pada sendi Occipitoatlantis. Pada pemotongan tradisional, pemotongan dilakukan pada ternak yang masih sadar dan dengan cara seperti ini tidak selalu efektif untuk menimbulkan kematian dengan cepat, karena kematian baru terjadi setelah 3-4 menit. Dalam waktu tersebut merupakan penderitaan bagi ternak, dan tidak jarang ditemukan kasus bahwa dalam waktu tersebut ternak berontak dan bangkit setelah disembelih. Oleh karena itu pengikatan harus benar benar baik dan kuat. Cara penyembelihan seperti ini dianggap kurang berperikemanusiaan. Waktu yang diperlukan secara keseluruhan lebih lama dibandingkan dengan cara pemotongan yang meng-gunakan pemingsanan. Pada saat pemotongan diusahakan agar darah secepatnya dan sebanyak banyaknya keluar serta tidak terlalu banyak meronta, karena hal ini akan ada hubungannya dengan : a. Warna daging. b. Kenaikan temperatur urat daging. c. pH urat daging (setelah ternak mati). d. Kecepatan daging membusuk. Agar darah cepat keluar dan banyak, setelah ternak disembelih, kedua kaki belakang pada sendi tarsus dikait dengan suatu kaitan dan dikerek ke atas sehingga bagian leher ada di bawah. Keadaan seperti ini memungkinkan darah yang ada pada tubuh ternak akan mengalir menuju ke bagian bawah yang akhirnya keluar dari tubuh.

5. Pengulitan Setelah tetesan darah tidak mengalir, selanjutnya dilakukan pengulitan. Pengulitan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bentuknya khusus agar pada saat pengulitan tidak banyak kulit ataupun daging yang rusak. 6. Pengeluaran Jeroan Setelah pengulitan selesai dilakukan, organ dalam yaitu isi rongga dada dan rongga perut dikeluarkan. Pada saat pengeluaran isi rongga perut harus dijaga agar isi saluran pencernaan dan kantong kemih tidak mencemari karkas. Selanjutnya isi rongga dada dan rongga perut ini dibawa ke tempat yang terpisah untuk dibersihkan. 7. Pembelahan Karkas Setelah isi rongga dada dan rongga perut dikeluarkan, karkas dibagi menjadi dua bagian yaitu belahan kiri dan kanan. Pembelahan dilakukan sepanjang tulang belakang dengan menggunakan kapak yang tajam. Di Rumah Potong yang modern sudah ada yang menggunakan "Automatic Cattle Splitter". Setelah karkas dibelah dua, bila akan dijual di pasar pasar tradisional untuk konsumsi segar, maka karkas akan dipotong menjadi 2 bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Pemotongan dilakukan antara tulang rusuk ke 12 dan ke 13. Perlakuan pemotongan seperti ini karkas menjadi 4 potongan, masing masing dinamakan Quarter atau Perempat, sehingga akan didapat Perempat belakang (Hind-quarter) dan Perempat depan (Forequarter). Untuk dijual di pasar swalayan atau konsumsi hotel hotel berbintang biasanya dilakukan pelayuan terlebih dahulu, dan pada saat pelayuan karkas dalam keadaan tergantung. 8. Menggantung Karkas Peneliti peneliti daging telah menemukan bahwa cara menggantung karkas juga berpengaruh terhadap keempukan beberapa macam otot. a. Bila karkas digantung pada "tendon Achilles yang harganya mahal akan lebih panjang 50% dibandingkan dengan yang normal dan selama rigormortis otot ini tidak berkontraksi sehingga akan lebih empuk. Namun menggantung dengan cara ini beberapa otot lainnya di bagian "proximal hind limb" (kaki belakang bagian atas) akan berkontraksi dibawah normal (lebih pendek) selama rigormortis sehingga otot otot ini akan lebih keras dari biasanya. b. Menggantung karkas pada "abdurator foramen" akan membatasi kontraksi dari beberapa otot penting diantaranya adalah "semimembranosus" (round), "glutaeus medius" (sirloin), "longissimus dorsi" (loin). Dengan menggantung karkas seperti ini "hind limb"

(kaki belakang) akan turun dan tulang belakang akan lurus, hasilnya otot pada "hind limb" dan sepanjang sisi luar tulang belakang akan memanjang.

H. SYARAT PENYEMBELIH MENURUT ISLAM 1. Laki-laki muslim dewasa (baligh), 2. Sehat jasmani dan rohani, 3. Memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penyembelihan halal yang baik dan benar. Syarat Peralatan 1. Pisau yang digunakan harus tajam, cukup panjang, bersih dan tidak berkarat, 2. Alat plastik, wadah, talenan, pisau dan seluruh peralatan yang kontak dengan daging dan jeroan harus bersih dan senantiasa dijaga kebersihannya. Syarat Sarana 1. Kandang penampung sementara harus bersih, kering dan mampu melindungi hewan dari panas matahari dan hujan. Pada kandang tersebut, tersedia pula air minum bersih dan pakan yang cukup untuk hewan, 2. Tempat penyembelihan harus kering dan terpisah dari sarana umum 3. Lubang penampung darah berukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m untuk tiap 10 ekor kambing atau 0,5 m x 0,5 m x 1 m untuk tiap 10 ekor sapi, 4. Tersedia air bersih untuk minum hewan, mencuci peralatan dan membersihkan jeroan, 5. Tersedia tempat khusus untuk penanganan daging yang harus terpisah dari penanganan jeroan, serta selalu dijaga kebersihannya. Perlakuan pada Hewan Sebelum Disembelih

1. Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan atau pemeriksaan antemortem dilaksanakan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan di bawah pengawasan dokter hewan, 2. Hewan diperlakukan secara baik dan wajar dengan memperhatikan azas kesejahteraan hewan, agar hewan tidak stres, tersiksa, terluka dan sakit, 3. Hewan diistirahatkan sekurang-kurangnya 3 hari sebelum disembelih, 4. Hewan diberi pakan dan minum yang cukup, 5. Saat penyembelihan, hewan direbahkan secara hati-hati, tidak dengan paksa dan kasar, agar hewan tidak stres, takut, tersiksa dan tersakiti/terluka, serta tidak menimbulkan risiko bagi penyembelih. I. TATA CARA PENYEMBELIHAN YANG HALAL Penyembelihan dilakukan menurut syariat Islam, serta memperhatikan persyaratan teknis higiene dan sanitasi, yaitu: 1. Hewan dirobohkan pada bagian sisi kiri dengan kepala menghadap ke arah kiblat, 2. Membaca basmallah ketika akan menyembelih, 3. Hewan disembelih di lehernya dengan sekali memutuskan/memotong tiga saluran, yaitu (a) saluran nafas (trakea/hulqum), (b) saluran makanan (esofagus/mari), (c) pembuluh darah (wadajain), 4. Proses selanjutnya dilakukan setelah hewan benar-benar mati, 5. Hewan yang telah disembelih digantung pada kaki belakangnya agar pengeluran darah berlangsung sempurna, kontaminasi silang dapat dicegah dan memudahkan penanganan, 6. Saluran makanan dan anus diikat dengan tali agar isi lambung dan usus tidak mencemari daging, 7. Pengulitan hewan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, diawali dengan membuat sayatan pada bagian tengah sepanjang kulit dada dan perut, dilanjutkan dengan sayatan pada bagian medial kaki, 8. Isi rongga dada dan rongga perut dikeluarkan secara hati-hati agar dinding lambung dan usus tidak tersayat atau terobek,

9. Jeroan merah (hati, jantung, paru-paru, limpa, ginjal, lidah) dan jeroan hijau (lambung, usus, esofagus dan lemak) dipisahkan, 10. Pemeriksaan kesehatan daging (karkas), jeroan dan kepala setelah penyembelihan atau pemeriksaan postmortem dilaksanakan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan di bawah pengawasan dokter hewan, 11. Daging segera dipindahkan ke tempat khusus untuk penanganan lebih lanjut. Jeroan dicuci dengan air bersih, dan limbah cucian tidak dibuang pada selokan, sungai/kali. J. PENANGANAN DAGING KURBAN YANG HIGIENIS 1. Petugas yang menangani daging harus senantiasa menjaga kebersihan tangan, tempat dan pakaian. 2. Cucilah tangan dengan air bersih sebelum menangani daging, setelah keluar dari kamar mandi/toilet, jika tangan terkena/memegang kotoran atau bahan-bahan yang kotor, setelah menyentuh rambut, muka, mulut, lubang telinga, lubang hidung, setelah menggaruk, sebelum dan setelah makan 3. Daging harus selalu terpisah dari jeroan (jangan disatukan dan bercampur). Tempat penyimpanan, penanganan dan pemotongan menjadi potongan daging dan jeroan harus terpisah, mengingat jeroan lebih banyak mengandung kuman dibandingkan dengan daging. 4. Daging dan jeroan yang ditangani harus selalu dicegah terhadap pencemaran dari tangan manusia yang kotor, air yang kotor, peralatan (pisau, talenan, meja, wadah) yang kotor, lalat atau serangga lainnya dan alas daging yang kotor. 5. Alas plastik atau wadah daging dan jeroan harus bersih dan senantiasa dijaga kebersihannya. 6. Bagikan potongan daging dalam kantong/wadah yang bersih dan terpisah dari jeroan. 7. Usahakan daging dan jeroan tidak dibiarkan tersimpan pada suhu ruang/kamar (25300C) lebih dari 4 jam.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan penanganan sapi pada idul Adha dilakukan di mushallah uswatun hasanah di jorong tangah padang, nagari cupak,Kecamatan gunung talang, kabupaten solok Jumlah sapi yang akan di potong berjumlah dua ekor yang satun ekor di beli sebelum hari raya idul adha di pasar muoro panas yang terletak di muaro panas kecAmatan gunung talang kab.solok dan yang satunya lagi merupakan ternak milik warga sekitar musalla uswatun hasanah waktu penyemblihan dimulai sekitar jam 10 .00 wib selesai pembagian seluruh warga sekitar jam 15.00 wib

Penagannan yang dilakukan waktu pemotongan dilakukan secara tradisional dengan menggunakan tali untuk mengikat kaki ternak lalu di rebahkan dalam proses perebahan disini di lakukan 7 orang sehingga ternak roboh dengan cepat penyemblihan di lakukan oreng seorang bapak H.ZAINAL sengan menggunakan sebilah pisau yang tajam sehingga tidak menyakiti ternak dengan penutupan pada leher ternak dengan mengunakan daun talas Sapi pertama

Sapi ke dua

Setelah itu dilakukan pross pengulitan dengan banyak orang sekitar 7-8 orang kekurangan nya yaitu tidak dilakukan ditempat yg bersih sehingga dalam proses ini terbaur dengan tanah dan rumput di sekitar area penyemblihan

Setelah dilakukun ppengulitan sapi di keluarkan isi perutntnya kemudian di pisahkan dipotong potong setelah itu di bagi- kepada warga sekitar muslla uswatun hasanah tersebut Dari kedua sapi yang di amati ti dak terdapat penyakit yang ditemukan sesuai dengan penulils Pelajari inyha allah dalam keadaaan sehat dari penyakit .hanya proses penganangannya yang tidah bersih dan profosional

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN Kesimpulan dari pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang ikut dalam pemotongan hewan kurban di mushallah uswatun hasanah cupak kab.solok kurang memperhatikan persyaratan tayyib (baik) yang sebenarnya diperintahkan juga oleh Allah swt

DAFTAR PUSTAKA

Anwar,Ihsan ,memelihara sapi kreman,trubus,no.165 http://tribasapi.blogspot.com/p/landasan-berqurban.html Sarwono,B.,sapi mana yang bias dipotong,trubus,no.180 http://ciricara.com/2013/10/09/cara-memilih-sapi-yang-sehat-untuk-kurban