Anda di halaman 1dari 7

Bagaimana caranya membangkitkan daya kritis siswa, inilah kiatnya : 1.

Agar siswa suka menganalisa suatu konsep teori atau fakta, guru diharapkan dapat membangun rasa ingin tahu siswa melalui tugas atau pertanyaan yang membuat siswa dapat mengidentifikasi mulai dari isi, pola, kecenderungan, serta landasan teori atas tema materi pelajaran yang dibicarakan. 2. Kemampuan analisa sebab akibat sebagai bagian dari berpikir kritis dapat dilatihkan guru dalam pola berpikir siswa melalui analisa why and how alias sebab akibat dengan membuat sebuah prediksi konsekuensi logis dimasa depan, sebelum membuat kesimpulan dari suatu fakta atau kasus yang dijadikan contoh soal. 3. Pembelajaran kontekstual dengan menggunakan contoh real yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan dibicarakan akan dapat membangkitkan kemampuan siswa berpikir rasional dan logis. Tugas guru adalah memperluas wawasan keilmuan guna mendapatkan ide dan gagasan pengajaran sekaligus dapat menciptakan simulasi agar siswa dapat membuat kesimpulan menurut versi masing masing. 4. Guna mendorong siswa memiliki kemampuan berargumen secara akurat seorang guru perlu meningkatkan kemampuan siswa dalam penguasaan data, informasi, pengetahuan teori konsep dan contoh nyata sekaligus kemampuan berkomunikasi secara efektif. Agar siswa dapat memiliki rasa percaya diri yang kuat selama beragumentasi. 5. Berikan keterampilan berpikir kepada siswa melalui diskusi kelompok, adu debat, atau diskusi kasus dalam pemecahan atau pembuktian kebenaran suat konsep atau teori agar siswa dapat membedakan kebenaran ilmu dengan fiksi atau opini pribadi. 6. Keterampilan untuk teliti atau pay attention to detail dapat dilatihkan kepada siswa dengan mengajarkan siswa untk cermat dalam mengenali masalah, menguji fakta, mengurai skala prioritas, mencarimerumuskanmenetapkan solusi, menetapkan sistematika langkah penyelesaian dan membuat kesimpulan. Dengan siswa memiliki daya berpikir kritis siswa bersangkutan dapat peka terhadap lingkungannya sekaligus menjadi solusi atas persoalan yang dihadapinya dimasa depan.

Berpikir Kritis dalam Belajar (Contoh dalam Pelajaran Kimia)


Posted on 6 September 2013 by Urip Kalteng

Belajar kimia, seperti halnya pelajaran sains lainnya memiliki karakteristik tertentu, namun secara umum berpikir kritis dengan rasa ingin tahu yang tinggi adalah modal untuk bisa menguasai hampir semua pelajaran. Guru-guru kita sering mengingatkan bahwa jika ingin pintar banyak-lah bertanya. Bertanya model apa sih yang dimaksud itu? Sebenarnya dalam setiap pokok bahasan banyak hal baru. Hal-hal baru itu perlahan akan dijelaskan pada rentetan kalimat-kalimat yang mengikutinya. Meskipun demikian tidak semua yang ada pada kalimat itu dapat dimengerti. Bagian yang tidak dimengerti inilah yang layak untuk dipertanyakan kepada guru, atau kepada siapa saja yang bisa dijumpai, dan yang lebih gampang adalah mencari-nya dengan menggunakan search engine internet. Berpikir kritis adalah sutau proses mental untuk menganalisis, mengevaluasi informasi yang diterima. Bagaimana caranya agar siswa atau siapa saja dapat berpikir kritis. Tentu kita harus memenuhi prasyarat-nya. Kita memiliki rasa ingin tahu, memiliki berbagai bahan yang mendukung atas apa yang hendak kita kritisi. Kritis itu adalah mencoba menghubungkan berbagai informasi dari apa yang kita ketahui, memecahkan apa yang mungkin untuk dikoneksikan dengan hal yang satu ke yang lainnya. Contoh berpikir kritis itu seperti berikut ini, (ada pada tulisan dengan judul hubungan molaritas, molalitas, dan densitas). Misal dalam pokok bahasan sifat koligatif larutan ada pendahuluan tentang satuan konsentrasi, molal dan molar. Kadang untuk soal yang menantang ada yang meminta siswa mengkonversi dari satuan molar ke molal atau sebaliknya. Tentu dengan tambahan data densitas atau massa jenis zat. Densitas ini sering kurang mendapat perhatian dalam pokok bahasan yang melibatkan konsentrasi larutan. Tapi dalam banyak buku kimia kurang mendapat perhatian. Pernyataan menantang yang saya contohkan:

Densitas dapatkah digunakan untuk menyatakan konsentrasi? Bukankah satuan densitas juga

g/mL?

Apakah densitas itu memang salah satu pernyataan konsentrasi?

Dapatkah kita melakukan konversi molar ke molal tanpa diketahui densitas zat terlarutnya? Jika volume larutan tidak 1 Liter (misalnya larutannya hanya 250 mL atau 500 mL) apakah

rumus konversi di atas perlu diubah atau tidak?

Dengan memperhatikan arti dari masing-masing satuan konsentrasi (molal dan molar) serta densitas, ternyata dapat ditarik hubungan antara ketiganya. Sekali lagi ini jarang dijumpai dalam buku pelajaran di sekolah, karena kurikulum tidak menuntut hal itu. Anehnya pada tataran soalsoal itu tidak jarang ditanyakan, lebih-lebih pada soal olimpiade sains. Andai saja siswa bisa menurunkan rumus hubungan antara ketiga-nya tentu mereka dapat menjawab berbagai pertanyaan kritis di atas. Hal-hal seperti di atas itulah yang harus ditanamkan kepada siswa dan guru, sehingga kekreatifan berpikir meningkat. Yang sering terjadi adalah siswa bahkan kadang guru enggan menggunakan informasi yang miliki sebelumnya untuk mengkritisi sesuatu. Tapi yang seperti itu patut dicuragai bahwa sesungguh mereka belum siap belajar, belum memiliki informasi yang terkait dengan apa yang hendak dipelajarinya. Jika ini yang terjadi tentu suasana belajar menjadi membosankan. Untuk itulah baik siswa dan guru sudah selayaknya banyak memasukkan informasi yang kelak jika dibutuhkan bisa jadi modal untuk mengkritisi sesuatu (baca pelajaran/bahan bacaan). Contoh sederhana adalah mengkritisi tulisan saya yang blepotan ini. Kok gitu, kan mestinya tidak begitu , wah ini gak nyambung dan seterusnya. Dari mengkritisi tulisan kacau seperti ini mestinya kita bisa menulis lagi dengan gaya komunikatif, berkomunikasi dengan tulisan saya ini misalnya Berpikir kritis ketika membaca sering disebut membaca secara kritis, tapi intinya semua itu yang tetap kembali ke berpikir kritis, asal tidak kritis lantas dilarikan ke rumah sakit saja kata. Optimis kita akan bisa menghasilkan generasi yang cerdas. . Mari kita ajak siswa kita, untuk mengkritisi bahan belajar, bahan bacaan, per-paragraf, tiap kalimat, dan

Hubungan Molalitas, Molaritas, dan Densitas Suatu Larutan


Posted on 13 Agustus 2013 by Urip Kalteng

Baiklah kita mulai dengan melihat rumusan yang selama ini kita ketahui. Molalitas (mol/kg) = mol zat terlarut : massa pelarut Molaritas (mol/Liter) = mol zat terlarut : (volum pelarut + volum zat terlarut) Densitas = massa zat : volume zat ( dalam g/mL atau kg/L)

Densitas zat (d) d = massa zat / V massa zat = V d massa zat terlarut = jumlah mol zat terlarut massa molar zat terlarut massa zat terlarut = nT mT

Massa pelarut = massa larutan massa zat terlarut Massa pelarut = (V d) (nT mT)

Sehingga, Di mana: d = densitas zat; mT = massa molar zat terlarut nT = jumlah mol zat terlarut V = volume larutan Benarkah rumusan hubungan di atas?. Coba kita gunakan untuk menentukan molalitas dari soal berikut:

Tentukan molalitas larutan 18 M H2SO4 dengan densitas 1,84 g/mL. Dalam pembahasan sebelumnya 18 M H2SO4 dengan densitas 1,84 g/mL tersebut ternyata 236,84 m. Kalau kita hitung dengan menggunakan rumus hasil penurunan itu ternyata hasilnya tidak sama (coba dihitung sendiri). Di mana letak kesalahannya? Perlu diingat bahwa dalam molalitas yang kita gunakan adalah pelarut dengan satuan kg (kilogram). Dengan begitu rumusan tersebut perlu diralat sehingga menjadi:

Jadi setelah dilakukan koreksi hingga diperoleh hubungan yang benar kita pun dapat menghitung molalitas suatu larutan dengan diketahui nama dan data molaritas serta densitasnya. Oh ya, jangan lupa biasanya kondisi pada zat itu perlu disertakan seperti pada tekanan dan suhu berapa sejumlah parameter itu diberikan. Ini penting. Tahu mengapa keadaan tersebut penting untuk diketahui? Satuan konsentrasi molar itu cenderung mengalami perubahan ketika berada dalam keadaan yang berbeda. Keadaan yg dimaksud misalnya beda temperatur atau beda tekanan. Ingat dalam satuan konsentrasi terdapat faktor V, volume. Volume inilah yang kadang berubah dalam kondisi yang berbeda itu. Untuk konsentrasi dengan satuan molal, tentu tidak ada ketergantungan dengan volume, tapi dengan massa, massa zat pelarut. Massa ini relatif tidak berubah ketika kondisinya berbeda. Contoh perhitungan konversi molaritas menjadi molalitas dengan data densitas pernah dibahas pada tulisan sebelum ini di sini.

Bagaimana kalau ingin mengkonversi dari molal ke kemolar? Ini rumus-nya: