Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cairan, dan gas, mempunyai sifat serta prilaku yang dinamik. Sifat dinamik tanah tersebut karena tanah merupakan sistem yang terbuka dengan terjadinya proses pertukaran bahan dan energi secara berkesinambungan. Tanah juga merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber kehidupan tanaman, yang mengandung semua unsur yang berbeda baik dalam bentuk maupun jumlahnya. Unsur hara mikro seperti besi (Fe), mangan ( n), seng (!n) dan tembaga ("u) merupakan unsur hara penting bagi tanaman yang terdapat dalam tanah. Tanah secara alami telah mengandung logam berat meskipun hanya sedikit. Tanah pun memiliki kemampuan dalam menyerap logam berat yang berbeda untuk tiap jenis tanah berdasarkan bahan induk penyusun tanah tersebut. dengan atau tanpa disadari tanah merupakan tempat penimbunan akhir dari limbah yang diakibatkan oleh akti#itas manusia. Secara alami tanah akan menguraikan bahan kimia yang mask kedalam tanah, tetapi apabila bahan kimia yang direrima tersebut berlebihan maka tanah tidak akan mampu menguraikannya. Setiap jenis tanah mempunyai kemampuan yang berbeda dalam merespon bahan kimia yang diterimanya ($iskirana, $, %&''). Tanah sangat #ital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Untuk itu, keberadaan tanah harus dijaga kestabilannya agar tetap dapat bermanfaat sesuai peruntukkannya. (ika kondisi tanah sudah tercemar, maka keberadaan makhluk hidup pun ikut terancam. )leh karena itu, dilakukan sampling tanah untuk mengetahui kondisi tanah (dalam hal ini p* dan kelembabannya) dengan menggunakan metode yang telah ditentukan

sebelumnya, baik itu metode penentuan lokasi sampling ataupun metode penentuan titik pengambilan sampel tanah.

1.2. Tujuan
a. b. c. engetahui macam-macam metode untuk menentukan titik pengambilan sampel tanah. engetahui nilai p*, kelembaban, dan sifat dari sampel tanah yang diukur. engetahui pengaruh kelembaban terhadap p* tanah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tanah
Tanah (bahasa +unani, pedon- bahasa .atin, solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. /omposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. 0ir dan udara merupakan bagian dari tanah. /arakteristik tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa 1leistosen. Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol2humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi. Tanah organik ber3arna hitam dan merupakan pembentuk utama lahan gambut dan kelak dapat menjadi batu bara. Tanah organik cenderung memiliki keasaman tinggi karena mengandung beberapa asam organik (substansi humik) hasil dekomposisi berbagai makhluk hidup. Tanah bahan organik organik. dapat /elompok ditanami tanah karena ini biasanya sifat miskin mineral, pasokan mineral berasal dari aliran air atau hasil dekomposisi jaringan memiliki fisik gembur (sarang) sehingga mampu menyimpan cukup air namun karena memiliki keasaman tinggi sebagian besar tanaman pangan akan memberikan hasil terbatas dan di ba3ah capaian optimum.

4arna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah diingat orang. 4arna tanah sangat ber#ariasi, mulai dari hitam kelam, coklat, merah bata, jingga, kuning, hingga putih. Selain itu, tanah dapat memiliki lapisan-lapisan dengan perbedaan 3arna yang kontras sebagai akibat proses kimia (pengasaman) atau pencucian (leaching). Tanah ber3arna hitam atau gelap seringkali menandakan kehadiran bahan organik yang tinggi, baik karena pelapukan #egetasi maupun proses pengendapan di ra3a-ra3a. 4arna gelap juga dapat disebabkan oleh kehadiran mangan, belerang, dan nitrogen. 4arna tanah kemerahan atau kekuningan biasanya disebabkan kandungan besi teroksidasi yang tinggi- 3arna yang berbeda terjadi karena pengaruh kondisi proses kimia pembentukannya. Suasana aerobik2oksidatif menghasilkan 3arna yang seragam atau perubahan 3arna bertahap, sedangkan suasana anaerobik2reduktif memba3a pada pola 3arna yang bertotol-totol atau 3arna yang terkonsentrasi (anonim a, %&'%). Suatu tanah dikatakan subur apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut , a. 5anyak mengandung unsur hara (6at yang dibutuhkan tanaman), b. "ukup mengandung air, c. Struktur tanahnya baik. (enis tanah yang ada di 7ndonesia adalah sebagai berikut , '. Tanah 0llu#ial (tanah endapan) Tanah 0llu#ial adalah tanah yang terbentuk dari hasil pengendapan lumpur sungai yang terdapat di dataran rendah. Tanah ini tergolong sangat subut dan baik untuk daerah pertanian padi. %. Tanah 8ulkanik (tanah gunung api) Tanah #ulkanik adalah tanah yang terbentuk dari hasil material letusan gunung api yang telah mengalami pelapukan (Sanghiang, %&'&). Tanah #ulkanis memiliki ciri-ciri sebagai berikut,

Tanahnya subur engandung unsur hara yang tinggi. erupakan hasil pelapukan materi letusan gunung berapi. udah menyerap air dan ber3arna lebih gelap. Terdapat di sekitar 3ilayah gunung berapi.

(0nonim b, %&'')

9. Tanah )rganosol (tanah gambut) Tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari pengendapan bahan-bahan organik terutama pembusukan tumbuhan ra3a-ra3a. Tanahnya kurang subur. (enis tanah ini banyak terdapat di daerah ra3a-ra3a Sumatera, /alimantan dan 1apua. :. Tanah *umus Tanah humus dari pelapukan tumbuh-tumbuhan terutama di daerah hutan yang masih lebat, dan sifat tanah ini sangat subur. ;. Tanah 1od6olit Tanah pod6olit adalah tanah yang terbentuk di daerah yang memiliki curah hujan tinggi dan suhu udara rendah. <i 7ndonesia jenis tanah ini terdapat di daerah pegunungan. Tanah pod6olit tergolong subur. =. Tanah .aterit Tanah laterit adalah tanah yang terbentuk unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah telah hilang, larut oleh curah hujan yang tinggi. Tanahnya tidak subur, banyak terdapat di /alimantan 5arat, .ampung, dan Sula3esi Tenggara. >. Tanah 1asir Tanah pasir terbentuk dari pelapukan batuan beku dan batuan sedimen. "iri tanah pasir ialah berkerikil dan butirannya kasar. Tanahnya tidak subur. ?. Tanah %&'&). Tanah kapur memiliki ciri-ciri sebagai berikut,

editeran (tanah kapur)

Tanah mediteran adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan kapur (Sanghiang,

Tanahnya tidak subur dan sangat tidak cocok untuk lahan pertanian. erupakan hasil pelapukan batuan kapur. <apat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kerajinan keramik. <alam pertanian, tanah kapur yang sifat basanya tinggi dapat dimanfaatkan untuk menetralkan kadar keasaman tanah. (0nonim b, %&'')

2.2. Sampl ng Tanah


Sampel adalah sebagian dari populasi. 0rtinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. 1opulasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. 1enelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. 7dealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. @amun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi. Syarat sampel yang baik, '. 0kurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan AbiasB (kekeliruan) dalam sampel. <engan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. %. 1resisi. /riteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. akin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata 1resisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita dengan karakteristik populasi. sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut ($iskirana, %&&>). Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling atau probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping atau nonprobability sampling. +ang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. <ua jenis teknik pengambilan sampel di atas mempunyai tujuan yang berbeda. (ika peneliti ingin hasil penelitiannya bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel

representatif dan diambil secara acak. Sampel tidak acak biasanya juga diambil jika peneliti tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi. <i setiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdapat beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. 1ada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling, cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. 1ada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convenience sampling, purposive sampling, quota sampling, snowball sampling. Probability! "an#$m Sampl ng Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama sampling frame. +ang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. 1. Simple Random Sampling atau Sampel A%ak Se#erhana "ara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. 1erbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya. Selama perbedaan tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. <engan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. 1rosedurnya , '. Susun Asampling frameB %. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil 9. Tentukan alat pemilihan sampel :. 1ilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi 2. Stratified Random Sampling atau Sampel A%ak D &trat ' ka& kan /arena unsur populasi berkarakteristik heterogen, dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini. 1rosedurnya ,

'. %. 9. :.

Siapkan sampling frame 5agi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum 1ilih sampel dari setiap stratum secara acak.

1ada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. +ang dimaksud dengan proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. (. Cluster Sampling atau Sampel )ugu& Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. 5erbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan, di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen, setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. 1rosedur, '. %. 9. :. Susun sampling frame berdasarkan gugusCdalam kasus di atas, elemennya ada '&& departemen. Tentukan berapa gugus yang akan diambil sebagai sampel 1ilih gugus sebagai sampel dengan cara acak Teliti setiap pega3ai yang ada dalam gugus sampel

:. Systematic Sampling atau Sampel S &temat & (ika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. "ontoh dari metode ini adalah teknik diagonal dan teknik 6ig 6ag yang dilakukan pengambilan sampel secara sistematis berdasarkan inter#al yang telah ditetapkan. 1rosedur sistematik sampling adalah sebagai berikut , '. %. 9. :. enyusun sampling frame yaitu daftar elemen yang akan diamati. enetapkan sampling inter#al (k) dengan menggunakan rumus @2n- dimana @ adalah jumlah elemen dalam populasi dan n adalah jumlah sampel yang diperlukan. emilih sampel pertama (s')secara random dari sampling frame. emilih sampel kedua (S%)

(Subiyanto, @, %&&?)

1rosedur teknik diagonal adalah sebagai berikut, '. %. enyusun sampling frame dari lahan yang akan di amati. embagi lahan yang telah ditentukan menjadi : bagian yang sama dengan ukuran tepi yang telah ditentukan dan ditandai dengan patok dan tali rafia. 9. enentukan empat titik diagonal menjadi titik sampling tanah. 1rosedur teknik 6ig 6ag, '. %. enyusun sampling frame dari lahan yang akan di amati. embentuk pola 6ig 6ag dengan ukuran yang telah ditentukan dan ditandai dengan patok dan tali rafia. 9. enentukan empat titik dari pola tersebut sebagai titik sampling.
%.%. Eambar teknik 6ig 6ag %.'. Eambar teknik diagonal

*. Area Sampling atau Sampel + la,ah Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bah3a populasi penelitiannya tersebar di berbagai 3ilayah. 1rosedurnya , '. Susun sampling frame yang menggambarkan peta 3ilayah ((a3a 5arat), /abupaten, /otamadya, /ecamatan, <esa. %. Tentukan 3ilayah yang akan dijadikan sampel (/abupatenD /otamadyaD /ecamatanD <esaD) 9. Tentukan berapa 3ilayah yang akan dijadikan sampel penelitiannya. :. 1ilih beberapa 3ilayah untuk dijadikan sampel dengan cara acak atau random.

;. /alau ternyata masih terlampau banyak responden yang harus diambil datanya, bagi lagi 3ilayah yang terpilih ke dalam sub 3ilayah. Nonprobability atau Nonrandom Sampling atau Sampel T #ak A%ak Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. 1. Convenience Sampling atau &ampel ,ang # p l h #engan pert m-angan kemu#ahan <alam memilih sampel, peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut. )leh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling C tidak disengaja C atau juga captive sample (man-on-the-street) (enis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan, yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). 2. Purposive Sampling Sesuai dengan namanya, sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bah3a seseorang atau sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. <ua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling. Judgment Sampling. (. Snowball Sampling.Sampel B$la Salju

"ara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. <ia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. (*asan, , %&&&)

1engambilan contoh tanah komposit adalah contoh tanah dikumpulkan dari beberapa titik pengamatan melalui pemboran yang dicampur merata menjadi satu contoh yang homogen."ara pengambilan contoh ialah dengan (') metode sistematik (sistem diagonal atau 6ig 6ag), dan (%) metode acak ($ayes, , %&&=).

BAB III /ET0D0L0)I P"AKTIKU/


(.1. +aktu #an Tempat Pelak&naan
(.1.1. +aktu Pelak&anaan 1raktikum ini ini dilaksanakan pada hari (umat tanggal '% )ktober %&'% pukul '&.9&''.:; 47T0. (.1.2. Tampat Pelak&anaan 1raktikum kali ini bertempat di sebelah utara gedung sekretariat /eluarga 5esar ahasis3a Fakultas Teknik (/5 FT) Uni#ersitas ula3arman Samarinda, /alimantan Timur.

(.2. Alat #an Bahan


(.2.1. Alat1 '. Soil tester %. "etok 9. "angkul :. eteran ;. 1enggaris =. 0lat tulis >. /ayu 1atok ?. /amera (.2.2. Bahan21 '. Tali rafia

%. Sampel tanah 9. issue :. 1lastik

(.(. 3ara Kerja


Untuk kedalaman &-'& cm '. <itentukan lokasi yang dijadikan tempat sampling tanah. %. <iukur tanah dengan ukuran 9F: meter, ditandai dengan patok yang diberi tali rafia disebut dengan sampling frame. 9. <ibuat pola 6ig 6ag didalam sampling frame dan diberi tanda dengan patok yang diberi tali rafia. :. <igali titik-titik yang akan diteliti pada titik-titik 6ig 6ag yang telah dibuat dengan cangkul dan cetok. ;. <igali lubang sedalam &-'& cm kemudian ditancapkan soiltester hingga terbenam batas ber3arna tembaga. =. <ibiarkan beberapa saat hingga jarum stabil dan dicatat pembacaan skala p*. >. <itekan tombol di samping alat (diusahakan alat tidak bergerak), dibiarkan beberapa saat hingga jarum penunjuk stabil. ?. <icatat pembacaan skala kelembaban. Untuk kedalaman '&-%& cm '. <igali lagi lubang yang telah digunakan hingga kedalaman '&-9& cm kemudian ditancapkan soiltester hingga terbenam batas ber3arna tembaga. %. <ibiarkan beberapa saat hingga jarum stabil dan dicatat pembacaan skala p*. 9. <itekan tombol di samping alat (diusahakan alat tidak bergerak), dibiarkan beberapa saat hingga jarum penunjuk stabil. :. <icatat pembacaan skala kelembaban. ;. <iulangi metode yang sama sebanyak 9 kali untuk setiap titik.

BAB I4 HASIL DAN PE/BAHASAN


5.1. Ha& l Pengamatan
Foto

Titik

/edalaman &-'& cm '&-%& cm $ata-rata &-'& cm

'

p* =,= 1'H = 1%H = 19H = = ;,? 1'H =,% 1%H ;,I; 19H =,% =,'% ;,; 1'H :,; 1%H :,; 19H :,9 :,:9 ; 1'H :,% 1%H :,% 19H :,; :,9

/elembaban %&G :;G 9;G %&G 99,9G :>G :&G 9&G %&G 9&G %;G ;;G >=G J ?&G >&,9G J ?&G >?G ;:G J ?&G >&,=>G

'&-%& cm $ata-rata &-'& cm

'&-%& cm $ata-rata &-'& cm

'&-%& cm $ata-rata

$ata-rata total p* semua titik ;,>%; (kedalaman &-'& cm) ;,%' (kedalaman '&-%& cm "ata2rata *657

$ata-rata total kelembaban semua titik :9G (kedalaman &-'& cm) :>G (kedalaman '&-%& cm) "ata2rata 578

5.2. Perh tungan


/eterangan , 1' H 1engulangan ' 1% H 1engulangan % 19 H 1engulangan 9 a. $ata-rata p* untuk kedalaman &-'& cm

b. $ata-rata p* untuk kedalaman '&-%& cm (1engulangan 9 kali) '. Titik'

%. Titik %

9. Titik 9

:. Titik :

Total rata-rata p*

c. Total p* semua titik Total rata-rata p*

d. $ata-rata kelembaban untuk kedalaman '& cm Total rata-rata kelembaban

e. $ata-rata kelembaban untuk kedalaman %& cm (1engulangan 9 kali) '. Titik '

%.

Titik %

9.

Titik 9

:.

Titik :

f. Total rata-rata /elembaban

g. Total /elembaban Semua Titik

5.(. )ra' k
5.(.1. )ra' k pH

5.(.2. )ra' k kelem-a-an

5.5. Pem-aha&an
1ada praktikum sampling tanah kali ini menggunakan teknik sampling 6ig 6ag. etode

ini dilakukan dengan menentukan lokasi sampling yang ditandai dengan patok kayu dan tali rafia dengan ukuran lahan 9F: meter. /emudian patok dipasang membentuk pola 6ig 6ag dan diikuti oleh tali rafia, : titik dari pola 6ig 6ag tersebut ditetapkan sebagai tempat sampling. Setelah itu langsung dilakukan pengukuran dan pembacaan skala p* dan kelembaban dengan soil tester. Untuk kedalaman &-'& cm hanya dilakukan ' kali pengukuran, dan untuk kedalaman '&-%& cm dilakukan pengukuran senyak 9 kali disetiap titik sampling.
9 :

9m

' :m Eambar :.'. Teknik <iagonal

Setelah selesai melakukan pengukuran beserta pengulangan pengukuran di semua titik, maka diperoleh hasil, titik pertama diperoleh p* =, kelembaban %&G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata =,=, kelembaban rata-rata 99,9G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik kedua diperoleh p* ;,?, kelembaban :>G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata =,'%, kelembaban rata-rata 9&G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik ketiga diperoleh p* ;,;, kelembaban %;G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata :,:9, kelembaban ratarata =&,9G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik keempat diperoleh p* ;, kelembaban J ?&G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata :,9, kelembaban rata-rata >&,=>G untuk kedalaman '&-%& cm. <ari semua hasil pengukuran diperoleh rata-rata dari jumlah p* sebesar ;,:> dan kelembaban sebesar :> G.

<i bidang pertanian tanah yang ideal adalah p* mendekati > sehingga unsur hara dan senya3a yang penting dapat diserap oleh tanaman dan kelembaban ideal untuk tanah sebesar =& hingga ?&G (7sroi, %&&I). (ika dibandingkan dengan hasil pengukuran dengan p* sebesar ;,:> maka keadaan p* tanah yang diukur cenderung memiliki sifat asam dibandingkan dengan standar p* tanah pada umumnya. Sedangkan untuk nilai kelembaban yang diperoleh dari pengukuran didapat angka :>G yang jika dibandingkan dengan kelembaban ideal tanah sebesar =& hingga ?&G, maka kelembaban tanah yang diukur memiliki kelembaban yang kurang atau bisa dikatakan kering. @ilai p* yang rendah (asam) dipengaruhi oleh dekomposisi bahan organik, pengendapan dan bahan induk. 5ahan organik tanah secara terus menerus terdekomposisi oleh mikroorganisme kedalam bentuk asam-asam organik, karbondioksida (") %) dan air, senya3a pembentuk asam karbonat. Selanjutnya, asam karbonat bereaksi dengan "a dan g karbonat di dalam tanah untuk membentuk bikarbonat yang lebih larut, yang bisa tercuci keluar, yang akhirnya meninggalkan tanah lebih masam. 1engendapan, jika air berasal dari air hujan mele3ati tanah, kation kation basa seperti "a dan kation masam seperti 0l, *, dan g akan tercuci. /ation kation basa yang hilang tersebut kedudukannya di tapak jerapan tanah akan di ganti oleh kation n. )leh karena itu, tanah tanah yang terbentuk pada lahan dengan curah hujan tinggi biasanya lebih masam dibandingkan pada tanah tanah pada lahan kering atau acid. 5ahan induk, tanah berkembang dari bahan induk yang berupa batuan dan bahan organik. Selanjutnya batuan di kelompokkan menjadi batuan beku, sedimen dan metamorfose. 5atuan basa umumnya mempunyai p* tinggi dibandingkan dengan tanah yang berkembang dari batuan masam. Setiap jenis batuan bahan induk pembentuk tanah memiliki kemampuan serap yang berbeda, itu juga menyebabkan tanah tersebut memiliki tingkat kelembaban yang berbeda sesuai dengan bahan pembentuknya (4eb aster, %&&I).

Untuk nilai kelembaban yang diperoleh dari pengukuran didapat angka :>G yang jika dibandingkan dengan kelembaban ideal sebesar =&G hingga ?&G, maka kelembaban tanah yang diukur memiliki kelembaban yang kurang atau bisa dikatakan kering. *al itu disebabkan karena di tempat pengukuran sampel hanya terdapat sedikit #egetasi yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kelembaban tanah. Selain itu, ditempat

pengambilan sampel tanah terdiri dari campuran tanah dan batuan, batuan itu sendiri bersifat kering sehingga mempengaruhi keadaan tanah yang diukur. Selama pengukuran dilaksanakan tidak terlepas dari kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. /endala yang dihadapi antara lain, '. 1ada titik yang ditetapkan menjadi titik pengambilan sampel merupakan campuran dari tanah dan bebatuan yang mengakibatkan tidak tercapainya kedalaman yang diinginkan dan juga menghambat proses pengambilan sampel. %. /eadaan alat yang tidak stabil juga mempengaruhi pembacaan skala ataupun kelembaban. 9. Faktor kesalahan manusia seperti lupa membersihkan alat sebelum digunakan kembali.

BAB 4 PENUTUP
*.1. Ke& mpulan
a. etode-metode yang digunakan dalam penentuan titik pengambilan sampel tanah ada 9, yaitu, metode diagonal, metode 6ig 6ag, dan metode acak. b. *asil yang diperoleh adalah, titik pertama diperoleh p* = dan kelembaban %&G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata =,= dan kelembaban rata-rata 99,9G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik kedua diperoleh p* ;,? dan kelembaban :>G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata =,'% dan kelembaban rata-rata 9&G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik ketiga diperoleh p* ;,; dan kelembaban %;G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata :,:9 dan kelembaban rata-rata =&,9G untuk kedalaman '&-%& cm. Titik keempat diperoleh p* ; dan kelembaban J ?&G untuk kedalaman &-'& cm, p* rata-rata :,9 dan kelembaban rata-rata >&,=>G untuk kedalaman '&-%& cm. <ari semua hasil pengukuran diperoleh rata-rata dari jumlah p* sebesar ;,:> dan kelembaban sebesar >&,=>G. c. 5erdasarkan nilai p* dan kelembaban yang didapat, bisa dikatakan bah3a nilai p* dan kelembaban pada tanah lokasi sampling memiliki hubungan dimana semakin tinggi nilai kelembaban tanah maka nilai p* akan semakin rendah (asam).

*.2. Saran

Sebaiknya sebelum melakukan praktikum mengguanakan alat, baik itu soil tester atau alat yang lainnya, kondisi alat benar-benar harus diperhatikan. /etidakstabilan alat akan sangat berpengaruh besar pada hasil pembacaan jarum penunjuk skala p* dan kelembaban

DA9TA" PUSTAKA

0nonim a. %&'%.

anah. http,22id.3ikipedia.org23iki2Tanah. <iakses tanggal '%

)ktober %&'% pukul %&.'%. 0nonim b. %&''. Jenis-jenis dan !ara"teristi" <iakses tanggal '% )ktober %&'% pukul %&.';. 7sroi. %&&I. %i"roba &ang $apat %enai""an p' anah. http,22isroi.com2%&&I2&;2':2 mikroba-yang-dapat-menaikkan-ph-tanah2. <iakses tanggal ': )ktober %&'% pukul 'I.9&. (acob, 0gustinus. %&'%. anaman $alam %engevaluasi Status !esuburan anah. anah di #ndonesia dan $unia .

http1!!:::.apa& h.%$m!2;11!;5!jen &2jen &2#an2karakter &t k2tanah2# .html .

http,22mursitoledi.multiply.com2journal2item2'2jurnalilmuKkesuburanKtanahD Lsho3 KinterstitialH'LuHG%FjournalG%Fitem. <iakses tanggal ': )ktober %&'% pukul 'I.:?. ustafa, *asan. %&&&. e"ni" Sampling. home.unpar.ac.id2Mhasan2S0 1.7@E. <iakses tanggal ': )ktober %&'% pukul %&.9&.

Sanghiang. %&''. Jenis-Jenis pukul %&.%>. $iskirana, $ila. %&''. %&'% pukul '>. ':. 4eb aster, %&&:.

anah di #ndonesia.http,22ekookdame6s.blogspot.com2

%&''2&92jenis-jenis-tanah-di-indoneisa.html. <iakses tanggal '% )ktober %&'%

e"ni" (engambilan sampel tanah. http,22riskirana.blogspot.

com2%&''2'&2teknik-pengambilan-sampel-tanah.html. <iakses tanggal '9 )ktober

)a"tor

&ang

%empengaruhi

p'

anah.

http,22kapurpertanian.com2indeF.php25erita-Terbaru2Faktor-yang-mempengaruhip*-tanah.html. <iakses tanggal ': )ktober %&'% pukul %&.:>.

Beri Nilai